• Blog
  • News Forex, Index&Komoditi ( Jum’at,  30 April 2021 )

News Forex, Index&Komoditi ( Jum’at,  30 April 2021 )

News Forex, Index&Komoditi

( Jum’at,  30 April 2021 )

Dolar bangkit dari terendah 9-minggu seiring kenaikan imbal hasil

Dolar bangkit dari level terendah sembilan minggu pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), terangkat oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS setelah pemerintah melaporkan pertumbuhan ekonomi yang kuat untuk kuartal pertama dan peningkatan klaim pengangguran baru di minggu terakhir.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun AS naik dua basis poin pada Kamis (29/4/2021), menjadi 1,639 persen, didorong oleh laporan ekonomi yang positif.

Produk domestik bruto meningkat pada tingkat tahunan 6,4 persen di kuartal pertama, data menunjukkan, pertumbuhan tercepat kedua sejak kuartal ketiga 2003. Pertumbuhan kuartal pertama didukung oleh belanja konsumen, yang melonjak 10,7 persen dibandingkan dengan laju 2,3 persen di kuartal keempat.

Sebuah laporan terpisah pada Kamis (29/4/2021) menunjukkan klaim awal AS untuk tunjangan pengangguran turun 13.000 menjadi 553.000 yang disesuaikan secara musiman selama pekan yang berakhir 24 April.

“Tentu saja, bagian besar dari pergerakan dolar adalah kenaikan imbal hasil hari ini. Ada korelasi yang cukup erat antara valas dan suku bunga,” kata Erik Nelson, ahli strategi makro di Wells Fargo Securities di New York.

“Semua orang puas dengan pergerakan suku bunga yang lebih rendah dan dolar hancur pada April. Sekarang imbal hasil naik dan sedikit stabil, kita akan melihat beberapa penguatan dolar,” tambahnya.

Pertumbuhan ekonomi yang kuat biasanya meningkatkan nilai dolar: pertumbuhan yang lebih tinggi mendorong lebih banyak pengeluaran, yang pada gilirannya meningkatkan harga-harga. Ketika harga-harga naik, Federal Reserve secara historis melakukan intervensi dengan menaikkan suku bunga untuk mencegah inflasi.

Dalam perdagangan sore, indeks dolar, ukuran nilai greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,1 persen menjadi 90,596. Sebelumnya, indeks mencapai level terendah sejak 26 Februari. Penurunan sebelumnya dalam dolar juga mendorong euro ke level tertinggi sembilan minggu, meskipun mata uang tunggal tersebut telah stabil menjadi sekitar 1,2116 dolar, turun 0,1 persen.

Dolar pada Rabu (28/4/2021) turun setelah Ketua Fed Jerome Powell meredam spekulasi tentang pengurangan awal program pembelian obligasi bank sentral AS, mengatakan lapangan kerja masih jauh dari target.

Dovish The Fed sangat kontras dengan bank sentral Kanada (BoC), yang telah mulai mengurangi pembelian asetnya, mengirim dolar AS meluncur ke palung tiga tahun terhadap dolar Kanada. Greenback terakhir turun 0,2 persen terhadap mata uang Kanada pada 1,2281 dolar Kanada.

Dolar AS juga berjuang semalam setelah dorongan Presiden Joe Biden untuk mendapatkan 1,8 triliun dolar AS lagi dalam pengeluaran yang berisiko memperluas anggaran AS dan defisit perdagangan, sebuah tekanan untuk greenback.

Namun yen berjuang melawan dolar, masih terguncang setelah bank sentral Jepang awal pekan ini mengatakan inflasi akan gagal mencapai target utama 2,0 persen hingga awal 2023.

Dolar terakhir naik 0,3 perdsen versus yen di 108,88 yen.

Di pasar mata uang kripto, ethereum, mata uang digital terbesar kedua dalam hal kapitalisasi pasar, mencapai rekor tertinggi lain pada Kamis (29/4/2021) di 2.800,89 dolar. Terakhir turun 0,7 persen pada 2.732,09 dolar.

Wall Street berakhir menguat, S&P 500 ditutup di rekor tertinggi

Saham-saham di Wall Street lebih tinggi pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), berbalik dari kerugian sehari sebelumnya didorong oleh laporan keuangan perusahaan yang kuat dan data ekonomi optimistis, dengan indeks S&P 500 terangkat ke rekor penutupan tertinggi.

Indeks Dow Jones Industrial Average meningkat 239,98 poin atau 0,71 persen, menjadi ditutup di 34.060,36 poin. Indeks S&P 500 bertambah 28,29 poin atau 0,68 persen, menjadi menetap di 4.211,47 poin. Indeks Komposit Nasdaq terkerek 31,52 poin atau 0,22 persen, menjadi berakhir di 14.082,55.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor jasa komunikasi melonjak 2,75 persen, memimpin kenaikan. Namun, sektor perawatan kesehatan dan teknologi mengalami penurunan.

Di sisi korporat, saham Facebook melambung 7,3 persen itu ke level tertinggi sepanjang masa setelah jaringan sosial terbesar di dunia mengalahkan perkiraan pendapatan dan laba kuartalannya pada Rabu (28/4/2021). Itu merupakan kenaikan satu hari terbesar dalam lima bulan dan dengan mudah memberikan kontribusi positif terbesar untuk S&P 500 dan Nasdaq.

Apple Inc merosot 0,07 persen meskipun pada Rabu (28/4/2021) sore melaporkan penjualan dan laba melampaui perkiraan Wall Street dipicu penjualan iPhone dan Mac yang kuat. Perusahaan mengumumkan hasil keuangan untuk kuartal fiskal kuartal 2021 dengan rekor pendapatan sebesar 89,6 miliar dolar AS, naik 54 persen dari tahun ke tahun.

“Investor benar-benar mencari hasil yang sangat besar, dan juga panduan yang besar ketika mereka melihat ke depan untuk kuartal yang akan datang,” kata Greg Bassuk, kepala eksekutif AXS Investments. "Kami yakin banyak optimisme telah dimasukkan ke dalam pasar, dan kami memperingatkan investor untuk memperkirakan volatilitas yang signifikan."

Ekonomi AS tumbuh pada tingkat tahunan 6,4 persen pada kuartal pertama 2021, Departemen Perdagangan AS melaporkan Kamis (29/4/2021).

"Peningkatan PDB (produk domestik bruto) kuartal pertama mencerminkan pemulihan ekonomi yang berkelanjutan, pembukaan kembali perusahaan, dan tanggapan pemerintah yang berkelanjutan terkait dengan pandemi COVID-19," kata Biro Analisis Ekonomi departemen itu dalam perkiraan "lanjutan".

Klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur PHK, tercatat 553.000 dalam pekan yang berakhir 24 April, turun 13.000 dari level revisi pekan sebelumnya, kata Departemen Tenaga Kerja pada Kamis (29/4/2021). Angka tersebut lebih tinggi dari estimasi 528.000 yang dikeluarkan oleh Dow Jones.

Federal Reserve AS pada Rabu (28/4/2021) mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah pada level rekor terendah mendekati nol. The Fed juga mengakui bahwa inflasi AS telah meningkat, tetapi mengulangi hal ini "yang sebagian besar" mencerminkan "faktor peralihan."

Jerome Powell, dalam konferensi pers Ketua Fed, mengatakan bahwa pemulihan ekonomi terjadi lebih cepat dari yang diharapkan, tetapi mengakui ketidakseimbangan. Dia mengatakan bahwa "ini belum waktunya" untuk berbicara tentang pengurangan program pembelian aset Fed, karena akan "membutuhkan waktu sebelum kita melihat kemajuan substansial lebih lanjut" menuju tujuan lapangan pekerjaan dan inflasi bank sentral.

The Fed punya outlook cerah soal ekonomi AS, namun tak akan ubah kebijakan

Bank sentral AS, The Federal Reserve, pada Rabu (28/4/2021) memiliki outlook yang cerah tentang pemulihan ekonomi AS dan perang negara melawan virus corona.

Akan tetapi, The Fed mengatakan masih terlalu dini untuk mempertimbangkan menarik kembali dukungan daruratnya karena begitu banyak pekerja yang masih menganggur akibat pandemi.

"Ini belum waktunya untuk mulai membahas setiap perubahan kebijakan," jelas Gubernur Fed Jerome Powell kepada wartawan, setelah merilis pernyataan kebijakan di mana bank sentral AS mempertahankan suku bunga dan program pembelian obligasi tidak berubah.

Melansir Reuters, meskipun tingkat inflasi akan naik, Powell mengatakan kenaikan harga yang akan datang hampir pasti akan terjadi begitu saja, dan tidak menimbulkan masalah berkelanjutan yang akan memaksa Fed untuk mulai menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diharapkan.

Saat ini, bank sentral ingin menjaga kebijakan moneter tetap longgar di masa mendatang bahkan ketika melihat pemulihan ekonomi semakin cepat dan risiko pandemi mulai mereda.

"Di tengah kemajuan dalam vaksinasi dan dukungan kebijakan yang kuat, indikator aktivitas ekonomi dan lapangan kerja telah menguat," kata komite pengaturan kebijakan Fed. Disebutkan pula, perbaikan juga terlihat pada industri-industri yang paling terpukul oleh pandemi.

Reuters juga memberitakan, The Fed kembali mengulangi pernyataan bahwa jalur ekonomi akan sangat bergantung pada jalannya virus. Meski demikian, pandangan The Fed terkait krisis kesehatan yang sedang berlangsung saat ini lebih positif daripada yang terjadi bulan lalu.

Dalam pernyataannya setelah pertemuan kebijakan 16-17 Maret, The Fed menggambarkan virus corona sebagai risiko besar terhadap prospek ekonomi. Pada hari Rabu (28/4/2021), dikatakan risiko terhadap prospek ekonomi karena virus tak berubah.

Ditambah dengan bahasa yang kuat tentang prospek ekonomi, para analis mengatakan nada The Fed menyarankan setidaknya sebuah langkah kecil menuju permulaan pembahasan tentang kapan harus menyapih ekonomi dari program era krisis.

"Ini sangat mengarah kepada ekonomi yang lebih kuat yang pada akhirnya berpotensi untuk menyetujui langkah penurunan dan kenaikan suku bunga," kata Steven Violin, manajer portofolio untuk Perusahaan Manajemen Investasi F.L.Putnam di Wellesley, Massachusetts.

Namun terlepas dari adanya bukti perbaikan, The Fed tidak mengubah daftar persyaratan yang ditetapkan pada Desember lalu, yang harus dipenuhi sebelum mempertimbangkan untuk menarik kembali dukungan yang diberlakukan tahun lalu untuk menahan kejatuhan ekonomi akibat pandemi.

Persyaratan itu termasuk kemajuan substansial lebih lanjut menuju sasaran inflasi dan lapangan kerja sebelum menarik mundur dari kebijakan pembelian obligasi pemerintah AS dan sekuritas berbasis mortgage senilai US$ 120 miliar setiap bulan.

Di sisi lain, perluasan program vaksinasi Covid-19 telah berkontribusi pada ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang cepat tahun ini, meskipun The Fed mengakui bahwa prospek ekonomi akan bergantung pada kemajuan berkelanjutan dalam mengelola pandemi.

Menlu Rusia: Hubungan AS-Rusia lebih buruk daripada selama Perang Dingin

Diplomat top Rusia mengatakan pada Rabu (28/4/2021) bahwa hubungan Rusia dengan Amerika Serikat saat ini lebih buruk daripada selama masa Perang Dingin karena kurangnya rasa saling menghormati.

Melansir AP, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan Moskow siap untuk menormalisasi hubungan dengan Washington. Akan tetapi, AS harus berhenti bersikap seperti negara berdaulat sambil menggalang sekutunya melawan Rusia dan China.

Lavrov mengatakan, jika AS menghindari dialog yang saling menghormati atas dasar keseimbangan kepentingan, maka hubungan kedua negara akan berada dalam kondisi Perang Dingin atau lebih buruk.

"Selama Perang Dingin, ketegangan meningkat tinggi, dan situasi krisis berisiko sering muncul, tetapi ada juga rasa saling menghormati," kata Lavrov dalam wawancara televisi pemerintah Rusia. “Saya rasa sepertinya ada defisit sekarang.”

AP memberitakan, pada awal bulan ini, pemerintahan Biden menampar Rusia dengan memberlakukan sanksi karena ikut campur dalam pemilihan presiden AS 2020 dan karena keterlibatan dalam peretasan SolarWind terhadap badan-badan federal. Kegiatan itu sudah dibantah oleh Moskow.

Selain itu, AS juga memerintahkan 10 diplomat Rusia diusir, menargetkan puluhan perusahaan dan orang, serta memberlakukan pembatasan baru pada kemampuan Rusia untuk meminjam uang.

Saat memerintahkan sanksi, Presiden AS Joe Biden juga menyerukan untuk meredakan ketegangan dan membuka pintu untuk kerja sama dengan Rusia di bidang-bidang tertentu.

Rusia dengan cepat membalas dengan memerintahkan 10 diplomat AS untuk hengkang dari negaranya, memasukkan ke dalam daftar hitam delapan pejabat AS dan mantan pejabat AS, dan memperketat persyaratan untuk operasi Kedutaan Besar AS.

Sebagai bagian dari pembatasan, Rusia melarang Kedutaan Besar AS dan konsulatnya mempekerjakan warga negara Rusia dan warga negara ketiga. Larangan serupa juga akan diterapkan ke negara lain yang ditetapkan sebagai negara "tidak ramah".

Lavrov mengatakan Rabu bahwa daftar negara-negara itu akan segera diterbitkan untuk meresmikan keputusan tersebut.

Berbicara dalam wawancara dengan pembawa acara TV pemerintah Rusia, Lavrov mencatat bahwa Moskow memiliki sikap "positif" terhadap proposal Biden untuk mengadakan pertemuan puncak dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Namun dia menambahkan, Rusia masih perlu menganalisis semua aspek inisiatif.

Lavrov mengatakan dia akan menghadiri pertemuan para diplomat top negara-negara Arktik di Islandia yang dijadwalkan akan berlangsung bulan depan dan akan siap untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken jika dia juga bergabung dalam pertemuan itu.

China menekan, Duterte tetap tidak akan tarik kapal perang dari Laut China Selatan

Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan, dia tidak akan menarik kapal Angkatan Laut dan Penjaga Pantai yang berpatroli di Laut China Selatan yang disengketakan.

Dia bersikeras kedaulatan negara atas perairan tersebut tidak bisa dinegosiasikan.

Ketegangan di Laut China Selatan, yang diklaim China hampir seluruhnya, meningkat ketika Beijing menolak untuk menarik kapal dari Zona Ekonomi Eksklusif Filipina dan Manila meningkatkan patroli maritim.

Duterte berada di bawah tekanan domestik yang semakin besar untuk mengambil tindakan yang lebih keras, tetapi enggan untuk menghadapi China atas masalah ini karena ia membina hubungan yang lebih dekat dengan raksasa ekonomi itu.

Ia mengatakan pada Rabu (28 April) malam, sementara Filipina berutang budi kepada "teman baiknya" China untuk banyak hal, termasuk vaksin COVID-19 gratis, klaim negaranya atas Laut China Selatan "tidak bisa ditawar".

"Saya akan memberi tahu China, kami tidak ingin masalah, kami tidak ingin perang. Tetapi, jika Anda menyuruh kami pergi,  (jawabannya) tidak," tegas Duterte, seperti dikutip Channel News Asia.

"Ada hal-hal yang sebenarnya tidak bisa dikompromikan, seperti kami mundur. Ini sulit. Saya berharap, mereka mengerti, tapi saya memiliki kepentingan negara saya juga untuk melindungi," katanya.

Penjaga Pantai Filipina gelar latihan

Pernyataan Duterte muncul setelah Kementerian Pertahanan China mengatakan: "China tidak memiliki urusan untuk memberi tahu Filipina apa yang bisa dan tidak bisa kami lakukan di perairan kami sendiri".

Penjaga Pantai Filipina sedang melakukan latihan di dekat Pulau Thitu dan Scarborough Shoal, serta Pulau Batanes di bagian Utara dan Selatan serta Timur negara itu.

Scarborough, salah satu tempat memancing paling kaya ikan di kawasan itu, telah lama menjadi titik nyala antara Manila dan Beijing.

Menanggapi latihan tersebut, Kementerian Luar Negeri China menyatakan pada Senin (26 April), Filipina harus "menghentikan tindakan yang memperumit situasi dan meningkatkan perselisihan".

Dalam beberapa pekan terakhir, Filipina telah meningkatkan "patroli kedaulatan" yang melibatkan Angkatan Laut, Penjaga Pantai, dan Departemen Perikanan di Kepulauan Spratly, kepulauan yang diperebutkan oleh beberapa negara.

China kembali kritik keputusan Jepang yang membuang limbah radioaktif ke laut

China kembali melayangkan kritik keras kepada Jepang terkait kebijakan pembuangan limbah air radioaktif dari PLTN Fukushima yang dianggap berbahaya bagi lingkungan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, pada hari Rabu (28/4) menyampaikan kritik kerasnya dengan menyebut tindakan tersebut sangat tidak bertanggung jawab.

Zhao jadi salah satu pejabat China yang cukup lantang menyuarakan protesnya di media sosial. Pemerintah Jepang bahkan sempat mengkritik cuitan Zhao di media sosial Twitter.

Kritik Jepang kembali ditanggapi dengan keras oleh Zhao, menyebut Jepang munafik, tidak menerima kritik, dan tidak mempedulikan nasib negara tetangganya.

"Pihak Jepang harus mengakui tanggung jawabnya, memenuhi kewajiban internasionalnya dan mencabut keputusannya yang salah," ungkap Zhao dalam pengarahan hariannya, seperti dikutip AP.

Pada 26 April lalu, Zhao mengunggah gambar lukisan ikonik asal Jepang "The Great Wave off Kanagawa" dengan tambahan ilustrasi pelaut yang membuang limbah nuklir ke laut.

Cuitan Zhao mendapat kritik dari banyak pihak Jepang yang menganggap Zhao menghina kebudayaan dan adat Jepang.

“Beberapa pejabat Jepang telah berpura-pura tuli dan bodoh. Lalu mengapa mereka sangat marah dengan gambar ini?" balas Zhao.

Jepang segera alirkan limbah air radioaktif ke laut

Pemerintah Jepang pada 13 April lalu memutuskan untuk membuang air radioaktif yang diolah di PLTN Fukushima Daiichi ke laut. Keputusan ini baru diambil satu dekade setelah gempa bumi besar dan tsunami memicu tiga ledakan PLTN Fukushima pada Maret 2011 silam.

Air dalam jumlah besar terus dipompa ke dalam kompleks PLTN untuk mendinginkan bahan bakar yang meleleh, bercampur dengan hujan dan air tanah yang juga telah terkontaminasi.

Kyodo melaporkan, air kini tersimpan dalam tangki di lokasi PLTN Fukushima dengan kapasitas lebih dari 1,25 juta ton. Air diolah dengan menggunakan sistem pemrosesan cairan canggih atau ALPS.

Proses ini diyakini sanggup menghilangkan sebagian besar bahan radioaktif termasuk strontium dan cesium tetapi meninggalkan tritium, yang menimbulkan sedikit risiko bagi kesehatan manusia dalam konsentrasi rendah.

Operator PLTN Fukushima, Tokyo Electric Power Company Holdings Inc. yang mengawasi pasokan air tersebut memperkirakan, kapasitas penyimpanannya akan habis paling cepat pada musim gugur tahun depan.

Rencana tersebut juga telah mendapatkan dukungan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Direktur IAEA, Rafael Grossi mengatakan langkah tersebut masuk akal secara ilmiah dan sejalan dengan praktik standar dalam industri nuklir di seluruh dunia.

Ambisius, China Luncurkan Modul Inti Stasiun Antariksa Punya Sendiri

 China meluncurkan modul inti untuk stasiun antariksa permanen pertamanya yang akan menampung astronot dalam jangka panjang.
Modul Tianhe, atau "Harmoni Surgawi," meluncur ke luar angkasa dengan roket Long March 5B dari Pusat Peluncuran Wenchang di provinsi pulau selatan Hainan.
Peluncuran itu menandai kemajuan besar China untuk program eksplorasi luar angkasa.
China telah menorehkan serangkaian pencapaian besar dalam beberapa bulan terakhir.

Peluncuran tersebut memulai misi pertama dari 11 misi yang diperlukan untuk membangun dan menyediakan stasiun antariksa dan mengirim tiga orang awak pada akhir tahun depan.
Para astronot akan tinggal di stasiun antariksa itu selama enam bulan sekaligus.
Program luar angkasa China juga baru-baru ini membawa kembali sampel bulan terbaru pertama dalam lebih dari 40 tahun.

China juga berambisi mendaratkan wahana dan penjelajah di permukaan planet Mars akhir bulan depan.

Biden Sebut AS Ogah Berseteru dengan China dan Rusia

Presiden Joe Biden menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak ingin memiliki konflik dengan China dan Rusia.

Dalam pidato perdananya di hadapan Kongres usai menjabat pada 20 Januari lalu, Biden mengaku sudah menyampaikan sikap AS tersebut dalam perbincangan langsung dengan Presiden Xi Jinping dan Presiden Vladimir Putin.

Saat berbicara dengan Xi selama dua jam via telepon beberapa waktu lalu, Biden menegaskan bahwa, "[AS] menyambut baik persaingan dengan China, tetapi kami tidak mencari konflik."

Meski begitu, Biden menegaskan AS akan tetap membela kepentingan Negeri Paman Sam secara menyeluruh.

"Amerika akan berjuang menghentikan praktik perdagangan yang tidak adil dan melemahkan pekerja serta industri Amerika, seperti subsidi kepada perusahaan pelat merah hingga pencurian teknologi dan kekayaan intelektual Amerika," tutur Biden, Rabu (28/4).

"Saya juga mengatakan kepada Presiden Xi Jinping bahwa kami akan mempertahankan kehadiran militer yang kuat di Indo-Pasifik seperti yang kami lakukan dengan NATO di Eropa, bukan untuk memulai konflik tetapi justru untuk mencegahnya."

Dalam pidato itu, Biden turut membahas kedekatannya dengan Xi ketika keduanya sama-sama menjabat sebagai wakil presiden.

Ia juga mengatakan bahwa Xi yang menjadi salah satu pemimpin terkuat China selama bertahun-tahun telah memiliki rencana jelas dan tegas untuk masa depan Negeri Tirai Bambu.

"Dia sangat bersungguh-sungguh untuk menjadikan bangsanya paling signifikan dan berpengaruh di dunia," ucap Biden seperti dikutip AFP.

Meski begitu, relasi AS dan China masih tetap dingin. Ketegangan antara kedua negara juga meningkat tajam selama beberapa tahun terakhir.

Ketegangan meliputi berbagai hal, mulai dari saling tuding soal kemunculan pandemi virus corona, isu Hong Kong, Taiwan, tuduhan penindasan terhadap etnis minoritas Uighur di Xinjiang, hingga agresivitas China di Laut China Selatan.

Dalam pidato kali ini, Biden juga membahas hubungan AS dengan Rusia. Biden berharap relasi AS-Rusia tidak semakin buruk di era kepemimpinannya.

Namun, di tiga bulan pertama Biden memerintah, AS menjatuhkan sanksi baru kepada Rusia, terkait beberapa hal, termasuk dugaan intervensi Kremlin dalam pemilu 2020 lalu. Biden juga sempat membuat Kremlin geram dengan menganggap Putin sebagai seorang pembunuh.

Namun, di sisi lain, Biden juga telah mengajak Putin bertemu empat mata demi menjaga stabilitas hubungan kedua negara.

"Saya mengatakan dengan sangat jelas kepada Putin bahwa kami tidak akan menimbulkan eskalasi, tetapi tindakan mereka tetap memiliki konsekuensi," kata Biden.

AS Pulangkan Staf Kedubes Kabul karena Ancaman Keamanan

Amerika Serikat memerintahkan staf non-esensial di kedutaan besar mereka di Kabul, Afghanistan, untuk pergi dari negara itu karena peningkatan ancaman keamanan.

Melalui imbauan perjalanan, Kementerian Luar Negeri AS memerintahkan "pegawai pemerintah AS yang fungsinya dapat dilakukan di tempat lain untuk pergi dari kedutaan besar di Kabul."

Perintah itu dikeluarkan dua minggu setelah Presiden Joe Biden mengumumkan akan menarik pasukan AS keluar Afghanistan pada September mendatang.

Pelaksana tugas Duta Besar AS untuk Afghanistan, Ross Wilson, mengatakan bahwa Kemlu mengambil keputusan itu "sehubungan dengan meningkatnya kekerasan dan laporan ancaman di Kabul."

Namun, Wilson memastikan bahwa penarikan staf itu tidak berpengaruh pada operasional kedutaan.

"Personel yang sangat dibutuhkan untuk menangani masalah terkait penarikan pasukan AS dan pekerjaan penting yang kami lakukan lainnya untuk mendukung rakyat Afghanistan akan tetap bertugas," tulis Wilson di Twitter.

Awal bulan ini, Biden menyatakan akan menarik sebagian besar personel AS dari Afghanistan per 11 September, bertepatan dengan peringatan 20 tahun serangan teroris 9/11.

Saat ini, terdapat 2.500 pasukan AS di negara tersebut. Pemerintahan Biden akan mempertahankan sejumlah personel AS secara terbatas di Kabul terutama untuk menjaga kompleks kedubes.

Biden mengambil keputusan ini karena menganggap pasukan AS di Afghanistan sudah merampungkan tugas mereka.

Meski begitu, sejumlah kekhawatiran tetap muncul terkait risiko kekerasan yang akan meningkat setelah personel AS resmi keluar dari negara tersebut.

"Kelompok teroris dan pemberontak terus merencanakan dan melaksanakan serangan di Afghanistan," kata penasihat Kemlu AS seperti dikutip ˆ.

Dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat, utusan AS dalam dialog damai dengan Taliban, Khalilzad, mengatakan AS dapat memanfaatkan bantuan ratusan juta dolarnya selama ini untuk menekan Afghanistan dan Taliban.

Mereka berharap pemerintah Afghanistan dan Taliban mau memperbaiki penegakan hak asasi manusia, terutama terhadap kaum perempuan.

"Taliban mengatakan mereka tertarik untuk tidak menjadi paria," katanya kepada Senat.

"Kami telah mengatakan bahwa jika mereka benar-benar menginginkan bantuan AS, jika mereka menginginkan penerimaan internasional, mereka ingin mengakhiri status paria mereka, semua itu akan tergantung oleh cara mereka memperlakukan warga mereka sendiri, poin pertama dan terutama, terhadap kaum perempuan Afghanistan , anak-anak, dan minoritas."

Dia juga mengatakan bahwa jika Taliban merebut kekuasaan secara militer dari pemerintah Afghanistan, kelompok itu tak akan mendapatkan dukungan komunitas internasional.

"Mereka akan menghadapi isolasi, penentangan regional, sanksi, dan penghinaan internasional," kata Khalizad.

"Ada konsensus luar biasa di kawasan dan komunitas internasional yang menentang pengambilalihan militer oleh Taliban."

Amerika Kuras Uang USD18 Miliar buat Lindungi Diri dari Rudal Nuklir Iran dan Korut

 

Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) berencana untuk menghabiskan dana hampir USD18 miliar untuk mengembangkan, memproduksi dan mendukung teknologi pencegat baru untuk menghentikan masuknya rudal nuklir dari Korea Utara (Korut) atau Iran. Ini adalah pengadaan sistem alat pertahanan utama pertama dari pemerintah Presiden Joe Biden.

Tim yang dipimpin oleh Lockheed Martin dan Northrop Grumman di antara mereka akan menerima dana sebanyak USD13,1 miliar dalam fase pengembangan Next Generation Interceptor, menurut angka yang baru dirilis.

Persaingan keduanya akan mencapai puncaknya dalam proses seleksi 'pemenang-ambil-semua' setelah tinjauan desain kritis - kemungkinan pada tahun 2026 - yang mengarah ke pembangunan sebanyak 31 pencegat baru, termasuk 10 untuk pengujian.

Pencegat rudal ini dirancang untuk menghantam dan menghancurkan rudal yang masuk dari musuh seperti Korut atau Iran. Pencegat-pencegat itu akan dipasang pada rudal yang berbasis di Alaska. Masing-masing dari 31 pencegat diperkirakan menelan biaya sekitar USD498 juta.

Fase produksi diperkirakan menelan biaya USD2,3 miliar, dengan biaya dukungan jangka panjang sebesar USD2,3 miliar lagi, menurut perkiraan yang disiapkan oleh unit penilaian biaya independen Pentagon.

"Kami fokus pada fase pengembangan teknologi saat ini," kata juru bicara Badan Pertahanan Rudal Mark Wright dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Sydney Morning Herald, Rabu (28/4/2021).

Ia mengatakan badan tersebut bermaksud untuk mulai menerjunkan Next Generation Interceptor selambat-lambatnya tahun 2028.

Perkiraan biaya semacam itu dimaksudkan untuk memberi para pejabat sipil pemeriksaan yang sebenarnya tentang label harga sistem senjata utama.

Mereka juga memberikan gambaran kepada analis dan investor di Lockheed Martin dan Northrop Grumman tentang ukuran dan cakupan pendapatan potensial dari program baru tersebut.

Pencegat rudal baru dimaksudkan untuk memperbaiki kesalahan program hulu ledak yang gagal di era pemerintahan Obama dan Trump sebelum dibatalkan pada Agustus 2019 setelah dana USD1,2 miliar dihabiskan untuk proyek yang dimaksudkan untuk penyebaran pada 2023.

Menanti Keberanian Erdogan CS Balas AS dengan Akui Genosida Suku Indian Amerika?

 

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah resmi mengakui bahwa pembantaian pasukan Kekaisaran Ottoman terhadap orang-orang Armenia pada 1915 sebagai genosida. Pemerintah Turki marah dan mengancam akan membalas.

"Rakyat Amerika menghormati semua orang Armenia yang tewas dalam genosida yang dimulai 106 tahun lalu hari ini," kata Biden dalam sebuah pernyataan memperingati Hari Peringatan Genosida Armenia, Sabtu pekan lalu.

Itu adalah langkah yang datang terlalu lama, ditunda selama bertahun-tahun untuk memelihara apa yang telah menjadi hubungan yang hancur dengan Turki.

Juru bicara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Ibrahim Kalin, mengatakan Ankara akan membalas dalam beberapa bulan mendatang.

"Akan ada reaksi dalam berbagai bentuk, jenis dan derajat dalam beberapa hari dan bulan mendatang," kata Kalin kepada Reuters.

Kalin tidak merinci apakah salah satu pembalasan itu adalah Ankara akan membatasi akses AS ke pangkalan udara Incirlik di Turki selatan. Pangkalan itu telah digunakan untuk mendukung koalisi internasional dalam memerangi ISIS di Suriah dan Irak.

Presiden Erdogan sendiri telah membahas masalah tersebut setelah rapat kabinet pada hari Senin, namun belum jelas pembalasan seperti apa yang akan dilakukan Ankara terhadap Washington.

"Pada waktu dan tempat yang kami anggap tepat, kami akan terus menanggapi pernyataan yang sangat disayangkan dan tidak adil ini," kata Kalin.

Ketua Partai Gerakan Nasionalis (MHP) Devlet Bahceli mengatakan hubungan Ankara dengan Washington berada di persimpangan sejarah setelah penggunaan kata "genosida" oleh Presiden Biden dalam peringatan tahunan peristiwa 1915.

Dalam peristiwa 1915, sekitar 1,5 juta orang Armenia dilaporkan dibantai oleh pasukan Kekaisaran Ottoman sebagai respons atas pembantaian komunitas Muslim di Anatolia timur oleh geng-geng kriminal Armenia.

Bahceli menuduh AS mencoba menggunakan peringatan 24 April sebagai alat untuk menekan Turki. Dia juga mengingatkan genosida yang dilakukan oleh AS terhadap orang Indian Amerika selama abad ke-19, termasuk orang Indian Seminole di Florida.

Setelah deklarasi Biden, sebuah artikel dari 2019 mulai beredar di Twitter. Saat itu, setelah Senat mengeluarkan resolusi yang mengakui genosida Armenia, Presiden Turki Recep Tayyip Erdo?an, mengancam akan memberi AS obatnya.

Berbicara di saluran berita A Haber yang pro-pemerintah, Erdogan kala itu berkata: “Kita harus menentang [AS] dengan membalas keputusan seperti itu di parlemen. Dan itulah yang akan kami lakukan."

“Bisakah kita berbicara tentang Amerika tanpa menyebut [Penduduk Asli Amerika]? Ini adalah momen yang memalukan dalam sejarah AS," lanjut Erdogan.

Namun, beranikah Erdogan mendeklarasikan genosida penduduk asli Amerika termasuk suku Indian oleh migran Eropa yang sekarang berkuasa di Amerika Serikat?

Sekadar diketahui, orang Amerika pada abad ke-19 tidak malu dengan keyakinan mereka atau melakukan diskriminasi dalam taktik mereka untuk menaklukkan berbagai suku di tanah yang diklaim AS sebagai miliknya.

Kurang dari 20 tahun setelah Trail of Tears menewaskan 4.000 orang Cherokee dalam perjalanan mereka ke barat, Peter Burnett, gubernur pertama California, mengatakan kepada anggota parlemen bahwa "perang pemusnahan" yang akan "terus dilancarkan antara dua ras sampai ras Indian menjadi punah harus diharapkan."

Beberapa orang mencoba untuk berpendapat bahwa apa yang terjadi di AS seharusnya tidak memenuhi syarat sebagai genosida, mengingat penduduk asli benua Amerika masih tinggal di sana.

Lagi pula, pada sensus 2010, 5,2 juta orang yang diidentifikasi sebagai Indian Amerika dan Penduduk Asli Alaska tinggal di AS, baik sendiri atau dalam kombinasi dengan satu atau lebih ras lain. Itu lebih banyak daripada orang yang tinggal di Irlandia atau Selandia Baru.

Tetapi Raphael Lemkin, yang menciptakan kata "genosida", sudah jelas sejak awal bahwa suatu bangsa tidak perlu dimusnahkan sepenuhnya agar kata "genosida" dapat diterapkan.

"Butuh berabad-abad, jika tidak ribuan tahun, untuk menciptakan budaya nasional, tetapi genosida dapat menghancurkan budaya secara instan, seperti api dapat menghancurkan sebuah bangunan dalam satu jam," tulis Lemkin dalam sebuah artikel.

Orang kulit putih Amerika adalah api yang diperingatkan Lemkin, menerobos lusinan budaya pribumi benua Amerika sampai hanya struktur yang paling tangguh yang tersisa, dikelilingi di semua sisi oleh abu dan bingkai yang terbakar.

Dari beberapa dekade pemindahan paksa hingga sejumlah perjanjian yang dibuat dan dipatahkan, sejarah Amerika dikotori dengan upaya untuk memberantas kelompok pribumi dari perbatasan Amerika, kebijakan pembersihan etnis dan amnesia budaya paksa yang berlangsung hingga abad ke-20.

Mantan Senator Rick Santorum, secara tidak sengaja membuat kebijakan penghapusan yang sangat jelas pada hari Jumat dalam pidatonya tentang kebebasan beragama di forum Young America's Foundation.

Santorum, membandingkan AS dengan negara-negara yang lebih tua seperti Italia dan China, mengeklaim bahwa Amerika berbeda karena budaya mereka berkembang perlahan dari waktu ke waktu. Sebaliknya, orang Amerika "melahirkan bangsa dari ketiadaan."

"Maksud saya, tidak ada apa-apa di sini," katanya. "Maksud saya, ya kami memiliki penduduk asli Amerika, tetapi sejujurnya, tidak banyak budaya pribumi Amerika dalam budaya Amerika," kata Santorum dalam forum tersebut.

Tanggapan dari Kongres Nasional Indian Amerika memang sangat melepuh, terutama terhadap CNN, di mana Santorum adalah komentator berbayar.

"Tentukan pilihan Anda," tulis dia dalam pernyataannya kepada HuffPost.

"Apakah Anda mendukung Supremasi Kulit Putih yang membenarkan genosida penduduk asli Amerika, atau apakah Anda mendukung penduduk asli Amerika?"