• Blog
  • News Forex, Index & Komoditi ( Jum’at,  27  November  2020

News Forex, Index & Komoditi ( Jum’at,  27  November  2020

Bank Sentral Eropa Sinyal Stimulus Lagi, Resesi Kian Parah

Bank Sentral Eropa (ECB) memberikan sinyal baru soal stimulus moneter tambahan. ECB mengatakan ada 'sinyal mengkhawatirkan' dari kondisi keuangan bank dan usaha kecil.

Dalam risalah pertemuan yang diterbitkan Kamis (26/11/2020), prospek ekonomi disebut bakal makin suram. Bahkan disebut "lebih bergelombang dari yang diprediksi sebelumnya".

"Beberapa negara akan mengalami resesi double dip," kata ECB memperingatkan, dikutip Jumat (28/11/2020).

Sebelumnya, dikutip dari AFP, ECB juga mengingatkan pemerintah agar tidak tiba-tiba menghentikan bantuan. Pasalnya setopnya stimulus fiskal bisa ibisa berakibat pada gagalnya pemulihan bahkan kebangkrutan.

Berakhirnya pemberian bantuan secara tiba-tiba bisa mengakibatkan kontraksi ekonomi yang lebih parah dari pada gelombang pertama pandemi laporan ECB. Jika bantuan fiskal tidak dipertahankan selama krisis, perusahaan akan makin merana di tengah lonjakan utang yang ditanggung.

Sementara itu, Presiden ECB Christine Lagarde telah mengungkapkan kekhawatiran terbesarnya terkait 'cliff effect' saat pemerintah menarik bantuan fiskal sebelum pemulihan penuh berlangsung. Istilah ini merujuk pada hasil positif atau negatif yang tidak proporsional dari suatu tindakan.

Sejauh ini ECB memberikan paket stimulus pandemi mencakup skema pembelian obligasi darurat US$ 1,6 triliun. Ini untuk menjaga aliran kredit.

Sejumlah negara Eropa masih bergulat dengan resesi. Di mana ekonomi secara tahunan (yoy) di tiga kuartal berturut-turut selama 2020, berkontraksi alias negatif.

Jerman misalnya mencatatkan ekonomi minus 4% di Q3 2020. Sementara di Q2 2020 dan Q1 masing-masing -11% dan -2,1%.

Ekonomi Prancis juga masih minus di tiga kuartal dalam basis tahunan di 2020. Terakhir, ekonomi -4,3% di Q3 2020. Hal senada juga terjadi di Italia dan Spanyol.

Saat ini Eropa juga dilanda kembali gelombang baru serangan corona. Ini membuat sejumlah penguncian (lockdown) dilakukan.

Bursa Asia dibuka bervariasi di tengah kekhawatiran dampak pandemi ke ekonomi global

Bursa Asia dibuka bervariasi pada awal perdagangan hari ini. Jumat (27/11) pukul 08.22 WIB, indeks Nikkei 225 naik 0,38% ke 26.637,71 dan indeks Hang Seng turun 0,23% ke 26.758,49.

Serupa, indeks Taiex pun turun 0,15% menjadi 13.825. Berbeda, indeks Kospi malah menguat 0,05% ke 2.627,18.

Namun, indeks ASX 200 turun 0,54% menjadi 6.600,40. Indeks Straits Times pun melemah 0,31% ke 2.848,53 dan FTSE Malaysia naik 0,31% ke 1.617,08.

Pergerakan bervariasi dari bursa saham Asia terjadi di tengah keraguan tentang vaksin virus corona yang sangat diantisipasi dan kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari pendemi.

Vaksin virus corona buatan AstraZeneca yang disebut sebagai "vaksin untuk dunia" karena memiliki biaya murah, mulai mendapat sandungan. Yakni dari kemanjuran vaksin tersebut yang kini sedang dalam pengawasan lebih ketat. Para ahli pun melihat adanya potensi penundaan persetujuan untuk vaksin AstraZeneca ini.

Mengingat, adanya kesalahan awal pada uji coba dari vaksin tersebut yang membuat peserta uji coba hanya menerima setengah dosis dan baru kembali mendapatkan dosis penuh dari vaksin Covid-19 itu.

"Dengan jumlah kasus global yang kini mencapai 60 juta, pasti ada beberapa medan sulit di depan untuk pemulihan global, dan itu dapat menciptakan luka ekonomi," tulis analis di ANZ Bank dalam sebuah memo.

Keraguan tentang distribusi vaksin virus corona telah menempatkan fokus baru pada keadaan pandemi saat ini, yang terlihat suram di banyak tempat.

Kondisi rawat inap di Amerika Serikat (AS) untuk pasien Covid-19 berada pada rekor dan para ahli memperingatkan bahwa Thanksgiving dapat menyebabkan infeksi dan kematian lebih lanjut.

Lebih dari 20 juta orang di seluruh Inggris akan dipaksa untuk hidup di bawah batasan terberat bahkan setelah penguncian nasional berakhir pada 2 Desember. Penguncian sebagian di beberapa negara Eropa juga telah meningkatkan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi.

Saham China dibuka lebih tinggi setelah bervariasi sehari sebelumnya

Saham-saham China dibuka lebih tinggi pada perdagangan Jumat pagi, setelah ditutup bervariasi sehari sebelumnya dengan keuntungan di sektor keuangan dan konsumen mengimbangi penurunan di perusahaan perawatan kesehatan, teknologi dan kendaraan energi terbarukan.

Indikator utama pasar saham China, Indeks Komposit Shanghai dibuka menguat 0,12 persen menjadi diperdagangkan pada 3.373,84 poin, sedangkan Indeks Komponen Shenzhen yang melacak saham-saham di bursa kedua China dibuka 0,20 persen lebih tinggi menjadi diperdagangkan pada 13.627,86 poin.

Sementara itu, indeks ChiNext yang melacak saham-saham perusahaan sedang berkembang di papan bergaya Nasdaq China, dibuka terangkat 0,20 persen menjadi diperdagangkan pada 2.614,66 poin.

Yuan balik menguat 25 basis poin jadi 6,5755 terhadap dolar AS

Yuan naik 25 basis poin menjadi 6,5755 terhadap dolar AS pada Jumat, berbalik menguat dari penurunan 31 basis poin sehari sebelumnya, menurut Sistem Perdagangan Valuta Asing China (CFETS).

Di pasar spot valuta asing China, yuan diperbolehkan naik atau turun sebesar dua persen dari tingkat paritas tengahnya setiap hari perdagangan.

Kurs tengah yuan terhadap dolar AS didasarkan pada rata-rata tertimbang harga yang ditawarkan oleh pelaku pasar sebelum pembukaan pasar uang antarbank pada setiap hari kerja.

Yuan diuntungkan oleh kemenangan kandidat Demokrat Joe Biden sebagai presiden terpilih AS, karena ia dianggap kurang mengancam hubungan AS-China daripada Presiden dari Republik, Donald Trump.

Trump Tinggalkan Gedung Putih Jika Kemenangan Biden Disahkan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bakal meninggalkan Gedung Putih asalkan Lembaga Pemilihan Umum (Electoral College) menyatakan Presiden Terpilih, Joe Biden, sebagai pemenang.

"Saya akan melakukannya. Namun Anda sudah tahu lah," kata Trump dalam jumpa pers di Gedung Putih, seperti dilansir Associated Press, Jumat (27/11).

"Jalan ini masih panjang," ujar Trump.

Akan tetapi, Trump masih tetap berkeras bahwa hal itu merupakan kekeliruan, dan masih ngotot ada indikasi kecurangan secara besar-besaran dalam pilpres. Dia juga mengklaim para pejabat komisi pemilihan umum di negara bagian kunci tidak adil sehingga menyebabkan dia kalah.

Bahkan meski sampai saat ini tuduhan kecurangan pilpres yang dilontarkan Trump belum bisa dibuktikan, dia dan tim hukumnya berupaya meragukan proses pemilihan dan ingin membalikkan hasil pemilu yang bertentangan dengan norma demokrasi.

Para pejabat komisi pemilihan umum AS dan para pemantau dari berbagai dunia juga tidak menemukan adanya kejanggalan atau kecurangan.

Trump memang sudah memerintahkan para anak buahnya untuk memulai proses transisi pemerintahan. Namun, dia masih tetap mengkritik Biden yang mulai mengumumkan calon anggota kabinet.

"Saya pikir tidak tepat kalau dia mencoba menyusun kabinet," ujar Trump.

Salah satu alasan mengapa Partai Republik masih mendukung Trump yang menuduh ada kecurangan dalam pilpres adalah karena untuk mendapatkan dukungan dari para simpatisan, menjelang persaingan dengan Partai Demokrat di Senat.

"Saya pikir kita berhadapan dengan sistem yang tidak adil. Saya khawatir dengan itu. Rakyat kecewa karena mereka merasa suaranya dicuri," ujar Trump.

Biden unggul jauh dari Trump dengan meraih lebih dari 300 suara elektoral dan 80 juta suara pemilih. Bahkan, Biden mencatatkan rekor baru dalam hal perolehan suara pemilih.

China Peringatkan Biden Soal Dukungan untuk Taiwan

 Kementerian Pertahanan China memperingatkan presiden terpilih Amerika Serikat (AS)Joe Biden terkait dukungan terhadap Taiwan. Hal itu dilakukan setelah Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, menyatakan keyakinannya atas dukungan berkelanjutan Washington untuk negaranya di bawah pemerintahan Biden.

Tsai diketahui pernah melakukan pertemuan "tatap muka" dengan Antony Blinken dan Jake Sullivan. Keduanya diketahui adalah orang-orang pilihan Biden untuk Menteri Luar Negeri dan penasihat keamanan nasional. Tsai mengatakan saluran komunikasi antara Washington dan Taipei "lancar."

China menggambarkan pemerintahan Tsai Ing-wen merencanakan kemerdekaan dengan mengandalkan Barat. Hal itu diungkapkan oleh Juru Bicara Kementerian Pertahanan Nasional Ren Guoqiang.

Ren mengatakan China sangat menentang komunikasi resmi dan pertukaran militer dalam bentuk apapun antara AS dan Taiwan, sebelum menyebut reunifikasi sebagai keinginan rakyat.

"Kami tidak akan mengizinkan siapa pun atau kekuatan apa pun untuk melanggar dan membagi wilayah suci China," katanya seperti dikutip dari Newsweek, Kamis (26/11/2020).

Ia menambahkan bahwa militer China bertekad untuk "menghadapi" ancaman apa pun terhadap kedaulatan China dan integritas teritorial.

Media pemerintah yang dikontrol ketat Beijing juga telah mengungkapkan sentimen positif terhadap Blinken, yang dianggap China lebih moderat dan dapat diprediksi daripada Menteri Luar Negeri AS saat ini Mike Pompeo.

Ada harapan di antara para analis China bahwa diplomat utama Biden, yang mengetahui Beijing sejak ia bekerja di bawah Presiden Barack Obama, dapat membantu menstabilkan hubungan antara dua kekuatan ekonomi tersebut karena kedua pemerintah mencari kesamaan dalam isu-isu seperti perubahan iklim.

Pada saat yang sama, Presiden China Xi Jinping akan menyadari fakta bahwa Biden, yang juga seorang veteran urusan luar negeri, memandang China sebagai ancaman strategis terbesar Amerika, dan kemungkinan akan berusaha untuk menegaskan kembali dominasi AS di Asia-Pasifik dengan bantuan sekutu demokrasinya.

Iran Bebaskan Perempuan Australia Terduga Mata-mata Barat

Iran membebaskan akademisi asal Australia, Kylie Moore-Gilbert, yang ditangkap pada 2018 lalu karena diduga menjadi mata-mata negara Barat.

Kylie, yang divonis penjara 10 tahun, dibebaskan setelah ada kesepakatan untuk membebaskan tiga warga Iran yang ditahan di Thailand pelaku percobaan pembunuhan diplomat Israel pada 2012 lalu.

Ia berstatus kewarganegaraan ganda, yakni Australia dan Inggris.

"Seorang pengusaha dan dua warga Iran lainnya yang ditahan di luar negeri atas dasar tuduhan palsu telah dibebaskan dengan imbalan mata-mata berkewarganegaraan ganda yang bekerja untuk Israel," bunyi laporan situs penyiaran Iribnews.

Dikutip AFP, rekaman video Iribnews memperlihatkan tiga pria yang tampak tengah ditemui seorang pejabat di Bandara Teheran.

Gambar video juga memperlihatkan Moore-Gilbert mengenakan kerudung didampingi oleh Duta Besar Australia

Moore-Gilbert merupakan dosen Studi Islam di Universitas Melbourne. Iran mengonfirmasi penangkapannya pada September 2019.

Namun, Moore-Gilbert itu diyakini ditahan oleh Iran satu tahun sebelumnya.

Moore-Gilbert menggambarkan dua tahun yang sangat traumatis selama mendekam di penjara militer Evin, Iran, yang dikelola Pasukan Garda Revolusi Iran.

"Saya datang ke Iran sebagai seorang teman dan dengan niat bersahabat," kata perempuan 33 tahun itu.

Moore-Gilbert ditangkap pasukan Iran setelah menghadiri konferensi akademik di Kota Suci Qom, pusat Iran. Ia lalu didakwa atas tindakan spionase dan divonis 10 tahun penjara.

Sementara itu, The Sydney Morning Herald mengidentifikasi ketiga pria Iran itu bernama Mohammad Khazaei, Masoud Sedaghat Zadeh, dan Saeed Moradi.

Korsel Punya Rudal Pencegat Baru Setara Rudal Patriot AS

Korea Selatan mengerahkan sistem peluru kendali pencegat baru Cheongung II yang disebut setara dengan sistem pertahanan rudal Patriot milik Amerika Serikat.

Cheongung II merupakan versi terbaru dari rudal jarak menengah surface-to-air yang sudah dilengkapi radar multifungsi.

Badan Sekretariat Program Akuisisi Pertahanan Korsel (DAPA) memaparkan radar tersebut berfungsi untuk menargetkan pesawat dan rudal secara bersamaan.

Cheongung II telah diperbarui sejak 2012 lalu. Sistem rudal itu disebut memiliki tingkat akurasi 100 persen.

Kepala Badan Pengembangan Pertahanan, Wang Jung-hong, mengatakan pengerahan Cheongung II diharapkan dapat berkontribusi memperkuat pertahanan Korea.

"Pengerahan sistem tersebut diharapkan berkontribusi membangun sistem pertahanan rudal Korea, meningkatkan kemampuan militer seperti transisi yang cepat dalam operasi perang. Pengerahan sistem ini juga diharapkan bisa meningkatkan ekspor di sektor pertahanan," kata Wang seperti dikutip Korean Herald.

Secara terpisah, Korsel juga memutuskan memproduksi massal rudal taktis berbasis darat jenis baru (Korean Tactical Surface to Surface Missile/KTSSM) yang dirancang untuk menghancurkan basis bawah tanah Korea Utara.

Pemerintahan Presiden Moon Jae-in menyetujui proyek produksi massal lebih dari 200 unit KTSSM pada 2025.

Dilansir kantor berita Yonhap, produksi massal KTSSM itu memakan anggaran hingga 450 miliar won (US$406 juta).

"Proyek ini dilakukan untuk menghancurkan artileri jarak jauh yang disembunyikan di terowongan bawah tanah demi menaklukkan serangan musuh dalam waktu sesingkat mungkin," bunyi pernyataan DAPA.

KTSSM merupakan rudal balistik yang memiliki jangkauan terbang hingga 120 kilometer. Rudal itu mampu menyerang beberapa target secara tepat di saat bersamaan.

Rudal itu diharapkan bisa masuk dalam alutsista operasi tempur Korsel pada 2022.

Kapal Coast Guard China dan Kapal Militer Malaysia Berseteru di Laut China Selatan

 Kapal coast guard China terlibat perseteruan dengan kapal militer Malaysia di sekitar lokasi eksplorasi hidrokarbon di Laut China Selatan.

Perseteruan itu diungkap Asia Maritime Transparency Institute (AMTI) di Center for Strategic and International Studies’, lembaga think tank yang berbasis di Amerika Serikat (AS), beberapa hari lalu.

Perseteruan dipicu oleh aksi kapal coast guard China yang mengganggu rig pengeboran dan kapal pemasok di lepas pantai Malaysia pekan lalu.

"Kapal Coast Guard China (CCG) 5402 mengganggu rig pengeboran dan kapal pemasoknya yang beroperasi hanya 44 mil laut dari Negara Bagian Sarawak Malaysia pada 19 November,” bunyi laporan AMTI, yang dikutip Anadolu Agency, Kamis (26/11/2020).

"Malaysia mengerahkan kapal angkatan laut sebagai tanggapan, yang terus membuntuti 5402," lanjut AMTI.

Menurut laporan tersebut, insiden tersebut terjadi setelah dua minggu meningkatnya ketegangan antara CCG dan RMN (Angkatan Laut Kerajaan Malayasia) di daerah tersebut. Laporan AMTI mengatakan kapal China berangkat dari provinsi Hainan, China, pada 30 Oktober.

"Itu berhenti di pangkalan pulau buatan China di Subi dan Fiery Cross Reefs sebelum mendatangi stasiun di Luconia Shoals di zona ekonomi eksklusif Malaysia pada 2 November," lanjut laporan AMTI.

"Kapal CCG telah mempertahankan kehadiran yang hampir konstan di daerah tersebut dalam beberapa tahun terakhir yang difasilitasi oleh pusat logistik terdekat di pulau-pulau Spratly yang disengketakan."

Laut China Selatan—jalur penting untuk sebagian besar kapal pengiriman komersial dunia—berbatasan dengan Brunei, Kamboja, China, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Beijing mengklaim sekitar 90 persen dari kawasan laut tersebut, yang mencakup area seluas sekitar 3,5 juta kilometer persegi (1,4 juta mil persegi).

Joe Biden Presiden, Turki Berharap Terbebas dari Sanksi AS

 Turki berharap hubungannya dengan Amerika Serikat (AS) di bahwa presiden terpilih Joe Biden tidak setegang seperti dengan Donald Trump. Turki juga tidak mengantisipasi sanksi atas pembelian sistem pertahanan rudal S-400 Rusia.

Hubungan antara Ankara dan Washington jatuh ke titik nadir karena masalah kebijakan terhadap Suriah hingga penolakan AS untuk mengekstradisi seorang ulama yang disalahkan Turki atas upaya kudeta tahun 2016.

Turki mengandalkan hubungan pribadi yang baik antara Presiden Recep Tayyep Erdogan dan Presiden AS Donald Trump untuk menetralisir perpecahan, tetapi Biden diperkirakan akan lebih keras terhadap Turki atas kebijakan luar negeri dan pertahanan serta catatan hak asasi manusia Ankara.

Pembelian S-400 Ankara tahun lalu, yang tidak kompatibel dengan pertahanan NATO, meningkatkan prospek sanksi awal tahun depan jika Kongres AS menyetujui RUU belanja pertahanan yang telah disepakati oleh Dewan Perwakilan Rakyat untuk memasukkan bahasa yang mengharuskan presiden untuk memberikan sanksi Turki.

Namun Wakil Ketua Partai AK, partai yang berkuasa di Turki, Numan Kurtulmus mengecilkan prospek itu.

"Presiden AS kemungkinan besar akan mengawasi keseimbangan di Timur Tengah dengan sangat hati-hati untuk kepentingan AS, dan tidak ingin melanjutkan ketegangan hubungan dengan Turki," kata Kurtulmus.

"Saya yakin mereka akan mengambil langkah positif di masa depan," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Kamis (26/11/2020).

Washington mengatakan S-400 menimbulkan ancaman bagi kemampuan jet tempur siluman F-35 dan telah menghapus Turki dari program jet di mana ia menjadi produsen dan pembeli.

Ankara mengatakan S-400 tidak akan diintegrasikan ke dalam sistem pertahanan NATO dan telah menyerukan kelompok kerja bersama untuk membahas masalah AS. Kurtulmus mengulangi bahwa Turki tidak akan tunduk pada tekanan untuk mengembalikan sistem Rusia, atau membiarkannya tidak digunakan.

"Maaf, tapi kami tidak mendapatkan ini untuk menyembunyikannya. Kami mendapatkannya untuk memenuhi kebutuhan keamanan Turki," tegasnya.

Sementara Erdogan telah meremehkan kemungkinan dampak dari sanksi ini dan berjanji akan memberikan sanksi balasan, ia juga telah menjanjikan reformasi ekonomi dan peradilan, menyusul perombakan kepemimpinan ekonomi Turki di tengah penurunan mata uang lira.

Ditanya apakah reformasi itu ditujukan untuk meredakan ketegangan dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa, yang juga akan mengevaluasi kemungkinan sanksi terhadap Ankara bulan depan, Kurtulmus mengatakan pemerintah hanya akan bertindak untuk kepentingan Turki.

"Kami bertindak dengan memikirkan reformasi apa yang kami butuhkan, langkah demokratisasi apa yang akan menguntungkan rakyat kami dan bergerak di jalur itu, bukan dengan memikirkan tindakan atau retorika apa yang akan menyenangkan mereka," tukasnya.

Kremlin Bantah Putin Tidak Terima Kemenangan Biden

 Kremlin mengatakan sangat salah untuk melihat belum adanya ucapan selamat dari Presiden Rusia, Vladimir Putin sebagai penolakan untuk menerima proyeksi kemenangan Joe Biden. Putin adalah satu dari sedikit negara yang belum memberikan selamat kepada Biden.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan bahwa Putin akan mengucapkan selamat kepada Biden jika hasil pemilihan umum (pemilu) Amerika Serikat (AS) sudah resmi diumumkan.

"Ini adalah interpretasi yang benar-benar salah. Putin akan memberi selamat kepada presiden terpilih AS pada waktunya, setelah hasil pemilu diumumkan," ucap Peskov dalam sebuah pernyataan.

"Segera setelah proses ini selesai, presiden Rusia akan memberi selamat kepada mitranya (di AS) di masa depan pada waktunya," sambungnya merujuk pada Biden, seperti dilansir Tass pada Kamis (26/11/2020).

Peskov dikesempatan yang sama juga mencatat bahwa ucapan selamat yang dikirim ke AS oleh para pemimpin negara lain tidak akan memengaruhi rencana Putin.

Pernyataan serupa sebelumnya disampaikan Putin. Dalam komentarnya di saluran berita Rossiya-1, Putin mengatakan bahwa tidak tepat untuk mendahului kesimpulan dari kontes sementara hasilnya masih belum bisa dipastikan.

"Tidak ada motivasi tersembunyi dan tidak ada yang tidak biasa. Dan tidak ada yang dapat menyebabkan hubungan kami memburuk. Ini murni formalitas. Kebiasaan politik menentukan bahwa (kami mengirim ucapan selamat) ketika salah satu partai mengakui kemenangan pihak lain, atau hasil akhir pemilu diselesaikan dengan cara yang sah dan legal," ungkapnya.

Rusia Sukses Uji Coba Sistem Anti Rudal Balistik Terbaru

 Kementerian Pertahanan Rusia telah berhasil menyelesaikan uji sistem anti rudal balistik (ABM) yang dimodernisasi. Uji coba ini diumumkan setelah Amerika Serikat (AS) sebelumnya juga melakukan uji coba yang sama.

Dalam video yang baru dirilis, terlihat ABM ditembakkan ke langit di atas Kazakhstan, diluncurkan dari tempat uji coba Sary-Shagan.

Menurut Letnan Jenderal Andrey Demin, komandan Pasukan Khusus Udara dan Pertahanan Anti Rudal Balistik Angkatan Darat ke-1, pengujian tersebut secara andal mengkonfirmasi karakteristik rudal, dengan kru tempur berhasil mencapai target simulasi mereka.

Kementerian Pertahanan Rusia menggambarkan rudal itu dirancang untuk melindungi dari serangan udara dan luar angkasa. Rudal tersebut sudah menjadi bagian senjata dari Pasukan Dirgantara Rusia seperti dikutip dari Russia Today, Jumat (27/11/2020).

Awal bulan ini, AS berhasil menguji SM-3 ABM terhadap simulasi rudal balistik antarbenua. ICBM tersebut diluncurkan dari lokasi uji coba rudal AS di Kepulauan Marshall. Pentagon mengatakan dalam siaran persnya bahwa rudal Standard Missile-3 (SM-3) Block IIA yang diluncurkan dari kapal perusak AS di laut mencegat dan menghancurkan target.

Departemen Pertahanan AS mengatakan tes itu menandai uji penerbangan keenam dari sebuah kapal yang dilengkapi pertahanan rudal balistik Aegis menggunakan peluru kendali SM-3 Block IIA. Pentagon menambahkan tes itu awalnya dijadwalkan akan diadakan pada bulan Maret tetapi ditunda karena pembatasan yang disebabkan oleh Pandemi Covid-19.

Menanggapi tes tersebut, Moskow menuduh Washington telah memberikan "informasi palsu" tentang kemampuan pertahanan anti rudalnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengatakan uji coba itu adalah sebuah bentuk konfirmasi terbaru dari karakter berbahaya dan tidak stabil dari strategi anti rudal balistik Washington dan orientasi anti Rusia yang sangat jelas.

Dia mengambil pengecualian pada penggunaan rudal SM-3 Blok IIA yang ditembakkan oleh kapal perusak USS John Finn untuk menjatuhkan ICBM yang diluncurkan dari Atol Kwajalein di Samudra Pasifik.

Senjata itu adalah bagian dari Sistem Pertahanan Rudal Balistik Aegis. Moskow telah lama curiga jika Aegis adalah simpul utama perisai rudal global AS untuk melemahkan kekuatan militer Rusia, untuk melawan ancaman regional seperti Iran dan Korea Utara (Korut).

"Selama bertahun-tahun kolega Amerika kami meyakinkan kami bahwa intersepsi ICBM Rusia oleh sistem Standar Amerika — termasuk modifikasi ini — secara teknis tidak mungkin," kata Zakharova kepada wartawan.

"Dan bahwa mereka membutuhkan sistem pertahanan rudal global secara eksklusif untuk melawan beberapa ancaman regional terbatas, dengan Iran sebagai pokoknya," imbuhnya.

Filipina: Suka atau Tidak, Kami Terlibat Jika Perang AS vs China Pecah

 Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana telah memperingatkan tentang meningkatnya risiko konflik di Laut China Selatan. Dia menyatakan jika perang antara Amerika Serikat (AS) dengan China pecah, Manila akan terlibat terlepas rakyat suka atau tidak.
Lorenzana mengatakan dalam pidatonya pada hari Rabu bahwa Filipina akan terseret ke dalam konflik antara Washington dan Beijing jika ketegangan terus meningkat.

Lorenzana, seorang pensiunan jenderal Angkatan Darat, mengklaim konfrontasi antara China dan AS serta sekutunya adalah tantangan keamanan yang paling mengkhawatirkan di kawasan Indo-Pasifik.

"Sementara AS dan China terus menegaskan bahwa tindakan mereka bersifat defensif, bahaya salah perhitungan selalu ada, seperti hampir tabrakan dua fregat milik AS dan China dua tahun lalu," katanya.

Filipina dan negara-negara Asia Tenggara lainnya telah berselisih dengan Beijing mengenai kedaulatan di Laut China Selatan yang diperebutkan, yang 90 persen diklaim oleh China.

"Keputusan baru-baru ini dari pemerintah China untuk mempersenjatai kapal penjaga pantai (coast guard) mereka yang berpatroli di Laut China Selatan semakin meningkatkan taruhannya, dan jika perang penembakan terjadi, Filipina, yang berada tepat di tengah konflik, akan terlibat apakah (rakyat negara ini) suka atau tidak," paparnya, seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (26/11/2020).

Washington pada Senin lalu menegaskan kembali komitmennya untuk mendukung Manila atas klaim teritorial di Laut China Selatan yang kaya sumber daya.

Dalam kunjungan ke Ibu Kota Filipina, Penasihat Keamanan Nasional Presiden Donald Trump, Robert O'Brien, mengatakan kepada jurnalis yang berkumpul; "Pesan kami adalah kami akan berada di sini, kami mendukung Anda, dan kami tidak akan pergi."

Beijing dengan keras menentang intervensi AS di Filipina dan kawasan sekitar Laut China Selatan secara keseluruhan.

"Kami dengan tegas menentang pernyataan yang penuh dengan mentalitas Perang Dingin dan dengan sembrono menghasut konfrontasi. Itu menunjukkan bahwa kunjungannya ke kawasan ini bukan untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas kawasan, tetapi untuk menciptakan kekacauan di kawasan dalam rangka mencari kepentingan egois AS," kata Kedutaan Besar China di Manila dalam sebuah pernyaataan, mengomentari kunjungan O'Brien.

Hubungan antara dua negara adidaya global telah memburuk tahun ini karena Washington semakin meningkatkan tekanan terhadap Beijing.

Ketegangan semakin meningkat setelah seorang laksamana Angkatan Laut AS melakukan kunjungan mendadak ke Taiwan selama akhir pekan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan Beijing akan memberlakukan tanggapan yang perlu atas upaya lain oleh Washington untuk merusak kepentingan domestik China.

Beginilah Cara AS Jatuhkan Bom Nuklir terhadap 95 Kapal Perang

 Apa yang akan terjadi jika bom nuklir dijatuhkan terhadap armada 95 kapal perang?. Pemerintah Amerika Serikat (AS)—dan ratusan penduduk Kepulauan Marshall—membayar mahal untuk mencari tahu.

Segera setelah Perang Dunia II, militer AS—yang menggunakan dua bom atom terhadap Jepang pada tahun 1945—menemukan bahwa mereka hampir tidak menyentuh permukaan teknologi senjata nuklir. Washington memutuskan bahwa lebih banyak tes diperlukan dan bahwa atol terpencil Bikini, salah satu bagian paling utara Kepulauan Marshall, adalah tempat terbaik.

Tujuan utamanya adalah untuk mengukur efek senjata nuklir pada aset Angkatan Laut, dengan beberapa ahli teori kekuatan udara pascaperang berpendapat bahwa kapal permukaan semakin usang dalam konteks peperangan modern.

Tapi ada tujuan kedua, yakni pemerintah berusaha mempelajari lebih lanjut efek ledakan nuklir pada makhluk hidup. Sebanyak 95 kapal, sarat dengan total setidaknya 50 hewan, dikumpulkan untuk percobaan. Masih ada pertimbangan lain yang mendasari; ledakan ini—uji coba nuklir pertama sejak akhir perang—akan berfungsi sebagai demonstrasi langsung penangkal nuklir AS.

Sebanyak 167 penduduk Bikini pindah ke atol Rongerik di dekatnya, dan dua ledakan awal dijadwalkan pada musim panas 1946 sebagai bagian dari "Operation Crossroads"—satu ledakan di atas permukaan dan ledakan bawah air lainnya, untuk tujuan membandingkan keefektifan dan efek destruktif dari ledakan dua metode serangan bom nuklir.

Ledakan awal disambut oleh Angkatan Laut sebagai alasan perayaan, di mana bom meleset dan hanya menenggelamkan lima kapal. Angkatan Laut sangat gembira. "Pemandangan ketenangan komparatif tampaknya menyenangkan beberapa perwira Angkatan Laut, gembira dengan keyakinan bahwa tes tersebut tidak menunjukkan bahwa Angkatan Laut modern sudah usang di era atom ini," tulis The Washington Post dalam laporannya yang dikutip The National Interest, Jumat (27/11/2020).

Sebanyak sepertiga dari hewan yang jadi "kelinci percobaan" ledakan bom nuklir dilaporkan mati akibat ledakan tersebut. Kedua, ledakan bawah air tidak berjalan lebih baik, yang menenggelamkan beberapa kapal. sebaliknya, itu menghasilkan pancaran radioaktif yang mencemari armada kapal yang tersisa.

Setelah beberapa upaya yang gagal untuk mendekontaminasi kapal, tahap akhir tes dibatalkan menunggu penyelidikan atas apa yang salah. Militer AS terindikasi sedikit melebih-lebihkan kerusakan fisik akibat ledakan itu, tetapi secara drastis meremehkan tingkat keparahan kontaminasi radioaktif.

Yang terjadi selanjutnya adalah serangkaian uji coba nuklir tambahan selama tahun 1950-an, di mana penduduk Kepulauan Marshall terpaksa pindah beberapa kali. Tahun 1954 merupakan ujian terbesar, dengan transisi dari teknologi fisi ke fusi. Ledakan itu lebih dari dua kali lebih kuat dari yang diproyeksikan, menghasilkan dampak radioaktif yang jauh lebih besar dan mendorong evakuasi lebih lanjut di antara penduduk pulau yang terkontaminasi—gangguan tiroid dan leukemia menjadi konsekuensi umum yang umum dari kontaminasi radioaktif.

Sebagaimana dirinci oleh Profesor Kedokteran Radiasi dan Biokimia, Timothy Jorgensen, pengalaman mengerikan dari penduduk Kepulauan Marshall menghasilkan banyak data penting ke dalam efek jangka panjang paparan radioaktif. Beberapa penduduk pulau diberi kompensasi dan dirawat, tetapi banyak lainnya tidak mendapat dukungan setelah dana untuk Pengadilan Klaim Nuklir (Nuclear Claims Tribunal) mengering pada 2009.