• Blog
  • News Forex, Index & Komoditi (Senin, 8 November  2021)

News Forex, Index & Komoditi (Senin, 8 November  2021)

Wall Street berakhir lebih tinggi, Indeks Dow Jones naik 203,72 poin

Indeks-indeks utama Wall Street menetap lebih tinggi pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), mencetak rekor penutupan tertinggi dan membukukan kenaikan solid untuk minggu ini menyusul laporan pekerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan dan data positif untuk pil eksperimental Pfizer melawan COVID-19.

Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 203,72 poin atau 0,56 persen, menjadi menetap di 36.327,95 poin. Indeks S&P 500 menguat 17,47 poin atau 0,37 persen, menjadi berakhir di 4.697,53 poin. Indeks Komposit Nasdaq terangkat 31,28 poin atau 0,20 persen, menjadi ditutup pada 15.971,59 poin.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah positif, dengan sektor energi meningkat 1,42 persen, memimpin kenaikan. Sedangkan sektor perawatan kesehatan tergelincir 1,03 persen, merupakan satu-satunya kelompok yang menurun.

Indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatat rekor penutupan tertinggi untuk sesi ketujuh berturut-turut, sementara indeks Dow Jones Industrial Average juga ditutup pada rekor tertinggi. Ketiga indeks membukukan kenaikan mingguan untuk minggu kelima berturut-turut.

Untuk minggu ini, Indeks S&P 500 naik 2,00 persen, Indeks Dow Jones bertambah 1,42 persen, sedangkan Indeks Nasdaq melonjak 3,05 persen.

Laporan Departemen Tenaga Kerja pada Jumat (5/11/2021) menunjukkan pekerjaan AS meningkat lebih kuat dari yang diperkirakan pada Oktober karena rintangan dari lonjakan infeksi COVID-19 selama musim panas mereda. Pengusaha AS menambahkan 531.000 pekerjaan pada Oktober, lebih tinggi dari kenaikan 450.000 pekerjaan yang diharapkan.

Data terbaru mengikuti kenaikan pekerjaan yang direvisi naik sebesar 312.000 pada September, dan kenaikan pekerjaan yang direvisi naik sebesar 483.000 pada Agustus, ketika pemulihan pasar tenaga kerja melambat di tengah lonjakan COVID-19 yang dipicu varian Delta.

Uji coba pil antivirus eksperimental Pfizer Inc untuk COVID-19 dihentikan lebih awal setelah obat tersebut terbukti mengurangi 89 persen kemungkinan rawat inap atau kematian bagi orang dewasa yang berisiko terkena penyakit parah. Saham Pfizer melonjak sekitar 11 persen.

Berita itu terus berlanjut untuk ekuitas setelah investor awal pekan ini mencerna keputusan Federal Reserve untuk mulai mengurangi pembelian obligasi bulanan yang dilakukan untuk mendukung perekonomian.

“Momentum yang telah kita lihat minggu ini terus berlanjut, dan laporan pekerjaan dan pengumuman Pfizer tentu saja memberikan titik data positif bagi investor untuk memasukkan lebih banyak uang ke pasar saat ini,” kata Kepala Eksekutif  Horizon Investment Services, Chuck Carlson, di Hammond, Indiana.

Saham perjalanan naik setelah pengumuman Pfizer, dengan indeks maskapai penerbangan S&P 1500 melonjak 7,0 persen, dan operator pelayaran Carnival Corp, Royal Caribbean Cruises, dan Norwegian Cruise melambung antara sekitar 8,0 persen hingga 9,0 persen.

“Masih terlalu dini untuk definitif, tetapi (pil) ini terlihat seperti pengubah permainan sejati bagi banyak industri seperti rekreasi dan transportasi, Anda melihatnya tercermin dalam harga-harga,” kata Direktur Pelaksana New Vines Capital LLC, Andre Bakhos, di Bernardsville, New Jersey.

Berita Pfizer membebani saham pesaing seperti Merck, yang anjlok hampir 10 persen, dan pembuat vaksin COVID-19 seperti Moderna, yang merosot 16,6 persen.

Saham-saham yang disebut "tinggal di rumah" merosot, dengan Zoom Video Communications kehilangan 6,2 persen dan Netflix Inc merosot 3,4 persen.

Laba kuartal ketiga yang lebih baik dari perkiraan telah membantu mengangkat sentimen untuk ekuitas. Dengan sekitar 440 perusahaan telah melaporkan kinerja keuangannya, perolehan laba S&P 500 diperkirakan akan naik 41,5 persen pada kuartal ketiga dari tahun sebelumnya, menurut Refinitiv IBES.

Sekitar 11,5 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, dibandingkan dengan rata-rata harian 10,5 miliar selama 20 sesi terakhir.

Bursa Asia bervariasi, data ekspor China jadi sentimen positif

Bursa Asia bervariasi di awal pekan ini. Senin (8/11) pukul 8.25 WIB, indeks Nikkei 225 melemah tipis 0,03% ke 29.609.

Hang Seng turun 0,51% ke 24.743. Kospi turun 1,15% ke 2.935.

Sedangkan Straits Times menguat 0,57% ke 3.260. Indeks Taiex pun menguat 0,11% ke 17.315. FTSE Bursa Malaysia naik 0,20% ke 1.534.

Instrumen investasi aset berisiko menguat setelah data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan perbaikan. Tapi, investor cenderung berhati-hati menunggu laporan inflasi AS.

"Semakin lama FOMC menunggu untuk memperketat kebijakan moneter, semakin besar risiko FOMC untuk mengendalikan inflasi," ungkap Kim Mundy, ekonom senior dan ahli strategi mata uang di CBA kepada Reuters.

Pengesahan undang-undang infrastruktur senilai US$ 1 triliun oleh Kongres turut menjadi sentimen positif bagi pasar saham.

Data neraca dagang China yang dirilis kemarin menunjukkan ekspor bulan Oktober lebih tinggi ketimbang perkiraan. di sisi lain, angka impor lebih rendah daripada prediksi.

Korut: Pengembangan Senjata Baru adalah Pilihan Tak Terhindarkan

 Kementerian luar negeri Korea Utara (Korut) menyatakan, pengembangan senjata baru adalah pilihan tak terhindarkan untuk mencegah perang dan melindungi rakyatnya. Kementerian itu juga menuduh Amerika Serikat (AS) memiliki standar ganda dalam pertahanan diri melawan Pyongyang.

“Penguatan kemampuan pertahanan diri kami adalah pilihan yang tak terhindarkan untuk mencegah perang dan melindungi kedaulatan, martabat, dan hak rakyat negara kami untuk bertahan hidup dan berkembang,” kata kementerian itu dalam sebuah catatan yang diposting di situs webnya, seperti dikutip dari Yonhap, Jumat (4/11/2021).

Dalam dua bulan terakhir, Korut melakukan serangkaian peluncuran rudal. Termasuk uji coba rudal balistik kapal selam (SLBM) pada bulan Oktober. kementerian itu mengatakan, AS dan negara-negara Barat lainnya mengkritik perkembangan militer Korut, namun tetap diam atas tindakan serupa yang dilakukan Korea Selatan.

"Ini adalah penilaian yang akurat atas tindakan tidak adil dari standar ganda AS dan negara-negara Barat yang secara membabi buta mempermasalahkan langkah-langkah kami untuk memperkuat kemampuan pertahanan nasional," katanya.

Sementara itu, Kepala Staf Gabungan militer AS, Jenderal Mark Milley mengatakan bahwa konflik yang tidak disengaja dengan Korut tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat. Ia juga menolak kemungkinan sesuatu yang tidak disengaja terjadi di Korut atau militernya dalam waktu dekat.

"Saya akan mengatakan bahwa pemerintah Korut pada saat ini tampaknya stabil dan mereka memiliki kontrol yang baik atas militer mereka dan sistem mereka dan semua persenjataan mereka," kata perwira tinggi militer AS itu dalam sebuah forum yang diselenggarakan oleh lembaga pemikir Aspen Institute di Washington.

"Jadi saya tidak berpikir, Anda akan melihat sesuatu yang tidak disengaja terjadi dari mereka. Itu bisa, tetapi saya tidak berpikir itu sangat mungkin. Mereka memiliki kontrol yang sangat-sangat ketat atas sistem mereka," tambahnya.

Milley mencatat hal-hal buruk bisa terjadi dengan cepat di Semenanjung Korea dengan 70 persen militer Korut dikerahkan "dalam jarak bermil-mil" dari perbatasan antar-Korea, yang disebut Zona Demiliterisasi (DMZ).

"Semenanjung adalah salah satu daerah yang sangat termiliterisasi. Tujuh puluh persen militer Korut berada dalam jarak bermil-mil dari DMZ, dalam beberapa mil dari Seoul. Jadi, hal-hal buruk bisa terjadi di semenanjung Korea dalam waktu yang relatif singkat. Jadi, kami selalu menjaga kesiapan yang sangat, sangat tinggi sehubungan dengan semenanjung Korea," tambahnya.

Milley mengatakan, niat sebenarnya dari Korut mungkin sulit untuk diketahui. Tetapi, AS dan Korea Selatan tetap siap untuk melawan setiap agresi dari Utara kapan saja. "Korut adalah salah satu negara tersulit di dunia untuk mengetahui niat mereka karena banyak alasan. Terutama karena mereka adalah masyarakat totaliter yang sangat-sangat tertutup," kata Milley.

"Tetapi, militer Korsel sangat mampu. Militer kami sangat mampu. Jadi, saya yakin bahwa pasukan gabungan AS dan Republik Korea dapat menangani apa pun yang ada dalam pikiran Korut," tambahnya.

Jenderal Tertinggi Pentagon: Dunia Kini Miliki 3 Kekuatan Besar dan AS Ditantang

 Jenderal tertinggi Pentagon, Mark Milley, mengatakan dunia sekarang memiliki tiga kekuatan besar yakni Amerika Serikat (AS), Rusia dan China . Menurutnya, Amerika ditantang dua pesaingnya.

Jenderal Milley, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, mengatakan tiga kekuatan besar ini membentuk kembali konfigurasi tri-polar.

Dia kemudian menjelaskan mengapa menurutnya AS harus "memberikan premi" untuk menjaga pengaruhnya.

Berbicara di Forum Keamanan Aspen pada hari Rabu (3/11/2021), Jenderal Milley mengakui bahwa tahun-tahun dominasi AS mungkin akan berakhir.

"Kita memasuki dunia tri-polar dengan AS, Rusia, dan China sebagai kekuatan besar. Hanya dengan memperkenalkan tiga vs dua Anda mendapatkan peningkatan kompleksitas," katanya, seperti dilansir Russia Today.

Milley percaya bahwa menjaga perdamaian di antara kekuatan besar dalam konfigurasi tri-polar akan jauh lebih sulit daripada di masa Perang Dingin, ketika dua kekuatan berselisih.
Teknologi yang berkembang pesat, kata sang jenderal, juga menambah kompleksitas, di mana dunia menjadi berpotensi jauh lebih tidak stabil secara strategis daripada, katakanlah, 40, 50 atau 60 tahun terakhir.

"Apa artinya itu? Itu artinya, menurut saya, kita harus mengutamakan perdamaian kekuatan besar," katanya.

Milley mengatakan Pentagon melihat China sebagai musuh utama di dunia tri-polar seperti itu.



Selama 40 tahun terakhir, Beijing telah secara aktif berinvestasi dalam militernya dan sekarang siap untuk menantang AS, setidaknya di tingkat regional untuk saat ini.

"China jelas menantang kami secara regional, dan aspirasi mereka adalah untuk menantang Amerika Serikat secara global," katanya.

Selama beberapa tahun terakhir, militer China dan AS telah mengalami banyak pertikaian di berbagai wilayah, dengan Laut China Selatan menjadi hotspot untuk insiden semacam itu.

Jalur perairan yang kaya sumber daya, yang tunduk pada klaim teritorial dan maritim yang tumpang tindih itu, adalah salah satu target utama dari apa yang disebut misi "kebebasan navigasi" oleh AS, serta lokasi penumpukan militer China.

Sumber utama ketegangan bilateral lainnya adalah Taiwan, pulau yang memerintah sendiri secara demokratis yang mempertahankan hubungan nyaman dengan Washington—dan diklaim sebagai bagian integral dari China oleh Beijing.

Tahun ini, militer China semakin aktif di sekitar pulau itu. Kapal militer AS juga berulang kali muncul di selat Taiwan, memicu reaksi marah di Beijing dan tuduhan campur tangan dalam urusan internal China.

Milley, bagaimanapun, berpikir bahwa meskipun otot-ototnya aktif, Beijing tidak mungkin mencoba dan merebut kendali Taiwan dengan paksa dalam waktu dekat.

"Berdasarkan analisis saya tentang China, saya tidak berpikir kemungkinan dalam waktu dekat—didefinisikan sebagai, Anda tahu, enam, 12, mungkin 24 bulan, jendela semacam itu," katanya.

Putin Proklamirkan Crimea Bagian dari Rusia Selamanya

 Presiden Rusia Vladimir Putin menandai hari libur Hari Persatuan nasional dengan perjalanan ke Crimea . Ia pun menyatakan bahwa wilayah itu akan selalu menjadi bagian dari Rusia.

Rusia mencaplok Crimea dari Ukraina pada tahun 2014 setelah penggulingan presidennegara itu yang bersahabat dengan Kremlin, sebuah langkah yang dianggap tidak sah oleh negara-negara Barat.

Putin mengagungkan pencaplokan itu saat mengunjungi kota yang menjadi pelabuhan utama armada Laut Hitam Rusia pada Kamis kemarin.

“Negara kita telah mendapatkan kembali kesatuan historisnya. Ikatan yang hidup dan tidak dapat dipatahkan ini dapat sangat terasa, tentu saja, di sini, di Sevastopol, di Crimea," katanya.

“Mereka bersama Rusia selamanya sekarang, karena itu adalah kehendak rakyat yang berdaulat, bebas dan tidak dapat ditekuk, dari semua rakyat kita,” imbuhnya seperti dikutip dari AP, Jumat (5/11/2021).

Hari Persatuan menandai pengusiran pasukan Polandia-Lithuania yang menduduki Moskow pada tahun 1612; hari libur yang dimulai pada tahun 2005, menggantikan peringatan era Soviet pada tanggal Revolusi Bolshevik.
Hari itu juga menjadi kesempatan untuk pawai anti-imigran oleh kaum nasionalis, tetapi pihak berwenang Moskow melarang acara tersebut berlangsung di Ibu Kota Rusia tahun ini.

Sekitar 20 orang ditahan ketika mereka mencoba berkumpul di stasiun kereta bawah tanah Moskow untuk demonstrasi nasionalis, menurut OVD-Info, sebuah kelompok yang memantau demonstrasi dan penangkapan politik.

Gerah Delegasi UE Sambangi Taiwan, China Kirim Peringatan

Berlianto

Jum'at, 05 November 2021 - 01:48 WIB

views: 1.011

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menyambut delegasi UE yang dipimpin oleh Raphael Glucksmann ke kantor kepresidenan di Taipei. Foto/SCMP

BEIJING - Kementerian Luar Negeri China mengingatkan Uni Eropa (UE) untuk tidak terlalu bersahabat dengan Taiwan . Pernyataan itu dikeluarkan saat anggota parlemen UE mengunjungi pulau di Asia Timur itu.

"China mendesak pihak Eropa untuk memperbaiki kesalahannya dan tidak mengirim sinyal yang salah kepada pasukan separatis kemerdekaan Taiwan, untuk menghindari dampak serius pada hubungan China-Uni Eropa," kata Kementerian Luar Negeri China seperti dikutip dari Newsweek, Jumat (5/11/2021).

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin juga mengatakan bahwa fakta Taiwan adalah bagian dari China tidak dapat diubah.

Sebelumnya 13 anggota Parlemen Eropa melakukan kunjungan resmi pertama ke Taiwan. Meskipun Taiwan tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan negara-negara Eropa selain Kota Vatikan, pulau itu telah berusaha untuk memperdalam hubungannya dengan UE.



Tiga belas anggota parlemen dari komite Parlemen tentang campur tangan asing dalam proses demokrasi bertemu dengan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen pada hari kedua dari kunjungan mereka selama tiga hari.

Baca juga: Jenderal Top AS: China Kembangkan Kemampuan untuk Menyerang Taiwan

"Kami datang ke sini dengan pesan yang sangat sederhana, sangat jelas. Anda tidak sendirian," kata Raphael Glucksmann, ketua komite Prancis.

"Eropa berdiri bersama Anda, dengan Anda, dalam membela kebebasan dan membela supremasi hukum dan martabat manusia," imbuhnya.

"Sudah saatnya bagi Uni Eropa untuk meningkatkan kerja samanya dengan Taiwan," ujarnya.

Tsai, dalam sambutan singkatnya, menyebut kunjungan itu sangat penting dan mengatakan Taiwan bersedia berbagi pengalamannya dalam memerangi disinformasi dan ia ingin membangun aliansi demokratis melawan disinformasi.



Baca juga: Diserbu 8 Pesawat Militer China, Taiwan Kerahkan Jet Tempur

Bulan lalu, Parlemen Eropa mengeluarkan resolusi yang menyerukan badan tersebut untuk mengintensifkan hubungan politik UE-Taiwan. Resolusi yang tidak mengikat itu juga menyerukan perubahan nama kantor perwakilan di Taiwan menjadi Kantor Uni Eropa di Taiwan, dan untuk membuat perjanjian investasi bilateral dengan pulau itu.

Kunjungan itu dilakukan di tengah meningkatnya dukungan di antara negara-negara Barat untuk pulau yang diperintah secara demokratis, yang diklaim China sebagai bagian dari wilayahnya untuk dianeksasi secara paksa jika perlu, dan meningkatnya persepsi negatif terhadap Beijing.

China telah semakin banyak mengirim jet tempur ke Taiwan dalam kampanye pelecehan militer yang berkepanjangan setidaknya sejak tahun lalu, ketika Taiwan mulai merilis data secara terbuka.

Bakal Punya 1.000 Hulu Ledak Nuklir, China Bikin Pentagon Waswas

Berlianto

Kamis, 04 November 2021 - 01:46 WIB

views: 16.806

Pentagon memperingatkan China akan mempunyai 1.000 hulu ledak nuklir pada akhir dekade ini. Foto/Ilustrasi

WASHINGTON - China telah memperluas kekuatan nuklirnya dengan cepat dan mungkin akan memiliki 1.000 hulu ledak nuklir pada akhir dekade karena berniat untuk melampaui pengaruh global Amerika Serikat (AS). Demikian laporan yang dirilis Pentagon .

Perkiraan tersebut berdasarkan modernisasi yang cepat opsi serangan nuklir China dan pembangunan silo misilnya. Ini menandai peningkatan dramatis dari proyeksi dalam laporan Kekuatan Militer China tahun lalu, yang memperkirakan bahwa China akan menggandakan persediaan 200 hulu ledak nuklir mereka dalam satu dekade.

"Ekspansi nuklir yang dilakukan (Republik Rakyat China) tentu sangat memprihatinkan bagi kami," kata pejabat senior pertahanan AS yang memberi pengarahan kepada wartawan tentang laporan itu.

"Adalah satu hal untuk mengamati apa yang mereka lakukan, tetapi mereka belum benar-benar menjelaskan mengapa mereka melakukannya," imbuhnya seperti dikutip dari CNN, Kamis (4/11/2021).



Pejabat itu mengatakan penumpukan itu menimbulkan keraguan serius tentang maksud di balik persediaan nuklir China.

Baca juga: Bangkitnya Militer China di Berbagai Bidang Bikin Pentagon Terguncang

"Mereka bergerak ke arah yang secara substansial melebihi tempat mereka sebelumnya dalam hal jumlah dan kemampuan," kata pejabat itu.

Meskipun China masih mempertahankan kebijakan untuk tidak menjadi pihak pertama yang menggunakan senjata nuklir , pejabat itu mengatakan China telah mengirimkan sinyal ada keadaan di mana itu tidak akan berlaku.

China juga berfokus pada kekuatan nuklir yang ramping dan efektif, tetapi peningkatan mereka saat ini lebih besar daripada yang diantisipasi AS dan jauh melampaui apa yang pernah mereka lakukan secara historis. Investasi dalam kekuatan nuklirnya telah memungkinkan China untuk membangun triad nuklir "baru lahir" dari rudal balistik yang diluncurkan dari udara, serta rudal yang diluncurkan dari permukaan dan laut, mirip dengan triad Amerika Serikat sendiri.

AS saat ini memiliki 3.750 hulu ledak nuklir dalam persediaannya, menurut data terbaru dari Departemen Luar Negeri, mengerdilkan ukuran persediaan nuklir China.



Laporan Pentagon, yang secara resmi disebut Perkembangan Militer dan Keamanan yang Melibatkan Republik Rakyat China 2021, juga berfokus pada tujuan Beijing untuk pengembangan masa depan dan modernisasi angkatan bersenjatanya. Yang terpenting, jika China memenuhi tujuan modernisasi sementaranya untuk tahun 2027, itu dapat memberi Beijing berbagai pilihan berbeda mengenai Taiwan dari blokade pulau hingga potensi invasi amfibi baik terhadap Taiwan langsung atau salah satu pulau terpencil yang lebih kecil.

Baca juga: AS Berhasil Uji Coba Motor Roket Booster Hipersonik di Utah

Pada saat yang sama, China juga bertujuan untuk mencegah intervensi asing dalam apa yang dilihat Beijing sebagai masalah politik domestik.

"Jelas, mereka melihat Amerika Serikat atau pihak lain yang mereka pikir mungkin campur tangan atas nama Taiwan," kata pejabat itu.

Melampaui 2027, China ingin menyelesaikan modernisasi militernya pada 2035 dan menjadi militer kelas dunia pada 2049, bertepatan dengan peringatan 100 tahun berdirinya Republik Rakyat China (RRC).

"Itu akan memungkinkannya untuk menggantikan aliansi AS dan kemitraan keamanan di kawasan Indo-Pasifik," bunyi laporan itu.

Laporan tersebut, yang merangkum perkembangan militer China selama tahun 2020, tidak menggambarkan uji coba rudal hipersonik yang baru-baru ini dilakukan oleh China selama musim panas.

Laporan tersebut mencatat bahwa China menerjunkan rudal DF-17 tahun lalu, sebuah rudal balistik jarak menengah yang mampu meluncurkan kendaraan luncur hipersonik.

China sendiri membantah telah menguji senjata hipersonik.

Baca juga: China Sangkal Uji Coba Rudal Hipersonik, Sebut Itu Tes Pesawat Luar Angkasa

Laporan tahun ini menambahkan bagian baru pada penelitian kimia dan biologi China, meningkatkan kekhawatiran tentang kemungkinan aplikasi penggunaan ganda dari aktivitas biologis negara tersebut. Tetapi laporan tersebut tidak menyelami asal-usul atau penyebaran virus Corona. Sebaliknya, laporan itu mencatat bahwa pandemi COVID-19 adalah kekuatan pendorong di belakang kebijakan luar negeri China, karena berusaha untuk menangkis kesalahan apa pun atas wabah tersebut sambil menggunakan bantuan asing untuk membangun pengaruh regional.

Pentagon telah berulang kali menyebut China sebagai tantangan bagi AS. Namun kesiapan AS dalam menghadapi tantangan dari Asia Timur itu justru diruwetkan dengan jalur birokrasi yang disebutseorang jenderal "brutal".

"Kecepatan mereka bergerak dan lintasan yang mereka tempuh akan melampaui Rusia dan Amerika Serikat jika kita tidak melakukan sesuatu untuk mengubahnya. Itu akan terjadi. Jadi saya pikir kita harus melakukan sesuatu," ujar Wakil Ketua Kepala Staf Gabungan yang akan pensiun, Jenderal John Hyten.

Baca juga: Jenderal AS Kritik Ruwetnya Birokrasi Pentagon, China Sudah Tes Ratusan Senjata Hipersonik

Sementara itu pada konferensi pers penutupan KTT iklim COP26, Presiden AS Joe Biden menekankan bahwa persaingan tidak membuat konflik tak terhindarkan.

"Tidak ada alasan untuk ada konflik," ujarnya.

Tentang pertemuan puncak virtualnya yang akan datang dengan Presiden China Xi Jinping, Biden berkata: "Saya juga telah mengindikasikan kepadanya, jadi saya tidak segan untuk mengatakannya secara terbuka, bahwa kami mengharapkan dia untuk bermain sesuai aturan."

Partai Republik Ingin AS Beri Bantuan Militer Rp28,7 Triliun Tiap Tahun untuk Taiwan

Esnoe Faqih Wardhana

Jum'at, 05 November 2021 - 08:00 WIB

views: 903

Ilustrasi

TAIWAN - Partai Republik Amerika Serikat (AS) mensponsori undang-undang yang akan menjadi dasar bagi bantuan militer senilai USD2 miliar (Rp28,7 triliun) per tahun untuk memperkuat pertahanan Taiwan . Partai Republik menilai, sokongan ini perlu diberikan pada Taiwan untuk menghadapi tekanan yang meningkat dari China.

Seperti dilaporkan Reuters, Kamis (4/11/2021), undang-undang tersebut akan menyediakan USD2 miliar setiap tahun bagi Taiwan melalui pembiayaan militer asing (hibah dan pinjaman AS yang memungkinkan pembelian senjata dan peralatan pertahanan yang diproduksi AS) hingga 2032.

Baca: Jenderal Top AS: China Kembangkan Kemampuan untuk Menyerang Taiwan

Rancangan undang-undang (RUU) itu hanya disponsori oleh Partai Republik minoritas Senat. Tapi, di bawah tekanan parlemen pada Presiden AS, Joe Biden untuk mengambil tindakan lebih berani guna memperkuat hubungan dengan Taiwan yang terisolasi secara diplomatik, ada peluang undang-undang ini akan disetujui.



Sponsor utama RUU tersebut adalah Senator Jim Risch, anggota Partai Republik dari Komite Hubungan Luar Negeri Senat. RUU ini juga disponsori bersama oleh Senator Republik Mike Clapo, John Cornyn, Bill Hagerty, Mitt Romney, dan Marco Rubio.

Baca: Asia Tenggara Bisa Bergejolak, AS Harus Jauhi Konfrontasi Fisik dengan China

Tidak segera jelas bagaimana Demokrat melihat RUU itu. Bantuan ke Taiwan adalah masalah langka dengan dukungan bipartisan di Senat yang terpecah. Meski demikian, AS adalah pemasok militer utama bagi Taiwan hingga kini.

RUU itu juga akan meningkatkan pertukaran militer dengan Taiwan dan memperluas kesempatan untuk pendidikan militer profesional dan pelatihan teknis di Amerika Serikat untuk personel militer Taiwan.

“Pertahanan Taiwan penting untuk menjaga kepercayaan AS sebagai penganjur nilai-nilai demokrasi dan prinsip-prinsip pasar bebas yang diwujudkan oleh rakyat dan pemerintah Taiwan,” bunyi teks RUU tersebut.

China baru-baru ini meningkatkan tekanan militer di dekat Taiwan yang demokratis, termasuk misi berulang oleh para pejuang China. Pada hari Rabu, Pentagon menegaskan kembali kekhawatiran tentang meningkatnya tekanan terhadap Taiwan dalam laporan tahunannya kepada parlemen militer China.

Laporan itu memperbaharui kekhawatiran bahwa China sedang mengembangkan opsi untuk merebut Taiwan, tetapi para pejabat pertahanan mengatakan apakah skenario itu mungkin terjadi, atau konflik jangka pendek atau konflik bersenjata.

 

WHO Sebut Kasus Kematian Covid Eropa Bisa Tembus Setengah Juta 2022
CNN Indonesia | Jumat, 05/11/2021 05:48 WIB
Bagikan :
Merujuk suatu proyeksi, WHO menyatakan kasus kematian akibat Covid-19 di Eropa bisa capai setengah juta pada Februari 2022. Merujuk suatu proyeksi, WHO menyatakan kasus kematian akibat Covid-19 di Eropa bisa capai setengah juta pada Februari 2022 (REUTERS/TATYANA MAKEYEVA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mewanti-wanti kasus kematian akibat virus corona (Covid-19) di Eropa menembus angka setengah juta jiwa pada Februari 2022 mendatang.

Mengutip AFP, WHO menyebut itu bisa terjadi mengingat penularan virus corona masih terus terjadi di Eropa. Bahkan meningkat lagi dalam beberapa hari terakhir.

Direktur WHO kawasan Eropa, Hans Kluge menyebut total kasus positif Covid-19 benua biru saat ini telah mencapai 78 juta. Angka tersebut melebihi kasus di Asia Tenggara, Afrika, Mediterania Timur dan Pasifik Barat digabungkan.

Lihat Juga :
WHO Sebut Covid-19 Melonjak di Eropa 5 Pekan Berturut-turut

Menurutnya, wajar jika ada kekhawatiran kasus kematian di Eropa kembali meningkat.

"Kami, sekali lagi, berada di titik episentrum," kata Kluge mengutip AFP.

Dia menjelaskan bahwa saat ini kasus penularan terus meningkat di 53 negara di eropa. Jumlah kian bertambah dan memprihatinkan.
Lihat Juga :
WHO Izinkan Penggunaan Vaksin Buatan India Covaxin

Kluge lalu merujuk pada sebuah proyeksi bahwa kasus kematian bisa mencapai setengah juta pada Februari 2022 mendatang. Dia tidak merinci proyeksi yang dimaksud dan hanya mengatakan bisa dipercaya.

Menurut Kluge, kasus Covid-19 yang kembali meningkat di Eropa adalah imbas dari vaksinasi yang belum merata serta kebijakan pelonggaran kegiatan di tempat umum.

Dia bicara demikian karena tingkat keterisian rumah sakit ini umumnya adalah negara dengan cakupan vaksinasi yang masih tergolong minim.

"Kita mesti mengubah taktik, dari bereaksi menjadi mencegah," kata Kluge.
Lihat Juga :
Kasus Positif Covid-19 Rusia Tembus 37 Ribu dalam Sehari

Pentagon: Persenjataan Nuklir Cina Berkembang Pesat

Jumat 05 Nov 2021 07:19 WIB

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle

Pentagon: Persenjataan Nuklir Cina Berkembang Pesat

Jumlah hulu ledak nuklir Cina berkembang lebih dari dua kali lipat

Sebuah laporan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) yang dirilis ke Kongres pada Rabu (03/11) mengatakan, Cina menambah sangat banyak persediaan hulu ledak nuklir di gudang senjatanya. Kemajuan pesat di luar perkiraan Pentagon setahun lalu.

Laporan tersebut menyebutkan, memukan bahwa Cina telah memperluas dan meningkatkan kapasitas persenjataan militernya. Beijing sebelumnya secara terbuka menegaskan keinginan untuk menyamai atau bahkan melampaui Amerika Serikat sebagai negara adidaya global pada pertengahan abad ke-21.

Dalam laporannya, Pentagon menyatakan, mereka yakin Cina dapat meningkatkan jumlah hulu ledak nuklir di gudang senjatanya menjadi 1.000 pada tahun 2030, meski tidak mengungkap jumlah yang dimiliki Cina saat ini.

Hanya satu tahun yang lalu, Pentagon memprediksi Cina memiliki sekitar 200 hulu ledak nuklir yang kemungkinan akan berlipat ganda jumlahnya pada tahun 2030.

Apakah Cina sudah memiliki triad nuklir?

Pentagon juga meyakini, China kemungkinan sudah memiliki trio mekanisme sistem pengiriman yang dikenal sebagai triad nuklir, untuk meluncurkan hulu ledak nuklirnya melalui udara, darat, dan laut. Sistem ini telah dimiliki AS dan Rusia selama beberapa dekade.

Washington menilai, bagaimanapun juga Cina tidak mungkin meluncurkan serangan nuklir tanpa alasan. Sebaliknya, Departemen Pertahanan AS percaya Cina sedang membangun sistem pencegahan yang kredibel dan menakuti musuh-musuhnya dengan ancaman nuklir jika Beijing diancam atau diprovokasi.

Cina mulai membangun setidaknya tiga medan peluncuran rudal baru, yang "secara kumulatif dapat menampung ratusan" silo bawah tanah di mana rudal balistik antarbenua (ICBM) dapat diluncurkan, demikian sebut laporan itu.

Laporan AS itu didasarkan pada informasi yang dikumpulkan hingga tahun 2020 dan tidak mengungkap ekspresi keprihatinan dari Ketua Kepala Gabungan Jenderal Mark Milley tentang uji coba senjata hipersonik yang dilakukan Cina musim panas lalu.

Sesaat sebelum laporan dirilis pada Rabu (03/11), Milley mengatakan kepada Forum Keamanan Aspen bahwa uji coba rudal hipersonik Cina dan kemajuan lainnya mengkonfirmasi prediksi lain.

"Kami menyaksikan salah satu pergeseran terbesar dalam kekuatan global dan geostrategis yang telah disaksikan dunia," katanya.

Upaya Cina menjadi kekuatan militer global

Pentagon mencatat bahwa senjata nuklir bukan satu-satunya area di mana militer Cina, Tentara Pembebasan Rakyat, ingin menguji kapasitas militer AS. Cina juga berupaya meningkatkan kekuatannya di semua domain, yaitu udara, darat, laut, ruang angkasa, dan dunia siber.

Departemen Pertahanan AS mengkhawatirkan, pangkalan luar negeri yang ingin dikembangkan Cina suatu hari nanti dapat "mengganggu" operasi militer AS dan bahkan mungkin mendukung operasi militer melawan AS. Presiden Xi Jinping mengatakan Cina akan menjadi kekuatan militer global pada tahun 2049.

Peningkatan persenjataan menyasar Taiwan?

Laporan itu juga mencatat kekhawatiran AS atas Taiwan, negara demokrasi dengan pemerintahan sendiri yang dipandang Cina sebagai wilayah yang memisahkan diri.

Peningkatan drastis persenjataan Cina, juga diduga ada kaitannya dengan memuncaknya eskalasi di kawasan, khususnya dengan Taiwan. Beijing berusaha mengimbangi kekuatan militer Washington yang terang-terangan mendukung Taipei.

Pemerintah AS meyakini, Cina mengembangkan beberapa skenario, dalam melakukan upaya untuk merebut kembali Taiwan, seperti kampanye blokade bersama terhadap Taiwan, invasi amfibi, serangan udara dan rudal, serangan siber, dan kemungkinan penyitaan wilayah lepas pantai.

Kunjungan delegasi UE ke Taiwan

Di saat memuncaknya kembali ketegangan antara Cina dan Taiwan, sebanyak 13 anggota parlemen dari komite Uni Eropa mengunjungi Taiwan selama tiga hari. Mereka tiba pada Rabu (03/11) dan bertemu dengan Perdana Menteri Taiwan Su Tseng-chang.

"Sudah saatnya bagi Uni Eropa untuk meningkatkan kerja samanya dengan Taiwan,” kata Raphael Glucksmann, Ketua Komite Campur Tangan Asing UE.

Bulan lalu, parlemen Eropa mengeluarkan resolusi yang menyerukan badan tersebut untuk "mengintensifkan hubungan politik UE-Taiwan.” Resolusi yang tidak mengikat itu juga menyerukan perubahan nama kantor perwakilan di Taiwan menjadi Kantor Uni Eropa di Taiwan dan membuat perjanjian investasi bilateral dengan pulau itu.

Kunjungan itu dilakukan di tengah meningkatnya dukungan untuk Taiwan, yang diklaim Cina sebagai bagian dari wilayahnya yang menyempal, dan meningkatnya persepsi negatif Beijing terhadap negara-negara Barat.

Tsai menyebut kunjungan itu "sangat signifikan” dan mengatakan Taiwan bersedia berbagi pengalamannya dalam memerangi disinformasi dan ia juga ingin membangun "aliansi demokratis” melawan disinformasi.