• Blog
  • Wall Street menguat, didukung berbagai tanda rebound ekonomi

Wall Street menguat, didukung berbagai tanda rebound ekonomi

News Forex, Index & Komoditi

( Jum’at,  25  September 2020 )

Wall Street menguat, didukung berbagai tanda rebound ekonomi

Wall Street menguat pada akhir perdagangan Kamis (24/9) didukung lonjakan penjualan rumah baru yang menghidupkan kembali kepercayaan akan pemulihan ekonomi, meski klaim pengangguran AS naik secara tak terduga.

Indeks Dow Jones Industrial Average nak 52,31 poin atau 0,20% ke 26.815,44, S&P 500 naik 8,67 poin atau 0,30% ke 3.246,59 dan Nasdaq Composite naik 39,28 poin atau 0,37% ke 10.672,27.

Saham juga bereaksi positif terhadap berita tentang upaya untuk memberlakukan stimulus lebih lanjut di Washington, membantu mengangkat S&P ke sesi tertinggi, meskipun indeks kemudian berbalik negatif sebelum mengoreksi beberapa kenaikan.

Dennis Dick, trader di Bright Trading LLC mengungkapkan, sesi perdagangan yang bergerak liar mengindikasikan kewaspadaan, yang memperingatkan sentimen pasar yang mendorong momentum telah berubah tajam.

"Rasa takut ketinggalan berubah menjadi ketakutan kehilangan uang yang sebenarnya," kata Dick seperti dikutip Reuters.

"Ini adalah guncangan semua trader, guncangan investor ritel. Mereka dihukum, dan memang demikian, karena Anda tidak bisa begitu saja membeli saham dengan berpikir bahwa saham hanya akan naik."

Partai Demokrat di DPR AS sedang mengerjakan paket stimulus virus corona senilai $ 2,2 triliun yang dapat dipilih minggu depan, kata seorang anggota parlemen utama, ketika Ketua DPR Nancy Pelosi menegaskan bahwa dia siap untuk bernegosiasi dengan Gedung Putih.

Wall Street dibuka lebih rendah setelah data klaim pengangguran. S&P 500 sempat turun 10% di bawah rekor tertinggi intraday yang dicapai pada 2 September untuk kedua kalinya dalam beberapa hari terakhir.

Konstituen Dow, yang dianggap sebagai barometer kepercayaan ekonomi, tertinggal dari S&P 500 karena data menunjukkan 870.000 orang Amerika mengajukan tunjangan pengangguran di pekan yang berakhir 19 September, naik dari pekan sebelumnya yang sebanyak 866.000.

Pembangunan rumah naik 0,73% setelah Departemen Perdagangan melaporkan bahwa penjualan rumah keluarga tunggal baru naik ke level tertinggi dalam hampir 14 tahun di bulan Agustus. Laporan itu mengikuti data minggu ini yang menunjukkan penjualan rumah yang sebelumnya dimiliki juga mendekati level tertinggi 14 tahun.

Phil Orlando, kepala strategi ekuitas di Federated Hermes, mengatakan terlepas dari pertengkaran data yang buruk, ekonomi AS berada di jalur menuju pemulihan berbentuk V yang kuat seperti yang terlihat pada penjualan mobil, pasar perumahan dan belanja konsumen secara keseluruhan.

"Semua inventaris dibangun kembali, semua hal yang ingin Anda lihat sedang terjadi," kata Orlando.

"Sekarang, apakah ada celah di armor? Ya, baru saja melihatnya di nomor klaim pagi ini."

Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 10,43 miliar saham, naik dari 10,04 miliar saham pada hari Rabu.

 

 

 

 

 

Bursa Asia dibuka menguat pada awal perdagangan Jumat (25/9), mengekor Wall Street

Bursa Asia dibuka bervariasi, dengan mayoritas indeks menguat pada awal perdagangan Jumat (25/9). Pukul 08.23 WIB, indeks Nikkei 224 naik 137,16 poin atau 0,59% ke 23.334,98, Taiex naik 119,15 poin atau 0,90% ke 12.374,01, ASX 200 naik 93,36 poin atau 1,59% ke 5.969,30, Straits Times naik 10,36 poin atau 0,38% ke 2.460m31 dan FTSE Malaysia naik 10,85 poin atau 0,72% ke 1.511,65.

Kenaikan bursa Asia mengekor Wall Street yang menguat karena didukung lonjakan penjualan rumah baru yang membangkitkan kepercayaan akan pemulihan ekonomi AS.

"Apa yang kami lihat untuk pasar ekuitas adalah ada cukup banyak ketahanan," kata Tom Piotrowski, seorang analis pasar di pialang Australia CommSec seperti dikutip Reuters.

"Komentator suka menumpuk semua negatif yang dihadapi pasar, pemilu AS ada di antara mereka, tapi saya pikir ada perasaan bahwa ada ketahanan yang mendasari pasar."

Kini, pasar juga tengah mencermati langkah Partai Demokrat di DPR AS yang tengah menyusun paket stimulus virus korona senilai US$ 2,2 triliun yang dapat dipilih secepatnya minggu depan, dengan Ketua DPR Nancy Pelosi menegaskan bahwa dia siap untuk bernegosiasi dengan Gedung Putih.

Saham Tokyo dibuka lebih tinggi, kenaikan Wall Street angkat sentiment

Saham-saham Tokyo dibuka lebih tinggi pada perdagangan Jumat pagi, karena sentimen investor didukung oleh penguatan Wall Street semalam dengan pembelian sebagian didorong oleh data perumahan untuk Agustus yang mengalahkan rata-rata ekspektasi pasar.

Pada pukul 09.15 waktu setempat, indeks acuan Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo (TSE) terangkat 105,70 poin atau 0,46 persen, dari penutupan Kamis (24/9/2020), menjadi diperdagangkan di 23.193,52 poin. Sehari sebelumnya, Nikkei 225 jatuh 258,67 poin atau 1,11 persen menjadi 23.087,82 poin.

Sementara itu, dikutip dari  Xinhua, indeks Topix yang lebih luas dari seluruh saham papan utama di pasar Tokyo bertambah 6,99 poin atau 0,43 persen, menjadi diperdagangkan pada 1.633,43 poin. Indeks Topix berkurang 17,81 poin atau 1,08 persen menjadi 1.626,44 poin pada akhir perdagangan Kamis (24/9/2020).

Saham-saham perusahaan yang terkait dengan produk kaca dan keramik, pergudangan dan jasa transportasi pelabuhan, serta pulp dan kertas paling banyak diuntungkan pada menit-menit pembukaan setelah bel perdagangan pagi.

 

 

Saham Hong Kong dibuka menguat, Indeks Hang Seng naik 114,68 poin

Saham-saham Hong Kong lebih tinggi pada Jumat pagi, setelah sehari sebelumnya turun tajam, dengan indikator utama Indeks Hang Seng (HSI) terangkat 0,49 persen atau 114,68 poin, menjadi diperdagangkan di 23.425,75 poin.

Indeks Hang Seng anjlok 1,82 persen atau 431,44 poin menjadi 23.311,07 poin tajam pada penutupan perdagangan Kamis (24/9/2020), dengan nilai transaksi mencapai 117,17 miliar dolar Hong Kong (sekitar 15,12 miliar dolar AS).

 

 

 

 

 

 

 

 

Dolar Turun Ditengah Harapan Baru Stimulus Amerika Serikat

Dolar Amerika Serikat turun tipis pada Jumat pagi di tengah harapan baru dana stimulus Amerika Serikat sedikit mengurangi kekhawatiran investor terhadap pemulihan ekonomi.

Indeks dolar AS melemah tipis 0,03% di 94,368 menurut data Investing.com pukul 09.23 WIB. EUR/USD stabil di 1,1672 dan GBP/USD menguat tipis 0,06% ke 1,2757.

Adapun rupiah kembali turun 0,40% di 14.905,0 per dolar AS sampai pukul 09.28.

Menurut laporan yang dilansir Reuters Jumat (25/09) pagi, pasar kini melihat ada secercah harapan perundingan dana stimulus yang macet dapat berlanjut antara Ketua DPR AS Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin.

Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat AS tengah merancang paket stimulus virus senilai $2,2 triliun yang dapat diajukan pada minggu depan.

Langkah itu terjadi setelah data terbaru menunjukkan jumlah warga Amerika Serikat yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran tanpa diduga meningkat pekan lalu. Ini menjadi tanda pemulihan ekonomi mulai kehabisan tenaga.

Namun banyak pelaku pasar bersikap hati-hati karena masih ada keraguan apakah AS dapat mengatasi perbedaan pandangan untuk menyepakati paket stimulus.

Ketidakpastian politik AS juga membuat banyak investor gelisah setelah Presiden AS Donald Trump tampaknya menghindar berkomitmen untuk mengalihkan kekuasaan secara damai jika ia kalah dalam pemilihan umum AS.

 

 

 

Benarkah Bill Gates Dapat Keuntungan Rp2.900 T dari Vaksin Corona?

Sebuah video yang ditonton ribuan kali di Facebook mengklaim bahwa miliarder Bill Gates mengaku menghasilkan USD200 miliar (Rp2.986 triliun) dari investasi yayasan amalnya di bidang vaksin. Benarkah demikian?

Rupanya, dikutip dari AFP Fact Check di Jakarta, Jumat (25/9/2020) klaim tersebut menyesatkan. Klip yang berdurasi 26 detik itu dipotong dari wawancara TV yang durasinya lebih panjang, dalam wawancara itu Gates memperkirakan manfaat sosial dan ekonomi global dari investasi yayasannya sebesar USD10 miliar (Rp149 triliun), bukan keuntungan pribadinya.

Seorang pejabat di lembaga think tank AS yang menghitung laba atas investasi USD200 miliar mengatakan kepada AFP Fact Check bahwa klaim tersebut adalah interpretasi yang salah dari analisis.

"Bill Gates mengakui bahwa dia menghasilkan USD200 miliar dari vaksinnya,” tulis postingan Facebook yang membagikan video tersebut.

Video tersebut merupakan cuplikan dari wawancara Gates kepada jurnalis CNBC Becky Quick pada 23 Januari 2019. Saat itu, ia membahas manfaat ekonomi dari peningkatan tingkat vaksinasi. Namun, 16 detik setelah video terpotongan yang menyebabkan hoax beredar.

Jadi, klaim bahwa Gates mengaku menghasilkan USD200 miliar dari investasi vaksin menyesatkan. Hal itu tidak disebutkan keuntungan pribadi.

Selama wawancara, Gates tidak menyebutkan keuntungan pribadinya, melainkan membahas manfaat sosial dan ekonomi yang dihasilkan oleh investasi yayasan amalnya dalam vaksin.

Yayasan Bill & Melinda Gates miliknya telah mengumpulkan milyaran dolar untuk membuat vaksin melawan penyakit seperti polio, HIV dan malaria. Pada bulan Juni, mereka menjanjikan USD7,4 miliar (Rp110 triliun) kepada aliansi vaksin global Gavi untuk membantu program imunisasi yang terganggu oleh pandemi virus corona.

Bukan Gates, perhitungan laba atas investasi USD200 miliar dihitung oleh lembaga nirlaba AS, Pusat Konsensus Kopenhagen. Menurut situs webnya, organisasi tersebut menggunakan algoritma dan data untuk menganalisis strategi penanggulangan kemiskinan.

Yayasan Bill & Melinda Gates juga mengatakan kepada AFP Fact Check bahwa klip video tersebut telah diambil di luar konteks.

"Ketika kami berbicara tentang laba atas investasi (ROI) untuk vaksin, yang kami maksud adalah nyawa yang diselamatkan dan pertumbuhan ekonomi untuk area di mana vaksin tersedia," kata yayasan tersebut dalam email.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

AS, China, dan Rusia Cekcok Bahas Pandemi di DK PBB

Perwakilan Amerika Serikat, China, dan Rusia berselisih paham dalam pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) ketika membahas pandemi virus corona yang tengah menginfeksi dunia.

Ketiga negara saling tuding mengenai siapa yang bersalah dalam menangani dan mempolitisasi pandemi.

Perdebatan tajam di pertemuan yang bertajuk "Tata Kelola Global Pasca Covid-19" itu mencerminkan perpecahan mendalam di antara tiga anggota dewan pemegang veto yang kian meningkat sejak virus pertama kali muncul di kota Wuhan, China pada akhir 2019 lalu.

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menekankan pentingnya multilateralisme yang berpusat pada PBB. Dia turut menyinggung negara-negara, termasuk AS yang memilih untuk tidak membuat vaksin Covid-19 menjadi barang publik secara global.

"Dalam momen yang penuh tantangan ini, negara-negara besar bahkan lebih berkewajiban mengutamakan masa depan umat manusia, membuang mentalitas Perang Dingin dan bias ideologis, dan bersatu dalam semangat kemitraan untuk mengatasi kesulitan," kata Wang.
 
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, mengatakan pandemi dan "kemalangan yang biasa terjadi tidak menghilangkan perbedaan antar-negara, tapi justru memperdalamnya".
 
"Di sejumlah negara, ada godaan untuk mencari (kambing hitam) ke luar negeri bagi mereka yang bertanggung jawab atas masalah internal mereka sendiri," ujarnya.
 
"Dan kami melihat upaya dari masing-masing negara dalam menggunakan situasi saat ini untuk memajukan kepentingan sempit mereka, menyelesaikan masalah dengan pemerintah yang tidak diinginkan, atau pesaing geopolitik," tambahnya.
 
Sementara itu, Duta Besar AS untuk PBB, Kelly Craft, membuka pidatonya dengan pernyataan yang blak-blakan.

"(Saya) malu pada masing-masing dari kalian. Saya heran dan muak dengan isi diskusi hari ini," kata Craft, seraya mengatakan beberapa perwakilan "menyia-nyiakan kesempatan ini untuk tujuan politik".
 
"Presiden Trump sudah menjelaskan dengan sangat jelas: Kami akan melakukan apa pun dengan benar, bahkan jika itu tidak populer, karena, izinkan saya memberi tahu Anda, ini bukan kontes popularitas," ucapnya.

Craft mengutip pidato Trump pada Selasa (22/9) lalu dalam pidato virtualnya di Majelis Umum PBB. Saat itu, Trump mengatakan bahwa untuk memetakan masa depan yang lebih baik, "kita harus meminta pertanggungjawaban bangsa yang melepaskan wabah ini ke dunia: China".
 
"Keputusan Partai Komunis China untuk menyembunyikan asal mula virus ini, meminimalkan bahayanya, dan menekan kerja sama ilmiah (yang) mengubah epidemi lokal menjadi pandemi global," kata Craft.
 
"Tindakan ini membuktikan tidak semua negara anggota sama-sama berkomitmen untuk kesehatan masyarakat, transportasi, dan kewajiban internasional mereka," lanjutnya.

Craft mengakhiri pidatonya dengan mengatakan, satu pelajaran dari pandemi adalah perlunya "persatuan, bukan perpecahan" dan mendesak anggota dewan "untuk bekerja sama dalam transparansi dan dengan itikad baik".

Mengutip Associated Press, dalam manggapi tuduhan AS, Duta Besar China untuk PBB, Zhang Jun, secara tegas mengatakan jika pihaknya secara tegas menentang dan menolak tuduhan tak berdasar AS yang ditujukan kepada mereka.

"Menyalahgunakan platform PBB dan Dewan Keamanannya, AS telah menyebarluaskan virus politik dan disinformasi, dan menciptakan konfrontasi dan perpecahan," kata Zhang.
 
"AS harus memahami bahwa kegagalannya dalam menangani Covid-19 adalah kesalahannya sepenuhnya," lanjutnya.

Senada dengan China, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, menyatakan penyesalannya bahwa Craft menggunakan pertemuan tersebut "untuk membuat tuduhan tidak berdasar" terhadap salah satu anggota dewan.
 "Sulit untuk tidak setuju dengan (pernyataan Craft) itu. Tapi sayangnya, inti dari pernyataannya, bentuk dan nadanya, tidak sesuai dengan desakan itu sama sekali," kata Nebenzia.
 
Keributan tersebut muncul tepat setelah Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, membuka pertemuan DK PBB dengan mengecam kurangnya kerja sama global dalam menangani pandei yang hingga kini masih di luar kendali.

Guterres mengatakan dunia gagal bekerja sama dalam menangani pandemi Covid-19 dan menghadapinya dengan perpecahan dan kekacauan yang sama.
 
"Saya takut (ini) akan (jadi) yang terburuk," ujarnya.

 

 

 

AS Rugi US$16 Triliun dalam 20 Tahun karena Rasisme

Citi melansir kegagalan Amerika Serikat (AS) mengatasi kesenjangan yang lebar antara warga kulit hitam dan kulit putih telah merugikan ekonomi hingga US$16 triliun dalam 20 tahun terakhir. Bank kakap yang berbasis di AS itu menyebutkan masalah ketidaksetaraan ras itu telah memicu keresahan di negeri Paman Sam.

"Masih ada sisa yang bertahan dari efek 400 tahun perbudakan penduduk kulit hitam di Amerika, meskipun banyak undang-undang memberikan akses yang sama kepada seluruh warga Amerika," ujar ekonom Citi dalam laporan 104 halaman yang dirilisnya pekan ini, mengutip CNN Business, Jumat (25/9).

Pandemi covid-19 bahkan memperparah masalah ketidaksetaraan ras di Amerika, usai kematian warga kulit hitam George Flyod dan Breonna Taylor. "Krisis kesehatan akibat corona dan tekanan ekonomi meningkatkan ketegangan dan ketidakadilan ras yang mendidih selama berabad-abad," tulis laporan itu.

Masalah tersebut, termasuk kasus kebrutalan polisi yang melibatkan orang kulit hitam di AS, terlalu besar untuk diabaikan. Kondisi ini yang akhirnya memicu ramainya protes di jalan dan bentrokan yang sempat terjadi awal tahun.

Karenanya, meskipun AS telah mengambil langkah penanganan ketidaksetaraan ras, temuan Citi mengungkap bahwa masih ada kesenjangan yang besar hingga saat ini. Salah satunya, orang kulit putih memiliki kekayaan 8 kali lebih banyak dibandingkan orang kulit hitam.

Tidak hanya itu, tingkat kepemilikan rumah di AS pun sangat timpang. 80 persen orang kulit putih memiliki tempat tinggal, sedangkan orang kulit hitam hanya 47 persen dari total populasi.

Kemudian, tingkat pendapatan pria kulit hitam lebih rendah dibandingkan kulit putih. Sebagai gambaran, pria kulit hitam berusia 45-49 tahun hanya mengantongi US$43.849, sedangkan pria kulit putih berusia 50-54 tahun bisa membawa pulang US$66.250.

Total kekayaan yang dimiliki miliarder AS yang sebesar US$3,5 triliun, sama dengan tiga perempat dari total kekayaan orang kulit hitam yang sebanyak US$4,6 triliun.

Belum lagi kenyataan pahit lain, orang kulit hitam lima kali lebih mungkin dipenjara daripada orang kulit putih. Buktinya, penjara diisi oleh 33 persen orang kulit hitam.

"Ketidakadilan sosial telah memanifestasikan dirinya menjadi biaya ekonomi, yang telah merugikan banyak individu, keluarga, komunitas, dan akhirnya pertumbuhan dan kesejahteraan ekonomi AS," tulis laporan Citi.

Berkaca dari laporan tersebut, Citi pun menginvestasikan dana US$1,15 miliar atau setara Rp17,25 triliun (kurs Rp15 ribu per dolar AS) untuk menutup kesenjangan kekayaan orang kulit hitam. Program ini bakal menggelontorkan kredit modal kerja, kredit perumahan, hingga investasi.

Dari total dana US$1,15 miliar tersebut, di antaranya US$550 juta akan digunakan untuk membantu orang kulit berwarna membeli rumah dengan harga terjangkau. Rumah itu pun dibangun oleh pengembang minoritas.

Kemudian, US$350 juta di antaranya akan digunakan untuk pengadaan bisnis orang-orang kulit hitam. Citi bertujuan memajukan kesetaraan ras di AS dan memberikan akses perbankan dan kredit ke orang-orang kulit hitam.

CEO Citigroup Michael Corbat mengatakan menutup kesenjangan kekayaan orang kulit berwarna penting untuk menciptakan masyarakat adil dan inklusif.

"Ini adalah momen untuk berdiri dan diperhitungkan dan Citi berkomitmen untuk memimpin dan berinvestasi dalam komunitas kulit berwarna untuk membangun kekayaan dan masa depan keuangan yang kuat," ujarnya dalam pernyataan.

Karenanya, Citi juga menambah hibah US$100 juta untuk meningkatkan pendapatan bank atau lembaga simpanan milik minoritas. Hibah US$100 juta lainnya juga akan diberikan kepada agen perubahan komunitas lokal. "Dan US$ 50 juta sisanya akan diberikan sebagai modal investasi kepada pengusaha kulit hitam," terang Corbat.

 

 

Palestina Sebut Israel Merusak Bantuan 100 Ribu Alat Tes Swab

Menteri Kesehatan Palestina, Mai al-Kailah menyatakan bahwa Israel telah merusak 100 ribu alat test usap (swab) virus corona (Covid-19) bantuan, setelah melarang pengiriman paket tersebut dari Yordania ke Tepi Barat.

Berbicara kepada stasiun radio Voice of Palestina pada Selasa (22/9), al-Kailah mengatakan bahwa tindakan Israel telah menyebabkan Palestina kekurangan alat yang diperlukan untuk melakukan pemeriksaan.

"Apa yang tersedia di kementerian hanya cukup untuk melakukan pemeriksaan selama tiga hari," katanya dikutip dari Middle East Monitor, Kamis (24/9).

Dia pun menambahkan bahwa dijanjikan alat swab berikutnya baru akan tiba pada Rabu (23/9). Sementara itu, Israel belum memberi komentar terkait tudingan itu.

Israel diketahui menguasai pos perbatasan Al-Karama, satu-satunya titik penyeberangan antara Tepi Barat dan Yordania.

Pandemi virus corona telah memperburuk situasi ekonomi di wilayah Palestina. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan pada pekan ini bantuan donor dari dunia kepada Palestina akan turun ke level terendah dalam periode satu dasawarsa terakhir.

Melihat kekurangan itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan bantuan. WHO disebut telah menyediakan sebanyak 20.000 alat tes usap corona untuk wilayah Jalur Gaza.

Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Nickolay Mladenov, memuji langkah WHO karena memasok lebih banyak alat pengujian kepada Palestina di tengah kekurangan yang tengah mereka hadapi.

Dalam cuitannya, Mladenov berterima kasih kepada organisasi tersebut.

Dia menambahkan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia di Wilayah Pendudukan Palestina mengirimkan 20.000 lebih penyeka dan persediaan ekstraksi laboratorium untuk 6.000 tes.

Kasus positif corona di Palestina telah menyentuh angka total 2.400 kasus, dengan 17 kematian sejak Maret lalu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

China Serang AS Sebut Ciptakan Banyak Masalah bagi Dunia

Duta besar China untuk Perserikatan Bangsa-Bngsa (PBB) Zhang Jun menyerang balik Amerika Serikat dengan menyebut jika mereka telah menciptakan cukup banyak masalah bagi dunia dalam pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB).

Pernyataan Zhang disampaikan sebagai kecaman terhadap pidato Presiden Donald Trump yang menyebut 'virus China' merujuk pada virus corona.

"Saya harus mengatakan cukup, sudah cukup! Anda telah menciptakan cukup banyak masalah bagi dunia," kata Zhang dalam pertemuan DK PBB melalui konferensi pers yang dihadiri oleh beberapa kepala negara, Kamis (28/9)

"AS memiliki hampir 7 juta kasus yang dikonfirmasi dan lebih dari 200 ribu kematian saat ini. Dengan teknologi dan sistem medis paling canggih di dunia, mengapa AS ternyata memiliki kasus dan kematian yang paling banyak yang dikonfirmasi?," tambahnya seperti mengutip AFP.

Zhang juga mengatakan jka AS yang seharusnya menjadi pihak untuk dimintai pertanggungjawaban terkait penganan buruk pandemi virus corona.

"Jika seseorang harus dimintai pertanggungjawaban, itu pasti beberapa politisi AS sendiri. AS harus memahami bahwa kekuatan besar harus berperilaku seperti kekuatan besar," ucapnya.

Ia juga mengatakan jika sat ini AS 'benar-benar terisolasi' yang didukung dengan antusias terhadap Rusia.

Duta Besar AS, Kelly Craft membuka pertemua dengan nada marah ketika merespons pernyataan Zhang.

"Anda tahu, masing-masing dari kalian memalukan. Saya heran dan saya muak dengan isi diskusi hari ini," kata Craft.

"Saya sebenarnya sangat malu dengan Dewan ini, anggota Dewan yang mengambil kesempatan ini untuk fokus pada dendam politik daripada masalah kritis yang ada. Ya ampun," tambahnya.

Para diplomat yang hadir dalam pertemuan tersebut mengaku bingung dengan nada bicara Craft yang kemudian meninggalkan pertemuan ketika duta besar China tengah berbicara.

Seorang diplomat yang enggan menyebutkan namanya mengatakan, Craft 'sangat agresif' setelah sesi yang 'kurang lebih penuh dengan konsensus'.

Juru Bicara Majelis Umum, Brenden Varma, mengatakan China telah meminta untuk kembali menyampaikan pidato pada Selasa (28/9) depan untuk membalas pernyataan AS.
 
Sebelumnya lewat pidatonya di UNGA, Trump menuntut tindakan terhadap China karena menyebarkan "wabah" Covid-19 ke dunia. Sementara Presiden China, Xi Jinping, tidak dapat membalas Trump karena video pidato telah direkam sebelumnya untuk diputar di Sidang Umum secara virtual.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menlu AS Tuduh China Pakai Isu Rasial untuk Picu Pergolakan

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, menuding China berusaha menggunakan isu rasial untuk memicu pergolakan di Negeri Paman Sam.

Pernyataan tersebut dia lontarkan menyusul adanya kritik dari China terhadap AS terkait isu rasial.

Pompeo yang dikenal karena sebagai tokoh garis keras terhadap China mengungkapkan hal tersebut dalam sebuah pidato kepada anggota parlemen Partai Republik di negara bagian Wisconsin.

"Partai Komunis China (PKC) berpikir itu dapat meredam seruan Amerika untuk pertanggungjawaban dengan tuduhan rasisme," kata Pompeo seperti diwartakan AFP, Kamis (24/9).

"PKC ingin memicu perselisihan yang kami lihat di Minneapolis, dan Portland dan Kenosha," tuturnya merujuk pada tiga kota di AS yang menjadi pusat aksi protes atas rasisme dan kekerasan polisi dalam beberapa bulan terakhir.

Sebagai bukti akan niatan China tersebut, Pompeo menunjukkan surat dari seorang diplomat China kepada seorang anggota parlemen dari Wisconsin.

Surat itu menyatakan bahwa Beijing "dengan tegas menentang diskriminasi rasial dan xenofobia" terhadap komunitas China di Amerika Serikat atas krisis virus corona.

"Mereka ingin Anda percaya bahwa kemarahan benar Amerika pada PKC atas penanganannya terhadap virus korona ada hubungannya dengan ras. Tidak," kata Pompeo.

Presiden AS, Donald Trump, disebut-sebut memicu sentimen rasial karena menggunakan istilah 'Virus China' untuk menyebut virus corona.

Para ahli kesehatan menyebut istilah yang digunakan Trump sebagai stigmatisasi terhadap ras Asia. Di sisi lain, AS kerap menyerang persoalan hak asasi manusia di China.

Salah satunya AS menuding pemerintah China menahan lebih dari satu juta etnis minoritas Uighur dan Muslim berbahasa Turki lainnya di wilayah Xinjiang.

Media massa China membalas tudingan itu dan mengaitkannya dengan peristiwa penembakan George Floyd, yang telah memicu protes dunia terkait isu rasisme.

 

 

Gelombang Dua Covid-19, Israel Kembali Lockdown Mulai Jumat

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan memberlakukan penguncian wilayah (lockdown) nasional selama dua pekan mulai Jumat (25/9) besok, untuk menghadapi gelombang kedua virus corona (Covid-19).

"Gelombang kedua dari virus corona menyerang seluruh dunia. Itu juga menyerang kita. Angka kasus di Israel meningkat, jumlah yang sakit parah meningkat, pun demikian dengan jumlah meninggal," ujar dia dikutip dari Associated Press, Kamis (24/9).

Dalam dua hari terakhir, kata Netanyahu, pemerintah Israel telah mendengar pendapat dari para ahli. Dia mengatakan jika Israel tidak segera mengambil langkah-langkah yang sulit, maka mereka akan berada di posisi yang berbahaya.

Dia pun menyatakan lockdown adalah langkah pemerintah menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Setelah lockdown selama dua pekan itu, Netanyahu berharap bisa memperpanjang kebijakan tapi dengan beberapa pelonggaran.

"Kami akan melanjutkan dengan lockdown selama dua minggu lagi, saya harap dengan lebih sedikit pembatasan. Tapi saya katakan itu tergantung pada tingkat infeksi, " tuturnya.

Netanyahu mengumumkan kebijakan itu setelah dua hari berdebat dengan anggota kabinet. Netanyahu dan para pesaingnya diketahui terpecah belah karena memberlakukan pembatasan agenda pertemuan publik.

Meski demikian, Israel diketahui mendapat pujian luas karena bergerak cepat untuk menahan wabah virus corona awal tahun ini. Pemerintah langsung menyegel perbatasannya dan memberlakukan penguncian yang ketat.

Kementerian Kesehatan Israel melaporkan ada 6.948 kasus baru virus corona pada Rabu kemarin, dan itu merupakan rekor penambahan kasus harian terbanyak sepanjang pandemi menerjang Negeri Zionis.

Sebagai negara berpenduduk sekitar sembilan juta orang, Israel sekarang merupakan salah satu negara dengan tingkat infeksi virus corona tertinggi di dunia per kapita.

Kementerian Kesehatan Israel mengungkapkan bahwa setidaknya ada 658 pasien Covid-19 dalam kondisi kritis. Sementara jumlah kematian kumulatif akibat virus corona di Israel tercatat mencapai 1.317 orang.

Pejabat Kementerian Kesehatan menambahkan bahwa kapasitas rumah sakit di Israel hampir tidak mampu lagi menampung pasien, karena jumlah kasus yang terus bertambah.

 

 

 

 

 

Uni Eropa Keluarkan Peringatan Soal Peningkatan Kasus Corona

Uni Eropa dalam pernyataan yang mereka keluarkan Kamis (24/9) memperingatkan penyebaran virus corona yang terjadi belakangan ini lebih buruk dan mengkhawatirkan.  Komisaris Kesehatan Uni Eropa Stella Kyriakides memperingatkan bahwa penularan virus corona di beberapa negara anggota belakangan ini bahkan lebih buruk daripada saat puncak penyebaran pada Maret lalu.

"Ini benar-benar memprihatinkan," katanya seperti dikutip dari AFP, Kamis (24/9).

Karena kondisi itulah, pihaknya mendesak agar pihak terkait segera mengambil langkah baru untuk mencegah terjadinya gelombang kedua virus yang telah menewaskan sedikitnya 978.448 orang di seluruh dunia tersebut.

Pasalnya, tingkat kematian di zona tersebut belum bisa ditekan kembali ke tingkat yang terlihat saat awal menyebar. Selain itu,  kasus infeksi baru juga melonjak sekali lagi di banyak area di blok tersebut.

Sementara itu, Badan Pengendalian Penyakit Uni Eropa yang berbasis di Stockholm menunjukkan, beberapa negara di kawasan Uni Eropa perlu mendapatkan perhatian serius terkait penyebaran virus corona ini.

Mereka adalah Spanyol, Rumania, Bulgaria, Kroasia, Hongaria, Republik Ceko dan Malta.

Mereka menyatakan tujuh negara tersebut mengalami peningkatan proporsi kasus rawat inap dan parah akibat virus corona yang cukup tinggi.

"Tingkat pemberitahuan kematian yang meningkat atau tinggi sudah diamati atau mungkin segera diamati," kata Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa (ECDC).

Selain itu, peningkatan kasus juga terjadi di Prancis dan Inggris. Dari hasil pengamatan mereka, peningkatan tingkat infeksi terutama terjadi pada orang muda.

 

 

AS Bergolak Lagi Akibat Kasus Breonna Taylor, WNI Aman

Aksi demo dan kericuhan pecah di sejumlah kota di sejumlah daerah di Amerika Serikat, yang dipicu keputusan jaksa terhadap polisi yang menembak mati seorang perempuan kulit hitam, Breonna Taylor.

Demo itu terjadi di Louisville, New York, Chicago, Boston, Washington, Philadelphia, hingga Los Angeles pada Rabu (23/9). Para aktivis pendukung kulit hitam turun ke jalan menolak proses hukum tersebut.

Pedemo menuntut keadilan atas kematian Breonna Taylor yang tewas di tangan polisi.

 

Lewat pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Kamis (24/9), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah, mengatakan secara umum kondisi warga negara Indonesia di AS berada dalam keadaan baik.

"Secara umum baik," kata Faizasyah.

Seperti dilansir CNN, Demonstrasi berubah menjadi ricuh setelah jaksa penuntut menyatakan dua polisi yang menembak Breonna Taylor dinyatakan tidak bersalah. Kedua petugas dinyatakan telah dibenarkan menggunakan kekerasan untuk melindungi diri, setelah terlibat baku tembak dengan kekasih Taylor.

Satu-satunya dakwaan dikenakan kepada seorang petugas polisi, Brett Hankison. Dia dikenai tiga dakwaan membahayakan secara ceroboh karena menembak ke dalam rumah di sebelah rumah Taylor, di mana terdapat orang di dalamnya.

Biro Investigasi Federal (FBI) masih menyelidiki potensi pelanggaran hukum federal sehubungan dengan penggerebekan di rumah Taylor pada 13 Maret.

Taylor adalah seorang teknisi di ruang gawat darurat. Dia tewas akibat terjebak dalam baku tembak, setelah tiga polisi berpakaian bebas muncul di depan pintunya pada tengah malam untuk menjalankan surat perintah penggeledahan.

Pacar Taylor, Kenneth Walker, yang saat kejadian berada di tempat tidur bersamanya, lantas mengambil pistol dan terlibat baku tembak dengan petugas. Dia mengira bahwa petugas polisi itu adalah penjahat.

Petugas polisi yang saat itu tidak mengaktifkan kamera tubuh, menembak Taylor beberapa kali. Seorang sersan polisi turut terluka dalam kejadian itu.

Keputusan hukum itu memicu aksi demo di sejumlah daerah di AS. Di Portland, Oregon, demo terus berjalan meski memasuki tengah malam di. Para pengunjuk rasa masih berdemo di jalanan, meski polisi mendesak mereka membubarkan diri.

Sebelumnya polisi telah menyatakan bahwa massa yang tergabung dalam aksi itu melanggar hukum karena aksi demo tersebut ilegal.

Sedangkan di Seattle, Washington, para pengunjuk rasa mulai bentrok dengan aparat penegak hukum setempat.

"Para pengunjuk rasa saat ini melemparkan botol kaca ke petugas di Jalan 11/Pine," cuit Kepolisian Seattle melalui Twitter.

"Para pengunjuk rasa mulai melempar kembang api ke East Precinct yang hampir mengenai petugas. Sebagian besar pengunjuk rasa berada di persimpangan Jalan 11/Pine," cuit polisi.

Polisi menambahkan bahwa mereka telah menembakkan semprotan merica setelah pengunjuk rasa merusak kamera keamanan di East Precinct, dan delapan orang telah ditangkap.

Sedangkan di kawasan Pantai Barat, pengunjuk rasa juga tetap berada di jalan melewati tengah malam.

Mereka memadati pusat kota Los Angeles, California, di mana beberapa demonstran memblokir kendaraan polisi.

Sedangkan di San Diego, California, anggota kepolisian meminta ratusan pengunjuk rasa untuk membubarkan diri dari pusat kota. Polisi juga mengumumkan aksi itu sebagai keramaian yang tidak sah.

"Menanggapi tindakan kekerasan dan vandalisme, aksi protes di depan gedung Markas SDPD (1401 Broadway) sekarang telah dinyatakan sebagai pertemuan yang melanggar hukum," tulis Kepolisian San Diego dalam sebuah pernyataan.

Polisi menyatakan para demonstran dapat ditangkap jika mereka tidak membubarkan diri.