• Blog
  • News Forex, Index & Komoditi (Senin,20 September 2021)

News Forex, Index & Komoditi (Senin,20 September 2021)

Saham Asia melemah saat beberapa pasar libur, tapering Fed jadi focus

Senin, 20 September 2021 08:19 WIB

Pejalan kaki melintas di depan layar elektronik pergerakan Indeks Nikkei di Bursa Efek Tokyo, Jepang, Senin (4/1/2021). ANTARA/REUTERS/Kim Kyung-Hoon/am.

Sydney (ANTARA) - Saham-saham Asia melemah dan dolar bertahan kuat pada Senin pagi, saat beberapa pasar libur menjelang seminggu yang disemarakkan dengan tidak kurang dari selusin pertemuan bank sentral, dengan fokus terhadap Federal Reserve yang kemungkinan akan mengambil langkah menuju tapering atau pengurangan pembelian aset.

Libur di pasar Jepang, China, dan Korea Selatan membuat perdagangan yang tipis di awal pekan ini, dan politik menambah ketidakpastian ekstra dengan pemilihan umum di Kanada dan Jerman yang mengakhiri minggu ini.

Nasib raksasa properti China Evergrande dan kewajibannya senilai 300 miliar dolar AS, juga pembayaran bunga obligasi yang jatuh tempo pada Kamis (23/9/2021) mencapai tahap yang segera akan diputuskan.

Kekhawatiran tentang kesehatan ekonomi China dan tindakan keras Beijing terhadap perusahaan-perusahaan teknologi terus menghantui kawasan Asia dengan saham-saham di Hong Kong yang sangat terpukul minggu lalu.

Senin pagi, indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang turun lagi 0,2 persen, setelah anjlok 2,5 persen minggu lalu.

Baca juga: Saham Singapura jatuh, kasus virus dekati level tertinggi satu tahun

Nikkei Jepang ditutup dan dapat melakukan konsolidasi setelah melonjak ke tertinggi 30 tahun di tengah harapan Perdana Menteri baru akan membawa lebih banyak stimulus dan perubahan kebijakan.

Indeks berjangka Nasdaq turun 0,1 persen dan indeks berjangka S&P 500 tidak berubah, dengan Wall Street berakhir melemah pekan lalu setelah data kepercayaan konsumen AS mengecewakan.

The Fed masih diperkirakan akan meletakkan dasar untuk tapering pada pertemuan kebijakan Selasa (21/9/2021) dan Rabu (22/9/2021), meskipun konsensus memperkirakan pengumuman aktual akan ditunda hingga pertemuan November atau Desember.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun menyentuh tertinggi dua bulan dan kurva mendatar menjelang pertemuan Fed.

Baca juga: Saham Asia hentikan kerugian, perhatian pada "tapering" bank sentral

"Kurva imbal hasil yang lebih datar menunjukkan beberapa kekhawatiran The Fed mungkin berlebihan pada siklus kenaikan (suku bunga)," Tapas Strickland, direktur ekonomi di NAB memperingatkan.

Dia mencatat hanya 2-3 anggota FOMC yang perlu mengubah perkiraan "dot plot" mereka untuk kenaikan (suku bunga) pada 2022 untuk menjadikannya rata-rata, mengingat tujuh dari 18 anggota telah memperkirakan langkah tahun depan.

"The Fed juga akan memiliki titik-titik untuk 2024 yang akan memberikan indikasi kecuraman dari siklus kenaikan potensial."

Konsensus pasar adalah untuk dua kenaikan pada 2023 dan empat pada 2024 dengan suku bunga fed fund jangka panjang diperkirakan di 2,125 persen.

Bank sentral di Uni Eropa, Jepang, Inggris, Swiss, Swedia, Norwegia, Indonesia, Filipina, Taiwan, Brazil, Afrika Selatan, Turki, dan Hongaria semuanya mengadakan pertemuan minggu ini.

Bank sentral Norwegia diperkirakan menjadi yang pertama di G10 untuk menaikkan suku bunga.

Imbal hasil AS yang lebih tinggi telah dikombinasikan dengan penghindaran risiko umum telah menguntungkan dolar yang naik mendekati level tertinggi satu bulan di 93,232 terhadap sekeranjang mata uang.

Dolar berada dalam kisaran ketat terhadap yen di 109,96, sementara euro mendekati level terendah dalam tiga minggu di 1,1728 dolar sebagian karena ketidakpastian menjelang pemilihan Jerman akhir pekan ini.

Kanada pergi ke tempat pemungutan suara pada Senin dengan persaingan yang sangat ketat sehingga sulit diprediksi.

Dolar yang lebih kuat membebani emas, yang bertengger di 1.753 dolar AS per ounce setelah kehilangan 1,9 persen minggu lalu.

Harga minyak turun karena perusahaan-perusahaan energi di Teluk Meksiko AS memulai kembali produksinya setelah dua badai berturut-turut di kawasan itu menutup produksi.

Brent turun 21 sen menjadi 75,13 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS kehilangan 24 sen menjadi 71,73 dolar AS.

Wall Street ditutup jatuh, Indeks Dow Jones tergelincir 166,44 poin

Sabtu, 18 September 2021 06:41 WIB

Ilustrasi - Pialang sedang bekerja di lantai Bursa Efek New York, Wall street, Amerika Serikat. ANTARA/Reuters/pri.

Pasar ekuitas juga sedikit lebih lemah karena data Sentimen Konsumen yang lemah hari ini

New York (ANTARA) - Wall Street berakhir turun tajam dalam aksi jual luas pada perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), mengakhiri seminggu yang diterpa data ekonomi kuat, kekhawatiran kenaikan pajak perusahaan, varian Delta COVID, dan kemungkinan perubahan dalam jadwal Federal Reserve (Fed) AS untuk pengurangan pembelian aset.

Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 166,44 poin atau 0,48 persen, menjadi menetap di 34.584,88 poin. Indeks S&P 500 berkurang 40,76 poin atau 0,91 persen, menjadi berakhir di 4.432,99 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup merosot 137,96 poin atau 0,91 persen, menjadi 15.043,97 poin.

Sepuluh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah negatif, dengan sektor material dan utilitas masing-masing turun 2,06 persen dan 1,59 persen, memimpin kerugian. Sementara itu, sektor perawatan kesehatan naik tipis 0,07 persen, merupakan satu-satunya kelompok yang memperoleh keuntungan.

Ketiga indeks utama saham AS melemah, dengan Indeks Nasdaq tertekan karena kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS membebani saham-saham pertumbuhan terkemuka di pasar.

Mereka juga membukukan kerugian mingguan, dengan indeks S&P menderita penurunan dua minggu terbesar sejak Februari.

Baca juga: Harga emas jatuh lagi, tertekan penguatan dolar dan fokus pasar ke Fed

"Pasar sedang berjuang dengan prospek kebijakan fiskal yang lebih ketat karena kenaikan pajak, dan kebijakan moneter yang lebih ketat karena tapering Fed," kata Kepala Investasi Lenox Wealth Advisors,  David Carter, di New York.

"Pasar ekuitas juga sedikit lebih lemah karena data Sentimen Konsumen yang lemah hari ini," tambah Carter. "Ini memicu kekhawatiran bahwa varian Delta dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi."

Potensi kenaikan pajak perusahaan dapat memakan pendapatan juga membebani pasar, ketika Demokrat terkemuka berusaha menaikkan tarif pajak tertinggi pada perusahaan menjadi 26,5 persen dari 21 persen saat ini.

Sementara sentimen konsumen stabil bulan ini tetap tertekan, menurut laporan University of Michigan, karena orang Amerika menunda pembelian sementara inflasi tetap tinggi.

Inflasi kemungkinan akan menjadi masalah utama minggu depan, ketika Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengadakan pertemuan kebijakan moneter dua hari. Pelaku pasar akan mengamati dengan cermat perubahan nuansa yang dapat menandakan pergeseran dalam jadwal pengurangan pembelian aset Fed.

Baca juga: Dolar menguat ke tertinggi 3 minggu, terkerek data baru ekonomi AS

"Sudah seminggu data ekonomi beragam dan kami fokus dengan jelas pada apa yang akan keluar dari pertemuan Fed minggu depan," kata Direktur Investasi Senior US Bank Wealth Management, Bill Northey, di Helena, Montana.

Produsen vaksin COVID Pfizer Inc dan Moderna Inc masing-masing turun 1,3 persen dan 2,4 persen, karena pejabat kesehatan AS memindahkan perdebatan tentang dosis booster ke panel ahli independen.

US Steel Corp anjlok 8,0 persen setelah meluncurkan rencana investasi pabrik mini senilai 3 miliar dolar AS.

Robinhood Markets Inc naik 1,0 persen setelah ARK Invest Cathie Wood membeli saham senilai 14,7 juta dolar AS di platform perdagangan.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 15,51 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 9,70 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

Sejumlah bank sentral dunia akan tentukan kebijakan moneter di pekan depan

Beberapa bank sentral akan melakukan pertemuan bulannya pada pekan depan untuk menentukan arah kebijakan ekonomi masing-masing negara. Namun, dari sejumlah pertemuan itu, pelaku pasar tampaknya bakal fokus pada pertemuan yang dilakukan Federal Reserve pada 21-22 September mendatang.

Mengutip Reuters, rencana tapering The Fed masih akan menjadi pertanyaan kunci dalam pertemuan tersebut. Ditambah, kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan kehati-hatian mengingat tingkat lapangan kerja AS bulan Agustus berada di posisi terbawah dalam 7 bulan terakhir dan harga konsumen yang meningkat namun melambat.

Beberapa pejabat pun memperkirakan, The Fed akan mulai mengurangi stimulus terkait pandemi Covid-19 pada tahun ini dan kemungkinan besar akan dibahas oleh Jerome Powell sebagai Ketua The Fed dalam pertemuan tersebut.

Sementara itu, The Fed juga dinilai belum akan menaikkan tingkat suku bunganya pada pertemuan tersebut. Saat ini, suku bunga AS masih berada di posisi 0,125%.

Selain The Fed, Bank of Japan (BOJ) juga akan melakukan pertemuan pada waktu yang sama. BOJ pun dinilai masih akan mempertahankan stimulus karena kemacetan pasokan yang disebabkan oleh penutupan pabrik di Asia membebani ekonomi yang sudah goyah dari pukulan ke konsumsi akibat pandemi.

Pada pertemuan dua hari tersebut, BOJ disebut akan mempertahankan target suku bunga jangka pendek di -0,1% dan untuk imbal hasil obligasi tenor 10 tahun sekitar 0%.

Sementara akan tetap berpegang pada pandangannya bahwa ekonomi akan pulih secara moderat, BOJ diperkirakan akan menawarkan pandangan yang lebih suram tentang ekspor dan output karena penutupan pabrik Asia yang disebabkan oleh pandemi memaksa produsen Jepang untuk memangkas rencana produksi.

Di saat Jepang dan AS diperkirakan belum akan menaikkan suku bungan-nya, Bank sentral Norwegia akan menjadi yang pertama dari negara maju yang menaikkan suku bunga sejak pandemi. Kemungkinan, mereka akan menaikkan suku bunga utama 0% menjadi 0,25%.

Bank of England (BoE) pun disebut belum akan mengubah kebijakan. Hanya saja, pertumbuhan harga konsumen pada level tertinggi selama 9 tahun di bulan Agustus membuat para pedagang memperkirakan kenaikan suku bunga akan terjadi pada Mei mendatang.

BoE mungkin juga akan memberi sinyal pada pertemuan Kamis apakah masih memandang inflasi sebagai sementara atau tidak.

Swedia pun diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada 0% hingga 2024 namun pengumuman kebijakan moneternya pada hari Selasa bisa mencerminkan pemikiran ulang setelah ada prediksi inflasi yang kuat

PBB: Tidak mungkin menyelesaikan masalah di Afghanistan tanpa uang

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai induk organisasi internasional rupanya mulai kesulitan mengatasi masalah yang terus muncul di Afghanistan. Tanpa kekuatan dan uang, PBB merasa tidak sanggup menyelesaikan semua masalah yang ada.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengakui, saat ini PBB sangat sulit untuk memecahkan masalah di Afghanistan. Menurutnya, semua masukan mengenai cara penyelesaian masalah hanyalah sebuah fantasi.

Dalam wawancaranya dengan Reuters, Guterres merasa ada harapan yang tidak berdasar mengenai kemampuan PBB untuk menyelesaikan masalah yang ada di Afghanistan.

"Untuk berpikir bahwa kami sekarang dapat, tanpa kekuatan dan uang, untuk memecahkan masalah yang tidak dapat mereka pecahkan selama beberapa dekade adalah sebuah fantasi," kata Guterres.

Selama 20 tahun sejak invasi AS ke Afghanistan, sejumlah negara telah mengirim ribuan tentara dan menghabiskan banyak uang dalam berbagai upaya meredakan konflik. AS sendiri menghabiskan US$1 triliun dan tetap gagal menjauhkan Taliban dari Afghanistan.

Guterres melihat saat ini Afghanistan berada di ambang bencana kemanusiaan yang dramatis. PBB akan melakukan segala yang bisa dilakukan, termasuk melibatkan Taliban untuk membantu sekitar 36 juta orang Afghanistan.

PBB juga mendukung upaya untuk meyakinkan Taliban dalam membentuk pemerintahan yang lebih inklusif daripada ketika memerintah 20 tahun lalu. Di sisi lain, Guterres mengaku saat ini PBB memiliki sedikit kapasitas untuk menengahi permasalahan yang ada di sana.

Menurutnya, bantuan kemanusiaan harus digunakan sebagai instrumen untuk membantu meyakinkan Taliban terkait janjinya untuk menghormati hak-hak dasar, termasuk hak-hak perempuan dan anak perempuan.

Pemerintah internasional kini telah menjanjikan bantuan dana senilai lebih dari US$1,1 miliar untuk Afghanistan, termasuk berbagai program pengungsi yang dicanangkan negara tetangganya.

Guterres secara khusus meminta agar negara-negara tidak mencekik ekonomi Afghanistan terlalu keras.

"Harus ada cara untuk menyuntikkan uang tunai ke dalam ekonomi Afghanistan, agar ekonomi tidak runtuh dan agar orang-orang tidak berada dalam situasi dramatis, memaksa mungkin jutaan orang melarikan diri," lanjut Guterres,

Guterres menambahkan, PBB akan bekerja dengan semua pihak terkait untuk memastikan bahwa bantuan didistribusikan berdasarkan prinsip-prinsip kemanusiaan.

Regulator China bantah regulasi ketat untuk lumpuhkan perusahaan teknologi

Dalam pertemuan dengan para eksekutif Wall Street, regulator China membantah tindakan keras yang dilakukannya terhadap perusahaan teknologi atau sektor swasta ditujukan untuk melumpuhkan mereka.

Seperti diketahui, beberapa tindakan keras yang dilakukan pemerintah China belakangan telah mengguncang pasar.

Mengutip Bloomberg, Wakil Ketua Komisi Pengaturan Sekuritas China Fang Xinghai mengatakan, tindakan tersebut ini bertujuan untuk memperkuat peraturan bagi perusahaan dengan platform yang berhadapan langsung dengan konsumen, dan meningkatkan privasi data serta keamanan nasional.

Dalam kesempatan itu, Fang juga membela langkah-langkah seperti yang ditujukan pada industri pendidikan dan games, yang dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan sosial.

“Pengawasan yang meningkat terhadap perusahaan-perusahaan China tidak boleh ditafsirkan sebagai pemisahan dari pasar keuangan Amerika Serikat (AS) atau internasional. Beijing tetap berkomitmen pada teknologi,”  kata Fang.

Investor global beberapa hari ini terkesima oleh serangan regulasi dari Beijing yang menargetkan perusahaan teknologi terbesar dan industri lainnya serta dorongan oleh Presiden Xi Jinping untuk menciptakan “kemakmuran bersama".

Beberapa regulasi tersebut telah mengikis sekitar US$1,5 triliun dari saham-saham perusahaan China di tengah aksi jual yang lebih luas pada titik paling ekstrem.

Pekan lalu, konglomerat game yang terdaftar di Hong Kong, Tencent Holdings Ltd. akhirnya keluar dari 10 perusahaan terbesar di dunia, yang berdasarkan nilai pasar. Dan untuk pertama kalinya, sejak 2017, tidak ada saham perusahaan China yang masuk dalam daftar tersebut.

Saham Alibaba Group Holding Ltd, perusahaan yang paling berharga kedua di China setelah Tencent, juga telah turun lebih dari 30% di tahun ini.

Dewan Negara China pada bulan Juli lalu mengatakan bahwa aturan untuk listing di luar negeri akan direvisi dan akan ada lebih banyak pengawasan peraturan terhadap perusahaan yang berdagang di pasar luar negeri.

Pembuat kebijakan China juga mempertimbangkan pengawasan yang lebih ketat atas struktur perusahaan yang abu-abu secara hukum yang biasanya digunakan oleh perusahaan teknologi China untuk mencari listing di luar negeri, dengan beberapa penyesuaian kebijakan yang sudah  berjalan .

Semua itu telah menambah kekhawatiran investor tentang pemisahan keuangan yang lebih dalam antara dua ekonomi terbesar dunia.

Pada pertemuan tersebut, Larry Fink dari Blackrock Inc. mencatat perlunya China untuk memastikan konsistensi kebijakan pemerintah jangka panjang, termasuk transparansi untuk membangun kepercayaan dan keyakinan.

Setelah 30 tahun, pasukan darat Jepang kembali menggelar latihan skala nasional

Seolah hendak menunjukkan keaktifannya secara militer, Pasukan Bela Diri Darat Jepang (GSDF) akhirnya kembali menggelar latihan militer dengan skala nasional setelah 30 tahun lamanya.

Latihan sejenis terakhir kali dilakukan oleh GSDF pada tahun 1993, setelah Perang Dingin berakhir.

Latihan militer kali ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan pencegahan di tengah meningkatnya aktivitas China di kawasan.

Dilansir dari Kyodo, latihan GSDF kali ini akan dilakukan hingga akhir November di seluruh negeri. Latihan secara khusus bertujuan untuk memperkuat kemampuan mempertahankan pulau-pulau terpencil.

Sekitar 100.000 personel, 20.000 kendaraan, dan 120 pesawat akan bergabung dalam latihan tersebut. Pasukan Bela Diri Maritim dan Udara Jepang serta kapal pendarat Angkatan Darat AS juga akan dilibatkan.

Kyodo melaporkan, sebanyak 12.000 personel dan 3.900 kendaraan dari dua divisi GSDF yang berbasis di Hokkaido dan Tohoku, serta satu brigade di wilayah Shikoku, akan memulai misi ekspedisi ke wilayah Kyushu minggu depan.

Seluruh pasukan akan diberangkatkan bersama dengan peralatan pertahanan selama misi, termasuk tank, ke beberapa tempat pelatihan di Kyushu melalui jalan darat dan laut. Truk pribadi, feri, dan kereta api juga akan digunakan dalam latihan tersebut.

Mengutip pernyataan seorang pejabat GSDF, Kyodo melaporkan, latihan tersebut didasarkan pada Pedoman Program Pertahanan Nasional 2019, yang menyerukan penguatan kemampuan pertahanan untuk membantu menjaga Kepulauan Nansei. Di dalamnya termasuk Kepulauan Senkaku yang juga diklaim China.

Menteri Pertahanan Jepang Nobuo Kishi yang mengawasi latihan militer ini mengatakan, saat ini penting bagi Jepang untuk memiliki kemampuan respons yang cepat di berbagai situasi, termasuk mengamankan pulau-pulau terpencil.

"Untuk merespons secara efektif berbagai situasi, termasuk serangan di pulau-pulau, penting bahwa pasukan yang diperlukan dikerahkan dengan cepat dan ekstensif, tergantung pada situasinya," kata Kishi.

GSDF menjelaskan, latihan kali ini akan berfokus pada kesiapan operasional, terutama di situasi keamanan yang semakin tidak pasti.

AS Sebut Rusia Ancaman Lebih Besar Dibandingkan China

 

Wakil Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) untuk Urusan Kebijakan, Colin Kahl mengatakan, Rusia mungkin menjadi sumber tantangan keamanan yang lebih besar bagi AS dan Eropa dibanding dengan China. Kahl menyebut, Rusia masih menjadi ancaman terbesar, setidaknya untuk jangka pendek.

“Di tahun-tahun mendatang, Rusia mungkin benar-benar mewakili tantangan keamanan utama yang kita hadapi dalam domain militer untuk AS dan tentu saja untuk Eropa,” ucap Kahl saat berbicara di Konferensi Militer Baltik.

“Rusia adalah musuh yang semakin tegas yang tetap bertekad untuk meningkatkan pengaruh globalnya dan memainkan peran yang mengganggu di panggung global, termasuk melalui upaya untuk memecah belah Barat,” sambungnya.

Dia mengatakan bahwa sementara China mungkin menjadi "ancaman yang berjalan cepat" bagi Washington dan sekutunya, Rusia mungkin menjadi masalah yang lebih besar dalam jangka pendek dilihat dari perilakunya di Eropa, Timur Tengah, Asia, dan dunia maya.

"Terlalu sering, Moskow mengikis transparansi dan prediktabilitas, menggunakan kekuatan militer untuk mencapai tujuannya, mendukung kelompok proksi untuk menabur kekacauan dan keraguan, merusak tatanan internasional berbasis aturan," katanya.



“AS terus memantau dengan cermat aktivitas militer Rusia di sepanjang sisi timur NATO dan di wilayah Laut Hitam,” sambungnya, seperti dilansir Sputnik pada Minggu (19/9/2021).


Washington, papar Kahl, akan berinteraksi dengan Rusia dari posisi kekuatan kolektif. Dia mencatat bahwa pasukan militer AS di Eropa tetap kuat dan fleksibel, untuk memastikan pencegahan yang kredibel, dan efektif.

Pada saat yang sama, tuturnya, AS tidak mengesampingkan opsi untuk melanjutkan dialog dengan Moskow jika pemerintah Rusia mengubah perilakunya.

Putin: AS dan NATO Harus Bertanggung Jawab atas Rekonstruksi Afghanistan

 - Presiden Rusia , Vladimir Putin mendesak Amerika Serikat (AS) dan negara-negara NATO untuk bertanggung jawab atas rekonstruksi Afghanistan. Menurut Putin, AS dan NATO harus menanggung biaya rekonstruksi di negara tersebut.

Berbicara melalui sambungan video di pertemuan Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) dan Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO), Putin menekankan bahwa organisasi harus menggandakan upaya untuk mencegah ancaman terorisme, perdagangan narkoba, dan ekstremisme agama yang berasal dari Afghanistan.

Dia juga mencatat bahwa AS dan NATO, yang katanya terutama bertanggung jawab atas situasi di Afghanistan, harus menanggung biaya rekonstruksi negara yang dilanda perang itu

Mengekspresikan keprihatinan serius atas situasi di Lembah Panjshir dan umumnya perkembangan terakhir di Afghanistan, ia menyerukan kerja sama yang lebih erat antara angkatan bersenjata negara-negara anggota SCO.

Di kesempatan yang sama, seperti dilansir Anadolu Agency pada Minggu (19/9/2021), Putin juga mengatakan bahwa dia mendukung keanggotaan Iran di SCO.

"Kami mendukung keputusan untuk memulai proses keanggotaan SCO Iran, yang telah diajukan untuk disetujui ke Dewan Kepala Negara SCO," ujarnya.

Inggris: Pakta Pertahanan Baru Jadi Bukti Keseriusan Menjaga Kepentingan dan Keamanan Kami

Inggris mengatakan pakta pertahanan baru dengan Amerika Serikat (AS) dan Australia adalah bukti keseriusan dan kesiapan mereka membela kepentingannya. Pakta, yang dinamai AUKUS itu mendapat tentangan, baik dari negara Eropa maupun Asia.

Pakta itu telah membuat marah Paris karena membuat Canberra membatalkan pesanan multi-miliar dolar untuk kapal selam Prancis. Ini juga membuat marah China, yang menilainya sebagai ancaman terhadap stabiltas di kawasan.

"Ini lebih dari sekadar kebijakan luar negeri secara abstrak, tetapi menyampaikan kepada orang-orang di seluruh Inggris dan sekitarnya dengan bermitra dengan negara-negara yang berpikiran sama untuk membangun koalisi berdasarkan nilai-nilai bersama dan kepentingan bersama," kata Menteri Luar Negeri baru Inggris, Liz Truss.

Dia menuturkan, Inggris, AS dan Australia akan bekerja lebih dekat untuk menggunakan berbagai teknologi mutakhir, dari kapal selam bertenaga nuklir pada awalnya dan kemudian kecerdasan buatan, dan komputasi kuantum.

“Ini menunjukkan kesiapan kami untuk keras kepala dalam membela kepentingan kami dan menantang praktik tidak adil dan tindakan yang merusak,” ucapnya, seperti dilansir Reuters pada Minggu (19/9/2021).

Truss menambahkan, bahwa pakta itu juga menunjukkan komitmen Inggris terhadap keamanan dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.

90 Hari di Luar Angkasa, Astronaut China Akhirnya Pulang

Tiga astronaut China kembali mendarat ke bumi setelah 90 hari lamanya bertugas di luar angkasa. Mereka kembali ke Bumi pada Jumat setelah 90 hari tinggal di stasiun luar angkasa pertama negara mereka dalam misi luar angkasa terpanjang dalam sejarah China.

Melansir laman AP News (17/9/21), Nie Haisheng, Liu Boming dan Tang Hongbo mendarat di pesawat ruang angkasa Shenzhou-12 tepat setelah pukul 13:30. (0530 GMT) setelah lepas landas dari stasiun luar angkasa Kamis pagi.

Penyiar negara CCTV menunjukkan rekaman pesawat ruang angkasa terjun payung untuk mendarat di Gurun Gobi di mana ia bertemu dengan helikopter dan kendaraan off-road. Beberapa menit kemudian, kru teknisi mulai membuka palka kapsul, yang tampak tidak rusak.

Tiga astronaut muncul sekitar 30 menit kemudian dan duduk di kursi bersandar di luar kapsul untuk memberi mereka waktu untuk menyesuaikan diri dengan gravitasi Bumi setelah tiga bulan hidup di lingkungan tanpa bobot. Ketiganya dijadwalkan terbang ke Beijing pada hari Jumat.

“Dengan kekuatan China yang berkembang dan tingkat teknologi China yang meningkat, saya sangat yakin akan ada lebih banyak astronaut yang akan membuat rekor baru,” kata komandan misi Nie kepada CCTV.

Setelah diluncurkan pada 17 Juni, ketiga astronaut melakukan dua perjalanan luar angkasa, mengerahkan lengan mekanik 10 meter (33 kaki), dan melakukan panggilan video dengan pemimpin Partai Komunis Xi Jinping.

China memulai program stasiun luar angkasanya sendiri pada 1990-an setelah dikeluarkan dari International Space Station, sebagian besar karena keberatan AS terhadap kerahasiaan program luar angkasa dan dukungan militer Cina.

Saham Evergrande anjlok karena risiko gagal bayar

Saham Evergrande anjlok lebih dari 15% pada Senin (20/9), memperpanjang kerugian karena investor memandang suram prospek bisnisnya dengan tenggat waktu yang semakin dekat untuk kewajiban pembayaran minggu ini.

Mengutip Reuters, Senin (20/9), pada 0245 GMT, saham turun 14,6% menjadi HK$ 2,17, terendah sejak Oktober 2011.

Unit manajemen properti perusahaan turun lebih dari 8%, sementara unit mobil listriknya turun 2%. Perusahaan streaming film Hengten Net, yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Evergrande, anjlok 10%.

Evergrande telah berebut untuk mengumpulkan dana untuk membayar banyak kreditur, pemasok dan investor, dengan regulator memperingatkan bahwa kewajiban $ 305 miliar dapat memicu risiko yang lebih luas untuk sistem keuangan negara jika tidak stabil.

Salah satu pemberi pinjaman utama Evergrande telah membuat penyisihan kerugian atas sebagian pinjamannya kepada pengembang yang diperangi, sementara beberapa kreditur berencana untuk memberikan lebih banyak waktu untuk membayar, empat eksekutif bank mengatakan kepada Reuters.

Pengembang mengatakan pada hari Minggu telah mulai membayar investor dalam produk manajemen kekayaannya dengan real estat.

Pembuat kebijakan memberitahu pemberi pinjaman utama Evergrande untuk memperpanjang pembayaran bunga atau pinjaman rollover, dan pengamat pasar sebagian besar berpandangan bahwa bailout langsung dari pemerintah tidak mungkin.

Evergrande akan membayar bunga $83,5 juta pada 23 September untuk obligasi Maret 2022-nya.

Ini memiliki pembayaran bunga $ 47,5 juta lainnya yang jatuh tempo pada 29 September untuk catatan Maret 2024. Obligasi akan gagal bayar jika Evergrande gagal membayar bunga dalam waktu 30 hari.