• Blog
  • News Forex, Index & Komoditi (Rabu,16 Juni 2021)

News Forex, Index & Komoditi (Rabu,16 Juni 2021)

News Forex, Index & Komoditi

( Rabu, 16 Juni 2021 )

Wall Street turun terseret data ekonomi, investor tunggu laporan Fed

Indeks-indeks utama Wall Street lebih rendah pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), karena data menunjukkan inflasi lebih kuat dan penjualan ritel AS lebih lemah pada Mei menakuti investor yang sudah gelisah menunggu hasil pertemuan kebijakan terbaru Federal Reserve.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 94,42 poin atau 0,27 persen, menjadi menetap di 34.299,33 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 8,56 poin atau 0,20 persen, menjadi ditutup di 4.246,59 poin. Indeks Komposit Nasdaq jatuh 101,29 poin atau 0,71 persen, menjadi berakhir pada 14.072,86 poin.

Tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor real estat terperosok 1,03 persen, memimpin penurunan. Sementara sektor energi melonjak 2,06 persen seiring dengan melambungnya harga minyak, menjadi kelompok dengan kinerja terbaik.

Jaminan dari The Fed bahwa kenaikan harga-harga bersifat sementara dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS telah membantu meredakan beberapa kekhawatiran atas inflasi dan mendukung saham AS dalam beberapa pekan terakhir. Semua mata sekarang tertuju pada pernyataan bank sentral pada akhir pertemuan kebijakan dua hari pada Rabu waktu setempat.

Data menunjukkan percepatan harga-harga produsen bulan lalu karena rantai pasokan berjuang untuk memenuhi permintaan yang dilepaskan oleh pembukaan kembali ekonomi. Sebuah laporan terpisah menunjukkan penjualan ritel AS turun lebih besar dari yang diperkirakan pada Mei.

“Ada sedikit reaksi terhadap data ekonomi yang kami dapatkan, yang sebagian besar menunjukkan bahwa ekonomi mulai melepaskan diri dari stimulus, pemulihan sedikit melambat, dan inflasi terus tumbuh,” kata Ed Moya, analis pasar senior untuk Amerika di OANDA.

“Kami melihat beberapa pelemahan yang sangat moderat, dan itu akan berombak menjelang keputusan Fed. Saat ini, The Fed mungkin berada dalam posisi untuk menunjukkan bahwa mereka berpikir tentang tapering (pengurangan pembelian obligasi), tetapi mereka masih jauh untuk benar-benar melakukannya.”

The Fed kemungkinan akan mengumumkan pada Agustus atau September sebuah strategi untuk mengurangi program pembelian obligasi besar-besaran, tetapi tidak akan mulai memotong pembelian bulanan hingga awal tahun depan, menurut jajak pendapat ekonom oleh Reuters.

Exxon Mobil Corp mengalami hari terbaiknya sejak 5 Maret, melonjak 3,6 persen.

Dalam berita perusahaan, Boeing Co naik 0,6 persen setelah Amerika Serikat dan Uni Eropa menyetujui gencatan senjata dalam konflik 17 tahun mereka atas subsidi pesawat yang melibatkan pembuat pesawat itu dan saingannya Airbus.

Setelah merosot 19 persen pada Senin (14/6/2021), saham Lordstown Motors Corp rebound 11,3 persen menyusul pernyataan dari presiden produsen truk listrik tersebut tentang pesanan.

 

Reaktor Nuklir China Bocor dan Mengeluarkan Gas, Picu Kekhawatiran

 Sebuah reaktor nuklir di China , yang 30 persennya dimiliki perusahaan Prancis, mengalami kebocoran yang memicu kekhawatiran. Kebocoran diketahui setelah ada penumpukan gas mulia di salah satu reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir Taishan.

Perusahaan energi Prancis, EDF, mengatakan bahwa mereka telah mengadakan pertemuan dengan mitra China-nya setelah mengetahui adanya penumpukan gas mulia di salah satu reaktor nuklir.

Reaktor nuklir Taishan berlokasi di provinsi Guangdong di utara Hong Kong. Perusahaan milik negara, China General Nuclear Power Corp, memiliki 70 persen dari usaha patungan tersebut.

“EDF telah diberitahu tentang peningkatan konsentrasi gas mulia tertentu di sirkuit utama reaktor n°1 [nomor satu] pembangkit listrik tenaga nuklir Taishan,” kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan di situsnya.

"Kehadiran gas mulia tertentu di sirkuit primer adalah fenomena yang diketahui, dipelajari dan diatur dalam prosedur operasi reaktor," lanjut perusahaan tersebut.

Tidak jelas persis di mana penumpukan gas telah terjadi, membuat para ahli menggaruk-garuk kepala tentang seberapa parah masalahnya.

“Jelas ada beberapa gas yang bocor dari batang bahan bakar, tetapi apakah bejana tekan yang berisi batang bahan bakar juga gagal?,” kata Henry Sokolski, direktur eksekutif Nonproliferation Policy Education Center yang berbasis di Washington, kepada Al Jazeera yang dilansir Selasa (15/6/2021).

“Dan jika Anda benar-benar tidak beruntung, apakah bangunan penahanan itu gagal? Karena ketika bangunan penahanan gagal, radioaktivitas dapat dilepaskan ke atmosfer dan itu tidak baik," ujarnya.

CNN, pada hari Senin, mengutip pejabat Amerika Serikat (AS) dan dokumen yang telah ditinjau, melaporkan bahwa pemerintah AS telah menghabiskan seminggu terakhir menilai laporan kebocoran di pembangkit listrik tenaga nuklir Taishan setelah anak perusahaan EDF Framatome memperingatkan ancaman radiologi yang akan segera terjadi.

Para pejabat AS, lanjut laporan CNN, saat ini tidak percaya situasi itu menimbulkan ancaman keamanan yang parah.

China General Nuclear Power Corp mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa data menunjukkan stasiun Taishan dan lingkungan sekitarnya memenuhi parameter normal.

Tetapi CNN melaporkan bahwa sebuah surat yang telah dilihatnya kepada Departemen Energi AS dari Framatome—yang merancang reaktor di Taishan dan terus membantu mengoperasikannya—termasuk tuduhan bahwa China menaikkan batas yang dapat diterima untuk deteksi radiasi di luar fasilitas nuklir untuk menghindari mematikannya.

Framatome mengatakan dalam sebuah pernyataan publik di situsnya pada hari Senin: “Menurut data yang tersedia, pabrik beroperasi dalam parameter keselamatan. Tim kami bekerja dengan para ahli yang relevan untuk menilai situasi dan mengusulkan solusi untuk mengatasi masalah potensial apa pun.”

Badan Energi Atom Internasional (IAEA), pengawas atom PBB, mengatakan telah melakukan kontak dengan pejabat di China tentang masalah ini.

"Pada tahap ini, IAEA tidak memiliki indikasi bahwa insiden radiologis terjadi," kata badan tersebut dalam pernyataan yang dikutip Reuters.

 

Beijing ke NATO: Setop lebih-lebihkan berbagai bentuk teori ancaman China

Beijing pada Selasa (15 Juni) menuduh NATO membesar-besarkan ancaman dari China dan "menciptakan konfrontasi", setelah janji dari sekutu Barat untuk bekerjasama melawan "tantangan sistemik" dari kebijakannya.

Melansir Reuters, para pemimpin NATO membuat komitmen pada Senin (14 Juni), ketika Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memperbarui hubungan transatlantik Washington pada pertemuan puncak pertamanya dengan sekutu.

Dalam pernyataan niat yang luas, para pemimpin NATO menyatakan, tindakan China yang semakin tegas dalam membangun persenjataan nuklir dan kemampuan perang antariksa juga dunia maya mengancam tatanan internasional.

Mengutip Reuters, sebagai tanggapan yang marah, sebuah pernyataan dari misi China untuk Uni Eropa menyerukan NATO untuk "melihat perkembangan China secara rasional, berhenti melebih-lebihkan berbagai bentuk teori ancaman China".

Dan, tidak menggunakan kepentingan sah sertan hak hukum China sebagai alasan untuk memanipulasi kelompok politik (sementara) yang secara artifisial menciptakan konfrontasi.

Misi China untuk Uni Eropa menambahkan, tuduhan NATO adalah "fitnah terhadap perkembangan damai China, salah menilai situasi internasional dan perannya sendiri, dan itu adalah kelanjutan dari mentalitas Perang Dingin dan psikologi politik aliansi tersebut".

Ketegangan militer telah meningkat selama setahun terakhir antara Cina dan kekuatan saingan termasuk Amerika Serikat dan India, dengan titik nyala, seperti perbatasan Himalaya, Taiwan, dan Laut China Selatan.

Anggaran militer China, terbesar kedua di dunia setelah AS meskipun masih kurang dari sepertiga dari Washington, akan meningkat sebesar 6,8% pada 2021, Kementerian Keuangan Tiongkok mengumumkan pada Maret lalu.

Beijing juga telah menggelontor miliaran dollar AS ke dalam program luar angkasanya sebagai upaya untuk mengimbangi negara perintis, Rusia dan Amerika Serikat.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan, sekutu akan berusaha untuk bekerjasama dengan China dalam masalah global seperti perubahan iklim, tetapi mengecam sikap Beijing yang semakin tegas pada masalah lain.

 

LinkDoc, yang didukung Alibaba Health, segera IPO di bursa AS

LinkDoc Technology Ltd, sebuah perusahaan data medis yang didukung oleh anak perusahaan Alibaba Health Information Technology Ltd, telah mengajukan rencana penawaran umum saham perdana atawa initial public offering (IPO) di Amerika Serikat pada Senin (15/6).

Mengutip Reuters, perusahaan yang yang menawarkan layanan kesehatan yang berfokus pada kanker ini melaporkan lonjakan pendapatan sebesar 41% pada kuartal I-2021. Sementara itu, kerugian bersih yang diatribusikan kepada LinkDoc melebar menjadi US$ 21,17 juta.

Rencana listing perusahaan ini muncul ketika AS memperkenalkan beberapa ketentuan yang dapat mengakibatkan perusahaan asing dikeluarkan dari bursa saham AS dalam waktu tiga tahun jika mereka tidak mematuhi standar audit negara tersebut.

Dana hasil IPO akan digunakan LinkDoc untuk memperkuat kapasitas penelitian dan pengembangan serta juga untuk investasi dan akuisisi. Perusahaan akan terdaftar di indeks Nasdaq di bawah kode "LDOC".

Morgan Stanley, BofA Securities dan CICC adalah penjamin emisi untuk rencana IPO ini.

 

 

G7 Janji Berikan 1 Miliar Dosis Vaksin COVID dalam 12 Bulan

 Para pemimpin G7 berjanji memberikan 1 miliar dosis vaksin COVID selama 12 bulan ke depan.

Pemberian vaksin akan dilakukan dengan menyumbangkan surplus atau memberikan pembiayaan lebih lanjut kepada COVAX, melalui skema yang didukung PBB yang bertugas mendistribusikan vaksin ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Negara-negara G7 setuju mendukung pembuatan vaksin di negara-negara berpenghasilan rendah, dan untuk terlibat secara konstruktif dalam membebaskan kekayaan intelektual di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Para pemimpin negara-negara G7 bergabung dalam diskusi mereka tentang kesehatan global yang diadakan di Carbis Bay, Cornwall oleh para mitra dari Korea Selatan, Afrika Selatan, Australia dan India, dan Sekretaris Jenderal PBB, bersama para pemimpin organisasi internasional lainnya. Mereka melihat pentingnya mengatasi akar pandemi virus corona secara global.

Mereka menyimak presentasi dari Sir Patrick Vallance dan Melinda French Gates tentang Pandemic Preparedness Partnership, bersama sekelompok pakar internasional yang dari berbagai industri, pemerintah, dan lembaga ilmiah yang didirikan Inggris awal tahun ini untuk memberi saran kepada G7 tentang cara mencegah, mendeteksi dan merespon pandemi di masa depan.

Pandemic Preparedness Partnership menerbitkan laporan independen pada hari Sabtu mengenai “Misi 100 Hari untuk Menanggapi Ancaman Pandemi di Masa Depan” yang berisi rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah dan pihak terkait agar dapat dengan cepat menanggapi wabah di masa depan.
100 hari pertama setelah identifikasi ancaman epidemi merupakan waktu yang sangat penting untuk mengubah arah dan seyogyanya, dapat mencegah hal ini menjadi pandemi.

Deklarasi Teluk Carbis memasukkan rekomendasi dari laporan ini dan menetapkan langkah-langkah lain yang akan diambil negara-negara G7 untuk mencegah pandemi di masa depan.
Ini termasuk mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan dan menyetujui lisensi vaksin, pengobatan dan diagnostik untuk penyakit apa pun di masa depan dalam waktu 100 hari, komitmen memperkuat jaringan pengawasan global dan kapasitas pengurutan genom dan dukungan mereformasi dan memperkuat Organisasi Kesehatan Dunia.
75% dari penyakit manusia baru berasal dari hewan dan penyakit ini menular dengan cepat. Mengontrol penyakit zoonosis adalah elemen kunci dari Rencana 5 Poin Perdana Menteri Inggris untuk mencegah pandemi di masa depan yang ditetapkan di PBB tahun lalu, rencana pertama yang dinyatakan oleh pemimpin G7 tentang kesiapsiagaan terhadap pandemik.
Untuk menghentikan penyakit baru yang dibawa hewan sebelum membahayakan manusia, Inggris akan mendirikan Pusat Inovasi dan Manufaktur Vaksin Hewan Inggris di The Pirbright Institute di Surrey.
Pusat ini akan memanfaatkan keahlian Pirbright yang terkemuka di dunia untuk mempercepat pengiriman vaksin untuk penyakit ternak.
Penyakit ini menimbulkan risiko bagi orang-orang jika mereka bermutasi dan bisa menularkan ke manusia dan dapat menghancurkan pertanian di Inggris dan internasional.
Pusat ini akan dengan cepat menilai teknologi baru yang menjanjikan di lapangan, dan mengembangkan serta menguji vaksin baru untuk penyakit baru.
Inggris telah memimpin perang melawan Covid-19 melalui dukungan kami dalam pengembangan vaksin Oxford-AstraZeneca yang sudah memiliki sejarah panjang kepemimpinan dalam penelitian vaksin.

Cacar dan rinderpest adalah dua penyakit pertama dalam sejarah yang benar-benar musnah, dapat disembuhkan menggunakan vaksin yang dikembangkan oleh para ilmuwan Inggris.

Inggris telah menyumbangkan dana sebesar £10 juta untuk pengembangan pusat tersebut, yang akan menjadikan Inggris sebagai pelopor dalam pengembangan vaksin ternak baru.

Yayasan Bill & Melinda Gates juga akan menyediakan 14,5 juta poundsterling untuk mendirikan pusat tersebut, berdasarkan investasi saat ini dalam vaksin untuk ternak dan penyakit zoonosis di The Pirbright Institute.

Menindaklanjuti pengumuman dari Perdana Menteri Inggris pada bulan lalu bahwa Inggris telah mengeluarkan rencana untuk 'radar pandemi' global untuk mengidentifikasi varian baru COVID-19 dan melacak penyakit baru yang muncul di seluruh dunia.

Pada akhir pekan lalu, Perdana Menteri Inggris meminta para pemimpin G7 untuk mendukung Radar Pandemi Global, yang akan melindungi program vaksin domestik terhadap varian baru yang resistan terhadap vaksin dengan mendeteksi lebih awal dan sebelum menyebar.

G7 sangat berperan penting dalam memimpin upaya global untuk pencegahan pandemi. Grup ini adalah rumah bagi dua pertiga pasar farmasi dunia dan empat vaksin virus corona yang dilisensikan penggunaannya di Inggris semuanya dikembangkan di negara-negara G7 (Inggris, AS dan Jerman).

Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan, tahun lalu dunia telah mengembangkan beberapa vaksin virus corona yang efektif, melisensikan dan memproduksinya dengan cepat dan disuntikan ke tangan orang-orang yang membutuhkannya.

“Tetapi untuk benar-benar mengalahkan virus corona dan memulihkan diri, kita perlu mencegah pandemi seperti ini terjadi lagi. Mengambil pelajaran dari 18 bulan terakhir dan menanganinya secara berbeda di kemudian hari,” ungkap dia.

“Saya bangga bahwa untuk pertama kalinya hari ini negara-negara demokrasi terkemuka dunia telah bersatu untuk memastikan bahwa kita tidak akan terjebak lagi tanpa menyadarinya,” papar Johnson.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Owen Jenkins, mengatakan, “Sekarang kita semua memahami ancaman yang ditimbulkan oleh penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia.”

“KTT G7 akhir pekan kemarin adalah saat yang tepat untuk melihat kembali sistem yang kami miliki, mengevaluasi pekerjaan apa yang sedang berlangsung untuk ditangani dengan lebih baik, dan melihat kedepan mengenai apa yang harus dilakukan, untuk meminimalkan risiko pandemi di masa depan,” ujar dia.

Kerja sama global, termasuk meningkatkan ekspektasi tentang bagaimana negara-negara dapat saling berbagi informasi tentang ancaman baru, sangat penting untuk melindungi kita semua agar lebih aman.

“Melalui kepemimpinannya di G20 tahun depan, Indonesia memiliki kesempatan untuk membuat kemajuan lebih lanjut dengan agenda ini. Kami menantikan kelanjutan kerjasama kami di sektor penting ini,” papar Owen

Deklarasi Teluk Carbis diterbitkan bersamaan dengan Komunike KTT G7, dan dibangun di atas langkah-langkah yang diambil untuk memperkuat kesiapsiagaan pandemi tahun ini, termasuk rekomendasi terbaru dari Panel Independen untuk Kesiapsiagaan dan Penanganannya.

WHO juga sedang mengerjakan Perjanjian Pandemi demi meningkatkan upaya global untuk mencegah pandemi di masa depan, dengan dukungan Inggris.

Dr Tedros Adhanom, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan, "Kami menyambut baik Deklarasi Kesehatan Teluk Carbis, terutama saat dunia mulai pulih dan membangun kembali dari pandemi COVID-19. Bersama-sama kita perlu membangun respons ilmiah dan kolaborasi yang signifikan terhadap pandemi COVID-19 untuk menemukan solusi bersama dalam mengatasi banyak kesenjangan yang sudah diidentifikasi.”

“Sejauh ini WHO menyambut baik dan akan meneruskan proposal Inggris untuk Radar Pandemi Global. Seperti yang telah kita diskusikan, dunia membutuhkan sistem pengawasan global yang lebih kuat untuk mendeteksi epidemik baru dan resiko-resiko dari pandemik,” ungkap dia.

 

 

 

Eks Bos Intelijen Israel Beberkan Operasi Mossad di Iran

Mantan kepala badan intelijen Israel Mossad, Yossi Cohen, membeberkan operasi agensinya selama ini terhadap program nuklir Iran, musuh bebuyutan Tel Aviv.

Salah satu operasi rahasia Mossad yang diungkap Cohen dalam wawancara program investigasi Channel 12 itu adalah pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, Mohsen Fakhrizadeh, dan sabotase situs nuklir Natanz beberapa waktu lalu.

Cohen menggambarkan upaya Israel mencegah para ilmuwan Iran berkontribusi pada program nuklir negara itu. Ia menyebut beberapa ilmuwan utama telah meninggalkan pekerjaan mereka usai mendapat peringatan, bahkan ultimatum secara tidak langsung, oleh Israel.

 

"Jika para ilmuwan itu ingin mengubah karier mereka dan tidak ingin melukai kita lagi, maka, ya, beberapa kali kita menawarkan mereka jalan keluar," kata Cohen dalam wawancara tersebut.

Dalam kesempatan itu, Cohen juga membeberkan beberapa operasi Mossad lainnya terhadap Iran, termasuk pencurian arsip dokumen terkait program nuklir Teheran pada 2018.

Dalam sesi tersebut, presenter Channel 12, Dayan, menjelaskan bahwa sedikitnya 20 agen Mossad berhasil mencuri materi dari 32 berkas program nuklir Iran dan memindai serta mengirimkan sebagian besar dokumen itu ke Tel Aviv. Puluhan agen itu padahal bukan warga Israel.

Dilansir ABC News, Cohen membenarkannya dan menegaskan bahwa Mossad menerima sebagian besar materi sebelum dokumen-dokumen itu dibawa keluar Iran.

"Penting bagi kami agar dunia melihat ini dan memberitahu Iran bahwa, wahai teman-teman terkasih, pertama Anda telah disusupi; kedua, kami memata-matai Anda, dan tiga, era kebohongan sudah berakhir," ujar Cohen.

Wawancara Cohen ini berlangsung di akhir masa jabatannya setelah memimpin Mossad selama lima setengah tahun di bawah rezim Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Cohen terkenal dekat dengan Netanyahu dan memiliki hubungan dengan pejabat dan pengusaha lainnya hingga media. Ia pun sempat dikritik akibat relasi dekatnya dengan sang pemimpin negara Zionis yang dinilai bersifat politis.

"Saya tahu saya membayar harga untuk kedekatan saya dengan (Netanyahu) dan bahwa hubungan kepercayaan yang saya miliki dengan perdana menteri sangat berguna untuk operasi Mossad dan perkembangannya," ucap Cohen dikutip The Guardian.

"Tapi, saya bekerja untuk tujuan tertinggi, saya tidak bekerja untuk perdana menteri," kata dia.

 

 

Iran Naik Pitam Dengar Pengakuan Operasi Intelijen Israel

Iran geram dan mengecam agresi Israel yang dibocorkan oleh mantan bos badan intelijen Tel Aviv, Mossad, Yossi Cohen.

Cohen, yang baru saja lengser setelah lima setengah tahun menjabat sebagai kepala Mossad, membeberkan operasi rahasia Mossad selama ini terhadap Iran, musuh bebuyutan Israel, dalam wawancara program investigasi Channel 12 yang rilis pekan lalu.

Juru bicara misi diplomatik Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Shahrokh Nazemi, mengatakan bahwa pengakuan Cohen mencerminkan pola sabotase "kriminal" yang sudah berjalan lama terhadap Teheran.

"Pelanggaran hukum ini telah mencapai titik ketika mantan pejabat rezim ini tanpa malu-malu dan terang-terangan mengancam para ilmuwan nuklir kami dengan kematian," kata Nazemi kepada Associated Press.

"Kegiatan ini tidak boleh ditoleransi," ujarnya menambahkan.

Selama ini, Iran kerap mengeluh soal sabotase Israel terhadap program nuklirnya. Teheran juga kerap menuding Israel dalang di balik segala upaya sabotase teknologi senjata mereka.

Salah satu operasi rahasia Mossad yang diungkap Cohen dalam wawancara itu adalah pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, Mohsen Fakhrizadeh, dan sabotase situs nuklir Natanz.

Cohen menggambarkan upaya Israel mencegah para ilmuwan Iran berkontribusi pada program nuklir negara itu. Ia menyebut beberapa ilmuwan utama telah meninggalkan pekerjaan mereka usai mendapat peringatan, bahkan ultimatum secara tidak langsung, oleh Israel.

"Jika para ilmuwan itu ingin mengubah karir mereka dan tidak ingin melukai kita lagi, maka, ya, beberapa kali kita menawarkan mereka jalan keluar," kata Cohen dalam wawancara tersebut.

Dalam kesempatan itu, Cohen juga membeberkan beberapa operasi Mossad lainnya terhadap Iran, termasuk pencurian arsip dokumen terkait program nuklir Teheran pada 2018.

Dalam sesi tersebut, presenter Channel 12, Dayan, menjelaskan bahwa sedikitnya 20 agen Mossad berhasil mencuri materi dari 32 berkas program nuklir Iran dan memindai serta mengirimkan sebagian besar dokumen itu ke Tel Aviv. Puluhan agen itu padahal bukan warga Israel.

Cohen membenarkannya dan menegaskan bahwa Mossad menerima sebagian besar materi sebelum dokumen-dokumen itu dibawa keluar Iran.

"Penting bagi kami agar dunia melihat ini dan memberitahu Iran bahwa, wahai teman-teman terkasih, pertama Anda telah disusupi; kedua, kami memata-matai Anda, dan tiga, era kebohongan sudah berakhir," ujar Cohen.

Kepala Lab Wuhan Bantah Teori AS soal Kebocoran Virus Corona

Shi Zhengli, ilmuwan sekaligus Kepala Institut Virologi Wuhan, China, membantah dugaan virus corona yang menyebabkan penyakit Covid-19 berasal dari kebocoran laboratoriumnya.

Zhengli menentang teori bahwa laboratoriumnya bertanggung jawab atas pandemi yang telah menewaskan lebih dari 3,8 juta penduduk dunia tersebut sejak awal 2020 itu.

"Bagaimana saya bisa memberikan bukti untuk sesuatu yang tidak ada buktinya?" kata Zhengli kepada The New York Times.

"Saya tidak tahu bagaimana dunia menjadi seperti ini, terus-menerus menuangkan kotoran kepada para ilmuwan yang tidak bersalah," ucapnya seperti dilansir AFP.

Zhengli merupakan ahli virus corona pada kelelawar. Beberapa ilmuwan menduga ia memimpin "eksperimen keuntungan fungsi", di mana para ahli berupaya meningkatkan kekuatan virus tersebut untuk mempelajariefeknya dengan lebih baik pada inang.

Menurut New York Times, pada 2017, Zhengli dan rekan-rekannya di laboratorium itu menerbitkan laporan tentang penelitian menciptakan virus corona hibrida dengan mencampur dan mencocokkan beberapa bagian yang sudah ada. Salah satu virus corona yang digunakan adalah yang hampir mampu menular ke manusia.

Penelitian itu disebut dilakukan untuk mempelajari kemampuan virus-virus itu menginfeksi dan bereplikasi di dalam sel manusia.

Namun, dalam surat elektronik ke The New York Times, Zhengli mengatakan eksperimennya itu berbeda dari penelitian gain-of-function (GOF).

Perempuan itu menegaskan dia dan timnya tidak berusaha membuat virus lebih berbahaya. Sebaliknya, ia mengaku mencoba memahami bagaimana virus dapat melompati spesies.

"Laboratorium saya tidak pernah melakukan atau bekerja sama dalam melakukan eksperimenGOF yang meningkatkan virulensi virus," katanya.

Bantahan Zhengli itu muncul setelah laboratoriumnya kembali menjadi sorotan karena digadang-gadang sebagai tempat awal mula kemunculan dan penyebaran virus corona sekitar akhir 2019 lalu.

Laporan Wall Street Journal baru-baru ini mengungkap sebuah studi Lawrence Livermore National Laboratory, California, Amerika Serikat, pada Mei 2020 lalu.

Studi tersebut menyimpulkan bahwa teori kebocoran virus corona dari laboratorium di Wuhan, China, masuk akal dan layak diselidiki lebih lanjut.

Kementerian Luar Negeri AS memakai data tersebut untuk menyelidiki sumber Covid-19 di akhir pemerintahan Presiden Donald Trump.

Pada Mei lalu, Presiden Joe Biden juga kembali memerintahkan komunitas intelijen negaranya menyelidiki asal muasal corona. Biden meminta intelijen AS memberikan hasil investigasi tersebut dalam 90 hari ke depan.

Perintah investigasi itu muncul setelah laporan intelijen AS menemukan bahwa tiga peneliti Institut Virologi Wuhan, China, jatuh sakit hingga dirawat di rumah sakit sekitar November 2019, sebulan sebelum pandemi Covid-19 muncul dan mulai menyebar ke seluruh dunia.

Berita itu dibuat berdasarkan laporan intelijen Amerika Serikat yang sebelumnya tak diungkap.

Desakan penyelidikan ulang di China turut digaungkan negara kelompok G7 dalam pertemuan tingkat tinggi di Cornwall, Inggris, 11-13 Juni lalu.

Dalam pernyataan bersama yang dirilis Minggu (13/5), kepala negara G7 menyerukan penyelidikan fase kedua asal muasal virus corona di China oleh WHO secara transparan, tepat waktu, dipimpin para ahli, dan berbasis ilmu pengetahuan, seperti direkomendasikan laporan para ahli.

"Memperkuat transparansi dan akuntabilitas, termasuk menegaskan kembali komitmen kami untuk penerapan penuh, dan meningkatkan kepatuhan terhadap Peraturan Kesehatan Internasional 2005," bunyi komunike G7 yang dirilis Gedung Putih.

 

 

Biden hingga G7 Desak Investigasi Ulang Asal Covid di China

Asal mula kemunculan virus corona dan penyebarannya kembali menjadi sorotan.

Laporan Wall Street Journal baru-baru ini mengungkap hasil sebuah studi Lawrence Livermore National Laboratory, California, Amerika Serikat, pada Mei 2020 lalu.

Studi tersebut menyimpulkan bahwa teori kebocoran virus corona dari laboratorium di Wuhan, China, masuk akal dan layak diselidiki lebih lanjut.

Kementerian Luar Negeri AS memakai data tersebut untuk menyelidiki tentang sumber Covid-19 di akhir pemerintahan Presiden Donald Trump.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memang telah melakukan investigasi bersama dengan China di Wuhan untuk menyelidiki awal mula virus serupa SARS itu sekitar Februari lalu.

Namun, banyak pihak merasa tak puas dengan hasil investigasi itu. Tim investigasi WHO sendiri mengakui bahwa China tidak sepenuhnya kooperatif dalam penyelidikan itu. Para ilmuwan China menolak membagikan data mentah yang mungkin bisa memperjelas asal mula pandemi corona.

AS

Pada Mei lalu, Presiden AS Joe Biden kembali memerintahkan komunitas intelijen negaranya menyelidiki asal muasal corona.

Biden meminta intelijen AS memberikan hasil investigasi tersebut dalam 90 hari ke depan.

Perintah investigasi itu muncul setelah laporan intelijen AS menemukan bahwa tiga peneliti Institut Virologi Wuhan, China, jatuh sakit hingga dirawat di rumah sakit sekitar November 2019, sebulan sebelum pandemi Covid-19 muncul dan mulai menyebar ke seluruh dunia.

Laboratorium itu juga pernah menjadi sorotan dunia lantaran disebut-sebut menjadi tempat awal mula kemunculan dan penyebaran virus corona akibat penelitian yang gagal dan bocor.

Kabar tiga peneliti yang sakit itu pertama kali terungkap dalam pemberitaan eksklusif The Wall Street Journal (WSJ) pada Minggu (23/5). Berita itu dibuat berdasarkan laporan intelijen Amerika Serikat yang sebelumnya tak diungkap.

Biden mengatakan pada Maret lalu dia juga telah mengarahkan penasihat keamanan nasional AS, Jake Sullivan, untuk menugaskan intelijen menyiapkan laporan tentang analisis terbaru terkait asal usul pandemi corona.

Biden juga meminta penyelidikan apakah Covid-19 muncul akibat penularan hewan ke manusia atau dari kecelakaan laboratorium.

"Sampai hari ini, Komunitas Intelijen AS telah sepaham terkait setidaknya dua skenario yang mungkin tetapi belum mencapai kesimpulan pasti tentang hal ini," kata Biden.

Sejauh ini, Komunitas Intelijen AS mengakui bahwa agensinya memiliki dua teori tentang dari mana virus serupa SARS itu berasal.

Dua lembaga intelijen AS sejauh ini meyakini bahwa virus itu muncul secara alami akibat kontak manusia dengan hewan yang terinfeksi.

Sementara itu, mengutip Reuters, salah satu lembaga intelijen AS lainnya percaya bahwa asal mula virus corona kemungkinan berasal dari kecelakaan laboratorium

"Komunitas Intelijen AS tidak tahu persis di mana, kapan, atau bagaimana virus Covid-19 awalnya menular dan menyebar, tetapi kami sepaham bahwa ada sekitar dua skenario yang mendekati itu," kata Kantor Direktur Intelijen Nasional AS (ODNI) melalui pernyataan pada Kamis (27/5).

Negara G7

Desakan penyelidikan ulang di China turut digaungkan negara kelompok G7 dalam pertemuan tingkat tinggi di Cornwall, Inggris, 11-13 Juni lalu.

Dalam pernyataan bersama communique G7 yang rilis Minggu (13/5), kepala negara G7 menyerukan penyelidikan fase kedua asal muasal virus corona di China oleh WHO secara transparan, tepat waktu, dipimpin para ahli, dan berbasis ilmu pengetahuan, seperti yang direkomendasikan laporan para ahli.

"Memperkuat transparansi dan akuntabilitas, termasuk menegaskan kembali komitmen kami untuk mengimplementasi penuh, dan meningkatkan kepatuhan terhadap, Peraturan Kesehatan Internasional 2005," bunyi komunike G7 yang dirilis Gedung Putih.

G7 adalah forum antarnegara dengan tingkat ekonomi terbesar dunia. Mereka adalah AS, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Kanada.

Dalam pertemuan tatap muka pertama kali sejak pandemi corona 2020, Presiden Biden menuturkan AS dan negara lainnya belum mendapatkan akses ke laboratorium-laboratorium China.

"Apakah [virus corona] berasal dari kelelawar yang berinteraksi dengan hewan dan lingkungan... menyebabkan Covid-19 ini, atau apakah itu eksperimen yang berujung salah di sebuah laboratorium," katanya.

 

WHO Ingatkan Laju Covid-19 Lebih Cepat dari Vaksinasi

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan laju penyebaran covid-19 lebih cepat daripada vaksin pada Senin (14/6).

Hal itu disampaikan tak lama setelah tujuh negara kaya dunia, G7, menyampaikan komitmen untuk berbagi 1 miliar dosis vaksin covid-19 dengan negara-negara miskin.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyambut komitmen pemberian 870 juta dosis vaksin baru dari tujuh negara besar itu. Namun, Tedros menilai komitmen itu terlambat dan terlalu sedikit mengingat masih diperlukan 11 miliar suntikan.

"Ini adalah bantuan besar, tetapi kita membutuhkan lebih banyak, dan kita membutuhkannya lebih cepat. Saat ini, virus bergerak lebih cepat daripada distribusi vaksin secara global," ujar Tedros seperti dikutip dari AFP, Selasa (15/6).

Tedros mengungkapkan lebih dari 10 ribu orang meninggal setiap harinya karena covid-19. Negara miskin dan berkembang membutuhkan vaksinasi sekarang, bukan tahun depan. Sementara penduduk di banyak negara kaya bisa menikmati kembali hidup "normal" berkat tingkat vaksinasi yang tinggi.

WHO menginginkan setidaknya 70 persen populasi dunia divaksinasi pada pertemuan G7 berikutnya di Jerman tahun depan.

"Untuk melakukan itu, kita membutuhkan 11 miliar dosis. G7 dan G20 bisa mewujudkannya," ujar Tedros.

Sebagai informasi, G7 sepakat mendonasikan setidaknya 1 miliar dosis vaksin covid-19 untuk dunia hingga 2023 mendatang.

Dalam pertemuan tinggi pada Kamis (10/6), para pemimpin G7 menyatakan bahwa mereka bakal menyalurkan donasi itu melalui satu skema pembagian dan pendanaan bersama.

Sebagai tuan rumah pertemuan, Inggris mengumumkan bahwa mereka juga akan menyumbangkan 100 juta dosis vaksin covid-19 hingga tahun depan. Sekitar 80 persen dari 100 juta dosis itu akan disalurkan melalui program Covax di WHO.