• Blog
  • News Forex, Index & Komoditi ( Jum’at,  19 Februari 2021 )

News Forex, Index & Komoditi ( Jum’at,  19 Februari 2021 )

Yellen: SEC akan siapkan laporan tentang volatilitas perdagangan ritel

Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan pada Kamis (18/2/2021) peningkatan prevalensi perdagangan tanpa komisi telah mendorong investor ritel lebih terlibat dalam saham, dan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) akan menyiapkan laporan tentang praktik perdagangan di tengah volatilitas baru-baru ini.

"Kesimpulan luas kami adalah bahwa pasar bekerja dengan cukup baik," dengan infrastruktur inti yang tangguh meskipun perdagangan berat dan volatilitas tinggi, Yellen mengatakan kepada CNBC dalam sebuah wawancara, mengacu pada pertemuan regulator baru-baru ini tentang perdagangan ritel yang menyebabkan peningkatan perdagangan di GameStop dan saham lain yang disukai di media sosial.

“Kami benar-benar perlu melihat apakah praktik perdagangan tersebut sejalan dengan perlindungan investor dan pasar yang adil dan efisien,” tambahnya.

Mengenai valuasi saham yang tinggi di tengah pengangguran yang tinggi, Yellen mengatakan hal ini sebagian disebabkan oleh tingkat suku bunga yang sangat rendah yang menyebabkan uang masuk ke saham.

"Di dunia dengan tingkat suku bunga yang sangat rendah, kelipatan jenis harga-pendapatan cenderung tinggi," katanya, menambahkan: "Mungkin ada sektor di mana kita harus sangat berhati-hati."

Yellen juga mengatakan pasar untuk surat utang pemerintah AS tetap "kuat" dan bahwa dia tidak melihat masalah dengan kemampuan Departemen Keuangan untuk membiayai defisit anggaran AS. Federal Reserve (Fed) akan membeli utang pemerintah apa pun yang sesuai untuk tujuan kebijakan moneter bank sentral, tambahnya.

Ditanya apakah dia ingin mengatur mata uang kripto seperti bitcoin, Yellen menyebutnya "investasi spekulatif berisiko tinggi" yang telah melihat lonjakan nilai baru-baru ini. Prioritas utama adalah memastikan bahwa bitcoin tidak digunakan sebagai kendaraan untuk transaksi ilegal dan perlindungan investor tetap terjaga, katanya.

Memastikan bahwa perusahaan yang berurusan dengan bitcoin dan mata uang kripto lainnya “mematuhi tanggung jawab peraturan mereka, saya pikir itu penting,” tambah Yellen.

Wall Street ditutup jatuh, Indeks Dow Jones dan Nasdaq merosot

Saham-saham di Wall Street ditutup lebih rendah pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena investor beralih dari saham-saham teknologi besar, sementara kenaikan tak terduga dalam klaim pengangguran mingguan AS menunjukkan pemulihan yang rapuh di pasar tenaga kerja.

Indeks Dow Jones Industrial Average terpangkas 119,68 poin atau 0,38 persen menjadi ditutup di 31.493,34 poin. Indeks S&P 500 berkurang 17,36 poin atau 0,44 persen, menjadi menetap di 3.913,97 poin. Indeks Komposit Nasdaq jatuh 100,14 poin atau 0,72 persen, menjadi berakhir di 13.865,36 poin.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor energi berkurang 2,27 persen, memimpin penurunan. Sedangkan sektor utilitas dan consumer discretionary sedikit menguat.

Saham Apple Inc, Tesla Inc, dan Facebook Inc, membebani indeks acuan S&P 500 dan Nasdaq yang padat teknologi. Saham Facebook turun 1,5 persen menjadi 269,39 dolar saat Wall Street menilai konsekuensi yang lebih luas dari langkahnya untuk memblokir semua konten berita di Australia.

Laporan laba perusahaan-perusahaan yang kuat, kemajuan dalam peluncuran vaksinasi dan harapan paket stimulus federal senilai 1,9 triliun dolar AS membantu indeks saham AS kembali mencapai rekor tertinggi pada awal pekan ini.

Tetapi reli selama berbulan-bulan menunjukkan saham sekarang memiliki penilaian tinggi, kata Direktur Investasi Dana kekayaan Swasta Glenmede, Jason Pride, di Philadelphia.

"Kami masih berada dalam lingkungan bullish yang hati-hati untuk pasar secara keseluruhan," kata Pride, mengutip dua alasan.

“Kita akan mendapatkan pemulihan ekonomi yang dipicu oleh vaksin, itu nomor satu. Sisi lain dari cerita itu adalah pasar sebagian besar telah memperkirakan dan mendorong diri mereka sendiri ke wilayah yang dinilai terlalu tinggi. Pasar akan berjuang dengan itu,” katanya.

Kekhawatiran atas prospek inflasi yang meningkat telah mendorong investor untuk membukukan keuntungan pada saham dengan valuasi tinggi di sektor teknologi dan jasa komunikasi Indeks S&P 500, yang telah mendukung kenaikan 76 persen di Indeks S&P 500 sejak posisi terendah Maret 2020.

Peter Essele, Kepala Manajemen Portofolio Commonwealth Financial Network di Boston, mengatakan ada banyak kegembiraan irasional yang dibangun dalam harga saham menuju tahun ini.

"Kami mulai memasuki lingkungan di mana risiko benar-benar menjadi faktor lagi dan terutama risiko inflasi," katanya. Sekarang pertanyaannya adalah apakah fundamentalnya akan sesuai dengan tingkat harga yang ada saat ini.

Sebuah laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan klaim awal untuk tunjangan pengangguran naik menjadi 861.000 minggu lalu dari 848.000 pada minggu sebelumnya, sebagian karena klaim potensial terkait dengan penutupan sementara pabrik mobil akibat kekurangan chip semikonduktor global.

Walmart Inc merosot 6,5 persen menjadi 137,66 dolar setelah pengecer terbesar di dunia itu gagal mencapai perkiraan laba kuartalan dan memperkirakan kenaikan satu digit dalam penjualan bersih fiskal 2022.

“Kami mendapatkan bacaan yang beragam. Penjualan eceran yang kuat dan kemudian klaim yang buruk. Kita akan melihatnya mungkin selama sisa kuartal ini," kata Kepala Investasi Cresset Capital Management, Jack Ablin, di Chicago.

Bahkan kisah Walmart tidak seburuk itu di permukaan; mereka akan melakukan lebih banyak investasi," kata Ablin.

Walmart telah banyak berinvestasi dalam periklanan daring dan bisnis perawatan kesehatan selama setahun terakhir, menggunakan momentum penjualan yang dipicu pandemi untuk melakukan diversifikasi di luar ritel fisik.

Marriott International Inc naik 0,5 persen menjadi 131,98 dolar setelah melaporkan kerugian kuartalan karena pemesanan jaringan hotel menurun akibat pembatasan perjalanan yang disebabkan pandemi.

Saham Tokyo dibuka merosot, tertekan pelemahan Wall Street

Saham-saham Tokyo dibuka lebih rendah pada perdagangan Jumat pagi, menyusul penurunan di Wall Street semalam, ketika sentimen investor tertekan oleh peningkatan klaim pengangguran mingguan AS yang meredupkan prospek laju pemulihan ekonomi global.

Pada pukul 09.15 waktu setempat, indeks acuan Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo kehilangan 177,09 poin atau 0,59 persen, dari penutupan Kamis (18/2/2021), menjadi diperdagangkan di 30.059,00 poin. Sehari sebelumnya Indeks Nikkei 225 merosot 56,10 poin atau 0,19 persen menjadi 30.236,09 poin.

Sementara itu Indeks Topix yang lebih luas dari seluruh saham papan utama di pasar Tokyo berkurang 11,14 poin atau 0,57 persen, menjadi diperdagangkan pada 1.930,77 poin. Indeks Topix turun 19,58 poin atau 1,00 persen menjadi 1.941,91 poin pada akhir perdagangan Kamis (18/2/2021).

Saham-saham perusahaan yang terkait dengan pertambangan, transportasi udara dan farmasi termasuk yang mengalami penurunan terbesar pada menit-menit pembukaan setelah bel perdagangan pagi.

Saham Asia diperkirakan turun hari ini, setelah Wall Street jatuh

Saham-saham Asia diperkirakan akan mundur pada perdagangan Jumat, menyusul penurunan di Wall Street karena data pekerjaan AS yang mengecewakan memicu kekhawatiran pemulihan ekonomi dari Virus Corona kehilangan momentum.

Indeks acuan S&P/ASX 200 Australia turun 0,49 persen pada awal perdagangan, sementara indeks berjangka Nikkei 225 Jepang turun 0,08 persen, indeks berjangka Hang Seng Hong Kong turun 0,44 persen.

Indeks saham global MSCI naik 0,06 persen.

Peningkatan tak terduga dalam jumlah orang Amerika yang mencari tunjangan pengangguran membebani pasar di seluruh papan perdagangan pada Kamis (18/2/2021). Departemen Tenaga Kerja melaporkan klaim pengangguran awal naik 13.000 menjadi 861.000, menyuntikkan skeptisisme tentang seberapa cepat ekonomi AS dapat pulih dari pandemi global.

Pada saat yang sama investor terus memperhatikan risiko tentang inflasi yang lebih tinggi setelah ekonomi kembali bergerak dan tekanan kenaikan mungkin dikenakan pada suku bunga.

“Dengan peningkatan peluncuran vaksinasi, dunia akan cepat menjadi normal. Dengan stimulus fiskal tambahan yang memberikan bahan bakar roket ke api inflasi, sulit untuk tidak berpikir bahwa tingkat suku bunga yang lebih tinggi akan menghantam banyak kelas aset,” tulis Kepala Strategi Pasar Global Axi, Stephen Innes.

Di Wall Street, saham-saham jatuh karena investor menjauh dari perusahaan teknologi besar dan lonjakan mengejutkan dalam klaim pengangguran AS menyuntikkan beberapa skeptisisme ke pasar yang telah mencapai rekor tertinggi di awal pekan.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,38 persen, Indeks S&P 500 kehilangan 0,44 persen, dan Indeks Nasdaq turun 0,72 persen.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga turun pada Kamis (18/2/2021) karena berkurangnya selera risiko. Imbal hasil acuan obligasi AS 10-tahun, yang menyentuh 1,333 persen pada Rabu (17/2/2021), level tertinggi dalam hampir satu tahun, terakhir turun 1,3 basis poin pada 1,2855 persen.

Dolar juga melemah menyusul data pekerjaan AS yang mengecewakan. Indeks dolar turun 0,33 persen menjadi 90,601 setelah dua hari berturut-turut naik, sementara euro dan yen menguat.

Pasar minyak melihat beberapa aksi ambil untung pada Kamis (18/2/2021), menurunkan harga setelah beberapa hari kenaikan didorong oleh cuaca beku mendalam di Texas yang membebani produksi. Minyak mentah Brent turun 41 sen atau 0,6 persen, menjadi menetap di 63,93 dolar AS per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 62 sen atau 1,0 persen, menjadi menetap di 60,52 dolar AS per barel.

Tembaga melonjak hampir 3,0 persen ke level tertinggi sejak April 2012 karena investor China kembali dari liburan selama seminggu menambah dorongan untuk reli yang telah hampir dua kali lipat harga dari posisi terendah Maret lalu, ketika kekhawatiran Virus Corona memuncak.

Spot emas turun 0,08 persen menjadi 1,774.76 dolar AS per ounce. Namun emas berjangka terangkat 2,2 dolar AS atau 0,12 persen menjadi ditutup pada 1.775,00 dolar AS per ounce.

Asia Perlu Tambah Investasi Hingga 1 Persen PDB Akibat Corona

Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mencatat negara-negara di kawasan Asia membutuhkan tambahan dana investasi sekitar 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2021.

Penambahan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan yang terganggu pandemi virus corona atau covid-19.

Sebelum pandemi, LPEM FEB UI memperkirakan kawasan Asia perlu investasi US$24,04 triliun selama 2016-2030. Sementara kawasan Asia tanpa China membutuhkan investasi sekitar US$8,56 triliun pada periode yang sama.

Artinya, kawasan Asia membutuhkan investasi sekitar US$1,6 triliun per tahun dan Asia tanpa China membutuhkan sekitar US$570,8 miliar per tahun.

Secara persentase, kebutuhan investasi di Asia mencapai 4,1 persen dari PDB. Sedangkan Asia tanpa China berkisar 3,5 persen dari PDB.

Seluruh kebutuhan investasi ini untuk memenuhi dana pembangunan. Namun, pandemi covid-19 telah menghambat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di negara-negara Asia.

"Apalagi, pandemi telah meningkatkan permintaan akan investasi dalam kebutuhan infrastruktur sosial. Maka, Asia harus menginvestasikan anggaran tambahan sekitar 0,5 persen sampai 1 persen dari PDB," kata Peneliti LPEM FEB UI Teguh Dartanto di forum dialog virtual yang diselenggarakan institusinya, Kamis (18/2).

Dengan begitu, estimasi baru mencatat kebutuhan investasi Asia setidaknya perlu mencapai 5,1 persen dari PDB akibat covid-19. Sementara investasi di Asia tanpa China perlu mencapai 4,5 persen dari PDB.

Masalahnya, investasi rupanya tidak mudah didapat oleh seluruh negara Asia secara bersamaan. Menurut hasil penelitian LPEM FEB UI, ada kesenjangan pembiayaan yang besar di negara-negara berkembang Asia, termasuk salah satunya dialami Indonesia.

Hal ini membuat negara-negara berkembang Asia memiliki keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur sosial. Mulai dari rumah sakit dan layanan kesehatan, sekolah dan sarana pendidikan, perumahan, dan lainnya.

Saat ini, mengutip data OECD, Teguh mengatakan kapasitas rumah sakit di Asia-Pasifik masih rendah, yaitu hanya memiliki 2-3 tempat tidur per 1.000 populasi. Kapasitas ini masih di bawah rata-rata negara berpendapatan tinggi di dunia dan Asia sekitar 4-6 tempat tidur.

"Covid-19 memperlebar kesenjangan pembiayaan antara investasi yang ada dan kebutuhan infrastruktur sosial," imbuhnya.

Tak hanya memperlebar kesenjangan pembiayaan, riset LPEM FEB UI juga menemukan bahwa pandemi covid-19 akan meningkatkan jumlah penduduk miskin di kawasan Asia. Sebelumnya, proyeksi lembaga memperkirakan ada tambahan 88-115 juta masyarakat yang masuk ke kemiskinan ekstrem pada 2020.

"Ini dapat meningkat menjadi 150 juta pada 2021," katanya.

Senada, Direktur Analisis Ekonomi dan Divisi Dukungan Operasional Riset Ekonomi di Departemen Kerjasama Regional Bank Pembangunan Asia (ADB) Rana Hasan juga melihat negara-negara di Asia perlu tambahan investasi untuk mengatasi pandemi dan meneruskan pembangunan. Namun, ia belum mengungkap berapa besar penambahan yang diperlukan.

Tapi yang jelas, jumlahnya lebih dari estimasi terakhir ADB, di mana kebutuhan investasi untuk infrastruktur di Asia sempat diramal setidaknya memerlukan US$1,7 triliun per tahun pada 2016-2030. Estimasi ini muncul dari hitung-hitungan kebutuhan investasi dari 45 negara di kawasan ini.

"Ini tentu harus meningkat pada tahun-tahun berikutnya," ujar Hasan pada kesempatan yang sama.

Di sisi lain, menariknya, data ADB menemukan aliran investasi di Asia sebelum pandemi mayoritas mengalir ke perusahaan-perusahaan rintisan (startup) dengan valuasi di atas Rp1 miliar atau dikenal dengan sebutan unicorn. Kebetulan, Asia merupakan salah satu kawasan yang rajin mencetak unicorn dalam beberapa tahun terakhir.

"45 persen dari investasi di 2019 ada di unicorn," katanya.

Jumlah unicorn pun meningkat dari 10 pada 2015, naik menjadi 40 pada 2019 dan proyeksi ADB akan mencapai 100 unicorn pada 2025.

Biden Cabut Semua Sanksi Iran di Era Trump Demi Pakta Nuklir

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mencabut seluruh sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap Iran yang diberlakukan di era Presiden Donald Trump.

Mereka berharap hal ini bisa membuat Iran mau kembali menaati perjanjian pembatasan program nuklir yang disepakati pada 2015.

Keputusan penarikan sanksi itu disampaikan oleh Biden melalui surat kepada Dewan Keamanan PBB yang diserahkan oleh Pelaksana Tugas Duta Besar AS untuk PBB, Richard Mills.

Dilansir Associated Press, Jumat (19/2), di dalam surat itu Biden menyatakan mencabut tiga surat dari masa pemerintahan Trump tertanggal 19 September 2020, yang isinya menyatakan AS kembali memberlakukan sanksi kepada Iran.

Di dalam surat disebutkan Biden menyatakan sanksi terhadap Iran sudah berakhir sejalan dengan penandatanganan kesepakatan nuklir 2015.

AS menarik diri dari perjanjian nuklir (JCPOA) pada era pemerintahan Presiden Donald Trump. Trump mengatakan alasan yang mendasari keputusan itu karena Iran masih mengembangkan persenjataan rudal dan terlibat dalam sejumlah konflik di Timur Tengah, yakni Suriah dan Yaman.

Pemerintahan Trump lantas menjatuhkan serangkaian sanksi terhadap para pejabat, pengusaha hingga perusahaan Iran.

Murka dengan keputusan Trump, Iran lantas meningkatkan pengayaan uranium hingga 20 persen, walau masih jauh dari tingkat pengayaan untuk membuat senjata yakni 90 persen. Bahkan mereka kini mulai menjajaki produksi logam uranium.

Israel menuduh program nuklir untuk pembangkit energi hanya kedok Iran untuk menutupi upaya pembuatan senjata nuklir.

Bahkan Israel mengancam akan menyerang Iran jika pemerintahan AS yang saat ini dipimpin Presiden Joe Biden tidak bersikap tegas terkait program nuklir itu.

Israel dan Badan Energi Atom Dunia (IAEA) meyakini Iran mempunyai program senjata nuklir, tetapi terhenti pada 2003.

Pentagon Sebut Sepertiga Tentara AS Tolak Vaksin Corona

Pejabat Kementerian Pertahanan Amerika Serikat memaparkan sekitar sepertiga dari total personel militer Negeri Paman Sam menolak menerima vaksin corona. Padahal, tingkat penularan corona antar-personel AS cukup signifikan.

Hal itu diungkapkan oleh Mayor Jenderal Jeff Taliaferro dalam sidang Kongres pada Rabu (17/2). Ia menganggap keengganan para pasukan AS menerima vaksin itu disebabkan karena belum ada kewajiban dari Pentagon soal vaksinasi personel militer.

"Tingkat penerimaan vaksin sekitar dua pertiga. Angka tersebut didasari pada data survei awal," kata Taliaferro.

Sementara itu, secara terpisah, juru bicara Kemhan AS, John Kirby, mengatakan sejauh ini pihaknya tak memiliki data lengkap jumlah personel yang telah melakukan vaksinasi Covid-19. Namun, ia memperkirakan sejauh ini lebih dari 916.500 personel telah melakukan vaksinasi corona.

Kirby mengatakan tingginya penolakan terhadap vaksinasi corona di tubuh militer sama dengan tren yang terjadi pada masyarakat luas.

Selain tak ada kewajiban, Kirby menganggap ketersediaan vaksin yang masih terbatas juga menjadi salah satu faktor banyak personel militer yang belum melakukan vaksinasi.

"Di militer, kami pada dasarnya mencerminkan tingkat penerimaan masyarakat Amerika," kata Kirby kepada wartawan seperti dikutip AFP.

Selama ini, pemerintah menggandeng militer dan Garda Nasional membantu vaksinasi masyarakat umum.

Kirby mengatakan pada akhir pekan ini, lebih dari satu juta anggota militer akan melakukan vaksinasi corona. Ia mengatakan selama ini Pentagon mewajibkan para personel militer melakukan sejumlah vaksinasi penyakit lainnya.

Namun, karena vaksin Covid-19 masih dalam tahap penggunaan darurat, Kirby menuturkan pihaknya tidak bisa memaksakan inokulasi vaksin tersebut terhadap para personel militer.

"Ada batas nyata, secara hukum, yang kami miliki, untuk mewajibkan (vaksinasi) bagi pasukan dan keluarga mereka," kata Kirby.

Terlepas dari angka penerimaan vaksin, Kirby menekankan bahwa Menhan Lloyd Austin telah mendapatkan vaksinasi corona.

"Yang diharapkan Menhan adalah agar para pria dan wanita di kementeriannya membuat keputusan terbaik dan paling tepat untuk mereka dan kesehatan mereka serta keluarga mereka," ujarnya.

Iran Bosan Dengar Janji Manis Biden Soal Pakta Nuklir

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, mendesak Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, jangan banyak bicara dan segera bertindak jika benar-benar ingin kembali menghidupkan perjanjian nuklir (JCPOA) yang diteken 2015 silam.

"Kami sudah mendengar banyak janji manis yang sebenarnya dilanggar dan tindakan yang diambil justru sebaliknya. Janji dan kata-kata tidak ada gunanya. Kali ini kami hanya menginginkan tindakan dari pihak sana (AS), kemudian kami juga akan bertindak," kata Khamenei dalam pidato yang disiarkan melalui televisi, seperti dikutip Reuters, Kamis (18/2).

Iran menetapkan batas waktu hingga pekan depan untuk Biden dan pemerintahannya mengambil sikap terkait pakta nuklir itu.

Khamenei sudah mendesak supaya Amerika Serikat segera mencabut seluruh sanksi ekonomi terhadap Iran, sebelum melanjutkan perundingan nuklir. Meski begitu, Biden menolak usulan itu.

AS menarik diri dari perjanjian nuklir (JCPOA) pada era pemerintahan Presiden Donald Trump. Trump mengatakan alasan yang mendasari keputusan itu karena Iran masih mengembangkan persenjataan rudal dan terlibat dalam sejumlah konflik di Timur Tengah, yakni Suriah dan Yaman.

Pemerintahan Trump lantas menjatuhkan serangkaian sanksi terhadap para pejabat, pengusaha hingga perusahaan Iran.

Murka dengan keputusan Trump, Iran lantas meningkatkan pengayaan uranium hingga 20 persen, walau masih jauh dari tingkat pengayaan untuk membuat senjata yakni 90 persen. Bahkan mereka kini mulai menjajaki produksi logam uranium.

Israel menuduh program nuklir untuk pembangkit energi hanya kedok Iran untuk menutupi upaya pembuatan senjata nuklir.

Bahkan Israel mengancam akan menyerang Iran jika pemerintahan AS yang saat ini dipimpin Presiden Joe Biden tidak bersikap tegas terkait program nuklir itu.

Israel dan Badan Energi Atom Dunia (IAEA) meyakini Iran mempunyai program senjata nuklir, tetapi terhenti pada 2003.

Khamenei menerbitkan fatwa pada 1990-an yang mengharamkan senjata nuklir. Selama ini Iran mengatakan program nuklir mereka digunakan untuk kepentingan damai, yakni untuk pembangkit listrik.

Kanselir Jerman, Angela Merkel, menelepon Presiden Iran, Hassan Rouhani, dan meminta supaya negara itu segera kembali menaati perjanjian itu.

"Ini adalah saatnya memberikan sinyal positif yang bisa menimbulkan rasa saling percaya dan membuka jalan keluar melalui diplomasi," kata Merkel dalam perbincangan dengan Rouhani melalui telepon.

IAEA menyatakan Iran melapor mereka sudah memasang alat sentrifugal pengayaan uranium, IR-2m, yang lebih canggih di fasilitas pengayaan di Natanz. Alat itu diperkirakan bisa melakukan pengayaan uranium lebih efisien, tetapi diperkirakan bakal melanggar pakta nuklir.

Iran juga berencana tidak mengizinkan pengawas dari IAEA memantau proses pengayaan uranium di masa mendatang.

Kementerian Luar Negeri AS berharap Iran tidak melarang pengawas IAEA memeriksa proses pengayaan uranium.

"Seperti yang kami garis bawahi, Iran harus berhenti melakukan hal itu dan tidak menghalangi IAEA. Jalur diplomasi masih terbuka," kata Juru Bicara Kemenlu AS, Ned Price.

Biden: Saya Lelah Bicara tentang Trump

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengaku merasa lelah karena publik terus membahas pendahulunya yang penuh kontroversi, Donald Trump.

Hal itu diungkapkan Biden saat menjawab pertanyaan wartawan soal tanggapannya terkait pernyataan terbaru Trump yang masih saja mengklaim dirinya memenangkan pemilu 2020 lalu.

"Saya lelah berbicara tentang Donald Trump. Saya tidak mau membicarakannya lagi," kata Biden dalam town hall CNN di Wisconsin pada Rabu (17/2) malam.

"Selama empat tahun yang menjadi berita adalah Trump. Dalam mepat tahun ke depan saya ingin memastikan semua berita itu terkait orang Amerika," paparnya menambahkan.

Pernyataan itu diutarakan Biden menanggapi komentar terbaru Trump yang masih saja mengklaim dirinya sebagai pemenang pemilu.

Sejak resmi lengser dari Gedung Putih pada 20 Januari lalu, Trump tak banyak menampilkan diri ke publik.

Namun, pada Selasa malam, Trump memberikan ucapan belasungkawa terhadap penyiar radio berhaluan sayap kanan Rush Limbaugh saat diwawancarai Fox News. Dalam wawancara singkat itu, Trump kembali mengangkat klaim tanpa buktinya soal pemilu.

Ia mengatakan merasa dirampok dari kemenangannya dalam pemilu 3 November lalu.

"Rush mengira kami menang dan begitu pula saya. Saya pikir saya menang (pemilu) secara substansial," kata Trump.

Politikus Partai Republik yang lolos pemakzulan keduanya itu juga mengklaim betapa "marahnya" Amerika tentang pemilu yang curang tersebut.

Dalam wawancara itu, Trump bahkan mengisyaratkan bahwa dirinya akan kembali mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilu 2024. Padahal, tingkat penerimaan publik terhadap Trump saat menjabat sebagai Presiden AS merupakan yang terendah dalam sejarah kepresidenan Negeri Paman Sam.

Trump mengklaim pencalonannya pun didukung sejumlah besar pendukungnya.

"Saya belum mau mengatakannya (soal pencalonan presiden) tetapi saya memiliki dukungan yang luar biasa. Dan saya melihat jumlah survei sedang naik-naiknya," ujar Trump seperti dikutip AFP.

"Katakanlah seseorang dimakzulkan, biasanya aka di polling survei akan turun, mereka turun seperti balon kehabisan udara. Tetapi, nyatanya, (dukungan untuk saya) sangat bagus, sangat tinggi," paparnya menambahkan.

Usut Asal-usul COVID-19, China Minta WHO Gantian Selidiki AS

 China sudah jadi sasaran penyelidikan tim ahli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam mengusut asal-usul pandemi COVID-19 . Sekarang Beijing meminta Amerika Serikat (AS) jadi sasaran penyelidikan serupa.

"[Kami berharap] mengikuti teladan China, pihak AS akan bertindak dengan cara yang positif, berbasis ilmu pengetahuan dan kooperatif dalam masalah penelusuran asal-usul [dan] mengundang pakar WHO untuk studi penelusuran asal-usul [pandemi COVID-19]," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Wang Wenbin.

Zeng Guang, kepala ahli epidemiologi di Pusat Pengendalian Penyakit China mengatakan virus—yang secara luas diterima pertama kali menyebar di pasar basah di Wuhan—bisa saja berasal dari Amerika Serikat.

Dia mengatakan "fokus" sekarang harus tepat di AS.

Beijing telah mendorong sejumlah teori alternatif tentang bagaimana virus corona SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 pertama kali muncul setelah mengumpulkan kritik atas reaksi awal mereka terhadap wabah di Wuhan pada 2019.

Sebuah laboratorium di Wuhan yang berfokus pada penelitian patogen mematikan dituding pihak AS di era pemerintah Donald Trump sebagai tempat kelahiran COVID-19. Zeng membalas dengan mencurigai Fort Detrick, laboratorium penelitian biomedis Angkatan Darat AS di Maryland, sebagai rumah virus.

"AS memiliki laboratorium biologi di seluruh dunia," katanya pada situs web yang berbasis di Shanghai.

"Mengapa AS memiliki begitu banyak laboratorium? Apa tujuan semua ini?" Kata Zeng, seperti dikutip news.com.au, Jumat (19/2/2021). "Dalam banyak hal, AS menuntut pihak lain untuk terbuka dan transparan. Pada akhirnya, AS sendiri seringkali menjadi yang paling buram."

Waswas dengan Misil Iran, Israel-AS Kembangkan Perisai Rudal Balistik

 Israel mengumumkan bahwa mereka sedang mengembangkan perisai rudal balistik baru, Arrow-4, dengan Amerika Serikat (AS). Kerja sama ini sebagai bagian dari sistem pertahanan yang dibangun dengan tujuan mempertahankan diri dari serangan Iran .

Rudal pencegat Arrow-2 dan Arrow-3 Israel sudah beroperasi sebagai bagian dari sistem berlapis-lapis untuk menghancurkan rudal yang masuk di atmosfer dan di luar angkasa.

"Pengembangan Arrow-4 bersama dengan mitra Amerika kami akan menghasilkan lompatan teknologi dan operasional ke depan, mempersiapkan kami untuk medan perang masa depan dan ancaman yang berkembang di Timur Tengah dan sekitarnya," kata Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Middle East Monitor, Jumat (19/2/2021).

kontraktor utama untuk Arrow-4. Boeing dan Sistem Elbit Israel juga merupakan bagian dari proyek pertahanan Arrow.

Sebelumnya, komite kementerian untuk akuisisi militer Israel telah menyetujui kesepakatan senjata baru yang kontroversial yang mencakup satu skuadron jet tempur siluman F-35 baru buatan Lockheed Martin AS.

Kesepakatan pembelian senjata itu tak hanya F-35. Namun, negara Yahudi itu juga memborong empat pesawat pengisi bahan bakar udara KC-46 dan pesawat angkut militer strategis buatan Boeing, serta berbagai rudal dan bom canggih.

Para pemimpin Israel menggambarkan program rudal balistik Iran sebagai ancaman bagi negara Zionis itu dan dunia. Iran mengatakan pengembangan misilnya bersifat defensif dan ditujukan untuk mencegah serangan.

Iran sendiri belum lama ini melakukan uji coba rudal pintar dengan jangkauan hingga 300 km. Rudal ini dikendalikan oleh Angkatan Darat Iran. Sedangkan rudal jarak jauh yang mampu melakukan perjalanan hingga 2.000 km (1.250 mil) atau cukup untuk menjangkau musuh bebuyutannya; Israel, dan pangkalan militer AS dikendalikan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), paramiliter Iran.