• Blog
  • Dolar AS Kembali Melemah, Pasar Kini Fokus ke Fed & Dana Stimulus AS

Dolar AS Kembali Melemah, Pasar Kini Fokus ke Fed & Dana Stimulus AS

News Forex, Index &  Komoditi

( Selasa, 28  Juli  2020 )

Dolar AS Kembali Melemah, Pasar Kini Fokus ke Fed & Dana Stimulus AS

Dolar Amerika Serikat kembali melemah pada Selasa (28/07) pagi di tengah kekhawatiran investor terhadap dampak kerusakan covid-19 terhadap ekonomi AS dan pasar menunggu prospek terbaru dari Federal Reserve dan juga paket fiskal baru dari pemerintah AS.

Indeks dolar AS turun 0,07% ke 93,552 pukul 09.03 WIB menurut data Investing.com. EUR/USD naik 0,08% di 1,1760 dan GBP/USD naik 0,05% ke 1,2887. USD/JPY naik 0,01% di 105,36.

Rupiah terus beranjak naik 0,45% di 14.455,0 per dolar AS hingga pukul 09.07 WIB.

Mengutip Reuters Selasa (28/07) pagi, penurunan mata uang AS telah mendorong mayoritas aset keuangan lain bergerak menguat jelang pertemuan dua hari Federal Reserve yang akan berlangsung Selasa di tengah spekulasi meningkat tentang kemungkinan perubahan kebijakan - bahkan jika tidak ada perubahan kebijakan yang diharapkan.

Pada saat yang sama, kenaikan euro tidak terhentikan sejak para pemimpin Eropa mencapai kesepakatan soal utang bersama untuk mendanai pengeluaran pemulihan di negara-negara yang paling terpukul dampak pandemi covid-19.

Selain itu, paket fiskal AS yang besar - saat ini menemui jalan buntu negosiasi antara Partai Demokrat, yang telah mengajukan proposal senilai $3 triliun, dan Partai Republik yang telah mengajukan rencana $1 triliun yang lebih kecil - juga dapat mendorong dolar AS di tengah pelemahannya karena ketegangan AS-Cina.

 

 

Saham Hong Kong dibuka melambung, Indeks Hang Seng naik 339,48 poin

Saham-saham Hong Kong dibuka naik tajam pada Selasa pagi, bangkit dari penurunan sehari sebelumnya, dengan indikator utama Indeks Hang Seng (HSI) melonjak 1,38 persen atau 339,48 poin, menjadi diperdagangkan di 24.942,74 poin. Indeks Hang Seng terkoreksi 0,41 persen atau 102,07 poin menjadi 24.603,26 poin pada perdagangan Senin (27/7/2020), dengan nilai transaksi mencapai 125,68 miliar dolar Hong Kong (sekitar 16,22 miliar dolar AS).

 

 

 

Saham Tokyo dibuka naik tipis, ditopang penguatan yen

Saham-saham Tokyo dibuka cenderung datar pada perdagangan Selasa pagi, setelah sehari sebelumnya bervariasi, karena investor membeli saham-saham teknologi menyusul kenaikan ekuivalen mereka di Wall Street semalam, di sisi lain ada tekanan jual dari yen yang lebih kuat terhadap dolar AS.

Pada pukul 09.15 waktu setempat indeks acuan Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo (TSE) naik tipis 15,84 poin atau 0,07 persen, dari tingkat penutupan Senin (27/7/2020), menjadi diperdagangkan di 22.731,69 poin. Sehari sebelumnya, Indeks Nikkei kehilangan 35,76 poin atau 0,16 persen menjadi 22.715,85 poin.
Sementara itu Indeks Topix yang lebih luas dari seluruh saham papan utama di pasar Tokyo turun tipis 0,86 poin atau 0,05 persen, menjadi diperdagangkan pada 1.575,83 poin. Indeks Topix menambahkan 3,73 poin atau 0,24 persen menjadi 1.576,69 poin pada perdagangan Senin (27/7/2020).

Saham-saham perusahaan yang terkait dengan farmasi dan peralatan listrik memimpin kenaikan besar, sementara saham-saham transportasi udara serta tenaga listrik dan gas paling banyak mencatat penurunan pada menit-menit pembukaan setelah bel perdagangan pagi.

 

 

Perang Dingin AS-China Masuki Babak Baru, Berbahayakah?

Perang dingin antara China dan Amerika Serikat (AS) memasuki babak baru. Beijing telah menutup konsulat AS di Chengdu pada Senin (27/7/2020). Itu merupakan aksi balasan karena Washington menutup konsulat China di Houston pekan lalu.

Kedua negara saling mengancam bahwa penutupan kantor misi diplomatik dapat berlanjut. Seperti diketahui hubungan China-AS masih memiliki kecenderungan memburuk. Hal itu berdampak luas, terutama dalam bidang perdagangan, teknologi, dan keamanan. Dunia pun dapat terimbas efeknya.

Dalam bidang perdagangan, AS dan China telah sama-sama mengalami kerugian besar akibat perang tarif yang pecah pada 2018. Komoditas impor dari masing-masing pihak dikenakan tarif ratusan miliar dolar AS.

Kendati komoditasnya telah dibidik dengan tarif selangit, AS tetap menjadi pasar ekspor terbesar China. Sementara China merupakan pasar nomor tiga bagi para eksportir Amerika.

Pembelian barang pertanian, semikonduktor, dan barang-barang pertanian AS lainnya oleh China menurun 11,4 persen tahun lalu. Namun nilainya masih melampaui 100 miliar dolar AS.

Saat China menghentikan impor kedelai dan menaikkan tarif daging babi serta produk-produk lainnya, hal itu cukup memukul produsen pertanian AS.

Negeri Tirai Bambu merupakan pasar ekspor terbesar bagi Iowa dan negara-negara bagian lain di AS yang mengandalkan pemasukan dari komoditas pertanian.

Saat gencatan perang tarif disepakati, China kembali membeli produk biji-bijian  AS dengan harga lebih rendah. Jika kedua negara tidak dapat menyelesaikan perbedaan perdagangan, hal itu akan memiliki dampak buruk.

Tidak hanya bagi eksportir masing-masing, tapi juga ekonomi Asia lainnya. Sebab banyak negara-negara Asia yang memasok komponen dan bahan baku ke pabrik-pabrik Cina.

AS dan Cina pun terlibat perselisihan di bidang atau industri teknologi. Pemerintahan Presiden Donald Trump telah melarang raksasa telekomunikasi Cina, Huawei, untuk mengakses teknologi dan komponen yang diproduksi di AS.

Kebijakan itu merupakan pukulan besar bagi Huawei. Sebab mereka masih menggunakan dan mengandalkan sistem operasi yang dikembangkan Google untuk produk ponsel pintarnya.

Pada Desember 2019, Financial Times, mengutip catatan perusahaan pialang China Securities, melaporkan bahwa Pemerintah China telah memerintahkan seluruh badan serta institusi pemerintah untuk mengganti semua perangkat keras dan perangkat lunak komputer produksi asing dalam tempo tiga tahun.

Langkah itu diperkirakan akan memukul perusahaan seperti Microsoft, Dell, dan Hewlett-Packard (HP).

Perusahaan seperti Apple, Dell, HP, dan lainnya bergantung pada pabrik-pabrik Cina untuk merakit sebagian besar ponsel, komputer serta barang elektronik lainnya yang mereka produksi. Namun dalam prosesnya, pabrik-pabrik itu membutuhkan cip prosesor dan komponen lain dari AS, Jepang, Taiwan, dan Eropa.

Dengan kebijakan yang diambil Trump terhadap perusahaan China, termasuk Huawei, pola atau alur produksi yang telah terbangun terancam terganggu. Hal itu dapat menyebabkan kerugian miliaran dolar AS.

Dalam bidang keamanan, Cina dan AS pun tak lepas dari gesekan. Di Pasifik, tepatnya di Laut Cina Selatan (LCS), kedua negara itu kerap terlibat aksi provokatif. China diketahui mengklaim lebih dari 90 persen wilayah perairan internasional tersebut. Washington menolak klaim itu dengan tetap mempraktikkan kebebasan navigasi.

Pada 1-5 Juli lalu, China menggelar latihan militer di Kepulauan Xisha di LCS. AS pun segera mengecam latihan tersebut. Selain melanggar hukum, China dianggap tak menepati janjinya untuk tidak melakukan militerisasi di LCS.

Setelah melayangkan kecaman,Washington pun turut melakukan latihan militer di LCS. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, AS mengoperasikan USS Ronald Reagan dan USS Nimitz secara bersamaan di wilayah perairan tersebut.

Menurut Angkatan Laut AS, dua kapal induk itu sengaja dikirim untuk menentang klaim sepihak China atas LCS.

Selain LCS, isu Taiwan juga membuat AS dan China terlibat pertikaian. China diketahui memandang Taipei sebagai bagian tak terpisah dari negaranya. Namun Taiwan melakukan pembangkangan dan enggan dipaksa bergabung dengan Beijing.

Dalam situasi demikian, AS mempererat kerja sama militernya dengan Taiwan. Pemerintahan Trump bahkan telah menyetujui penjualan senjata senilai 180 juta dolar AS ke Taipei.

China geram dan mendesak AS memutuskan hubungan militernya dengan Taiwan. Beijing meminta Washington menghormati prinsip "Satu China".

 

 

 Pounds Terangkat oleh Dolar AS yang Melemah

Karena tidak memiliki pendorong yang signifikan, Pounds didorong oleh dolar AS yang secara luas lebih lemah pada hari Senin, karena ketidakpastian Brexit dan prospek ekonomi Inggris membuat sebagian besar investor tetap di sela-sela.

Spekulan dan manajer uang nyata telah menambahkan posisi pendek pada mata uang Inggris dalam minggu hingga Selasa, data CFTC terbaru menunjukkan, meskipun jumlah kontrak yang diadakan tidak sebanyak beberapa bulan yang lalu.

Pounds bertahan naik 0,3% versus dolar pada $ 1,2827, tetapi karena euro naik di atas $ 1,17, Pounds jatuh terhadap mata uang umum, perdagangan terakhir turun 0,2% pada 91,27 pence.

Petr Krpata, ahli strategi mata uang dan kurs di ING, dalam sebuah catatan kepada klien mengatakan:

“Seharusnya lebih sama untuk GBP minggu ini. Ini adalah minggu yang sangat sepi di depan data Inggris dengan mata uang untuk tetap tertinggal dan berkinerja buruk di ruang FX G10 Eropa.”

Inggris dan Uni Eropa bentrok pekan lalu atas kemungkinan mengamankan perjanjian perdagangan bebas, dengan Brussels menganggapnya tidak mungkin tetapi London mengulurkan harapan satu dapat dicapai pada bulan September.

Krpata mengatakan “dengan tajuk berita menunjukkan kemungkinan persepsi yang meningkat dari tidak ada kesepakatan, ada sedikit yang optimis untuk GBP”, menambahkan bahwa ia melihat euro / sterling menembus level 92 pence musim panas ini.

Negara ini juga berjuang dengan krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade yang disebabkan oleh coronavirus.

Setelah gagal mengekang infeksi COVID-19 baru pada awal pandemi, pemerintah dan bank sentral telah menyuntikkan sejumlah uang yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menjaga perekonomian tetap bertahan dan mencegah gelombang pengangguran besar-besaran.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang telah dikritik karena bertindak terlalu lambat dalam pandemi COVID-19, mengatakan pada hari Jumat mungkin ada hal-hal yang bisa dia lakukan secara berbeda.

 

 

Wall Street Perkasa Ditopang Saham-Saham Teknologi

Wall Street ditutup menguat pada perdagangan awal pekan ini. Kenaikan tersebut ditopang karena investor kembali ke saham-saham populer menjelang laporan keuangan serta menimbang kemajuan akan stimulus ekonomi AS di tengah peningkatan Covid-19.

Melansir Reuters, Jakarta, Selasa (28/7/2020), Dow Jones Industrial Average naik 114,88 poin, atau 0,43% menjadi 26.584,77, sedangkan S&P 500 naik 23,78 poin atau 0,74% menjadi 3.239,41. Sementara itu, Nasdaq Composite menambahkan 173,09 poin, atau 1,67% menjadi 10.536,27.

Penguatan S&P 500 karena menanti laporan keuangan dari Apple Inc (AAPL.O), Amazon.com Inc (AMZN.O), Facebook Inc (FB.O) dan Alphabet Inc (GOOGL.O). Nasdaq yang sarat teknologi membukukan kenaikan 1,7%, mengungguli S&P dan Dow.

Kepala investasi di Huntington National Bank di Columbus John Augustine mengatakan, para investor membeli saham dalam sektor teknologi. Akan ada penurunan di sesi terakhir.

"Ketika keenam dari mereka lebih tinggi mereka akan membawa pasar," kata Augustine.

Dari 11 sektor utama S&P 500, teknologi memimpin kenaikan hingga 1,6% dilanjutkan sektor material naik 1,4%. Selanjutnya sektor real estate dan keuangan yang masing-masing naik 1,1% dan 1,3%.

Senat Republik AS berlomba untuk menyelesaikan rincian proposal bantuan virus Corona senilai USD1 triliun sebelum tunjangan pengangguran yang meningkat berakhir pada hari Jumat. Proposal bantuan, yang dapat melibatkan pengurangan tunjangan pengangguran mingguan federal darurat dari USD600 menjadi USD200, kemudian perlu dinegosiasikan dengan Demokrat.

 

 

Kim Jong Un: tidak akan ada perang lagi berkat senjata nuklir

emimpin Korea Utara Kim Jong Un mengatakan tidak akan ada perang lagi karena senjata nuklir negara itu menjamin keselamatan dan masa depannya meskipun ada tekanan dari luar dan ancaman militer, media pemerintah mengatakan pada hari Selasa.

Kim membuat pernyataan ketika ia merayakan ulang tahun ke 67 dari berakhirnya Perang Korea 1950-53, yang jatuh pada 27 Juli, dengan tamu undangan para veteran, kata kantor berita resmi KCNA.

Kim mengatakan Korea Utara mengembangkan senjata nuklir untuk memenangkan "kekuatan absolut" untuk mencegah konflik bersenjata lainnya.

Kim juga menekankan sifat defensif dari program tersebut.

"Sekarang kami mampu mempertahankan diri dalam menghadapi segala bentuk tekanan intensitas tinggi dan ancaman militer dari pasukan imperialis dan musuh," katanya.

"Berkat penangkal nuklir pertahanan diri Korea Utara yang andal dan efektif, tidak akan ada lagi perang, dan keselamatan dan masa depan negara kita akan dijamin selamanya." ujar Kim Jong Un.

Pidato itu disampaikan di tengah pembicaraan macet yang bertujuan membongkar program nuklir dan rudal Pyongyang dengan imbalan keringanan sanksi dari Washington.

Kim dan Presiden A.S. Donald Trump bertemu untuk pertama kalinya pada tahun 2018 di Singapura, yang meningkatkan harapan terhadap negosiasi atas ancaman nuklir Korea Utara.

Namun KTT kedua mereka, pada 2019 di Vietnam, dan pertemuan tingkat kerja berikutnya berantakan.

 

 

Penasihat Keamanan Nasional Trump Positif Covid-19

Gedung Putih mengonfirmasi bahwa penasihat keamanan nasional Presiden Donald Trump, Robert O'Brien dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Saat ini O'Brien mengalami gejala ringan serta telah melakukan karantina mandiri dan bekerja dari rumah.

"Tidak ada risiko tertular dengan presiden atau wakil presiden," tulis pihak Gedung Putih dalam pernyataan resmi, Senin (27/7) seperti dilansir AFP.

Tidak diketahui pasti kapan terakhir kali O'Brien bertemu dengan Trump. Keduanya sempat terlihat bersama di hadapan publik selama kunjungan rump ke Komando Selatan AS di Miami pada 10 Juli lalu.

 

Baru-baru ini ia juga melakukan perjalanan ke Paris dan melakukan pertemuan dengan sejumlah orang dari prancis, Jerman, Italia, dan Inggris.

Sejumlah foto yang dirilis dari perjalanan tersebut menunjukkan O'Brien tidak mengenakan masker atau menjaga jarak sosial sesuai protokol kesehatan untuk mencegah penularan virus corona.

Beberapa staf Dewan Keamanan Nasional kepada CNN mengatakan mereka sebelumnya tidak diberi tahu bahwa O'Brien dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Mereka baru mengetahui kabar tersebut dari laporan media.

O'Brien merupakan sosok pejabat senior Trump yang menambah daftar panjang tokoh di Gedung Putih yang positif Covid-19. Sebelumnya pada Mei lalu, juru bicara Mike Pence, Katie Miller yang merupakan suami penasihat Trump, Stephen Miller juga dinyatakan terinfeksi virus corona.

Sementara pada awal Juli lalu, Kimberly Guilfoyle, kekasih Donald Trump Jr juga dinyatakan mengidap Covid-19. Beberapa staf kampanye Trump di Tulsa pada Juni lalu juga sempat dinyatakan terinfeksi virus serupa SARS tersebut.

Trump menghadapi kecaman publik atas kebijakannya yang dianggap tidak serius menghalau pandemi. Hingga saat ini AS masih menjadi negara dengan kasus dan angka kematian tertinggi akibat corona di dunia dengan 4.392.833 kasus dan 149.973 kematian.

 

 

 

 

 

Rusia Sebut AS dan Inggris Lakukan Propaganda

Rusia membantah Amerika Serikat dan Inggris yang menuding Moskow sedang menguji senjata anti-satelit di ruang angkasa. Rusia menyebut tuduhan itu sebagai propaganda.

Rusia justru balik menuduh AS dan Inggris karena sedang mengembangkan persenjataan anti-satelit.

"Kami menyerukan kepada rekan-rekan AS dan Inggris untuk menunjukkan profesionalisme dan alih-alih (melancarkan) beberapa serangan informasi propaganda, mari duduk (bersama) untuk melakukan dialog," kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari AFP.

Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan uji coba yang dilakukan oleh Kementerian Pertahanan pada 15 Juli lalu itu tidak menciptakan ancaman bagi peralatan ruang angkasa. Kata dia yang terpenting tidak melanggar norma atau prinsip hukum internasional apapun.
 
Moskow menanggapi tuduhan itu setelah Komando Luar Angkasa AS pada Kamis menuduh Rusia sedang melakukan uji coba penembakan senjata anti-satelit di ruang angkasa. Lembaga itu juga memperingatkan bahwa ancaman terhadap sistem pertahanan AS semakin "nyata, serius, dan meningkat".

Dilansir dari AFP, AS mengatakan bahwa Rusia sedang melakukan "uji non-destruktif senjata anti-satelit berbasis ruang angkasa".
 
Negosiator pelucutan senjata nuklir AS, Marshall Billingslea menulis di Twitter bahwa tindakan itu "jelas ini tidak dapat diterima" dan itu akan menjadi "permasalahan utama" yang akan dibahas pekan ini di Wina.

Marshall juga sedang dalam pembicaraan tentang kelanjutan dari perjanjian New START. Perjanjian itu mengatur untuk membatasi jumlah hulu ledak nuklir yang dimiliki AS dan Rusia.
 
Kepala Direktorat Antariksa Inggris, Wakil Udara Marsekal Harvey Smyth juga ikut menuduh Rusia. Dia menulis di Twitter bahwa "tindakan semacam ini mengancam kedamaian ruang angkasa".

 

 

AS dan Australia Bertemu Cari Solusi Hadapi China

Amerika Serikat dan Australia melakukan pembicaraan tingkat tinggi pada Senin (27/7) untuk mencari solusi bersama di tengah meningkatnya ketegangan dengan China.
 
Dilansir dari AFP, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan Menteri Pertahanan AS Mark Esper menyambut kedatangan utusan Australia yang diwakili Menteri Luar Negeri Marise Payne dan Menteri Pertahanan Linda Reynolds di Washington.

Pembicaraan itu akan berlangsung selama dua hari dan konferensi pers pada Selasa (28/7).
 
Dalam sebuah pernyataan sebelum perjalanan ke AS, Payne dan Reynolds mengatakan mereka akan melakukan karantina mandiri selama 14 hari seusai kembali dari AS. Langkah ini sesuai dengan aturan Australia yang diberlakukan kepada semua wisatawan internasional untuk mencegah penyebaran virus corona.
Pembicaraan tahunan ini muncul ketika pemerintahan Presiden Donald Trump mengambil sikap semakin keras terhadap China tentang berbagai masalah mulai dari pertahanan hingga hak asasi manusia juga perdagangan.
 
 Pekan lalu AS memerintahkan penutupan konsulat China di Houston dengan tuduhan melakukan spionase.
 
Baru-baru ini Australia mengikuti langkah AS untuk menolak klaim Tiongkok di Laut China Selatan dan mendukung Pompeo menyerukan penyelidikan internasional tentang asal-usul pandemi Covid-19.
Para kritikus menuduh Trump menyerang China di tahun pemilihan presiden untuk mengalihkan perhatian orang-orang dari responnya dalam menangani virus corona di AS, di mana mereka memiliki korban tewas tertinggi di dunia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rusia Pasok Rudal S-400 ke China hingga Drone Israel Jatuh

Sejumlah peristiwa terjadi di berbagai belahan dunia pada Senin (27/7). Mulai dari Rusia kembali kirim sistem rudal S-400 ke China saat Tiongkok tegang dengan Amerika Serikat hingga drone pengintai militer Israel jatuh di Libanon.

  1. Tegang dengan AS, China Dikirimi Sistem Rudal S-400 Rusia

Rusia telah menyelesaikan pengiriman kedua sistem pertahanan rudal S-400 Triumph ke China di tengah ketegangan Tiongkok dengan Amerika Serikat. Sumber diplomatik militer mengatakan kepada kantor berita Rusia, TASS bahwa pengiriman dilakukan melalui transportasi laut.

 

"Pengiriman satu set resimen S-400 kedua yang terdiri dari dua divisi perangkat peluncuran, stasiun radiolokasi, peralatan energi dan layanan, suku cadang dan instrumen ke China telah selesai. Klien juga menerima lebih dari 120 rudal canggih berpemandu anti-pesawat dari dua jenis," kata sumber dilansir dari TASS, Senin (27/7).

Sumber diplomatik militer itu juga menambahkan pengiriman dikirim ke China menggunakan beberapa kapal. Pengiriman pertama menuju ke China dilakukan pada Juli 2019. Sertifikat serah terima sudah ditandatangani pada Desember di China.

  1. Rombongan Pertama Jemaah Haji Tiba di Mekah

Rombongan pertama jemaah haji 2020 tiba di Kota Mekah, Sabtu (25/7) waktu setempat. Pemerintah Arab Saudi memutuskan menggelar pelaksanaan ibadah haji secara terbatas karena pandemi virus corona.

Setelah menyelesaikan prosedur kedatangan, para jemaah dibawa ke akomodasi mereka di Mekah, diawasi oleh Kementerian Haji dan Umrah. Mereka akan tinggal di sana selama empat hari sebelum memulai proses ibadah haji pada 30 Juli.

Saudi membatasi umat Muslim yang bisa menunaikan ibadah haji sebanyak 1.000 orang.

Warga asing yang dibolehkan berhaji hanya mereka yang sudah berada di Saudi sebelum pemberlakuan penguncian wilayah atau pembatasan kegiatan.

  1. Drone Pengintai Militer Israel Jatuh di Libanon

Militer Israel mengatakan salah satu pesawat nirawak atau drone mereka jatuh di wilayah teritorial Libanon pada Minggu (26/7).

Melalui pernyataan, militer Israel mengatakan drone tersebut jatuh "saat operasional Pasukan Pertahanan Israel (IDF)" di sepanjang perbatasan kedua negara. "Tidak ada risiko pelanggaran informasi," ujar militer Israel.

Insiden tersebut terjadi ketika Israel tengah meningkatkan pertahanan udaranya termasuk operasi pengawasan di dekat Libanon. Hal itu dilakukan sebagai antisipasi di saat ancaman kelompok pemberontak Hizbullah di Libanon terhadap Israel meningkat.

Israel memang rutin mengerahkan drone ke Libanon yang secara khusus ditujukan untuk memantau pergerakan Hizbullah yang selama ini mendukung dan disokong Iran, musuh bebuyutan negara Zionis tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

Israel Mencekam, Hizbullah Kirim Serangan Bawah Laut

Militer Israel (IDF) mengklaim telah berhasil menghentikan serangan yang dilakukan pasukan milisi Hizbullah di wilayah utara perbatasan dengan Lebanon.

Dalam siaran resminya, IDF menyatakan sejumlah milisi Hizbullah telah terbunuh dalam pertempuran di wilayah Har Dov.

"Upaya untuk menyusup ke sel teroris Hizbullah di daerah Har Dov digagalkan. Tidak ada korban untuk pasukan kami. Pasukan IDF siap dan bersedia untuk melanjutkan seperlunya. Kami tidak akan membiarkan keamanan warga Negara Israel dan kedaulatannya dirusak," tulis IDF dikutip VIVA Militer Selasa (28/7/2020).

Hizbullah melakukan serangan mendadak pada Senin (27/7/2020) waktu setempat. Serangan terjadi sangat cepat, pasukan milisi Hizbullah menembakkan rudal anti-tank jenis Kornet ke beberapa lokasi konsentrasi militer Israel.

Selama penyerangan berlangsung kondisi Israel benar-benar mencekam. sirene tanda bahaya tak henti-henti meraung-raung. Penduduk di sekitar lokasi pertempuran diperingatkan untuk tidak keluar rumah sampai kondisi darurat berlalu.

Namun, meski berhasil menghancurkan serangan Hizbullah itu. Israel masih dilanda ketakutan yang luar biasa. Sebab Angkatan Laut Israel menyatakan telah mendapatkan informasi terbaru bahwa Hizbullah akan melakukan penyerangan besar-besaran melalui jalur laut.

Komandan Angkatan Laut dari Pangkalan Haifa, Brigadir Jenderal Gil Aginsky mengatakan, kemungkinan serangan melalui laut sangat besar terjadi mengingat banyak sekali infrastruktur strategis milik Israel di lautan salahsatunya eksplorasi gas.

Hanya saja dalam wawancara dengan Israel Hayom, Brigjen Gil menyatakan militer Israel sudah siap menggagalkan serangan laut pasukan Hizbullah.

"Tantangan yang kita hadapi ada dua dari laut, dan dari bawah laut. Di atas air, kami tahu bagaimana menghadapi skenario apa pun, termasuk beberapa skenario yang sangat rumit," kata dia.

Menurut Brigjen Gil, militer Israel telah menyiagakan kapal selam dan Kapal Perang Sa'ar 6 untuk menjaga wilayah maritim dari serangan Hizbullah. Meski begitu dia tak menyebutkan kapan serangan itu akan dilancarkan Hizbullah.

Untuk diketahui, Israel memang telah membuat kesal banyak pihak terutama tetangganya Lebanon karena melakukan pengeboran minyak di perairan sengketa antar kedua negara.

Kondisi ini diduga kuat menjadi pemicu kemarahan Hizbullah dan memacu semangat milisi bersenjata itu untuk melancarkan serangan ke wilayah maritim Israel.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akurat Kenai Target, Rudal Zircon Rusia Bikin AS Panik

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan tes tembak rudal hipersonik Zircon dari sebuah kapal perang berhasil menghantam target dengan akurat. Washington merasa khawatir karena tidak memiliki sistem pertahanan yang bisa menghalau senjata hipersonik.

Moskow menyatakan rudal hipersonik Zircon tak hanya mampu manargetkan objek di laut, tapi juga sasaran di darat.

Uji coba misil pembunuh kapal musuh ini berlangsung hari Minggu pagi. Senjata yang mampu melesat dengan kecepatan 6.000 mph ini ditembakkan dari kapal perang Admiral Gorshkov di ujung utara Rusia.

"Tes rudal hipersonik Zircon berhasil diselesaikan," kata Kementerian Pertahanan setempat dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Russia Today.

"Uji peluncuran dari fregat Admiral dari Uni Soviet telah mengonfirmasi karakteristik taktis dan teknis yang unik dari rudal ini dalam hal jangkauan dan akurasi tembakan, serta kecepatan penerbangan hipersoniknya," lanjut kementerian tersebut.

Misil ini telah dikembangkan selama 20 tahun terakhir, namun uji tembak baru dimulai awal tahun ini. Kapal perang Admiral Gorshkov yang digunakan untuk menembakkan misil tersebut telah meninggalkan Pangkalan Angkatan Laut Belomorsky sejak pekan lalu.

Misil Zircon dapat terbang dengan jangkauan hingga 600 mil, yang berarti dapat mencapai targetnya hanya dalam tujuh menit.

Awal tahun ini, senjata itu juga diuji tembak terhadap sasaran darat di pegunungan Ural Utara.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) untuk Riset dan Rekayasa, Michael D. Griffin, telah menyatakan keprihatinan besar tentang pembukaan celah rudal baru antara Amerika dan Rusia.

"Kami, hari ini, tidak memiliki sistem yang dapat membuat mereka (Rusia dan China) dalam risiko dengan cara yang sesuai, dan kami tidak memiliki pertahanan terhadap sistem-sistem (senjata) itu," katanya, seperti dilansir Daily Star.

“Jika mereka memilih untuk mempekerjakannya, kita akan berada pada posisi yang kurang menguntungkan," paparnya. "Kami bermain mengejar bola."