• Blog
  • News Forex, Index & Komoditi (Selasa, 8 Maret 2022)

News Forex, Index & Komoditi (Selasa, 8 Maret 2022)

Wall Street Anjlok, Nasdaq Mengonfirmasi Kondisi Bearish

Wall Street anjlok pada perdagangan di awal pekan ini dengan Nasdaq Composite mengonfirmasi kondisi bearish. Prospek larangan impor minyak dari Rusia mengirim harga minyak mentah melonjak dan memicu kekhawatiran kenaikan inflasi.

Senin (7/3), Dow Jones Industrial Average merosot 2,37% atau 797,42 poin ke 32.817,38. Indeks S&P 500 melorot 2,95% atau 127,78 poin ke 4.201,09. Sedangkan Composite terjun 3,62% atau 482,48 poin ke 12.830,96.

Nasdaq berakhir turun 20,1% dari rekor penutupan tertinggi 19 November, membenarkan indeks teknologi-berat telah berada di pasar bearish sejak mencapai rekor tertinggi, menurut definisi yang banyak digunakan. Kondisi ini menandai pasar bearish pertama Nasdaq sejak 2020, ketika wabah virus corona menghancurkan ekonomi global.

Dow Jones Industrial Average berakhir turun 10,8% dari rekor penutupan tertinggi 4 Januari, mengkonfirmasikan bahwa itu dalam koreksi. Koreksi dikonfirmasi ketika indeks ditutup 10% atau lebih di bawah level penutupan rekornya.

Harga minyak melonjak ke level tertinggi sejak 2008 karena Amerika Serikat dan sekutu Eropa mempertimbangkan untuk melarang impor minyak Rusia, sebagai tanggapan atas invasi negara itu ke Ukraina. Rusia menyebut kampanye itu sebagai "operasi khusus". Sementara tampaknya kecil kemungkinan minyak mentah Iran akan kembali dengan cepat ke pasar global.

Indeks sektor energi, kelompok S&P 500 yang menonjol sepanjang tahun ini, adalah satu-satunya sektor yang mencatat kenaikan pada hari Senin. Hingga akhir perdagangan tadi pagi, indeks sektor energi naik 1,6%.

"Kekhawatiran pada minyak telah menyebabkan kekhawatiran pada inflasi yang lebih tinggi dan potensi stagflasi," kata Mona Mahajan, ahli strategi investasi senior di Edward Jones seperti dikutip Reuters.

Amazon, Microsoft dan Apple berada di antara pemberat teratas S&P 500. Sementara sektor keuangan turun 3,7%. Sektor utilitas, salah satu area defensif pasar saham, naik 1,3%.

Para pejabat Ukraina mengatakan sebuah pabrik roti telah terkena serangan udara Rusia ketika para perunding negara itu berkumpul untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat Rusia setelah putaran sebelumnya yang tidak membawa jeda dalam konflik tersebut.

Saham United Airlines Holdings Inc turun 15% dan Norwegian Cruise Line Holdings turun 11,6%, di antara penurunan luas dalam saham perjalanan dan liburan karena lonjakan harga minyak mengancam akan mengganggu pemulihan yang baru lahir.

Pasar saham bergejolak untuk memulai 2022 karena kekhawatiran tentang krisis Rusia-Ukraina telah memperdalam aksi jual yang awalnya dipicu oleh kekhawatiran atas potensi kenaikan suku bunga Fed Funds Rate. Imbal hasil obligasi yang lebih tinggi karena Federal Reserve diperkirakan akan memperketat kebijakan moneter tahun ini untuk melawan inflasi. S&P 500 menandai level penutupan terendah sejak Juni 2021.

“Pasar sudah gelisah tentang siklus kenaikan suku bunga Fed,” kata Burns McKinney, manajer portofolio di NFJ Investment Group. Dia menambahkan gelombang kenaikan suku bunga mungkin berakhir dengan cepat menuju tahap akhir dari siklus pasar.

Investor sedang menunggu laporan harga konsumen AS pada hari Kamis, dengan The Fed secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga akhir bulan ini untuk memerangi lonjakan inflasi.

Rubel Rusia anjlok di perdagangan luar negeri, tawaran menguap

Kurs rubel Rusia turun tajam ke rekor terendah baru dalam perdagangan tipis pada Senin (7/3/2022), karena minimnya tawaran dari investor dengan pasar lokal ditutup untuk perdagangan setidaknya hingga Rabu (9/3/2022).

Rubel telah kehilangan hampir 50 persen nilainya terhadap greenback sejak awal tahun, dengan kerugian yang meningkat tajam sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari, sebuah langkah yang memicu sanksi besar-besaran dari berbagai pemerintah di seluruh dunia.

Tawaran beli rubel diindikasikan sejauh 150 terhadap dolar setelah ditutup pada 121,037 pada Jumat (4/3/2022), menurut data Refinitiv. Di platform perdagangan EBS, rubel melemah sejauh 160 terhadap dolar, atau lebih dari 22 persen, dan baru-baru ini diperdagangkan di 145, turun 14,5 persen hari ini.

Spread bid/ask antara 7 dan 15 sen, menunjukkan pasar yang semakin tidak likuid.

Perdagangan di bursa MOEX Moskow dijadwalkan ditutup hingga Rabu (9/3/2022) untuk hari libur bank.

Pembatasan di Rusia, pemberi pinjaman, perusahaan dan individu pentingnya, serta tindakan balasan dari Moskow, telah semakin memangkas aset-aset Rusia dari pasar keuangan global dan mempersulit investor untuk memperdagangkan sekuritas apa pun.

"Masa depan tidak terlihat cerah untuk rubel Rusia sama sekali," kata Ipek Ozkardeskaya, analis senior di Swissquote.

"Kombinasi sanksi barat, meningkatnya risiko gagal bayar dan insentif untuk melakukan divestasi dari aset berdenominasi rubel kemungkinan akan semakin membebani mata uang."

Saham terakhir diperdagangkan pada 25 Februari di bursa Moskow. Exchange Traded Fund (ETF) dari perusahaan-perusahaan Rusia yang diperdagangkan di Amerika Serikat dihentikan pada Jumat (4/3/2022) setelah turun hampir 80 persen tahun ini.

Swap default kredit lima tahun di Rusia - yang mencerminkan biaya untuk memastikan eksposur terhadap utang negara - melonjak ke rekor 2.757 basis poin dibandingkan dengan 1.725 basis poin pada Jumat (4/3/2022), data dari IHS Markit menunjukkan.

Perdagangan pada surat utang berdenominasi dolar dan euro Rusia hampir terhenti, dengan beberapa penerbit menawar sekitar 20 sen dalam dolar atau euro.

"Dengan harga Rusia pada obligasi euro sekitar 20, ini akan berlangsung untuk waktu yang sangat lama, dan tidak ada yang ingin dikaitkan dengan (rubel)," kata Gabriel Sterne, kepala penelitian EM global di Oxford Economics.

"Jual saja dan ambil kerugian. Anda harus menafsirkan pergerakan harga sebagai: ada pasokan yang hampir tak terbatas dan permintaan yang sangat sedikit untuk aset-aset ini saat ini. Sekarang hanya masalah pembuangan aset Rusia secara teratur."

Rusia menyebut tindakannya di Ukraina sebagai "operasi khusus".

Pengukur volatilitas tersirat rubel - ukuran permintaan untuk opsi pada mata uang naik atau turun terhadap dolar - telah tinggal di dekat rekor tertinggi yang dicapai minggu lalu, dengan pengukur satu minggu di atas 84 persen ​​dan satu bulan di atas 94 persen.

Runtuhnya rubel juga telah memukul volume perdagangan. Omset mata uang Rusia di EBS turun lebih dari 80 persen pada Jumat (4/3/2022) dibandingkan dengan akhir Februari.

Google Mendeteksi Aktivitas Hacker Rusia, Belarusia, dan China di Ukraina

Google melaporkan telah melihat tingginya aktivitas hacker Rusia dan Belarusia di jaringan digital Ukraina dalam beberapa pekan terakhir. Dilansir dari Reuters, para hacker tersebut melakukan aksi spionase, kampanye phising, serta serangan lainnya.

Dalam sebuah postingan di blog resminya hari Senin (7/3), Grup Analisis Ancaman Google mengatakan bahwa selama dua minggu terakhir unit peretasan Rusia FancyBear telah mengirim email phishing ke media Ukraina perusahaan UkrNet.

Pesan phishing yang dikirim bertujuan untuk mencuri informasi dari pihak yang membuka pesan tersebut. Dengan metode ini, peretas dapat menembus komputer target dan akun online.

Google tidak mengatakan apakah ada serangan yang berhasil. Sementara pihak Rusia menyangkal menggunakan peretas untuk mengejar musuhnya.

Bukan hanya Rusia, peretas dari Belarusia juga diduga ikut meramaikan dunia digital Ukraina. Google melaporkan adanya aktivitas kelompok peretas Ghostwriter/UNC1151 yang mencoba mencuri kredensial akun melalui upaya phishing pada organisasi pemerintah dan militer Polandia dan Ukraina.

Bulan lalu, pejabat keamanan siber Ukraina mengatakan peretas Belarusia menargetkan alamat email pribadi personel militer Ukraina dan individu lain yang terkait dengan badan militer.

Google juga menemukan aktivitas kelompok Mustang Panda, atau Temp.Hex, yang diidentifikasi berbasis di China. Kelompok peretas ini mengirimkan pesan dengan lampiran bermuatan virus ke sejumlah entitas Eropa dengan nama file seperti "Situasi di perbatasan Uni Eropa dengan Ukraina.zip".

Untuk saat ini Google masih mencoba mempelajari aktivitas Mustang Panda yang sejauh ini diketahui berfokus pada target di Asia Tenggara.

Sejak invasi Rusia dimulai bulan lalu, Ukraina telah secara terbuka meminta komunitas peretasnya untuk membantu melindungi infrastruktur dan melakukan misi mata-mata dunia maya terhadap pasukan Rusia.

Begini Tindakan Sejumlah Perusahaan Global Besar dalam Mengecam Rusia

Sebaliknya, pemilik restoran Burger King dan Papa John's menggarisbawahi bahwa restoran yang mengibarkan bendera mereka di Rusia dimiliki oleh mitra lokal. "Kami tidak memiliki rencana untuk meminta pewaralaba independen yang memiliki dan mengoperasikan toko Papa Johns di Rusia untuk menutup toko mereka," kata pembuat pizza itu.

 Produksi dan ekspor dihentikan

Toyota Motor Corp dan Nissan Motor Co telah menghentikan ekspor ke Rusia, dengan alasan masalah logistik. Toyota juga telah menghentikan produksi lokal.  Nissan, Mazda Motor Corp dan Mitsubishi Motors Corp kemungkinan besar akan menghentikan produksi lokal ketika persediaan suku cadang habis, kata mereka.

Ford telah menghentikan operasinya, tetapi mitra usaha patungannya masih memiliki pabrik di negara tersebut. Banyak pembuat mobil lain, termasuk Renault Prancis dan Toyota Motor Corp Jepang telah mengumumkan penutupan manufaktur lokal karena di saat yang sama juga memang mengalami kekurangan pasokan.

 Mengeluarkan pernyataan kasar

Banyak merek global besar menggunakan bahasa korporat yang jarang terdengar, yang jelas-jelas menyalahkan Rusia karena menyerang Ukraina. Apple dan Ford menggunakan bahasa yang sangat mirip untuk menggambarkan keprihatinan mendalam tentang invasi Rusia. Kepala Eksekutif Occidental Petroleum Vicki Hollub menyebut invasi itu "gila dan tidak manusiawi" dalam komentar yang dibuat sehari setelah invasi.

Tidakan Kejutan

Keputusan perusahaan minyak BP untuk menjual Rusia dengan biaya sebanyak US$ 25 miliar merupakan kejutan bagi industri yang telah bekerja sangat erat dengan Rusia. Begitupun dengan Apple dan Disney.

 Berencana Kaji Ulang Bisnisnya

Perusahaan Jepang, termasuk Mitsui & Co, Mitsubishi Corp, Itochu Corp dan Marubeni Corp  yang memiliki saham di terminal ekspor gas alam cair di Rusia, berada di bawah tekanan yang semakin dalam atas hubungan mereka dengan Rusia. Mereka saat ini sedang mengkaji kembali bisnis mereka di Rusia.

Sementara banyak pedagang komoditas seperti Cargill tidak banyak bicara. Merek konsumen besar termasuk Nestle, Procter & Gamble, Pepsi, dan pembuat kue Oreo Mondelez belum mengomentari status operasi mereka di Rusia. .

McDonald's Corp yang memiliki 847 restoran di Rusia, 84% di antaranya adalah milik perusahaan, belum mengomentari operasinya.

Sebut Hubungan dengan Rusia Kokoh, China Beri Bantuan Kemanusiaan ke Ukraina

Palang Merah China akan memberikan bantuan kemanusiaan ke Ukraina "sesegera mungkin", Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan pada Senin (7/3), sambil memuji persahabatan negaranya dengan Rusia yang "kokoh".

China telah menolak untuk mengutuk serangan Rusia ke Ukraina, atau menyebutnya sebagai invasi, sambil meminta negara-negara Barat untuk menghormati "masalah keamanan sah" negeri beruang merah.

Wang menyebutkan, penyebab "situasi Ukraina" adalah "kompleks" dan tidak terjadi dalam semalam.

"Memecahkan masalah kompleks membutuhkan ketenangan dan rasionalitas dibanding menambahkan bahan bakar ke api dan meningkatkan kontradiksi," katanya dalam konferensi pers di sela-sela pertemuan tahunan Parlemen China, seperti dikutip Reuters.

China bersedia untuk terus melakukan upayanya sendiri untuk menyelesaikan krisis kemanusiaan. Palang Merah China akan "sesegera mungkin" memberikan sejumlah bantuan ke Ukraina, menurut Wang, tanpa memberikan princian.

Dan, Wang menegaskan, persahabatan antara China dan Rusia adalah "kokoh" dan prospek kerjasama kedua negara ke depan cerah.

"Seburuk apapun situasi internasional, baik China maupun Rusia akan mempertahankan tekad strategis mereka dan terus mendorong kemitraan koordinasi strategis yang komprehensif di era baru," ungkapnya.

4 Syarat yang Harus Dipenuhi Ukraina Jika Ingin Rusia Hentikan Perang

Hingga saat ini, perang antara Rusia dan Ukraina masih terus berlangsung. Akan tetapi, menurut juru bicara Kremlin, Senin (7/3/2022), Rusia telah mengatakan kepada Ukraina bahwa pihaknya siap untuk menghentikan operasi militer "dalam sekejap" jika Kyiv memenuhi daftar persyaratan.

Mengutip Reuters, Dmitry Peskov mengatakan, ada empat tuntutan yang diajukan Moskow agar perang bisa dihentikan.

  1. Ukraina segera menghentikan aksi militernya
    2. Mengubah konstitusinya untuk menetapkan kebijakan netralitas
    3. Mengakui Krimea sebagai wilayah Rusia
    4. Mengakui republik separatis Donetsk dan Lugansk sebagai negara merdeka.

Itu adalah pernyataan Rusia yang paling eksplisit sejauh ini tentang persyaratan yang ingin diterapkan pada Ukraina untuk menghentikan apa yang disebutnya "operasi militer khusus", sekarang di hari ke-12.

Peskov mengatakan kepada Reuters dalam sebuah wawancara telepon bahwa Ukraina sudah mengetahui kondisi tersebut.

"Dan mereka diberitahu bahwa semua ini bisa dihentikan dalam sekejap," imbuhnya.

Sampai saat ini, belum ada reaksi langsung dari pihak Ukraina.

Rusia telah menyerang Ukraina dari utara, timur dan selatan, dengan menggempur kota-kota termasuk Kyiv, Kharkiv dan pelabuhan Mariupol.

Invasi yang diluncurkan pada 24 Februari, telah menyebabkan krisis pengungsi terburuk di Eropa sejak Perang Dunia Kedua, memicu kemarahan di seluruh dunia, dan menyebabkan sanksi berat terhadap Moskow.

Namun juru bicara Kremlin bersikeras bahwa Rusia tidak berusaha untuk membuat klaim teritorial lebih lanjut di Ukraina dan mengatakan "tidak benar" bahwa mereka menuntut agar Kyiv diserahkan.

"Kami benar-benar menyelesaikan demiliterisasi Ukraina. Kami akan menyelesaikannya. Tetapi yang utama adalah Ukraina menghentikan aksi militernya. Mereka harus menghentikan aksi militer mereka dan kemudian tidak ada yang akan menembak," katanya kepada Reuters.

Mengenai masalah netralitas, Peskov mengatakan: "Mereka harus membuat amandemen konstitusi yang menurutnya Ukraina akan menolak setiap tujuan untuk memasuki blok mana pun."

Dia menambahkan, "Kami juga telah berbicara tentang bagaimana mereka harus mengakui bahwa Krimea adalah wilayah Rusia dan bahwa mereka perlu mengakui bahwa Donetsk dan Lugansk adalah negara merdeka. Dan hanya itu. Itu akan berhenti sebentar lagi."

Perundingan baru

Garis besar tuntutan Rusia dirilis ketika delegasi dari Rusia dan Ukraina bersiap untuk bertemu pada hari Senin untuk pembicaraan putaran ketiga yang bertujuan untuk mengakhiri perang Rusia melawan Ukraina.

Hal ini dimulai segera setelah Putin mengakui dua wilayah yang memisahkan diri di Ukraina timur, di mana kelompok separatis yang didukung Rusia telah memerangi pasukan pemerintah Ukraina sejak 2014, sebagai wilayah independen. Ini merupakan aksi yang dikecam sebagai hal ilegal oleh Barat.

"Ini bukan kami yang merebut Lugansk dan Donetsk dari Ukraina. Donetsk dan Lugansk tidak ingin menjadi bagian dari Ukraina. Tapi bukan berarti mereka harus dihancurkan sebagai hasilnya," kata Peskov.

"Selebihnya. Ukraina adalah negara merdeka yang akan hidup seperti yang diinginkannya, tetapi dalam kondisi netralitas," tegasnya.

Dia mengatakan semua tuntutan telah dirumuskan dan diserahkan selama dua putaran pertama pembicaraan antara delegasi Rusia dan Ukraina, yang berlangsung pekan lalu.

"Kami berharap semua ini akan berjalan baik dan mereka akan bereaksi dengan cara yang sesuai," kata Peskov.

Nasehat Warren Buffett: Jangan Pernah Memegang Uang Selama Perang

Suasana ekonomi dunia saat ini benar-benar penuh ketegangan. Itu sebabnya, pelaku pasar enggan mengambil risiko alias risk-off. Kondisi yang terjadi saat ini, pasar saham turun, sementara harga minyak mentah dan komoditas lainnya melonjak tinggi.

Kondisi tersebut terjadi setelah pejabat AS mengemukakan untuk meningkatkan kemungkinan sanksi minyak terhadap Rusia. Pada saat yang bersamaan, dunia menghadapi krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Ukraina, di mana invasi Rusia telah mencapai hari ke-12 dan lebih dari satu juta orang telah melarikan diri dari pertempuran.

Mengutip Market Watch, dengan latar belakang pergolakan geopolitik yang tidak dapat diprediksi dan berbahaya, berikut adalah beberapa saran investasi masa perang dari Warren Buffett Berkshire Hathaway, yang diambil dari hasil wawancaranya pada tahun 2014. Itu merupakan tahun terakhir kali Rusia menginvasi Ukraina.

“Satu hal yang bisa Anda yakini adalah jika kita terlibat dalam perang yang sangat besar, nilai uang akan turun — itu terjadi di hampir setiap perang yang saya ketahui. Hal terakhir yang ingin Anda lakukan adalah memegang uang selama perang,” katanya.

Mengutip smh.com.au, saat ditanyakan jika tidak ingin memegang uang tunai, apa yang ingin dia miliki, begini jawaban Warren Buffett.

"Hal terakhir yang ingin Anda lakukan adalah memegang uang selama perang. Anda mungkin ingin memiliki pertanian, Anda mungkin ingin memiliki rumah apartemen, Anda mungkin ingin memiliki sekuritas," jelas Warren Buffett.

Dia menambahkan, “Selama Perang Dunia II, pasar saham maju -- pasar saham akan maju seiring waktu. Bisnis Amerika akan bernilai lebih banyak uang, dolar akan bernilai lebih sedikit, sehingga uang tidak akan membeli Anda sebanyak itu."

"Tapi Anda akan jauh lebih baik memiliki aset produktif selama 50 tahun ke depan, daripada Anda akan memiliki selembar kertas," ungkapnya.

Militer Rusia akan Berhenti Menembak Kota-Kota Ukraina termasuk Kyiv, Ada Apa?

Militer Rusia akan berhenti menembak dan membuka koridor kemanusiaan di beberapa kota Ukraina termasuk ibu kota Kyiv pada pukul 10.00 waktu Moskow, Senin (7/3), Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan.

Koridor kemanusian, yang juga akan dibuka di Kota Kharkiv, Mariupol, dan Sumy, sedang Rusia siapkan atas permintaan pribadi Presiden Prancis Emmanuel Macron dan mengingat situasi saat ini di kota-kota itu, menurut Kementerian Pertahanan Rusia, kantor berita Interfax melaporkan, seperti dilansir Al Jazeera.

Sebelumnya, Rusia mengumumkan gencatan senjata pada Sabtu (5/3) untuk memungkinkan perjalanan yang aman bagi warga sipil keluar dari Kota Mariupol dan Volnovakha di Ukraina, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan.

"Dari pukul 10 pagi waktu Moskow, pihak Rusia mengumumkan gencatan senjata dan pembukaan koridor kemanusiaan untuk memungkinkan warga sipil meninggalkan Mariupol dan Volnovakha," kata Kementerian Pertahanan Rusia, seperti dikutip Channel News Asia.

Sementara Paus Fransiskus pada Minggu (6/3) menyerukan kembali perdamaian, penciptaan koridor kemanusiaan, dan kembali ke negosiasi.

"Di negara yang mati syahid itu, kebutuhan akan bantuan kemanusiaan meningkat dari waktu ke waktu," ungkpa Paus Fransicus berbicara dari jendela yang menghadap ke Lapangan Santo Petrus, seperti dikutip Reuters. "Perang itu gila, tolong hentikan".

"Di Ukraina, sungai darah dan air mata mengalir. Ini bukan hanya operasi militer tetapi perang yang menabur kematian, kehancuran, dan kesengsaraan," kata Paus Fransiskus dalam pidato mingguannya kepada orang banyak yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus.

AS dan Polandia Bahas Kesepakatan Pasok Jet Tempur ke Ukraina

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan, Amerika Serikat sedang membahas kesepakatan dengan Polandia untuk memasok jet tempur ke Ukraina di tengah invasi Rusia.

“Kami sekarang secara aktif membahas tentang pesawat yang mungkin disediakan Polandia ke Ukraina, dan melihat bagaimana kami bisa mengisi ulang jika Polandia memutuskan untuk memasok pesawat-pesawat itu,” katanya.

“Saya tidak bisa menetapkan target waktu, tetapi saya hanya bisa mengatakan, kami membahasanya dengan sangat, sangat aktif,” ujarnya kepada wartawan pada Minggu (6/3) selama kunjungan ke Moldova, seperti dikutip Al Jazeera.

Komentarnya muncul setelah Pemimpin Senat dari Demokrat Chuck Schumer menyatakan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam pembicaraan dengan anggota Kongres AS pada Sabtu (5/3), meminta Washington untuk memfasilitasi transfer pesawat bekas Rusia dari sekutu Eropa Timur.

Beberapa situs berita melaporkan, AS dan Polandia bekerjasama untuk menyediakan jet tempur era Soviet milik Polandia ke Ukraina.

Empat pejabat AS mengatakan kepada Politico, kedua pemerintah sedang membahas kesepakatan, dengan pengiriman pesawat menjadi kesulitan terbesar.

“Kami bekerja dengan Polandia dalam masalah ini dan berkonsultasi dengan sekutu NATO kami lainnya,” sebut juru bicara Gedung Putih kepada Politico.

“Kami juga sedang melakukan apa yang bisa kami berikan untuk mengisi kembali Polandia jika memutuskan untuk memasok pesawat ke Ukraina,” imbuhnya.

Sebelumnya, Perdana Menteri Australia Scott Morrison pada Selasa (1/3) menyetujui dana A$ 70 juta atau sekitar US$ 50 juta untuk membantu Ukraina memenuhi kebutuhan senjata.

Morrison juga memastikan, mayoritas pendanaan senjata baru untuk Ukraina akan berada dalam kategori mematikan.

"Kami berbicara tentang rudal, kami berbicara tentang amunisi, kami berbicara tentang mendukung mereka dalam membela tanah air mereka sendiri di Ukraina, dan kami akan melakukan itu dalam kemitraan dengan NATO," katanya, seperti dikutip Reuters.

Morrison menambahkan, senjata akan Australia kirim secepat mungkin, namun tidak menjelaskan bagaimana mekanisme pengirimannya.

Australia Mendesak China untuk Ikut Mengecam Invasi Rusia di Ukraina

Saat ini sebagian besar negara telah memutuskan perdagangan dengan Rusia. Perusahaan pembayaran seperti Visa dan Mastercard juga telah menangguhkan operasinya di sana.

Sebaliknya, China justru melonggarkan tarif gandum ke Rusia dan mungkin memasok sistem UnionPay-nya.

"Bagi saya, ini benar-benar mengejutkan, dengan kepentingan internasional yang lebih luas. Selama mereka bertaruh setiap cara untuk ini, maka saya khawatir pertumpahan darah akan terus berlanjut," tambah Morrison.

Lebih lanjut, Morrison melihat tatanan otokrasi China dan Rusia saat ini telah secara naluriah berjalan secara beriringan dan berupaya menantang serta mengatur ulang tatanan dunia berdasarkan visi mereka sendiri.