• Blog
  • Saham Eropa Melonjak ke Level Tertinggi 1 Bulan karena Optimisme Vaksin

Saham Eropa Melonjak ke Level Tertinggi 1 Bulan karena Optimisme Vaksin

News Forex, Index &  Komoditi

( Kamis, 16  Juli  2020 )

Saham Eropa Melonjak ke Level Tertinggi 1 Bulan karena Optimisme Vaksin

Bursa Saham Eropa naik ke level tertinggi dalam lebih dari sebulan akibat meningkatnya optimisme atas kemajuan dalam mengembangkan vaksin untuk virus corona.

Dikutip dari Bloomberg, Indeks Stoxx Europe 600 naik 1,8 persen pada penutupan perdagangan Rabu (15/7/2020), dengan sektor saham perjalanan dan industri memimpin kenaikan.

Vaksin oleh perusahaan biotek AS Moderna Inc. yang memproduksi antibodi terhadap virus corona pada semua pasien berhasil diuji. Tes tersebut masuk dalam kategori aman bagi pasien.

Aset berisiko memperpanjang kenaikan dan saham AstraZeneca Plc. naik setelah sebuah laporan bahwa jurnal medis akan merilis berita positif tentang vaksin virus corona yang dikembangkan perusahaan bersama University of Oxford.

Bursa Eropa naik kembali ke level tertinggi tiga bulan yang dicapai pada bulan Juni. Selain perkembangan vaksin, pasar didukung potensi pemulohan ekonomi.

Investor juga mengamati dengan cermat musim laporan keuangan sebagai petunjuk perihal kesehatan perusahaan.

"Berita vaksin Covid-19 telah memadamkan nada risiko Senin, dengan uji coba Moderna membantu menempatkan tawaran kembali ke spektrum aset-risiko," kata Eleanor Creagh, ahli strategi pasar di Saxo Bank.

Saham produsen obat termasuk di antara perusahaan yang meningkatkan Stoxx 600. Selain AstraZeneca, Roche Holding AG dan Novartis AG juga naik, naik lebih dari 1,8 persen.

Saham GlaxoSmithKline Plc naik 2,9 persen setelah pengobatan kanker darahnya memenangkan mendapat dukungan dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan AS.

Bank berperforma buruk, dengan SEB AB menurun setelah laba bersihnya meleset dari perkiraan. Svenska Handelsbanken AB juga turun, dengan Goldman Sachs Group Inc. mencatat kehilangan laba inti sebelum provisi.

 

Pasokan Menipis, Harga Minyak Dunia Naik

Harga minyak dunia naik dipicu penurunan tajam cadangan minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Mengutip CNBC, Kamis (16/7/2020) harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus 2020 naik 91 sen, atau sekitar 2,3 persen, menjadi 41,20 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sedangkan harga minyak mentah Brent untuk pengiriman September 2020 meningkat 89 sen, atau sekitar 2,1 persen, menjadi 43,79 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.

Menurut laporan yang dirilis Energy Information Administration (EIA), cadangan minyak AS turun 7,5 juta barel pekan lalu. Jumlah tersebut jauh lebih tajam dari perkiraan para analis penurunan 2,1 juta barel.

Penurunan harga minyak dunia terbatasi rencana OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) dan negara-negara produsen minyak lainnya yang tergabung dalam OPEC+ untuk melonggarkan pemangkasan produksi.

Dari Juli sampai Desember 2020, OPEC+ akan memangkas produksi sebesar 7,7 juta barel per hari dari sebelumnya 9,7 juta barel per hari.

 

 

AS-China Memanas di Tengah Pandemi, Harga Emas Dunia Terdongkrak Naik

Harga emas menguat di atas level 1.800 dolar AS per ounce karena lonjakan kasus virus corona dan memanasnya ketegangan AS-China yang mendorong permintaan logam mulia tersebut.

Mengutip CNBC, Kamis (17/7/2020) harga emas di pasar spot naik 0,2 persen menjadi 1.811,41 dolar AS per ounce, setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak 9 Juli, yakni 1.814,40 dolar AS per ounce.

Sedangkan emas berjangka Amerika Serikat ditutup sebagian besar tidak berubah di posisi 1.813,80 dolar AS per ounce.

Presiden Donald Trump memerintahkan untuk mengakhiri status khusus Hong Kong di bawah hukum AS, yang memberikan perlakuan ekonomi istimewa kepada kota tersebut, mendorong Beijing untuk memperingatkan sanksi pembalasan.

Emas, yang secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang, melambung lebih dari 19 persen sepanjang tahun ini, terutama diuntungkan dari suku bunga yang lebih rendah dan langkah-langkah stimulus luas dari bank sentral utama.

Logam lainnya, paladium naik 1 persen menjadi 1.979,74 dolar AS per ounce, platinum menguat 0,5 persen menjadi 830,50 dolar AS per ounce, dan perak meningkat 0,7 persen menjadi 19,34 dolar AS per ounce.

 

Indeks Dolar AS Jatuh ke Level Terendah selama Sebulan

Indeks dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan kemarin. Kurs dolar AS melemah di tengah harapan yang menjanjikan dari produsen vaksin covid-19.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya jatuh di bawah 96 untuk pertama kalinya sejak Juni. Turun ke level terendah satu bulan di 95,770. Indeks memangkas beberapa kerugiannya dalam perdagangan sore, terakhir turun 0,09% menjadi 96,070, dilansir dari Reuters, Kamis (16/7/2020).

Saham perusahaan Moderna melonjak 6,9%. Perusahaan bioteknologi AS mengatakan vaksin coronavirus-nya menghasilkan respons kekebalan yang kuat, atau menetralkan antibodi pada 45 pasien dalam uji coba tahap awal. Dan perusahaan itu dilaporkan memulai uji klinis terakhir untuk vaksin covid-19 pada akhir Juli.

Di antara mata uang terkait komoditas berisiko, dolar Kanada menguat 0,73%, dolar Australia naik 0,43% dan dolar Selandia Baru naik 0,46%.

“Pelemahan dolar AS sekali lagi dikaitkan dengan latar belakang risiko, yang membuat saham dan imbal hasil naik, mendorong pelepasan posisi safe-haven dolar AS. Lonjakan pengambilan risiko datang menyusul berita bahwa vaksin covid eksperimental Moderna terlihat menjanjikan," tulis para analis di Action Economics.

 

 

Saham Tokyo dibuka melemah karena aksi ambil untung dan penguatan yen

Saham-saham Tokyo dibuka lebih rendah pada perdagangan Kamis pagi, karena para investor melakukan ambil untung menyusul kenaikan dua hari Nikkei, dengan saham-saham eksportir melemah tertekan penguatan yen terhadap dolar AS.

Pada pukul 09.15 waktu setempat, indeks acuan Nikkei 225 turun 84,37 poin atau 0,37 persen, dari tingkat penutupan perdagangan Rabu (15/7/2020), menjadi diperdagangkan di 22.861,13 poin.

Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas dari seluruh saham papan utama di pasar saham Tokyo kehilangan 2,99 poin, atau 0,19 persen, menjadi diperdagangkan pada 1.586,52 poin.

Saham-saham perusahaan yang berkaitan dengan farmasi, instrumen presisi, dan peralatan listrik paling banyak mengalami penurunan di menit-menit pembukaan setelah bel perdagangan pagi.

 

 

 

Cina akan Balas Tindakan Trump Cabut Status Ekonomi Khusus Hong Kong

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (14/07) memerintahkan bawahannya mengakhiri status khusus Hong Kong di bawah hukum AS untuk menghukum Cina yang disebutnya melakukan "tindakan opresif" terhadap kota bekas koloni Inggris tersebut.

Pernyataan itu memantik reaksi dari Beijing dengan memperingatkan juga akan memberi sanksi balasan menurut laporan Reuters Rabu (15/07) petang.

Trump menandatangani surat keputusan presiden yang akan mengakhiri perlakuan ekonomi khusus bagi kota tersebut dengan alasan karena keputusan Cina untuk memberlakukan undang-undang keamanan nasional baru untuk Hong Kong.

"Tidak ada hak istimewa khusus, tidak ada perlakuan ekonomi khusus dan tidak ada ekspor teknologi yang sensitif," kata presiden AS itu dalam konferensi pers.

Trump juga menandatangani RUU yang disetujui oleh Kongres AS untuk menghukum bank-bank yang melakukan bisnis dengan pejabat Cina yang menerapkan undang-undang keamanan baru.

“Hari ini saya menandatangani undang-undang, dan perintah eksekutif untuk meminta pertanggungjawaban Cina atas tindakan agresifnya terhadap rakyat Hong Kong, kata Trump.

"Hong Kong sekarang akan diperlakukan sama dengan Cina," tambahnya.

Kementerian luar negeri Cina mengatakan pada Rabu bahwa Beijing akan mengenakan sanksi balasan terhadap individu dan entitas AS sebagai tanggapan terhadap undang-undang yang menargetkan bank-bank, meskipun pernyataan yang dirilis melalui media pemerintah tidak merujuk pada perintah eksekutif.

"Urusan Hong Kong adalah murni urusan dalam negeri Cina dan negara asing tidak memiliki hak untuk ikut campur," kata kementerian itu.

 

 

AS Tidak Tutup Kemungkinan Sanksi China Terkait Laut China Selatan

 Amerika Serikat (AS) menuturkan, mereka mungkin akan menjatuhkan sanksi terhadap pejabat dan perusahaan China yang terlibat dalam konflik di Laut China Selatan. Pernyataan ini datang setelah AS mengumumkan sikap yang lebih keras terhadap klaim Beijing di sana.

"Tidak ada yang diangkat dari atas meja, selalu ada ruang untuk itu (sanksi). Ini adalah bahasa yang dimengerti China, tindakan demonstratif dan nyata," ujar David Stilwell, asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Asia Timur, seperti dilansir Reuters pada Rabu (15/7/2020).

Pernyataan Sitwell datang sehari setelah Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengatakan bahwa Washington akan menganggap perburuan sumber daya yang dilakukan Beijing di Laut China Selatan ilegal.

AS telah lama menolak klaim Beijing di Laut China Selatan, yang merupakan rumah bagi simpanan minyak dan gas yang berharga, dan jalur air yang vital untuk perdagangan dunia.

China mengklaim 90% dari kawasan yang berpotensi kaya energi, tetapi Brunei Darusalam, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam juga mengklaim bagian dari itu. Untuk memperkuat klaim mereka, China membangun sejumlah pulau buatan di kawasan tersebut.

Greg Poling, seorang ahli Laut China Selatan di Pusat Studi Strategis dan Internasional Washington, mengatakan menyatakan klaim China membuka jalan bagi respons AS yang lebih keras, seperti melalui sanksi, dan juga dapat menyebabkan lebih banyak operasi kehadiran angkatan laut AS di kawasan itu.

 

Larang Huawei, Inggris Bantah Dipengaruhi Trump

 Inggris mengaku keputusannya untuk melarang peralatan jaringan 5G dari Huawei tidak dipengaruhi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Hal itu diungkapkan oleh seorang menteri Inggris.

"Kita semua tahu Donald Trump, bukan?" kata Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock kepada Sky News.

"Semua orang dapat mencoba mengklaim kredit atas keputusan tersebut, tetapi ini didasarkan pada penilaian teknis oleh Pusat Keamanan Cyber Nasional," jelasnya seperti dikutip dari Business Insider, Kamis (16/7/2020).

Hancock menanggapi pertanyaan tentang komentar Trump tentang perubahan kebijakan. Pemimpin AS Selasa lalu mengatakan bahwa dialah yang meyakinkan negara-negara seperti Inggris untuk melarang Huawei.

"Kami meyakinkan banyak negara, banyak negara, saya melakukan ini sendiri sebagian besar, tidak menggunakan Huawei, karena kami pikir itu adalah risiko keamanan yang tidak aman, ini adalah risiko keamanan yang besar," kata Trump, menurut Reuters.

Keputusan Inggris ini diambil setelah ketegangan dengan China meningkat setelah undang-undang keamanan nasional baru yang diberlakukan di Hong Kong. London pun menawarkan 3 juta penduduk Hong Kong kewarganegaraan InggrisDuta Besar China untuk Inggris Liu Xiaoming bereaksi keras terhadap keputusan itu. Menurut Liu langkah itu merupakan campur tangan kotor dalam urusan dalam negeri China.

 

 

Pompeo: Dunia Akan Membuat China 'Membayar' Atas Pandemi Covid-19

 Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo mengatakan, ia yakin dunia akan membuat China "membayar harga" untuk pandemi virus Corona.

"Saya pikir dunia akan benar-benar membuat mereka membayar harganya," kata diplomat top AS itu dalam acara virtual dengan The Hill.

"Setiap tempat yang saya tuju, setiap menteri luar negeri yang saya ajak bicara, mereka mengakui apa yang telah dilakukan China terhadap dunia. Saya sangat yakin bahwa dunia akan memandang China secara berbeda dan melibatkan mereka secara fundamental berbeda dari yang mereka lakukan sebelum bencana besar ini," imbuh Pompeo seperti dikutip dari CNBC, Kamis (16/7/2020).

Pemerintahan Presiden Donald Trump selama berbulan-bulan telah mengisyaratkan bahwa AS akan mengambil langkah untuk menghukum China karena gagal mencegah virus mematikan, yang pertama kali muncul di kota Wuhan, menyebar di seluruh dunia.

"Ketika Anda memiliki insiden di negara Anda yang berpotensi menyebabkan pandemi, Anda memiliki kewajiban untuk melaporkannya dan untuk memungkinkan orang lain masuk dan membantu Anda bersikap transparan tentang hal itu. Partai Komunis China memilih secara berbeda mereka mengkooptasi Organisasi Kesehatan Dunia untuk mencapai hal itu, "kata Pompeo.

"Hasilnya hari ini adalah bahwa kita memiliki ratusan ribu orang yang telah meninggal dan triliunan dolar dalam kerusakan global sebagai akibat langsung dari keputusan Partai Komunis China," imbuhnya.

Pada hari Selasa, Presiden Donald Trump menandatangani undang-undang untuk menjatuhkan sanksi terhadap China sebagai tanggapan atas campur tangannya atas otonomi Hong Kong. Namun, dua sumber mengatakan kepada CNBC bahwa Trump berencana untuk menunda sanksi untuk sementara waktu karena kekhawatiran tentang hubungan yang memburuk dengan China. Pompeo pada hari Rabu juga menuduh China bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengecilkan krisis virus Corona yang sedang tumbuh. Awal bulan ini, pemerintahan Trump mengajukan pemberitahuan untuk menarik diri dari WHO paling lambat 6 Juli 2021, seorang pejabat senior administrasi mengkonfirmasi ke CNBC.

WHO sendiri telah membela diri dalam penanganan pandemi ini.

Lebih dari setengah juta orang di seluruh dunia telah meninggal karena virus Corona, dengan AS melaporkan lebih banyak kematian dan infeksi dari Covid-19 daripada negara lain, menurut penghitungan oleh Universitas Johns Hopkins.

 

 

 

 

 

 

Sebentar Lagi China Bakal Rebut Status Adikuasa Milik AS

Sekitar 42 persen orang Jerman merasa bahwa Amerika Serikat (AS) tampaknya akan digeser posisinya oleh China sebagai negara paling berkuasa di dunia dalam beberapa dekade mendatang.

Demikian hasil survei yang ditunjukkan oleh YouGov, sebuah lembaga survei yang berbasis di Inggris pada Selasa (14/7/2020).

Hanya 14 persen responden yang percaya bahwa AS akan mempertahankan supremasinya. Sekitar 23 persen menyatakan ragu-ragu dan 22 persen tidak memberikan tanggapan terhadap pertanyaan survei:

 “Menurut Anda, negara mana, AS atau China yang akan lebih kuat dalam 50 tahun ke depan?”

Pendapat terkait isu ini bervariasi tergantung partai mana yang didukung oleh para responden. Kebanyakan pendukung Partai Kiri memprediksi dominasi China atas AS di masa depan (54 persen), begitu pula dengan pendukung Partai Demokrat yang ramah bisnis dan pendukung Partai Hijau yang cinta lingkungan (52 persen).

Di sisi lain, pendukung partai sayap kanan, Alternatif untuk Jerman (AfD) adalah responden yang paling mungkin mengatakan bahwa AS akan tetap menjadi negara terkuat dunia, meskipun hanya 17 persen yang merespons.

Survei ini dilakukan dari 10-12 Juli, dengan melibatkan 4.054 responden berusia 18 tahun ke atas.

 

 

Permusuhan Berlanjut, AS Batasi Visa Pekerja Huawei

 Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo mengatakan Washington akan memberlakukan pembatasan visa pada beberapa pekerja Huawei Technologies Corp.

Langkah yang diumumkan Pompeo ini adalah yang terbaru dalam upaya AS untuk melarang teknologi Huawei. AS menilai perusahaan teknologi China itu dapat digunakan oleh Beijing untuk memata-matai orang Amerika. Namun Huawei mengatakan beroperasi secara independen.

"AS terus melakukan pembicaraan dengan pemerintah di Beijing tetapi kita harus berurusan dengan China seperti apa adanya, bukan seperti yang kita harapkan," kata Pompeo kepada wartawan di Departemen Luar Negeri seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (15/7/2020).

Diplomat top AS itu mengatakan dia akan pergi ke Inggris dan Denmark minggu depan dalam perjalanan di mana ancaman dari China akan menjadi agenda utama.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah menandatangani undang-undang sanksi untuk China atas intervensinya di Hong Kong. Tindakan tersebut mengikuti hubungan AS-China yang menukik karena pandemi virus Corona, yang diduga ditutupi oleh pemerintah Komunis China, mencegah kesiapan global.

Bulan lalu, Trump menandatangani Undang-Undang Kebijakan Hak Asasi Manusia Uighur untuk menghukum pejabat China yang bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia terhadap minoritas Muslim Uighur yang sebagian besar Muslim di negara itu.

 

 

Media China: Inggris Harus Mengalami Pembalasan yang Menyakitkan

 Media China mengatakan Inggris harus mengalami pembalasan publik dan menyakitkan atas keputusannya melarang Huawei dari jaringan 5G-nya. Sedangkan juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyebut Inggris menjadi korban penipuan Amerika Serikat (AS).

Pemerintah Boris Johnson mengatakan pada hari Selasa bahwa Inggris akan memberlakukan larangan pembelian semua infrastruktur 5G baru dari Huawei pada 31 Desember, dengan semua peralatan yang ada dibuat oleh perusahaan China dihapus pada tahun 2027. (Baca: Resmi Dilarang, Inggris Copot Semua Perangkat Huawei dari Jaringan 5G)

Namun, duta besar China untuk Inggris, Liu Xiaoming, mengatakan langkah itu mengecewakan dan salah.

"Keputusan mengecewakan dan salah oleh Inggris pada #Huawei. Ini menjadi dipertanyakan apakah Inggris dapat memberikan lingkungan bisnis yang terbuka, adil dan tidak diskriminatif untuk perusahaan dari negara lain," tweet Xiaoming seperti dikutip dari Business Insider, Rabu (15/7/2020).

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying mengatakan dalam konferensi bahwa keputusan Inggris akan "dikenakan biaya," atas negara itu, menambahkan bahwa Inggris telah menjadi korban penipuan Amerika.

Beijing telah menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan Inggris yang beroperasi di China, yang meliputi BP, Jaguar Land Rover, dan Glaxosmithkline, akan menerima perlakuan yang lebih keras mengingat Huawei dihapus dari jaringan Inggris.

"Ini adalah ujian lakmus untuk arah ke mana pasar Inggris akan pergi setelah Brexit, dan apakah bisnis Inggris di China akan diberikan dengan lingkungan yang terbuka, adil, dan tidak diskriminatif," kata Zhao Lijian, juru bicara kementerian luar negeri China.

Sementara editorial di media pemerintah China menyatakan bahwa Beijing akan "membalas" Inggris, yang digambarkannya sebagai "mata rantai yang lemah."

"Sangat penting bagi China untuk membalas terhadap Inggris, kalau tidak, tidakkah kita terlalu mudah untuk menggertak? Pembalasan seperti itu harus dilakukan secara publik dan menyakitkan bagi Inggris," bunyi editorial di The Global Times.

Namun, mereka menambahkan: "Tidak perlu mengubahnya menjadi konfrontasi China-Inggris karena Inggris bukan AS, atau Australia, atau Kanada. Ini adalah relatif 'tautan lemah' di Lima Mata."

"Dalam jangka panjang, Inggris tidak memiliki alasan untuk berbalik melawan China, dengan masalah Hong Kong memudar," demikian bunyi editorial itu.

Dua Rudal Korut dan China Cukup Bikin Amerika Kiamat

Perseteruan antara Amerika Serikat (AS) dan China kian hari kian meruncing. Amerika yang tak senang dengan peningkatan pesat armada militer Negeri Tirai Bambu, terus memberikan respons terhadap kampanye Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA).

Amerika terus mempermasalahkan kampanye militer Tentara Pembebasan Rakyat China di kawasan Laut China Selatan. Kementerian Pertahanan Amerika (US Departement of Defense) menyebut aksi pamer kekuatan militer China di Laut China Selatan awal bulan ini, sebagai sebuah pelanggaran hukum internasional dan tak memenuhi komitmen.

Menurut laporan dari South China Morning Post (SCMP), tudingan Amerika ini adalah jawaban atas latihan Tentara Pembebasan Rakyat China pada awal bulan ini.

Di sisi lain, China tak terima dengan tuduhan ini. Kemenenterian Pertahanan China menegaskan, latihan militer yang dimulai dari 1-5 Juli 2020 adalah upaya untuk meningkatkan pertahanan dan keamanan. Selain itu, latihan militer juga berfungsi untuk menjaga perdamaian dan kedaulatan negara.

Tuduhan Kementerian Pertahanan Amerika ternyata tak hanya membuat China saja yang panas. Sekutu China, Korea Utara (Korut), juga ikut memberikan respons keras terhadap sikap Amerika.

Ketegangan antara Amerika dan China yang didukung Korut, bukan tak mungkin bakal berakhir dengan perang. Seperti yang diketahui, China dan Korut selalu jadi sasaran tembak Amerika lantaran tak pernah mau ikut perjanjian senjata nuklir.

Perlu diketahui, China dan Korut memiliki sejumlah senjata nuklir yang sangat mematikan dan membahayakan Amerika. Dirangkum dari berbagai sumber, data dua senjata nuklir Korut dan China bisa menghancurkan Amerika hanya dalam sekejap mata.

Di sisi Korut, Tentara Rakyat Korea Utara (KPA) punya Rudal Balistik Antarbenua (ICBM) mahadahsyat, Hwasong-15. Amerika wajib waspada dengan senjata nuklir Korut yang satu ini.  Sebab menurut data yang dikutip VIVA Militer dari BBC, rudal balistik Hwasong-15 memiliki jangkauan sejauh 13.000 kilometer dan bisa membawa banyak hulu ledak nuklir. Korut sengaja mendesain rudal balistik antarbenua Hwasong-15 untuk melakukan serangan ke seluruh daratan Amerika.

Kemudian di kubu China, Angkatan Roket Tentara Pembebasan China saat ini memiliki rudal balistik antarbenua Dongfeng DF-41. Dalam data yang dikutip VIVA Militer dari Center for Strategic and International Studies Missile Defense Project, rudal balistik DF-41 memiliki jarak jangkauan 14.000-15.000 kilometer.

Seperti halnya Hwasong-15 milik Korut, DF-41 juga mampu membawa 12 hulu ledak nuklir. Masing-masing hulu ledak nuklir yang bisa dibawa DF-41 maksimal memiliki kekuatan 150 kiloton, atau secara keseluruhan mencapai 1.800 kiloton.Rudal balistik DF-41 juga bisa membawa satu hulu ledak nuklir dengan kekuatan mencapai 1 megaton.