• Blog
  • News Forex, Index & Komoditi (Selasa, 12 Oktober  2021)

News Forex, Index & Komoditi (Selasa, 12 Oktober  2021)

Wall St tutup sesi fluktuatif lebih rendah, tunggu laporan laba emiten

Wall Street lebih rendah pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat (Selasa pagi WIB), setelah sesi yang fluktuatif karena investor menjadi gelisah saat menunggu dimulainya musim pelaporan keuangan perusahaan kuartal ketiga.

Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 250,19 poin atau 0,72 persen, menjadi menetap di 34.496,06 poin. Indeks S&P 500 merosot 30,15 poin atau 0,69 persen, menjadi berakhir di 4.361,19 poin. Indeks Komposit Nasdaq berkurang 93,34 poin atau 0,64 persen, menjadi ditutup pada 14.486,20 poin.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah negatif, dengan sektor layanan komunikasi dan utilitas masing-masing merosot 1,45 persen dan 1,34 persen, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor real estat dan material naik tipis.

Sektor energi juga berakhir lebih rendah setelah mencapai level tertinggi sejak Januari 2020 pada hari sebelumnya. Harga minyak yang lebih tinggi telah memicu kekhawatiran tentang kenaikan biaya untuk bisnis dan konsumen.

Masalah rantai pasokan dan biaya energi yang lebih tinggi dan hal-hal lain telah memicu kekhawatiran tentang laba perusahaan, yang akan dimulai dengan hasil JPMorgan Chase & Co pada Rabu (13/10/2021).

Indeks membalikkan kenaikan awal setelah tengah hari dan menambah kerugian sebelum penutupan. Saham JPMorgan turun 2,1 persen dan berada di antara beban terbesar di S&P 500 bersama dengan Amazon.com yang turun 1,3 persen.

"Pasar agak berhati-hati memasuki musim (laporan) laba ini," kata Tim Ghriskey, kepala strategi investasi di Inverness Counsel di New York. “Masalah rantai pasokan mungkin berdampak pada pendapatan sejumlah perusahaan dan industri tertentu lebih dari yang lain.”

Sementara periode lain pertumbuhan laba AS yang kuat diperkirakan untuk perusahaan Amerika, pendapatan menjadi sangat penting bagi investor yang khawatir tentang bagaimana gangguan pasokan dan tekanan inflasi akan memengaruhi laba.

Itu bisa menyebabkan lebih banyak volatilitas di Wall Street setelah September yang memar. Analis memperkirakan kenaikan laba 29,6 persen dari tahun ke tahun untuk perusahaan S&P 500 pada kuartal ketiga, menurut data IBES dari Refinitiv pada Jumat (8/11/2021).

Analis memperkirakan beberapa berita laba yang positif. "Jika Anda adalah perusahaan yang lebih besar, Anda dapat mengurangi banyak masalah ini," kata Christopher Harvey, kepala strategi ekuitas di Wells Fargo Securities di New York.

Manajemen “sangat menyadari anggaran mereka dan tidak mengorbankan margin.” Ditambah lagi, permintaan tetap kuat, katanya.

Visa Inc. jatuh 2,2 persen dan Mastercard Inc juga turun 2,2 persen berada di antara hambatan terbesar pada indeks S&P 500.

Di antara saham individu, Southwest Airlines Co anjlok 4,2 persen karena laporan bahwa pihaknya membatalkan setidaknya 30 persen penerbangan terjadwal pada Minggu (10/10/2021).

Volume transaksi di bursa AS mencapai 8,15 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 10,9 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

Bank Dunia tingkatkan integritas riset setelah skandal kecurangan data

Bank Dunia mengambil langkah-langkah untuk membangun kembali kredibilitas risetnya setelah skandal kecurangan data memaksanya untuk membatalkan laporan "Doing Business" andalannya tentang iklim bisnis negara, kata Presiden Bank Dunia David Malpass, Senin (11/10).

Berbicara kepada wartawan menjelang pertemuan tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) minggu ini, Malpass mengatakan produk penelitian yang kuat tetap menjadi prioritas tinggi bagi bank dan akan bekerja pada cara-cara baru guna membantu negara-negara meningkatkan iklim bisnis mereka.

Ditanya bagaimana bank akan membangun kembali kredibilitasnya setelah skandal itu, Malpass mengatakan bank telah mengambil "beberapa langkah" untuk meningkatkan integritas penelitian, termasuk mengangkat kepala ekonom Carmen Reinhart ke peran dalam manajemen senior.

Malpass menolak menjawab pertanyaan tentang tinjauan dewan eksekutif IMF atas laporan investigasi eksternal Bank Dunia yang menuduh bahwa Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menekan staf Bank Dunia untuk mengubah data buat mendukung China dalam laporan Doing Business pada tahun 2017, ketika dia menjadi CEO bank tersebut.

Dewan IMF akan berunding lagi pada Senin waktu setempat mengenai apakah dia harus melanjutkan sebagai pemimpin IMF.

Laporan investigasi yang sama oleh firma hukum WilmerHale menemukan bahwa staf Bank Dunia mengubah data untuk meningkatkan peringkat "Doing Business" Arab Saudi pada Oktober 2019 - enam bulan setelah Malpass mengambil alih posisi teratas bank - tetapi tidak menemukan bukti keterlibatan oleh Kantor Presiden atau anggota dewan.

Malpass tidak merinci langkah-langkah lain yang diambil bank untuk menopang fungsi penelitiannya, tetapi mengatakan bahwa Reinhart akan menjadi presiden senior dan di antara 10 eksekutif teratas Grup Bank Dunia yang memandu kebijakan dan pengambilan keputusan di pemberi pinjaman Pembangunan Multilateral itu.

“Saya benar-benar ingin memperkuat pentingnya penelitian berkualitas tinggi dan kemampuan bank untuk menghasilkan penelitian itu dalam volume tinggi,” kata Malpass.

“Doing Business”, yang memeringkat iklim bisnis negara berdasarkan pengukuran seperti kemudahan menavigasi peraturan, ketersediaan pembiayaan dan kerangka hukum, adalah publikasi bank yang paling populer, kata pejabat bank saat ini dan sebelumnya.

Diluncurkan pada tahun 2003, “Doing Business” digunakan secara luas oleh manajer dana swasta untuk menilai risiko negara dan memandu keputusan investasi, tetapi negara-negara secara rutin berusaha meyakinkan para peneliti mengapa mereka pantas mendapatkan peringkat yang lebih tinggi.

Malpass mengatakan bahwa membantu negara-negara meningkatkan iklim bisnis mereka adalah “penting untuk pembangunan” dan menjadi prioritas bagi Bank Dunia, sehingga Bank Dunia akan bekerja pada cara-cara baru untuk membantu negara-negara memperluas sektor swasta mereka dan mendorong praktik bisnis yang baik. Namun, dia tidak memberikan perincian tentang apa yang mungkin termasuk dalam rencana itu.

Ekonom Bank Dunia: Pertumbuhan, tantangan terbesar negara berkembang

Kurangnya pertumbuhan adalah tantangan ekonomi terbesar yang dihadapi negara-negara berkembang, kata kepala ekonom Bank Dunia pada Senin (11/10/2021).

Pertumbuhan ekonomi sangat penting untuk pengurangan kemiskinan, serta menciptakan pendapatan pemerintah yang digunakan untuk ruang fiskal, jaring pengaman sosial dan penyediaan barang publik, kata Carmen Reinhart, kepala ekonom Bank Dunia.

“Kami memiliki tantangan di banyak negara emerging markets dan negara berkembang bahkan sebelum pandemi, pertumbuhan mulai melambat sekitar 2015,” katanya.

"Dengan pertumbuhan datang pekerjaan, dengan pertumbuhan dan pekerjaan datang pemulihan."

Bank Dunia berharap dapat menggalang dana sebesar 100 miliar dolar AS untuk dana Asosiasi Pembangunan Internasional bagi negara-negara miskin guna mengatasi "pembalikan tragis dalam pembangunan" yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, kata presidennya David Malpass pada Senin (11/10/2021), seraya menambahkan bahwa kesenjangan pertumbuhan antara negara-negara maju dan negara berkembang semakin memburuk.

Eksekutif JPMorgan sebut Bitcoin "tidak berharga", karena regulasi

Jamie Dimon, kepala eksekutif JPMorgan Chase & Co, mengatakan pada Senin (11/10) di sebuah konferensi bahwa mata uang kripto akan diatur oleh pemerintah dan bahwa dia secara pribadi menganggap Bitcoin "tidak berharga."

“Tidak peduli apa pendapat orang tentang itu, pemerintah akan mengaturnya. Mereka akan mengaturnya untuk tujuan (anti pencucian uang), untuk tujuan (Undang-Undang Rahasia Bank), untuk pajak,” kata Dimon, merujuk pada peraturan perbankan dalam percakapan yang diadakan secara virtual oleh Institute of International Finance.

Dimon, kepala bank terbesar AS, telah menjadi pengkritik vokal mata uang digital, pernah menyebutnya penipuan dan kemudian mengatakan dia menyesali pernyataan itu.

Musim panas ini, JPMorgan memberi para nasabah manajemen kekayaan akses ke dana mata uang kripto, yang berarti penasihat keuangan bank dapat menerima pesanan beli dan jual dari nasabah untuk lima produk mata uang kripto.

Menyatakan bahwa pandangannya berbeda dari bank dan dewannya, Dimon mengatakan dia tetap skeptis.

“Saya pribadi berpikir bahwa Bitcoin tidak berharga,” kata Dimon. "Saya tidak berpikir Anda harus merokok juga."

“Klien kami sudah dewasa. Mereka tidak setuju. Jika mereka ingin memiliki akses untuk membeli atau menjual Bitcoin - kami tidak dapat menahannya - tetapi kami dapat memberi mereka akses yang sah, sebersih mungkin.”

Perdagangan Bitcoin tidak menunjukkan reaksi langsung terhadap komentar Dimon. Mata uang kripto itu terakhir naik 5,0 persen untuk hari itu menjadi 57.304 dolar AS.

Utang negara miskin naik 12 persen jadi 860 miliar dolar AS pada 2020

Bank Dunia pada Senin (11/10/2021) memperingatkan kenaikan signifikan 12 persen dalam beban utang negara-negara berpenghasilan rendah di dunia ke rekor 860 miliar dolar pada tahun 2020 sebagai akibat dari pandemi COVID-19, dan menyerukan upaya mendesak untuk mengurangi tingkat utang tersebut.

Presiden Bank Dunia David Malpass mengatakan kepada wartawan bahwa laporan Statistik Utang Internasional 2022 bank menunjukkan peningkatan dramatis dalam kerentanan utang yang dihadapi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah; ia juga mendesak upaya-upaya komprehensif untuk membantu negara-negara mencapai tingkat utang yang lebih berkelanjutan.

"Kami membutuhkan pendekatan komprehensif untuk masalah utang, termasuk pengurangan utang, restrukturisasi yang lebih cepat dan transparansi yang lebih baik," kata Malpass dalam sebuah pernyataan yang menyertai laporan terbaru tersebut.

Dia mengatakan setengah dari negara-negara termiskin di dunia berada dalam kesulitan utang luar negeri atau berisiko tinggi.

Malpass mengatakan tingkat utang yang berkelanjutan diperlukan untuk membantu negara-negara mencapai pemulihan ekonomi dan mengurangi kemiskinan.

Laporan itu mengatakan stok utang luar negeri negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah digabungkan naik 5,3 persen pada 2020 menjadi 8,7 triliun dolar AS, mempengaruhi negara-negara di semua kawasan.

Dikatakan kenaikan utang luar negeri melampaui pendapatan nasional bruto (GNI-Gross National Income) dan pertumbuhan ekspor, dengan rasio utang luar negeri terhadap GNI, tidak termasuk China, naik lima poin persentase menjadi 42 persen pada tahun 2020, sementara rasio utang terhadap ekspor mereka melonjak menjadi 154 persen pada 2020 dari 126 persen pada 2019.

Malpass mengatakan upaya restrukturisasi utang sangat dibutuhkan mengingat berakhirnya Inisiatif Penangguhan Layanan Utang (DSSI) Kelompok 20 ekonomi utama pada akhir tahun ini, yang telah menawarkan penangguhan sementara pembayaran utang.

Kreditur resmi G20 dan Klub Paris meluncurkan Kerangka Kerja Umum untuk Perlakuan Utang tahun lalu guna merestrukturisasi situasi utang yang tidak berkelanjutan dan kesenjangan pembiayaan yang berkepanjangan di negara-negara yang memenuhi syarat DSSI, tetapi hanya tiga negara - Ethiopia, Chad dan Zambia - yang telah menerapkan sejauh ini.

Malpass mengatakan pembekuan pembayaran utang lebih lanjut dapat dimasukkan sebagai bagian dari restrukturisasi utang Kerangka Kerja Umum, tetapi lebih banyak pekerjaan juga diperlukan untuk meningkatkan partisipasi kreditur sektor swasta, yang sejauh ini enggan untuk terlibat.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa arus masuk bersih dari kreditur multilateral ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah naik menjadi 117 miliar dolar AS pada tahun 2020, level tertinggi dalam satu dekade.

Pinjaman bersih ke negara-negara berpenghasilan rendah naik 25 persen menjadi 71 miliar dolar AS, juga tingkat tertinggi dalam satu dekade, dengan IMF dan kreditur multilateral lainnya menyediakan 42 miliar dolar AS dan kreditur bilateral 10 miliar dolar AS, katanya.

Carmen Reinhart, kepala ekonom Bank Dunia, mengatakan tantangan yang dihadapi negara-negara berutang tinggi bisa menjadi lebih buruk karena suku bunga naik.

Bank Dunia mengatakan pihaknya memperluas laporan 2022 untuk meningkatkan transparansi tentang tingkat utang global dengan menyediakan data utang luar negeri yang lebih rinci dan terpilah.

Data sekarang termasuk rincian stok utang luar negeri negara peminjam untuk menunjukkan jumlah utang kepada masing-masing kreditur resmi dan swasta, komposisi mata uang utang ini, dan persyaratan pinjaman yang diperpanjang.

Untuk negara-negara yang memenuhi syarat DSSI, data juga menunjukkan layanan utang yang ditangguhkan pada tahun 2020 oleh masing-masing kreditur bilateral dan proyeksi pembayaran layanan utang bulanan yang terutang kepada mereka hingga tahun 2021.

Ekonomi Suram, Kim Jong-un Peringatkan Pejabat Korut Tak Tuntut Perlakuan Istimewa

 Kim Jong-un , pemimpin Korea Utara (Korut) memperingatkan para pejabatnya untuk tidak menuntut perlakuan istimewa dari rakyat karena kondisi ekonomi sedang suram. Sebaliknya, dia mendesak para pejabat membantu meningkatkan kehidupan rayat.

Peringatan pemimpin muda Pyongyang itu, seperti diberitakan KCNA, Senin (11/10/2021), disampaikan dalam pidatonya pada perayaan ulang tahun ke-76 Partai Buruh Korea pada hari Minggu.

"Negara ini menghadapi tugas besar untuk menyesuaikan dan mengembangkan ekonomi dan mencapai tujuan ekonomi yang ditetapkan dalam pertemuan partai dan pemerintah baru-baru ini," kata Kim Jong-un.

"Satu-satunya cara untuk secara dinamis mendorong pekerjaan penting yang belum pernah terjadi sebelumnya meskipun situasinya suram adalah agar seluruh [anggota] partai bersatu," ujarnya.

"Pejabat seharusnya tidak menginginkan hak istimewa dan perlakuan istimewa, dan harus selalu mempertimbangkan apakah pekerjaan mereka melanggar kepentingan rakyat atau menyebabkan masalah bagi rakyat," imbuh Kim Jong-un.

Perayaan ulang tahun partai berkuasa itu dimeriahkan dengan pertunjukan seni, gala, dan kembang api. Namun tidak ada parade militer besar-besaran yang biasanya digelar.

Ekonomi Korea Utara telah terpukul oleh sanksi internasional selama bertahun-tahun atas program nuklir dan senjatanya, dan hujan lebat serta banjir yang juga memakan korban jiwa.

 

Risiko kelaparan paling rentan di negara itu setelah menerapkan isolasi yang dipaksakan sendiri selama pandemi COVID-19. Penyelidik hak asasi manusia PBB dalam laporan yang dilihat Reuters mengatakann situasi kemanusiaan yang memburuk di Korea Utara dapat berubah menjadi krisis.

Pada Kamis pekan lalu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menuduh pemerintah Kim Jong-un bertanggung jawab atas situasi kemanusiaan di negara itu.

“Rezim terus mengeksploitasi warganya sendiri, melanggar hak asasi mereka, untuk mengalihkan sumber daya dari rakyat negara itu untuk membangun (senjata pemusnah massal) dan program rudal balistik yang melanggar hukum,” kata juru bicara departemen tersebut, Ned Price.

China Upgrade Kapal Selam Nuklir Bungkuk yang Mampu Hancurkan Kota-kota AS

 China telah meng-upgrade atau meningkatkan kapal selam nuklir "bungkuk" Type 094. Kapal ini membawa rudal JL-3 "Big Wave" yang memiliki jangkauan 7.500 mil dan diklaim dapat menghancurkan kota-kota di Amerika Serikat (AS).

Kapal selam kelas Jin yang bertenaga nuklir ini telah dimodifikasi untuk menyembunyikan nomor ID-nya dan juga untuk mengurangi kebisingannya.

Kapal selam jenis itu sekarang akan lebih tersembunyi dari sebelumnya dan berkeliaran di Pasifik di tengah meningkatnya ketegangan antara China dan AS.

Presiden China Xi Jingping baru-baru ini memperbarui seruan agar Taiwan menjadi bagian dari China, mengerahkan ratusan pesawat tempur ke wilayah udara pulau itu dalam tempo empat hari berturut-turut.

Terlepas dari upaya China untuk mengurangi kebisingan kapal selam Type 094, sebuah laporan oleh pakar kapal selam Eric Genevelle dan Richard W. Stirn mengatakan kapal tersebut kemungkinan masih terlalu keras atau bising untuk mendekati pantai AS tanpa terdeteksi.

Zhou Chenming, seorang akademisi di Institut Sains dan Teknologi Militer Yuan Wang di Beijing, mengatakan perkembangan terakhir kapal tersebut tidak terkait dengan meningkatnya ketegangan dengan AS.

Dia mengatakan kepada South China Morning Post, Minggu (10/10/2021): "Membangun untuk commissioning kapal selam bisa memakan waktu hingga delapan tahun, sementara elektronik dan banyak komponen canggih akan maju beberapa generasi dalam periode ini."

“Angkatan Laut China akan meminta pembuat kapal untuk memasang fasilitas paling canggih ke lambung berikutnya, sementara sub insinyur perlu memikirkan bagaimana menempatkan komponen-komponen itu di tempat yang tepat. Semua ini mungkin memerlukan perubahan desain lambung yang melibatkan dimensi, layar, kemudi, jumlah lubang lentur dan faktor lainnya," paparnya.

 

Menurut laporan tersebut, perkembangan kapal selam itu muncul setelah China mengancam akan menyerang kapan saja terhadap pasukan AS di Taiwan di tengah kekhawatiran serangan itu akan memicu perang global.

Xi Jinping telah berjanji menyatukan kembali Taiwan dengan China, sementara Beijing merespons keras bocoran laporan bahwa pasukan khusus AS telah melatih militer Taiwan secara diam-diam sejak tahun lalu.

China dan Taiwan berselisih karena dikhawatirkan raksasa Komunis itu akan mencoba merebut kembali pulau itu, yang memicu kekhawatiran Perang Dunia Ketiga bisa pecah.

Taiwan menegaskan pihaknya adalah negara merdeka setelah memisahkan diri dari daratab China pada tahun 1949.

Salah satu surat kabar top China, The Global Times, telah mengeluarkan peringatan mengerikan kepada AS dalam editorialnya.

Media itu mengatakan pasukan khusus AS yang beroperasi di Taiwan sama saja dengan invasi terhadap daratan China.

"Begitu perang pecah di Selat Taiwan, personel militer AS itu akan menjadi yang pertama dilenyapkan," tulis media tersebut.

"Daratan (China) memiliki hak untuk melakukan serangan militer terhadap mereka kapan saja," lanjut editorial tersebut.

Disebutkan juga bahwa AS menghadapi kerugian tak tertahankan jika memutuskan untuk membela Taiwan dan mengejek Washington atas kegagalannya di Afghanistan.

Taliban Peringatkan AS: Jangan Ganggu Pemerintah Afghanistan

 Taliban memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk tidak mengganggu pemerintah Afghanistan . Peringatan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Taliban Amir Khan Muttaqi selama pembicaraan tatap muka pertama kedua pihak sejak penarikan pasukan AS.

"Kami dengan jelas mengatakan kepada mereka bahwa mencoba untuk mengacaukan pemerintah di Afghanistan tidak baik untuk siapa pun," kata Muttaqi kepada kantor berita negara Afghanistan, Bakhtar, setelah pembicaraan di Doha.

“Hubungan baik dengan Afghanistan baik untuk semua orang. Tidak ada yang harus dilakukan untuk melemahkan pemerintah yang ada di Afghanistan yang dapat menimbulkan masalah bagi rakyat,” katanya, dalam sebuah rekaman pernyataan yang diterjemahkan oleh AFP seperti dikutip dari Al Arabiya, Minggu (10/10/2021).

Muttaqi juga mengatakan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk terus menegakkan ketentuan perjanjian Doha 2020 yang dinegosiasikan oleh pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump. Kesepakatan itu mencakup persyaratan bahwa Taliban mengambil tindakan untuk mencegah kelompok teroris, seperti ISIS-K, melancarkan serangan ke AS dan sekutunya.

"Para pejabat AS juga setuju untuk membantu Afghanistan dengan mengirimkan vaksin COVID-19 dan bantuan kemanusiaan," ujar Muttaqi seperti disitir dari Russia Today.

Pernyataan Muttaqi muncul pada hari pertama dari dua hari pertemuan dengan tim AS yang dipimpin oleh Deputi Perwakilan Khusus Departemen Luar Negeri Tom West dan pejabat tinggi kemanusiaan USAID Sarah Charles.

Belum ada pernyataan dari pihak AS terkait pertemuan tersebut.

Kelompok garis keras Taliban kembali mendapatkan kekuasaan pada Agustus lalu ketika AS mengakhiri pendudukannya selama 20 tahun dengan penarikan yang mencakup pengangkutan penduduk asing dan warga Afghanistan yang kacau balau.

Para pejabat AS memilih untuk berkoordinasi dengan Taliban setelah kelompok Islam itu menguasai Kabul bahkan sebelum penarikan pasukan Amerika dapat diselesaikan. Faktanya, Pentagon dan Departemen Luar Negeri AS mengandalkan Taliban untuk mengamankan daerah di luar perimeter bandara Kabul, sebuah langkah yang diserang oleh para kritikus Biden setelah 13 tentara Amerika tewas dalam serangan bom ISIS-K.

Kerja sama pemerintahan Biden dengan Taliban memiliki hasil yang beragam. Misalnya, ketika pasukan keamanan Afghanistan yang dilatih Amerika mencair pada bulan Agustus, kepala Komando Pusat AS Jenderal Kenneth McKenzie dilaporkan bertemu dengan pemimpin Taliban Abdul Ghani Baradar di Qatar dan menuntut agar kelompok itu tetap berada di luar Kabul selama beberapa hari lagi sementara evakuasi Pentagon selesai. McKenzie mengancam akan meluncurkan serangan udara jika Taliban tidak mematuhinya, tetapi gerilyawan meluncur ke ibu kota pada hari berikutnya. Tidak ada serangan udara terhadap mereka, tetapi Taliban menahan diri untuk tidak mengganggu evakuasi AS.

Pengguna Twitter mengejek peringatan oleh Taliban ini, termasuk beberapa yang mengatakan kelompok itu tidak akan berani mengancam jika Trump masih memerintah.

"Tolong jangan ganggu amputasi anggota badan dan pemenggalan di depan umum," kicau seorang netizen. "Ini buruk untuk moral."

Hendak Jual Rahasia Kapal Selam ke Asing, Insinyur Nuklir AS Ditangkap FBI

 Seorang insinyur nuklir Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dan istrinya ditangkap para agen Biro Investigasi Federal (FBI). Pasangan itu ditangkap atas tuduhan spionase karena mencoba menjual informasi rahasia tentang kapal selam nuklir Amerika kepada kekuatan asing.

Upaya pasangan itu digagalkan dalam operasi penyergapan FBI.

Departemen Kehakiman dalam sebuah pernyataan Minggu (10/10/2021) mengatakan Jonathan dan Diana Toebbe, asal Annapolis, Maryland, ditangkap di Jefferson County, West Virginia oleh para agen FBI dan Layanan Investigasi Kriminal Angkatan Laut pada hari Sabtu.

Pasangan ini dituduh menjual data terbatas mengenai desain kapal selam tempur bertenaga nuklir selama setahun kepada seseorang yang mereka anggap sebagai perwakilan dari kekuatan asing. Orang itu sebenarnya adalah agen FBI yang menyamar.

Jonathan Toebbe merupakan karyawan Angkatan Laut AS dan bekerja di Program Propulsi Nuklir Angkatan Laut. Dia memiliki izin keamanan untuk mengakses data terbatas tentang desain kapal selam nuklir dan reaktornya.

Pada April 2020, dia diduga mengirim sampel data terbatas tersebut ke pemerintah asing, bersama dengan surat yang berbunyi: “Tolong teruskan surat ini ke badan intelijen militer Anda. Saya percaya informasi ini akan sangat berharga bagi bangsa Anda. Ini bukan tipuan.”

"Informasi ini dikumpulkan secara perlahan dan hati-hati selama beberapa tahun dalam pekerjaan normal saya untuk menghindari menarik perhatian, dan menyelundupkan melewati pos pemeriksaan keamanan beberapa lapis sekaligus," lanjut surat tersebut yang menjadi bagian dari dokumen pengadilan, seperti dikutip dari NPR, Senin (11/10/2021).

Negara yang dimaksud tidak disebutkan namanya oleh Departemen Kehakiman, tetapi surat itu "dicegat" oleh atau diberikan kepada FBI sebelum mencapai tujuannya. Seorang agen yang menyamar menghubungi Toebbe, dan pasangan itu mengatur kesepakatan di mana Toebbe akan menyerahkan data lebih lanjut dengan imbalan pembayaran dalam mata uang crypto.

Agen FBI mengirim Toebbe USD10.000 dalam cryptocurrency Juni ini. Tak lama setelah itu, Toebbe dan istrinya diduga melakukan perjalanan ke "dead drop" yang telah diatur sebelumnya di West Virginia, di mana istri insinyur itu bertindak sebagai pengintai sementara Toebbe menempatkan kartu SD di dalam sandwich selai kacang untuk dikumpulkan oleh agen.

Toebbe kemudian mengirim kunci enkripsi untuk kartu SD dengan imbalan USD20.000 lagi, dan FBI dapat memverifikasi bahwa kartu tersebut memang berisi data terbatas yang terkait dengan reaktor nuklir kapal selam.

Pembayaran dan penyerahan data sukses lainnya menyusul, tetapi Toebbes ditangkap di West Virginia pada hari Sabtu, ketika mereka mencoba pertukaran ketiga.

Selama berbulan-bulan korespondensi mereka, Toebbe awalnya tidak percaya pada agen tersebut, dan ragu-ragu untuk bertemu kontaknya jika dia masuk ke dalam jebakan. Agen itu berhasil membujuknya dengan persuasi, dan dengan mengatur "sinyal" dari kedutaan negara asing selama akhir pekan Memorial Day.

Tidak diungkapkan seperti apa bentuk sinyal ini, atau bagaimana FBI mengaturnya dengan negara yang bersangkutan.

Toobe tampaknya memiliki visi romantis untuk menjual rahasia negara. Membahas bagaimana dia dan istrinya mungkin pada akhirnya harus melarikan diri dari AS, dia mengatakan kepada agen itu: “Suatu hari, ketika aman, mungkin dua teman lama akan memiliki kesempatan untuk bertemu satu sama lain di kafe, berbagi sebotol anggur, dan menertawakan cerita tentang eksploitasi bersama."

Pasangan itu telah didakwa dengan dua pelanggaran terkait spionase: Konspirasi untuk Mengkomunikasikan Data yang Dibatasi, dan Komunikasi Data yang Dibatasi. Kedua pelanggaran membawa hukuman terbuka.