• Blog
  • News  Forex,  Index  &  Komoditi ( Selasa,  2 Maret  2021 )

News  Forex,  Index  &  Komoditi ( Selasa,  2 Maret  2021 )

Wall Street melonjak terangkat teknologi, Nasdaq melesat 3,01 persen

Saham-saham Wall Street naik tajam pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), dengan sektor teknologi memimpin reli saat pasar obligasi tenang setelah aksi jual selama sebulan, sementara vaksin COVID-19 lainnya mendapatkan persetujuan AS dan stimulus fiskal mendorong ekspektasi pemulihan ekonomi yang cepat.

Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 603,14 poin atau 1,95 persen menjadi ditutup di 31.535,51 poin. Indeks S&P 500 terangkat 90,67 poin atau 2,38 persen, menjadi menetap di 3.901,82 poin. Indeks Komposit Nasdaq melesat 396,48 poin atau 3,01 persen menjadi berakhir di 13.588,83 poin.

Semua 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah positif, dengan sektor teknologi dan keuangan masing-masing melonjak 3,18 persen dan 3,12 persen, memimpin kenaikan.

Reli pasar terjadi karena kemajuan pesat dalam imbal hasil obligasi AS terhenti, mengurangi kekhawatiran investor atas kenaikan suku bunga.Imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS 10-tahun turun menjadi sekitar 1,449 persen pada Senin (1/3/2021), setelah mencapai tertinggi satu tahun 1,614 persen Kamis lalu (25/2/2021).

Biasanya, imbal hasil rendah menghasilkan biaya pinjaman yang rendah, suku bunga hipotek (KPR) yang menarik, dan dapat memberikan dorongan ke pasar ekuitas, sementara imbal hasil yang lebih tinggi membuat obligasi menjadi alternatif yang lebih layak daripada saham.

Johnson & Johnson berakhir naik 0,5 persen, tetapi turun dari level tertinggi sebelumnya, setelah mulai mengirimkan vaksin dosis tunggal setelah menjadi vaksin COVID-19 resmi ketiga di Amerika Serikat selama akhir pekan.

Presiden Joe Biden mencetak kemenangan legislatif pertamanya ketika DPR AS mengesahkan paket bantuan virus corona senilai 1,9 triliun dolar AS pada Sabtu pagi (27/2/2021). Rancangan udang-undang itu sekarang beralih ke Senat.

“Sentimen risiko dengan lebih banyak investor menunjukkan minat terhadap saham-saham siklikal, sementara dorongan vaksinasi yang positif dan angka makro yang lebih baik mengisyaratkan lingkungan pertumbuhan yang lebih baik,” kata Keith Buchanan, manajer portofolio di Globalt di Atlanta.

Data menunjukkan aktivitas manufaktur AS meningkat ke level tertinggi tiga tahun pada Februari di tengah percepatan pesanan baru.

Apple Inc, Microsoft Corp, Facebook Inc dan Amazon.com Inc bangkit kembali setelah aksi jual pekan lalu di saham teknologi. Apple naik lebih dari 5,0 persen dan merupakan kontributor terkuat untuk keuntungan S&P 500.

Sementara itu, rebound S&P 500 dari rata-rata pergerakan 50 hari, tersentuh setelah penurunan Jumat (26/4/2021), adalah tanda bullish yang menambah antusiasme investor, kata Kepala Strategi Investasi CFRA Research Sam Stovall.

“Ini adalah sinyal positif, setidaknya dalam waktu dekat, bahwa pelemahan baru-baru ini telah menghilang,” kata Stovall.

Boeing Co melonjak 5,8 persen setelah United Airlines Holdings Inc memesan 25 pesawat 737 MAX baru dan menaikkan pengiriman lainnya saat bersiap untuk mengganti jet yang sudah tua dan memenuhi perkiraan pertumbuhan permintaan pasca pandemi.

Antusiasme Warren Buffett untuk masa depan Amerika Serikat dan perusahaannya Berkshire Hathaway Inc belum diredupkan oleh pandemi virus corona, menurut surat tahunannya kepada investor. Saham Berkshire menguat 3,6 persen.

Perrigo Co Plc melonjak 4,7 persen karena perusahaan produk perawatan kesehatan konsumen itu mengatakan akan menjual bisnis obat generik yang berkinerja buruk seharga 1,55 miliar dolar AS.

Saham Asia diperkirakan menguat saat aset-aset berisiko bersinar

Saham-saham Asia diperkirakan akan reli pada perdagangan Selasa, karena penghentian aksi jual di pasar obligasi baru-baru ini menenangkan saraf investor dan mengangkat aset-aset berisiko, meskipun harga minyak berada dalam posisi defensif di tengah kekhawatiran melambatnya konsumsi energi China.

Saham Australia menguat 0,8 persen pada awal perdagangan, sementara indeks berjangka E-mini S&P naik 0,15 persen dan indeks Nikkei Jepang dibuka 0,93 persen lebih tinggi.

Saham-saham AS telah melonjak semalam, dengan S&P 500 membukukan hari terbaiknya dalam hampir sembilan bulan, setelah penurunan imbal hasil obligasi dan optimisme tentang lebih banyak stimulus fiskal AS dan distribusi yang lebih luas dari vaksin COVID-19 membangkitkan minat investor terhadap aset-aset berisiko.

Untuk saat ini, semua mata akan tertuju pada bank sentral Australia, yang mengadakan pertemuan kebijakan bulanan pada Selasa. Analis memperkirakan Reserve Bank of Australia (RBA) akan menahan suku bunga pada level terendah bersejarah 0,1 persen ketika mengumumkan keputusan kebijakannya pada 0330 GMT.

“Ada banyak hal yang disukai tentang reli di pasar ekuitas Eropa dan AS,” kata Chris Weston, kepala penelitian di Pepperstone Group Ltd di Australia.

"Keuangan berkinerja baik, dengan 95 persen saham di S&P 500 menguat pada hari itu," katanya, menambahkan bahwa "jelas investor melihat dunia dalam cahaya baru".

Saham-saham AS bergolak minggu lalu ketika aksi jual obligasi negara mendorong imbal hasil obligasi AS 10-tahun ke level tertinggi satu tahun di 1,614 persen. Imbal hasil obligasi 10-tahun turun tipis di awal perdagangan pada 1,4255 persen.

Permintaan aset-aset berisiko tidak menekan dolar, biasanya dianggap sebagai mata uang safe-haven, karena investor bertaruh pada pertumbuhan dan inflasi yang cepat di Amerika Serikat. Indeks dolar AS naik 0,3 persen pada awal perdagangan terhadap sekeranjang mata uang menjadi 91,029.

Dolar Australia sedikit berubah pada 0,77685 dolar AS menjelang pertemuan RBA.

Dolar yang lebih kuat membebani emas, dan logam mulia itu dalam posisi defensif pada 1.722,89 dolar AS per ounce Selasa pagi.

Kegairahan aset-aset berisiko tidak membantu pasar energi. Harga minyak turun lebih dari 1,0 persen semalam setelah data menunjukkan pertumbuhan aktivitas pabrik China merosot ke level terendah sembilan bulan pada Februari, sebagian karena gangguan selama liburan Tahun Baru Imlek. Ada juga kekhawatiran di kalangan investor energi bahwa OPEC dapat meningkatkan pasokan global setelah pertemuan minggu ini.

Minyak mentah Brent turun 1,7 persen menjadi 63,31 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,6 persen menjadi 60,30 dolar AS.

WHO Minta Negara Kaya dan Produsen Vaksin Bantu Negara Berkembang

 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta negara dan produsen vaksin untuk memberikan lebih banyak bantuan bagi negara berkembang untuk mengakses vaksin Covid-19. WHO menyebut, bukan hanya dosis, tapi juga pengetahuan soal vaksin yang harus dibagikan pada negara berkembang.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, berbagai langkah harus diambil untuk meningkatkan produksi vaksin Covid-19, termasuk transfer teknologi, perizinan sukarela dan pembebasan sementara atas kekayaan intelektual, untuk meningkatkan cakupan vaksin atau imunisasi.

"Saya berharap kami akan membuat pilihan yang tepat," katanya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Xinhua pada Minggu (28/2/2021).

"Kita tidak bisa mengalahkan COVID tanpa ekuitas vaksin. Dunia kita tidak akan pulih cukup cepat, tanpa ekuitas vaksin. Ini jelas," sambung pemimpin WHO itu.

Dia menuturkan, berbagi vaksin sebenarnya adalah cara terbaik untuk menghidupkan kembali kehidupan dan mata pencaharian, dan adalah kepentingan semua negara untuk bekerja sama.
"Meskipun berulang kali adanya desakan dari WHO dan badan PBB lainnya untuk akses yang adil ke vaksin Covid-19, serta Perjanjian WTO tentang Aspek Terkait Perdagangan dari Hak Kekayaan Intelektual, yang mencakup ketentuan untuk pengabaian kekayaan intelektual pada vaksin, dunia tampaknya kurang bekerja sama dan bahkan menunjukkan perlawanan serius terkait ekuitas vaksin," ungkapnya.

Dikesempatan yang sama, Tedros juga merespon keputusan Dewan Keamanan (DK) PBB soal vaksin. DK PBB dengan suara bulat menyetujui resolusi yang menyerukan peningkatan akses ke vaksin Covid-19 di daerah yang dilanda konflik atau miskin.

"Saya senang DK PBB telah memberikan suara yang mendukung kesetaraan vaksin dan pada saat yang sama, jika kita akan mengambil solusi praktis, maka pengabaian kekayaan intelektual harus ditanggapi dengan serius," tukasnya.

AS Bakal Beri Sanksi Baru ke Myanmar usai 18 Pedemo Tewas

Pemerintah Amerika SerikatInggris hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam sikap represif aparat keamanan Myanmar dalam menghadapi aksi unjuk rasa pada akhir pekan lalu hingga menewaskan 18 orang.

Menurut Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, mereka akan tetap mendukung rakyat Myanmar menolak kudeta dan mempertahankan pemerintahan yang demokratis.

"Saya mengecam kekerasan yang mengerikan. Kami tetap mendukung penduduk Burma yang pemberani dan mengajak semua negara untuk mendukung mereka," kata Blinken dalam cuitan melalui Twitter, seperti dikutip Reuters, Senin (1/3).

Secara terpisah, Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan, mengatakan mereka tengah menggodok sanksi baru jika junta militer Myanmar tetap menghadapi para pengunjuk rasa dengan kekerasan dan senjata.

"Kami akan terus berkoordinasi dengan sekutu dan mitra di kawasan Indo-Pasifik dan seluruh dunia untuk menjerat mereka yang bertanggung jawab terkait aksi kekerasan itu," kata Jake dalam pernyataan pers.

"Kami tengah menyiapkan sanksi baru kepada mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan dan kudeta," ujar Jake.

Pemerintah AS sudah menerapkan sejumlah sanksi bagi perwira tinggi Angkatan Bersenjata Myanmar (Tatmadaw) yang dinilai bertanggung jawab atas kudeta dan aksi kekerasan kepada pengunjuk rasa. Sanksi itu berupa pembekuan aset milik Myanmar yang disimpan di lembaga perbankan dan finansial AS.

Sekutu AS, Inggris, juga mengecam aksi kekerasan yang dilakukan junta militer Myanmar terhadap para pengunjuk rasa.

"Kami bersama-sama dengan Amerika Serikat dan Kanada sudah menerapkan sanksi hak asasi manusia terhadap sembilan perwira tinggi militer Myanmar, termasuk panglima, atas peranan mereka dalam kudeta. Kami meminta dengan tegas supaya tindak kekerasan diakhiri dan praktik demokrasi dipulihkan," demikian kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Inggris.

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, turut mengecam kekerasan yang terjadi terhadap pedemo Myanmar pada akhir pekan lalu.

"Penggunaan senjata mematikan dan penangkapan tanpa proses hukum terhadap para peserta unjuk rasa damai tidak bisa diterima," kata Juru Bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric.

Jumlah korban meninggal dalam gelombang demo menentang kudeta di Myanmar pada akhir pekan lalu dilaporkan mencapai 18 orang.

Selain itu, Kantor Hak Asasi Manusia PBB melaporkan sebanyak 30 orang luka-luka dalam bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan Myanmar di sejumlah kota pada akhir pekan lalu.

Menurut PBB jumlah korban meninggal dalam demo Myanmar pada akhir pekan lalu kemungkinan adalah yang tertinggi dalam satu hari. Jika benar, maka jumlah korban jiwa dalam gelombang unjuk rasa di Myanmar sampai saat ini sudah mencapai 24 orang.

PBB mendesak supaya seluruh negara anggota PBB tidak mengakui pemerintahan junta militer untuk memberikan tekanan diplomatik selepas kudeta pada 1 Februari lalu.

Sebulan Lengser, Trump Berniat Kembali Maju Pilpres 2024

Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kemungkinan dirinya mencalonkan diri lagi dalam pemilihan presiden dalam 2024 mendatang pada Minggu (28/2). Padahal, Presiden AS ke-45 tersebut baru saja sebulan lengser dari Gedung Putih.

Tak hanya soal pencalonan dirinya, dalam pidatonya di Konferensi Aksi Politik Konservatif di Orlando, Trump juga mengulangi lagi klaim palsunya bahwa dia lah yang sebenarnya memenangkan pemilihan umum 2020 lalu, bukan penerusnya, Presiden Joe Biden.

"Dengan bantuan Anda, kami (Partai Republik) akan merebut kembali DPR AS, akan memenangkan lagi Senat, dan kemudian seorang presiden dari Republik akan kembali ke Gedung Putih dengan kemenangannya. Saya ingin tahu siapa itu? Saya bertanya-tanya," kata Trump sambil tersenyum.

Trump juga berjanji membantu partainya, Republik, mendominasi Kongres pada pemilihan legislatif 2022. Republik kehilangan kursi mayoritas di Kongres selama pemerintahan Trump.

Meski telah resmi keluar dari Gedung Putih pada 20 Januari, semangat Trump tidak redup untuk merebut kembali kursi kepresidenan AS.

Trump bahkan mengutuk sejumlah politikus Republik yang mendukung upaya pemakzulannya di Senat akibat menghasut

Trump menyebut beberapa nama seperti Senator Mitt Romney dan Pat Toomey, serta anggota DPR Liz Cheney dan Adam Kinzinger karena membelot Republik dan mendukung pemakzulan Trump beberapa waktu lalu.

Trump berjanji akan mendukung setiap politikus Republik untuk melawan keempat pembelot tersebut dalam pencalonan diri sebagai kandidat presiden AS dari partai.

"Singkirkan mereka semua," kata Trump seperti dikutip AFP.

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengulangi kebohongan dengan menceritakan kekalahannya di pemilu November 2020 lalu.

Trump bahkan mengkritik dan merendahkan kinerja Biden sebagai presiden selama sebulan terakhir.

"Mereka (pemerintahan Biden) baru saja kehilangan Gedung Putih," papar Trump mengkritik kebijakan Biden soal penanganan keamanan di perbatasan AS dan aturan imigrasi.

"Tapi siapa tahu, siapa tahu, saya bahkan mungkin memutuskan untuk mengalahkan mereka ketiga kalinya nanti," ujarnya menambahkan.

Gedung Putih Sebut AS akan Segera Jatuhkan Sanksi Baru pada Rusia

 Amerika Serikat (AS) dapat mengumumkan sanksi tambahan terhadap Rusia dalam waktu dekat. Hal itu diutarakan Sekretaris Pers Gedung Putih, Jen Psaki.

Menanggapi pertanyaan kapan Washington akan mengumumkan apakah akan ada sanksi tambahan terhadap Rusia, Psaki mengatakan bahwa itu akan terjadi dalam beberapa minggu ke depan.

"Ini adalah proses yang berkelanjutan, dan seperti yang Anda ketahui, proses itu tentu saja mencakup peninjauan kembali, tidak hanya keterlibatan mereka dalam pemilu 2020, tetapi juga hadiah untuk membunuh pasukan AS dan juga serangan SolarWinds, ada sejumlah komponen," ujar Psaki.

"Kami ingin memberi tim, tim cyber, tim keamanan nasional, waktu untuk menyelesaikan proses itu," sambungnya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Tass pada Minggu (28/2/2021).

Dia menuturkan, keputusan akhir mengenai sanksi itu, mengenai jenis dan waktunya, ada di tangan Presiden AS, Joe Biden. Meski demikian, dia yakin, keputusan itu akan dibuat dalam beberapa pekan mendatang.

"Tentu saja, seperti dalam kasus manapun, keputusan presiden, memiliki pilihan, harus saya katakan, untuk menanggapi dengan cara dan waktu yang dia pilih, terlihat dan tidak terlihat. Tetapi saya mengharapkan dalam beberapa minggu, bukan bulan, sebelum kita membuat kesimpulan," ujarnya.

Kapal Selam AS Diklaim Siap Tenggelamkan Kapal Perang Rusia di Suriah

 Kapal selam Amerika Serikat (AS), USS John Warner, dilaporkan bersiap untuk menenggelamkan kapal perang Rusia jika merespons serangan udara di Suriah pada April 2018. Demikian laporan kantor berita Fox News.

Menurut Fox News, USS John Warner meluncurkan enam rudal Tomahawk dari Laut Mediterania ke Suriah. Serangan itu menandai debut tempur kapal selam kelas Virginia itu.

"USS John Warner terjun dan bersiap untuk menenggelamkan kapal perang Rusia mana pun jika mereka mengambil tindakan terhadap kapal Angkatan Laut AS di daerah tersebut termasuk yang bertindak sebagai umpan dan tidak meluncurkan rudal ke Suriah," seperti dikutip dari Fox News, Minggu (28/2/2021).

Laporan tersebut adalah bagian dari artikel yang diturunkan Fox News saat membandingkan serangan udara yang dilakukan oleh Presiden Joe Biden dengan pendahulunya Donald Trump. Serangan yang diluncurkan oleh AS atas perintah Biden pada Kamis lalu menyasar fasilitas yang digunakan oleh milisi yang didukung Iran di Suriah timur.

Dalam serangan yang disebut sebagai peringatan untuk Iran itu, pesawat-pesawat tempur F-15 AS tidak menggunakan rudal Tomahawk karena dianggap tidak dibutuhkan. Jet-jet tempur AS menjatuhkan tujuh bom berpemandu GPS seberat 500 pon dengan target milisi pro Iran di daerah yang belum diperintah oleh pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad sejak perang saudara dimulai. Itu salah satu alasan pasukan Amerika dapat ditempatkan di sana di dekat perbatasan Irak dalam beberapa tahun terakhir untuk melawan ISIS yang relatif tidak terganggu.

Sedangkan dalam serangan pada bulan April 2017, Trump meluncurkan 59 rudal Tomahawk dari dua kapal perang AS untuk menghancurkan sebuah pangkalan udara yang digunakan militer Suriah.

Trump kemudian kembali menyetujui serangan rudal Tomahawk kedua pada April 2018, untuk menghancurkan apa yang diklaim Washington sebagai laboratorium senjata kimia milik pemerintah Suriah.

"Serangan minggu ini di Suriah Timur adalah daerah yang sama ketika Trump menyetujui militer AS untuk melancarkan serangan udara pada Desember 2019 ketika seorang kontraktor Amerika tewas dalam serangan roket di Irak beberapa hari sebelumnya. Pesawat tempur F-15 Angkatan Udara AS juga digunakan dalam serangan yang menghancurkan pejuang yang didukung Iran di Suriah timur dan Irak barat," demikian laporan Fox News.

Angkatan Udara AS-Saudi Mulai Latihan Bersama

Angkatan Udara Arab Saudi menggelar latihan bersama Angkatan Udara Amerika Serikat di pesisir barat negara di Timur Tengah tersebut pada Minggu (28/2).

Kementerian Pertahanan Saudi menuturkan latihan tersebut dijuluki Latihan Naga yang berfokus pada uji coba taktik pencegatan, simulasi perang, simulasi serangan balasan, dan latihan menekan musuh di udara, seperti dikutip Arab News.

Melalui pernyataan Kemhan Saudi, latihan itu dilakukan untuk "melanjutkan operasi bersama kedua angkatan udara dalam menjaga stabilitas dan keamanan di kawasan."

Riyadh juga memaparkan latihan bersama itu dilakukan untuk semakin menyelaraskan taktis dan integrasi antara pasukan kedua negara.

Pada awal Februari lalu, angkatan udara kedua negara juga telah menggelar latihan serupa. Latihan militer saat itu berfokus pada upaya memerangi drone atau pesawat nirawak musuh.

Sebab, drone selama ini kerap digunakan banyak pihak dalam konflik di Timur Tengah.

Drone juga kerap digunakan sejumlah kelompok militan, seperti pemberontak Houthi di Yaman.

Kelompok Houthi, yang didukung Iran, sudah berulang kali meluncurkan roket atau drone untuk menyerang Saudi.

Sementara itu, Iran merupakan musuh bebuyutan Saudi dan AS. Riyadh dan Washington selama ini berupaya membendung pengaruh Iran di kawasan yang kian meluas.

Tiga Nama Hilang dari Keterlibatan Pembunuhan Khashoggi

Tiga nama secara diam-diam dihapus dari laporan intelijen Amerika Serikat yang mengungkap detil pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada 2018. Ketiga nama tersebut yakni Abdulla Mohammed Alhoeriny, Yasir Khalid Alsalem dan Ibrahim al-Salim.

Kantor Direktur Intelijen Nasional AS menolak menjelaskan alasan menghapus nama yang semula ada dalam dan peran ketiganya dalam pembunuhan Khashoggi.

"Kami memasukkan dokumen yang direvisi di situs karena dokumen asli keliru memuat tiga nama yang seharusnya tidak dimasukkan," kata juru bicara intelijen AS, ODNI kepada CNN.

Senada, seorang pejabat senior pemerintahan mengklaim jika laporan tersebut tidak memuat informasi baru-merujuk pada hilangnya nama tiga orang yang diduga terlibat dalam kematian Khashoggi.

"Ini [adalah] informasi yang telah diketahui pemerintah AS dan diberi pengarahan kepada komite terpilih dan anggota Kongres lebih dari satu tahun lalu," kata pejabat itu.

Gedung Putih tidak menanggapi permintaan CNN atas perbedaan nama-nama yang terlibat dalam laporan tersebut.

Arsip internet Wayback Machine menemukan ODNI menghapus tiga nama dalam laporan yang diunggah daring itu. Laporan itu semula memuat 21 nama, kemudian direvisi menjadi 18 nama yang terllibat dalam kematian yang melibatkan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MbS).

Nama Abdulla Mohammed Alhoeriny, yang sebelumnya tidak pernah dikaitkan dengan kematian Khashoggi.

Menurut seseorang yang akrab dengan cara kerja intelijen Saudi menyebut bahwa Abdulla adalah saudara Jenderal Abdulaziz bin Mohammed al-Howraini, seorang menteri yang bertanggung jawab atas Kepresidenan Keamanan Negara yang mengawasi berbagai badan intelijen dan kontraterorisme. Laporan Saudi menyebut sosok Abdulla sebagai asisten kepala keamanan negara untuk kontraterorisme.

Sementara dua nama lain, yakni Yasir Khalid Alsalem dan Ibrahim al-Salim sejauh ini belum jelas siapa dan kaitannya dengan pemerintah maupun intelijen Saudi.

Ketiga nama itu tidak termasuk di antara 18 orang yang telah dijatuhi sanksi oleh Kementerian Keuangan AS atas pembunuhan Khashoggi. Laporan intelijen AS mengungkap keterlibatan 18 orang dalam kematian Khashoggi.

Khashoggi merupakan seorang kolumnis Washington Post yang kerap mengkritik MbS. Ia dinyatakan tewas di dalam gedung konsulat Saudi di Istanbul, Turki pada Oktober 2018 setelah sempat dinyatakan hilang.

Setelah melakukan investigasi selama enam bulan, pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyimpulkan Saudi "melakukan eksekusi yang disengaja dan direncanakan sebelumnya" terhadap Khashoggi.

Meski sempat membantah, Saudi akhirnya mengakui bahwa Khashoggi tewas di dalam gedung konsulatnya. Namun, Riyadh berkeras bahwa kerajaan tak terlibat pembunuhan jurnalis itu.

Riyadh menegaskan pembunuhan itu dilakukan oleh pejabat Saudi dengan perintah gelap.

Polisi Turki meyakini sehari sebelum Khashoggi masuk konsulat, terdapat 15 warga Saudi yang tiba dengan dua jet pribadi. Mereka masuk konsulat pada hari yang sama dengan hilangnya wartawan itu.

Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) juga telah menarik simpulan bahwa MbS memerintahkan pembunuhan Khashoggi.

Sejumlah sumber mengatakan kepada The Washington Post bahwa berdasarkan penyelidikan CIA, satu tim beranggotakan 15 agen Saudi diterbangkan ke Istanbul, Turki, menggunakan pesawat pemerintah pada Oktober lalu.

Tim itu kemudian menghabisi nyawa Khashoggi di dalam konsulat Saudi di Istanbul, di mana kolumnis The Washington Post itu mengurus dokumen yang diperlukan untuk pernikahannya dengan seorang warga Turki, Hatice Cengiz.