• Blog
  • Dolar AS di kisaran paruh bawah 106 yen pada awal perdagangan di Tokyo

Dolar AS di kisaran paruh bawah 106 yen pada awal perdagangan di Tokyo

News Forex, Index &  Komoditi

( Senin,  14  September 2020 )

Ahli virologi China klaim punya buksi virus Covid-19 dibuat di laboratorium Wuhan

Seorang ahli virologi China membuat pengakuan yang bombastis. Ahli virologi yang bernama Dr. Li-Meng Yan mengatakan, dia memiliki bukti ilmiah untuk membuktikan Covid-19 adalah buatan manusia di laboratorium di China. Melansir New York Post, selama ini dia dilaporkan bersembunyi karena takut akan keselamatannya.

Yan, mengeluarkan pernyataan tersebut pada hari Jumat selama wawancara di acara bincang-bincang di Inggris "Loose Woman".

Ketika ditanya dari mana asal virus mematikan yang telah membunuh lebih dari 900.000 di seluruh dunia, Yan yang berbicara melalui obrolan video dari lokasi rahasia menjawab: "Virus itu berasal dari laboratorium di Wuhan dan laboratorium tersebut dikendalikan oleh pemerintah China.”

Yan bersikeras bahwa laporan luas pada tahun lalu yang mengatakan virus berasal dari pasar basah di Wuhan, China, bertujuan untuk menyamarkan isu.

"Hal pertama adalah pasar (daging) di Wuhan ... adalah penyamaran isu dan virus ini bukan dari alam," kata Yan seperti yang dikutip dari New York Post.

Ahli virologi ini sebelumnya menuduh Beijing berbohong tentang virus pembunuh dan terlibat dalam menutup-nutupi pekerjaannya secara ekstensif.

Dia mengatakan bahwa mantan pengawasnya di Sekolah Kesehatan Masyarakat Hong Kong, sebuah laboratorium rujukan untuk Organisasi Kesehatan Dunia, membungkamnya ketika dia mengeluarkan peringatan tentang penularan dari manusia ke manusia pada Desember tahun lalu.

Pada bulan April, Yan dilaporkan melarikan diri dari Hong Kong ke Amerika untuk meningkatkan kesadaran tentang pandemi.

Sekarang, dia berencana untuk merilis bukti ilmiah untuk membuktikan bahwa virus itu dibuat di dalam laboratorium di Wuhan.

“Urutan genom seperti sidik jari manusia. Jadi berdasarkan ini Anda dapat mengidentifikasi hal-hal ini. Saya menggunakan bukti ... untuk memberi tahu orang-orang mengapa ini datang dari laboratorium di China, mengapa hanya mereka bisa yang membuatnya," jelasnya.

Yan menambahkan, "Siapa pun, meskipun Anda tidak memiliki pengetahuan biologi, Anda dapat membacanya, dan Anda dapat memeriksa serta mengidentifikasi dan memverifikasi sendiri."

“Ini yang paling penting bagi kami untuk mengetahui asal-usul virus. Jika tidak kita tidak bisa mengatasinya - itu akan mengancam nyawa semua orang,” tambahnya.

Dia berkata dia akan keluar ke hadapan publik sekarang karena jika dia tidak mengatakan yang sebenarnya kepada dunia, dia akan menyesal.

Yan juga mengklaim bahwa sebelum melarikan diri dari China, informasinya dihapus dari database pemerintah. "Mereka menghapus semua informasi tentang saya," jelasnya.

Yuan Zhiming, direktur Institut Virologi Wuhan, sebelumnya membantah laporan bahwa bug itu secara tidak sengaja menyebar dari fasilitasnya.

“Tidak mungkin virus ini berasal dari kami,” kata Zhiming kepada media pemerintah pada bulan April.

 

 

 

 

Dolar AS di kisaran paruh bawah 106 yen pada awal perdagangan di Tokyo

Kurs dolar AS berpindah tangan di kisaran paruh bawah 106 yen dalam transaksi awal di Tokyo pada Senin pagi, sedikit berubah dibandingkan level akhir pekan lalu di perdagangan New York.

Saat pasar dibuka di Tokyo, dolar AS dikutip pada 106,15-16 yen dibandingkan dengan 106,10-20 yen di New York dan 106,23-24 yen di Tokyo pada perdagangan Jumat (11/9/2020) pukul 17.00 waktu setempat.

Euro, sementara itu, diambil pada 1,1841-1841 dolar AS dan 125,68-69 yen terhadap 1,1841-1851 dolar AS dan 125,70-80 yen di New York, serta 1,1833-1835 dolar AS dan 125,70-74 yen pada perdagangan Jumat sore (11/9/2020) di Tokyo.

 

 

 

 

 

Yuan "rebound" 28 basis poin menjadi 6,8361 terhadap dolar AS

Kurs tengah yuan China menguat 28 basis poin menjadi 6,8361 terhadap dolar AS pada Senin, rebound setelah melemah 58 basis poin akhir pekan lalu, menurut Sistem Perdagangan Valuta Asing China (CFETS).

Di pasar spot valuta asing China, yuan diperbolehkan naik atau turun sebesar dua persen dari tingkat paritas tengahnya setiap hari perdagangan.

Kurs tengah yuan terhadap dolar AS didasarkan pada rata-rata tertimbang harga yang ditawarkan oleh pelaku pasar sebelum pembukaan pasar uang antarbank pada setiap hari kerja.

 

 

 

 

 

 

Saham Hong Kong dibuka lebih tinggi, indeks HSI terkerek 0,27 persen

Saham-saham Hong Kong dibuka lebih tinggi pada Senin pagi, setelah akhir pekan lalu menghentikan penurunan tiga hari berturut-turut, dengan Indeks Hang Seng (HSI) terkerek 0,27 persen atau 65,72 poin, menjadi 24.569,03 poin.

Indeks Hang Seng menguat 0,78 persen atau 189,77 poin menjadi 24.503,31 poin pada penutupan perdagangan Jumat (11/9/2020), dengan nilai transaksi mencapai 96,05 miliar dolar Hong Kong (sekitar 12,39 miliar dolar AS).

 

 

 

 

 

 

Saham Tokyo dibuka naik dipicu harapan keberlanjutan kebijakan ekonomi

Saham-saham Tokyo dibuka lebih tinggi pada perdagangan Senin pagi, memperpanjang tren kenaikan akhir pekan lalu karena ekspektasi kelanjutan kebijakan ekonomi pemerintah oleh pemimpin baru Jepang yang akan dipilih hari ini membuat suasana pasar tenang.

Pada pukul 09.15 waktu setempat, indeks acuan Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo (TSE) terangkat 146,24 poin atau 0,62 persen, dari penutupan Jumat (11/9/2020), menjadi diperdagangkan di 23.552,73 poin. Akhir pekan lalu, indeks Nikkei bertambah 171,02 poin atau 0,74 persen menjadi 23.406,49 poin.

Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas dari seluruh saham papan utama di pasar Tokyo bertambah 11,62 poin atau 0,71 persen, menjadi diperdagangkan pada 1.648,26 poin. Indeks Topix naik 11,78 poin atau 0,72 persen menjadi 1.636,64 poin pada penutupan perdagangan Jumat (11/9/2020).

Saham-saham perusahaan yang terkait dengan pulp dan kertas, asuransi serta transportasi udara membukukan keuntungan paling banyak pada menit-menit pembukaan setelah bel perdagangan pagi.

 

 

Serang balik, China sebut AS adalah ancaman terbesar bagi perdamaian dunia

China merespons dengan keras laporan pertahanan Pentagon awal bulan lalu yang mengupas postur pertahanan China. Kini Pihak Beijing menyebut AS adalah ancaman terbesar bagi perdamaian dunia.

Kementerian Pertahanan China pada hari Minggu (13/9) mengecam laporan tahunan Pentagon tentang detail militer China. Dalam laporan itu, Pentagon menyebut China memiliki implikasi serius bagi kepentingan nasional AS dan keamanan tatanan internasional.

Juru bicara Kementerian Pertahanan China Kolonel Wu Qian menyebut laporan tersebut sebagai sebuah distorsi yang fatal dari tujuan utama China, Tentara Pembebasan Rakyat, dan 1,4 miliar rakyat China.

"Bukti selama bertahun-tahun telah menunjukkan bahwa AS yang menjadi pusat kerusuhan regional, pelanggar tatanan internasional dan perusak perdamaian dunia," ungkap Qian kepada AP, dikutip dari Japan Times.

Bagi Qian, tindakan AS di Irak, Suriah, hingga Libya selam dua dekade terakhir sudah cukup menunjukkan bagaimana peran AS. Belum lagi, semua tindakannya telah mengakibatkan 800.000 kematian dan jutaan orang lainnya mengungsi.

Qian menyayangkan tindakan AS, melalui Pentagon, yang tidak merefleksikan dirinya sendiri terkait perannya pada perdamaian dunia dan justru menuduh China sebagai sebuah ancaman.

"Lihatlah pertahanan kami secara objektif dan rasional, berhenti membuat pernyataan palsu, segera ambil tindakan nyata untuk menjaga perkembangan yang sehat dari hubungan bilateral di bidang militer," kritik Qian pada AS.

Qian meyakinkan bahwa China memiliki tujuan strateis yang sedang diupayakan, yang jika tercapai, akan memiliki implikasi serius bagi kepentingan nasional AS dan keamanan internasional.

 

 

Wall Street ditutup beragam dengan Indeks Dow Jones naik 131,06 poin

Wall Street bervariasi pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), dengan Nasdaq tergelincir dan S&P 500 sedikit menguat karena keuntungan awal di teknologi memudar, dengan masing-masing indeks utama membukukan penurunan mingguan kedua berturut-turut.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 131,06 poin atau 0,48 persen menjadi 27.665,64 poin. Indeks S&P 500 menguat tipis 1,78 poin atau 0,05 persen menjadi berakhir di 3.340,97 poin. Indeks Komposit Nasdaq terpangkas 66,05 poin atau 0,6 persen menjadi ditutup pada 10.853,55 poin.

Tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 ditutup lebih tinggi, dengan industri dan material masing-masing terangkat 1,39 persen dan 1,31 persen, memimpin kenaikan. Sedangkan sektor teknologi merosot 0,75 persen, merupakan kelompok dengan kinerja terburuk.

Untuk minggu ini Indeks Dow Jones turun 1,66 persen, Indeks S&P kehilangan 2,51 persen, dan Indeks Nasdaq anjlok 4,06 persen.

Sektor teknologi membukukan penurunan kelima dalam enam hari dan persentase penurunan mingguan terbesar sejak Maret, karena investor menjual saham-saham perusahaan seperti Apple Inc yang telah mempelopori reli dramatis dari posisi terendah didorong oleh Virus Corona pada Maret. Saham Apple turun 1,31 persen.

Saham Oracle Corp juga melemah bersama dengan sektor teknologi lainnya setelah mencapai rekor tertinggi 61,86 dolar dan ditutup turun 0,75 persen. Laba perusahaan layanan cloud ini mengalahkan perkiraan, mengisyaratkan pemulihan dalam pengeluaran pelangganya karena permintaan yang lebih tinggi didorong oleh tren bekerja di rumah.

Jalur dengan resistensi paling rendah untuk saham mudah berubah dan mungkin sedikit lebih rendah dari sini, kata Kepala Strategi Pasar National Securities, Art Hogan, di New York.

"Hanya karena kita memotong 10 atau 11 persen dari Nasdaq dalam tiga hari, tidak berarti itu adalah akhir dari kegugupan dan seperti itulah kita saat ini," kata Hogan.

Saham-saham pertumbuhan,yang mencakup banyak nama teknologi bersama dengan lainnya yang telah diuntungkan dari penguncian yang diberlakukan pemerintah seperti Amazon.com Inc, jatuh 1,86 persen.

Banyak investor melihat kemerosotan baru-baru ini sebagai konsolidasi yang sehat setelah reli lima bulan yang menakjubkan di S&P 500, yang didukung oleh sekelompok kecil perusahaan teknologi kelas berat dan sejumlah besar stimulus fiskal dan moneter.

Sementara itu data terbaru menunjukkan harga konsumen AS meningkat dengan kokoh pada Agustus, tetapi kelambanan pasar tenaga kerja kemungkinan akan membatasi inflasi ketika ekonomi pulih dari resesi COVID-19.

Penerima manfaat lain dari penguncian Virus Corona, pembuat sepeda olahraga Peloton Interactive Inc, menyerah keuntungan awal dan ditutup anjlok 4,23 persen, bahkan ketika perusahaan melaporkan pendapatan kuartalan yang mengalahkan perkiraan karena lonjakan pelanggan dan peningkatan permintaan untuk produk kebugaran selama pandemi.

 

 

 

 

 

 

 

Situasi COVID-19 AS dan lambatnya penanganan Pemerintahan Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump melihat karyawan di jalur perakitan membuat masker pelindung untuk penyakit virus korona (COVID-19) dalam sebuah kunjungan ke fasilitas manufaktur Honeywell di Phoenix, Arizona, Amerika Serikat, Selasa (5/5/2020). REUTERS/Tom Brenner/aww/cfo.

Pedoman (baru) pengujian COVID-19 merupakan perubahan 180 derajat yang sembrono, tidak berdasarkan sains dan berpotensi merusak reputasi (CDC) dalam jangka panjang

Jakarta (ANTARA) -

Amerika Serikat adalah negara yang paling parah terpukul oleh pandemi virus corona jenis baru atau yang dikenal COVID-19.

Melansir data dari laman Worldometers, hingga Minggu (13/9/2020) siang, negeri adidaya Amerika Serikat menempati posisi pertama dengan lebih dari 6,6 juta kasus virus yang dikonfirmasi dan lebih dari 198 ribu kematian.

Lonjakan kasus virus corona di Amerika Serikat tidak terlepas oleh kebijakan Presiden Donald Trump yang lambat dalam mengambil langkah-langkah signifikan untuk mengatasi penyebaran virus corona.

Sebuah jajak pendapat yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian Pew terhadap 4.917 orang dewasa Amerika pada 7-12 April menunjukkan, sebanyak 65 persen warga AS mengatakan Trump lamban dalam merespon di saat kasus COVID-19 pertama kali dilaporkan di negara lain, menurut laporan AFP.

Sementara itu, sebanyak 52 persen warga mengatakan komentar publik Trump mengenai wabah COVID-19 mendorong pemikiran bahwa situasi yang ada lebih baik dari yang sebenarnya terjadi.

Kemudian, sebanyak 39 persen warga mengatakan bahwa Trump mempresentasikan situasi seperti apa adanya.

Sedangkan 8 persen warga menyebut Trump membuat situasi tampak lebih buruk daripada kenyataannya.

Survei itu juga melaporkan bahwa 73 persen orang dewasa AS mengatakan hal buruk masih akan terjadi terhadap Amerika Serikat.

Selain respon Trump yang santai menanggapi wabah virus corona, orang nomor satu di AS itu juga tidak mendengar peringatan dari pakar kesehatan.

Salah satu contohnya adalah saat Trump tidak dapat menerima peringatan yang disampaikan pakar penyakit menular Anthony Fauci mengenai bahaya pembukaan kembali aktivitas ekonomi maupun sekolah yang terlalu cepat.

Fauci, yang memimpin Institut Nasional Penyakit Menular dan Alergi, juga memperingatkan pencabutan karantina wilayah secara dini dapat menyebabkan wabah tambahan dari virus corona yang mematikan.

Trump, sebaliknya, mengatakan satu-satunya hal yang bisa diterimanya adalah masukan mengenai profesor atau guru "di atas usia tertentu" yang tidak perlu mengajar. "Saya pikir mereka harus beristirahat selama beberapa minggu," kata Trump, seperti dikutip Reuters.

Rekaman wawancara dengan jurnalis senior Bob Woodward yang dikeluarkan pada Rabu, (9/9), mengungkapkan bahwa Trump meremehkan bahaya virus corona agar masyarakat tidak panik.

Meskipun demikian, ia mengetahui bahwa virus tersebut lebih mematikan dibandingkan flu biasa sebelum COVID-19 melanda Amerika Serikat.

Saya meremehkan, karena saya tidak ingin membuat panik, ujar Trump.

Maria Velez dari Orlando, Florida, memeluk nisan putranya Stephen di Ohio Western Reserve National Cemetery pada Memorial Day, ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di Seville, Ohio, Amerika Serikat, Senin (25/5/2020).
Sementara itu, sejumlah negara bagian besar di Amerika Serikat mengabaikan seruan baru yang dikeluarkan pejabat kesehatan federal agar pengujian COVID-19 dikurangi pada sebagian orang yang terpapar virus corona.
Negara-negara bagian itu antara lain Arizona, California, Connecticut, Florida, Illinois, Texas, New Jersey, dan New York.
Kedelapan negara bagian tersebut turut bergabung dengan para pakar kesehatan masyarakat dalam mengkritik pemerintahan President Donald Trump mengenai penanganan virus corona.
Negara-negara bagian tersebut berencana untuk terus melakukan tes pada orang-orang tanpa gejala yang telah terpapar COVID-19.
Mereka tidak mengikuti panduan baru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) yang menyatakan bahwa tes semacam itu mungkin tidak diperlukan.
Panduan yang dianut Texas saat ini merekomendasikan pengujian untuk semua orang yang telah melakukan kontak dekat dengan orang yang dikonfirmasi mengidap virus karena langkah itu memungkinkan untuk identifikasi kasus secara dini di antara orang-orang yang berisiko lebih tinggi tertular, ujar juru bicara Departemen Layanan Kesehatan Negara Bagian Texas dalam pernyataan, seperti dikutip Reuters.
California dan New York membuat pernyataan serupa. Departemen Kesehatan Florida juga mengatakan pengujian pada orang tanpa gejala terus berlanjut sementara rekomendasi CDC yang baru sedang dievaluasi.
CDC pekan ini mengatakan, orang-orang yang terpapar COVID-19, tetapi tidak bergejala, mungkin tidak perlu diuji. Pernyataan itu mengejutkan kalangan dokter dan politisi serta memicu tuduhan bahwa pedoman itu bermotif politik.
Sementara itu, Gubernur New York Andrew Cuomo mengatakan, negara bagian New York tidak akan mematuhi pedoman baru tersebut. Ia juga menantang pernyataan bahwa perubahan itu tidak bermuatan politik.
"Pedoman (baru) pengujian COVID-19 merupakan perubahan 180 derajat yang sembrono, tidak berdasarkan sains dan berpotensi merusak reputasi (CDC) dalam jangka panjang," ujar Cuomo dalam pernyataan bersama gubernur New Jersey dan Connecticut, yang juga menyatakan negara bagian tidak akan mengikuti panduan CDC.
Trump Yang Lamban
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjajaran Teuku Rezasyah mengatakan lambannya penanganan COVID-19 di Amerika Serikat disebabkan oleh dua faktor, yaitu kepemimpinan Donald Trump yang sangat percaya diri dan struktur masyarakat Amerika Serikat yang sedang goyah.
Perihal Donald Trump, lanjut dia, fokus kepemimpinannya terbelah, antara pemilihan Presiden yang semakin dekat, tingginya krisis keamanan dan ketertiban masyarakat di dalam negeri, serta keyakinannya jika sistem kesehatan Amerika Serikat mampu secara otomatis menanggulangi COVID-19 ini dengan baik.
Teuku mengatakan Donald Trump mulai goyah saat Dirjen WHO mengumumkan sudah terjadinya Pandemi pada bulan Maret, sehingga Trump terlambat untuk secara sistematis menggerakkan seluruh struktur sistem kesehatan negerinya.
Padahal, sistem kesehatan Amerika Serikat termasuk yang terbaik di dunia.
  Seorang wanita memakai masker saat berjalan melewati air mancur ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), di San Diego, California, Amerika Serikat, Kamis (18/6/2020). Sepanjang penanggulangan COVID-19 itu sendiri, Trump terlihat enggan menunjukkan keadaan negerinya yang sedang dalam keadaan gawat.
Namun terkesan menonjolkan kepemimpinan dirinya, dan menuduh WHO dan China sebagai pihak yang bertanggungjawab, dan karena itu harus diperiksa oleh dunia, ujar Teuku.
Trump sebenarnya dapat menggunakan banyak momentum, seperti mendatangi rumah sakit, fasilitas kesehatan, dan barak-barak kesehatan prajurit di berbagai lokasi terpencil, dalam banyak negara bagian. Tapi sayang, tidak dilakukannya.
Walaupun Trump sudah berkoordinasi dengan banyak pimpinan dunia, antara lain Presiden Joko Widido, namun korban di dalam negeri Amerika Serikat sudah terlanjur meluas cepat.
Mengenai masyarakat Amerika Serikat, Teuku mengungkapkan masyarakat AS cenderung senang beraktifitas dalam jumlah besar di lingkungan terbuka dan tertutup.
Mereka sangat percaya diri, jika COVID-19 tidak segawat yang diberitakan media massa.
Sosialisasi COVID-19 pada masyarakat ini tenggelam oleh maraknya pemberitaan soal krisis keamanan dan ketertiban masyarakat di dalam negeri, krisis dalam hubungan antar-ras akibat kesalahan prosedur aparat kepolisian, dan pelemahan ekonomi nasional yang berdampak pada menurunnya kualitas hidup mereka.

 

 

Batal menjual TikTok, ByteDance memilih bermitra dengan Oracle Corp

ByteDance membatalkan penjualan TikTok di Amerika Serikat pada hari Minggu untuk mengejar kemitraan dengan Oracle Corp yang diharapkan akan menghindarkannya dari larangan AS. Hal tersebut disampaikan orang-orang yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters.

Perusahaan yang berbasis di Beijing telah dalam pembicaraan untuk mendivestasi bisnis TikTok AS ke Oracle atau konsorsium yang dipimpin oleh Microsoft Corp setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan penjualan bulan lalu dan mengancam akan menutup aplikasi video pendek populer di Amerika Serikat.

Sementara TikTok terkenal karena video anodyne orang-orang yang menari yang menjadi viral di kalangan remaja, pejabat AS telah menyatakan keprihatinan bahwa informasi tentang pengguna dapat diteruskan ke pemerintah komunis China.

Negosiasi penjualan diubah oleh pembaruan China atas aturan kontrol ekspornya akhir bulan lalu yang memberikan suara atas transfer algoritma TikTok ke pembeli asing. Reuters melaporkan pekan lalu bahwa pemerintah China lebih suka menutup TikTok di Amerika Serikat daripada membiarkannya menjadi bagian dari penjualan paksa.

Berdasarkan kesepakatan yang diusulkan, Oracle akan menjadi mitra teknologi ByteDance dan akan mengambil alih pengelolaan data pengguna TikTok di AS, kata sumber tersebut. Oracle juga sedang bernegosiasi untuk mengambil saham di aset TikTok AS, sumber tersebut menambahkan.

Tidak jelas apakah Trump, yang menginginkan perusahaan teknologi AS memiliki sebagian besar TikTok di Amerika Serikat, akan menyetujui kesepakatan yang diusulkan. Komite Investasi Asing di Amerika Serikat (CFIUS), yang meninjau kesepakatan untuk potensi risiko keamanan nasional, mengawasi pembicaraan antara ByteDance dan Oracle.

ByteDance dan Oracle tidak segera menanggapi permintaan komentar. Gedung Putih menolak berkomentar. Pimpinan Oracle Larry Ellison adalah salah satu dari sedikit pendukung Trump di dunia teknologi. Microsoft mengatakan sebelumnya pada hari Minggu telah diberitahu oleh ByteDance bahwa mereka tidak akan menjual operasi TikTok di AS.

 

 

Kembali pamer kekuatan, AS kirim pesawat bomber ke Laut Siberia Timur

Angkatan Udara AS mengirim 3 unit pesawat bomber jenis B-1 ke wilayah perairan Laut Siberia Timur, dekat wilayah Rusia.

Pada hari Jumat (11/9), pihak militer AS mengklaim bahwa manuver tersebut bermaksud untuk mendemonstrasikan kemampuan AS dalam mendukung sekutu, seperti dikutip dari Military Times.

Sayangnya, pihak Rusia menganggap pengiriman 3 unit pesawat tempur AS itu sebagai sebuah upaya permusuhan dan provokatif.

Penerbangan 3 unit B-1 Lancer pada Jumat lalu merupakan yang kedua kalinya AS mengirimkan pesawat tempur ke sekitar wilayah Rusia. Satu hari sebelumnya, AS juga mengirim 3 unit pesawat pembom B-52 dari pangkalan militer Inggris ke wilayah udara Ukraina, cukup dekat dengan sisi barat daya Rusia.

Tiga unit Lancer pada hari Jumat diterbangkan dari pangkalan militer cadangan di Texas. Setelah berhasil sampai ke Siberia, ketiga unit pesawat tersebut mendarat di pangkalan militer AS di Alaska.

"Ketiga Lancer tersebut, mendemonstrasikan bagaimana pembom strategis AS dapat mendukung misi apapun, di mana pun di seluruh dunia, dalam waktu singkat," ungkap U.S. European Command (EUCOM), dalam pernyataan resminya seperti dikutip oleh Military Times.

EUCOM mengatakan, misi tersebut menggambarkan dengan jelas kemampuan Angkatan Udara AS untuk menjalankan berbagai misi dan mendukung negara aliansinya dengan cepat.

Menuai kecaman Rusia

Pejabat militer Rusia pada hari Jumat lalu mengatakan bahwa jumlah penerbangan pesawat tempur AS dan NATO di sekitar perbatasan Rusia terus meningkat pada tahun ini.

Kepala Angkatan Udara Rusia, Kolonel Jenderal Sergei Surovikin, mengatakan bahwa pada bulan Agustus saja pesawat tempur Rusia sudah 27 kali mencegat pesawat tempur milik AS dan NATO di atas Laut Baltik, Barents, Okhotsk, dan Laut Hitam.

Surovikin menilai bahwa penerbangan pesawat tempur AS akhir-akhir ini bertujuan untuk melatih sejumlah manuver ofensif yang cukup membuat Rusia gerah.

"Kami melihat pelatihan tempur awak udara (AS) di dekat perbatasan Rusia sebagai hal yang menuai permusuhan dan provikatif," ungkap Surovikin.

 

 

Israel akan terapkan lockdown nasional akibat lonjakan tinggi kasus corona

Israel akan memberlakukan lockdown nasional selama tiga minggu mulai Jumat pekan ini untuk menahan penyebaran virus corona. Hal itu diungkapkan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada hari Minggu (13/9/2020).

Melansir Reuters, selama dilakukan lockdown, yang terjadi bersamaan dengan musim liburan warga Yahudi, warga Israel harus tinggal dalam jarak 500 meter dari rumah mereka. Akan tetapi, mereka dapat melakukan perjalanan ke tempat kerja yang akan diizinkan untuk beroperasi secara terbatas.

Sekolah dan pusat perbelanjaan akan ditutup tetapi supermarket dan apotek tetap buka. Sektor publik akan beroperasi dengan lebih sedikit staf, tetapi kantor dan bisnis non-pemerintah tidak perlu tutup, selama mereka tidak menerima pelanggan.

Pertemuan di dalam ruangan dibatasi untuk 10 orang dan tidak lebih dari 20 orang di luar ruangan.

"Saya tahu langkah-langkah itu akan menimbulkan harga yang berat bagi kita semua," kata Netanyahu dalam pidato yang disiarkan televisi. “Ini bukan jenis liburan yang biasa kita lakukan. Dan kami pasti tidak akan bisa merayakannya dengan keluarga besar kita."

Kementerian Keuangan mengatakan kebijakan lockdown akan merugikan ekonomi Israel yang kini sudah tergelincir ke dalam jurang resesi akibat virus. Diperkirakan, kerugiannya akan mencapai 6,5 miliar shekel (US$ 1,88 miliar).

Netanyahu, yang telah menghadapi kritik keras atas penanganannya terhadap krisis virus korona, mengatakan dia menginstruksikan menteri keuangannya untuk membuat paket ekonomi baru untuk membantu bisnis yang dirugikan oleh kebijakan lockdown.

Israel sebelumnya juga melakukan penguncian yang lebih ketat pada bulan April ketika virus pertama terdeteksi di negara tersebut. Setelah itu, kasus harian turun menjadi dua digit di antara populasi sembilan juta orang.

Akan tetapi, ketika lockdown dibuka kembali, jumlah infeksi harian melonjak, melewati 4.000 minggu lalu. Pada hari Sabtu, 2.715 kasus baru dilaporkan. Sejak wabah dimulai, 1.108 orang telah meninggal di Israel.

 

 

Persaingan AS dan China di tengah badai COVID-19

Dunia dilanda wabah COVID-19, yakni penyakit yang disebabkan infeksi virus corona baru yang diyakini bermula pada akhir 2019 di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China.

Sejak saat itu penyebaran wabah COVID-19 telah meluas hingga menjadi pandemi global yang membuat negara-negara di dunia sibuk berupaya menekan jumlah kasus penyakit tersebut dan angka kematian.

Pada awal masa kepanikan terkait penularan luas COVID-19, Pemerintah Amerika Serikat (AS) merupakan salah satu dari sejumlah pemerintah negara yang menyalahkan China atas penyebaran virus corona baru.

Presiden Donald Trump mengatakan China seharusnya bisa menghentikan COVID-19 sebelum virus corona jenis baru itu menyebar ke seluruh dunia.

"Kami yakin bahwa dulu sebenarnya bisa dihentikan di sumbernya. Seharusnya bisa cepat dihentikan dan tidak menyebar ke seluruh dunia," kata Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 27 April lalu.

AS sangat yakin bahwa Beijing tidak segera melaporkan kemunculan wabah dan menutup-nutupi potensi betapa berbahayanya COVID-19.

AS bersama Australia, negara Uni Eropa dan beberapa negara lainnya kemudian mendorong pelaksanaan penyelidikan internasional atas pandemi virus corona baru.

Trump juga telah menyampaikan bahwa pemerintahannya sedang menjalankan "penyelidikan serius" terhadap apa yang telah terjadi.

"Kami sedang melakukan penyelidikan yang sangat serius. Kami tidak suka dengan China. Ada banyak cara untuk membuat mereka bertanggung jawab," ujarnya.

Trump sejak masa awal pandemi terus melontarkan kritik dan kecaman mengenai cara China menangani wabah virus corona baru.

Peneliti meneliti kandidat vaksin COVID-19, sebuah tambalan seukuran ujung jari dengan jarum mikroskopis yang dapat larut di Universitas Pittsburgh, Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, Sabtu (28/3/2020). ANTARA FOTO/UPMC/Handout via REUTERS/wsj.

Penanganan dan kepemimpinan
Terlepas dari kritik Trump terhadap China dalam menangani COVID-19, Presiden Amerika Serikat itu pun tidak bisa dibilang berhasil dalam penanganan wabah corona di dalam negeri.
Faktanya, Amerika Serikat sekarang menjadi negara pertama di dunia yang paling terdampak COVID-19 dengan jumlah kasus infeksi corona mencapai lebih dari enam juta dan mencatat sekitar 193.000 kematian.
Selain itu, AS di bawah pemerintahan Trump tampaknya mengalami penurunan kemampuan kepemimpinan dunia (global leadership) terutama dalam upaya kerja sama global untuk mengatasi pandemi.
Hal itu ditunjukkan dengan penghentian pendanaan dan pemutusan hubungan AS dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) setelah Trump menuduh organisasi PBB itu menjadi "boneka" China.
Sementara itu, China menentang tuduhan dari Amerika Serikat yang mengatakan bahwa kegagalan awal memungkinkan pandemi virus corona menyebar lebih cepat.
Presiden Xi Jinping menekankan bahwa China bertindak secara terbuka dan transparan, dan mengambil tindakan untuk menyelamatkan nyawa.
"China telah membantu menyelamatkan nyawa puluhan juta orang di seluruh dunia dengan tindakan praktisnya, menunjukkan keinginan tulus China untuk membangun masa depan dan komunitas bersama untuk kemanusiaan," ucap Xi.
Dia mengatakan China adalah ekonomi besar pertama yang kembali tumbuh selama pandemi, sebuah fakta yang dia katakan menunjukkan ketahanan dan kekuatan negara itu.
Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran Teuku Rezasyah berpendapat bahwa pemerintah Amerika Serikat tampaknya kewalahan dalam menangani wabah virus corona baru di dalam negeri.
"Pemerintah Amerika Serikat tampaknya bingung menanganinya apalagi masyarakat Amerika susah diatur dan kepaduan sosial di negara itu terbatas," kata Reza.
"Tidak seperti di China yang setelah menyatakan lockdown dalam waktu sebulan, dan grafik penurunan kasus COVID-19 terlihat jelas," lanjutnya.
Dia menilai bahwa masa penanganan pandemi COVID-19 menjadi momentum yang menguntungkan bagi China dalam menunjukkan kepemimpinan globalnya.
"Momentumnya menguntungkan China di mana global leadership AS sedang goyang, AS sedang bingung sekarang karena ekonominya menurun. AS juga memutuskan hubungan dengan WHO dengan mengatakan bisa menghemat uang yang disetor untuk WHO padahal itu organisasi PBB," ujar Reza.
"Ini menunjukkan bahwa AS punya krisis ekonomi tetapi sulit mengakuinya, dan dunia bisa melihat bahwa momentum ini digunakan oleh China dengan sangat baik," ucapnya.
China menjalankan diplomasi kesehatan di kancah internasional dengan pemberian bantuan alat-alat kesehatan ke berbagai negara, terutama selama masa awal pandemi, serta banyak menjalin perjanjian komprehensif strategis yang berdampak besar.
Beijing juga berjanji menambah sumbangan dana untuk mendukung program penanggulangan dan pengendalian COVID-19 oleh WHO.
Perlombaan vaksin
Selain upaya penanganan, saat ini Amerika Serikat dan China bersama sejumlah negara lainnya berlomba-lomba dalam upaya untuk mengembangkan dan menemukan vaksin yang akan dapat mengakhiri pandemi global COVID-19.
Kedua negara banyak melalukan kerja sama dalam pengembangan calon vaksin untuk penangkal virus corona baru.
Misalnya, sembilan pengembang vaksin terkemuka di AS dan Eropa -- Pfizer, GlaxoSmithKline, AstraZeneca, Johnson & Johnson, Merck & Co, Moderna, Novavax, Sanofi dan BioNTech -- bekerja sama dalam perlombaan global untuk menemukan vaksin COVID-19.
Pada saat yang sama, China juga menjalin kerja sama pengembangan vaksin dengan banyak negara, salah satunya Indonesia melalui kerja sama antara Bio Farma dan perusahaan biofarmasi Sinovac.
"AS dan China masing-masing mendapatkan tingkat kepercayaan tinggi dari dunia, dan mereka juga memanfaatkan momentum ini untuk persaingan mereka tersebut," ujar Teuku Rezasyah.
Kedua negara memiliki kepentingan besar untuk menjadi penghasil pertama vaksin penawar virus corona, di mana China sebagai negara yang pertama mendeklarasikan kasus pertama COVID-19 dan AS sebagai negara urutan pertama yang paling terdampak COVID-19.
Dalam upaya menuju penemuan vaksin corona itu pun kedua negara masih terus "bergesekan", di mana Amerika Serikat pada Mei lalu sempat menuding "aktor siber" terkait China berupaya mencuri riset COVID-19.
"Amerika Serikat mengecam upaya para aktor siber dan para kolektor nontradisional yang terkait China untuk mencuri kekayaan intelektual dan data AS soal virus corona," kata Menlu AS Mike Pompeo.
Pernyataan Pompeo mucul sehari setelah FBI (Biro Investigasi Federal) dan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengeluarkan pernyataan bersama untuk meningkatkan kesadaran akan adanya ancaman terhadap penelitian terkait COVID-19 dari pelaku yang terkait dengan China.
Pernyataan itu menyebutkan bahwa FBI sedang menyelidiki pembobolan digital di organisasi AS oleh "aktor siber" terkait China, yang menurut pantauan sedang "berupaya mengidentifikasi dan secara ilegal mencuri kekayaan intelektual berharga dan data kesehatan masyarakat terkait dengan vaksin, pengobatan, dan pengujian dari jaringan dan personel yang berafiliasi dengan penelitian terkait COVID-19."
  Para mahasiswa Wuhan University di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, sudah mengikuti perkuliahan tatap muka mulai Senin (24/8/2020). Wuhan merupakan kota pertama ditemukannya kasus COVID-19. ANTARA/HO-Xinhua/mii/am.
Persaingan hegemoni
Di tengah pandemi global COVID-19 yang masih berlangsung, ketegangan dan persaingan hegemoni antara AS dan China, yang sudah tinggi setelah perang dagang tahun lalu, semakin meningkat tahun ini.
Beijing memang menghadapi kritik di dalam dan luar negeri pada masa awal wabah, dengan beberapa menggambarkan COVID-19 sebagai "Chernobyl China", mengacu pada kecelakaan nuklir 1986 yang menghancurkan kepercayaan pada kemampuan Uni Soviet untuk memerintah.
Namun, ketika infeksi menyebar ke seluruh dunia dan menunjukkan perlambatan di dalam negeri, Beijing menjadi lebih tegas, menolak penyelidikan global tentang asal-usul wabah, dan mengatakan tindakan cepatnya membantu mengulur waktu bagi negara lain untuk bersiap.
Beijing pun telah berusaha untuk fokus pada keberhasilan China dalam mengatasi virus daripada tentang asal-usulnya.
Selanjutnya, beberapa pihak, khususnya AS dan sejumlah negara sekutunya, memandang bahwa China semakin menunjukkan perilaku arogan di kawasan Indo-Pasifik dengan memanfaatkan kesibukan negara-negara dalam menangani pandeminya masing-masing.
China memang telah memperketat cengkramannya di Hong Kong melalui penerapan Undang-Undang Keamanan Nasional yang baru serta meningkatkan tekanan pada Taiwan untuk menerima kedaulatannya atas pulau itu.
Pemimpin Taiwan Tsai Ing-wen pada Selasa (8/9) menyeru pendukung demokrasi untuk mempertahankan diri dari "tindakan agresif" China di Laut China Selatan dan Selat Taiwan yang dinilai sebagai ancaman utama bagi stabilitas regional.
"Militerisasi cepat Laut China Selatan, meningkatnya dan seringnya taktik zona abu-abu di Selat Taiwan dan Laut China Timur, diplomasi koersif yang digunakan terhadap negara dan perusahaan...semuanya membuat kawasan Indo-Pasifik tidak stabil," kata Tsai, tanpa langsung menyebut China.
China, yang mengklaim Taiwan sebagai miliknya, memang telah meningkatkan aktivitas militernya di sekitar pulau itu, serta di Laut China Selatan dan Timur yang disengketakan.
Pemerintah China pada September menyampaikan akan mengadakan lebih banyak latihan militer di sepanjang pantai timur laut dan pantai timurnya. Sebelumnya pada Agustus, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) mengirimkan pasukan lengkap ke wilayah perairan Laut China Selatan dan Selat Taiwan.
Menyikapi berbagai aksi China itu, AS berusaha meredam upaya dominasi China di kawasan, salah satunya dengan meningkatkan dukungan bagi pertahanan Taiwan. Amerika Serikat belum lama ini menyetujui paket peningkatan rudal Taiwan senilai Rp8,9 triliun.
AS tidak menjalin hubungan diplomatik formal dengan Taiwan, namun menjadi pemasok senjata terbesar untuk wilayah itu.
Selain itu, kapal perang AS -- USS Halsey -- pada Agustus singgah sebanyak dua kali di Selat Taiwan di tengah ketegangan hubungan dengan China.
Pemerintah China pun akhir-akhir ini mengeluh tentang misi militer AS yang berulang di wilayah Laut China Selatan.
Terkait dengan persaingan AS-China di masa depan dalam menebar dan menanamkan pengaruhnya secara global, Rezasyah menilai posisi AS saat ini masih unggul.
"AS saat ini masih punya surplus power yang cukup besar tetapi kecenderungannya menurun karena faktor kepemimpinan Donald Trump yang tidak kokoh di dalam negeri. Selain itu, kondisi ekonomi dan rasa percaya diri AS menurun akibat pandemi COVID-19," ungkapnya.
Dia menambahkan, integrasi AS di dalam negeri pun menurun karena sering terjadi konflik rasial, dan pada saat yang sama keadaan politik dalam negeri China stabil dengan ekonomi yang terus naik atau bertahan.
"China berhasil membuktikan bahwa pemerintahannya sangat stabil dengan jaringan diplomatik dan ekonomi globalnya yang sangat menjelajah dunia," ujar Reza.
"Yang terjadi sekarang adalah AS yang selama ini memiliki surplus power itu menurun perlahan sementara China juga naiknya sangat sistematis. Jadi proses (pergeseran kekuasaan) antara kedua negara itu seperti ayunan yang bergerak," lanjutnya.
Menurut dia, dunia sedang melihat Amerika Serikat menggerogoti dirinya sendiri dalam aspek kepemimpinan global, misalnya dengan keputusan Trump yang membuat AS keluar dari berbagai perjanjian internasional -- seperti Perjanjian Paris soal Perubahan Iklim -- serta mengingkari sejumlah perjanjian regional.
"Pada intinya, hegemoni kedua negara memang terjadi, tetapi selisih kekuasaan semakin tipis antara AS dan China. Kalau AS tetap dipegang oleh Trump dimana dia tidak bisa membangun kepaduan dalam negeri dan masih sembarangan memilih tokoh-tokoh untuk bidang polugri dan diplomasi maka itu berbahaya bagi AS," katanya.
"Kalaupun Trump nantinya digantikan oleh Joe Biden, Biden akan perlu waktu untuk membangun kembali basis kekuatan. Ini tidak mudah karena COVID-19 telah merontokkan kekuatan AS," ucap Reza menambahkan.
Akan tetapi, dia juga berpendapat bahwa semerosot apa pun kepemimpinan global AS saat ini, Negeri Paman Sam itu masih akan dipandang lebih baik daripada China oleh negara-negara dunia ketiga karena AS lebih demokratis.
Dia memperkirakan, bila memakai ukuran 100 persen, sekitar 52 persen negara di dunia saat ini akan lebih condong ke AS dan 48 persen condong ke China walaupun China sudah berhasil menciptakan ketergantungan ekonomi banyak negara kepadanya melalui investasi, jaminan ekspor-impor yang baik, serta bantuan dari lembaga penelitian dan ekonomi China.
"Sejelek-jeleknya AS, tetapi dia masih dipandang lebih baik daripada China karena AS demokratis dan sudah lama membina masyarakat dunia lewat prinsip-prinsip demokrasi, tetapi memang sekarang AS sedang sakit," ucapnya.
Bila dua negara kekuatan dunia itu diibaratkan sebagai raksasa maka Amerika Serikat adalah raksasa yang sedang sakit sementara China adalah raksasa yang sedang menguat.