• Blog
  • News Forex, Index & Komoditi ( Rabu,  17 Februari 2021 )

News Forex, Index & Komoditi ( Rabu,  17 Februari 2021 )

Wall Street beragam, indeks Dow catat rekor penutupan tertinggi

Indeks pasar saham Wall Street berakhir beragam pada Selasa (Rabu pagi WIB), dengan Dow Jones Industrial Average mencatat rekor penutupan tertinggi karena saham sektor siklikal menguat di tengah prospek lebih banyak bantuan fiskal untuk mengangkat ekonomi AS dari kemerosotan akibat virus corona.

Namun, Nasdaq merosot ketika saham-saham teknologi bergerak lebih rendah, sementara kekhawatiran atas kenaikan suku bunga membuat indeks acuan S&P 500 sedikit berubah.

Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 64,35 poin atau 0,20 persen, menjadi berakhir di 31.522,75 poin. Indeks S&P 500 turun 2,24 poin atau 0,06 persen, menjadi ditutup pada 3.932,59 poin. Indeks Komposit Nasdaq terpangkas 47,97 poin atau 0,34 persen, menjadi berakhir di 14.047,50 poin.

Delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan utilitas merosot 1,14 persen, memimpin penurunan. Sektor energi melonjak 2,26 persen, merupakan kelompok dengan kinerja terbaik.

Sektor-sektor yang siap mendapatkan keuntungan terbesar dari ekonomi yang dibuka kembali, termasuk energi dan keuangan, memiliki persentase keuntungan terbesar.

Presiden Joe Biden telah mengajukan RUU bantuan pandemi senilai 1,9 triliun dolar AS dan mendesak Kongres untuk mengesahkannya dalam beberapa minggu mendatang untuk mendapatkan stimulus bantuan tunai 1.400 dolar AS kepada warga Amerika dan meningkatkan pembayaran pengangguran.

Indeks perbankan S&P 500 naik ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun mencapai level tertinggi sejak Februari 2020.

"Kami memasuki minggu ini dengan perspektif positif tentang upaya pemerintah Biden untuk memberikan paket yang cukup besar," kata Quincy Krosby, kepala strategi pasar di Prudential Financial di Newark, New Jersey. Pasar menyambutnya dengan gerakan positif.

Sebaliknya, utilitas dan real estat mencatat persentase kerugian terbesar di antara sektor S&P 500. Utilitas dan real estat, karena laba mereka stabil dan imbal hasil dividen tinggi, sering dianggap sebagai proksi obligasi dan cenderung bergerak bersama-sama dengan obligasi AS. Saham pembangun rumah, yang sensitif terhadap suku bunga, juga turun. Indeks Perumahan PHLX berakhir 2,5 persen lebih rendah.

Saham-saham teknologi juga merosot. Sektor itu mencakup banyak saham dengan kelipatan laba tinggi, yang mungkin juga mendapat tekanan dengan imbal hasil yang meningkat, menurut beberapa analis pasar.

S&P 500 mundur dari tertinggi sesi saat imbal hasil naik pada Selasa (16/2/2021), yang mencerminkan kekhawatiran investor tentang lonjakan imbal hasil obligasi hari ini, kata Robert Phipps, direktur Per Stirling Capital Management di Austin, Texas. Ekuitas kemungkinan akan mentolerir kenaikan suku bunga secara bertahap, tetapi sprint yang lebih tinggi dapat menciptakan turbulensi, dalam pandangannya.

“Meski suku bunga masih sangat rendah, pasar saham akan sangat-sangat sensitif terhadap perubahan,” ujarnya.

Penurunan tajam dalam infeksi baru virus corona baru, kemajuan dalam vaksinasi dan musim laporan keuangan kuartal keempat yang lebih kuat dari perkiraan telah memperkuat harapan pemulihan bisnis yang cepat tahun ini.

Laporan laba minggu ini dari Hilton Worldwide Holdings Inc, Hyatt Hotels Corp, Marriott International Inc, Norwegian Cruise Lines, dan TripAdvisor Inc akan diawasi dengan ketat untuk tanda-tanda peningkatan permintaan perjalanan global.

Saham mata uang kripto dan perusahaan terkait blockchain termasuk Silvergate Capital Corp, Riot Blockchain dan Marathon Patent Group melonjak antara 8,0 persen dan 21 persen karena bitcoin sempat naik menembus level 50.000 dolar AS.

Investor juga akan fokus minggu ini pada risalah dari pertemuan Federal Reserve Januari, di mana Fed menegaskan kembali janjinya untuk mempertahankan sikap kebijakan yang dovish.

Pasar saham Asia tawarkan sinyal beragam, investor cerna stimulus

Pasar saham Asia menunjukkan pembukaan beragam pada perdagangan Rabu pagi, karena investor mempertimbangkan prospek kebangkitan ekonomi dan stimulus tambahan dengan kekhawatiran pandemi yang berlanjut.

Indeks acuan S&P/ASX 200 Australia naik 0,06 persen pada awal perdagangan, sementara indeks berjangka Nikkei 225 Jepang naik 0,12 persen dan indeks berjangka Hang Seng Hong Kong turun 0,37 persen.

Pembukaan tentatif muncul setelah penyelesaian beragam di Wall Street. Ekspektasi bahwa pembuat kebijakan AS akan tetap berpegang pada stimulus fiskal dan moneter yang signifikan membantu mendorong saham lebih tinggi dan mendorong aksi jual obligasi. Namun, kekhawatiran atas kenaikan suku bunga membebani beberapa sektor.

"Pasar AS memulai minggu dalam mode optimis setelah ditutup untuk Hari Presiden pada Senin,” tulis analis ANZ dalam catatan risetnya.

"Saat ekspektasi inflasi meningkat, investor mencari cara untuk mengurangi eksposur mereka ke pendapatan tetap demi investasi yang akan naik dengan gelombang inflasi apa pun."

Di Wall Street, Dow Jones Industrial Average mencetak rekor penutupan tertinggi pada Selasa (16/2/2021), naik 0,2 persen. S&P 500 turun 0,06 persen, dan Komposit Nasdaq turun 0,34 persen. Indeks saham global MSCI turun 0,1 persen.

Lonjakan itu terjadi ketika Amerika Serikat terus meningkatkan distribusi vaksin dan Presiden Joe Biden mengajukan RUU bantuan pandemi senilai 1,9 triliun dolar AS.

Kenaikan bitcoin yang terus berlanjut menambah sentimen bullish, setelah mata uang kripto secara singkat menembus 50.000 dolar AS untuk pertama kalinya.

Dolar AS bangkit kembali dari posisi terendah tiga minggu, didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi. Terhadap sekeranjang mata uang rival global, dolar naik 0,21 persen.

Pada Selasa (16/2/2021), imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun naik di atas 1,3 persen untuk pertama kalinya sejak pandemi terjadi. Kurva imbal hasil yang curam mencerminkan ekspektasi akan stimulus fiskal dan moneter yang sedang berlangsung.

Cuaca beku di seluruh AS Selatan yang menutup sumur dan kilang membantu mendorong harga minyak mendekati level tertinggi 13 bulan pada Selasa (16/2/2021). Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup naik 1,0 persen, dan Brent naik 0,1 persen.

Investor akan mengamati data penjualan ritel AS yang baru pada Rabu untuk tanda-tanda pemulihan, serta risalah yang baru diterbitkan dari pertemuan kebijakan Federal Reserve Januari.

Laporan laba minggu ini dari Hilton Worldwide Holdings Inc, Hyatt Hotels Corp dan Marriott International Inc juga akan diteliti untuk mencari tanda-tanda peningkatan dalam permintaan perjalanan global.

Harga spot emas turun 1,2 persen pada Selasa (16/2/2021), dengan emas berjangka AS menetap turun 1,3 persen karena investor menjauh dari aset-aset safe haven.

Harga Minyak Dunia Naik Lagi Ditopang Cuaca Dingin Ekstrem AS

Harga minyak mentah dunia mendekati level tertinggi 13 bulan pada perdagangan Selasa (17/2) waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan harga komoditas itu didorong cuaca ekstrem di AS bagian selatan yang menutup sumur dan kilang minyak di Texas.

Mengutip Antara, Rabu (17/2), ekstremnya cuaca di AS mengancam pasokan energi dari negara bagian penghasil minyak mentah utama di AS. Dengan demikian, jumlah permintaan berpotensi lebih besar dari pasokan.

Tercatat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Maret naik 1 persen atau 58 sen menjadi US$60,05 per barel.

Sementara, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April ditutup naik 0,1 persen atau 5 sen menjadi US$63,35 per barel.

Harga minyak mentah dunia telah meningkat selama berbulan-bulan. Hal ini dipengaruhi pembatasan produksi dan proses vaksinasi covid-19 yang sudah dilakukan oleh sejumlah negara.

"Cuaca dingin di AS sekarang dikutip sebagai alasan lain dari harga minyak yang tinggi," ucap Analis Energi di Commerzbank Research Eugen Weinberg.

Cuaca dingin di Texas membuat pasokan listrik dan produksi minyak terhenti hingga 1 juta barel per hari. Selain itu, cuaca buruk itu juga membuat operasional jaringan pipa dan sarana transportasi lainnya terganggu.

"Suhu dingin telah menambah dukungan sisi pasokan di tengah banyak pembekuan sumur dan beberapa gangguan kilang karena beberapa fasilitas telah ditutup paksa akibat pembatasan daya," imbuh Presiden Ritterbusch and Associates di Galena Jim Ritterbusch.

Sementara, Analis Rystad Energy memperkirakan 500 ribu hingga 1,2 juta barel produksi minyak di AS akan ditutup akibat cuaca dingin di AS. Ia menyatakan beberapa penyulingan terbesar di AS telah ditutup saat ini.

Sebelumnya, harga minyak Brent naik 70 sen atau 1,1 persen menjadi US$63,13 per barel. Lalu, harga minyak WTI AS naik 63 sen atau 1,1 persen ke level US$60,1 per barel.

China Tangkap Komplotan Pemalsu Vaksin Corona

China menangkap komplotan sindikat pemalsu vaksin corona dengan omzet miliaran rupiah.

Seperti dikutip dari Reuters, pihak berwenang telah menangkap 70 tersangka dalam 21 kasus. Kantor berita Xinhua pada Senin (15/2) melaporkan bahwa sebagian besar kasus itu muncul pada tahap awal peluncuran vaksin.

Satu kelompok tersangka mendapat untung sekitar 18 juta yuan atau sekitar Rp38 miliar.

Mereka mengemas larutan garam atau air mineral dalam 58 ribu dosis vaksin palsu. Aparat telah menangkap otak pelaku yang diidentifikasi dengan nama belakang Kong pada Desember lalu.

Menurut Financial Review, komplotan tersebut mengirim 600 botol vaksin palsu ke Hong Kong pada November, lalu dijual ke luar negeri. Namun tidak disebutkan ke negara mana mereka mengirim.

Sebanyak 1.400 vaksin palsu lainnya disimpan di Hong Kong dan China selatan. Hingga Desember tahun lalu, lebih dari 200 orang telah divaksinasi dengan 500 dosis vaksin palsu.

Dalam kasus lain, aparat menemukan vaksin palsu dijual dengan harga tinggi. "Termasuk dalam skema inokulasi darurat di rumah sakit, atau diselundupkan ke luar negeri," tulis Xinhua.

Kejaksaan Agung China mendesak badan-badan regional untuk bekerja sama dengan polisi untuk bertindak cepat guna mencegah kejahatan semacam itu terjadi lagi.

China telah memberikan 40,52 juta dosis vaksin Covid-19 kepada kelompok-kelompok prioritas utama pada pekan lalu.

China sendiri dianggap telah berhasil mengendalikan pandemi virus corona dengan tindakan penguncian, pengujian dan pelacakan yang ketat.

Trump Disebut Sempat Ngotot Ingin Bunuh Presiden Suriah

Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut harus dibujuk agar tak melancarkan pembunuhan terhadap Presiden Suriah Bashar Al-Assad pada 2017.

Hal itu diungkapkan oleh mantan wakil penasihat keamanan nasional presiden, KT Macfarland, saat berbicara dengan BBC untuk film dokumenter tentang Trump.

Macfarland mengatakan Trump bersikeras bahwa dia akan "memusnahkan" Assad setelah melihat sejumlah gambar terkait serangan gas kimia sarin yang terjadi di Suriah pada April 2017.

"Saya mengatakan kepada Trump, 'Anda tidak bisa melakukan itu' dan dia berkata 'mengapa?'. Saya menjawab 'itu adalah tindakan perang'," kata Macfarland pada Senin (15/2) seperti dikutip Arab News.

Suriah dan Rusia menyangkal bahwa rezim Assad terlibat dalam serangan yang menargetkan kelompok pemberontak dan warga sipil itu.

Namun, laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan "yakin bahwa Suriah bertanggung jawab atas serangan gas sarin di Khan Sheikhoun" pada 4 April 2017.

Macfarland menuturkan Trump merespons insiden itu dengan meluncurkan serangan udara langsung ke Suriah dengan menembakan sekitar 59 rudal jelajah ke pangkalan udara Shayrat, barat Suriah.

Pangkalan udara itu merupakan lokasi serangan kimia tersebut diluncurkan.

Sementara itu, Laporan Global Public Policy Institute 2019 yang berbasis di Berlin menjabarkan bukti-bukti yang memperlihatkan bahwa ada lebih dari 330 serangan kimia yang telah terjadi selama perang sipil di Suriah meletus.

Laporan itu mengatakan 98 persen dari ratusan serangan zat beracun itu dilakukan rezim Assad. Sementara itu, dua persen sisanya dilakukan oleh kelompok teroris ISIS.

"Kami menduga jumlah serangan zat kimia sebenarnya mungkin masih jauh lebih tinggi," bunyi kutipan laporan itu.

Militer Myanmar Bersikeras Aksi Mereka Bukan Kudeta

 Militer Myanmar kembali mengatakan bahwa tidak punya pilihan selain merebut kekuasaan di negara itu. Mereka juga bersikeras bahwa aksi yang mereka lakukan itu bukan kudeta.

Juru bicara militer Myanmar, Zaw Min Tun menuturkan bahwa penahanan para pemimpin sipil, termasuk Aung San Suu Kyi juga adalah sesuatu yang harus dilakukan. Dia mengklaim bahwa dugaan kecurangan pemilu pada November belum ditangani atas perintah militer.

"Tujuan kami adalah mengadakan pemilihan dan menyerahkan kekuasaan kepada partai pemenang," ucapnya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Sputnik pada Selasa (16/2/2021).

Mengomentari demonstrasi terbaru di Yangon, Zaw mencatat bahwa demonstran menghasut kekerasan terhadap polisi selama unjuk rasa.

Rusia: AS Tolak Hadiri Pertemuan Bahas Situasi Suriah

 Amerika Serikat (AS) menolak untuk menghadiri pembicaraan format Astana tentang Suriah , yang digelar di Sochi, sehubungan dengan keragu-raguan mengenai kebijakan Suriah. Hal itu diungkapkan Utusan Khusus Presiden Rusia untuk Suriah, Alexander Lavrentyev.

"Kami mengirim undangan ke mitra Amerika kami untuk menghadiri konferensi Astana-15, tetapi sayangnya kami menerima penolakan," ucapLavrentyev, seperti dilansir Sputnik pada Selasa (16/2/2021).

"Saat ini Amerika sedang sibuk dengan masalah internal dan tampaknya belum memutuskan pendekatan terkait Suriah. Nah , kami akan menunggu dan melihat," sambungnya.

Dia menuturkan, delegasi Turki, Iran, pemerintah Suriah dan oposisi Suriah, dan PBB telah tiba diSochi untuk mengambil bagian dalam pembicaraan format Astana tentang Suriah.

"Delegasi dari Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) dan Komite Internasional Palang Merah (ICRC), pengamat dari Yordania, Irak, dan Lebanon juga telah tiba," kata Lavrentyev.


Lavrentyev kemudian menyatakan bahwa Moskow menyesalkan atas isolasi Suriah, yang membatasi penyelenggaraan dialog yang setara dengan pemerintah Suriah. Dia juga mengecam sanksi sepihak yang dijatuhkan oleh Washington sebagai hukuman kolektif terhadap rakyat Suriah.

"Sudah waktunya bagi oposisi Suriah untuk mengambil tindakan untuk membebaskan wilayah dari kehadiran teroris. Pembicaraan dengan pasukan oposisi Suriah harus diadakan untuk menjauhkan mereka dari kelompok radikal," ungkapnya.

Militer Korsel Tangkap Warga Korut, Diduga Membelot dari Kim Jong-un

 Militer Korea Selatan (Korsel) pada Selasa (16/2/2021) mengatakan bahwa mereka telah menangkap seorang warga Korea Utara (Korut) yang melintasi perbatasan. Orang yang ditangkap itu diduga membelot dari rezim Kim Jong-un yang berkuasa di Korea Utara.

Perbatasan kedua negara yang dilintasi warga Korut itu dijaga ketat. Dugaan pembelotan itu merupakan aksi langka tengah pandemi virus corona baru (COVID-19).

Kepala Staf Gabungan (JCS) Korsel, dalam sebuah pernyataan, mengatakan warga Korut itu ditemukan pada Selasa pagi di dekat pos pemeriksaan di sisi timur Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan kedua Korea. Kemunculan orang itu mendorong militer Korsel melakukan operasi pencarian yang mendesak.

"Kami telah menahan individu tak dikenal ini dan sedang melakukan penyelidikan," kata JCS, seperti dikutip Reuters.

Pelintasan perbatasan jarang terjadi ketika penguncian wilayah berkepanjangan oleh Korea Utara. Langkah itu telah menurunkan jumlah pembelot yang tiba di Korea Selatan hingga ke level terendah sejak tahun lalu.

Sekitar 200 warga Korea Utara menetap di Korea Selatan pada tahun lalu, turun sekitar 80 persen dari 2019. Data itu bersumber dari Menteri Unifikasi Lee In-young.

Kasus terakhir yang diketahui publik adalah pada November ketika seorang pria Korea Utara membelot ke Korea Selatan melalui DMZ timur.

Hubungan lintas perbatasan memburuk setelah pembicaraan denuklirisasi antara Pyongyang dan Washington terhenti sejak 2019.

Perselisihan terjadi pada bulan September setelah pasukan Korea Utara menembak mati seorang pejabat perikanan Korea Selatan yang hilang di laut, memicu keributan publik dan politik di Korea Selatan.

Pada Juli lalu, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengumumkan keadaan darurat dan menutup kota perbatasan setelah seseorang dengan gejala COVID-19 secara ilegal melintasi perbatasan dari Korea Selatan ke Korea Utara.

Korea Utara belum mengonfirmasi satu pun kasus COVID-19, meskipun para pejabat Seoul meragukannya karena pertukaran aktif negara itu dengan China—tempat virus pertama kali muncul—sebelum penutupan perbatasannya.

Iran Nilai AS Lakukan Pembajakan Terhadap Kapal Tankernya

 

Iran menyebut langkah Amerika Serikat (AS) menyita kapal tanker pada bulan ini sebagai aksi pembajakan. Pasalnya, kapal tersebut bukan milik pemerintah Iran tapi sektor swasta.

Pada awal bulan ini Washington mengajukan gugatan untuk menyita sebuah kapal kargo. AS yakin Iran berusaha menutupi asal minyak yang dikirim ke China dengan memindahkannya ke sejumlah kapal sebelum berakhir di kapal Achilleas yang berbendera Liberia. Washington mengatakan kapal kargo itu melanggar peraturan terorisme AS.

"Kapal ini bukan milik Pemerintah Iran, itu milik sektor swasta," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh dalam konferensi pers mingguan, Senin (15/2/2021).

Khatibzadeh tidak menjelaskan apa yang ia maksud dengan sektor swasta. Berdasarkan data pelacak kapal Refinitiv, Minggu (14/2/2021) kemarin posisi Achilleas dilaporkan berlabuh di Galveston Offshore Lightering Area yang terletak di luar pelabuhan Teluk Galveston, AS.

Pekan lalu Pemerintah AS mengatakan Washington telah menjual lebih dari satu juta barel bahan bakar Iran. Bahan bakar itu disita berdasarkan program sanksi yang diberlakukan tahun lalu.

Ketegangan antara Washington dan Teheran memanas sejak 2018. Presiden AS ketika itu Donald Trump mengeluarkan Paman Sam dari kesepakatan nuklir Iran 2015 dan memberlakukan kembali sanksi-sanksi ekonomi pada Iran.

Presiden AS Joe Biden berjanji akan membawa kembali AS bergabung dengan perjanjian yang disebut Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) itu. Syaratnya Iran harus mematuhi semua ketentuan JCPOA terlebih dahulu.

"Sangat disayangkan aksi pembajakan terjadi di bawah pemerintah AS yang baru, harus ditemukan solusi untuk menghentikan aksi pembajakan terhadap siapapun atas alasan apapun," kata Khatibzadeh.

Netanyahu Akui Beda Pandangan dengan Biden soal Palestina

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui berbeda pandangan dengan Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengenai masalah Iran dan Palestina. Meski demikian, dia yakin memiliki hubungan kerja yang kuat dengan Biden.

"Kami memiliki banyak hal yang kami sepakati dan aliansi sangat kuat. Tapi ada juga perbedaan, tentang masalah Iran dan masalah Palestina," kata Netanyahu, Senin (15/2) seperti dikutip dari Reuters.

Dia juga menepis anggapan bahwa Biden sengaja mengecualikannya. Netanyahu mengaku tidak khawatir Biden belum meneleponnya sejak dia resmi menjabat pada 20 Januari. Padahal, selama pemerintahan mantan presiden Donald Trump, Israel merupakan sekutu dekat AS.

 

"Dia akan menelepon. Kami memiliki hubungan persahabatan yang sangat kuat selama hampir 40 tahun, sejak saya datang ke Washington sebagai diplomat Israel, dan dia adalah senator muda dari Delaware."

Ada spekulasi bahwa itu menandakan ketidaksenangan Biden atas hubungan dekat Netanyahu dengan Trump. Trump diketahui langsung menelepon Netanyahu dua hari setelah dilantik jadi presiden pada 2017.

Namun Gedung Putih membantah anggapan itu.

Pemerintahan AS membantah bahwa Biden sengaja menghina Netanyahu karena tidak menyertakannya dalam panggilan telepon ke para pemimpin dunia sejak dia menjabat.

Hubungan Netanyahu dan Biden kemungkinan akan menghadapi ujian jika Washington memulihkan partisipasi AS dalam kesepakatan nuklir Iran dan menentang pembangunan permukiman Israel di tanah tempat Palestina mencari status kenegaraan.

Gedung Putih sendiri mengatakan bahwa Biden dan Netanyahu akan segera berbicara, tetapi tidak dijelaskan secara spesifik kapan waktunya.

Putin Tertarik 'Ngobrol' dengan Elon Musk di Clubhouse

Juru bicara Presiden Rusia Vladimir Putin, Dmitry Peskov merespons ajakan CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk yang mengundang untuk ikut mengobrol di aplikasi Clubhouse.

Peskov mengatakan jika Putin tertarik untuk memenuhi undangan Musk untuk mengobrol di aplikasi tersebut.

"Ini [undangan Musk lewat Twitter] tentu saja, ajakan yang sangat menarik, tetapi kami perlu memahami apa yang dimaksud, apa yang diusulkan," kata Peskov kepada awak media di Moskow, Senin (15/2) seperti mengutip Reuters.

Ia mengatakan jika pihaknya terlebih dahulu harus memahami secara spesifik undangan diskusi yang diajukan Musk terhadap Putin. Hal itu terlebih mengacu pada Putin yang tidak secara langsung menggunakan aplikasi media sosial.

Clubhouse merupakan aplikasi sosial media berbasis audio yang tengah populer setelah Musk mempromosikannya di Twitter. Pengguna hanya bisa mengirim pesan suara di layanan ini, tanpa video, tanpa teks, tanpa gambar.

Ajakan Musk untuk mengundang Putin berdiskusi muncul setelah SpaceX mengirim empat astronaut pada November lalu ke Stasiun Luar Angkasa (ISS). Dalam cuitannya berbahasa Rusia pada Minggu (14/2), Musk mengajak Putin untuk berbincang dengannya di Clubhouse.

"Maukah Anda berbincang dengan saya di Clubhouse?," tulis Musk dalam cuitannya yang ditujukan kepada Putin.

Putin bukan satu-satunya tokoh publik yang diajak chat oleh Musk di aplikasi media sosial berbasis audio Clubhouse.

Baru-baru ini Musk dan rapper Kanye West juga membuat kesepakatan untuk membuka perbincangan di aplikasi itu. Namun, belum ada tanggal pasti kapan keduanya akan melakukan bincang-bincang di Clubhouse.

Musk melakukan perbincangan pertama di Clubhouse bulan lalu dengan CEO Robinhood, Vlad Tenev. Percakapan tersebut menyinggung berbagai hal mulai dari meme, crypto, dan bahkan diskusi kejutan dengan setelah perannya dalam hiruk-pikuk GameStop (GME).

Macron: Dunia Butuh Vaksin China dan Rusia untuk Lawan Covid

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa dunia memerlukan vaksin corona China dan Rusia untuk memenangkan perang melawan Covid-19.

 

Karena itu, kata Macron, harus menjalin kerjasama dengan dua negara itu dalam upaya vaksinasi global.

Setidaknya ada tiga perusahaan China yang mengembangkan vaksin corona yakni Sinovac, National Biotec Group (CNBG) Sinopharm, dan CanSino. Sedangkan Rusia membuat vaksin Sputnik V.

"Kita harus bekerja sama dengan China dan Rusia sehingga vaksin yang dikembangkan oleh para ilmuwan mereka terintegrasi dalam upaya multilateral ini," kata Macron dalam sebuah wawancara dengan Le Journal du Dimanche, Minggu (14/2) seperti dilansir dari Xinhua.

Menurut Macron, integrasi segera dilakukan setelah mereka memulai proses sertifikasi di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Kami sekarang sedang perang melawan varian, yang benar-benar berpacu dengan waktu," kata Macron. Dia mendesak upaya global bergerak cepat dan efektif dalam memerangi pandemi.

Dalam kesempatan itu, Macron juga menyerukan upaya internasional untuk memastikan semua negara mendapatkan akses vaksin yang sama, terutama di Afrika.

"Negara-negara Afrika menjadi tantangan kami tentang akses vaksin," ucapnya.

Dia menegaskan, jika hal itu tidak diselesaikan, maka dunia tidak hanya mengalami masalah kesehatan tetapi juga etika.

Erdogan Tuduh AS Dukung Kelompok Teroris

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuduh Amerika Serikat membekingi kelompok teroris.

Pernyataan itu diungkapkan Erdogan setelah kelompok pemberontak Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dilaporkan membunuh 13 warga Turki yang mereka tawan di Irak

Mereka diduga disekap di sebuah gua di Irak.

"Anda mengatakan tidak mendukung teroris, padahal sebenarnya Anda berada di pihak mereka dan di belakang mereka," kata Erdogan Senin (15/2) seperti dikutip dari AFP.

Departemen Luar Negeri AS sebelumnya mengaku menyesalkan kematian warga Turki itu tetapi masih menunggu konfirmasi lebih lanjut dari pihak Ankara.

"Jika laporan kematian warga sipil Turki di tangan PKK, sebuah organisasi teroris, dikonfirmasi, kami mengutuk tindakan ini sekeras mungkin," kata Departemen Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan.

Namun Erdogan menganggap pernyataan AS itu hanya lelucon. "Pernyataan yang dibuat oleh Amerika Serikat adalah lelucon," kata Erdogan.

PKK sendiri mengatakan 13 orang itu tewas ketika pasukan Turki mengebom gua tempat mereka ditahan.

Sementara Turki mengaku melancarkan operasi militer terhadap markas PKK di Irak utara untuk membebaskan 13 sandera itu.

AS dan sekutu Barat Turki lainnya mengakui PKK sebagai kelompok teroris. Tetapi Washington juga mendukung milisi lain Kurdi di Suriah yang dianggap Turki sebagai cabang dari PKK.

PKK telah melancarkan pemberontakan terhadap Turki sejak 1984 hingga menewaskan puluhan ribu orang.

Dalam kesempatan itu Erdogan juga meminta sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk memihak. "Organisasi teroris di depan pintu kami, di perbatasan kami, dan membunuh orang tak bersalah," kata Erdogan.

Klaster Baru Corona Kembali Terjadi di Kapal Induk AS

Sebanyak tiga awak kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Theodore Roosevelt, positif terinfeksi virus corona (Covid-19).

Kurang dari setahun lalu wabah Covid-19 juga merebak di kapal induk itu dan menjangkiti sekitar seribu pelaut.

Menurut keterangan Angkatan Laut AS yang dilansir Associated Press, Selasa (16/2), tiga awak kapal induk itu dinyatakan positif terinfeksi virus corona pada Minggu (14/2) pekan lalu. Namun, ketiganya tidak menampakkan gejala.

Kini ketiganya serta seluruh pelaut yang sempat melakukan kontak dengan pasien diisolasi di dalam kapal induk itu. Padahal, kapal itu tengah melakukan operasi maritim di Samudra Pasifik.

Armada Pasifik Angkatan Laut AS yang menaungi kapal induk USS Theodore Roosevelt menyatakan mereka menerapkan protokol kesehatan dan pencegahan ketat demi mencegah wabah itu menular seperti yang terjadi tahun lalu.

"Armada Pasifik AS berkomitmen menerapkan seluruh cara untuk melindungi kesehatan pasukan," demikian isi pernyataan Armada Pasifik Angkatan Laut AS.

Pada tahun lalu tercatat ada lebih dari seribu awak kapal induk USS Theodore Roosevelt positif terinfeksi virus corona. Satu pelaut di antaranya meninggal.

Kapal induk itu terpaksa berlabuh di pangkalan Angkatan Laut AS di Guam selama dua bulan hingga seluruh awak dinyatakan sembuh dan pulang ke pangkalan AL AS di Pantai Barat.

Menurut hasil penyelidikan Angkatan Laut AS, wabah itu merebak di kapal induk karena komandan keliru mengambil langkah pencegahan penularan Covid-19. Sang kapten akhirnya dipecat dari kesatuan, sedangkan kenaikan pangkat wakil kapten kapal itu ditunda.

Wabah serupa juga terjadi di kapal perang AS lain, tetapi tidak sampai meluas seperti yang terjadi di kapal induk USS Theodore Roosevelt.

Kapal induk USS Theodore Roosevelt juga sempat melakukan latihan bersama kapal induk USS Nimitz di Laut China Selatan. Mereka akan kembali ke AS setelah ditugaskan di perairan Timur Tengah.

Dinilai Salah Urus Covid, PM Thailand Hadapi Mosi Tak Percaya

Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha akan menghadapi mosi tidak percaya pada pekan ini setelah oposisi menuding pemerintah gagal menangani pandemi Covid-19.

Prayut dan sembilan anggota kabinetnya akan disidang oleh oposisi di parlemen dalam rapat selama empat hari yang diakhiri dengan pemungutan suara pada Sabut (20/2) mendatang.

Mosi tidak percaya ini berlangsung ketika Prayut tengah menghadapi tekanan setelah demonstrasi besar di Thailand selama beberapa waktu terakhir mendesak dirinya mundur dari pucuk kepemimpinan.

Pada Senin (15/2), Prayut mengaku "siap untuk mendengarkan dan mengklarifikasi masalah apa pun yang diangkat" dalam sidang mosi tidak percaya nanti.

"Mari serahkan prosesnya ke parlemen. Pemerintah akan mempertahankan posisinya dalam debat," kata Prayut kepada wartawan.

"Demonstrasi tidak akan baik untuk negara saat ini ketika kita semua menghadapi Covid-19 dan banyak masalah lainnya. Kita seharusnya tidak menciptakan lebih banyak konflik lagi," kata dia seperti dikutip Straits Times.

Partai oposisi terbesar, Pheu Thai, mengatakan pihaknya akan berfokus membahas "salah urus pemerintah" dan penanganan Covid-19 yang dinilai menyebabkan "kerusakan terhadap negara."

Pandemi corona memang merusak Thailand, negara dengan perekonomian terbesar kedua di Asia Tenggara dengan kontraksi indeks perekonomian hingga 6,1 persen selama 2020.

Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional Thailand juga menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi 2021 dari semula 3,5-4,5 persen menjadi 2,5-3,5 persen.

Selain masalah penanganan pandemi, beberapa anggota parlemen oposisi juga ingin membahas reformasi monarki Thailand.

Sejumlah pihak menganggap isu reformasi monarki kemungkinan besar akan dimentahkan pemerintah dan berpotensi menyulut demonstrasi yang lebih luas lagi

"Sidang di parlemen akan menunjukkan tekad pemerintah mempertahankan struktur kekuasaan yang ada," kata Dekan Fakultas Ilmu Politik Universitas Ubon Ratchathani, Titipol Phakdeewanich.

Sementara itu, sejumlah pengamat menganggap pemerintah akan lolos mosi tidak percaya pekan ini.

"Pemerintah memiliki cukup anggota parlemen untuk berada dalam posisi aman, tetapi yang lebih penting adalah apa yang dikatakan pemerintah di parlemen dan bagaimana mereka dipilih," kata pakar politik Thailand Universitas Mahidol, Punchada Sirivunndabood.

Karena Alasan Ini, NATO Masih Ogah Tarik Mundur Pasukannya dari Afghanistan

Foto:

Organisasi internasional Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menegaskan tidak akan menarik pasukannya dari Afghanistan sebelum waktu yang tepat.

Hal ini dikatakan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg yang menyebut Taliban harus berbuat lebih banyak untuk memenuhi persyaratan perjanjian damai 2020 dengan Amerika Serikat.

"Meskipun tidak ada sekutu yang ingin tinggal di Afghanistan lebih lama dari yang diperlukan, kami tidak akan pergi sebelum waktunya tepat. Kami melihat bahwa masih ada kebutuhan bagi Taliban untuk berbuat lebih banyak dalam memenuhi komitmen mereka. Untuk memastikan bahwa mereka memutuskan semua hubungan dengan teroris internasional,” kata kata Stoltenberg dalam konferensi pers dilansir dari Al Jazeera, Selasa (16/2/2021).

Pernyataan Stoltenberg datang beberapa hari sebelum menteri pertahanan dari 30 negara anggota NATO menggelar rapat pada Rabu (17/2/2021).

Pertemuan ini adalah pembicaraan tingkat tertinggi sejak Presiden AS Joe Biden menjabat. Ia berjanji untuk bekerja sama dengan sekutu setelah empat tahun ketegangan di bawah Donald Trump.

Agenda utama konferensi virtual itu adalah membahas nasib misi dukungan aliansi yang berkekuatan 9.600 orang di Afghanistan.Trump sebelumnya mencoba mencapai kesepakatan dengan Taliban untuk menarik pasukan Paman Sam di sana.

Masa depan penempatan bergantung pada apakah Biden setuju untuk mematuhi tenggat waktu Mei untuk menarik pasukan asing atau mengambil risiko serangan berdarah dari para milisi bersenjata.

"Para menteri akan terus menilai situasi di lapangan dan memantau perkembangan dengan sangat cermat. Tujuan kita bersama jelas.  Afghanistan seharusnya tidak pernah lagi menjadi surga bagi teroris untuk menyerang tanah air kami," tambah Stolternberg.

Empat pejabat senior NATO mengatakan pasukan internasional akan tetap melampaui batas waktu Mei, meskipun Taliban menyerukan penarikan penuh. Namun para menteri pertahanan tidak diharapkan untuk membuat pengumuman konkret tentang masa depan penempatan pada pertemuan tersebut.

Tinjau kesepakatan

Pemerintahan Biden mengatakan sedang meninjau kesepakatan itu. Pentagon  juga menuduh Taliban tidak memenuhi janji yang mencakup pengurangan serangan dan memutuskan hubungan dengan kelompok bersenjata seperti Alqaidah.

Sekutu NATO ingin AS berkonsultasi lebih dekat dengan mereka setelah merasa dikesampingkan saat Trump memangkas jumlah personel pasukan AS menjadi 2.500 pada Januari. Angka itu adalah terendah sejak dimulainya perang pada 2001.

Kekerasan Taliban meningkat dalam beberapa bulan terakhir di tengah gagalnya pembicaraan damai dengan pemerintah Afghanistan.  Kelompok itu telah memperingatkan Menteri NATO untuk tidak mencari kelanjutan pendudukan dan perang.