• Blog
  • Wall Street Mixed, Indeks Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Wall Street Mixed, Indeks Nasdaq Anjlok Paling Dalam

News Forex, Index &  Komoditi

( Selasa, 14  Juli  2020 )

Wall Street Mixed, Indeks Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan kemarin. Indeks S&P 500 dan Nasdaq berakhir lebih rendah tertekan saham Amazon dan Microsoft.

Indeks S&P 500 turun setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 25 Februari. Indeks telah pulih lebih dari 40% sejak pertengahan Maret, bahkan ketika infeksi covid-19 meningkat dengan cepat di Arizona, California dan Texas dan sekitar 35 negara bagian lainnya.

Berita merger juga menggembirakan investor karena pembuat chip Analog Devices Inc mengumumkan kesepakatan USD21 miliar untuk membeli saingannya Maxim Integrated Products Inc dan membuat sahamnya naik 8%. Saham analog turun 5,8%.

Saham PepsiCo Inc naik 0,3% setelah mengatakan pihaknya mendapat manfaat dari lonjakan konsumsi makanan ringan asin di rumah seperti Fritos dan Cheetos selama lockdown.

Dow Jones Industrial Average naik 0,04% menjadi 26.085,8 poin, sedangkan S&P 500 kehilangan 0,94% menjadi 3.155,22 dan Nasdaq Composite turun 2,13% menjadi 10.390,84, dilansir Reuters, Selasa (14/7/2020).

Data ekonomi baru-baru ini telah memperkuat kepercayaan bahwa ekonomi AS yang dipacu stimulus menuju pemulihan. Volume pada perdagangan bursa saham AS adalah 11,6 miliar saham, turun dibandingkan dengan rata-rata perdagangan selama 20 hari terakhir yang mencapai 11,9 miliar.

 

 

 

Saham Hong Kong dibuka melemah dengan indeks HSI menyusut 0,42 persen

Saham-saham Hong Kong dibuka lebih rendah pada Selasa pagi, berbalik dari keuntungan sehari sebelumnya dengan indikator utama Indeks Hang Seng (HSI) menyusut 0,42 persen atau 108,96 poin, menjadi diperdagangkan di 25.663,16 poin. Indeks Hang Seng menguat 0,17 persen atau 44,71 poin menjadi menetap di 25,772.12 poin pada akhir perdagangan Senin (13/7/2020), dengan nilai transaksi mencapai 171,28 miliar dolar Hong Kong (sekitar 22,10 miliar dolar AS).

 

 

 

Saham China dibuka lebih rendah setelah melonjak sehari sebelumnya

Saham-saham China dibuka lebih rendah pada perdagangan Selasa pagi, menyusul aksi ambil untung setelah kenaikan tajam sehari sebelumnya ditopang oleh sentimen positif pasar domestik.

Indeks Komposit Shanghai turun 0,24 persen menjadi dibuka pada 3.435,02 poin, sementara Indeks Komponen Shenzhen di bursa kedua China dibuka 0,20 persen lebih rendah pada 14.121,33 poin.

Sementara itu, indeks ChiNext yang melacak saham-saham perusahaan sedang berkembang di papan bergaya Nasdaq China, berkurang 0,44 persen menjadi dibuka pada 2.876,85 poin.

 

Saham Korsel dibuka melemah, Indeks KOSPI kehilangan 0,36 persen

Saham-saham Korea Selatan dibuka lebih rendah pada Selasa pagi, setelah sehari sebelumnya membukukan kenaikan tajam dengan Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) kehilangan 0,36 persen atau 7,80 poin, menjadi 2.178,26 poin dalam 15 menit pertama perdagangan.

Indeks KOSPI terangkat 1,67 persen atau 35,81 poin, menjadi 2.186,06 poin pada penutupan perdagangan Senin (13/7/2020), rebound dari penurunan akhir pekan lalu dengan volume transaksi mencapai 641,5 juta saham senilai 10,3 triliun won (8,6 miliar dolar AS).

Mata uang lokal dikutip pada 1.205,3 won terhadap dolar AS, melemah 4,4 won dari tingkat penutupan sehari sebelumnya. Mata uang lokal menguat 3,6 won menjadi 1.200,9 won terhadap greenback pada akhir perdagangan Senin (13/7/2020).

 

 

Saham Tokyo dibuka jatuh karena aksi ambil untung

Saham-saham Tokyo dibuka lebih rendah pada perdagangan Selasa pagi, karena investor mengamankan keuntungan mereka menyusul kenaikan tajam Nikkei sehari sebelumnya.

Pada pukul 09.15 waktu setempat, indeks acuan Nikkei 225 terpangkas 126,77 poin atau 0,56 persen, dari tingkat penutupan Senin (13/7/2020), menjadi diperdagangkan di 22.657,97 poin. Sehari sebelumnya, Nikkei naik tajam 493,93 poin atau 2,22 persen menjadi 22.784,74 poin.

Sementara itu Indeks Topix yang lebih luas dari seluruh saham papan utama di pasar Tokyo kehilangan 4,83 poin atau 0,31 persen, menjadi diperdagangkan pada 1.568,19 poin. Indeks Topix bertambah 37,82 poin atau 2,46 persen, menjadi 1.573,02 poin pada perdagangan Senin (13/7/2020).

Saham-saham perusahaan yang terkait dengan pertanian dan perikanan, transportasi udara dan transportasi darat paling banyak mengalami penurunan pada menit-menit pembukaan setela

Langkah Balasan, China Sanksi Pejabat AS Terkait Uighur

 China mengumumkan sanksi terhadap sejumlah pejabat Amerika Serikat (AS), termasuk dua senator. Ini adalah pembalasan terhadap sanksi Washington terhadap pejabat senior China atas perlakuan Beijing terhadap minoritas Muslim Uighur.

Juru bicara kementerian luar negeri China, Hua Chunying mengungkapkan apa yang disebutnya sanksi yang sesuai terhadap Ted Cruz dan Marco Rubio, Duta Besar untuk Kebebasan Beragama Internasional, Sam Brownback dan Komisi Kongres-Eksekutif untuk China.

Komisi Kongres-Eksekutif untuk China adalah komisi yang bertugas memantau HAM dan pengembangan aturan hukum di China, dan menyerahkan laporan tahunan kepada Presiden AS, Donald Trump dan Kongres.

"Tindakan AS secara serius mencampuri urusan dalam negeri China, secara serius melanggar norma dasar hubungan internasional dan secara serius merusak hubungan China-AS," kata Hua dalam konferensi pers di Beijing.

"China akan membuat tanggapan lebih lanjut berdasarkan pada bagaimana situasi berkembang," sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Senin (13/7/2020).
Hua tidak menguraikan bentuk sanksi kepada para pejabat AS tersebut. Sementara, langkah Washington terhadap para pejabat China adalah termasuk pembekuan aset, larangan perjalanan ke AS dan melarang orang Amerika melakukan bisnis dengan mereka.

 

 

Kasus Virus Corona Tembus 13 Juta Orang di Penjuru Dunia

 Infeksi virus corona global telah lebih dari 13 juta kasus pada Senin (13/7) sesuai perhitungan Reuters. Jumlah ini menjadi tonggak baru pada penyebaran Covid-19 yang telah menewaskan lebih dari setengah juta jiwa dalam tujuh bulan.

Kasus pertama dilaporkan di China pada awal Januari dan membutuhkan waktu tiga bulan untuk mencapai 1 juta kasus. Lantas membutuhkan hanya lima hari untuk mencapai 13 kasus dari 12 juta kasus pada 8 Juli.

Jumlah kasus itu sekitar tiga kali lipat dari data penyakit influenza parah yang dicatat per tahun, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Terdapat lebih dari 568.500 korban meninggal akibat Covid-19 hingga sekarang. Kematian pertama dilaporkan pada 10 Januari di Wuhan, China, sebelum infeksi meningkat di Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Data Reuters itu dari laporan berbagai negara. Saat ini terjadi peningkatan infeksi tercepat di Amerika Latin. Benua Amerika mencatat lebih dari setengah dari total infeksi dan korban meninggal di dunia.

“AS melaporkan infeksi baru harian sebanyak 69.070. Di Brasil, sebanyak 1,86 juta orang dites positif, termasuk Presiden Jair Bolsonaro, dan lebih dari 72.000 orang meninggal,” ungkap laporan Reuters.

India menjadi negara dengan jumlah infeksi terbesar ketiga di dunia, dengan rata-rata 23.000 infeksi baru setiap hari sejak awal Juli. Banyak negara yang melonggarkan lockdown. Namun k

WHO Peringatkan Krisis Covid-19 Kian Memburuk dan Memburuk

 Pandemi virus corona di penjuru dunia akan memburuk jika berbagai negara gagal menerapkan langkah pencegahan kesehatan yang ketat.

Peringatan itu diungkapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) seiring dilonggarkannya lockdown di berbagai negara. “Izinkan saya terus terang, terlalu banyak negara bergerak ke arah yang salah, virus tetap menjadi musuh publik nomor satu,” ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat konferensi pers virtual dari kantor pusat WHO di Jenewa.

“Jika pondasinya tidak diikuti, satu-satunya jalan pandemi ini terus berjalan, ini semakin memburuk dan memburuk dan memburuk,” papar Tedros.

Infeksi global mencapai 13 juta kasus menurut data Reuters, dengan lebih dari setengah juta orang meninggal dunia akibat wabah ini.

Tedros menjelaskan, sebanyak 230.000 kasus baru terjadi pada Minggu (12/7), sebanyak 80% dari 10 negara dan 50% dari hanya dua negara.

Amerika Serikat (AS) dan Brasil menjadi beberapa negara yang terkena dampak terburuk di dunia. “Tidak akan ada kembali ke normal lama untuk masa mendatang. Ada banyak yang harus dikhawatirkan,” ujar Tedros, dalam komentar terkerasnya dalam beberapa pekan terakhir.

Tedros menyatakan WHO masih belum menerima notifikasi resmi bahwa AS keluar dari lembaga itu seperti yang diumumkan Presiden Donald Trump. Trump menuduh WHO terlalu condong China sejak awal kritis. WHO menyangkal tuduhan itu.

AS: Klaim China atas Laut China Selatan Melanggar Hukum

 Pemerintah Amerika Serikat (AS) menolak klaim maritim China atas kawasan Laut China Selatan. Washington juga menuduh Beijing telah menindas negara-negara lain yang memiliki klaim di kawasan yang sama.

Pernyataan Amerika muncul pada saat hubungan Washington dan Beijing terus memanas. Penolakan Amerika atas klaim maritim China itu disampaikan Menteri Luar Negeri Michael Pompeo dalam sebuah pernyataan.

"Kami memperjelas; klaim Beijing atas sumber daya lepas pantai di sebagian besar Laut China Selatan sepenuhnya melanggar hukum, seperti kampanye penindasan untuk mengendalikannya," kata Pompeo, seperti dikutip NPR, Selasa (14/7/2020).

China mengklaim kedaulatan atas sebagian besar jalur air Asia yang luas dan penting secara ekonomi, dan dalam beberapa tahun terakhir telah membangun pulau buatan atau memperluas pulau yang ada untuk memperkuat klaimnya.

Beijing juga telah membangun jalur udara, dermaga dan fasilitas militer di beberapa pulau di Laut China Selatan dan menegaskan klaim maritimnya yang luas dengan kapal penjaga pantai yang jauh dari pantai China. Klaim teritorial Beijing digambarkan pada peta China dengan apa yang disebut "Nine-Dash Line", garis melengkung putus-putus ke bawah yang meliputi sebagian besar Laut China Selatan.

Negara-negara lain yang ikut mengklaim kawasan tersebut adalah Vietnam, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Brunei. Mereka juga menolak klaim maritim China.

Pada 2016, pengadilan internasional di Den Haag memutuskan bahwa klaim China atas kedaulatan di sepanjang "Nine-Dash Line" tidak memiliki dasar hukum dalam hukum internasional. Beijing menolak putusan itu, mengatakan pengadilan di Den Hag tidak memiliki yurisdiksi.

Hingga saat ini, kebijakan AS tentang klaim maritim di Laut China Selatan sebagian besar belum diartikulasikan, meskipun Angkatan Laut AS telah meningkatkan apa yang disebutnya operasi "kebebasan navigasi" di dekat fitur-fitur yang diduduki China untuk mengingatkan Beijing bahwa AS memiliki kepentingan dalam menjaga jalur laut terbuka.

Pernyataan AS pada hari Senin secara eksplisit mendukung temuan kasus pengadilan 2016, yang diajukan oleh Filipina. "RRC tidak memiliki alasan hukum untuk memaksakan kehendaknya secara sepihak pada kawasan itu," bunyi pernyataan tersebut, merujuk pada Republik Rakyat China (RRC).

"Beijing menggunakan intimidasi untuk melemahkan hak-hak kedaulatan negara-negara pantai Asia Tenggara di Laut China Selatan, menggertak mereka keluar dari sumber daya lepas pantai, menegaskan kekuasaan unilateral, dan mengganti hukum internasional."

Awas Trump, China dan Iran Lagi Kumpulkan Kekuatan buat Hadapi AS

Langkah kerja sama antara China dan Iran dipastikan akan semakin mengancam hegemoni Amerika Serikat (AS). China dan Iran yang sama-sama merupakan seteru Amerika, akhirnya sepakat untuk melakukan kerja sama di segala sektor, termasuk militer.

Dalam laporan yang dikutip dari The New York Times, China dan Iran secara rahasia telah menyusun kerja sama di bidang ekonomi dan keamanan. Kerja sama antara China dan Iran bakal membuka jalan kedua negara untuk investasi miliaran Dollar AS di seluruh sektor, terutama dalam hal energi nuklir dan sistem persenjataan lainnya.

Dikutip dari media Israel, Arutz Sheeva 7, ada 18 halaman dokumen perjanjian antara China dan Israel. Dokumen itu menggambarkan bahwa China akan memperluas jaringan investasinya di bidang perbankan, telekomunikasi, pelabuhan, kereta api, dan puluhan proyek militer.

Di sisi lain, China akan menerima pasokan minyak dari Iran dalam jumlah besar. Seperti yang diketahui, Iran yang terkena sanksi embargo dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Amerika, nantinya akan punya tempat baru untuk menjual minyaknya.

Kemudian, dalam dokumen itu juga ada poin kerjasama militer. Hal ini bisa memberikan China pijakan baru di wilayah yang telah menjadi perhatian strategis Amerika dalam beberapa dekade.

Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) dan Garda Revolusi Iran (IRGC) kemungkinan besar akan melakukan latihan gabungan, secara bersama-sama juga akan mengembangkan teknologi persenjataan, dan berbagi data intelijen.

Permintaan kerjasama dikabarkan sudah diminta langsung oleh Presiden China, Xi Jinping, saat berkunjung ke Iran pada 2016 silam. Gayung bersambut, pemerintah Iran di bawah komando Presiden Hassan Rouhani langsung sepakat dan sudah dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, pekan kemarin.

Hubungan China dan Amerika memanas lantaran kampanye militer pasukan Negeri Tirai Bambu, di kawasan Laut China Selatan. Amerika menuduh China seenaknya mengklaim sejumlah wilayah di perairan internasional Asia, dan merugikan beberapa negara kawasan Asia Tenggara.

Sementara itu, hubungan Amerika dan Iran kembali memburuk pascakeputusan Presiden Donald Trump menarik AS dari perjanjian nuklir Rencana Aksi Kompeherensif Bersama (JCPOA), pada 2015.

Amerika juga berusaha keras untuk mencari dukungan agar masa sanksi embargo Iran diperpanjang. Iran pun berang, pasalnya sanksi itu sudah akan berakhir pada Oktober 2020 nanti.

Lalu, penyebab lain yang tak kalah membuat Iran ngamuk adalah pembunuhan Komandan Pasukan Quds IRGC, Mayor Jenderal Qassem Soleimani, 3 Januari 2020 lalu. Serangan drone Angkatan Bersenjata Amerika di Bandara Internasional Baghdad, Irak, menewaskan Soleimani dan Wakil Komandan Pasukan Mobilisasi Rakyat (PMF) Irak, Abu Mahdi al-Muhandis

Ketika AS Dipusingkan dengan Pilihan Terbatas untuk Hadapi China

Surat kabar Amerika Serikat (AS) Wall Street Journal (WSJ) melaporkan Washington sedang menimbang pilihan mereka yang terbatas untuk menghadapi Beijing atas langkah Negeri Tirai Bambu terhadap Hong Kong baru-baru ini. Ketegangan AS dan China kian memanas.

WSJ melaporkan langkah terhadap sistem finansial Hong Kong mungkin akan merugikan AS, negara-negara Barat, perusahaan-perusahaan di kota, dan para konsumen. Dalam laporan yang dipublikasikan pada Minggu (12/7/2020) ini, WSJ mengutip sejumlah pejabat pemerintah AS dan pengamat.

Dalam laporannya, WSJ menyampaikan langkah-langkah seperti memberlakukan sanksi terhadap pejabat China dan menerapkan larangan masuk bagi produk-produk China yang diproduksi di Hong Kong hanya berdampak kecil bagi sistem intregrasi keamanan dan politik yang ingin Beijing terapkan dengan Hong Kong. 

Salah satu sumber mengatakan pada WSJ pada Kamis (9/7/2020) lalu, pemerintahan Presiden AS Donald Trump membahas rencana terhadap Hong Kong di Gedung Putih. Pekan ini para pejabat akan kembali menggelar rapat dan mungkin akan mengumumkan sanksi atau langkah lainnya.

Pekan lalu Washington memberlakukan sanksi pada Sekretaris Partai Komunis daerah semi otonom Xinjiang Chen Quanguo, anggota Politbiro yang sangat berkuasa dan tiga pejabat China lainnya. Beijing mengatakan sanksi-sanksi itu 'sangat merugikan' hubungan timbal balik antarkedua negara.

Pemerintah China juga memperingatkan akan menerapkan langkah balasan yang setara terhadap pejabat dan organisasi AS. Ketegangan AS-China mencakup berbagai isu mulai dari perdagangan, virus corona, undang-undang keamanan Hong Kong dan pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang.

Pada Sabtu (11/7/2020), pemerintah AS mengeluarkan peringatan pada warganya 'untuk meningkatkan kehati-hatian' di China. Sebelumnya, Bloomberg melaporkan penasihat Trump mempertimbangkan proposal untuk menekan mata uang Hong Kong terhadap dolar AS, meskipun tampaknya gagasan itu tidak mendapatkan perhatian.

 

 

Jurus Dewa Mabuk China Lawan AS: Buang Dolar, 'Tanam' Yuan

 Perselisihan Amerika Serikat dan China sudah terjadi menahun. Hal ini disadari betul oleh China.

Karenanya, China kini membuat gebrakan. Negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping itu dikabarkan berniat untuk "membuang dolar" dan lebih menekankan penggunaan mata uangnya, yuan, dalam berbagai transaksi.



Pasalnya ketegangannya dengan AS mungkin membuat aksesnya ke dolar AS menjadi terbatas di masa depan. Terbaru, keduanya tegang karena penerapan UU Keamanan Nasional di Hong Kong dan masalah sanksi Muslim Uighur.

Ini membuat China terancam mendapat "hukuman" lebih berat dari AS. Di Hong Kong misalnya, AS disebut akan menghapus
patokan (peg) dolar Hong Kong.

Apa lagi perusahaan dan pemberi pinjaman China sangat bergantung pada dolar. Negara ini memiliki hampir satu triliun dolar obligasi dan pinjaman luar negeri dan US$ 1,1 triliun utang bank milik negara.

Langkah ini tak main-main sebenarnya. China sudah mulai mengurangi kepemilikannya pada obligasi AS mulai tahun lalu.

Di 2019, China adalah pemegang asing terbesar. Tapi, berjalan di 2020, nilai kepemilikan China turun.

Pada April 2019, kepemilikan China di obligasi pemerintah AS tercatat US$ 1,11 triliun. Namun setahun kemudian, dari riset CNBC Indonesia, nilai kepemilikan China turun menjadi US$ 1,07 triliun. Artinya, dalam setahun kepemilikan China berkurang 3,61%.

Zhou Yongkun, seorang pejabat bank sentral China People's Bank of China, pekan lalu mengatakan bahwa China akan memperkenalkan perdagangan langsung antara yuan dan mata uang tambahan. Namun ia tidak menyebut mata uang apa yang akan menjadi mata uang tambahan tersebut.



Selain itu, regulator China juga dikabarkan sedang membangun Sistem Pembayaran Internasional China untuk menyelesaikan transaksi di luar platform berbasis dolar di mana AS memegang kendali.



Langkah-langkah yang lebih kuat dari China dapat mencakup melakukan pembayaran sebagian impor dengan yuan, melakukan investasi langsung di luar negeri dalam yuan dan memberikan pinjaman dalam renminbi (nama resmi mata uang itu).


Sejumlah pengamat menilai ini wajar. China mencari pengganti dolar dari ketidakpastian politik.

"Internasionalisasi Yuan berubah dari yang diinginkan menjadi hal yang sangat diperlukan bagi Beijing," kata Ding Shuang, kepala ekonom Standard Chartered Plc untuk wilayah greater China dan Asia utara ditulis Bloomberg, Senin (13/7/2020).

"China perlu mencari pengganti dolar di tengah ketidakpastian politik, jika tidak bangsa akan menghadapi risiko keuangan."

Hal senada juga diamini Fang Xinghai, seorang pejabat tinggi di regulator sekuritas China. Kemampuan untuk mempertahankan diri dari potensi decoupling akan ditingkatkan secara signifikan melalui internasionalisasi yuan.

Meski demikian, ada pula yang menyampaikan keraguan. Mengingat globalisasi yuan sebagian besar bergantung pada konvertibilitas di bawah akun modal.

"[Hal itu] belum siap dilakukan China," kata Yu.

Sebelumnya di 2019, China juga disebut gencar melakukan pembelian emas. Cadangan emas resmi negara ini mencapai 1.957,5 ton pada Oktober 2019.

 

Sentimen Pasar Campur Aduk, Bursa AS Ditutup Bervariasi

 Bursa Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup bervariasi pada perdagangan Senin (13/7/2020), karena investor memperhatikan berbagai sentimen yang ada di pasar. Mulai dari kabar baik dalam pengembangan vaksin virus corona (Covid-19) hingga berita rilis laporan pendapatan berbagai perusahaan.

Pada hari Senin, Dow Jones Industrial Average mengakhiri hari dengan naik 10 poin, setelah sempat melonjak 500 poin di awal perdagangan. S&P 500 ditutup turun 0,95%, setelah sebelumnya rally 1%.

 

Sementara Nasdaq Composite anjlok 2,1%. Kejatuhan parah itu dipengaruhi oleh penurunan saham Netflix, Microsoft, Amazon dan Facebook. Indeks yang diisi perusahaan-perusahaan teknologi ini sebelumnya sempat menguat hampir 2% pada perdagangan Senin.

Di sisi lain, Nasdaq-100, yang terdiri dari 100 perusahaan nonkeuangan terbesar di Nasdaq Composite, diperdagangkan secara singkat di atas 11.000 untuk pertama kalinya sebelum anjlok 2,2%.

"Saya pikir apa yang kami lihat di sini adalah naik-turun yang sedang berlangsung yang dipengaruhi oleh meningkatnya kasus virus corona versus negara-negara membuka kembali ekonomi dan pasar bergulat dengan keseimbangan dan bagaimana itu akan berhasil dari waktu ke waktu," kata Susan Schmidt, kepala Ekuitas AS di Aviva Investors, kepada CNBC International.

Sebelumnya kenaikan saham-saham di hari Senin didorong oleh berita positif dari Pfizer dan BioNTech SE, yang telah mendapat izin penggunaan jalur cepat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS atas dua dari empat kandidat vaksin Covid-19 yang sedang dikembangkan kedua perusahaan.

Kemajuan dalam pengembangan vaksin itu membawa angin segar di tengah tingginya penambahan kasus baru Covid-19 dia AS dan seluruh dunia dalam beberapa waktu terakhir.

Namun, kenaikan itu terkikis oleh berita rilis laporan pendapatan perusahaan-perusahaan, di mana lembaga pemeringkat Refinitiv memproyeksikan bahwa laba perusahaan akan turun 44% pada kuartal kedua, sementara laba sektor keuangan diperkirakan akan mencatatkan penurunan lebih dari 52%.

"Apa yang sangat berpengaruh tentang bank yang melaporkan di awal musim pendapatan di saat seperti ini adalah kami benar-benar mengandalkan pandangan tim manajemen bank tentang apa yang terjadi," tambah Schmidt. "Bank adalah fondasi ekonomi AS kami. Mereka ada di sana untuk memberikan pinjaman kepada usaha kecil dan untuk mengelola simpanan konsumen ritel."

Meski demikian, saham berjangka AS justru bergerak menuju kenaikan di awal perdagangan dan terlihat melanjutkan kenaikan pada pembukaan perdagangan hari Selasa.

Dow futures naik 70 poin. S&P 500 dan Nasdaq 100 futures masing-masing naik 0,3% dan 0,4%.