• Blog
  • News Forex, Index & Komoditi (Senin, 11 Oktober  2021)

News Forex, Index & Komoditi (Senin, 11 Oktober  2021)

Saham Asia melemah tertekan kecemasan inflasi, dolar naik terhadap yen

Saham-saham Asia tergelincir pada perdagangan Senin pagi, karena kecemasan inflasi global mendukung komoditas sebagai lindung nilai atas ekuitas AS, sementara kenaikan imbal hasil obligasi AS mengangkat dolar ke puncak dua setengah tahun terhadap yen Jepang.

Indeks berjangka Nasdaq dan S&P 500 keduanya turun sekitar 0,5 persen di awal perdagangan, karena harga minyak memperpanjang kenaikannya.

"Imbal hasil obligasi terus didorong lebih tinggi, ekspektasi inflasi meningkat dan pengetatan moneter dalam berbagai bentuk menjadi lebih umum," kata analis ANZ dalam sebuah catatan.

“Kekurangan chip global akan berlanjut hingga tahun depan, menambah ketidakpastian lebih lanjut pada pemulihan yang tidak merata,” kata mereka. “Ditambah kekurangan energi, dan lanskap ekonomi secara material lebih moderat daripada optimisme yang menyertai tahap awal pemulihan global.”

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,2 persen dan indeks acuan Australia melemah 0,9 persen. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang kehilangan 0,5 persen setelah anjlok 2,5 persen minggu lalu.

Musim laporan laba emiten dimulai minggu ini dan kemungkinan akan membawa cerita tentang gangguan pasokan dan kenaikan biaya-biaya. JPMorgan melaporkan pada Rabu (13/10), diikuti oleh BofA, Morgan Stanley dan Citigroup pada Kamis (14/10), dan Goldman pada Jumat (15/10).

Fokusnya juga akan pada inflasi AS dan data penjualan ritel, serta risalah pertemuan terakhir Federal Reserve yang akan mengkonfirmasi bahwa tapering November telah dibahas.

Sementara angka penggajian utama AS pada Jumat (8/10) mengecewakan, data itu sebagian karena pembukaan kembali masalah-masalah dalam pendidikan negara bagian dan lokal sementara pekerjaan sektor swasta lebih kuat.

Memang, dengan kurangnya tenaga kerja yang mendorong tingkat pengangguran turun menjadi 4,8 persen, investor lebih khawatir tentang risiko inflasi upah dan mendorong imbal hasil obligasi pemerintah naik tajam.

Imbal hasil obligasi 10-tahun diperdagangkan naik 1,61 persen, setelah melonjak 15 basis poin minggu lalu dalam kenaikan terbesarnya sejak Maret.

Obligasi juga dijual di Asia dan Eropa, dengan imbal hasil jangka pendek di Inggris mencapai level tertinggi sejak Februari 2020.

Analis di BofA memperingatkan denyut inflasi global akan diperburuk oleh biaya energi dengan minyak berpotensi melampaui 100 dolar AS per barel di tengah pasokan terbatas dan permintaan pembukaan kembali yang kuat.

Pemenang dalam skenario seperti itu adalah aset-aset riil, real estat, komoditas, volatilitas, uang tunai, dan pasar negara-negara berkembang, sementara obligasi, kredit, dan saham akan terpengaruh secara negatif.

BofA merekomendasikan komoditas-komoditas sebagai lindung nilai dan sumber daya tercatat menyumbang 20-25 persen dari indeks ekuitas utama di Inggris, Australia dan Kanada; 20 persen di pasar negara-negara berkembang; 10 persen di zona euro, dan hanya 5,0 persen di Amerika Serikat, China dan Jepang.

Dolar mendapat dukungan karena imbal hasil AS melampaui imbal hasil di Jerman dan Jepang, mengangkatnya ke level tertinggi sejak April 2019 terhadap yen di 112,27.

Euro melayang di 1,1566 dolar, setelah mencapai level terendah sejak Juli tahun lalu di 1,1527 dolar minggu lalu. Indeks dolar bertahan di 94.158, tak jauh dari puncak baru-baru ini di 94.504.

Dolar yang lebih kuat dan imbal hasil yang lebih tinggi telah membebani emas, yang tidak menawarkan pengembalian tetap, dan meninggalkannya di 1.753 dolar AS per ounce.

Harga minyak naik lagi setelah melonjak 4,0 persen minggu lalu ke level tertinggi dalam hampir tujuh tahun. Brent naik 25 sen menjadi 82,64 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS naik 41 sen menjadi 79,76 dolar AS per barel.

Wall Street ditutup lebih rendah setelah data pekerjaan mengecewakan

 Wall Street lebih rendah pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), setelah data menunjukkan pertumbuhan lapangan pekerjaan lebih lemah dari yang diperkirakan pada September, namun investor masih memperkirakan Federal Reserve akan mulai mengurangi pembelian aset tahun ini.

Indeks Dow Jones Industrial Average tergerus 8,69 poin atau 0,03 persen, menjadi menetap di 34.746,25 poin. Indeks S&P 500 melemah 8,42 poin atau 0,19 persen, menjadi berakhir di 4.391,34 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup merosot 74,48 poin atau 0,51 persen, menjadi 14.579,54 poin.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor real estat jatuh 1,12 persen, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor energi dan keuangan masing-masing terdongkrak 3,12 persen dan 0,48 persen, hanya dua kelompok yang naik.

Tiga indeks utama Wall Street bervariasi untuk sebagian besar sesi sebelum melemah menjelang akhir. Namun, ketiga indeks membukukan keuntungan mingguan dengan S&P 500 menguat 0,8 persen, Dow bertambah 1,2 persen dan Nasdaq meningkat 0,1 persen.

Comcast Corp jatuh setelah Wells Fargo memangkas target harganya pada perusahaan media itu, sementara Charter Communications Inc jatuh setelah Wells Fargo menurunkan peringkat operator telekoimunikasi dan media itu menjadi "underweight" dari "overweight".

Kedua perusahaan termasuk di antara yang memberikan tekanan terbesar terhadap indeks S&P 500 dan Nasdaq.

Chevron dan Exxon Mobil menguat lebih dari 2,0 persen dan termasuk di antara perusahaan yang memberikan kenaikan terbesar pada indeks S&P 500.

Laporan data penggajian non-pertanian (NFP) Departemen Tenaga Kerja menunjukkan ekonomi AS pada September menciptakan pekerjaan paling sedikit dalam sembilan bulan karena perekrutan turun di sekolah-sekolah dan beberapa bisnis kekurangan pekerja. Tingkat pengangguran turun menjadi 4,8 persen dari 5,2 persen pada Agustus dan pendapatan rata-rata per jam naik 0,6 persen, lebih tinggi dari yang diharapkan.

“Saya pikir Federal Reserve memperjelas bahwa mereka tidak memerlukan laporan pekerjaan blockbuster untuk melakukan tapering pada November,” kata Kathy Lien, direktur pelaksana di BK Asset Management di New York. "Saya pikir The Fed tetap di jalurnya."

Musim pelaporan keuangan kuartal ketiga dimulai minggu depan, dengan JPMorgan Chase dan bank-bank besar lainnya di antara yang pertama merilis hasil kinerjanya. Investor fokus pada masalah rantai pasokan global dan kekurangan tenaga kerja.

Analis rata-rata memperkirakan laba per saham S&P 500 untuk kuartal ini naik hampir 30 persen, menurut Refinitiv.

“Saya pikir ini akan menjadi musim laba yang tidak pasti,” kata Liz Young, kepala strategi investasi di SoFi di New York.

"Jika masalah rantai pasokan menaikkan biaya, perusahaan dengan kalkulasi harga yang kuat dapat melewati kenaikan biaya tersebut. Tetapi Anda tidak dapat melewati kekurangan tenaga kerja jika Anda tidak dapat menemukan pekerja untuk dipekerjakan.”

Volume transaksi di bursa AS mencapai 9,2 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 11 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

Situasi memanas! Presiden Taiwan balas pernyataan Presiden China, ini katanya

Presiden Tsai Ing-wen tidak tinggal diam mendengar pernyataan Presiden China Xi Jinping yang berjanji akan menyatukan kembali Taiwan secara damai.

Pada Minggu (10/10/2021), Tsai Ing-wen menegaskan, Taiwan akan terus memperkuat pertahanannya untuk memastikan tidak ada yang bisa memaksa pulau itu untuk menerima jalan yang telah ditetapkan China yang tidak menawarkan kebebasan atau demokrasi.

Melansir Reuters, Taiwan telah berada di bawah tekanan militer dan politik yang meningkat dari pemerintahan Beijing, termasuk misi angkatan udara China yang berulang di zona identifikasi pertahanan udara Taiwan, yang menjadi perhatian internasional.

China menganggap Taiwan sebagai provinsi pemberontak yang menunggu reunifikasi, dengan kekerasan jika perlu. Taiwan mengatakan akan mempertahankan kebebasan dan demokrasinya, dan menyalahkan China atas ketegangan tersebut.

Presiden China Xi Jinping pada hari Sabtu berjanji untuk mewujudkan "penyatuan kembali secara damai" dengan Taiwan dan tidak secara langsung menyebutkan penggunaan kekuatan militernya. Namun, dia mendapat reaksi marah dari Taipei, yang mengatakan hanya rakyat Taiwan yang bisa menentukan masa depan mereka.

Berbicara pada rapat umum Hari Nasional, Tsai mengatakan dia berharap untuk meredakan ketegangan di Selat Taiwan, dan menegaskan kembali bahwa Taiwan tidak akan "bertindak gegabah".

"Tapi seharusnya tidak ada ilusi bahwa rakyat Taiwan akan tunduk pada tekanan," katanya dalam pidato di luar kantor kepresidenan di pusat Taipei.

"Kami akan terus memperkuat pertahanan nasional kami dan menunjukkan tekad kami untuk membela diri untuk memastikan bahwa tidak ada yang bisa memaksa Taiwan untuk mengambil jalan yang telah ditetapkan China untuk kami," tambah Tsai.

"Ini karena jalan yang telah ditetapkan China tidak menawarkan cara hidup yang bebas dan demokratis bagi Taiwan, atau kedaulatan bagi 23 juta orang kami," tambahnya.

China telah menawarkan model otonomi “satu negara, dua sistem” ke Taiwan, seperti yang digunakannya dengan Hong Kong, tetapi semua partai besar Taiwan telah menolaknya, terutama setelah tindakan keras keamanan China di bekas jajahan Inggris itu.

Tsai mengulangi tawaran untuk berbicara dengan China atas dasar kesetaraan, meskipun tidak ada tanggapan segera dari Beijing atas pidatonya.

Beijing telah menolak untuk berurusan dengannya, menyebutnya sebagai separatis yang menolak untuk mengakui Taiwan adalah bagian dari "satu China", dan tidak mengakui pemerintah Taiwan. Tsai mengatakan dia tidak akan berkompromi untuk membela kebebasan Taiwan.

Tetap saja niat baik Taiwan tidak akan berubah, dan akan melakukan semua yang bisa dilakukan untuk mencegah status quo dengan China diubah secara sepihak, katanya.

Tsai memperingatkan bahwa situasi Taiwan “lebih kompleks dan cair daripada di titik lain mana pun dalam 72 tahun terakhir”, dan bahwa kehadiran militer rutin China di zona pertahanan udara Taiwan telah secara serius memengaruhi keamanan nasional dan keselamatan penerbangan.

Dia mengawasi program modernisasi militer untuk meningkatkan pertahanan dan pencegahannya, termasuk membangun kapal selam sendiri dan rudal jarak jauh yang dapat menyerang jauh ke China.

Taiwan berdiri di garis depan membela demokrasi, kata Tsai.

“Semakin banyak yang kami capai, semakin besar tekanan yang kami hadapi dari China. Jadi saya ingin mengingatkan semua warga saya bahwa kita tidak memiliki hak istimewa untuk lengah,” tegasnya.

AS mengadakan pembicaraan dengan Taliban di Doha membahas keamanan dan terorisme

Amerika Serikat pada Minggu mengatakan bahwa pertemuan tatap muka pertama antara pejabat senior AS dan Taliban sejak kelompok garis keras itu merebut kembali kekuasaan di Afghanistan adalah "terus terang dan profesional" dan bahwa pihak AS menegaskan kembali bahwa Taliban akan diadili berdasarkan tindakan mereka, bukan hanya kata-kata mereka.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price mengatakan delegasi AS dalam pembicaraan akhir pekan di Doha, Qatar, berfokus pada masalah keamanan dan terorisme dan perjalanan yang aman bagi warga AS, warga negara asing lainnya dan warga Afghanistan, serta hak asasi manusia, termasuk partisipasi perempuan dan anak perempuan di semua aspek masyarakat Afghanistan.

Dia mengatakan kedua belah pihak juga membahas "penyediaan bantuan kemanusiaan yang kuat dari Amerika Serikat, langsung kepada rakyat Afghanistan."

"Diskusi itu jujur ​​dan profesional dengan delegasi AS yang menegaskan kembali bahwa Taliban akan diadili atas tindakannya, bukan hanya kata-katanya," kata Price dalam sebuah pernyataan.

Tidak disebutkan apakah ada kesepakatan yang tercapai.

Pada hari Sabtu, televisi Al Jazeera yang berbasis di Qatar mengutip pejabat menteri luar negeri Afghanistan yang mengatakan bahwa perwakilan Taliban meminta pihak AS untuk mencabut larangan cadangan bank sentral Afghanistan.

Dikatakan menteri, Amir Khan Muttaqi, juga mengatakan Washington akan menawarkan vaksin coronavirus Afghanistan dan bahwa kedua belah pihak membahas "membuka halaman baru" antara kedua negara.

Pejabat pemerintahan Biden mengatakan kepada Reuters pada hari Jumat bahwa delegasi AS akan menekan Taliban untuk membebaskan Mark Frerichs yang diculik. Prioritas utama lainnya adalah memegang teguh komitmen Taliban untuk tidak membiarkan Afghanistan kembali menjadi sarang al Qaeda atau ekstremis lainnya.

Taliban mengambil kembali kekuasaan di Afghanistan pada Agustus, hampir 20 tahun setelah mereka digulingkan dalam invasi pimpinan AS karena menolak menyerahkan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden menyusul serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Para pejabat AS mengatakan pertemuan akhir pekan itu merupakan kelanjutan dari "keterlibatan pragmatis" dengan Taliban dan "bukan tentang memberikan pengakuan atau memberikan legitimasi" kepada kelompok itu.

Para pejabat AS mengatakan mereka berhubungan dengan lusinan orang Amerika dan penduduk tetap resmi yang ingin meninggalkan Afghanistan dan ada ribuan warga Afghanistan sekutu AS yang menghadapi risiko penganiayaan Taliban di negara itu.

Washington dan negara-negara Barat lainnya sedang bergulat dengan pilihan sulit karena krisis kemanusiaan yang parah tampak besar di Afghanistan. Mereka mencoba mencari cara untuk terlibat dengan Taliban tanpa memberikan kelompok itu legitimasi yang dicarinya, sambil memastikan bantuan kemanusiaan mengalir ke negara itu.

Jeff Bezos dan Elon Musk sama-sama bersaing dapat gelar miliarder terpelit dunia

Jeff Bezos dan Elon Musk kerap berselisih tentang siapa yang lebih kaya dan siapa yang lebih sadar hukum. Di sisi lain, para raksasa bisnis ini termasuk di antara sekelompok miliarder yang bersaing untuk mendapatkan gelar yang bahkan kurang diinginkan: Miliarder Paling Pelit di Dunia.

Melansir Business Insider yang mengutip Forbes Philanthropy Score, meskipun pasar saham era pandemi yang melonjak telah menggelembungkan kekayaan miliarder ke level rekor, orang-orang terkaya di dunia telah memilih untuk tidak mengimbangi pemberian amal mereka.

Tim di Forbes menjumlahkan semua pemberian "out-the-door" seumur hidup yang telah dilakukan seseorang, dan membagi jumlah itu dengan jumlah total kekayaan mereka saat ini dan jumlah total pemberian. Hasilnya dikategorikan ke dalam lima tingkatan: kurang dari 1%; antara 1% dan 5%; antara 5% dan 10%; antara 10% dan 20%; dan 20% atau lebih.

Yayasan swasta dan dana yang disarankan oleh donor tidak diperhitungkan untuk ukuran Forbes, karena "sumbangan" itu secara efektif tetap berada di bawah kendali donor, dan juga datang dengan manfaat besar yang memungkinkan orang kaya untuk menghindari membayar pajak.

Jika rumah tangga Amerika rata-rata memberikan US$ 1.200 untuk amal di seluruh hidup mereka berdasarkan kekayaan bersih saat ini sekitar US$ 120.000, Forbes akan menganggap itu lebih murah hati daripada Bezos dan Musk berdasarkan metrik ini.

Dari 400 miliarder dalam daftar tahun ini, hanya 19 yang memberikan 10% atau lebih dari kekayaan mereka. Sementara rekor tertinggi, ada 156 miliarder yang telah memberikan kurang dari 1%. Saat Bezos dan Musk belum mencapai 1%, MacKenzie Scott telah meninggalkan mereka dengan memberikan 13% dari kekayaannya. Bahkan dengan kecepatan memberi, Scott sekarang lebih kaya daripada tahun lalu.

Bezos memang menjadi berita utama musim panas ini dengan hadiah US$ 400 juta untuk Smithsonian, Van Jones, dan Jose Andres, dan telah memberikan US$ 865 juta dari janjinya untuk memerangi perubahan iklim.

Tapi hadiah yang sebenarnya adalah sebagian kecil dari keuntungan US$ 22 miliar yang dia buat tahun ini saja, dibandingkan total kekayaan bersihnya yang melonjak menjadi US$ 201 miliar.

Sementara itu, Warren Buffet tetap sebagai miliarder paling dermawan, setelah melepaskan US$ 4,1 miliar saham Berkshire Hathaway pada bulan Juni. Dengan demikian, total amal yang diberikan sepanjang hidupnya menjadi US$ 44 miliar. Dia sekarang sudah berada di setengah jalan dalam memenuhi janjinya untuk memberikan semua saham Berkshire-nya.

Pemberi paling produktif dalam peringkat Forbes adalah George Soros, yang sumbangannya senilai US$ 16,8 miliar. Nilai tersebut telah melampaui kekayaan bersihnya yang hanya sebanyak US$ 8,6 miliar.

India mengalami krisis energi karena kekurangan batubara

Krisis energi dunia mulai meluas, selain China dan Eropa, India juga mulai kekurangan sumber energi.

Dilansir dari Reuters, Kepala Menteri Delhi Arvind Kejriwal pada Sabtu (9/10) memperingatkan krisis listrik di ibu kota India karena kekurangan batu bara, yang telah memicu pemadaman listrik di beberapa negara bagian timur dan utara negara itu.

"Delhi bisa menghadapi krisis listrik," kata Kejriwal dalam sebuah tweet di mana dia juga membagikan salinan surat kepada Perdana Menteri Narendra Modi yang menandai kekurangan bahan bakar di pembangkit listrik di sekitar Delhi.

Kejriwal mendesak pemerintah federal untuk mengalihkan pasokan batu bara dan gas ke utilitas yang memasok ibu kota, dengan mengatakan kota itu memiliki pusat-pusat strategis untuk kepentingan nasional dan pasokan yang sangat penting untuk rumah sakit dan pusat vaksinasi virus corona.

Kekurangan batu bara yang melumpuhkan telah menyebabkan kekurangan pasokan di negara bagian seperti Bihar, Rajasthan dan Jharkhand, dengan penduduk di wilayah tersebut mengalami pemadaman listrik hingga 14 jam sehari.

India mengatakan pada hari Sabtu bahwa pihaknya akan memfasilitasi pasokan gas untuk memungkinkan dua pembangkit listrik di Delhi untuk beroperasi. NTPC Ltd yang dikelola negara juga telah diarahkan untuk meningkatkan stok batubara ke pembangkit listrik tenaga batubara dari negara bagian Uttar Pradesh yang berdekatan untuk memastikan pasokan.

Kekurangan pasokan listrik di Uttar Pradesh, yang menghadapi pemilihan umum pada awal 2022, telah melonjak menjadi 5,6% pada hari Jumat, tertinggi dalam beberapa hari terakhir, data pemerintah federal menunjukkan.

Reuters melaporkan pada hari Jumat bahwa, di India, lebih dari setengah dari 135 pembangkit listrik tenaga batu bara, yang memasok sekitar 70% dari listrik negara itu, memiliki stok bahan bakar untuk bertahan kurang dari tiga hari.

Permintaan untuk tenaga industri telah melonjak di India setelah gelombang kedua pandemi virus corona, dengan meningkatnya aktivitas ekonomi yang mendorong konsumsi batu bara di konsumen komoditas terbesar kedua di dunia itu.

Tanda pemulihan terlihat, sejumlah bank sentral kompak tarik stimulus darurat

Sejumlah bank sentral global mulai menarik stimulus darurat mereka. The Fed akan memperlambat program pembelian aset sekuritas Amerika Serikat lantaran telah terjadi percepatan inflasi.

Bank sentral Norwegia, Brasil, Meksiko, Korsel dan Selandia Baru telah mulai menaikkan suku bunga acuan, mengutip Bloomberg, Minggu (10/10). Ketakutan pelemahan inflasi memudar meski krisis rantai pasokan, melonjaknya harga komoditas, permintaan pasca-lockdown, stimulus yang sedang berlangsung, dan kekurangan tenaga kerja.

Memang, bankir di bank sentral memiliki pekerjaan yang rumit dalam membuat kebijakan moneter. Sehingga mereka harus mengaji risiko mana yang diprioritaskan. Lantaran kebijakan moneter yang ketat akan menahan laju perekonomian,sedangkan meningkatkan permintaan akan memicu lonjakan harga.

“Saat ini bankir bank sentral memperkirakan inflasi akan bertahan lebih lama. Keseimbangan risiko saat ini bergeser ke arah kekhawatiran besar tentang prospek inflasi. Lantaran kekuatan inflasi saat ini tampaknya akan terbukti lebih tahan lama daripada yang diperkirakan semula,” ujar Huw Pill, kepala ekonom Bank of England.

Kendati demikian, pejabat di Bank Sentral Eropa dan Bank Jepang masih berniat untuk terus merangsang ekonomi mereka secara agresif. International Monetary Fund (IMF) memperkirakan inflasi akan segera turun menjadi sekitar 2% di negara maju.

Ketua Fed Jerome Powell pada bulan lalu, mengatakan bank sentral AS dapat mulai mengurangi pembelian obligasi bulanan segera setelah November. Namun kenaikan suku bunga acuan akan dilakukan pada tahun depan sembari memantau tingkat inflasi di Negeri Paman Sam itu.

Namun kebijakan bank sentral itu dapat dipengaruhi oleh pergantian gubernur bank. Lantaran kepemimpinan Powell akan segera habis.Presiden Joe Biden memiliki kesempatan untuk memilih calon lain pada musim gugur AS.

Lain halnya dengan inflasi Inggris yang berada pada jalur yang diprediksi oleh Bank of England (BOE) menjadi 2% pada akhir tahun. Ini memicu spekulasi BOE akan menjadi bank sentral pertama dari rekan-rekan G-7 untuk mulai melepaskan penurunan suku bunga era pandemi.

Para pejabat BOE bilang tidak perlu menunggu sampai rencana pembelian obligasi selesai pada akhir 2021 untuk mulai menggerek suku bunga. Bahkan sebagian besar ekonom memperkirakan langkah kenaikan suku bunga terjadi pertama pada 2022 dengan tiga kali kenaikan.

Namun, BOE masih khawatir dampak pengetatan dini akan menghambat pemulihan ekonomi. Terutama karena konsumen Inggris bersiap menghadapi musim dingin yang sulit dengan tagihan yang menumpuk.

Rapat Bank of Canada (BOC) berikutnya akan digelar pada 27 Oktober. Para ekonom memperkirakan bank sentral akan merevisi turun perkiraannya untuk kuartal ketiga setelah PDB bulanan Juli dan Agustus jauh di bawah perkiraan sebelumnya 7,3%.

Meskipun lembaga tersebut diperkirakan tidak akan mengubah tingkat kebijakannya, para ekonom akan mengamati perubahan pada kecepatan pembelian aset atau panduan ke depan.

Gubernur BOC Tiff Macklem telah mengurangi laju pembelian obligasi pemerintah tiga kali dalam setahun terakhir dan diperkirakan akan mengurangi pembelian aset sekali lagi bulan ini menjadi C$1 miliar dalam bentuk obligasi Pemerintah Kanada per minggu.

Mungkin juga BOC akan memberikan beberapa pembaruan seputar panduan ke depannya. Saat ini BOC masih mempertahankan suku bunga rendah sampai kesenjangan output ditutup dan inflasi kembali secara berkelanjutan ke 2%.

Pasok chip untuk iPhone 13, penjualan TSMC meningkat di kuartal tiga

Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) melaporkan, kenaikan penjualan yang kuat untuk bulan September. Hal tersebut mendorong pendapatan kuartal III-2021 sedikit di atas perkiraan.

Mengutip Investors, pembuat chip terkemuka di dunia ini mendapat dorongan penjualan selama periode tersebut berkat produksi chip untuk produksi iPhone 13 dari Apple Inc yang baru rilis bulan lalu.

Perusahaan mengatakan, penjualannya pada September naik 19,7% secara tahunan (YoY) menjadi 152,69 miliar dolar Taiwan Baru atau sekitar US$ 5,51 miliar. Penjualan tersebut juga naik 11,1% dalam mata uang lokal dari bulan Agustus.

Capaian tersebut membuat pendapatan kuartal III-2021 ada di sekitar 414,67 miliar dolar Taiwan Baru atau sekitar US$ 14,89 miliar.

Sebelumnya, Wedbush Securities memperkirakan pendapatan TSMC hanya 413,5 miliar dolar Taiwan Baru.

Perusahaan pun berencana untuk melaporkan keseluruhan kinerja kuartal ketiga pada Kamis depan. Analis melihat, pembuat chip menghasilkan laba sekitar US$ 1,04 per saham, naik 13% yoy.

"Pandangan kami tetap tidak berubah karena kapasitas produksi tetap ketat dan TSMC kemungkinan akan menyadari manfaat dari pengiriman silikon untuk iPhone generasi berikutnya dari Apple," kata analis Wedbush Matt Bryson.

Bryson menambahkan, hingga akhir tahun, pihaknya tetap memprediksi masih ada kenaikan kecil lainnya dalam penjualan secara kuartalan sehubungan dengan kekurangan chip yang berkelanjutan serta apa yang tampaknya menjadi permintaan awal yang kuat untuk iPhone.

TSMC dan Sony berencana bangun pabrik cip bersama, dibantu Pemerintah Jepang

TSMC Taiwan dan Sony Group Corp Jepang sedang mempertimbangkan untuk bersama-sama membangun pabrik cip di Jepang. Rencana tersebut didukung Pemerintah Jepang yang siap membayar sebagian dari investasi sekitar 800 miliar yen atau sekitar US$ 7,15 miliar.

Pabrik yang rencana berlokasi di Kumamoto, Jepang selatan, diperkirakan akan memproduksi semikonduktor untuk mobil, sensor gambar kamera dan produk lain yang telah dilanda kekurangan cip global. Rencananya, pabrik cip itu akan mulai beroperasi pada tahun 2024,.

Mengutip Reuters, pembuat suku cadang mobil terkemuka Jepang, Denso, juga ingin berpartisipasi melalui langkah-langkah seperti menyiapkan peralatan di lokasi tersebut. Anggota dari grup Toyota Motor ini sedang mencari pasokan cip yang stabil yang digunakan dalam suku cadang mobilnya.

Sementara itu, pembuat cip terbesar di dunia ini telah mengatakan pada bulan Juli bahwa mereka sedang meninjau rencana untuk mengatur produksi di Jepang. TSMC prihatin dengan konsentrasi kemampuan pembuatan cip di Taiwan, yang memproduksi sebagian besar chip paling canggih di dunia.

Dukungan dari Pemerintah Jepang juga dikarenakan pejabat mereka telah khawatir tentang stabilitas rantai pasokan industrinya, dengan kekurangan cip global yang memaksa pembuat mobil untuk memangkas produksi.