• Blog
  • News Forex, Index & Komoditi ( Selasa,  16 Februari 2021 )

News Forex, Index & Komoditi ( Selasa,  16 Februari 2021 )

Saham Tokyo dibuka naik terangkat harapan stimulus, penurunan yen

Saham-sahan Tokyo dibuka lebih tinggi pada perdagangan Selasa pagi, karena sentimen investor terangkat oleh harapan atas stimulus baru Amerika Serikat, dengan penurunan yen terhadap dolar AS juga menambah dukungan terhadap para eksportir.

Pada pukul 09.15 waktu setempat, indeks acuan Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo bertambah 243,39 poin atau 0,81 persen, dari penutupan Senin (15/2/2021), menjadi diperdagangkan di 30.327,54 poin, menandai level intraday tertinggi sejak 2 Agustus 1990.

Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas dari seluruh saham papan utama di pasar Tokyo terangkat 8,64 poin atau 0,44 persen, menjadi diperdagangkan pada 1.962,58 poin.

Saham-saham perusahaan yang berhubungan dengan transportasi laut, pertambangan, dan produk karet menjadi yang paling menguat pada menit-menit pembukaan setelah bel perdagangan pagi.

 

Saham Korsel dibuka lebih tinggi, indeks KOSPI menguat 0,59 persen

Saham-saham Korea Selatan dibuka lebih tinggi pada Selasa pagi, melanjutkan kenaikan sehari sebelumnya, dengan indikator utama Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) menguat 0,59 persen atau 18,63 poin, menjadi 3.165,63 poin dalam 15 menit pertama perdagangan.

Indeks KOSPI terangkat 1,50 persen atau 46,42 poin menjadi 3.147,00 poin pada penutupan perdagangan Senin (15/2), setelah libur panjang Tahun Baru Imlek, dengan volume perdagangan mencapai 1,59 miliar saham senilai 16,6 triliun won (15,1 miliar dolar AS).

Sementara itu, mata uang lokal dikutip pada 1.100,7 won terhadap dolar AS, naik 0,7 won dari tingkat penutupan perdagangan sehari sebelumnya.

 

Saham Hong Kong dibuka lebih tinggi, indeks HSI terangkat 1,66 persen

Saham-saham Hong Kong dibuka lebih tinggi pada Selasa pagi, setelah libur panjang Tahun Baru Imlek sejak 11 Februari, dengan indikator utama Indeks Hang Seng (HSI) terangkat 1,66 persen atau 502,25 poin, menjadi diperdagangkan di 30.675,82 poin.

Terakhir pada 10 Februari lalu, Indeks Hang Seng melonjak 1,91 persen atau 562,53 poin menjadi menetap di 30.038,72 poin, mencatat kenaikan empat hari berturut-turut dengan nilai transaksi mencapai 175,98 miliar dolar Hong Kong (sekitar 22,71 miliar dolar AS).

Deretan Temuan Tim WHO soal Asal Mula Virus Corona di China

Misi tim ahli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Wuhan, China untuk mencari asal mula kemunculan dan penyebaran virus corona telah rampung setelah invetigasi berlangsung selama sebulan.

Banyak pihak kecewa lantaran hasil penyelidikan tim WHO dinilai gagal menjawab pertanyaan utama yakni bagaimana virus Covid-19 bisa muncul dan menyebar di Kota Wuhan.

Tim WHO berada di Wuhan sejak 14 Januari lalu dengan tetap diawasi ketat oleh pihak berwenang China.

Meski begitu, tim yang terdiri dari 17 ilmuwan WHO dan 17 ilmuwan China itu juga dikabarkan bisa mengumpulkan beberapa kesimpulan baru. Berikut beberapa hasil temuan investigasi tim WHO di Wuhan

Bukan dari Kebocoran Lab

Tim WHO yang meneliti asal Covid-19 di Wuhan membantah kemungkinan virus berasal dari kebocoran laboratorium seperti sejumlah rumor yang selama ini beredar.

Kepala tim WHO yang meneliti ke Wuhan, Peter Ben Embarek, menuturkan kemungkinan kebocoran laboratorium tidak memerlukan penelitian lebih lanjut.

Meski gagal mengidentifikasi hewan sumber virus corona, tim WHO tersebut meyakini bahwa kelelawar menjadi hewan utama yang pertama menularkan Covid-19 ke manusia. Selain kelelawar, hewan mamalia lain juga dinilai bisa menularkan corona ke manusia.

Namun, hingga kini, tim WHO belum dapat menemukan bukti penular inang perantara.

Lewat Makanan Beku

Hal itu membuka kemungkinan baru bahwa virus corona bisa jadi berasal dari luar Kota Wuhan.

"Kemungkinan jalur dari spesies hewan apapun sampai ke pasar Huanan, Wuhan, membutuhkan waktu yang sangat panjang dan berbelit-belit yang juga melibatkan pergerakan di perbatasan," kata Embarek.

Pasar Huanan adalah pasar seafood dan hewan liar yang sebelumnya diduga menjadi tempat pertama kemunculan dan penyebaran virus corona.

Embarek menyebut identifikasi asal virus corona memang mengerucut pada sumber alami kelelawar, tetapi ia menganggap kecil kemungkinannya ada di Wuhan.

Embarek mengatakan tim sudah mengidentifikasi penyuplai produk makanan hewan beku termasuk hewan liar di China sebagai langkah awal penelitian lebih lanjut.

"Jadi ada potensi melanjutkan petunjuk ini dan melihat lebih jauh rantai pasokan dan hewan yang disuplai ke pasar," kata Embarek.

Embarek mengatakan virus corona memang bisa bertahan pada kondisi ekstrem dingin dan beku. Meski begitu, ia dan timnya belum bisa memastikan apakah virus corona yang terdapat pada kondisi seperti itu bisa menular ke manusia.

Beberapa waktu lalu, pemerintah China sudah pernah mengatakan transmisi virus bisa terjadi melalui makanan beku. Beijing bahkan berulang kali melakukan inspeksi dan pemeriksaan corona terhadap pelabuhan dan makanan impor setelah menemukan jejak virus corona pada beberapa kemasan makanan beku impor.

Penularan 5 Kali Lebih Besar

Tim WHO memperkirakan jumlah orang yang terinfeksi corona di Wuhan 5 kali lebih besar dari laporan pemerintah China di awal virus itu menyebar sekitar Desember 2019.

Berdasarkan laporan para ahli China saat melakukan inspeksi, terdapat 174 kasus Covid-19 di Wuhan pada Desember 2019. Namun, Embarek dan timnya memperkirakan kemungkinan virus itu sudah menjangkiti lebih dari 1.000 warga Wuhan di waktu tersebut.

"Virus itu beredar luas di Wuhan pada Desember, ini adalah temuan baru," katanya seperti dikutip dari CNN.

Tim investigasi juga sempat berbicara dengan pasien pertama Covid-19. Pasien pertama ini adalah seorang pekerja kantoran berusia 40-an tahun, tanpa catatan riwayat perjalanan, dan dilaporkan terinfeksi pada 8 Desember.

Temuan tersebut semakin memperkuat spekulasi yang menganggap Covid-19 menyebar di China jauh sebelum pertengahan Desember 2019.

Embarek dan timnya juga berhasil mengumpulkan 13 urutan genetik berbeda dari virus SARS-COV-2 sejak Desember 2019.

Pemeriksaan urutan genetik ini bakal dicocokkan dengan data pasien yang lebih luas di China sepanjang 2019. Sehingga, bisa memberi petunjuk bagaimana dan kapan virus ini menular sebelum Desember.

Embarek mengatakan, "beberapa dari mereka berasal dari pasar Huanan, sebagian lain tidak terkait dengan pasar."

Putin Pamer Uji Coba Drone Nuklir Bawah Air yang Punya Daya Jelajah 10.000 Km

Foto: Russia

Rusia dilaporkan akan melakukan uji coba drone bawah air pengangkut bom nuklir berkekuatan dahsyat. Drone bernama Poseidon tersebut akan diuji coba dengan menumpang kapal selam Belgorod.

Surat kabar Izvestia melaporkan bahwa Angkatan Laut Rusia siap membangun 30 unit Poseideon hingga 2027. Drone bawah air itu dilengkapi senjata konvensional maupun nuklir serta mampu mencapai berbagai target.

Menurut Sputnik, uji coba sebelumnya menggunakan kapal selam bermesin diesel berhasil dilakukan.

Informasi mengenai drone itu pertama kali diungkap oleh Moskow pada 2015, dengan nama Sistem Multiguna Laut Status-6. Senjata ini mampu menjelajah di laut dengan kecepatan hingga 85 kilometer per jam. Jangkauannya bisa mencapai 10.000 km sambil membawa hulu ledak seberat 100 megaton.

Kapten Angkatan Laut Rusia Konstantin Sivkov mengatakan, serangan Poseidon dapat menyebabkan guncangan tektonik hingga menghancurkan anak benua Amerika Utara. Gempa bumi menghancurkan terjadi saat lempeng tektonik saling bergesekan di sepanjang garis patahan.

Sivkov mengklaim Amerika Serikat (AS) sempat ketakutan dan meminta Rusia menghentikan pengembangan senjata 'kiamat' tersebut.

Presiden Putin telah menyinggung mengenai pengembangan Poseidon dan rudal hipersonik Rusia saat berbicara di St. Petersburg pada Juli 2020.

"Penyebaran teknologi canggih yang tidak ada bandingannya di dunia, termasuk sistem serangan hipersonik dan drone bawah air, akan meningkatkan kemampuan tempur AL," kata Putin.

Dalam perkembangannya Poseidon dibuat untuk menghancurkan wilayah perekonomian penting bagi musuh di pesisir, menyebabkan kontaminasi radioaktif masif yang bertahan lama. Sementara itu kapal selam Belgorod dapat membawa hingga enam drone nuklir yang dapat melenyapkan kota-kota pesisir dengan meledakkannya di dekat garis pantai, menciptakan tsunami radioaktif besar.

China Tak Terima Dituduh AS Tutupi Data Corona dari Tim WHO

Pemerintah China membantah tuduhan tidak membuka data virus corona (Covid-19) kepada tim penyelidik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seperti yang disampaikan oleh Amerika Serikat.

Dalam pernyataan yang disampaikan Kedutaan Besar China di Washington D.C., mereka menyatakan pemerintah AS sudah merusak kerja sama dunia dalam menghadapi Covid-19, dan saat ini malah menuduh negara lain yang mendukung WHO serta lembaga itu.

Seperti dilansir Associated Press, Senin (15/2), China mengatakan Amerika Serikat harus "berpegang teguh pada standar tertinggi, mengambil sikap yang serius, sungguh-sungguh, transparan dan bertanggung jawab, memikul tanggung jawab yang semestinya, mendukung pekerjaan WHO dengan tindakan nyata, dan memberikan kontribusi yang semestinya pada kerja sama internasional terkait COVID-19."

Anggota tim investigasi virus corona WHO, Peter Daszak, menyatakan pemerintah China sangat terbuka dalam memberikan akses terhadap data virus corona.

"Sebagai pimpinan kelompok tim yang meneliti hewan dan lingkungan, saya melihat pemerintah China sangat terbuka dan bisa dipercaya. Kami mendapat akses terhadap sejumlah data penting yang baru," cuit Daszak melalui Twitter.

Kemudian, seorang anggota tim WHO asal Denmark, Thea Koelsen Fischer, menyatakan pernyataan yang mereka sampaikan ditafsirkan keliru oleh media massa.

"Kami melakukan kerja sama yang baik dengan China dan tim epidemi internasional. Bahkan kami juga berdebat panas di dalam ruangan ketika menelaah data. Nampaknya pernyataan kami sengaja dipelintir sehingga menimbulkan keraguan atas kerja ilmiah kami," cuit Koelsen melalui Twitter.

Meski begitu, Koelsen Fischer mengakui bahwa mereka tidak bisa mengakses data mentah dan hanya disodorkan data hasil analisis dari para peneliti China. Namun, menurut dia hal itu lazim dilakukan di negara lain.

Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan, mempertanyakan hasil penyelidikan asal-usul yang dilakukan tim WHO di Wuhan, China.

Dia menyoroti hasil kesimpulan awal penyelidikan WHO ke China yang gagal menjelaskan hewan perantara penyebaran Covid-19. Kunjungan WHO ke Wuhan dilakukan untuk mengetahui asal-usul virus corona di China.

Seorang ahli WHO, Peter Ben Embarek, menyatakan frustrasi atas kurangnya akses ke data mentah selama misi baru-baru ini ke China, mengatakan lebih banyak diperlukan untuk mendeteksi kemungkinan kasus Covid awal.

menular kepada manusia lewat hewan perantara lain. Mereka menduga hewan perantara ini mamalia. Namun, tidak ditemukan bukti hewan mamalia jenis apa yang menjadi perantara Covid-19.

Terima Hampir 100 Ancaman Pembunuhan, Pengacara Trump Menangis

 Michael van der Veen, pengacara yang mewakili mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada persidangan pemakzulan, mengatakan para pengacau menghancurkan jendela rumahnya dan merusaknya dengan coretan. Sembari meneteskan air mata, pengacara ini mengaku menerima hampir 100 ancaman pembunuhan.

Pengacara ini ikut berjasa menyelamatkan Trump dari pemakzulan pada Sabtu pekan lalu, meski penyelamat sejati adalah para politisi Partai Republik yang berkuasa di Senat. Ini merupakan yang kedua kalinya, Trump lolos dari pemakzulan di sidang Senat.

Sembari menahan air mata, van der Veen mengakui bahwa rumahnya di wilayah Philadelphia menjadi sasaran para pengacau.

"Untuk menjawab pertanyaan Anda, seluruh keluarga saya, bisnis saya, firma hukum saya sedang dikepung sekarang. Saya tidak benar-benar ingin membahasnya," katanya saat menjawab pertanyaan pembawa acara FoxNews, Griff Jenkins, Minggu (14/2/2021).

Berbicara dengan wartawan, pengacara yang berbasis di Philadelphia ini mengatakan bahwa para pengacau memecahkan jendela di rumahnya, dan menyemprotkan "kata-kata yang sangat buruk" di mana-mana. Polisi Philadelphia mengonfirmasi bahwa pelaku tak dikenal memulaskan kata "pengkhianat" di ujung jalan masuk rumahnya di Chester County. Polisi mengatakan rumah itu sekarang dipantau oleh agen keamanan swasta.

Pengacara itu mengatakan bahwa dia tidak berpikir tentang politik, dan berpendapat bahwa dia mengambil bagian dalam sidang pemakzulan Trump hanyalah bagian dari pekerjaannya sebagai pengacara. Namun, karena pekerjaannya itu, dia "dibombardir" dengan hampir 100 ancaman pembunuhan.

Pada hari Jumat pekan lalu, sekelompok pengunjuk rasa berbondong-bondong ke kantor hukumnya di pusat kota Philadelphia. Kerumunan massa meneriakkan; "Ketika van der Veen berbohong, apa yang Anda lakukan? Kriminal. Kriminal."

Dalam sidang pemakzulan, 43 senator Republik menolak satu pasal pemakzulan yang menuduh Trump menghasut pemberontakan di Gedung Capitol AS. Para senator yang menolak untuk menghukum mantan presiden AS itu, dicap oleh beberapa pengamat liberal sebagai "musuh demokrasi" dan "pengkhianat".

Lagi-lagi, Rudal Israel Menghujani Suriah

 Rudal-rudal militer Israel kembali menghujani wilayah Suriah , Senin (15/2/2021) dini hari. Militer rezim Presiden Bashar al-Assad mengeklaim menembak jatuh sebagian besar misil musuh ketika terbang di atas wilayah udara Damaskus.

"Hari ini, pada pukul 01.18 musuh Israel melancarkan serangan rudal dari Dataran Tinggi Golan Suriah yang diduduki dan Galilea [di Israel utara] terhadap sejumlah sasaran di pinggiran Damaskus, dan sistem pertahanan udara memukul mundur agresi dan menembak jatuh sebagian besar rudal musuh," kata sumber militer setempat kepada kantor berita pemerintah, SANA.

Laporan awal SANA menyatakan ledakan kuat terdengar di pinggiran barat Damaskus. Media pemerintah tersebut tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang kemungkinan adanya korban jiwa atau pun kerusakan dalam serangan terbaru ini.

Sebelumnya, asisten senior Menteri Luar Negeri Iran; Ali Asghar Khaji, memperingatkan Tel Aviv agar tidak melewati "garis merah" di Suriah. Dia menggambarkan tindakan militer Israel sebagai "aksi agresif dan bermusuhan terhadap kawasan, Palestina, dan negara-negara tetangga".
Selama beberapa bulan terakhir, Israel dilaporkan telah menyerang wilayah perbatasan selatan Suriah di sepanjang pinggiran Damaskus, tempat pasukan yang didukung Iran dikerahkan. Tel Aviv belum secara resmi mengaku bertanggung jawab atas rentetan serangan udara tersebut, termasuk serangan hari ini.

Para Diplomat Barat Peringatkan Militer Myanmar: Dunia Sedang Menonton!

 Para diplomat Barat pada hari Minggu memperingatkan junta militer Myanmar bahwa "dunia sedang menonton" ketika layanan komunikasi dipadamkan di negara itu. Layanan internet dan seluler terganggu pada Minggu malam hingga Senin (15/2/2021), setelah publik setempat turun ke jalan menentang kudeta militer.

LSM Pemantau NetBlocks mengatakan konektivitas jaringan komunikasi di seluruh negeri turun menjadi hanya 14 persen secara nasional sejak pukul 01.00 pagi waktu setempat. Menurut warga setempat, layanan seluler dari semua operator juga terganggu.

Negara itu telah menghadapi protes yang meluas selama dua minggu terakhir sejak junta militer merebut kekuasaan dalam kudeta pada 1 Februari. Militer menggulingkan pemimpin yang terpilih secara demokratis; Aung San Suu Kyi, dan menahan para pejabat penting pemerintah sipil.

Menanggapi protes publik, militer berusaha membatasi akses terhadap internet dan layanan berita, serta menerapkan undang-undang keamanan siber baru yang berpotensi yang dikhawatirkan pengamat dapat membatasi aliran informasi lebih lanjut.

Militer juga menindak demonstran di jalanan. Ratusan orang telah ditangkap sejak kudeta, dan sebagian besar ditahan tanpa dakwaan. Hal itu disampaikan kantor hak asasi manusia (HAM) PBB yang mengutip Assistance Association for Political Prisoners Burma (AAPP).

Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Myanmar pada hari Minggu memperingatkan kemungkinan pergerakan pasukan militer dan gangguan komunikasi. Kedutaan mengimbau warga AS di negara itu untuk berlindung di tempat masing-masing.

Para duta besar Barat di Myanmar juga mengeluarkan pesan bersama yang memperingatkan bahwa "dunia sedang menonton" dan menasihati militer negara itu untuk menahan diri dari kekerasan terhadap pengunjuk rasa.

"Kami meminta pasukan keamanan untuk menahan diri dari kekerasan terhadap demonstran dan warga sipil, yang memprotes penggulingan pemerintah sah mereka," bunyi pesan yang dipublikasikan di halaman Facebook resmi beberapa kedutaan Barat, termasuk AS, Kanada, dan Uni Eropa.

Pernyataan itu mengutuk penangkapan para pemimpin sipil dan aktivis, dan mengecam gangguan komunikasi militer, serta pembatasan hak-hak dasar rakyat Myanmar dan perlindungan hukum dasar.

Selama akhir pekan, militer menangguhkan tiga undang-undang yang bertujuan membatasi pasukan keamanan untuk menahan tersangka atau menggeledah properti pribadi tanpa persetujuan pengadilan.

"Pasal 5, 7 dan 8 dihapuskan berdasarkan Pasal 420 Konstitusi 2008 untuk melindungi kebebasan dan keamanan pribadi warga negara," bunyi sebuah posting halaman Facebook tentara Myanmar atau Tatmadaw; @TatmadawInformationTeam pada hari Sabtu.

Pernyataan yang ditandatangani oleh pemimpin militer Jenderal Min Aung Hlaing itu tidak memberikan waktu atau tanggal spesifik untuk penangguhan tersebut.

Reuters melaporkan bahwa di antara tiga pasal yang ditangguhkan adalah pasal undang-undang yang mengamanatkan perintah pengadilan untuk menahan narapidana mana pun yang melebihi 24 jam dan membatasi kemampuan pasukan keamanan untuk memasuki properti pribadi untuk menggeledahnya atau melakukan penangkapan.

Gempa M 7,3 Fukushima Adalah 'Gempa Susulan' dari Gempa 2011 Penyebab Bencana Nuklir

 Badan Meteorologi Jepang mengatakan gempa magnitudo 7,3 di Fukushima pada Sabtu pekan lalu adalah "gempa susulan" dari gempa magnitudo 9,0 pada 2011 yang menyebabkan bencana nuklir.

Media setempat, NHK, dalam laporan awal menyebutkan gempa terjadi pukul 23.07 dan menyebabkan 48 orang cedera di Prefektur Fukushima dan Miyagi. Sedangkan laporan terbaru hari ini (15/2/2021) menyatakan korban cedera bertambah menjadi sekitar 150 orang.
Pemerintah Jepang mengumumkan tidak ada korban jiwa dalam musibah gempa bumi terbaru di Fukushima. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo juga menyatakan tidak ada warga Indonesia yang menjadi korban gempa.

Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), pusat gempa berada sekitar 46 mil (74 kilometer) timur laut Namie, sebuah kota pantai 60 mil dari Fukushima. Tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan.

Gempa itu terjadi di daerah yang sama dengan gempa bumi 11 Maret 2011 yang menyebabkan bencana nuklir terburuk di negara itu, ketika tiga reaktor di pembangkit nuklir Fukushima Daiichi bocor, melepaskan bahan radioaktif ke udara.

Lebih dari 20.000 orang meninggal atau hilang dalam gempa dan tsunami 2011, sementara ratusan ribu lainnya kehilangan rumah. Lebih dari 100.000 orang dievakuasi dari daerah tersebut.

Pihak berwenang telah menghabiskan sepuluh tahun terakhir untuk membersihkan daerah tersebut, sebuah upaya besar-besaran yang menurut para ahli akan memakan waktu beberapa dekade lagi untuk diselesaikan.

Terlepas dari upaya yang sedang berlangsung, ketika Jepang menjadi tuan rumah Olimpiade tahun ini, estafet obor dijadwalkan untuk memulai perjalanannya di Fukushima pada 25 Maret 2021—simbol pemulihan dan pembangunan kembali di daerah tersebut.

"Karena 2021 akan menandai ulang tahun ke-10 Gempa Bumi Besar Jepang Timur 2011, Estafet Obor Olimpiade Tokyo 2020 yang dijadwalkan ulang akan bertujuan untuk menampilkan pemulihan daerah-daerah yang paling parah terkena dampak bencana," kata komite Olimpiade di situsnya, seperti dilansir CNN.

Namun, gempa bumi hari Sabtu pekan lalu menjadi pengingat bahwa peristiwa yang terjadi pada tahun 2011 tidak sepenuhnya berada di belakang wilayah Fukushima.

Pada Minggu pagi, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga meyakinkan publik bahwa "tidak ada kelainan" yang dilaporkan di salah satu pembangkit nuklir di wilayah itu setelah gempa pada hari Sabtu.

Berbicara kepada wartawan, Suga mengatakan kerusakan masih dalam penilaian, dan meminta warga di daerah yang terkena dampak untuk tetap tinggal di dalam rumah dan bersiap menghadapi gempa susulan.

Gempa memicu tanah longsor dan menumbangkan bagian dari jalan tol utama, memengaruhi kedua prefektur tersebut. Tanggul di sepanjang jalan runtuh, menutupi jalan dan mengubur pagar pembatas dalam lumpur.

Sekitar 850.000 rumah tangga di kawasan Kanto dan Tohoku, termasuk Tokyo, hidup tanpa listrik. Jaringan listrik sekarang secara bertahap dipulihkan.

Timnya Gagal Selidiki Asal Covid-19, Bos WHO: Semua Hipotesis Masih Terbuka...

Foto:

Semua hipotesis masih terbuka dalam penyelidikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang asal-usul COVID-19, kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah pengarahan, Jumat (12/2/2021).

Sebuah misi yang dipimpin WHO di China pada pekan ini menyampaikan bahwa mereka tidak lagi menyelidiki lebih jauh pertanyaan apakah virus corona baru itu lolos dari laboratorium, yang dianggap sangat tidak mungkin. Amerika Serikat telah mengatakan akan meninjau temuan dari misi WHO tersebut.

"Beberapa pertanyaan telah diajukan mengenai apakah beberapa hipotesis telah dibuang. Setelah berbicara dengan beberapa anggota tim, saya ingin memastikan bahwa semua hipotesis tetap terbuka dan memerlukan analisis dan studi lebih lanjut," kata Tedros.

"Beberapa dari pekerjaan penyelidikan itu mungkin berada di luar kendali dan ruang lingkup misi (WHO) ini. Kami selalu mengatakan bahwa misi ini tidak akan menemukan semua jawaban, tetapi telah menambahkan informasi penting yang membawa kita lebih dekat untuk memahami asal-usul virus penyebab COVID-19," ujar Tedros.

Misi penyelidikan WHO tersebut mengatakan hipotesis utamanya adalah bahwa virus corona baru berasal dari kelelawar, meskipun ada beberapa kemungkinan skenario bagaimana virus itu menular ke manusia, mungkin pertama dengan menginfeksi spesies hewan lain.

Pemerintahan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang meninggalkan jabatannya bulan lalu, mengatakan pihaknya yakin virus corona baru itu mungkin telah keluar karena kebocoran dari laboratorium di Kota Wuhan di China.

China membantah keras hal itu, dan mengatakan Institut Virologi Wuhan tidak mempelajari virus-virus terkait.

Inggris Betul-betul Prihatin Soal Penyelidikan WHO di Wuhan

Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab mengatakan bahwa dia berbagi keprihatinan tentang tingkat akses yang diberikan ke misi pencari fakta Covid-19 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ke China. Ini menggemakan kritik yang sebelumnya diungkapkan Amerika Serikat (AS).

Gedung Putih pada hari Sabtu meminta China untuk menyediakan data dari hari-hari paling awal pandemi. Gedung Putih mengatakan pihaknya memiliki "keprihatinan yang mendalam" tentang cara temuan laporan Covid-19 WHO dikomunikasikan.

Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Raab mengatakan bahwa London juga memiliki keprihatinan yang sama dengan Washington mengenai hal ini.

"Kami sangat prihatin bahwa mereka mendapatkan kerja sama penuh dan mereka mendapatkan jawaban yang mereka butuhkan," kata Raab dalam wawancara tersebut.

"Jadi kami akan mendorongnya agar memiliki akses penuh, mendapatkan semua data yang diperlukan. Dapat menjawab pertanyaan yang menurut saya ingin didengar kebanyakan orang seputar wabah," sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Senin (15/2/2021).

Sebelumnya, seorang anggota tim WHO yang berangkat ke Wuhan mengatakan, bahwa meski otoritas China belum memberikan semua data mentah kepada mereka, mereka telah melihat banyak informasi dan membahas analisis kasus pertama.

"Tidak lazim bagi mereka untuk menyerahkan data mentah, tetapi kami melihat banyak informasi secara rinci dalam diskusi dengan mitra China," kata John Watson, seorang ahli epidemiologi yang melakukan perjalanan ke China sebagai bagian dari tim WHO.

Sedangkan Dominic Dwyer, ahli penyakit menular Australia, yang juga anggota tim penyelidik, mengatakan China telah menolak akses ke semua data yang diminta.

AS Nyatakan Tidak akan Tinggal Diam atas Pelanggaran HAM di Rusia

 Amerika Serikat (AS) mengatakan mereka akan merespon pelanggaran HAM yang terjadi di Rusia. Hal itu diungkapkan juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Ned Price.

Price, yang berbicara saat konferensi pers di Washington, merespon pertanyaan tentang kemungkinan sanksi terhadap Moskow atas dugaan pelanggaran HAM.

"Kami juga mengamati dengan cermat pelanggaran hak asasi manusia yang saya rujuk dan saya curiga Anda akan mendengar kami mengatakan lebih banyak tentang tanggapan kebijakan yang sesuai untukpelanggaran dan pelanggaran yang kami lihat berasal dari Moskow dan terjadi di dalam wilayah Rusia," katanya.

"Dan, kami akan terus melakukannya, baik di Rusia atau di tempat lain di dunia, ketika hak universal, ketika HAM mendapat ancaman dari rezim yang menentang nilai-nilai universal dan prinsip-prinsip universal ini," sambungnya, seperti dilansir Tass pada Minggu (14/2/2021).

Price ingat bahwa pemerintah AS sedang melakukan peninjauan atas tindakan Rusia. Sebagian dari tinjauan tersebut, jelasnya, telah ditugaskan oleh Presiden AS, Joe Biden kepada Direktur Intelijen Nasional.

 

"Analis sekarang melihat berbagai kegiatan jahat yang telah dilakukan atau dilaporkan dilakukan oleh Rusia dalam beberapa tahun terakhir, dari campur tangan pemilu hingga pelanggaran Solar Winds hingga pemberian hadiah kepada milisi untuk membunuh tentara Amerika di Afghanistan, hingga penggunaan senjata kimia di kasus (Alexei) Navalny," tukasnya.