• Blog
  • News Forex, Index & Komoditi ( Kamis,  19  November  2020 )

News Forex, Index & Komoditi ( Kamis,  19  November  2020 )

Wall Street Ambles, Bursa Asia Ikutan Runtuh

Bursa saham Asia dibuka melemah pada perdagangan Kamis (19/11/2020), mengikuti pelemahan bursa saham acuan global, Wall Street Amerika Serikat (AS) pada penutupan Rabu (18/11/2020) waktu AS akibat kembali naiknya kasus virus corona (Covid-19) di AS.

Tercatat indeks Nikkei Jepang dibuka melemah 0,4%, Hang Seng di Hong Kong terkoreksi 0,32%, Shanghai Composite China terpangkas 0,25%, Straits Times Index (STI) Singapura turun 0,17% dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,34%.

Beralih ke barat, bursa saham AS, Wall Street ditutup ambles pada perdagangan Rabu (18/11/2020) waktu setempat (AS), setelah AS kembali catatkan kenaikan kasus Covid-19 sepekan terakhir hingga pemerintah kota New York kembali menutup sekolah-sekolah.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ambles 344,93 poin atau 1.16% menjadi 29.438,42. S&P 500 juga berakhir dengan suram, yakni anjlok 41,74 poin atau 1.16% menjadi 3.567,79 dan NASDAQ Composite ikut menurun sebesar 97,74 poin atau 0,82% menjadi 11.801,60.

Wall Street mulai balik arah setelah Walikota New York, Bill de Blasio mengumumkan penutupan sekolah setelah kota yang dijuluki sebagai kota terbesar di dunia itu mencatatkan kenaikan kasus positif Covid-19 sebesar 3% dalam rata-rata tujuh hari.

Laporan CNBC Analysis menyebutkan bahwa AS mencatatkan rerata harian infeksi baru Covid-19 yang melampaui angka 157.000 pada Senin. Ini merupakan kenaikan sebesar 30% dari pekan lalu, dan mencetak rekor tertinggi baru.

Hal ini bakal memicu tekanan ekonomi jangka pendek, yang tak bisa diatasi dengan vaksin karena

Sebelumnya, Pfizer merilis data final uji vaksin Covid-19 tahap ketiga, yang menunjukkan hasil lebih baik dari pembacaan awal, yakni tingkat efikasi 95%. Artinya, 95% sukarelawan terbukti menumbuhkan antibodi. Perseroan berencana mengajukan izin edar beberapa hari ke depan.

Pasar mengantisipasi bahwa distribusi vaksin yang luas akan memungkinkan ekonomi menjadi normal pada tahun 2021, mendorong kembali sektor-sektor yang terkena dampak paling parah seperti maskapai penerbangan dan saham hiburan.

Sentimen OPEC+ dan Vaksin Pfizer Kompak Angkat Harga Minyak

Harga minyak dunia menguat di kisaran 1 persen pada akhir perdagangan Rabu (18/11), waktu Amerika Serikat (AS), dikerek rencana Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) menunda peningkatan produksi minyak.

Selain itu, pelaku pasar juga menyambut baik kabar vaksin covid-19 dari Pfizer yang memiliki efektivitas lebih tinggi dari laporan sebelumnya.

Mengutip Antara, Kamis (19/11), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari terangkat 59 sen atau 1,4 persen menjadi US$44,34 per barel.

Sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember naik 39 sen atau 0,9 persen, menjadi menetap di US$41,82 per barel.

Harga minyak 'euforia' setelah Pfizer Inc mengatakan hasil akhir dari uji coba tahap akhir vaksin menunjukkan efektivitas menembus 95 persen. Sedangkan pekan lalu disampaikan kemanjuran vaksin sebesar 90 persen.

"Harga minyak hari ini sedikit meningkat di tengah harapan bahwa OPEC+ akan memutuskan untuk menunda kenaikan produksi yang direncanakan pada Januari dan saat euforia vaksin terbaru," kata Kepala Pasar Minyak Rystad Energy Bjornar Tonhaugen.

Kasus Positif Covid-19 Kian Menjulang, Bursa Asia Lesu

Bursa Asia membuka perdagangan hari ini terkoreksi seiring dengan pembatasan pergerakan yang dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona membayangi kemajuan pengembangan vaksin untuk pandemi tersebut.

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (19/11/2020), indeks Topix Jepang dibuka sebesar 0,4 persen sedangkan, indeks Kospi Korea Selatan terpantau turun 0,5 persen, dan indeks ASX 200 Australia juga terkoreksi 0,4 persen.

Indeks S&P 500 ditutup pada posisi terendah sehari setelah New York menutup sekolah karena kasus infeksi meningkat.

Saham Pfizer naik setelah melansir kandidat vaksin buatannya efektif 95 persen menangkan virus. Pfizer juga mengajukan izin untuk melakukan injeksi perdana dalam beberapa hari ke depan.

Investor mulai membatasi euforia yang mendorong saham ke rekor tertinggi awal pekan ini yang ditopang oleh kabar perkembangan vaksin yang menggembirakan. Pengelola keuangan tetap fokus memantau data virus corona terbaru yang menunjukkan tingkat infeksi yang sangat tinggi di Eropa dan AS.

Direktur Portofolio EP Wealth Advisors Adam Philips mengatakan investor telah menunggu dalam waktu yang tepat setelah beberapa minggu terakhir pasar saham mendapat sentimen positif yang menunjukkan optimisme berlebihan.

"Kemajuan menuju vaksin menjanjikan dan menunjukkan adanya cahaya di ujung terowongan, tetapi tidak ada yang tahu pasti berapa panjang terowongan itu," katanya dikutip dari Bloomberg.

Poundsterling Makin Beranjak Naik Ditopang Harapan Kesepakatan Brexit

Poundsterling kian bergerak naik terhadap dolar Amerika Serikat pada Rabu (18/11) petang di tengah harapan Inggris akan mencapai kesepakatan perdagangan pasca-Brexit dengan Uni Eropa untuk keluar dari serikat kepabeanan Uni Eropa dan pasar tunggal wilayah itu pada bulan Januari.

GBP/USD makin naik 0,37% di 1,3290 menurut data Investing.com pukul 16.25 WIB. EUR/USD naik 0,19% di 1,1884 dan USD/JPY turun 0,33% ke 103,83.

Indeks dolar AS semakin melemah 0,21% di 92,203 dan rupiah terus turun 0,29% ke 14.070,0 per dolar AS.

Menurut laporan yang dilansir Reuters Rabu (18/11) petang, harapan tersebut ditopang oleh komentar positif dari pejabat pemerintah Inggris. Tetapi ada pengumuman bahwa Dominic Cummings, salah satu arsitek politik dari proyek Brexit, akan meninggalkan pemerintahan.

Inflasi Inggris meningkat sedikit lebih dari estimasi pada bulan Oktober. Data tersebut didorong oleh kenaikan harga pakaian, alas kaki dan makanan.

Pada Selasa Inggris melaporkan 598 orang meninggal dalam 28 hari setelah tes positif covid-19, angka tertinggi sejak Mei, di tengah berlangsungnya tindakan pembatasan di negeri itu.

Deputi Gubernur Bank of England (BOE) Dave Ramsden mengatakan Selasa bahwa berita positif tentang vaksin virus dapat membantu mengurangi risiko yang dihadapi ekonomi Inggris tetapi bank sentral kemungkinan tidak mengubah perkiraan ekonomi ke depan.

Korsel Catat Kasus Covid di Atas 300 Dua Hari Berturut-turut

Jumlah kasus harian virus corona di Korea Selatan terus bertambah di atas 300 selama dua hari berturut-turut pada Kamis (18/11) dengan 343 kasus baru.

Sebelumnya pada Rabu (17/11) Korsel mencatat 313 kasus baru.


Menurut Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA), 343 kasus tersebut termasuk 293 infeksi lokal, sehingga meningkatkan total kasus di negara itu menjadi 29.654.
Dilansir kantor berita Yonhap, beban kasus harian di Korsel telah bertahan di angka tiga digit sejak 8 November lalu, dengan melebihi 200 infeksi selama enam hari terakhir.
 
Klaster infeksi dari aktivitas pertemuan pribadi, fasilitas umum, dan rumah sakit terus terjadi di beberapa bagian negara, sehingga menempatkan upaya pencegahan dari otoritas kesehatan dalam bahaya.
 
Untuk mencegah gelombang infeksi lainnya, Korsel memberlakukan langkah-langkah pencegahan yang diperketat mulai Kamis di wilayah Seoul dan kota Gwangju, dengan menaikkan tingkat jarak sosial satu tingkat ke Level 1,5 di bawah skema lima tingkat.

Di kota pelabuhan Incheon sebelah barat Seoul, aturan jarak sosial Level 1,5 akan diterapkan mulai Senin. Sementara kota terpencil lainnya dengan jumlah infeksi yang kecil akan tetap berada di bawah Level 1.
 
Di bawah Level 1,5, warga masih diperbolehkan menjalankan sebagian besar rutinitas harian, tapi pelaku bisnis dan orang-orang diharuskan mengikuti peraturan kesehatan masyarakat yang ketat.
 
Di bawah Level 1,5 pula, fasilitas publik dengan risiko infeksi penularan lebih tinggi seperti bar, klub, dan konser dalam ruangan, diwajibkan menerapkan tindakan karantina yang lebih ketat, seperti membatasi jumlah orang yang masuk dan menjaga jarak antar kursi.
 
Hingga kini, Korsel melaporkan dua kematian tambahan akibat Covid-19 sehingga totalnya meningkat menjadi 498 kematian.
Namun, diprediksi akan ada lebih banyak kematian yang dilaporkan mengingat jumlah pasien Covid-19 yang sakit parah atau kritis mencapai 79 orang, naik 12 orang dari Rabu.
 
Sementara itu, jumlah orang yang dibebaskan dari karantina setelah dinyatakan pulih total mencapai 125 orang, sehingga meningkatkan jumlah orang yang pulih sebanyak 26.098.

Jepang Laporkan 2.000 Kasus Harian Covid untuk Pertama Kali

Jepang melaporkan lebih dari 2.000 kasus virus corona pada Rabu (18/11) untuk pertama kalinya sejak wabah melanda. Para ahli mengatakan temuan itu bisa menjadi gelombang ketiga pandemi di negara itu.


Sebelum Rabu, rekor kasus harian virus corona di Jepang dilaporkan mencapai 1.737 selama tiga hari berturut-turut hingga Sabtu. Kemudian angkanya melonjak pada Rabu dengan 2.195 kasus.
 
Tokyo mencatat 493 kasus Covid-19, di mana pemerintah setempat berencana untuk meningkatkan kewaspadaan ke tingkat tertinggi di tengah kebangkitan virus.

Dilansir Japan Today, jumlah itu melebihi rekor tertinggi sebelumnya yang tercatat pada 1 Agustus dengan 472 kasus di Tokyo.
 
Berdasarkan kelompok usia, kasus terbanyak adalah orang berusia 20-an sebanyak 123 kasus, diikuti 92 kasus di usia 30-an, dan 89 kasus di usia 40-an. Jumlah itu merupakan hasil dari 1.292 tes yang dilakukan pada 15 November.
 
Berdasarkan analisis situasi oleh panel ahli, Jepang diperkirakan akan mengumumkan peningkatan peringatan darurat pada Kamis. Sebelumnya pemerintah Tokyo telah menurunkan peringatan dari level tertinggi ke level saat ini pada 10 September lalu.
Sejauh ini, Tokyo telah menyaksikan lebih dari 35 ribu kasus infeksi virus corona. Dalam sepekan hingga Selasa, jumlah rata-rata harian infeksi baru mencapai 309,9, ini mendekati level yang terlihat pada awal Agustus ketika Tokyo dilanda puncak kasus harian sebanyak 472. Menurut pemerintah daerah, di antara mereka telah dirawat di rumah sakit, sementara 39 mengalami gejala serius.

Sementara itu, Hokkaido yang melaporkan 233 kasus telah meminta warga Sapporo untuk tinggal di rumah setelah Covid-19 menginfeksi wilayah itu selama berhari-hari.
 
Prefektur lain yang melaporkan angka infeksi yang tinggi antara lain Osaka dengan 273, Kanagawa dengan 226, Aichi dengan 141, Saitama dengan 126, Hyogo dengan 103, Shizuoka dengan 87, Chiba dengan 66, Okinawa dengan 41, dan Ibaraki dengan 39.
 
Hingga saat ini, total infeksi virus corona di Jepang mencapai 120.815 kasus, 1.913 dinyatakan meninggal, dan 105.697 telah sembuh.

Iran Janji Gabung Pakta Nuklir jika AS Cabut Sanksi

Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, mengatakan negaranya akan kembali mematuhi perjanjian nuklir 2015 (JCPOA) jika Amerika Serikat mau mencabut sanksi terhadap Teheran.

"Mengembalikan komitmen Iran (soal perjanjian nuklir) bisa dilakukan secara otomatis dengan tanpa syarat atau bahkan negosiasi," kata Zarif melalui pernyataan yang terbit di surat kabar harian Iran pada Rabu (18/11).

"Jika AS cabut serangkaian resolusi dan sanksi, serta tidak ada hambatan bagi kegiatan ekonomi Iran, Iran akan melakukannya (kembali ke perjanjian nuklir)," paparnya menambahkan.

Menurut Zarif, Amerika berkewajiban menaati Resolusi 2231 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Dewan Keamanan PBB terkait perjanjian nuklir 2015.

Resolusi itu intinya memuat perjanjian nuklir 2015 yang intinya AS dan sekutunya akan mencabut serangkaian sanksi ekonomi terhadap Iran jika Teheran mau menghentikan program senjata nuklirnya.

Namun, kesepakatan nuklir itu kandas setelah Presiden Donald Trump menarik AS keluar perjanjian nuklir tersebut pada Mei 2019. Trump juga menjatuhkan kembali sanksi ke Iran.

Trump menarik AS keluar karena menganggap Iran tak mematuhi perjanjian dan meneruskan pembangunan senjata nuklir. Padahal, Badan Atom Internasional (IAEA) menilai Iran menaati komitmennya dalam perjanjian nuklir.

Sejak itu, Iran secara bertahap menangguhkan sebagian besar kewajibannya yang tertuang dalam perjanjian nuklir.

Keinginan Iran kembali pada perjanjian nuklir ini muncul setelah Presiden Donald Trump kalah dalam pemilihan umum 3 November lalu.

Setelah kemenangan rival Trump, Joe Biden, semakin nyata, Iran kembali membuka peluang bahwa pemerintahan Presiden Hassan Rouhani itu mau berdialog ulang dengan AS untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir.

Zarif menggambarkan Biden sebagai "veteran urusan luar negeri" yang telah dikenalnya selama 30 tahun.

Ia berpendapat Biden seharusnya bisa mencabut semua sanksi terhadap Iran dengan tiga perintah eksekutif begitu dirinya resmi menjabat di Gedung Putih.

"Jika Biden melakukannya, kembalinya Iran pada komitmen nuklir akan berjalan cepat. Tahap selanjutnya yang perlu dinegosiasikan adalah kembalinya AS (ke dalam perjanjian, tapi itu bukan prioritas," papar Zarif seperti dikutip AFP.

"Prioritas pertama adalah AS mengakhiri pelanggaran hukum dan pemberontakannya."

WHO Sebut Pandemi Covid-19 Harus Dilawan Tanpa Vaksin

World Health Organization (WHO) mengatakan vaksin seharusnya tidak dipandang sebagai solusi pamungkas menangani pandemi Covid-19. Direktur kedaruratan WHO Michael Ryan mengatakan vaksin tidak akan tiba pada waktunya buat menanggulangi gelombang kedua pandemi.

Kendati belakangan vaksin buatan perusahaan farmasi sudah menjanjikan, menurut Ryan banyak negara bakal mengalami gelombang kedua dan akan menjalaninya tanpa vaksin.

"Kita perlu mengerti dan menginternalisasinya, serta menyadari: Kita harus mendaki gunung kali ini, tanpa vaksin," katanya seperti disiarkan AFP, Rabu (19/11).

Pfizer mengatakan telah menyelesaikan pengembangan vaksin yang menghasilkan tingkat efektivitas 95 persen melawan Covid-19. Selain itu Moderna pada awal pekan juga menyebut kandidat vaksin mereka efektif 94,5 persen, sementara vaksin buatan Rusia diklaim efektif 90 persen.

Ryan mengatakan agar tidak mengendurkan kewaspadaan pada virus corona karena keyakinan yang keliru bahwa vaksin akan menyelesaikan masalah.

"Beberapa orang berpikir vaksin akan, dalam arti tertentu, menjadi solusi, sebuah unicorn yang kita semua kejar. Tidak seperti itu," katanya.

"Jika kita memiliki vaksin dan melupakan hal lainnya, Covid tidak akan menjadi nol," ucapnya lagi.

Sejak Covid-19 menyebar ke seluruh dunia dari China pada akhir Desember 2019, jumlah kasus infeksi melibatkan 55,6 juta orang. Jumlah korban karena virus corona ini menyentuh 1,3 juta orang.

Pesawat Pengebom AS Terobos Zona Pertahanan Udara China

Dua pesawat pengebom jarak jauh Amerika Serikat dilaporkan masuk ke wilayah zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) China pada Selasa (17/11).

Menurut rada pelacak penerbangan Aircraft Spots, dua pesawat pengebom Lancer B-1B AS meninggalkan Pangkalan Udara Andersen di Guam pada Selasa pagi dan memasuki wilayah ADIZ China di Laut China Timur.

Aircraft Spots mengatakan dua pesawat militer itu terbang sangat dekat dengan sudut timur laut wilayah pertahanan udara China di Taiwan. Kedua pesawat itu bisa memasuki zona ADIZ China jika melanjutkan perjalanan di lintasan yang sama.

 

Pesawat Pengebom B1-B memiliki kapasitas muatan amunisi terbesar dari pesawat sejenisnya. Kedua pesawat B1-B itu dikerahkan setelah AS mengirimkan jet tempur dan pesawat mata-mata ke dekat garis pantai China.

Dikutip South China Morning Post, berdasarkan aturan internasional, setiap pesawat yang terbang di atas zona pertahanan udara harus memberi tahu otoritas terkait sebelum mencapai wilayah tersebut.

Namun, AS tak melakukannya karena tidak menganggap kawasan itu sebagai teritorial China.

Pengerahan pesawat pengebom AS ini terjadi saat Angkatan Laut China melakukan serangkaian latihan besar-besaran di Laut China Selatan, Laut China Timur, dan Laut Bohai.

Analis militer China mengatakan latihan militer ini adalah sinyal dari Negeri Tirai Bambu bahwa militernya dapat melakukan operasi bersama terkoordinasi di kawasan yang berbeda pada waktu yang sama.

Latihan militer besar-besaran ini telah diumumkan secara tidak langsung oleh Administrasi Keamanan Maritim China. Lembaga itu mengeluarkan pemberitahuan yang memperingatkan seluruh kapal untuk menjauh dari daerah ujung selatan Laut Kuning ke perairan dekat Pulau Hainan.

Lembaga itu juga mengeluarkan zona larangan bepergian mencakup area dengan radius 5 kilometer di lepas pantai Beijai, barat daya Guangzi. Lalu lintas laut di Laut China Selatan seperti di Teluk Honghai, barat daya Shanwei, Guangdong Selatan, juga dibatasi dari Selasa pagi hingga sore hari.

Teluk Hongai berjarak 100 kilometer dari Pulau Pratas yang dikontrol Taiwan. Pulau itu juga diklaim oleh China.

Pengamat militer berbasis di Hong Kong, Song Zhonping mengatakan latihan angkatan laut China ini mungkin melibatkan peluncuran rudal.

"Peringatan radius 5 kilometer mengindikasikan bahwa sejumlah tembakan akan dilakukan untuk menguji kemampuan presisi mereka," kata Song yang merupakan mantan instruktur di Korps Artileri Kedua Tentara Pembebasan Rakyat China.

Pengajar Senior soal Keamanan Maritim di S Rajaratnam School of International Studies Singapura, John Bradford, mengatakan empat latihan militer yang dilakukan secara bersamaan ini jelas menunjukkan kesiapan militer China.

"Latihan seperti itu akan lebih rutin dilakukan karena PLA akan terus memperluas kekuatan dan jangkauan kompetensi operasionalnya. Faktanya, kita harus merelakan hal semacam ini terjadi lebih sering karena angkatan laut China tumbuh dari segi ukuran dan misinya," ujar Bradford.

Irak-Saudi Buka Perbatasan yang Ditutup 3 Dasawarsa

Arab Saudi dan Irak membuka kembali perbatasan Arar yang menghubungkan kedua negara pada Rabu (18/11).

Pembukaan perbatasan kedua negara ini merupakan yang pertama sejak 30 tahun lalu sejak kedua negara memutus hubungan diplomatik pada 1990 saat Irak menginvasi Kuwait.

Sejumlah pejabat tinggi termasuk Menteri Dalam Negeri Irak dan kepala komisi perbatasan kedua negara turut hadir untuk menyaksikan pembukaan perbatasan Arar secara langsung.

Duta Besar Saudi untuk Irak juga hadir dalam peresmian pembukaan perbatasan tersebut.

Tak hanya para pejabat, deretan truk pengangkut barang juga telah mengantre di perbatasan untuk melintasi perbatasan itu.

Dikutip AFP, pejabat Irak mengatakan perbatasan Arar akan terbuka bagi mobilisasi barang dan orang.

Sejumlah pihak menuturkan perbatasan Arar dibuka demi memperkuat kerja sama perdagangan meski relasi kedua negara masih dinamis

Kilas Balik Intervensi AS di Afghanistan hingga Tarik Pasukan

Amerika Serikat akan kembali mengurangi jumlah pasukannya di Afghanistan. Penarikan ini diumumkan Pentagon pada Selasa (17/11) setelah Presiden Donald Trump berjanji mengakhiri konflik di luar negeri.

Dilansir kantor berita AFP, keterlibatan AS di Afghanistan untuk menggempur rezim Taliban sudah terjadi sejak 2001. Berikut ini rangkuman kilas balik peperangan di Afghanistan antara Amerika Serikat dan Taliban.

2001

Presiden AS, George W. Bush meluncurkan "perang melawan teror" sebagai tanggapan atas serangan 11 September yang menewaskan sekitar 3.000 orang di New York, Washington, dan Pennsylvania.

AS melancarkan serangan udara ke Afghanistan pada 7 Oktober 2001.

Pemerintah Taliban saat itu melindungi Osama bin Laden dan kelompok teroris Al-Qaeda yang mendalangi serangan di AS. Berkuasa sejak 1996, Taliban segera dikalahkan dan melarikan diri dari ibu kota pada 6 Desember.

Hamid Karzai ditunjuk untuk memimpin pemerintahan sementara Afghanistan, dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mulai mengerahkan Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF).

2004

Pemilu pertama Afghanistan berdasarkan hak pilih universal diadakan pada 9 Oktober 2004. Saat itu Hamid Karzai terpilih menjadi presiden dengan memenangkan 55 persen suara dari 70 persen pemilih.

Kelompok Taliban kembali mengumpulkan kekuatan di kawasan selatan dan timur. Mereka juga melintasi perbatasan di Pakistan dan melakukan pemberontakan.

2008-2011

Ketika serangan Taliban semakin sering dilakukan, Komando AS di Afghanistan pada 2008 meminta lebih banyak pasukan. Bala bantuan pertama pun dikirim.

Karzai terpilih kembali dalam jajak pendapat pada 20 Agustus 2009 yang diwarnai oleh penipuan besar-besaran, jumlah pemilih yang rendah, dan serangan Taliban.

Pada 2009, di awal masa kepresidenan Barack Obama, jumlah pasukan AS berlipat ganda menjadi 68 ribu. Lalu pada 2010, jumlahnya mencapai sekitar 100 ribu pasukan.

Osama Bin Laden tewas pada 2 Mei 2011 dalam operasi pasukan khusus AS di Pakistan.

2014

Pada Juni 2014, Ashraf Ghani terpilih sebagai presiden Afghanistan dengan perolehan 56 persen suara. Namun, pemungutan suara diwarnai dengan kekerasan dan perselisihan sengit karena dugaan kecurangan.

Pada Desember, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mengakhiri misi tempur 13 tahun di Afghanistan.

Tahun berikutnya, kelompok Taliban justru semakin kuat. Anggota mereka berlipat ganda.

Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Khurasan di Afghanistan juga mulai bergeliat, dengan menggelar sejumlah serangan teror berupa bom dan penembakan, terutama di Kabul, ibu kota Afghanistan.

2018-2019

Pada pertengahan 2018, perwakilan Washington dan Taliban diam-diam membuka perundingan di Doha, Qatara. Taliban menuntut AS mengurangi jumlah pasukan di Afghanistan.

Sebagai imbalannya, AS menuntut Taliban tidak melindungi kelompok teroris termasuk Al-Qaeda, di Afghanistan.

Kedua belah pihak juga fokus pada upaya gencatan senjata dan negosiasi antara Taliban dengan pemerintah Afghanistan.

Akan tetapi, pada 7 September 2019, Presiden AS, Donald Trump, membatalkan pembicaraan setelah seorang tentara AS termasuk tewas dalam serangan di Kabul.

2020

Ashraf Ghani kembali memenangkan pilpres untuk masa jabatan kedua pada 18 Februari. Namun, pengumuman kemenangannya ditolak oleh pesaingnya, Abdullah Abdullah.

Pada 29 Februari, AS dan Taliban menandatangani kesepakatan damai di Doha. Salah satu poinnya adalah seluruh pasukan asing diharapkan pergi dari Afghanistan paling lambat pada Mei 2021, asalkan Taliban memulai pembicaraan dengan pemerintah Afghanistan.

Kemudian Ghani dan tokoh oposisi, Abdullah Abdullah, menandatangani kesepakatan pembagian kekuasaan pada Mei, guna mengakhiri perseteruan sengit antara keduanya selama berbulan-bulan. Abdullah mengambil peran untuk memimpin negosiasi perdamaian.

Pada 28 Juli, Taliban mengumumkan gencatan senjata tiga hari selama hari raya Iduladha, yang menandai gencatan senjata kedua dalam waktu dua bulan.

Lantas Pada 12 September 2020, sehari setelah peringatan 19 tahun serangan 11 September terhadap AS, Taliban dan pemerintah Afghanistan memulai perundingan damai di Doha, Qatar.

Kedua kubu berusaha mengakhiri perpecahan selama hampir dua dasawarsa, tapi posisi mereka masih bertentangan.

Pada 17 November, Pentagon mengumumkan penarikan 2.000 pasukan pada 15 Januari 2021 dari 4.500 tentara yang masih ditempatkan di Afganistan, setelah Presiden Trump berjanji mengakhiri konflik di luar negeri.

Azerbaijan Minta Ganti Rugi ke Armenia atas Kerusakan

Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev meminta Armenia membayar ganti rugi atas kerusakan infrastruktur dan bangunan di wilayah Baku akibat konflik Nagorno-Karabakh. Dia akan menuntut ganti rugi selama 30 tahun.

Aliyev menuduh Yerevan menghancurkan wilayah itu sebelum menarik pasukannya setelah gencatan senjata yang ditengahi oleh Moskow disepakati pekan lalu.

"Kami berada di tengah kota Jabrayil. Tidak ada satu bangunan pun yang utuh, tidak ada satu pun," kata Aliyev, Senin (16/11). "Hanya militer yang dibangun, infrastruktur, rumah, gedung, sekolah, semuanya hancur," kata dia seperti dikutip dari Russian Today.

Aliyev bersumpah bahwa Yerevan akan dimintai pertanggungjawaban atas kerusakan di pengadilan internasional. Dia mencatat orang-orang Armenia turut menebang hutan dalam perjalanan keluar.

"Saya ingin ulangi lagi bahwa struktur dan ahli internasional akan dilibatkan, semua kerusakan akan dihitung, dan kami akan menuntut ganti rugi selama 30 tahun," katanya.

Wakil Menteri Ekologi dan Sumber Daya Alam Azerbaijan Vugar Kerimov, menuduh Armenia melakukan "genosida terhadap alam" di Nagorno-Karabakh.

Beberapa hari setelah perjanjian menarik pasukan disepakati, video muncul di media sosial mengenai penduduk Nagorno-Karabakh yang membakar properti mereka agar tidak jatuh ke tangan Azeri.

Armenia dan Azerbaijan sepakat melakukan gencatan senjata untuk menghentikan peperangan di kawasan Nagorno-Karabakh pada 9 November 2020.

Seperti dilansir Associated Press, kesepakatan itu diteken langsung oleh Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev dan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Menurut kesepakatan tersebut, wilayah yang Baku akan tetap berada di bawah kendali Azerbaijan, dengan tiga wilayah lainnya akan diberikan kepada Azeri di kemudian hari.

Pada 20 November, Azerbaijan akan menguasai distrik Agdam. Kemudian distrik Kalbajar dan Lachin akan menjadi milik Azerbaijan masing-masing pada 25 November dan 1 Desember. Pasukan penjaga perdamaian Rusia juga akan dikerahkan.

Konflik Nagorno-Karabakh kembali pecah pada 27 September. Sengketa antara Azerbaijan dan Armenia sudah berlangsung puluhan tahun, kedua negara mengaku memiliki klaim yang sah atas wilayah tersebut.

Wilayah ini diakui secara internasional sebagai bagian dari Azerbaijan, tetapi sebagian besar dihuni oleh etnis Armenia. Baku selalu menganggap daerah kantong itu ditempati secara ilegal oleh Yerevan.