• Blog
  • Fed pertahankan suku bunga dekati nol di tengah kebangkitan COVID-19

Fed pertahankan suku bunga dekati nol di tengah kebangkitan COVID-19

News Forex, Index &  Komoditi

( Kamis, 30  Juli  2020 )

Fed pertahankan suku bunga dekati nol di tengah kebangkitan COVID-19

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada Rabu (29/7) mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah pada level rekor terendah mendekati nol di tengah kebangkitan baru-baru ini dalam kasus COVID-19 secara nasional.

"Menyusul penurunan tajam, aktivitas ekonomi dan lapangan kerja telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir tetapi masih jauh di bawah level mereka pada awal tahun," kata The Fed dalam sebuah pernyataan setelah mengakhiri pertemuan kebijakan dua hari.

"Jalur ekonomi akan sangat tergantung pada perkembangan virus. Krisis kesehatan masyarakat yang sedang berlangsung akan sangat membebani aktivitas ekonomi, lapangan kerja, dan inflasi dalam waktu dekat, dan menimbulkan risiko yang cukup besar terhadap prospek ekonomi dalam jangka menengah," kata The Fed, seraya menambahkan bank sentral memutuskan untuk mempertahankan kisaran target suku bunga dana federal pada 0-0,25 persen.

"Komite memperkirakan untuk mempertahankan kisaran target ini sampai yakin bahwa ekonomi telah melewati peristiwa-peristiwa buruk baru-baru ini dan berada di jalur untuk mencapai target lapangan kerja maksimum dan stabilitas harga," kata The Fed, mengacu pada Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), badan kebijakan Fed.

The Fed memangkas suku bunga mendekati nol di dua pertemuan yang tidak dijadwalkan pada Maret dan mulai membeli sejumlah besar surat utang pemerintah AS serta sekuritas yang didukung agen hipotek untuk memperbaiki pasar keuangan. Bank sentral juga meluncurkan program pinjaman baru untuk menyediakan hingga 2,3 triliun dolar AS guna mendukung ekonomi dalam menanggapi wabah virus corona.

Perubahan penting sejak pertemuan terakhir The Fed pada awal Juni adalah bahwa tingkat infeksi virus corona telah meningkat di banyak negara bagian AS dan setidaknya 22 negara bagian telah menghentikan atau sebagian membalikkan upaya mereka untuk membuka kembali ekonomi.

"Kami telah memasuki fase baru dalam penanggulangan virus yang sangat penting untuk melindungi kesehatan dan ekonomi kami," kata Ketua Fed Jerome Powell pada Rabu sore (29/7) di konferensi pers virtual.

"Jalan ke depan untuk ekonomi sangat tidak pasti dan akan tergantung pada keberhasilan kami dalam mengendalikan virus. Memang kami telah melihat beberapa tanda dalam beberapa pekan terakhir dalam langkah-langkah baru untuk mengendalikannya yang mulai membebani aktivitas ekonomi," kata Powell, mencatat pemulihan ekonomi penuh AS tidak mungkin sampai orang yakin bahwa itu aman untuk terlibat kembali dalam berbagai kegiatan.

Pertemuan Fed juga berlangsung ketika tunjangan pengangguran federal yang diperpanjang yang diandalkan oleh jutaan orang Amerika akan berakhir pada akhir bulan ini, dan anggota parlemen dari Partai Republik dan Demokrat belum menyelesaikan perbedaan mereka mengenai ukuran dan cakupan RUU bantuan COVID-19 berikutnya.

"Ini menunjukkan kepada saya bahwa kedua belah pihak, mereka berselisih tentang berbagai ketentuan, tetapi tetap percaya ada kebutuhan untuk beberapa dukungan fiskal tambahan," kata Powell kepada wartawan.

Mark Zandi, kepala ekonom Moody's Analytics, baru-baru ini memperingatkan bahwa ekonomi AS berada pada risiko serius untuk tergelincir kembali ke resesi double-dip, di mana ekonomi jatuh ke penurunan lain, kecuali Kongres dan pemerintah Trump datang dengan paket penyelamatan fiskal lain sebelum Kongres melanjutkan reses Agustus.

 

 

Hong Kong Sudah Resesi, Jerman dan AS Bakal Menyusul

Pasar keuangan Indonesia ditutup tidak kompak pada perdagangan kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, tetapi nilai tukar rupiah dan harga obligasi pemerintah menguat.

Kemarin, IHSG berakhir dengan koreksi tipis 0,04%. Terlihat IHSG bergerak labil, kadang merah, kadang hijau.

Indeks saham Asia juga ditutup variatif, menandakan ada kegalauan di benak investor. Berikut perkembangan indeks saham Asia pada perdagangan kemarin:

Pelaku pasar (dan seluruh dunia) mencemaskan perkembangan wabah virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Di Asia, penyebaran virus yang bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China tersebut mengalami lonjakan signifikan.

Vietnam, negara yang awalnya mendapat pujian karena berhasil menang 'perang' melawan virus corona, kini harus bertempur lagi. Jumlah pasien positif corona di Vietnam per 28 Juli 2020 adalah 431 orang, bertambah 11 orang (2,62%) dibandingkan sehari sebelumnya.

Kasus corona bertambah 11 orang bagi negara lain mungkin sesuatu yang patut disyukuri, tetapi tidak buat Vietnam. Pasalnya, Negeri Paman Ho cukup lama tidak mencatatkan kasus baru alias nol. Setiap tambahan pasien baru tentu menjadi hal yang harus disikapi dengan serius.

Saking seriusnya, Vietnam langsung memberlakukan karantina wilayah (lockdown) di Kota Danang begitu mengetahui ada tiga orang pasien baru. Sekitar 80.000 orang, yang kebanyakan adalah turis, segera dievakuasi menuju 11 kota lain.

Bahkan kini virus corona mulai menghinggapi kota-kota lain seperti Hanoi dan Ho Chi Minh. Nguyen Xuan Phuc, Perdana Menteri Vietnam, menegaskan bahwa seluruh kota dan provinsi kini berisiko mengalami 'serangan'.

Begitu pula dengan Hong Kong. Per 28 Juli, jumlah pasien positif corona di bekas koloni Inggris itu adalah 2.884 orang. Bertambah 106 orang (3,82%) dibandingkan hari sebelumnya.

Dalam tujuh hari terakhir, kasus corona di Hong Kong selalu bertambah lebih dari 100. Ini tidak pernah terjadi sejak Hong Kong mencatatkan kasus corona perdana pada 23 Januari.

"Kita sedang dalam ancaman penularan dalam skala besar yang bisa menyebabkan keruntuhan di sistem fasilitas kesehatan sehingga menyebabkan hilangnya nyawa, terutama yang berusia lanjut. Untuk melindungi mereka yang kita sayangi, saya meminta Anda semua untuk benar-benar mematuhi pembatasan sosial (social distancing) dan sebisa mungkin tinggal di rumah," kata Carrie Lam, Pemimpin Hong Kong, seperti dikutip dari Reuters.

Meski ada sentimen negatif dari pandemi virus corona, tetapi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,07% di perdagangan pasar spot. Sementara imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun 2,1 basis poin (bps). Penurunan yield menandakan harga obligasi sedang naik karena tingginya permintaan.

Berikut posisi yield Surat Berharga Negara (SBN) berbagai tenor kala penutupan perdagangan kemarin:

Penguatan rupiah dan SBN disebabkan oleh penantian pasar akan hasil rapat bulanan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed). Mengutip CME FedWatch, kemungkinan suku bunga acuan AS bertahan di 0-0,25% adalah 100%. Tidak ada ruang sama sekali untuk perubahan.

Tren suku bunga rendah di Negeri Paman Sam berdampak ke pasar obligasi pemerintah. Imbal hasil yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ikut turun.

Jadi, tidak heran investor berbondong-bondong masuk ke pasar SBN. Kalau mau beli SBN tentu butuh rupiah. Permintaan akan mata uang Tanah Air pun ikut terdongkrak.

Beralih ke bursa saham New York, tiga indeks utama ditutup di zona hijau. Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 0,61%, S&P 500 menguat 1,24%, dan Nasdaq Composite bertambah 1,35%.

Apa yang dinanti akhirnya datang juga. Sesuai perkiraan, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 0-0,25%. Ketua Jerome Powell dan kolega juga menyatakan suku bunga akan tetap bertahan rendah untuk mendukung pemulihan ekonomi akibat pandemi virus corona.

"Penyebaran virus corona menyebabkan kesulitan yang luar biasa di AS dan seluruh dunia. Setelah penurunan tajam di perekonomian dan pasar tenaga kerja, mulai terjadi pembalikan dalam beberapa bulan terakhir meski masih di bawah level awal tahun. Permintaan yang rendah membuat inflasi tertahan.

"Situasi di pasar keuangan secara umum membaik dalam beberapa bulan ini, mencerminkan dampak kebijakan untuk mendukung aktivitas ekonomi serta penyaluran kredit kepada rumah tangga dan rumah tangga. Namun ke mana ekonomi akan bergerak akan sangat ditentukan oleh virus. Krisis kesehatan akan membebani aktivitas ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan inflasi dalam jangka pendek dan menjadi risiko bagi perekonomian dalam jangka menengah.

"Dengan perkembangan tersebut, Komite memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 0-0,25%. Komite memperkirakan suku bunga acuan akan bertahan sampai ada keyakinan bahwa ekonomi berhasil melalui situasi ini," papar keterangan tertulis The Fed.

Suku bunga rendah akan memberi ruang bagi emiten untuk melakukan ekspansi. Dengan begitu, tercipta harapan untuk menaikkan pendapatan dan laba. Harga saham pun melambung.

Selain mempertahankan suku bunga, The Fed juga berkomitmen menggunakan seluruh instrumen yang ada untuk membantu ekonomi AS keluar dari nestapa akibat pandemi virus corona. Artinya, The Fed sepertinya masih akan terus 'mengguyur' likuiditas ke pasar baik melalui pembelian obligasi sampai memberi kredit kepada dunia usaha. Likuiditas ini sedikit banyak akan masuk ke pasar keuangan yang kemudian menciptakan mentalitas 'beli, beli, beli'.

"Rasanya kita akan merasakan suku bunga rendah dan 'banjir' likuiditas dalam waktu yang agak lama. The Fed tentu tidak mau ekonomi menuju dasar palung," ujar Peter Tuz, Presiden Chase Investment Counsel yang berbasis di Virginia, seperti dikutip dari Reuters.

Untuk perdagangan hari ini, investor patut mencermati sejumlah sentimen. Pertama adalah perkembangan di Wall Street yang positif. Semoga optimisme di New York bisa menyeberangi Samudra Atlantik dan terasa hingga ke Asia, termasuk Indonesia.

Sentimen kedua tentu perkembangan pagebluk corona. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, jumlah pasien positif corona di seluruh negara per 29 Juli adalah 16558.289 orang. Bertambah 215.127 orang (1,32%) dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Tambahan tersebut memang melambat dibandingkan 28 Juni. Namun tetap saja dalam 10 hari terakhir tambahan kasus corona tidak pernah di bawah 100.000 sehingga membuat kurva belum bergerak turun.

Jika kasus corona terus meningkat dalam jumlah signifikan, dikhawatirkan semakin banyak wilayah yang menerapkan lockdown seperti Danang di Vietnam. Memang skalanya tidak nasional, tetapi kalau semakin banyak daerah yang memberlakukan itu hasilnya akan hampir sama. Aktivitas masyarakat kembali terbatas dan roda ekonomi macet lagi.

Sentimen ketiga, investor patut memantau rilis data output ekonomi alias Produk Domestik Bruto di beberapa negara. Hawa resesi sangat terasa di sini...

Hong Kong sudah memulai terlebih dulu. Kemarin, diumumkan bahwa Pada kuartal II-2010, ekonomi Hong Kong mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) 9% secara year-on-year (YoY).

Pada kuartal sebelumnya ekonomi Hong Kong sudah terkontraksi -9,1% YoY. Kontraksi dalam dua kuartal beruntun dalam tahun yang sama adalah definisi dari resesi. Ya, Hong Kong resmi masuk jurang resesi.

Hari ini juga akan diumumkan pembacaan awal pertumbuhan ekonomi Jerman. Konsensus Trading Economics memperkirakan ekonomi Negeri Panser akan terkontraksi -11,3% YoY. Jauh lebih parah ketimbang kuartal sebelumnya yakni -2,3% YoY. Jerman pun kemungkinan besar bakal jatuh ke lubang resesi.

Kemudian pada malam hari waktu Indonesia akan dirilis data pembacaan awal PDB AS kuartal II-2020. Setelah terkontraksi 4,8% secara kuartalan yang disetahunkan (annuaized) pada kuartal I-2020, GDPNow terbitan The Fed cabang Atlanta memperkirakan pencapaian kuartal II-2020 -32,1%. Yup, lagi-lagi resesi...

Hawa resesi yang semakin kuat bisa membuat investor enggan mengambil risiko. Kalau ini yang terjadi, maka harga aset aman (safe haven) seperti emas akan naik lagi. Sebaliknya, aset-aset berisiko di negara berkembang bakal dijauhi. Tentu bukan kabar baik bagi IHSG, rupiah, dan SBN.

Keempat, kali ini bisa menjadi sentimen positif, adalah perkembangan nilai tukar dolar AS. Selepas pengumuman hasil rapat The Fed, mata uang Negeri Adikuasa malah semakin tidak berdaya.

Pada pukul 02:26 WIB, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) terkoreksi 0,44%. Dalam sebulan terakhir, indeks ini sudah anjlok 4,36%.

Federal Funds Rate dipastikan tetap bertahan rendah demi mendukung pemulihan ekonomi. Namun suku bunga rendah membuat yield obligasi pemerintah AS terus menipis. Pada pukul 02:50 WIB, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun lagi ke 0,5691%.

Ini membuat berinvestasi di surat utang pemerintahan Presiden Donald Trump menjadi tidak menarik. Apalagi kalau memperhitungkan keuntungan riil setelah dikurangi inflasi.

Dengan inflasi AS yang sampai Juni ada di 0,6%, maka keuntungan riil berinvestasi di US Treasury Bond tenor 10 tahun adalah -0,03%. Bukannya untung, malah buntung.

Ketika berinvestasi di instrumen berbasis dolar AS tidak menarik, pelaku pasar akan melirik aset yang masih bisa mencetak cuan. SBN bisa menjadi pilihan. Jika permintaan SBN tetap tinggi, maka ada harapan rupiah bisa melanjutkan tren penguatan.

 

 

 

Saham Hong Kong dibuka lebih tinggi, indeks HSI menguat 0,39 persen

Saham-saham Hong Kong dibuka lebih tinggi pada Kamis pagi, setelah mencatat keuntungan dua hari berturut-turut dengan indikator utama Indeks Hang Seng (HSI) menguat 0,39 persen atau 96,10 poin, menjadi diperdagangkan di 24.979,24 poin.

Indeks Hang Seng terangkat 0,45 persen atau 110,38 poin menjadi 24.883,14 poin pada penutupan perdagangan Rabu (29/7), dengan nilai transaksi mencapai 104,45 miliar dolar Hong Kong (sekitar 13,48 miliar dolar AS).

 

 

 

 

 

 

 

 

Dolar AS Melemah, Fed Janji Batasi Dampak Pandemi untuk Pulihkan Ekonomi

Dolar Amerika Serikat kembali melemah pada Kamis (30/07) pagi setelah Federal Reserve menekankan janjinya untuk membatasi dampak pandemi akibat lonjakan kasus covid-19 yang memperlambat pemulihan ekonomi.

Mengutip laporan yang dilansir Reuters Kamis (30/07) pagi, pernyataan kebijakan The Fed ini dirilis pada penutupan pertemuan dua hari yang langsung mengaitkan pemulihan ekonomi dengan resolusi krisis kesehatan covid-19.

Dolar AS telah jatuh pada harapan bahwa Fed akan melanjutkan kebijakan moneter ultra longgar untuk tahun-tahun mendatang dan pada spekulasi bahwa itu akan memungkinkan inflasi untuk berjalan lebih tinggi dari yang sebelumnya ditunjukkan sebelum menaikkan suku bunga.

Sampai pukul 09.32 WIB, indeks dolar AS turun 0,09% di 93,352 menurut data Investing.com. EUR/USD turun 0,13% di 1,1774 dan GBP/USD melemah 0,11% ke 1,2981. Sedangkan USD/JPY naik 0,17% di 105,09.

Sementara rupiah kembali turun 0,40% ke 14.592,5 sampai pukul 09.24 WIB.

Penurunan dolar terjadi karena investor mulai meragukan kebijaksanaan konvensional bahwa pertumbuhan ekonomi AS dan pengembalian investasi dari mata uang AS akan lebih tinggi daripada banyak negara lain.

Epidemi AS telah meningkat sejak bulan Juni, dengan rata-rata sekitar 65.000 kasus baru terdeteksi setiap harinya, sehingga mengerem pemulihan kegiatan ekonomi dan memupus harapan pemulihan cepat berbentuk V.

Menambah kekhawatiran investor, Partai Republik dan Demokrat di Kongres AS tengah berusaha untuk mencapai kesepakatan stimulus lanjutan dan bergeser ke arah membiarkan tunjangan pengangguran $ 600 per minggu berlalu ketika berakhir pada minggu ini.

 

 

Ketua Fed: Lonjakan Kasus Covid-19 Memperlambat Pemulihan Ekonomi AS

Lonjakan kasus covid-19 di Amerika Serikat mulai membebani kegiatan ekonomi, kepala Federal Reserve mengatakan pada Kamis (30/07) dini hari tadi, dan ia berjanji bank sentral AS akan "melakukan apa yang kita bisa, dan selama itu diperlukan,” untuk membatasi kerusakan dan mendorong pertumbuhan.

"Sepertinya data menunjukkan perlambatan pada laju pemulihan," kata Ketua Fed Jerome Powell di konferensi pers sebagaimana dikutip dari Reuters Kamis (30/07) pagi, merujuk ke pembalikan sektor konsumen dan perlambatan angka yang mempekerjakan kembali para pekerja yang dirumahkan, terutama oleh usaha kecil.

Amerika Serikat, katanya, "telah memasuki fase baru penanggulangan virus, ini hal yang penting untuk melindungi kesehatan kita dan ekonomi kita."

Pernyataan Powell tersebut berlangsung melalui konferensi video setelah The Fed mengumumkan keputusan kebijakannya untuk membiarkan suku bunga mendekati nol, mengindikasikan surutnya harapan pemulihan ekonomi yang cepat. Infeksi virus telah melonjak di sejumlah negara bagian Selatan dan Barat Daya AS dalam beberapa pekan terakhir, dan beberapa negara bagian telah menunda atau bahkan menghentikan langkah pembukaan kembali.

Pernyataan kebijakan The Fed, yang dirilis pada penutupan pertemuan dua hari, langsung mengaitkan pemulihan ekonomi dengan resolusi krisis kesehatan yang arahnya masih banyak dipertanyakan. Ada lebih dari 150.000 warga Amerika meninggal dunia karena covid-19.

"Jalur ekonomi akan sangat tergantung pada arah virus," kata Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang menetapkan kebijakan bank sentral.

Semua anggota FOMC memilih untuk meninggalkan kisaran target tingkat suku bunga jangka pendek antara 0% dan 0,25%, di mana sudah ditetapkan sejak 15 Maret silam kala virus mulai menyerang AS.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

China laporkan 105 kasus baru COVID-19, termasuk 96 di Xinjiang

China melaporkan 105 kasus baru COVID-19 pada Rabu (29/7), yang naik dari 101 kasus sehari sebelumnya, menurut otoritas kesehatan pada Kamis (30/7).

Sebanyak 96 kasus dilaporkan di ujung wilayah Xinjiang. Sementara itu, lima kasus terdapat di Provinsi Liaoning, satu kasus di Beijing dan tiga kasus lainnya merupakan kasus impor, menurut pernyataan Komisi Kesehatan Nasional.

China juga melaporkan 21 pasien COVID-19 tanpa gejala, yang turun dari 27 kasus dibanding kemarin.

Hingga Rabu (29/7) China mengonfirmasi 84.165 kasus COVID-19 dengan 4.634 kematian, demikian keterangan otoritas kesehatan.

Dari angka mutakhir yang menyumbang pertambahan infeksi COVID-19 di negeri tirai bambu itu, satu di antaranya adalah warga negara Indonesia yang menurut identifikasi adalah seseorang yang berusia 63 tahun.

Meskipun China negara pertama ditemukannya kasus virus corona, dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, jumlah kasus dan korban meninggal akibat COVID-19 jauh di bawah angka yang dialami Amerika Serikat.

Dalam lomba global penemuan vaksin COVID-19, China dinilai yang terdepan. Salah satu perusahaan farmasi terkemuka di negara yang melahirkan aktris luar biasa Gong Li itu mengumumkan kini sedang melakukan uji klinis terakhir dan mendaku bisa menghasilkan vaksin siap pakai pada akhir 2020.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Republik Waswas China Usik Pemilu AS Pakai TikTok

Sekelompok Senator Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik meningkatkan tekanan pada TikTok dengan meminta pemerintah menyelidiki ancaman aplikasi itu dalam mempengaruhi pemilu AS.

Dalam surat bertanggal Selasa (28/7/2020), Marco Rubio, Tom Cotton dan anggota parlemen lainnya menyebut tuduhan penyensoran oleh TikTok pada konten sensitif termasuk video yang mengkritik perlakuan China pada minoritas Uighur serta upaya penyensoran oleh Beijing untuk memanipulasi diskusi politik dan aplikasi media sosial.

 “Kami sangat khawatir bahwa Partai Komunis China dapat menggunakan kontrolnya pada TikTok untuk mendistorsi atau menipulasi percakapan politik untuk menyemai perselisihan antar warga Amerika dan mencapai hasil politik tertentu,” tulis para anggota parlemen dalam surat pada Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODHI), pelaksana kepala Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) dan direktur Biro Investigasi Federal (FBI).

Juru bicara perusahaan media sosial itu menyatakan TikTok sangat proaktif menyelidiki keamanan aplikasinya dan mengambil pengalaman dari pemilu lalu.

“TikTok sudah memiliki kebijakan ketat melawan disinformasi dan kami tidak menerima iklan politik,” papar juru bicara TikTok yang menambahkan kebijakan konten dan moderasi dipimpin oleh tim di California dan tidak dipengaruhi oleh pemerintahan asing manapun.

FBI dan DHS belum merespon permintaan komentar. Pejabat ODNI mengonfirmasi menerima surat itu dan akan meresponnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin menyatakan China tidak berkepentingan pada pemilu AS dan meminta sejumlah orang di AS berhenti menekan perusahaan-perusahaan China.

Para anggota parlemen AS, termasuk Ted Cruz, Joni Ernst Thom Tilis, Kevin Cramer dan Rick Scott menyebut China dapat mendorong pendapat politik tertentu dan melancarkan operasi pengaruh melalui aplikasi milik Beijing ByteDance Technology Co itu.

 

 

Munculnya Rudal Nabi Iran Bawah Tanah Bikin Dunia Terguncang

Tentara Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Republik Iran baru saja membuat guncang dunia. Kenapa bisa? IRGC menjadi angkatan bersenjata pertama di dunia yang memiliki rudal jarak jauh alias balistik, yang diluncurkan dari dalam tanah.

Rudal jarak jauh itu dipamerkan IRGC ketika melakukan latihan perang besar-besaran di Teluk Persia dan Teluk Hormuz dalam Operasi Payambar-e Azam 14 atau Operasi Nabi Besar SAW 14.

Dalam siaran resminya, Kamis (30/7/2020), Iran menayangkan proses detik-detik rudal terbaru yang diluncurkan dari sebuah area padang pasir terbuka.

Rudal benar-benar ditembakkan tanpa ada alat peluncur di permukaan bumi. Rudal-rudal itu tiba-tiba saja muncul dari dalam tanah dan meleset cepat ke angkasa menuju sasaran target tembak di Selat Hormuz.

Komandan Aerospace IRGC, Brigadir Jenderal Hajizadeh ketika diwawancarai PressTV menyatakan, ini merupakan rudal balistik pertama di dunia yang diluncurkan dari bawah tanah.

"Iran berhasil menembakkan rudal balistik dari bawah tanah tanpa menggunakan landasan peluncuran untuk pertama kalinya di dunia," kata dia.

Sebelumnya IRGC tak pernah cuap-cuap memiliki rudal balistik ini. Rudal ini baru muncul di saat latihan perang besar kali ini saja.

Perlu diketahui, dalam latihan perang itu IRGC mengerahkan kekuatan penuh. Hampir semua armada tempur dikerahkan mulai dari rudal-rudal jarak jauh, kapal serang hingga pasukan serang cepat.

Iran memang sengaja menggelar latihan perang sebagai upaya unjuk kekuatan untuk melawan provokasi dan propaganda Amerika terhadap negara itu.

Tensi di Iran kian memanas seiring dengan akan segera berakhirnya pemberlakuan embargo senjata.

Sanksi yang diberlakukan kepada Iran sedianya akan berakhir pada Oktober 2020. Dan Amerika berupaya keras untuk memperpanjang atau memperbaharui masa berlakunya embargo melalui jalur diplomasi.

Tapi, upaya Amerika sejauh ini tampaknya akan berakhir dengan kegagalan. Sebab, Amerika kini tak memiliki hak atas pemberlakuan atau pembaharuan embargo cenderung berpihak kepada Iran atas masalah embargo ini. Walau begitu Amerika sangat gencar menekan Iran melalui PBB agar keinginan mereka berjalan mulus.

 

 

 

 

 

 

5 Negara Kembali Lockdown karena Corona Melonjak

Sejumlah negara memutuskan kembali melakukan lockdown setelah menemukan lonjakan penularan baru virus corona.

Penularan Covid-19 masih menjadi ancaman dunia meski tren penularan virus serupa SARS itu beranjak menurun di beberapa negara dan kawasan.

Meski banyak negara telah mulai melonggarkan kebijakan pembatasan pergerakan dan kembali membuka kegiatan perekonomian serta bisnis secara bertahap, lima negara ini memilih menutup diri dan menerapkan penguncian wilayah atau lockdown setelah kembali mendeteksi penyebaran virus corona.

China

Usai menerapkan lockdown nasional selama tiga bulan akibat Covid-19, pemerintah China kembali membuka kegiatan perekonomian dan bisnis, seperti sejumlah tempat wisata ikonik, hingga sekolah secara bertahap pada Mei lalu. Tak lama, pejabat kesehatan China mendeteksi lonjakan kasus baru corona yang ditemukan di Ibu Kota Beijing pada awal Juni lalu.

China lantas memutuskan menerapkan lockdown di sebagian wilayah Beijing setelah ratusan virus corona baru terdeteksi kembali muncul di area pasar tradisional ibu kota.

Lonjakan kasus baru itu berasal dari pasar grosir Xinfadi. Klaster di pasar itu terjadi setelah tiga pedagang dan dua pengunjung pasar dinyatakan positif corona.

Rabu kemarin, pihak berwenang China juga kembali melaporkan lonjakan kasus virus corona baru yakni 101 infeksi. Dari kasus-kasus baru itu, 98 di antaranya merupakan infeksi lokal di sebagian besar wilayah barat laut Xinjiang.
 
Ini merupakan penghitungan harian tertinggi kasus baru sejak 13 April lalu dengan 108 terkonfirmasi.

Pihak berwenang setempat memusatkan perhatian pada klaster baru yang muncul pekan lalu di sebuah pabrik pengolahan makanan di Dalian, Provinsi Liaoning.
 
Para pejabat mengatakan para pekerja di sana menangani pengemasan makanan laut impor yang terkontaminasi virus. Dalam sepekan terakhir, 52 kasus dikonfirmasi di Dalian dan 30 di antaranya merupakan karyawan di pabrik tersebut.

Berdasarkan statistik Worldometer hingga Kamis (23/7), China tercatat memiliki 84,060 kasus Covid-19 dengan 4.634 kematian.

Malaysia

Pemerintah Malaysia berencana menerapkan kembali kebijakan penguncian wilayah jika kasus baru virus corona melonjak hingga 100 pasien per hari.

Malaysia saat ini tengah berada dalam tahap pemulihan dan sudah tak menerapkan perintah pengawasan pergerakan (MCO) ketat. Hampir seluruh kegiatan bisnis dan ekonomi telah berjalan kembali dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat.

Namun, pihak berwenang Malaysia kembali mendeteksi lonjakan kasus corona baru dalam beberapa pekan terakhir.

Pada Selasa (28/7), Malaysia mencatat 39 kasus baru, di mana 28 infeksi di antaranya merupakan penularan lokal. Puluhan kasus baru corona juga ditemukan setiap harinya dalam sepekan terakhir.

Penemuan kasus baru ini muncul setelah Kementerian Kesehatan sempat mengumumkan nol kasus corona baru pada 1 Juli lalu untuk pertama kalinya sejak Maret.

Hingga kini Malaysia memiliki 8.956 kasus corona dan 124 kematian.

Vietnam

Pemerintah Vietnam memutuskan menutup (lockdown) kota ketiga terbesar di negara itu, Da Nang, selama dua pekan setelah terjadi penularan virus corona (Covid-19) terhadap 15 orang.

Kasus infeksi Covid-19 di Da Nang dilaporkan terjadi secara lokal. Penyebaran itu terdeteksi setelah selama tiga bulan tidak ada penambahan kasus di Vietnam.

Menurut data, 15 orang yang positif Covid-19 adalah pasien dan petugas kesehatan di rumah sakit Da Nang.

Pemerintah Vietnam menutup sementara seluruh tempat usaha di Da Nang dan menerapkan kebijakan jaga jarak.

Hingga Kamis (30/7), Vietnam memiliki 459 kasus Covid-19 dan nihil kematian.

Australia

Serupa dengan China, Australia memutuskan mengisolasi negara bagian Victoria setelah menemukan lonjakan kasus corona baru hingga mencapai tiga digit infeksi per hari pada awal Juli lalu.

Dalam dua pekan sejak diberlakukan lockdown, Victoria beberapa kali juga mencatat rekor kasus harian sebanyak 217, 363, dan 275.

Australia juga menerapkan lockdown terhadap Ibu Kota Victoria, Melbourne, selama enam pekan demi mengendalikan virus corona yang melonjak lagi di wilayah tersebut.

Pemerintahan Perdana Menteri Scott Morisson bahkan mengerahkan personel militer dan polisi untuk menjaga perbatasan negara bagian Victoria dan memastikan warga tetap tinggal di rumah selama masa isolasi.

Australia bahkan melaporkan rekor infeksi corona baru sebanyak 502 kasus dalam sehari pada Rabu (22/7). Sebanyak 484 kasus dari total 502 infeksi corona baru itu terdapat di Victoria.

Dengan begitu saat in ada lebih dari 3.408 kasus corona aktif dan 44 kematian di Victoria.

Berdasarkan statistik Worldometer per hari ini, Australia tercatat memiliki 15.582 kasus corona dengan 176 kematian.

Spanyol

Spanyol kembali memberlakukan lockdown di wilayah Catalonia setelah kasus penularan corona baru kembali melonjak di daerah tersebut sejak pertengahan Juli lalu.

Pemerintah wilayah Catalonia mengatakan kepada sekitar 140 ribu penduduknya terutama di dan sekitar kota Lerida di timur laut untuk kembali melakukan isolasi dan hanya boleh meninggalkan rumah untuk bekerja atau melakukan aktivitas penting saja.

Seminggu sebelumnya, pemerintah Catalan telah membatasi warga untuk bepergian dari dan ke negara bagian El Segria. Sebab, wilayah dengan populasi 210 ribu itu telah mengalami penambahan penularan Covid-19.

Otoritas kesehatan Catalan juga terus memantau wabah di Hospitalet, sebuah kota padat penduduk di wilayah metropolitan Barcelona yang lebih besar. Secara total, timur laut Catalonia melaporkan lebih dari 800 kasus baru pada Minggu.

Spanyol baru membuka lockdown nasional pada pertengahan Juni lalu setelah tiga bulan berada dalam penguncian wilayah demi mengendalikan virus yang telah secara resmi merenggut lebih dari 28.300 jiwa.

Per hari ini, berdasarkan statistik Worldometer, Spanyol tercatat memiliki 329.721 kasus Covid-19 dengan 28.441 kematian.

 

 

 

 

 

Kematian Corona AS Tembus 150 Ribu, Jadi Alarm Peringatan

Kematian akibat virus corona di Amerika Serikat menembus 150 ribu jiwa, dan menjadi alarm bagi Negeri Paman Sam. Angka tersebut kian mengukuhkan posisi AS sebagai negara dengan kematian tertinggi di dunia.

AS mencatatkan 150.090 korban meninggal karena Covid-19 pada Rabu (29/7). Johns Hopkins University menyebut jumlah kematian di AS seperlima dari 662 ribu kematian global.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah memprediksi jumlah kematian warganya karena virus corona bisa menembus 150 ribu orang.

Seperti dikutip dari CNN, AS pertama kali melaporkan kematian pasien corona pada 29 Februari. Hanya dalam waktu 54 hari negara itu mencapai 50 ribu kematian. Kemudian pada 27 Mei angkanya melewati 100 ribu. Korban terus berjatuhan hingga angkanya kini menyentuh 150 ribu korban meninggal

"Fakta bahwa kita belum bisa mengatasi ini, belum memprioritaskan pencegahan kematian itu adalah hal yang jauh lebih menjengkelkan. Bagi saya sekarang yang penting bagaimana kita bisa menekan angka kematian berikutnya," kata Direktur Harvard Global Health Institute Ashish Jha.

You may also like

"Saya pikir kita bisa, makanya kita harus benar-benar berusaha untuk melakukannya," ujar dia.

AS mencatat kematian harian di atas 1.000 sejak Selasa. Sejumlah negara bagian melaporkan jumlah kematian tertinggi. California pada hari Rabu melaporkan 197 kematian baru.

Rata-rata jumlah kematian harian di 29 negara bagian, naik 10 persen dari pekan sebelumnya.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan virus corona merupakan darurat kesehatan paling parah yang pernah mereka hadapi

Menurut WHO, penyebaran virus corona tidak dipengaruhi oleh musim, dan menyanggah keyakinan yang menyebut bahwa musim panas dinilai lebih aman dari ancaman Covid-19.

Dia menunjukkan bahwa beberapa negara yang paling terdampak saat ini berada di tengah-tengah musim yang berbeda. Amerika Serikat yang mengalami musim panas menjadi negara yang paling terpukul pandemi virus corona.

 

 

WHO Sebut Penyebaran Virus Corona Tidak Terpengaruh Musim

Juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Margaret Harris mengatakan jika penyebaran virus corona dalam gelombang besar tidak terpengaruh musim yang sedang terjadi seperti halnya influenza.

"Musim tampaknya tidak memengaruhi penyebaran virus saat ini. Apayang mempengaruhi penularan virus yakni pertemuan massal, orang-orang tidak menjaga jarak, tidak mengambil tindakan pencegahan untuk memastikan mereka tidak berada dalam jarak dekat kontak," ujar Harris saat berbicara dengan stasiun radio Irlandia, Newstalk, Selasa (28/7).

"Orang-orang masih beranggapan ini ada kaitannya dengan musim. Apa yang kita semua perlu waspadai adalah bahwa virus ini baru dan memiliki perilaku berbeda," ucapnya menambahkan.

Ia mengingatkan agar semua orang tidak berpuas diri apabila kasus Covid-19 di negaranya mengalami penurunan atau pelonggaran lockdown.

"Sayangnya orang menafsirkan akhir dari penguncian wilayah sebagai akhir dari wabah. Padahal pelonggaran lockdown merupakan saat ketika Anda harus meningkatkan kewaspadaan," ucapnya memperingatkan.

Namun ia mengatakan pelonggaran lockdown justru membuat banyak orang terlena dan lebih santai, maka tak mengherankan jika terjadi kenaikan jumlah infeksi.

Terlebih menurutnya banyak generasi muda yang justru terlena dan menganggap pelanggaran lockdown sebagai momen mereka untuk menikmati liburan dan menggelar pesta.

"Memang kita semua hanya sekali menikmati masa muda. Tetapi lebih mudah bagi orang tua seperti saya untuk tetap tinggal di rumah. Tetapi harus diingat kalau pandemi ini membuat kita berpikir kalau kamu hanya punya kesempatan hidup sekali dan hanya ada satu keluarga," katanya.

WHO mengatakan telah menerima laporan dari otoritas sipil dan kesehatan mengenai proporsi kasus baru yang lebih tinggi di kalangan anak muda.

Pernyataan Harris ini disampaikan di tengah kemunculan gelombang kedua Covid-19 di sejumlah negara, termasuk Prancis, Spanyol, Jerman, Hong Kong, Australia, China, hingga Vietnam.

Direktur regional WHO untuk Eropa, Hans Kluge mengatakan jika peningkatan kasus Covid-19 di kawasan Eropa terjadi dalam beberapa pekan terakhir karena warganya merasa bosan tinggal di rumah dan memilih keluar untuk menghabiskan liburan musim panas.

"Apakah ini gelombang pertama atau kedua - yang kita tahu adalah bahwa itu sebagai konsekuensi dari perubahan perilaku manusia," ujar Kluge dalam wawancara radio seperti dilansir dari CNN.

Kluge mengatakan sangat optimis warga dunia bisa memerangi virus corona, tetapi tetap memperingatkan bahwa pandemi ini belum berakhir dalam waktu dekat.

Data statistik John Hopkins University mencatat hingga saat ini ada 16.829.840 kasus Covid-19. Angka kematian akibat virus corona di seluru dunia mencapai 662.297.

 

China Diduga Retas Jaringan Komputer Vatikan

Jaringan komputer Vatikan dilaporkan diretas oleh peretas asal China. Kelompok itu diduga bekerja untuk pemerintah China.

Perusahaan keamanan siber Recorded Future menyebut peretas menyusup ke jaringan komputer Vatikan sejak bulan Mei, termasuk data milik perwakilan gereja Katolik Roma di Hong Kong.

Seperti dikutip dari New York Times, peretasan dicurigai dalam upaya spionase sebelum dimulainya negosiasi sensitif dengan Beijing.

Vatikan dan China akan kembali berunding tahun ini untuk memperbarui perjanjian yang menjadi dasar hubungan Tiongkok dan otoritas Gereja Katolik Roma. Perjanjian itu pertama kali disepakati pada 2018.

Perusahaan keamanan siber asal Amerika Serikat itu mengungkap para peretas menargetkan Vatikan dan perwakilannya di Hong Kong, termasuk kepala perwakilan Paus Francis di China.

Informasi yang diretas antara lain jalur komunikasi antara perwakilan Gereja Katolik Roma di Hong Kong dan Vatikan. Peretasan itu diyakini memakai alat dan metode yang sama dengan kelompok yang didukung Pemerintah China.

Peretas China dan otoritas negara dilaporkan sering memanfaatkan serangan siber untuk mencoba mengumpulkan informasi tentang kelompok-kelompok Buddha Tibet, Muslim Uighur, dan praktisi Falun Gong di luar Tiongkok.

Tapi kemungkinan ini kali pertama para peretas ketahuan langsung meretas jaringan komputer Vatikan dan kelompok berbasis di Hong Kong yang secara de facto menjadi perwakilan Vatikan berunding dengan China soal status Gereja Katolik di sana.

China dan Vatikan memutuskan hubungan diplomatik pada 1951. Vatikan secara resmi mengakui Taiwan, yang diklaim China bagian dari wilayahnya.

Selama ini China menganggap Taiwan sebagai wilayah pembangkang yang ingin memerdekakan diri, dan bersumpah akan merebut, meski dengan kekerasan.

Jika Vatikan dan Beijing memulihkan hubungan diplomatik, para pejabat China dipastikan akan menuntut mereka memutuskan hubungan dengan Taiwan.