• Blog
  • News Forex, Index & Komoditi (Jum’at, 24 September 2021)

News Forex, Index & Komoditi (Jum’at, 24 September 2021)

Wall Street terangkat sikap Fed, indeks Dow Jones melonjak 506,50 poin

Wall Street terangkat lebih dari satu persen pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena para investor tampak merasa lega dengan sikap Federal Reserve tentang pengurangan stimulus dan menaikkan suku bunga setelah mengakhiri pertemuan kebijakan mereka.

Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 506,50 poin atau 1,48 persen, menjadi menetap di 34.764,82 poin. Indeks S&P 500 bertambah 53,34 poin atau 1,21 persen, menjadi berakhir di 4.448,98 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup meningkat 155,40 poin atau 1,04 persen, menjadi 15.052,24 poin.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah positif, dengan sektor energi melambung 3,41 persen, melampaui sektor lainnya. Sementara itu, kelompok real estat dan utilitas menetap di wilayah negatif, memimpin kerugian.

Prospek positif dari Accenture dan Salesforce membantu mendorong pasar, sementara Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS pada Rabu (22/9/2021) malam mengesahkan dosis booster vaksin Pfizer-BioNTech COVID-19 untuk mereka yang berusia 65 tahun ke atas.

Juga membantu sentimen, kekhawatiran tentang efek riak dari China Evergrande terus mereda.

The Fed mengatakan pada Rabu (22/9/2021) bahwa pihaknya dapat mulai mengurangi pembelian obligasi bulanan secepatnya November, dan bahwa suku bunga bisa naik lebih cepat dari yang diperkirakan tahun depan. Batas waktu November sebagian besar sudah diprediksi oleh pasar.

Dalam konferensi pers setelah pernyataan itu, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan standar untuk menaikkan suku bunga dari nol jauh lebih tinggi daripada untuk tapering atau pengurangan pembelian aset-aset.

"Ini adalah reli lanjutan dari pertemuan Fed yang sangat bagus," kata Tim Ghriskey, kepala strategi investasi di Inverness Counsel di New York.

"Bagi saya itu menunjukkan tidak ada kejutan dan segala sesuatunya seperti yang diharapkan," katanya. "Setiap kenaikan suku bunga Fed masih jauh dan begitu banyak yang bisa berubah antara sekarang dan nanti."

Saham penyedia layanan TI, Salesforce, ditutup melonjak 7,0 persen dan perusahaan tersebut merupakan dorongan besar bagi S&P dan Dow selama sesi tersebut setelah menaikkan perkiraan laba tahunannya.

Accenture terdongkrak 2,5 persen setelah perusahaan konsultan IT itu meningkatkan prospek kuartal pertamanya.

Kekhawatiran semakin mereda atas potensi gagal bayar oleh pengembang properti China Evergrande bahkan ketika Reuters melaporkan bahwa beberapa pemegang obligasi dolar perusahaan telah putus harapan untuk mendapatkan pembayaran kupon pada batas waktu penting Kamis (23/9/2021).

Investor mengabaikan data yang menunjukkan pertumbuhan aktivitas bisnis melesu dan klaim tunjangan pengangguran meningkat, sejalan dengan ekspektasi perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 9,84 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 10,07 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

China tengah bersiap untuk kejatuhan Evergrande

Wall Street Journal (WSJ) melaporkan pada hari Kamis (23/9/2021), pihak berwenang China meminta pemerintah daerah untuk mempersiapkan potensi kejatuhan China Evergrande Group yang tengah dililit utang besar. WSJ mengutip pejabat yang mengetahui permasalahan tersebut.

Melansir Reuters yang mengutip laporan itu, langkah tersebut telah ditandai dengan adanya persiapan untuk kemungkinan badai oleh para pejabat.

Para pejabat mengatakan, lembaga pemerintah tingkat lokal dan perusahaan milik negara telah diinstruksikan untuk turun tangan hanya pada menit terakhir jika Evergrande gagal mengelola urusannya secara tertib, WSJ melaporkan.

Pemerintah daerah telah ditugaskan untuk mencegah terjadinya kerusuhan dan mengurangi efek gelombang pada pembelian rumah dan ekonomi yang lebih luas.

Evergrande, pengembang properti terbesar kedua di China, memiliki kewajiban membayar bunga US$ 83,5 juta pada 23 September untuk obligasi offshore pada Maret 2022. Pembayaran bunga US$ 47,5 juta lainnya harus dibayar pada 29 September untuk surat utang yang jatuh tempo pada Maret 2024.

Obligasi akan gagal bayar jika Evergrande gagal membayar bunga dalam waktu 30 hari dari tanggal pembayaran yang dijadwalkan.

Perusahaan mengalami masalah selama beberapa bulan terakhir karena Beijing memperketat aturan di sektor propertinya untuk mengendalikan kembali tingkat utang dan spekulasi.

Investor khawatir bahwa penurunan bisa menyebar ke kreditur termasuk bank di China dan luar negeri.

China menentang Taiwan bergabung dengan Kemitraan Trans-Pasifik

China pada Kamis (23/3) mengatakan, mereka menentang Taiwan bergabung dengan kesepakatan perdagangan trans-Pasifik, beberapa hari setelah Beijing menyatakan ingin menjadi anggota dari perjanjian itu.

Ditandatangani oleh 11 negara Asia Pasifik pada 2018, Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP) adalah pakta perdagangan bebas terbesar di kawasan ini dan menyumbang sekitar 13,5% dari ekonomi global.

Taiwan telah melobi selama bertahun-tahun untuk bergabung dan mengumumkan pada Kamis bahwa mereka secara resmi melamar.

"Taiwan tidak bisa ditinggalkan di dunia dan harus berintegrasi ke dalam ekonomi regional," kata juru bicara Kabinet Taiwan Lo Ping-cheng kepada wartawan, seperti dikutip Channel News Asia.

Tetapi, China, yang mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya, mengatakan, Taipei tidak boleh diizinkan untuk bergabung.

"Kami dengan tegas menentang negara mana pun yang memiliki pertukaran resmi dengan Taiwan dan dengan tegas menentang aksesi wilayah Taiwan ke perjanjian atau organisasi resmi apa pun," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian, seperti dilansir Channel News Asia.

Pekan lalu, China mengajukan permohonan untuk bergabung dengan CPTPP.

Saat ini, CPTPP beranggotakan Australia, Brunei, Kanada, Chili, Jepang, Malaysia, Meksiko, Peru, Selandia Baru, Singapura, dan Vietnam.

Dan, Taiwan mendapat dukungan dari Tokyo. "Jepang menyambut baik permohonan Taiwan untuk bergabung dengan Kemitraan Trans-Pasifik," kata Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi kepada wartawan di New York, AS, seperti dikutip Channel News Asia.

Taliban umumkan perburuan harta karun kuno berusia 2.000 tahun

Taliban mengumumkan saat ini pihaknya tengah memburu harta karun berusia 2.000 tahun yang disebut emas Baktria.

Mengutip Washington Examiner, kelompok yang kini tengah berkuasa di Afghanistan itu mengatakan bahwa jika harta itu dibawa ke luar negeri, mereka akan menganggap tindakan itu sebagai pengkhianatan terhadap negara.

RepublicWorld.com melaporkan, benda-benda yang terdiri dari emas Baktria berasal dari sekitar dua milenium.

Banyak pihak yang cemas, jika Taliban dapat merebut barang-barang tersebut, mereka akan menghancurkannya. Ini merupakan upaya Taliban untuk membersihkan sejarah, budaya, dan orang-orang Afghanistan.

Benda-benda itu, yang ditemukan oleh para arkeolog di kuburan pengembara Afghanistan utara yang kaya pada 1970-an, dilaporkan menunjukkan berbagai pengaruh Persia dan Yunani.

Salah satu benda paling berharga di antara barang-barang tersebut adalah mahkota emas dengan hiasan mewah.

Mahkota itu memiliki tinggi lima inci, ditempa dari emas yang dipalu, dan dihiasi dengan daun dan kambing gunung emas.

Tidak mendapatkan akses

Sementara itu, mengutip Reuters, Taliban tampaknya tidak mungkin bisa mendapatkan akses cepat ke sebagian besar aset bank sentral Afghanistan yang bernilai sekitar US$ 10 miliar.

Melansir Reuters, menurut seorang pejabat Afghanistan, bank sentral negara itu, Da Afghanistan Bank (DAB), diperkirakan menyimpan mata uang asing, emas, dan harta lainnya di brankasnya.

Menurut pejabat Afghanistan, termasuk penjabat gubernur bank, Ajmal Ahmady, yang telah melarikan diri dari Kabul, sebagian besar aset disimpan di luar Afghanistan. Ini berpotensi menempatkan sebagian besar aset Afganistan di luar jangkauan pemberontak.

 “Mengingat bahwa Taliban masih dalam daftar sanksi internasional, diharapkan bahwa aset tersebut akan dibekukan dan tidak dapat diakses oleh Taliban,” kata Ahmady di utas Twitter beberapa waktu lalu.

“Kami bisa bilang bahwa dana yang dapat diakses oleh Taliban mungkin 0,1-0,2% dari total cadangan internasional Afghanistan. Tidak banyak,” tambahnya.

Taliban mengatakan pada hari Sabtu bahwa perbendaharaan, fasilitas umum dan kantor-kantor pemerintah adalah milik negara dan "harus dijaga ketat".

Makin panas, 19 pesawat tempur China masuk zona pertahanan udara Taiwan

Rombongan pesawat tempur China sekali lagi memasuki zona pertahanan udara Taiwan, dalam peningkatan terbaru dalam ketegangan di Selat Taiwan.

Angkatan Udara Taiwan bergegas memberi peringatan kepada 19 pesawat tempur China yang memasuki zona pertahanan udara, Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan pada Kamis (23/9).

Pesawat tempur China itu termasuk 12 jet tempur J-16 dan dua pengebom H-6 berkemampuan nuklir, menurut Kementerian Pertahanan Taiwan, seperti dikutip Al Jazeera.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan pada Jumat (17/9) pekan lalu, Angkatan Udara Taiwan juga memperingatkan 10 pesawat tempur China yang memasuki zona pertahanan udara.

Taiwan telah mengeluhkan misi berulang oleh Angkatan Udara China di dekat wilayah mereka, seringkali di bagian Barat Daya zona pertahanan udaranya, dekat dengan Pulau Pratas.

Insiden pekan lalu terjadi sehari setelah Taiwan mengusulkan kenaikan belanja militer sebesar US$ 8,7 miliar selama lima tahun ke depan, termasuk untuk membeli rudal baru, ke parlemen.

Menurut Taiwan, tambahan belanja militer itu merupakan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan senjata dalam menghadapi "ancaman kuat" dari China.

“Komunis China terus berinvestasi besar-besaran dalam anggaran pertahanan nasional, kekuatan militernya telah berkembang pesat, dan telah sering mengirim pesawat dan kapal perang untuk menyerang dan mengganggu wilayah laut dan udara kita,” kata Kementerian Pertahanan Taiwan dalam sebuah pernyataan.

1 Teori mengapa Elon Musk belum meroket ke luar angkasa

Para miliarder dunia, beberapa waktu belakangan ramai-ramai menjajal terbang ke luar angkasa. Namun tidak demikian halnya dengan Elon Musk.

Melansir Yahoo News yang mengutip The Week, Elon Musk adalah satu-satunya orang yang benar-benar dapat mengungkapkan mengapa dirinya tidak mengikuti jejak rekan miliardernya seperti Richard Branson dan Jeff Bezos yang sudah melakukan perjalanan singkat ke luar angkasa.

Tapi Marina Koren dari The Atlantic mengajukan satu teori mengenai hal ini. Dan teori itu cukup sederhana.

Koren berbicara dengan Garrett Reisman, seorang profesor teknik di University of Southern California dan pensiunan astronot NASA yang juga menjabat sebagai penasihat senior SpaceX Musk. Pada satu titik, ketika Reisman sedang mengerjakan rencana perusahaan untuk mengangkut astronot NASA, dia mengatakan sudah bertemu dengan Musk untuk membahas penerbangan luar angkasa berawak, dan menyarankan agar mereka menjalankan uji terbang dengan astronot NASA dan astronot yang dipekerjakan oleh SpaceX.

Reisman menilai, dengan memiliki "astronot perusahaan", hal itu dapat memberi energi pada armada kerja lainnya. Akan tetapi, Musk dilaporkan hanya menatapnya dan berkata: "Mengapa ada orang yang ingin pergi ke orbit rendah Bumi?"

Kesimpulan Reisman adalah spekulasi, tetapi dia percaya bahwa Musk tidak terlalu terkesan dengan perjalanan yang dilakukan oleh Bezos dan Branson, yang singkat dan hanya mencapai titik yang relatif sering dikunjungi sepanjang sejarah penerbangan antariksa manusia.

Mungkin itu tidak sepenuhnya mengejutkan, mengingat Musk selalu memperhatikan Mars.

Skyfall, Rudal Berhulu Ledak Nuklir Terbaru Rusia yang Bikin AS Ketar-ketir

 Rusia dilaporkan tengah bersiap untuk menguji rudal jelajah bertenaga nuklir terbarunya, Burevestnik, yang dijuluki Skyfall oleh Amerika Serikat (AS). Rudal dengan hulu ledak nuklir ini diklaim mampu mengelilingi bumi selama berbulan-bulan dalam mode patroli. Burevestnik adalah rudal jelajah yang ditenagai oleh mesin nuklir terintegrasi yang diluncurkan pada 2018.

“Rudal ini memiliki reaktor atom yang memungkinkannya untuk tetap berada di langit selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sampai saatnya tiba untuk mengubah komponen nuklir,” ucap Ivan Konovalov, pakar militer dan direktur pengembangan Yayasan Promosi Teknologi Abad Ke-21.

“Rute penerbangannya yang tidak dapat diprediksi membuat rudal ini menjadi senjata yang (sangat) efektif, karena tidak ada militer asing yang dapat memprediksi waktunya beralih dari berpatroli menjadi menyerang,” sambungnya, seperti dilansir Russia Beyond The Headlines, Rabu (22/9).

Rudal tersebut mampu terbang di sekitar Samudra Atlantik Utara, di sekitar Kutub Utara, atau melintasi Rusia dan kembali kapanpun diperlukan. Setelah mendapatkan koordinat target dari komando militer, rudal disebut itu akan terbang menyasar target dengan kecepatan hipersonik yakni sekitar 2.500 km/jam.

Menurut Konovalov, daya tembak Skyfall sebanding dengan bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II. “Saya pikir rudal itu tidak akan berpatroli di wilayah Rusia sepanjang waktu, tetapi akan bersiaga di langit dengan mode waspada dan digunakan sebagai sarana pencegahan nuklir,” ujar Konovalov.

Menurutnya, Skyfall akan memiliki hulu ledak atom dan akan digunakan bersama senjata triad nuklir lainnya, yakni kapal selam nuklir, rudal balistik antarbenua dan bomber strategis.

Dmitry Safonov, pakar dan pemimpin redaksi majalah Independent Military Review, mengatakan, saat ini tidak ada senjata asing yang menyerupai rudal tersebut. Tetapi, pada masa mendatang, Amerika akan membuat sesuatu yang serupa.

 

Pemerintah AS telah mengadopsi program modernisasi senjata nuklir baru senilai USD 1,2 triliun untuk mengejar ketinggalan dengan Rusia dalam pengembangan senjata nuklir. Menurutnya, Rusia mulai memodernisasi persenjataan nuklirnya sepuluh tahun yang lalu dan, oleh karena itu, sudah menuai hasil atas pengembangan senjata mematikan itu.

 “Kami menginvestasikan USD150 miliar (10 kali lebih sedikit daripada program baru AS) ke dalam pengembangan sarana pencegahan nuklir era baru. Amerika tidak menganggap serius rencana dan ilmuwan kami 10 tahun yang lalu dan sekarang mereka harus mengejar kami dalam teknologi ini. Ketika (mereka menciptakan senjatanya sendiri), kami sudah selesai menguji senjata kami dan akan mengadopsinya ke dalam militer,” kata Safonov.

Saat ini, Rusia memiliki berbagai sistem senjata nuklir modern, mulai drone nuklir bawah air nirawak Poseidon yang dapat “tidur” di dasar lautan, rudal balistik antarbenua Sarmat dan Avangard yang baru, serta Burevestnik atau Skyfall.

“Komando militer Rusia memperkirakan bahwa Amerika akan meluncurkan analog teknologi kami pada tahun-tahun mendatang. Kami tidak meremehkan ilmuwan, teknologi, dan potensi militer mereka. Mereka akan segera menyusul kami dan menunjukkan kemampuan kompleks industri militer mereka,” ucap Safonov.

Analis: Stabilkan Afghanistan, China Harus Kian Dekat dengan Taliban

 Kondisi alam Afghanistan yang didominasi oleh pegunungan menjadi salah satu faktor sulitnya negara itu dikuasai oleh kekuatan asing. Upaya berulang oleh kekuatan internasional untuk memerintah Afghanistan selalu gagal. Inggris, Uni Soviet, dan Amerika Serikat (AS), semuanya gagal dalam serangan militer mereka ke Afghanistan.

Kini, setelah AS hengkang dari tanah Afghanistan, Taliban kembali berkuasa penuh atas negara tersebut. Meski banyak dikecam dan diragukan akan membawa perbaikan di Afghanistan, namun nyatanya tetap ada negara-negara yang siap menjalin kerjasama dengan pemerintahan baru yang dibentuk oleh Taliban. Salah satu negara itu adalah China.

Analis intelijen, Barbara Kelemen dari Dragonfly menuturkan, kepentingan China di Afghanistan terutama dimotivasi oleh implikasi keamanan yang berasal dari perbatasan bersama mereka. Kian diperkuat oleh kebutuhan untuk melindungi investasi Belt and Road Initiative (BRI) di kawasan yang lebih luas.

 “China tampaknya sebagian besar melihat kerja sama ekonomi sebagai cara untuk menstabilkan Afghanistan,” kata Kelemen, seperti dilansir Al Arabiya, Rabu (22/9).

“Ini mungkin alasan utama yang membuat Beijing mencapai kesepakatan dengan Taliban di tahun 90-an, di mana sebagai imbalan atas dukungan ekonomi, Taliban dilaporkan akan mencegah militan Uighur meningkatkan serangan di wilayahnya,” sambungnya.

China tidak mengecualikan Afghanistan dari BRI, tetapi di masa lalu perhatiannya tetap terbatas dibandingkan dengan proyek-proyek besar lainnya yang dilakukan di tempat lain. Ketika AS dan sekutunya memainkan peran utama di Afghanistan, China, meskipun tidak berperan sebagai bawahan, menghindari kemitraan dengan Barat.

Sepanjang pendudukan AS di Afghanistan, China tidak menonjolkan diri dengan kunjungan resmi yang jarang dan terbatas ke Kabul. Namun kini, China tidak dapat mentolerir kekosongan keamanan yang mungkin berdampak pada keamanan dan kepentingan nasionalnya. Beijing telah meningkatkan investasinya di Afghanistan dan melihat negara itu sebagai konektivitas dalam bentangan geografis BRI.

 

Kelemen mencatat koridor udara China-Afghanistan menjadi jalur penting untuk ekspor beberapa produk Afghanistan, seperti kacang pinus.

 “Pembukaan koridor memecahkan masalah, seperti penyelundupan melintasi perbatasan Pakistan di mana produk akan sering dikemas dan diekspor kembali dengan nilai tambah dari proses ini ke Pakistan daripada Afghanistan,” katanya.

Kelemen menjelaskan, koridor udara baru memiliki kelemahan dengan proses yang diperkenalkan beralih ke China dengan proses nilai tambah yang menguntungkan Beijing.

“Banyak proyek besar lainnya yang diprakarsai oleh China tetap terhenti dan telah digambarkan, bersama dengan BRI, sekadar ‘slogan’ daripada kenyataan oleh otoritas AS. China pada gilirannya terus mengklaim ini terutama karena lingkungan keamanan yang buruk di Afghanistan,” ujarnya.

Pakar Sebut Politisasi Asal Muasal Covid-19 Rusak Upaya Global Lawan Pandemi

 Penyelidikan asal-usul Covid-19 harus ditangani hanya oleh para ilmuwan dan setiap politisasi masalah ini sangat disesalkan. Politisasi asal usul Covid-19 dinilai dapat merusak kerja sama global dalam perang melawan pandemi .

"Penyelidikan asal-usul Covid-19 harus diserahkan kepada para ilmuwan untuk dilakukan dan akan membutuhkan waktu untuk sampai pada kesimpulan tentang itu," ucap Sourabh Gupta, pakar dari Institut Studi China-Amerika, Washington.

“Tapi, banyak bukti akan sulit untuk disaring jika tidak dilakukan pada tahap awal. Jadi, tidak boleh ada interupsi. Dan, penggalangan isu politik semacam ini akan menghentikan masalah di para ilmuwan," sambungnya, merujuk pada penyelidikan komunitas intelijen Amerika Serikat (AS) tentang asal-usul virus.

Komunitas intelijen AS mencapai penilaian yang tidak meyakinkan tentang asal-usul virus setelah penyelidikan 90 hari yang diperintahkan oleh Presiden Joe Biden.

“Laporan yang cenderung memberikan kesetaraan untuk semua berbagai teori dalam pandangan saya sangat tidak adil dan akan dikenang sebagai sesuatu yang negatif," ujar Gupta, seperti dilansir Xinua, Rabu (22/9).

Dengan melakukan ini, ujarnya, AS berusaha mempertahankan dua narasi, yakni bahwa China tidak transparan tentang asal-usul virus dan tidak cukup cepat untuk menangani, dan memberi tahu komunitas global tentang virus tersebut.

"Seluruh tujuannya adalah untuk menghitamkan China pada Covid-19 dalam beberapa cara. Dan, begitulah yang telah dimainkan di media AS dengan para pemimpin politik AS, memberikan oksigen pada argumen ini, dan mempertimbangkan kekuatan media Barat yang akan fakta melayang di atas kita dalam beberapa cara, bentuk atau bentuk, bahkan di bawah garis," katanya.

 

"Mereka akan mencoba untuk menempelkan itu dalam gambar kami, di kepala kami. Dan, itu sendiri merupakan tantangan bagi China untuk berurusan dengan mempertimbangkan kekuatan media Barat," tutur Gupta.

Dia mencatat bahwa sayangnya ada begitu banyak politik sehubungan dengan perang melawan Covid-19 mulai dari asal virus hingga masker dan vaksinasi, dan sebagainya.

“Sekarang yang sebenarnya kita miliki adalah kurangnya kemauan politik untuk benar-benar bersatu menghadapi COVID-19. Dan masalah asal-usul telah melukai ruang politik untuk bekerja sama di tingkat multilateral dan untuk memperdalam kerja sama multilateral di bidang kesehatan masyarakat global, " ungkapnya