• Blog
  • Wall Street dibuka menguat, didukung harapan kemajuan pengembangan vaksin Covid-19

Wall Street dibuka menguat, didukung harapan kemajuan pengembangan vaksin Covid-19

News Forex, Index &  Komoditi

( Selasa,  15  September 2020 )

Wall Street dibuka menguat, didukung harapan kemajuan pengembangan vaksin Covid-19

Wall Street dibuka menguat pada awal perdagangan Senin (14/9), didorong kenaikan saham-saham teknologi, sementara tanda-tanda kemajuan dalam pengembangan vaksin Covid-19 juga turut mencerahkan pasar.

Mengutip Reuters Senin (14/9) pukul 9.51 waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average naik 266,26 poin tau 0,96% ke 27.931,90, S&P 500 naik 45,18 poin, atau 1,35% ke 3.386,15 dan Nasdaq Composite naik 214,34 poin, atau 1,97%, ke level 11.067,89.

Saham Nvidia Corp melonjak 9,0% karena rencana untuk membeli perancang chip yang berbasis di Inggris Arm dari SoftBank Group Corp Jepang senilai US$ 40 miliar, dalam kesepakatan yang ditetapkan untuk membentuk kembali lanskap semikonduktor global.

Saham Oracle melonjak 4,3% mendekati rekor tertinggi setelah sumber mengatakan kepada Reuters bahwa perusahaan layanan cloud itu mengalahkan Microsoft dalam pertempuran untuk cabang TikTok AS dengan kesepakatan yang disusun sebagai kemitraan untuk menavigasi ketegangan geopolitik.

"Wall Street selalu menghargai pertumbuhan," kata Kim Forrest, kepala investasi di Bokeh Capital Partners di Pittsburgh seperti dikutip Reuters.

"Itulah mengapa kesepakatan ini menarik, karena jika Anda menggabungkan dua perusahaan, menurut definisi, Anda akan mengalami pertumbuhan anorganik, tetapi Anda akan melihat pertumbuhan."

Saham global juga terangkat pada hari Senin setelah produsen obat AstraZeneca melanjutkan uji klinis vaksin Covid-19 di Inggris, salah satu yang paling maju dalam pengembangan.

Saham Pfizer Inc naik 1,1% setelah pembuat obat dan perusahaan biotek Jerman BioNTech SE mengusulkan untuk memperluas uji coba vaksin COovid-19 penting tahap 3 mereka kepada sekitar 44.000 peserta.

Akhir pekan ini investor akan fokus pada pertemuan kebijakan terakhir Federal Reserve sebelum pemilihan presiden AS 3 November.

Saham Gilead Sciences Inc tergelincir 1,1% karena dikabarkan akan mengakuisisi perusahaan US$ 21 miliar, sebuah langkah yang akan memperkuat portofolio kankernya dengan mendapatkan akses ke obat yang menjanjikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wall Street menghijau, Dow Jones naik lebih 300 poin dan Nasdaq rebound hampir 2%

Wall Street berakhir naik pada perdagangan Senin (14/9). Terangkat oleh banyaknya aktivitas pembuatan kesepakatan perusahaan dan optimisme terhadap vaksin virus corona.

Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average naik 327,69 poin atau 1,2% menjadi 27.993,33. S&P 500 naik 1,3%, atau 42,57 poin, menjadi 3.383,54, dan Nasdaq Composite melonjak 1,9%, atau 203,11 poin menjadi 11.056,65.

Saham sektor teknologi mencatatkan keluar dari pekan terburuknya sejak Maret. Saham Apple melonjak 3% meski demikian saham Apple masih turun 10,6% bulan ini.

Saham Tesla rebound 12,6%. Saham yang pernah melonjak turun lebih dari 15% pada bulan September setelah gagal masuk ke indeks S&P 500, sesuatu yang diantisipasi investor.

Sentimen teknologi terangkat oleh berita Nvidia yang membeli pembuat chip Arm Holdings dari SoftBank seharga US$ 40 miliar. Nvidia menyepakati kesepakatan itu melalui kombinasi uang tunai dan saham biasa. Saham Nvidia naik 5,8%. Pembuat chip lain juga naik, termasuk AMD, Micron dan Skyworks.

Sementara itu, ByteDance menolak tawaran Microsoft untuk membeli operaional TikTok di AS. Sebaliknya, ByteDance telah memilih Oracle untuk menjadi mitra teknologi TikTok di AS dan Oracle akan mengambil alih saham dalam bisnis tersebut. Saham Oracle naik 4,3%.

Di luar teknologi, saham Gilead mengatakan akan mengakuisisi Immunomedics untuk memperluas perawatan kankernya sebesar $ 21 miliar. Saham Immunomedics naik dua kali lipat. ETF Bioteknologi iShares Nasdaq naik lebih dari 5%.

Sentimen juga didorong oleh tanda-tanda kemajuan menuju vaksin virus corona. AstraZeneca melanjutkan uji coba fase tiga untuk vaksin virus corona di Inggris setelah penghentian karena masalah keamanan.

Namun, uji coba di AS tetap ditunda karena regulator Amerika menyelidiki efek samping yang ditandai dalam studi Inggris, Reuters melaporkan Senin.

Sementara itu, CEO Pfizer Albert Bourla mengatakan pada Minggu bahwa vaksin virus corona dapat didistribusikan di AS sebelum akhir tahun.

 

 

 

Dolar AS di kisaran paruh atas 105 yen pada awal perdagangan di Tokyo

Kurs dolar AS berpindah tangan di kisaran paruh atas 105 yen dalam transaksi awal di Tokyo pada Selasa pagi, sedikit melemah dibandingkan levelnya semalam (Senin) di perdagangan New York.

Saat pasar dibuka di Tokyo, dolar AS dikutip pada 105,73-74 yen dibandingkan dengan 105,68-78 yen di New York dan 105,97-98 yen di Tokyo pada Senin (14/9) pukul 17.00 waktu setempat.

Euro, sementara itu, diambil pada 1,1866-1868 dolar AS dan 125,47-48 yen terhadap 1,1859-1869 dolar AS dan 125,33-43 yen di New York, serta 1,1863-1865 dolar AS dan 125,71-75 yen pada perdagangan Senin sore (14/9) di Tokyo.

 

 

 

 

 

Saham Tokyo dibuka lebih rendah karena aksi ambil untung investor

Saham-saham Tokyo dibuka lebih rendah pada perdagangan Selasa pagi, setelah Nikkei ditutup di tingkat tertinggi tujuh bulan sehari sebelumnya dan apresiasi yen terhadap dolar AS mendorong investor memilih untuk mengunci keuntungan mereka.

Pada pukul 09.15 waktu setempat, indeks acuan Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo (TSE) turun 183,38 poin atau 0,78 persen, dari penutupan Senin (14/9), menjadi diperdagangkan di 23.375,92 poin. Sehari sebelumnya, Nikkei 225 terangkat 152,81 poin atau 0,65 persen menjadi 23.559,30 poin.

Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas dari seluruh saham papan utama di pasar Tokyo berkurang 12,41 poin atau 0,75 persen, menjadi diperdagangkan pada 1.638,69 poin. Indeks Topix bertambah 14,46 poin atau 0,88 persen menjadi 1.651,10 poin pada penutupan perdagangan Senin (14/9).

Saham-saham perusahaan yang berkaitan dengan transportasi darat, besi dan baja, sertai pertambangan mengalami penurunan paling banyak pada menit-menit pembukaan setelah bel perdagangan pagi.

 

 

 

WHO Catat Rekor Corona Global, 307.930 Kasus Sehari

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan rekor peningkatan kasus virus corona global dalam satu hari pada hari Minggu (13/9). Total kasus Covid-19 bertambah 307.930 dalam 24 jam.

Dalam situs resmi WHO dijelaskan peningkatan terbesar berasal dari India, Amerika Serikat, dan Brasil. Hingga Selasa (15/9), sebanyak 28.918.900 orang di seluruh dunia terinfeksi corona.

Sementara itu angka kematian bertambah 5.537 pada hari Minggu. Menurut WHO, korban meninggal akibat Covid-19 di seluruh dunia mencapai 922.252.

India melaporkan 94.372 kasus baru pada Minggu, diikuti oleh AS dengan 45.523 infeksi baru dan Brasil dengan 43.718.

Baik AS dan India masing-masing melaporkan lebih dari 1.000 kematian baru dan Brasil melaporkan 874 nyawa hilang dalam 24 jam terakhir

Seperti dikutip dari AFP, rekor WHO sebelumnya untuk kasus baru adalah 306.857 pada 6 September 2020. Badan kesehatan tersebut melaporkan 12.430 kematian pada 17 April 2020.

India masih terus memimpin kasus harian dan telah mencetak rekor global minggu lalu dengan 97.570 kasus dilaporkan dalam satu hari.

Dalam setiap pekan, tren kasus yang dilaporkan ke WHO cenderung melonjak menjelang hari Jumat, Sabtu dan Minggu, dan menurun sekitar hari Selasa dan Rabu.

"Kehidupan dan mata pencaharian telah hilang, ekonomi global berada dalam resesi," kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus melalui tautan video, Senin (14/9) waktu setempat.

"Namun jumlah kematian tampaknya tetap pada tingkat yang relatif rendah, untuk saat ini," kata Tedros.

"Tapi setiap kematian adalah tragedi, dan tidak ada ruang untuk berpuas diri. Jika kita tidak menjaga penularan, lebih banyak orang akan kehilangan nyawa, dan ada risiko nyata untuk memperkenalkan kembali tindakan penguncian. Sangat mahal."

Infeksi Covid-19 masih meningkat di 58 negara, termasuk lonjakan di Argentina, Indonesia, Maroko, Spanyol dan Ukraina.

Sementara itu, kasus baru  di Amerika Serikat turun sekitar 44% dari puncak lebih dari 77.000 kasus baru yang dilaporkan pada 16 Juli. Kasus di Brasil juga tercatat cenderung menurun.

 

 

Harga Minyak Terus Turun, Tertekan Perlambatan Ekonomi Global

Harga minyak mentah dunia meneruskan penurunan pada perdagangan awal pekan ini. Penurunan harga minyak terjadi karena kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek pemulihan ekonomi global meningkat.

Dilansir dari Antara, Selasa (15/9), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November turun 22 sen atau 0,6 persen menjadi US$39,61 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober turun 7 sen atau 0,2 persen menjadi US$37,26 per barel di New York Mercantile Exchange.

Menurut Pialang Minyak PVM Tamas Varga, kekhawatiran pelaku pasar muncul dari jumlah kasus positif virus corona atau covid-19 yang kembali meningkat di dunia.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organizations/WHO) mencatat jumlah kasus telah mencapai 28,91 juta orang dengan jumlah kematian sebanyak 922 ribu orang per 14 September kemarin.

Hal ini membuat prospek permintaan minyak dunia juga melemah. Selanjutnya, permintaan yang rendah bisa membuat harga semakin jatuh.

"Tingkat infeksi (virus corona) meningkat lagi. Ada penguncian lokal yang diterapkan di banyak negara yang menghambat pertumbuhan ekonomi regional dan jumlah pengangguran gagal turun secara signifikan. Hal ini menyebabkan pertumbuhan permintaan minyak suram," katanya.

Sementara dari sisi produksi, jumlah produksi minyak mentah di AS tetap berjalan usai diterpa Badai Sally yang berlangsung di Teluk Meksiko, sebelah barat Florida, AS.

Badai sempat membuat perusahaan energi Negeri Paman Sam mengurangi produksi sekitar 395.790 barel per hari (bph) atau 21,4 persen dari kapasitas.

Badai telah mengganggu produksi, namun tidak memberi dampak peningkatan harga. Padahal, biasanya harga minyak akan naik ketika produksi dihentikan.

Hanya saja, dengan pandemi virus corona yang semakin parah, kekhawatiran permintaan mengemuka dan pasokan global terus meningkat.

"Badai membuat produksi dihentikan di Teluk Meksiko, dan pasar tidak peduli, itu menunjukkan betapa buruk situasinya," kata Direktur Energi Berjangka Mizuho di New York, Bob Yawger.

Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) memperkirakan permintaan minyak dunia akan turun 9,46 juta bph pada tahun ini. Jumlahnya lebih tajam dari yang diperkirakan dalam laporan bulan lalu.

Namun, OPEC bersama Rusia atau dikenal OPEC+ baru akan membicarakan prospek ini pada pertemuan 17 September mendatang. Sementara Komandan Khalifa Haftar di Libya, berkomitmen untuk mengakhiri blokade fasilitas minyak selama berbulan-bulan. Hal ini dinilai akan menambah pasokan ke pasar.

"Jika produksi Libya segera kembali beroperasi, kita berbicara tentang satu juta barel per hari atau lebih, ini akan menjadi tambahan yang signifikan untuk keseimbangan global dan pasar memperhitungkannya hari ini," ujar Kepala Pasar Minyak di Rystad Energy, Bjornar Tonhaugen.

 

 

AS Blokir Produk China dari Tenaga Kerja Uighur

Amerika Serikat mengumumkan akan memblokir produk-produk China yang dibuat oleh orang-orang Uighur sebagai bentuk solidaritas pada kekerasan yang kerap diterima etnis minoritas Muslim di Xinjiang itu.

Pemblokiran mencakup semua produk yang terkait dengan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan Kejuruan No 4 Kabupaten Lop di Xinjiang.

Wakil Sekretaris Pejabat Keamanan Dalam Negeri Ken Cuccinelli menyebut apa yang dilakukan China pada para siswa di sana sebagai bentuk kerja paksa

"Ini bukan pusat kejuruan, ini adalah kamp konsentrasi, tempat di mana agama dan etnis minoritas menjadi sasaran pelecehan dan dipaksa bekerja dalam kondisi keji tanpa bantuan dan kebebasan," kata dia dilansir AFP, Selasa (15/9).

Pejabat Komisaris Badan Perlindungan Perbatasan dan Bea Cukai AS, Mark Morgan menyebut pemerintah China terlibat dalam pelanggaran yang sistematis pada warga Uighur.

"Pemerintah China terlibat dalam pelanggaran sistematis terhadap orang-orang Uighur dan minoritas lainnya. Kerja paksa adalah pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan," ucapnya.

Barang-barang yang diblokir termasuk juga garmen, produk rambut dan elektronik dari lima pabrik tertentu di Xinjiang serta Anhui-kota yang letaknya berdekatan dengan Xinjiang.

Tindakan yang diumumkan terdiri dari "menahan perintah pelepasan" atau WRO, serta menyita produk dari perusahaan dan organisasi yang masuk daftar hitam.

Pemerintah AS meningkatkan perintah semacam itu untuk menekan Beijing atas penahanan terhadap lebih dari satu juta warga minoritas Uighur yang disebut China sebagai pusat pendidikan sukarela.

Pada bulan Juli, Badan Bea Cukai AS diketahaui menerapkan WRO pada produk rambut, yang digunakan untuk wig dan ekstensi, dari beberapa perusahaan yang beroperasi di Xinjiang.

Pada bulan Agustus AS melakukan hal yang sama untuk pakaian yang dibuat dan dijual oleh Hero Vast Group.

Pada bulan Juli, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi pada kelompok paramiliter utama, Korps Produksi dan Konstruksi Xinjiang.

Hal itu dilakukan Departemen karena kelompok itu disebut melakukan pelanggaran terhadap orang Uighur dan minoritas Muslim lainnya.

Pemerintah China sebelumnya mendesak AS berhenti mencampuri urusan dalam negeri mereka khususnya menyangkut etnis minoritas Muslim Uighur.

China membantah keras tudingan bahwa satu juta kaum Muslim Uighur berada dalam kamp tahanan milik pemerintah.

Dilansir dari Xinhua, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan pemerintah China melindungi hak dan kepentingan sah semua orang dari semua kelompok etnis, termasuk minoritas.

 

 

WHO Peringatkan Eropa Akan Hadapi Lonjakan Kematian Corona

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan negara-negara di Eropa akan menghadapi peningkatan kematian akibat virus corona pada Oktober dan November.

Hal tersebut diucapkan oleh Direktur WHO Eropa Hans Kluge dalam sebuah wawancara dengan AFP, Senin (14/9) waktu setempat.

"Ini akan menjadi lebih sulit. Pada Oktober, November, kita akan melihat lebih banyak kematian," ucapnya.

Corona, kata Hans telah mengungkap kelemahan dan kekuatan masyarakat Eropa. Itu secara blak-blakan mengungkapkan realitas sistem kesehatan.

Dia juga mengatakan bahwa pandemi corona telah mengganggu layanan untuk penyakit tidak menular, termasuk pemantauan diabetes, hipertensi, dan skrining kanker di 68 persen negara Eropa.

Peringatan itu disampaikan WHO ketika jumlah infeksi harian infeksi Covid-19 di seluruh dunia mencapai rekor tertinggi.

Israel termasuk salah satu negara yang menghadapi lonjakan baru kasus corona.
Negara itu mengumumkan penguncian wilayah atau lockdown selama tiga pekan mulai Jumat.

Orang-orang tidak akan diizinkan meninggalkan rumah lebih dari 500 meter. Namun kebijakan Israel itu ditolak sejumlah warga.

"Ini tidak adil. Mereka tidak menghentikan pertemuan besar di sinagoga, pernikahan, dan acara lainnya, dan sekarang saya tidak bisa bersama anak dan cucu saya selama liburan?" kata Eti Avishai seorang penjahit (64). Peningkatan kasus juga terjadi di Kanada.

Selain itu, di Prancis, kota Marseille dan Bordeaux mengumumkan serangkaian tindakan untuk membatasi pertemuan publik saat infeksi Covid-19 melonjak.

Sebelumnya WHO telah melaporkan rekor peningkatan kasus virus corona global dalam satu hari pada hari Minggu (13/9. Angka itu merupakan penambahan harian tertinggi sejak awal pandemi di China akhir tahun lalu. Kini 29 juta orang di seluruh dunia telah terpapar virus corona.

 

 

Arab Saudi Longgarkan Pembatasan Covid-19 Mulai Akhir 2020

Pemerintah Arab Saudi berencana melonggarkan seluruh pembatasan untuk mencegah penyebaran virus corona (Covid-19) mulai akhir 2020 hingga awal 2021.

Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi menyatakan mereka akan mencabut penangguhan penerbangan internasional mulai 15 September 2020, enam bulan setelah pembatasan perjalanan karena adanya pandemi virus corona.

Dilansir Arab News, Senin (14/9), Saudi mengungkapkan bahwa akan mengakhiri semua pembatasan transportasi udara, darat dan laut setelah 1 Januari 2021 pada tanggal tertentu, yang akan diumumkan pada Desember 2020.

Dijelaskan lebih lanjut oleh kementerian itu bahwa warga di negara kawasan Teluk dan non-Saudi dengan izin tinggal "iqama" atau visa kunjungan dapat memasuki Saudi mulai 15 September. Namun, mereka memberikan syarat telah dites dan dinyatakan negatif virus corona dalam 48 jam sebelumnya.

"Kategori luar biasa" lainnya, seperti pegawai pemerintah dan militer, pekerja kedutaan asing dan orang-orang yang membutuhkan perawatan medis, juga akan diizinkan masuk dan keluar mulai 15 September.

Lalu keluarga yang dipisahkan oleh penguncian wilayah (lockdown) juga dapat melakukan perjalanan untuk bergabung dengan orang yang mereka cintai di luar kerajaan, karena pihak berwenang telah memasukkan mereka dalam pengecualian.

Warga Saudi dengan bukti domisili di luar Saudi juga dapat melakukan perjalanan, dan akan ada langkah bertahap untuk mencabut penangguhan ibadah haji serta umrah.

Mengenai izin umroh, hingga saat ini belum ada informasi terkait negara mana dan siapa saja yang boleh melaksanakannya dalam waktu dekat. Namun, seiring dengan dicabutnya larangan izin berkunjung ke Arab Saudi kepada seluruh negara, pemerintah setempat akan mengumumkan rencana untuk membuka izin pelaksanaan umrah secara bertahap.

Arab Saudi menangguhkan penerbangan internasional pada Maret, menyebabkan banyak warga negara itu terdampar di luar negeri.

Arab Saudi berusaha menahan lonjakan infeksi virus corona di negara itu. Saat ini, laju kasus positif Covid-19 telah meningkat menjadi lebih dari 325 ribu kasus dan lebih dari 4.200 kematian. Angka ini merupakan yang tertinggi di antara negara Timur Tengah lain.

Pada Juni lalu, Arab Saudi memutuskan untuk mengakhiri jam malam di seluruh kerajaan dan mencabut pembatasan bisnis, termasuk bioskop dan tempat hiburan lainnya.

 

 

 

Sebagian Penduduk Bahrain Tolak Normalisasi dengan Israel

Tidak seluruh penduduk Bahrain mendukung langkah pemerintah untuk meresmikan normalisasi hubungan dengan Israel.

Sebagian penduduk Bahrain justru menolak keputusan itu. Bahkan, mereka juga menyatakan pendapat melalui dunia maya.

Sontak, tagar "Bahrain menentang normalisasi" kemudian menjadi topik paling populer di media sosial.

Dilansir Middle East Eye, Senin (14/9), kesepakatan yang ditengahi oleh Amerika Serikat tersebut membuat banyak warga Bahrain geram.

Warga di negara itu dianggap lebih vokal dibandingkan warga Uni Emirat Arab (UEA) dalam menanggapi kesepakatan normalisasi dengan Israel. Padahal, tidak seperti UEA, di Bahrain, kebebasan berpendapat amat dikekang.

Maryam al-Khawaja, anak dari aktivis hak asasi manusia Abdulhadi al-Khawaja mengatakan, "mayoritas rakyat Bahrain selalu menentang penindasan, pendudukan dan apartheid terhadap orang-orang #Palestina".

Mantan anggota parlemen, Ali al-Aswad, menyebut keputusan normalisasi itu sebagai "hari berkabung dalam sejarah Bahrain".

"Anda akan diingatkan oleh sejarah atas dukungan Anda (terhadap) kolonialisme dan penjajahan," katanya.

Menteri Luar Negeri Bahrain, Abdullatif bin Rashid Al-Zayani, mengatakan kesepakatan itu merupakan langkah bersejarah untuk mencapai perdamaian di Timur Tengah. Namun, pemerintah Palestina dan Hamas mengutuk kesepakatan itu sebagai "menikam dari belakang".

Partai oposisi al-Wefaq menyebut kesepakatan itu sebagai "pengkhianatan total terhadap Islam dan Arabisme dan penyimpangan dari konsensus Islam, Arab, dan nasional".

Sementara Anggota Senior Organisasi Pembebasan Palestina, Hanan Ashrawi, mengatakan dia "kewalahan dan berbesar hati" dengan dukungan dari Bahrain.

Pada Sabtu, warga Palestina di Gaza menentang keputusan itu dengan membakar foto-foto para pemimpin Bahrain, UEA, dan Israel.

"Kami harus melawan virus normalisasi dan memblokir semua jalurnya sebelum berhasil, untuk mencegah penyebarannya," kata Pejabat Hamas, Maher al-Holy.

Baik Iran dan Turki turut mengkritik Bahrain atas kesepakatan itu dengan menyebutnya sebagai pengkhianatan terhadap Palestina.

"Mulai sekarang para penguasa Bahrain akan menjadi mitra kejahatan rezim Zionis sebagai ancaman terus-menerus terhadap keamanan kawasan dan dunia Islam," kata Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah.

"Langkah memalukan Bahrain mengorbankan perjuangan Palestina dan perjuangan puluhan tahun... dengan mengorbankan pemilihan AS," tambahnya.

Pesan kecaman yang lebih kuat datang dari Korps Pengawal Revolusi Iran, pihaknya mengklaim bahwa Bahrain akan menghadapi "balas dendam yang keras" dari rakyatnya sendiri.

Kementerian Luar Negeri Turki menyebut kesepakatan itu sebagai "pukulan baru bagi upaya untuk membela perjuangan Palestina dan (yang) akan semakin memberanikan Israel untuk melanjutkan praktik ilegalnya terhadap Palestina".

Selain Iran dan Turki, gerakan Libanon yang didukung Iran, Hizbullah, juga mengkritik langkah tersebut.

Dalam sebuah pernyataan, Bahrain mengatakan bahwa pihaknya setuju bergabung dalam upacara di Gedung Putih yang juga meresmikan normalisasi antara UEA dan Israel pada Selasa (15/9) besok.

Selain itu, menurut pengumuman dari Kementerian Luar Negeri Bahrain, Menteri Luar Negeri Israel dan Bahrain telah berbincang melalui telepon untuk membahas hubungan baru pada Sabtu lalu.

Konflik Makin Tajam, Dubes AS untuk China Mengundurkan Diri

Duta Besar Amerika Serikat untuk China, Terry Branstad, bakal mengundurkan diri dari jabatannya diduga karena dipicu konflik di antara kedua negara yang semakin tajam.

Informasi itu diperoleh dari sebuah sumber yang dikonfirmasi CNN, Senin (14/9).

Menurut sumber itu, Branstad diperkirakan akan meninggalkan Beijing sebelum pemilihan umum AS pada 3 November mendatang.

Pengumuman tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan China di berbagai bidang.

Pada Jumat pekan lalu, pemerintah China mengumumkan bahwa mereka akan memberlakukan pembatasan yang tidak ditentukan terhadap diplomat dan personel senior AS di China. Langkah itu menyusul AS yang memberlakukan tindakan serupa, yakni menargetkan korps diplomatik Beijing pada 3 September.

Dalam sebuah unggahan di Twitter pada Senin pagi waktu setempat, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Branstad atas jasanya kepada rakyat AS sebagai duta besar.

"Presiden (Donald Trump) memilih Duta Besar Branstad karena pengalamannya selama puluhan tahun berurusan dengan China, membuatnya menjadi orang terbaik untuk mewakili pemerintah dan untuk membela kepentingan dan cita-cita Amerika dalam hubungan penting ini," tulis Pompeo.

Dia tidak memberikan alasan mengenai mundurnya Branstad atau pengumuman tentang calon penggantinya.

Branstad adalah salah satu duta besar pertama yang ditunjuk Presiden Trump pada Desember 2016, tak lama setelah Trump memenangkan pemilihan presiden AS.

Saat itu, Trump mengatakan dia memilih Branstad karena pengalamannya dalam kebijakan publik, perdagangan, dan pertanian, serta "hubungan lama dengan Presiden Xi Jinping" yang dikenal Branstad sejak 1985 melalui pertukaran pemerintah AS-China.

Selama periode itu, keduanya diyakini telah menjalin persahabatan.

Awalnya, pengangkatan Branstad disambut baik oleh China. Saat itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lu Kang, memujinya sebagai "teman lama rakyat China".

Meski demikian, seiring waktu, Branstad harus melalui salah satu periode paling sulit dalam hubungan AS dan China.

Pada 9 September, Branstad menulis opini yang menuduh pemerintah China "mengeksploitasi" keterbukaan AS dalam beberapa dasawarsa terakhir. Juru Bicara Partai Komunis menolak opini itu diterbitkan oleh surat kabar People's Daily karena "sangat tidak konsisten dengan fakta".

"Jika Anda memang ingin menerbitkan opini ini di People's Daily, Anda harus melakukan revisi substansif berdasarkan fakta dalam prinsip kesetaraan dan saling menghormati," kata media pemerintah China dalam surat penolakannya.

Sebagai tanggapan, Pompeo menuduh People's Daily "munafik" dengan mengatakan bahwa jika pemerintah China adalah kekuatan yang matang, ia akan "menghormati hak diplomat Barat untuk berbicara langsung kepada rakyat China".

 

 

 

 

 

 

Kebakaran California, Trump Sangkal karena Perubahan Iklim

Wali kota Los Angeles menuding Presiden AS Donald Trump menyangkal bahwa perubahan iklim menyebabkan kebakaran besar di wilayah barat yang menewaskan 35 orang dan membuat puluhan lainnya hilang.

"Ini (kebakaran) merupakan perubahan iklim. Pemerintahan bersembunyi dari kenyataan," ujar wali kota Los Angeles Eric Gracetti, Minggu (13/9) waktu setempat, seperti dikutip dari AFP.

Kamala Harris, politisi Partai Demokrat yang juga calon wakil presiden AS di Pilpres 2020 --notabene lawan politik Trump-- juga menuduhkan hal serupa. Dalam cuitannya ia menyebut Trump terus menyangkal bukti bahwa kebakaran dipicu oleh krisis iklim.

Dalam pidato kampanye di Nevada, Trump menyatakan kebakaran di wilayah barat AS dipicu oleh kegagalan pengelolaan hutan.

"Tolong ingat, ini sangat sederhana, pengelolaan hutan," ujar Trump.

Wali kota Los Angeles menyatakan warganya terhina oleh pernyataan Trump tersebut.

Hal berbeda disampaikan rival Trump dalam pemilihan presiden AS mendatang, Joe Biden. Ia sepakat bahwa perubahan iklim benar adanya dan menjadi salah satu penyebab kebakaran.

Kini lebih dari 30 ribu petugas pemadam diterjunkan. Pemerintah setempat menyatakan angin akan kembali bertiup ke wilayah kering pada Senin (14/9). Penduduk Arcadia dievakuasi karena api sudah bergerak menuju permukiman.

"Masih ada api yang menyala, kabel listrik putus, pohon tumbang, dan beberapa jalan tak bisa dilewati," ujar Sheriff Butte County Kory Honea. Ia pun menyatakan butuh beberapa pekan untuk para pengungsi bisa kembali ke rumah mereka.

Kebakaran hebat melanda sebagian wilayah di bagian barat AS. Negara bagian California menjadi yang terparah dengan lebih dari 3,3 juta hektar wilayah terbakar. Kebakaran juga tercatat telah menghancurkan lebih dari 4.000 bangunan.

 

 

AS Tersinggung China Balas Batasi Gerak-gerik Diplomat

Amerika Serikat menyebut keputusan China untuk memberlakukan pembatasan kepada semua diplomat AS sebagai sebuah "eskalasi".

Dilansir AFP, Senin (14/9), AS mengatakan China telah melangkah lebih jauh dari apa pun yang pernah dilakukannya.

Seorang Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS yang berbicara tanpa menyebut nama mengatakan langkah Beijing adalah sebuah "eskalasi". Dia merujuk pada penargetan perwakilan AS di Hong Kong dan pembatasan terhadap pertemuan warga China dengan AS dalam bentuk "persyaratan pra-pemberitahuan pertemuan baru".

"Saat ini persyaratan pemberitahuan ini (mencakup) termasuk warga Amerika yang tidak berafiliasi dengan pemerintah AS. Kami tidak memiliki persyaratan seperti itu untuk warga RRC (Republik Rakyat China)," katanya.

Perselisihan yang menargetkan misi luar negeri itu awalnya berkobar pada Juli ketika Washington memerintahkan penutupan Kantor Konsulat China di Houston. Hal itu kemudian mendorong China untuk menutup Konsulat AS di Chengdu.

Washington juga telah menjatuhkan sanksi terhadap para pejabat China yang dituduh terlibat persekusi terhadap etnis Uighur dan sebagian besar etnis minoritas Muslim lainnya di wilayah Xinjiang. Penahanan itu turut memicu protes dari kelompok hak asasi manusia secara global.

Bulan lalu, AS memasukkan pejabat China ke dalam daftar hitam. Mereka dituduh telah menekan "protes kebebasan dan demokrasi di Hong Kong", setelah penerapan Undang-Undang Keamanan Nasional di wilayah bekas kolonial Inggris itu.

Langkah tersebut mendorong China mengeluarkan sanksi tersendiri terhadap beberapa tokoh AS.

Pada Jumat, China mengumumkan "pembatasan timbal balik" terhadap diplomat AS, hanya beberapa hari setelah Washington mengumumkan pembatasan baru terhadap staf yang bekerja untuk misi luar negeri China.

China mengatakan bahwa tindakan balasan yang tidak ditentukan itu akan berlaku untuk semua staf kedutaan dan konsulat AS, termasuk konsulat jenderal di Hong Kong beserta personelnya. Beijing menyebut langkah itu sebagai "tanggapan yang sah dan perlu".

 

 

 

 

 

 

 

Uni Eropa dan China sepakati perjanjian perlindungan pangan ekspor

Uni Eropa dan China menandatangani sebuah kesepakatan, Senin, terkait perlindungan bagi produk pangan ekspor, mulai dari keju feta hingga pasta cabai Pixian, menjelang diskusi perdagangan, perubahan iklim, dan hak asasi manusia oleh kedua belah pihak.

Keduanya akan menghormati daftar 100 makanan-minuman regional Eropa, juga 100 makanan-minuman China, misalnya China yang hanya akan mengizinkan sampanye dari wilayah Prancis sebagai minuman fermentasi anggur.

Kesepakatan ini akan diperluas juga produk cava--minuman anggur dari Spanyol, wiski Irlandia, keju feta Yunani dan ham kering dari Parma Italia, juga pasta cabai Pixian, teh putih Anji, dan beras Panjin dari China.

China adalah pasar ketiga terbesar bagi produk agrikultur Uni Eropa dan produk makanan pada 2019, dengan penjualan sebesar 14,5 miliar euro (setara Rp257 triliun).

Perjanjian baru ini menjadi keberhasilan dagang bagi Eropa, selagi produsen Amerika Serikat, Australia, atau Selandia Baru tidak akan lagi dapat menggunakan produk dalam daftar tersebut untuk ekspor ke China, meskipun ada periode transisi untuk sejumlah produk keju.

Sementara itu, Presiden China Xi Jinping dan Kanselir Jerman Angela Merkel serta pimpinan eksekutif dan ketua Uni Eropa akan menggelar perbincangan mengenai perpajakan dalam pertemuan yang semestinya telah digelar di Leipzig, Jerman, dengan kehadiran para pemimpin negara Uni Eropa.

Sikap Eropa mengeras terhadap China atas perkara wabah virus corona, yang diyakini berasal dari China, juga soal undang-undang keamanan nasional di Hong Kong--yang dikritik karena dianggap merusak hak dasar masyarakatnya.

Di sisi lain, Uni Eropa menyasar komitmen yang lebih kuat dari China mengenai perubahan iklim, mengingat China merupakan penyumbang polusi terbesar dunia.

Kedua belah pihak juga tengah berupaya untuk mengamankan sebuah perjanjian investasi hingga akhir tahun ini, untuk memberikan akses luas bagi negara Eropa pada pasar China serta untuk mencegah Uni Eropa meningkatkan pertahanan perdagangan.