• Blog
  • News Forex, Index & Komoditi (Kamis, 23 September 2021)

News Forex, Index & Komoditi (Kamis, 23 September 2021)

Fed tahan suku bunga tak berubah, indikasikan tapering segera dimulai

Federal Reserve pada Rabu (22/9/2021) mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah pada rekor terendah mendekati nol, sementara mengisyaratkan bahwa bank sentral AS itu akan segera mulai mengurangi pembelian aset atau tapering meskipun virus varian Delta meningkatkan ketakpastian ekonomi.

The Fed telah berjanji untuk melanjutkan program pembelian asetnya setidaknya pada kecepatan saat ini sebesar 120 miliar dolar AS per bulan sampai "kemajuan lebih lanjut yang substansial" telah dibuat pada lapangan kerja dan inflasi sejak Desember lalu.

"Sejak itu, ekonomi telah membuat kemajuan menuju tujuan-tujuan ini. Jika kemajuan berlanjut secara luas seperti yang diharapkan, Komite menilai bahwa moderasi dalam laju pembelian aset akan segera dibenarkan," Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), komite pembuatan kebijakan Fed, mengatakan dalam sebuah pernyataan setelah pertemuan dua harinya.

"Komite akan siap untuk menyesuaikan sikap kebijakan moneter yang sesuai jika muncul risiko yang dapat menghambat pencapaian tujuan Komite," kata pernyataan itu.

Pada konferensi pers virtual Rabu (22/9/2021) sore waktu setempat, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bahwa sektor-sektor yang paling terpengaruh oleh pandemi membaik dalam beberapa bulan terakhir, tetapi peningkatan kasus COVID-19 memperlambat pemulihan.

"Varian Delta menyebabkan peningkatan signifikan dalam kasus COVID-19 yang mengakibatkan kesulitan dan kerugian signifikan dan memperlambat pemulihan ekonomi. Kemajuan yang berkelanjutan pada vaksinasi akan membantu menahan virus dan mendukung kembalinya kondisi ekonomi yang lebih normal," katanya.

Powell juga mengatakan bahwa pejabat Fed menurunkan perkiraan mereka untuk pertumbuhan ekonomi AS tahun ini dibandingkan dengan tiga bulan lalu, "sebagian mencerminkan dampak virus".

Ekonomi AS diperkirakan akan tumbuh pada 5,9 persen tahun ini, lebih rendah dari 7,0 persen yang diperkirakan pada Juni, menurut perkiraan median dari ringkasan proyeksi ekonomi terbaru Fed yang dirilis Rabu (22/9/2021).

Perkiraan rata-rata inflasi pada akhir tahun ini, diukur dengan pertumbuhan tahunan dalam indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), naik menjadi 4,2 persen dari 3,4 persen pada Juni.

"Ini menetapkan panggung bagi The Fed untuk secara resmi mengumumkan rencana tapering pada November dan pengurangan pertama terjadi pada Desember, yang merupakan asumsi perkiraan dasar kami," Ryan Sweet, direktur senior di Moody's Analytics, mengatakan Rabu (22/9/2021) dalam sebuah analisis.

Wall St ditutup lebih tinggi, Fed segera kurangi pembelian obligasi

Wall Street berakhir lebih tinggi dengan tiga indeks utama menguat sekitar satu persen pada Rabu waktu setempat (Kamis pagi WIB), karena sebagian besar investor menerima sinyal terbaru dari Federal Reserve, termasuk membuka jalan bagi bank sentral untuk segera mengurangi pembelian obligasi bulanannya.

Indeks Dow Jones Industrial Average meningkat 338,48 poin atau 1,00 persen, menjadi menetap di 34.258,32. Indeks S&P 500 bertambah 41,45 poin atau 0,95 persen, menjadi berakhir di 4.395,64 poin. Indeks Komposit Nasdaq terangkat 150,45 poin atau 1,02 persen, menjadi ditutup pada 14.896,85 poin.

Indeks S&P 500 mencatatkan persentase kenaikan harian terbesar sejak 23 Juli. Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor energi melonjak 3,17 persen, melampaui sektor lainnya. Namun, kelompok saham utilitas dan layanan komunikasi melemah.

Sementara perdagangan bergejolak mengikuti pernyataan kebijakan terbaru Fed dan komentar Ketua Fed Jerome Powell, saham ditutup mendekati posisi mereka sebelum berita bank sentral.

Dalam pernyataannya, bank sentral juga menyatakan kenaikan suku bunga mungkin mengikuti lebih cepat dari yang diperkirakan dan mengatakan indikator keseluruhan dalam ekonomi "terus menguat."

Pada konferensi pers virtual Rabu (22/9/2021) sore, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bahwa sektor-sektor yang paling terpengaruh oleh pandemi membaik dalam beberapa bulan terakhir, tetapi peningkatan kasus COVID-19 memperlambat pemulihan.

Saham-saham memulai hari dengan lebih tinggi karena kekhawatiran atas gagal bayar oleh Evergrande China mereda. Unit utama Evergrande mengatakan telah menegosiasikan kesepakatan dengan pemegang obligasi untuk menyelesaikan pembayaran bunga obligasi domestik.

Saham sektor perbankan naik mengikuti berita Fed, dengan indeks bank S&P berakhir 2,1 persen lebih tinggi, dan saham keuangan S&P 500 naik 1,6 persen dan berada di antara pencetak kenaikan terbesar di antara sektor-sektor.

Beberapa ahli strategi memandang komentar Fed beragam.

“Jadi mereka mengatakan kami mungkin akan mulai melakukan tapering, tetapi mereka belum mengatakan kapan dan belum mengatakan berapa banyak, jadi kami kembali ke tempat kami sehari yang lalu,” kata Paul Nolte, manajer portofolio di Kingsview Investment Management di Chicago.

"Itu tetap pertanyaan terbuka," katanya. “Juga, kondisi keuangan tetap sangat longgar, dan itulah bagian dari alasan mengapa pasar tidak menjadi gila pada saat ini.”

Apple dan nama besar terkait teknologi lainnya memberi S&P 500 dorongan terbesarnya.

Pada sisi negatifnya, FedEx Corp jatuh 9,1 persen setelah membukukan laba kuartalan yang lebih rendah dan ketika perusahaan pengiriman itu memangkas perkiraan pendapatan setahun penuh.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 9,91 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 9,99 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

Mayoritas bursa Asia menguat pada Kamis (23//9) pagi, mengekor kenaikan Wall Street

Mayoritas bursa Asia menguat pada perdagangan Kamis (23/9) pagi. Pukul 08.25 WIB, indeks Hang Seng menguat 392,60 poin atau 1,62% ke 24.614,14, Taiex naik 170,91 poin atau 1,02% ke 17.087,79.

Kospi turun 27,89 poin atau 0,89% ke 3.113,37, ASX 200 naik 75,36 poin atau 1,03% ke 7.372,30, Straits Times naik 20,49 poin atau 0,67^ke 3.068,00 dan FTSE Malaysia naik 4,78 poin atau 0,31% ke 1.533,80.

Bursa Asia menguat, mengekor kenaikan Wall Street setelah ada kabar prospek tapering off Federal Reserve pada awal November.

Saham Australia naik, tapi bursa Korea turun. Bursa Jepang dan Hong Kong tutup untuk liburan dan akan dibuka kembali pada esok hari.

Mengutip Bloomberg, Gubernur The Fed mengatakan bank sentral AS akan mulai mengurangi pembelian aset pada November dan menyelesaikan prosesnya pada pertengahan 2022.  Pejabat The Fed juga mengungkapkan kecenderungan yang berkembang untuk menaikkan suku bunga tahun depan.

Powell mengatakan, dia tidak mengharapkan The Fed untuk memulai kenaikan suku bunga hingga menyelesaikan proses tapering yang akan berakhir sekitar pertengahan tahun 2022.

Pergeseran bertahap dari kebijakan ultra longgar bersama dengan kekhawatiran penularan yang berasal dari Evergrande telah membuat pasar bergekolak pada pekan ini di tengah kekhawatiran tentang pemulihan ekonomi yang lambat.

Di Asia, para trader terus memantau krisis utang di Evergrande Group. Beberapa kekhawatiran investor mereda meski pertanyaan tetap ada, setelah perusahaan itu menyatakan akan membayar bunga oblikasi lokal.

Evergrande China hadapi batas waktu penting, investor tunggu hasilnya

Pengembang properti China Evergrande menghadapi tenggat waktu Kamis untuk membayar bunga pada salah satu obligasi dolarnya, dalam momen penting bagi investor global yang khawatir bahwa kelesuannya dapat menyebar ke luar sektor properti negara itu.

Pasar global bereaksi dengan lega pada Rabu (22/9/2021) ketika bank sentrak China (People's Bank of China/PBoC) menyuntikkan 90 miliar yuan (13,9 miliar dolar AS) ke dalam sistem perbankan, dan unit Evergrande mengatakan telah "menyelesaikan" pembayaran kupon pada obligasi dalam negerinya.

Tetapi perusahaan menghadapi 83,5 juta dolar AS dalam pembayaran bunga obligasi dolar yang jatuh tempo pada Kamis pada obligasi luar negeri senilai 2 miliar dolar AS. Dan lebih banyak pembayaran akan jatuh tempo minggu depan, dengan pembayaran bunga obligasi senilai 47,5 juta dolar AS.

Evergrande, pengembang properti terbesar di China, mengalami masalah selama beberapa bulan terakhir karena Beijing memperketat peraturan di sektor propertinya untuk mengendalikan kembali utang yang terlalu banyak dan spekulasi.

Dengan kewajiban 305 miliar dolar AS, Evergrande telah menemukan dirinya berjuang untuk memenuhi kewajiban utangnya dan investor khawatir bahwa pembusukan itu dapat menyebar ke kreditur termasuk bank-bank di China dan luar negeri. Beberapa analis mengatakan perlu waktu berminggu-minggu bagi investor untuk memiliki kejelasan tentang bagaimana situasi akan selesai.

“Perusahaan dapat merestrukturisasi utangnya tetapi terus beroperasi, atau dapat dilikuidasi,” tulis Paul Christopher, kepala strategi pasar global di Wells Fargo Investment Institute. Dalam kedua kasus tersebut, investor dalam instrumen keuangan perusahaan kemungkinan akan menderita kerugian, tulisnya.

"Namun, jika terjadi likuidasi, investor China dan global dapat memutuskan bahwa penularan dapat menyebar ke luar China," tambahnya.

Sekelompok pemegang obligasi Evergrande baru-baru ini memilih bank investasi Moelis & Co dan firma hukum Kirkland & Ellis sebagai penasihat tentang restrukturisasi potensial dari serangkaian obligasi, dua sumber yang dekat dengan masalah tersebut mengatakan sebelumnya.

Nasehat tersebut berfokus pada sekitar 20 miliar dolar AS obligasi luar negeri yang beredar jika terjadi non-pembayaran, salah satu sumber mengatakan pada saat itu.

Para analis telah meremehkan risiko bahwa keruntuhan mengancam "momen Lehman", atau krisis likuiditas, yang membekukan sistem keuangan dan menyebar secara global.

Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell mengatakan pada Rabu (22/9/2021) bahwa masalah Evergrande tampaknya khusus untuk China dan bahwa ia tidak melihat paralel dengan sektor korporasi Amerika Serikat.

“Dalam hal implikasinya bagi kami, tidak banyak paparan langsung Amerika Serikat. Bank-bank besar China tidak terlalu terekspos, tetapi Anda akan khawatir itu akan mempengaruhi kondisi keuangan global melalui saluran kepercayaan global dan hal semacam itu," kata Powell kepada wartawan setelah pertemuan kebijakan The Fed.

Krisis Evergrande, kekayaan Elon Musk, Jeff Bezos, Warren Buffett merosot tajam

Krisis Evergrande, pengembang real estat terbesar di China yang kini tengah menghadapi kebangkrutan, turut mempengaruhi nilai kekayaan para miliarder dunia. Para miliarder tersebut kehilangan uang hingga miliaran dolar.

Mengutip financialexpress.com, 10 orang terkaya di dunia, seperti Elon Musk, Jeff Bezos, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Warren Buffett, dan lainnya kehilangan lebih dari US$ 26 miliar.

Menurut Bloomberg Billionaires Index, Elon Musk dari Tesla Inc, miliarder terkaya di dunia, mengalami penurunan kekayaan bersihnya sebesar US$ 7,2 miliar menjadi US$ 198 miliar.

Pendiri Amazon.com Inc, Jeff Bezos, kehilangan nilai kekayaan sebesar US$ 5,6 miliar menjadi US$ 194 miliar.

Pendiri dan Ketua Evergrande Hui Ka Yan, yang berada di posisi 359 dalam daftar Bloomberg Billionaires Index, mengalami penurunan peringkat kekayaannya karena saham perusahaan jatuh ke level terendah dalam lebih dari 11 tahun.

Saham Evergrande terakhir terlihat diperdagangkan pada level ini pada Mei 2010 silam. Kekayaan bersih Hui Ka Yan hanya mencapai US$ 7,3 miliar, turun hampir US$ 16 miliar pada basis year-to-date.

Siapa yang mengalami penurunan kekayaan terbesar?

Financialexpress.com memberitakan, pada 21 September 2021, Elon Musk masih tetap menjadi orang terkaya di dunia di planet ini dengan kekayaan bersih US$ 198 miliar, meskipun mengalami penurunan kekayaan sebesar US$ 7,15 miliar.

Pendiri Amazon.com Inc Jeff Bezos berada di posisi kedua dengan kekayaan bersih US$ 194 miliar, dengan penurunan US$ 5,2 miliar.

Tiga orang lainnya dalam daftar lima teratas adalah pimpinan Louis Vuitton SE Bernard Arnault dengan nilai kekayaan US$ 157 miliar (turun US$ 2 miliar), salah satu pendiri Microsoft Bill Gates dengan nilai kekayaan US$ 149 miliar (turun US$ 1,94 miliar), dan pendiri Facebook Mark Zuckerberg dengan nilai kekayaan US$ 132 miliar (turun US$ 3,27 miliar).

Sejauh minggu ini, lima orang terkaya teratas telah kehilangan lebih dari US$ 26 miliar.

Menurut Bloomberg Billionaire Index, pendiri Google Larry Page dan Sergey Brin masing-masing berada di posisi keenam (US$ 124 miliar, turun US$ 1,9 miliar) dan posisi ketujuh (US$ 119 miliar, turun US$ 1,8 miliar).

Mantan CEO Microsoft, Steve Ballmer berdiri di posisi kedelapan dalam daftar dengan kekayaan bersih US$ 105 miliar (turun US$ 1,9 miliar). Larry Ellison dari Oracle Corporation berada di posisi kesembilan dengan total kekayaan bersih US$ 100 miliar (turun US$ 764 juta), dan investor multi-miliarder Warren Buffet berdiri di posisi 10 dengan total kekayaan bersih US$ 100 miliar (turun US$ 701 juta).

Wabah Covid-19 memaksa kota di China utara ini melakukan semi-shutdown

Kota Harbin di timur laut China, berpenduduk 10 juta, harus memberlakukan semi-shutdown setelah melaporkan kasus baru Covid-19 yang ditularkan secara lokal untuk pertama kalinya sejak awal Februari.

Melansir Reuters, Komisi Kesehatan Nasional (NHC) mengatakan pada hari Rabu (22/9/2021), tiga dari 16 kasus lokal baru yang dilaporkan di China untuk 21 September berada di Harbin, ibu kota provinsi Heilongjiang. Kasus penularan lokal terakhir yang dilaporkan di kota itu terjadi pada 4 Februari.

Harbin, yang dikenal dengmereka an suhu musim dinginnya yang bisa mencapai minus 30 derajat Celcius (minus 22 derajat Fahrenheit), pada hari Rabu berjanji untuk menyelesaikan putaran awal pengujian di seluruh kota pada hari Kamis. Pemerintah kota juga mengatakan kepada penduduknya untuk menahan diri agar tidak keluar rumah mereka, kecuali jika perlu, sebelum hasil tes mereka keluar.

Pemerintah Kota telah memberi tahu penduduknya untuk menghindari meninggalkan kota kecuali karena alasan penting, dan mereka yang pergi harus menunjukkan bukti hasil tes negatif dalam waktu 48 jam sejak keberangkatan.

Sebelumnya, televisi pemerintah melaporkan pada hari Selasa, tempat-tempat di dalam ruangan seperti bioskop, gimnasium, dan ruang mah-jong juga ditutup, dan lokasi wisata diperintahkan untuk membatasi lalu lintas pengunjung dengan memperbolehkan menerima setengah dari kapasitasnya.

Kota itu juga akan menangguhkan kelas offline di semua taman kanak-kanak, sekolah dasar dan sekolah menengah atas selama seminggu mulai Rabu, kata televisi pemerintah Selasa malam.

Tidak jelas apakah tiga kasus Harbin baru terkait dengan wabah saat ini di provinsi timur Fujian.

Menurut televisi pemerintah, salah satu kasus ditemukan ketika orang tersebut pergi ke rumah sakit setempat untuk pengujian.

Dua lainnya, kontak dekat dari kasus pertama, kembali ke China dari Filipina pada akhir Agustus dan pertama kali dikarantina di kota selatan Guangzhou sebelum dikarantina lagi di rumahnya di Harbin.

Kabupaten Bayan, tempat tinggal tiga kasus, menangguhkan layanan bus dan taksi dan mengunci beberapa daerah.

Di Fujian, kota Xiamen dan Putian melaporkan total 13 kasus baru untuk 21 September, menurut NHC pada hari Rabu. Angka ini mengalami penurunan dari rata-rata hitungan harian minggu lalu.

Wakil Perdana Menteri Sun Chunlan mengatakan pada hari Senin bahwa pejabat lokal tidak boleh optimis secara membabi buta tentang kemajuan yang dibuat di Fujian, karena ketidakpastian tetap ada dan pertempuran melawan virus masih dalam "jalan buntu", media pemerintah melaporkan.

Langkah Bank Sentral China tangani krisis Evergrande dianggap belum maksimal

Para investor mencari petunjuk tentang bagaimana Pemangku Kebijakan Beijing berencana untuk menangani krisis utang China Evergrande Group. Bank sentral China tampaknya tengah mengupayakan manajemen likuiditas di pasar.

The People’s Bank of China (PBOC) melanjutkan operasi pasar terbuka harian pada Rabu (22/9) setelah jeda libur di China. Suntikan likuiditas yang besar dapat menandakan niat Beijing untuk mengurangi tekanan sistemik setelah krisis Evergrande mengguncang ekuitas global.

Di sisi lain, jika PBOC menarik dana, itu bisa berarti siap untuk mentolerir volatilitas pasar yang lebih tinggi karena Evergrande semakin mendekati default.

Kebutuhan untuk menenangkan kegelisahan pasar mungkin bahkan lebih mendesak melihat saham-saham di China daratan merosot pada pembukaan kembali perdagangan pada Rabu (22/9) setelah libur festival pertengahan musim gugur.

Indeks Hang Seng China Enterprises, ukuran ekuitas China yang diperdagangkan di Hong Kong, merosot lebih dari 3% ketika bursa China ditutup pada Senin dan Selasa, awal pekan ini. Bahkan ketika analis Wall Street berusaha meyakinkan investor bahwa Evergrande tidak akan mengarah ke momen Lehman Brothers.

“China telah meninggalkan pasar dengan gelisah. Dalam waktu dekat, PBOC akan menyuntikkan likuiditas jangka pendek yang cukup untuk mempertahankan pasokan uang tunai yang cukup," kata Zhou Hao, ekonom senior di Commerzbank AG di Singapura seperti dikutip Bloomberg, Rabu (22/9).

Ketidakpastian tentang bagaimana masalah keuangan di pengembang properti terbesar di China itu akan diselesaikan telah memuncak. Pihak berwenang menahan diri untuk tidak memberikan jaminan publik untuk segera menyelamatkan Evergrande.

Media resmi sebagian besar telah menghindari berita ini. Sejumlah tabloid mengatakan Evergrande adalah "kasus yang terisolasi". Perekonomian China yang melambat telah menambah kecemasan investor.

Sementara pasar saham China daratan mengikuti pelemahan di saham Hong Kong pada Rabu, banyak analis termasuk di Citigroup Inc., Barclays Plc dan UBS Group AG  mengatakan krisis Evergrande tidak mungkin menjadi krisis "Lehman Brothers" di negara itu.

PBOC setidaknya telah bergerak ke arah yang benar, meningkatkan suntikan dana minggu lalu ke level tertinggi sejak Februari. Bank sentral perlu menambahkan 130 miliar yuan (US$20 miliar) bersih pada hari Rabu untuk memastikan likuiditas sesuai dengan level hari Sabtu.

Operasi tunai China telah ditujukan untuk mencapai keseimbangan antara memacu pertumbuhan yang dirugikan oleh wabah virus baru Delta dan peraturan yang lebih ketat, sambil mencegah gelembung aset.

Pihak berwenang juga cenderung melonggarkan cengkeraman mereka pada likuiditas menjelang akhir kuartal karena meningkatnya permintaan uang tunai dari bank untuk memenuhi peraturan. Bank juga perlu menimbun lebih banyak dana menjelang liburan satu minggu di China pada awal Oktober.

Meningkatkan likuiditas saja tidak akan cukup untuk menyelesaikan krisis Evergrande dengan sendirinya, kata Ding Shuang, kepala ekonom untuk China Raya dan Asia Utara di Standard Chartered Plc di Hong Kong.

“Apa yang diharapkan pasar dari pemerintah adalah membuat rencana yang dapat membantu restrukturisasi perusahaan dan pembiayaan kembali dengan lancar,” kata Shuang.

Raja Salman di PBB: Kami mendukung upaya untuk mencegah nuklir Iran

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz mengatakan kepada Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Rabu (22/9/2021) bahwa kerajaannya mendukung upaya untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Mengutip Reuters, pernyataan ini dilakukan ketika para pemimpin dunia bersiap untuk melanjutkan pembicaraan dengan Teheran untuk mengembalikan pakta nuklir 2015.

"Kerajaan menekankan pentingnya menjaga Timur Tengah bebas dari senjata pemusnah massal, atas dasar ini kami mendukung upaya internasional yang bertujuan mencegah Iran memiliki senjata nuklir," katanya dalam pidato video yang direkam sebelumnya untuk pertemuan tahunan.

Iran dan Arab Saudi, pemimpin kekuatan Muslim Syiah dan Sunni di Timur Tengah, telah menjadi saingan selama bertahun-tahun, mendukung sekutu yang memerangi perang proksi di Yaman, Suriah, dan di tempat lain. Mereka memutuskan hubungan diplomatik pada 2016, tetapi telah mengadakan pembicaraan tahun ini yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan.

"Iran adalah negara tetangga, dan kami berharap pembicaraan awal kami dengannya akan menghasilkan hasil nyata untuk membangun kepercayaan ... berdasarkan ... menghormati kedaulatan dan tidak mencampuri urusan dalam negeri," kata Raja Salman seperti yang dilansir Reuters.

Pernyataannya menyusul seruan Presiden Iran Ebrahim Raisi untuk melanjutkan pembicaraan nuklir dengan kekuatan dunia yang akan mengarah pada penghapusan sanksi AS.

Menurut kantor berita semi-resmi Iran Mehr, pada hari Selasa, menteri luar negeri Saudi bertemu dengan mitranya dari Iran selama Majelis Umum.

Dalam pidatonya, Raja Salman mengatakan Houthi Yaman menolak inisiatif damai untuk mengakhiri perang dan bahwa Arab Saudi akan mempertahankan diri terhadap rudal balistik dan drone bersenjata.

Penguasa berusia 85 tahun itu mengatakan kerajaan telah mengambil langkah besar selama lima tahun terakhir sejak pewarisnya Putra Mahkota Mohammed bin Salman meluncurkan rencana ambisius untuk mendiversifikasi ekonomi dari ketergantungan pada minyak dan perubahan lainnya.

Dia juga merujuk pada Arab Saudi yang memerangi ekstremisme.

"Kerajaan terus memerangi pemikiran ekstremis, yang dibangun di atas kebencian, dan mengawasi organisasi teroris dan milisi sektarian yang menghancurkan umat manusia dan bangsa," katanya.

The Fed beri sinyal tapering off segera, suku bunga akan dinaikkan tahun depan

Federal Reserve mengatakan kemungkinan akan mulai mengurangi pembelian obligasi bulanan (tapering) segera setelah November. The Fed juga mengisyaratkan kenaikan suku bunga mungkin lebih cepat dari yang diharapkan karena bank sentral AS mendapat momentum untuk melakukan pergantian dari kebijakan krisis akibat pandemi.

Mengutip Reuters, Kamis (23/9), kecenderungan sikap hawkish sedikit ditandai dalam pernyataan kebijakan baru dan proyeksi ekonomi yang menunjukkan sembilan dari 18 pejabat Fed siap untuk menaikkan suku bunga tahun depan sebagai respons atas kenaikan inflasi yang diperkirakan mencapai 4,2% pada tahun ini, lebih dari dua kali lipat dari target yang ditetapkan 2%.

Dalam konferensi pers laporan terbaru bank sentral, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan, penarikan pembelian obligasi bulanan senilai US$ 120 miliar oleh bank sentral dapat dimulai setelah pertemuan kebijakan 2-3 November selama pertumbuhan pekerjaan AS hingga September cukup kuat.

Laporan nonfarm payrolls AS untuk bulan September akan dirilis pada awal Oktober, laporan terakhir sebelum pembuat kebijakan Fed berkumpul lagi pada bulan November.

"Tidak perlu pukulan atau laporan ketenagakerjaan yang sangat kuat," untuk memulai program pembelian obligasi, dengan proses yang diperkirakan akan berakhir pada pertengahan tahun depan," kata Powell.

Jadwal itu menjadi lebih penting. The Fed ingin pembelian Treasuries dan sekuritas yang didukung hipotek berakhir sebelum mulai menaikkan biaya pinjaman, dan proyeksi baru menunjukkan para pejabat siap untuk itu terjadi pada tahun 2022.

The Fed sekarang memproyeksikan inflasi akan berjalan di atas targetnya selama empat tahun berturut-turut. Meskipun overshoot sedikit, pada 2,2% pada tahun 2022 dan 2023 dan 2,1% pada tahun 2024, telah mulai mengubah pandangan di antara para pembuat kebijakan yang terbagi atas apakah risiko terbesar adalah dampak pandemi yang berkelanjutan terhadap perekonomian, yang ditandai dengan relatif tinggi. pengangguran, atau ancaman breakout inflation.

Untuk saat ini, The Fed masih mengantisipasi untuk dapat memacu lapangan kerja sambil menjaga inflasi, yang dipandang sebagai hasil dari kekuatan "sementara" yang akan surut dengan sendirinya.

Memang, kenaikan suku bunga diperkirakan akan berjalan lambat, mendorong suku bunga pinjaman overnight Fed menjadi 1% pada tahun 2023 dan kemudian menjadi 1,8% pada tahun 2024 - masih dianggap sebagai sikap kebijakan moneter yang longgar yang akan memungkinkan tingkat pengangguran turun ke tingkat semula sebelum pandemi sekitar 3,5%.

Namun, pembuat kebijakan menurunkan ekspektasi mereka untuk pertumbuhan ekonomi tahun ini, dengan produk domestik bruto diperkirakan tumbuh 5,9% dibandingkan dengan 7,0% yang diproyeksikan pada Juni, sebagian besar sebagai akibat dari gelombang baru kasus virus corona.

Secara keseluruhan, pernyataan dan proyeksi The Fed "mungkin sedikit lebih hawkish daripada yang diperkirakan banyak orang, pada dasarnya mengakui bahwa jika ekonomi terus tumbuh seperti yang telah kita lihat, itu akan menjamin pengurangan terjadi," kata Sam Stovall, kepala investasi ahli strategi untuk CFRA Research di New York.

"Bisa dibilang itu adalah pengumuman tentatif tapering meskipun mereka menurunkan perkiraan PDB 2021 mereka."

Powell mengatakan kepada wartawan bahwa kondisi keuangan akan tetap akomodatif bahkan setelah The Fed menghentikan pembelian asetnya dan menekankan bahwa keputusan program pembelian obligasi terpisah dari tindakan apa pun terkait suku bunga.

The Fed pada hari Rabu mempertahankan suku bunga acuan saat ini stabil di kisaran 0% hingga 0,25%.

Saham AS memperpanjang kenaikan setelah rilis pernyataan tersebut sebelum sedikit mundur di sore hari, dengan indeks S&P 500 ditutup naik sekitar 1%. Imbal hasil Treasury AS naik-turun, dengan imbal hasil pada obligasi 10-tahun acuan AS merayap lebih rendah.

Pemulihan lambat

Pernyataan kebijakan The Fed September secara luas diperkirakan akan menunjukkan akhir dari pembelian obligasi yang telah dilakukan untuk mengurangi dampak ekonomi dari pandemi.

Pejabat Fed mengatakan Desember lalu bahwa mereka akan terus membeli obligasi pada kecepatan saat ini sampai ada "kemajuan lebih lanjut yang substansial" pada tujuan bank sentral untuk lapangan kerja maksimum dan inflasi.

Patokan inflasi telah dihapus, kata Powell pada hari Rabu, dan standar ketenagakerjaan "semuanya terpenuhi."

Tetapi dalam pandangan ekonomi mereka yang lebih luas, pembuat kebijakan Fed membuat perubahan yang kurang diantisipasi.

Prospek inflasi mereka melonjak 0,8 poin persentase untuk 2021 dan tingkat pengangguran akhir tahun yang diharapkan naik di atas perkiraan pembuat kebijakan sebelumnya pada Juni.

Pada gilirannya, dua pejabat mengajukan proyeksi timeline mereka ke 2022 untuk sedikit menaikkan suku bunga acuan Fed overnight dari level saat ini, cukup untuk menaikkan proyeksi median menjadi 0,3% untuk tahun depan.

Langkah untuk menurunkan ekspektasi pertumbuhan PDB untuk tahun 2021 mencerminkan kekhawatiran bahwa virus corona membebani perekonomian.

Proyeksi pertumbuhan untuk tahun depan meningkat dari 3,3% menjadi 3,8%, dengan pengeluaran hanya bergeser ke bulan-bulan mendatang ketika virus diperkirakan akan surut.

"Sektor-sektor yang paling terpengaruh oleh pandemi telah membaik dalam beberapa bulan terakhir, tetapi peningkatan kasus Covid-19 telah memperlambat pemulihan mereka," kata The Fed dalam pernyataan kebijakannya.

AS bentuk aliansi pertahanan baru, Malaysia cari tahu posisi China

Malaysia pada Rabu (22/9) menyatakan, berencana untuk memastikan posisi China dalam kemitraan pertahanan baru antara AS, Inggris, dan Australia.

Pernyataan Malaysia itu keluar beberapa hari setelah negeri jiran membunyikan alarm bahwa pakta tersebut bisa memicu perlombaan senjata nuklir di kawasan.

Aliansi, yang dikenal sebagai AUKUS, akan mengantarkan Australia mendapatkan teknologi untuk menyebar kapal selam bertenaga nuklir sebagai bagian dari perjanjian yang bertujuan untuk merespons pertumbuhan kekuatan China, terutama di Laut China Selatan.

Indonesia dan Malaysia memperingatkan, pakta itu akan mengarah pada perlombaan senjata di kawasan di tengah persaingan negara adidaya yang berkembang di Asia Tenggara.

Sementara Filipina mendukung pakta tersebut sebagai sarana untuk menjaga keseimbangan kekuatan kawasan.

Desak menteri pertahanan Australia

Mengutip Reuters, Menteri Pertahanan Malaysia Hishammuddin Hussein mengusulkan perjalanan kerja segera ke China untuk membahas AUKUS.

“Kami perlu mendapatkan pandangan dari pimpinan China, khususnya pertahanan China, tentang AUKUS yang diumumkan oleh ketiga negara tersebut dan apa tindakan mereka setelah pengumuman tersebut,” kata Hishammuddin di hadapan parlemen.

China sebelumnya mengatakan, AUKUS berisiko sangat merusak perdamaian dan stabilitas regional.

Menurut Hishammuddin, dia telah mendesak Menteri Pertahanan Australia Peter Dutton untuk mendekati Brunei, Ketua ASEAN, serta Kamboja, Myanmar, Laos, dan Vietnam, tetangga China, untuk mengatasi kekhawatiran tentang keamanan kawasan.

“Kekuatan kami bukan ketika kami sendiri, kekuatan kami adalah ketika 10 negara anggota ASEAN ini bersatu untuk melihat posisi dan keamanan kawasan dipertahankan,” tegas Hishammudin.

Hishammuddin menambahkan, fokus saat ini adalah untuk menyeimbangkan dua kekuatan besar dalam konteks AUKUS, ditambah hubungan Malaysia dengan Five Power Defense Arrangements.

Ini merupakan pakta konsultasi tahun 1971 yang dicapai pada puncak perang dingin antara Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia, dan Singapura.

"Itu harus digunakan sebagai pengungkit untuk menyeimbangkan kekuatan utama," imbuhnya.