• Blog
  • Wall Street Anjlok Imbas Kepercayaan Konsumen Menurun

Wall Street Anjlok Imbas Kepercayaan Konsumen Menurun

News Forex, Index &  Komoditi

( Rabu, 29  Juli  2020 )

Wall Street Anjlok Imbas Kepercayaan Konsumen Menurun

Wall Street ditutup lebih rendah pada perdagangan selasa (28/7/2020) waktu tempat. Hal ini dikarenakan investor cemas akan pelemahan kepercayaan konsumen karena laporan keuangan yang mengecewakan.

Melansir Reuters, Jakarta, Rabu (29/7/2020), Dow Jones Industrial Average turun 205,49 poin, atau 0,77%, menjadi 26.379,28, S&P 500 kehilangan 20,97 poin, atau 0,65%, menjadi 3.218,44. Sementara itu Nasdaq Composite .turun 134,18 poin, atau 1,27% menjadi 10.402,09.

Sektor material dan sektor energi terdampak diskresi konsumen. Real estate, utilitas, dan staples konsumen cukup defensif.

Data yang dirilis pada pagi hari menunjukkan kepercayaan konsumen AS menurun pada bulan Juli. Hal ini terjadi ketika infeksi coronavirus meluas di seluruh negeri.

Ketika mereka menunggu perjanjian paket stimulus dan untuk laporan triwulanan dalam salah satu minggu tersibuk di musim pendapatan, investor juga mengantisipasi pertemuan kebijakan Federal Reserve AS.

"Ini mungkin bukan tempat yang buruk untuk mengambil keuntungan dan membangun kembali likuiditas karena salah satu dari ketiga peristiwa itu dapat menyebabkan volatilitas," kata Sameer Samana, Ahli Strategi Pasar Global Senior di Wells Fargo Investment Institute di St. Louis.

Sementara itu, menambah ketakutan investor yaitu anggota kongres memperdebatkan proposal bantuan USD1 triliun. Senat dari Partai Republik yang diumumkan pada hari Senin, empat hari sebelum jutaan orang Amerika kehilangan tunjangan pengangguran.

 

 

 

Dolar AS sedikit menguat ketika pasar tunggu pengumuman Fed

Dolar AS naik moderat terhadap sejumlah mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Selasa (Rabu WIB), rebound setelah sehari sebelumnya jatuh, karena para pelaku pasar mengamati pertemuan kebijakan utama Federal Reserve.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik 0,02 persen menjadi 93,6955. Sehari sebelumnya, indeks dolar sempat jatuh ke 93,47, tingkat terendah sejak Juni 2018.

Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,1721 dolar AS dari 1,1749 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi 1,2943 dolar AS dari 1,2870 dolar AS pada sesi sebelumnya. Dolar Australia naik hingga 0,7161 dolar AS dari 0,7141 dolar AS.

Dolar AS dibeli 105,09 yen Jepang, lebih rendah dari 105,38 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS jatuh ke 0,9174 franc Swiss dari 0,9203 franc Swiss, dan tidak berubah pada 1,3360 dolar Kanada dari sesi sebelumnya.

Bank sentral AS atau Federal Reserve memulai pertemuan kebijakan dua hari pada Selasa (28/7/2020), diikuti oleh keputusan tentang suku bunga pada Rabu waktu setempat.

"Keputusan Fed besok adalah panggung utama," kata Esther Reichelt, analis valas di Commerzbank, Selasa (28/7/2020).

"Bahkan jika besok tidak mungkin menjadi momen yang tepat untuk pendekatan kebijakan moneter yang lebih ekspansif, Fed tidak diragukan lagi akan siap untuk pelonggaran lebih lanjut," tambah Reichelt.

 

 

 

Saham Tokyo dibuka lebih rendah karena laba emiten mengecewakan

Saham-saham Tokyo dibuka lebih rendah pada perdagangan Rabu pagi, melanjutkan penurunan sehari sebelumnya, mengikuti kerugian Wall Street semalam ketika banyak laba perusahaan AS dan Jepang mengecewakan membebani sentimen pasar.

Pada pukul 09.15 waktu setempat, indeks acuan Nikkei 225 turun 168,41 poin atau 0,74 persen, dari penutupan Selasa (28/7/2020), menjadi diperdagangkan di 22.488,97 poin. Sehari sebelumnya, Nikkei 225 melemah 58,47 poin atau 0,26 persen menjadi 22.657,38 poin.

Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas dari seluruh saham papan utama di pasar Tokyo kehilangan 16,84 poin atau 1,07 persen, menjadi diperdagangkan pada 1.552,28 poin. Indeks Topix turun 7,57 poin atau 0,48 persen menjadi 1.569,12 poin pada penutupan Selasa (28/7/2020).

Saham-saham perusahaan yang terkait dengan transportasi udara, besi dan baja, serta peralatan listrik paling banyak mengalami penurunan pada menit-menit pembukaan setelah bel perdagangan pagi.

 

 

 

Saham China dibuka lebih rendah setelah menguat dua hari beruntun

Saham-saham China dibuka lebih rendah pada perdagangan Rabu pagi, karena para investor merealisasikan keuntungan mereka dari kenaikan selama dua hari berturut-turut sebelumnya.

Indikator utama pasar China, Indeks Komposit Shanghai melemah 0,18 persen menjadi dibuka pada 3.221,99 poin, dan Indeks Komponen Shenzhen di bursa kedua China dibuka 0,23 persen lebih rendah pada 13.117,19 poin.

Sementara itu, indeks ChiNext yang melacak saham-saham perusahaan sedang berkembang di papan bergaya Nasdaq China, berkurang 0,25 persen menjadi dibuka pada 2.659,94 poin.

 

 

 

 

Otoritas sebut Hong Kong di ambang gelombang besar wabah COVID-19

Pemimpin otoritas Hong Kong, Carrie Lam, memperingatkan warganya bahwa wilayah itu berada di ambang gelombang besar wabah virus corona, COVID-19.

“Kita tengah berada di ambang wabah penularan lokal dalam skala besar, yang mungkin mengarah pada robohnya sistem rumah sakit dan biaya hidup, khususnya bagi para lanjut usia,” kata Lam melalui sebuah pernyataan Selasa (28/7) malam.

Lam meminta warganya untuk sebisa mungkin tetap berada di dalam rumah selagi aturan pembatasan baru yang ketat mulai berlaku pada Rabu.

Aturan baru itu melarang perkumpulan lebih dari dua orang dan kegiatan makan di restoran tertutup serta mewajibkan penggunaan masker di tempat-tempat umum.

“Untuk melindungi orang-orang yang kita sayangi, para staf layanan kesehatan, dan Hong Kong itu sendiri, saya meminta anda sekalian untuk mematuhi aturan pembatasan sosial serta sedapat mungkin diam di rumah saja,” kata Lam.

Otoritas Hong Kong juga memperketat aturan mengenai pengujian deteksi COVID-19 dan karantina bagi para kru kapal dan pesawat, dengan dimulainya masa berlaku pada hari yang sama.

Sejumlah aturan baru tersebut akan berlaku, setidaknya, hingga tujuh hari. Otoritas kota mengumumkannya pada Senin (27/7) lalu, usai terjadi lonjakan kasus infeksi penularan lokal selama tiga pekan terakhir.

Pada 28 Juli, Hong Kong mencatatkan sebanyak 106 kasus COVID-19, dengan 98 kasus terjadi secara lokal. Secara akumulatif, kini sekitar 2.880 orang terinfeksi virus tersebut, dan 23 di antaranya meninggal dunia.

 

PBB Sebut 10 Ribu Anak di Dunia Tewas Kelaparan saat Pandemi

Kasus kelaparan akibat pandemi virus corona (Covid-19) dilaporkan menyebabkan sepuluh ribu kematian anak dalam satu bulan terakhir.

Menurut data yang disampaikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelum dipublikasikan dalam jurnal medis Lancet, lebih dari 550 ribu anak setiap bulan menderita kekurangan gizi. Selama lebih dari setahun, angka itu naik 6,7 juta dari total 47 juta kasus pada tahun lalu. Kasus kelaparan secara permanen telah merusak anak-anak secara fisik dan mental.

Seperti dilansir Associated Press, Selasa (28/7), di Burkina Faso misalnya, satu dari lima anak mengalami kekurangan gizi kronis. Harga makanan kian melonjak dan 12 juta dari 20 juta warga negara tidak memiliki pasokan pangan yang cukup untuk makan.

Dari kawasan Amerika Latin ke Asia Selatan hingga Afrika sub-Sahara, ada lebih banyak keluarga yang tidak memiliki pasokan makanan yang cukup.

Pada April lalu, kepala Program Pangan Dunia (WFP), David Beasley, memperingatkan bahwa ekonomi di bawah virus corona akan menyebabkan kelaparan global tahun ini.

Lembaga itu memperkirakan, pada Februari, satu dari setiap tiga orang di Venezuela mengalami kelaparan dikarenakan inflasi dan memaksa jutaan orang mengungsi ke luar negeri. Kemudian pandemi virus corona pun datang.

"Orang tua dari anak-anak itu tidak bekerja. Bagaimana mereka akan memberi makan anak-anak mereka?," kata Annelise Mirabal yang bekerja dengan sebuah yayasan yang membantu anak-anak kekurangan gizi di Maracaibo, sebuah kota di Venezuela yang paling parah terdampak pandemi.

Saat ini banyak pasien baru merupakan anak-anak migran yang melakukan perjalanan panjang dari Peru, Ekuador, atau Kolombia ke Venezuela. Keluarga anak-anak itu menjadi pengangguran dan tidak dapat membeli makanan selama pandemi.

"Setiap hari kami menerima anak yang kekurangan gizi," kata dr. Fransisco Nieto yang bekerja di rumah sakit di negara bagian Tachira.

Nieto mengenang, pada Mei setelah dua bulan karantina di Venezuela, ada anak kembar berusia 18 bulan tiba di rumah sakitnya dengan tubuh kembung karena kekurangan gizi.

Ibu dari anak-anak itu menganggur dan mereka tinggal hanya berdua dengan ibunya. Sang ibu mengatakan kepada dokter bahwa dia hanya bisa memberi minuman sederhana yang dibuat dari pisang rebus.

Ketika dokter mencoba mengobati anak-anaknya, salah satu dari mereka menderita "sindrom refeeding" yaitu makanan dapat menyebabkan kelainan metabolisme. Lalu delapan hari kemudian, dia meninggal.

Nieto mengatakan meski kelompok sukarelawan telah memberikan bantuan, tapi upaya mereka terhalang oleh karantina Covid-19.

 

China-India Sepakat Tarik Pasukan dari Perbatasan Himalaya

China dan India sepakat menarik pasukan masing-masing di sebagian perbatasan yang disengketakan kedua negara di dekat Himalaya.

Langkah itu dilakukan China dan India setelah militer kedua negara sempat terlibat bentrok di perbatasan hingga menewaskan puluhan pasukan pada Juni lalu.

"Situasi di lapangan terus mereda dan tensi juga menurun. Pasukan garis depan di perbatasan dari kedua negara (China-India) telah ditarik di sebagian besar wilayah," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbien dalam jumpa pers di Beijing pada Selasa (28/7).

Wang mengatakan China dan India tengah mempersiapkan perundingan putaran kelima yang dipimpin langsung panglima militer kedua negara. Namun, ia tak menyebutkan kapan perundingan itu akan berlangsung.

Dikutip AFP, perundingan pertama berlangsung tak lama setelah bentrokan antara militer India-China terjadi di Lembah Galwan, daerah Aksai-Chin-Ladakh, pada 15 Juni lalu.

India dan China terus mengerahkan pasukan dan alat utama sistem pertahanan (alutsista) ke perbatasan meski kedua negara sepakat menyelesaikan ketegangan dengan jalur diplomatik.

India mengerahkan ribuan pasukan dan meningkatkan intensitas penerbangan militer ke wilayah Tibet dan Ladakh.

Sentimen anti-China juga kian melonjak di India hingga memicu protes yang mengajak memboikot produk China.

Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi juga telah memblokir puluhan aplikasi China termasuk TikTok dan WeChat karena masalah keamanan dan privasi nasional.

 

 

AS Batasi Ekspor Teknologi China, Bisnis Huawei India Jadi Korban

Di tengah seruan pemboikotan terhadap teknologi China, Huawei memangkas target pendapatan di India hingga 50% pada tahun ini. Bahkan, perusahaan telekomunikasi itu memutuskan merumahkan lebih dari separuh stafnya di negara tersebut.

Informasi itu terbit dalam laporan dari Economic Times (ET), seperti yang Warta Ekonomi kutip pada Selasa (28/7/2020). Sekadar informai, menurut surat kabar itu, PHK berdampak terhadap 60%-70% staf Huawei di India.

Namun, unit bisnis India Huawei membantah adanya PHK di India. “Laporan yang menyebutkan PHK lebih dari setengah staf Huawei di India tak benar,” kata perusahaan.

Asal tahu saja, sebelumnya Huawei menargetkan pendapatan senilai 700 juta-800 juta dolar AS di India; berdasarkan data ET.

Namun, laporan terbaru ET menyebut, “(kini, red) perusahaan menarfetkan pendapatan 350 juta-500 juta dolar AS selama 2020.”

Unit bisnis Huawei di India tak membenarkan kabar tersebut dan memilih menjawab soal upayanya dalam memenuhi kebutuhan konsumen India.

“Operasi dan sumber daya kami di India, yang mendapat dukungan dari talenta lokal tangguh, bertujuan memenuhi segala kebutuhan pelanggan,” katanya.

Sekadar informasi, laporan ET beredar di tengah meningkatnya sentimen ‘anti-China’ di India; menyusul tewasnya 20 tentara India di tengah konflik perbatasan dengan pasukan China bulan lalu.

Tak cuma itu, India bahkan meminta dua operator negara untuk memanfaatkan peralatan telekomunikasi buatan lokal daripada rakitan China.

 

 

Inggris kepada China: Kami akan awasi ketat pemilu Hong Kong

 Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengatakan kepada diplomat senior China Wang Yi bahwa Inggris akan mengawasi ketat pemilu Dewan Legislatif Hong Kong pada September mendatang.

Raab juga menekankan bahwa China perlu membangun kembali kepercayaan dalam komunitas global.

"Menteri luar negeri mengatakan bahwa Inggris secara ketat akan mengawasi pemilihan Dewan Legislatif Hong Kong pada September, dan mendesak China agar menjunjung tinggi kewajiban internasional mereka menyangkut HAM di Xinjiang," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Inggris usai percakapan antara kedua menlu itu melalui telepon.

"Ia menggarisbawahi pentingnya China membangun kembali kepercayaan dalam komunitas internasional dengan memenuhi tanggung jawab internasional mereka."

 

 

China Putus Sementara Ekstradisi Hong Kong dan Negara Barat

Pemerintah China menangguhkan sementara perjanjian ekstradisi antara wilayah otonomi khusus Hong Kong, dengan sejumlah negara Barat seperti Kanada, Australia, dan Inggris.

Langkah tersebut diambil China sebagai balasan setelah ketiga negara tersebut menangguhkan perjanjian ekstradisi dengan Hong Kong sebagai bentuk protes terhadap Beijing yang baru menerapkan Undang-Undang Keamanan Nasional di wilayah otonomi tersebut.

"Tindakan yang salah dari Kanada, Australia, dan Inggris dalam mempolitisasi kerja sama peradilan dengan Hong Kong telah secara serius melukai dasar kerja sama peradilan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, dalam jumpa pers di Beijing pada Selasa (28/7).

Dikutip AFP, Wang menuduh negara Barat telah memanfaatkan UU Keamanan Nasional Hong Kong sebagai "alasan untuk secara sepihak menangguhkan perjanjian ekstradisi" dengan Hong Kong.

"Karena itu, China telah memutuskan menangguhkan perjanjian ekstradisi antara Hong Kong, Kanada, Australia, Inggris, serta perjanjian kerja sama peradilan pidana," ujar Wang menambahkan.

Kanada, Inggris, dan Australia merupakan bagian dari aliansi intelijen "Five Eyes". Dua anggota lainnya yaitu Selandia Baru, yang baru memutuskan menangguhkan perjanjian ekstradisi dengan Hong Kong hari ini, dan Amerika Serikat, yang tengah mempertimbangkan langkah serupa.

Kelima negara tersebut vokal menentang penerapan Undang-Undang Keamanan Nasional Hong Kong baru gagasan China yang dianggap kian mengikis kebebasan dan demokrasi di wilayah tersebut. UU itu berlaku pada 1 Juli lalu.

Kelompok penentang menganggap hukum baru China itu tanda erosi kebebasan sipil dan hak asasi manusia Hong Kong.

Beleid Itu memberikan kewenangan lebih bagi China untuk campur tangan terhadap urusan Hong Kong dan dinilai sejumlah pihak pengkritik memperluas kontrol Beijing terhadap kebebasan wilayah otonomi itu.

Selain itu, UU itu juga mengizinkan China mencampuri proses hukum Hong Kong, terutama yang dinilai mengancam keamanan nasional Negeri Tirai Bambu.

UU Keamanan Nasional Hong Kong bisa memberikan kewenangan terhadap pihak berwenang China untuk menindak secara hukum setiap upaya pemisahan diri (separatis), campur tangan asing, terorisme, dan semua kegiatan hasutan yang bertujuan menggulingkan pemerintah pusat dan segala gangguan eksternal di wilayah otonomi itu.

Hal itu memberikan peluang suatu pelanggaran yang dilakukan warga atau entitas di Hong Kong untuk diproses hukum di China.

 

 

Brazil laporkan penambahan 40.816 kasus dan 921 kematian corona

Brazil mencatat 40.816 kasus tambahan virus corona dan 921 kematian dalam 24 jam terakhir, menurut kementerian kesehatan pada Selasa (28/7).

Berdasarkan data kementerian, hingga kini terdaftar hampir 2,5 juta kasus COVID-19 dengan total 88.539 kematian sejak pandemi melanda Brazil.

Brazil menjadi negara kedua di dunia, setelah Amerika Serikat, yang paling terguncang oleh pandemi COVID-19.

Hingga saat ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum mengumumkan satu obat atau vaksin ampuh untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh corona, virus yang dilaporkan pertama kali muncul di Kota Wuhan, China, pada akhir tahun lalu.

WHO juga berkomitmen untuk berjuang menjadikan vaksin corona sebagai komoditas publik yang bisa diakses semua kalangan yang membutuhkan.

 

Latihan Perang, Pasukan Iran Hujani Rudal Kapal Tiruan AS

Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) menembakkan rudal ke kapal induk tiruan Amerika Serikat, USS Nimitz saat latihan perang di Selat Hormuz.

Latihan militer pada Selaa (28/7) itu dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS. Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia.

Latihan perang itu disiarkan di televisi pemerintah Iran. Tampak pasukan Angkatan Udara dan Angkatan Laut IRGC meluncurkan serangan di lepas pantai barat daya negara itu.

Speedboat melintasi air dalam formasi sebelum pasukan darat menembakkan meriam dan rudal dari helikopter. Rudal yang ditembakkan meninggalkan jejak asap sebelum muncul untuk menabrak sisi kapal perang palsu AS.

"Apa yang ditunjukkan dalam latihan ini, baik di level Angkatan Udara maupun Angkatan Laut, semuanya ofensif," kata komandan IRGC Mayor Jenderal Hossein Salami seperti dikutip dari AFP.

Latihan perang itu terjadi beberapa hari setelah Iran menuduh jet tempur AS melecehkan pesawat komersial Teheran Mahan Air di atas langit Suriah.

Setidaknya empat penumpang pesawat Mahan Air terluka dalam insiden Kamis lalu setelah sang pilot mengambil tindakan darurat untuk menghindari pesawat tempur.

Ketegangan dua musuh bebuyutan itu meningkat sejak AS di bawah komando Donald Trump menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir 2018 dan kembali menerapkan sanksi pada Iran.

Mereka nyaris dua kali perang sejak Juni 2019, diawali aksi IRGC menembak jatuh pesawat tak berawak AS di Teluk.

Tensi kian memanas pada Januari lalu akibat kematian perwira tinggi militer Iran Mayor Jenderal Qasem Soleimani. Dia tewas dalam serangan drone yang diluncurkan AS.

Konfrontasi terbaru terjadi pada pertengahan April, saat itu AS menuduh 11 kapal IRGC melakukan pendekatan berbahaya dan melecehkan kapal perang mereka di Teluk Persia.

 

 

Kasus Corona Menyebar, Vietnam Lockdown Kota Da Nang

Pemerintah Vietnam memutuskan menutup (lockdown) kota ketiga terbesar di negara itu, Da Nang, selama dua pekan setelah terjadi penularan virus corona (Covid-19) terhadap 15 orang.

Seperti dilansir Associated Press, Selasa (28/7), kasus infeksi Covid-19 di Da Nang dilaporkan terjadi secara lokal. Penyebaran itu terdeteksi setelah selama tiga bulan tidak ada penambahan kasus di Vietnam.

Menurut data, 15 orang yang positif Covid-19 adalah pasien dan petugas kesehatan di rumah sakit Da Nang.

Pemerintah Vietnam menutup sementara seluruh tempat usaha di Da Nang dan menerapkan kebijakan jaga jarak.

Pemerintah Vietnam memutuskan menghentikan layanan transportasi umum dari dan menuju Da Nang. Para wisatawan lokal yang sedang berlibur di kawasan pantai Da Nang juga memutuskan mempersingkat liburan mereka.

Kebijakan lockdown itu sangat berdampak terhadap industri pariwisata setempat, yang mencoba bangkit dari pandemi virus corona yang semakin menurun sejak April lalu.

"Hotel kami sekarang sepi. Namun, kami membantu para tamu untuk meninggalkan kota selagi masih ada kesempatan," kata seorang pegawai hotel di Da Nang.

Akan tetapi, pemerintah setempat memperkirakan ada ribuan turis yang terdampar di Da Nang karena tidak sempat keluar dari kota itu sebelum lockdown diterapkan. Sebab kota itu dilaporkan dipadati sekitar 50 ribu turis lokal.

"Saya justru tidak mau terburu-buru dan malah berdesakan di bandara untuk meninggalkan kota ini. Akhirnya kami terjebak di sini," kata seorang turis lokal, Lien Nguyen, yang berlibur bersama keluarganya.

Vietnam tidak mencatatkan kasus baru infeksi Covid-19 sejak April lalu. Dengan tambahan kasus baru, jumlah pasien Covid-19 di negara itu bertambah menjadi 431 orang tanpa ada satupun yang meninggal.

 

China Tolak Keberatan Australia soal Laut China Selatan

Pemerintah China menyatakan tetap berkeras bahwa mereka berdaulat dan mempunyai hak maritim atas wilayah Laut China Selatan dan tidak mengakui deklarasi penolakan atas klaim Negeri Tirai Bambu yang diajukan Australia kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Sikap Australia mengabaikan fakta dan melanggar hukum internasional serta aturan dasar hubungan internasional antarnegara. China dengan tegas menolak deklarasi itu," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, dalam jumpa pers di Beijing, seperti dikutip dari Associated Press, Selasa (28/7).

"Kedaulatan wilayah dan hak maritim serta kepentingan China di Laut China Selatan terbentuk dari sejarah panjang dan dipertahankan oleh pemerintah China, sesuai dengan hukum internasional termasuk Konvensi Hukum Laut PBB. Hal itu tidak akan berubah akibat tuduhan yang tidak berdasar dari sejumlah negara," ujar Wang.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis, Australia mengatakan tak ada dasar hukum terkait klaim China di sana, termasuk pembangunan pulau buatan dan terumbu karang.

"Australia menolak klaim China atas hak bersejarah atau kepentingan maritim di Laut China Selatan. Tidak ada dasar hukum bagi China menggambar garis pangkal lurus yang menghubungkan titik-titik terluar laut atau pulau-pulau di Laut China Selatan," bunyi pernyataan itu, seperti yang dikutip dari AFP pada 25 Juli lalu.

Deklarasi itu muncul setelah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo, menyatakan usaha Beijing menguasai wilayah dan sumber daya di Laut China Selatan sebagai ilegal, secara eksplisit mendukung klaim teritorial negara-negara Asia Tenggara terhadap China.

China mengklaim hampir semua Laut China Selatan berdasarkan apa yang disebut garis sembilan batang, garis batas yang samar dari peta yang berasal dari tahun 1940-an.

Australia dan China terlibat perselisihan, terutama setelah Negeri Kanguru mendesak proses penyelidikan terhadap penanganan wabah virus corona (Covid-19). China menanggapinya dengan menetapkan tarif terhadap impor gandum dari Australia.

China juga meminta calon mahasiswa mereka mencari peluang studi di negara selain Australia. Padahal, jumlah mahasiswa China yang kuliah di negeri Kanguru cukup besar.

Selain itu, China meminta kepada seluruh warganya di Australia untuk waspada terhadap ancaman sikap rasialisme.

 

Respon UU Keamanan China,

Jerman Hentikan Ekspor  Senjata ke Hong Kong

 Jerman mengatakan, sebagai bagian dari reaksi Uni Eropa (UE) terhadap undang-undang keamanan nasional China untuk Hong Kong, mereka akan berhenti mengekspor senjata ke negara itu. Jerman juga mengatakan akan berhenti mengekspor barang multifungsi ke Hong Kong.
Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas mengatakan Eropa harus berbicara dengan satu suara jika ingin menegakkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip dalam hubungan dengan kekuatan seperti China.
"Mengenai Jerman, kami sudah mulai membuat langkah pertama. Bagi saya, ini juga berarti bahwa kami segera menghentikan ekspor persenjataan dan produk penggunaan ganda sensitif ke Hong Kong, dan Hong Kong sendiri akan diperlakukan dalam konteks ini sebagai bagian dari China," katanya, seperti dilansir Sputnik pada Rabu (29/7/2020).

Undang-undang keamanan nasional untuk Hong Kong, yang disetujui oleh parlemen China, mulai berlaku 30 Juni.
Undang-undang menetapkan aturan untuk mencegah, menghentikan dan menghukum empat jenis kejahatan yang dilakukan di Hong Kong, termasuk kegiatan separatis, upaya untuk melemahkan kekuatan negara, kegiatan teroris, dan berkolusi dengan negara-negara asing atau pasukan yang berlokasi di luar negeri untuk membahayakan keamanan nasional.

Penerapan undang-undang ini menimbulkan ketidakpuasan oleh kelompok anti-pemerintah di Hong Kong dan sejumlah pejabat Barat, yang melihat di dalamnya ada keinginan Beijing untuk memperketat kendali atas wilayah tersebut.

 

 

Rusia Mengaku Tidak Tertarik Kembali Bergabung dengan G7

 Rusia mengaku tidak memiliki rencana untuk bergabung kembali dengan Kelompok Tujuh atau G7. Salah satu alasannya adalah karena Rusia menilai G7 tidak terlalu efektif dan terlalu eksklusif.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan pihaknya menilai Kelompok 20 atau G20, di mana Rusia bergabung di dalamnya, lebih efektif dibandingkan dengan G7 karena melibatkan lebih banyak negara.
"G20 mungkin lebih baik dalam memenuhi realitas ekonomi modern dari sudut pandang pusat-pusat pembangunan ekonomi di dunia," kata Peskov dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Xinhua pada Selasa (28/7/2020).

Menurut Peskov, G7 tidak memiliki signifikansi global karena tidak melibatkan China, India, Brasil, Turki dan negara-negara lain di dalamnya.

G7 sendiri awalnya bernama G8 ketika Rusia masih menjadi anggotanya. Kelompok ini beranggotakan Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang dan Amerika Serikat (AS).

Rusia didepak dari G8 setelah anggota lain dari kelompok itu menuding Rusia telah menganeksasi wilayah Crimea dari Ukraina pada tahun 2014 lalu.

 

 

Tang Juan, Tentara China yang Dikejar-kejar FBI Diadili di AS

 Tang Juan, 37, ilmuwan perempuan China yang sebelumnya dikejar-kejar FBI hingga akhirnya ditangkap, telah dihadirkan di pengadilan federal Amerika Serikat (AS) untuk pertama kali hari Senin waktu setempat.

Departemen Kehakiman Amerika Serikatmenyatakan perempuan itu merupakan anggota Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China yang menyamar sebagai peneliti selama bekerja di Amerika.

Tang Juan dituduh melakukan penipuan visa dengan menyembunyikan ikatan militernya dengan China untuk bekerja di AS. Dia mulai diadili melalui video. Mengutip laporan AP, Selasa (28/7/2020), Hakim Deborah Barnes memerintahkan Tang Juan untuk tetap berada dalam tahanan. Alasannya, dia berisiko melakukan penerbangan keluar dari AS.

Namun, pengacaranya telah menyiapkan argumen untuk mengizinkan pembebasannya dengan jaminan.
Departemen Kehakiman Amerika pada pekan lalu mengumumkan tuduhan terhadap Tang Juan dan tiga ilmuwan China lainnya yang tinggal di AS. Menurut departemen tersebut, keempat warga China itu telah berbohong tentang status mereka sebagai anggota Tentara Pembebasan Rakyat China. Semua dikenai tuduhan penipuan visa.

Pihak jaksa mengatakan Tang Juan berbohong tentang ikatan militernya dalam aplikasi visa Oktober lalu ketika dia bersiap untuk bekerja di University of California, Davis dan berbohong lagi selama wawancara atau interogasi FBI pada Juni lalu.
Menurut jaksa, para agen FBI menemukan foto-foto Tang Juan yang mengenakan seragam militer. Para agen juga mengulas artikel-artikel di China yang mengidentifikasi afiliasi militernya. Kantor pembela untuk tersangka yang diberikan pemerintah federal di Sacramento tidak segera menanggapi permintaan komentar yang diajukan via email.

Jaksa mengatakan Tang Juan lari dan mencari perlindungan di Konsulat China di San Francisco ketika dikejar-kejar para agen FBI. Dia mulai diburu para agen setelah interogasi pada Juni lalu.

Perwira militer AS menangkapnya pada hari Jumat dan membawanya ke Penjara Sacramento County.

University of California mengatakan Tang Juan meninggalkan pekerjaannya pada Juni sebagai peneliti tamu di Departemen Onkologi Radiasi. Penangkapan Tang Juan dan tiga warga China lainnya memanaskan perang diplomatik antara Beijing dan Washington.

AS telah menutup paksa Konsulat Jenderal China di Houston dengan alasan kantor diplomatik itu sebagai sarang spionase termasuk kegiatan pencurian riset Amerika.

China kemudian membalas dengan menutup paksa Konsulat Jenderal AS di Chengdu. Namun, Beijing sejauh ini belum berkomentar atas penangkapan empat warganya oleh pihak berwenang Amerika.