• Blog
  • Wall Street berakhir terkoreksi, aksi jual kembali menyelimuti saham-saham teknologi

Wall Street berakhir terkoreksi, aksi jual kembali menyelimuti saham-saham teknologi

News Forex, Index &  Komoditi

( Jum’at,  11  September 2020 )

Wall Street berakhir terkoreksi, aksi jual kembali menyelimuti saham-saham teknologi

Wall Street ditutup terkoreksi setelah melewati perdagangan berombak pada Kamis (10/9). Dipicu kembalinya aksi jual pada saham-saham teknologi kelas berat dan meningkatnya klaim pengangguran yang mengingatkan masih sulitnya pemulihan ekonomi di masa depan.

Melansir Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 405,89 poin atau 1,45% menjadi 27.534,58, S&P 500 kehilangan 59,77 poin atau 1,76% menjadi 3.339,19, dan Nasdaq Composite turun 221,97 poin atau 1,99% menjadi 10.919,59.

Saham-saham seperti Apple Inc, Microsoft Corp, dan Amazon.com, semuanya turun setidaknya 2,8%.

Saham Tesla Inc naik 1,4%, awalnya membantu membatasi kerugian Nasdaq sebelum penurunan indeks teknologi berat melebar.

Indeks NYSE FANG + TM, yang mencakup saham inti FAANG, turun 1,8%, dan semua 11 sektor S&P 500 diperdagangkan lebih rendah.

Indeks teknologi S&P adalah salah satu pemain yang melemah pada Kamis sore, tersandung 2,28%. Terlepas dari kemunduran baru-baru ini, indeks teknologi naik sekitar 24% pada tahun 2020, jauh mengungguli kenaikan acuan S&P 500 sebesar 3,3% pada periode yang sama.

Beberapa posisi opsi terkait teknologi yang sangat besar dan bullish di Facebook Inc, Adobe Inc dan Netflix Inc sebagian dibatalkan pada hari Kamis, sejalan dengan sentimen yang lebih berhati-hati terhadap nama-nama teknologi, menurut Christopher Murphy, co-head of derivatives strategy di Susquehanna Financial Kelompok.

Banyak pelaku pasar melihat aksi jual sebagai serangan turbulensi awal dari penurunan yang lebih dalam.

Sebelumnya, Wall Street mampu rebound pada hari Rabu dari penurunan tiga hari terbesar mereka sejak Maret, karena investor kembali ke saham-saham yang berfokus pada teknologi yang dianggap terlindung dari penurunan ekonomi saat ini.

Sementara itu, jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran tetap tinggi minggu lalu, data Departemen Tenaga Kerja menunjukkan, karena PHK dan cuti berlangsung di seluruh industri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dolar AS di kisaran paruh bawah 106 yen pada awal perdagangan di Tokyo

Kurs dolar AS diperdagangkan di kisaran paruh bawah 106 yen dalam transaksi awal di Tokyo pada Jumat pagi, relatif tidak berubah dibandingkan dengan level semalam (Kamis) di perdagangan New York.

Saat pasar dibuka di Tokyo, dolar AS dikutip pada 106,15-16 yen dibandingkan dengan 106,07-17 yen di New York dan 106,05-07 yen di Tokyo pada Kamis (10/9/2020) pukul 17.00 waktu setempat.

Euro, sementara itu, di ambil pada 1,1825-1826 dolar AS dan 125,52-53 yen terhadap 1,1809-1819 dolar AS dan 125,28-38 yen di New York, serta 1,1818-1819 dolar AS dan 125,33-37 yen pada perdagangan Kamis sore(10/9/2020) di Tokyo.

 

 

 

 

 

Saham Tokyo dibuka lebih rendah setelah penurunan saham teknologi AS

Saham-saham Tokyo dibuka lebih rendah pada perdagangan Jumat pagi, karena suasana pasar memburuk oleh penurunan saham-saham teknologi di Wall Street semalam setelah rebound di sesi sebelumnya.

Pada pukul 09.15 waktu setempat, indeks acuan Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo (TSE) merosot 35,01 poin atau 0,15 persen, dari tingkat penutupan Kamis (10/9/2020), menjadi diperdagangkan di 23.200,46 poin.

Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas dari seluruh saham papan utama di pasar Tokyo turun 3,94 poin atau 0,24 persen, menjadi diperdagangkan pada 1.620,92 poin.

Saham-saham perusahaan yang terkait dengan pertambangan, besi dan baja, serta perdagangan grosir termasuk di antara yang membukukan kerugian paling besar pada menit-menit pembukaan setelah bel perdagangan pagi.

 

 

 

Saham Hong Kong dibuka menguat dengan indeks HSI terkerek 0,16 persen

Saham-saham Hong Kong dibuka menguat pada Jumat pagi, setelah mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut, dengan indikator utama Indeks Hang Seng (HSI) terkerek 0,16 persen atau 39,09 poin, menjadi 24.352,63 poin. Indeks Hang Seng tergerus 0,64 persen atau 155,39 poin menjadi 24.313,54 poin pada akhir perdagangan Kamis (10/9/2020), dengan nilai transaksi mencapai 103,88 miliar dolar Hong Kong (sekitar 13,40 miliar dolar AS).

 

 

 

 

 

 

 

Indeks Dolar AS Menguat, Investor Cerna Data Ekonomi Terbaru

Indeks dolar AS menguat pada perdagangan kemarin. Dolar AS menguat karena pelaku pasar mencerna banyak data ekonomi.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,09% menjadi 93,3412, dilansir dari Xinhua, Jumat (11/9/2020).

Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,1824 dari USD1,1808 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi USD1,2798 dari USD1,2989 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi USD0,7266 dari USD0,7270.

Dolar AS dibeli 106,11 yen Jepang, lebih rendah dari 106,21 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9100 franc Swiss dari 0,9125 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3178 dolar Kanada dari 1,3163 dolar Kanada.

Di sisi data, Departemen Tenaga Kerja melaporkan, klaim pengangguran awal AS, cara kasar untuk mengukur PHK, tercatat 884.000 dalam pekan yang berakhir 5 September, tidak berubah dari level revisi minggu sebelumnya. Ekonom yang disurvei oleh MarketWatch memperkirakan klaim baru jatuh ke 840.000.

 

Nasdaq Drop Lagi, Bursa Asia Dibuka Melemah

Bursa Asia dibuka melemah seiring derasnya aksi profit taking di saham-saham teknologi megacap di bursa Amerika Serikat.

Seperti dilansir dari Bloomberg, Jumat (11/9/2020), indeks Topix Jepang tercatat mengawali hari dengan pelemahan 0,1 persen pada pukul 09.18 pagi di Tokyo. Hal serupa juga dialami indeks Kospi Korea Selatan yang sama-sama melemah 0,1 persen.

Sementara indeks S&P/ASX Australia mengalami penurunan lebih dalam yakni 1 persen. Kemudian indeks berjangka S&P 500 naik 0,4 persen di waktu yang bersamaan setelah sebelumnya terkoreksi 1,8 persen di perdagangan kemarin.

Bursa Asia memasuki kerugian pekan kedua akibat terjadinya aksi penjualan besar-besaran untuk saham teknologi jumbo di AS. Tercatat, pada perdagangan Kamis, indeks yang menghimpun saham-saham teknologi AS, Nasdaq, turun lebih dari 2 persen.

Ini dipicu kekhawatiran pelaku pasar bahwa reli lima bulan sebelumnya telah memperlebar valuasi terlalu jauh. Di sisi lain, harga minyak mentah kembali turun ke US$37 per barrel di bursa New York.

Saham global tengah menuju penurunan mingguan berturut-turut pertama sejak Maret, setelah terjadinya tren penguatan yang berhasil menambahkan US$ 7 triliun ke nilai ekuitas di bursa AS.

Equity Strategist di Wells Fargo Securities Anna Han mengatakan hal ini merupakan fenomena yang terjadi ketika para pelaku pasar mengambil keuntungan atau taking profits setelah reli yang panjang.

“Mereka menjual apa yang berhasil,” katanya, seperti dikutip Bisnis dari Bloomberg, Jumat (11/9/2020)

Dia juga agak mengkhawatirkan ini akan berlanjut, apalagi dalam jangka pendek musim pemilu di AS akan berlangsung.

 

 

Prospek Pemulihan AS Terhalang Klaim Pengangguran, Harga Emas Naik

Harga emas menguat untuk hari ketiga secara beruntun pada akhir perdagangan Kamis (10/9/2020) seiring dengan pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Dolar AS melemah setelah prospek pemulihan ekonomi terhalang klaim pengangguran yang tinggi.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember 2020 di New York Mercantile Exchange, naik 9,4 dolar AS atau 0,48 persen menjadi ditutup pada 1.964,30 dolar AS per ounce. Sehari sebelumnya, Rabu (9/9/2020). emas berjangka naik 11,7 dolar AS atau 0,6 persen menjadi 1.954,9 dolar AS.

Di sisi lain, langka European Central Bank (ECB) mempertahankan kebijakan moneter longgar juga turut mendongkrak harga emas. Hal itu membuat mata uang euro naik dan menekan dolar AS sebesar 0,1 persen.

“ECB [Bank Sentral Eropa] benar-benar tidak mengubah kebijakannya, jadi kami melihat dolar AS jatuh di sini. Itu positif untuk emas," kata Bart Melek, kepala strategi komoditas di TD Securities seperti dilansir dari Antara, Jumat (11/9/2020).

Klaim pengangguran mingguan di AS juga naik sehingga membuat prospek pemulihan pasar tenaga kerja melambat.

Melek mengatakan pemulihan tidak terjadi secepat yang diharapkan. Dia menambahkan kekhawatiran gelombang kedua penyebaran virus akan memicu kebijakan moneter lebih longgar.

Sementara itu, Senat AS memblokir RUU Partai Republik yang akan memberikan sekitar 300 miliar dolar AS bantuan baru virus corona, karena Demokrat mendorong lebih banyak dana.

“Kami akan mendapatkan stimulus ekonomi yang berkelanjutan (dari Fed dan pemerintah AS), setidaknya selama enam bulan hingga satu tahun, dan itu akan membuat emas tetap didukung,” kata Jeffrey Sica, pendiri Circle Squared Alternative Investments.

 

 

 

PBB: AS, Kanada, dan Italia Pasok Senjata Perang Yaman

Penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan negara-negara Barat melanggengkan perang di Yaman selama enam tahun terakhir karena memasok senjata. Mereka juga melanggar hukum internasional.

Di tahun ketiga selama berturut-turut, panel ahli yang ditunjuk PBB menemukan bahwa semua pihak yang terlibat dalam konflik telah melakukan berbagai pelanggaran hak asasi manusia.
 
Pihak-pihak tersebut termasuk pemerintah Yaman, Houthi yang berpihak pada Iran, Dewan Transisi Selatan yang didukung Emirat, dan koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi.

"Yaman tetap menjadi tanah yang tersiksa, dengan rakyatnya yang dirusak dengan cara yang seharusnya mengejutkan hati nurani umat manusia," ujar Ketua Panel, Kamel Jendoubi.

Perang Houthi yang menguasai ibu kota pada 2014 dan koalisi negara-negara Arab untuk menggulingkan pemberontak telah menciptakan sesuatu yang digambarkan PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
 
Laporan yang mencakup pelanggaran dari Juni 2019 hingga Juni 2020 mendokumentasikan empat serangan udara koalisi atau serangkaian serangan udara.
 
Mengutip "salah satu serangan udara paling mematikan" tahun ini, panel itu menemukan sekitar 50 warga sipil tewas dan terluka di daerah Al-Hayjah di Provinsi Al-Jawf pada Februari.
 
Mengutip Al Monitor, laporan itu juga menyebut Amerika Serikat, Kanada, Prancis, Inggris Raya, dan Iran berperan atas "dukungan mereka kepada pihak-pihak yang berkonflik termasuk melalui transfer senjata, sehingga membantu melanggengkan konflik".

Dalam konferensi pers, profesor hukum dari panel tersebut, Ardi Imseis, mengumumkan bahwa Kanada ditambahkan dalam daftar negara karena meningkatnya penjualan senjata tahun lalu.

Rekaman serangan lintas batas terhadap pasukan Saudi yang dirilis tahun lalu oleh Houthi memperlihatkan kendaraan lapis baja ringan buatan Kanada yang tampaknya sudah rusak.
 
"Karena itu kami mengulangi seruan kami kepada negara-negara untuk berhenti menyerahkan senjata kepada pihak-pihak yang berkonflik," ujar Imseis.

"Tanggung jawab atas pelanggaran ini terletak pada semua pihak yang berkonflik, yaitu pemerintah Yaman, otoritas de facto (Houthi), Dewan Transisi Selatan dan anggota koalisi, khususnya di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab," terang anggota panel lainnya, Melissa Parke, kepada wartawan seperti dilansir Middle East Monitor.

AS telah menjual miliaran senjata ke Arab Saudi, dan hingga 2018 membantu kampanye militer Riyadh di Yaman dengan pengisian bahan bakar di udara.

Para ahli meminta Dewan Keamanan PBB (DK PBB) untuk merujuk situasi di Yaman ke Pengadilan Kriminal Internasional dan memperluas daftar orang yang menjadi sasaran sanksi.
 
"Komunitas internasional memiliki tanggung jawab untuk mengakhiri pandemi impunitas ini. Setelah bertahun-tahun mendokumentasikan jumlah korban yang mengerikan dari perang ini, tidak ada yang bisa mengatakan 'kami tidak tahu apa dengan yang terjadi di Yaman'," kata Jendoubi.

Ribuan warga sipil tewas dalam serangan udara koalisi dan pertempuran menyebabkan sekitar 80 persen penduduk membutuhkan bantuan.
 
Panel ahli mengatakan pihak-pihak yang berkonflik telah melakukan penghilangan paksa, penahanan yang sewenang-wenang, penyiksaan, dan kekerasan seksual.
 
Selain itu, Houthi yang didukung Iran di awal konflik telah menanam ranjau darat. Ranjau-ranjau itu masih melukai dan membunuh warga sipil. Beberapa yang terbunuh termasuk seorang gadis berusia 15 tahun yang mati saat sedang menggembala domba dan seorang bocah lelaki berusia 12 tahun yang tewas saat menggembala ternak.

 

 

 

AS Cabut Aturan Cek Kesehatan dari Beberapa Negara

Pemerintah Amerika Serikat berencana untuk mencabut aturan melakukan pemeriksaan kesehatan bagi kedatangan internasional dari beberapa negara ke 15 bandara di tengah pandemi Covid-19.

Nantinya, penumpang dari penerbangan internasional hanya akan diberi tahu risiko melakukan perjalanan di tengah pandemi Covid-19.

"Mulai 14 September, pemerintah AS akan menghapus persyaratan semua penerbangan yang membawa penumpang maskapai yang datang dari negara tertentu untuk mendarat di salah satu dari 15 negara yang ditunjunk dan tidak melalui pemeriksaan kesehatan masuk," tulis Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dalam sebuah unggahan di situs resminya.

Mengutip CNN, CDC mengatakan skrining gejala Covid-19 tidak terlalu membantu karena begitu banyak kasus dengan orang yang tidak memiliki gejala.

"Penularan virus dapat terjadi dari penumpang yang tidak memiliki gejala atau yang belum mengalami gejala terinfeksi. Oleh karena itu, CDC mengubah strategi dan memprioritaskan langkah-langkah kesehatan masyarakat lain untuk mengurangi risiko penularan penyakit selama perjalanan," tulis CDC lebih lanjut.

"Saat ini, pemeriksaan kesehatan masuk bagi warga asing ditingkatkan bagi mereka yang datang dari China (tidak termasuk Hong Kong dan Makau), Iran, wilayah Schengen di Eropa, Inggris Raya (tidak termasuk wilayah luar negeri di Eropa, Irlandia, dan Brasil."

Alih-alih melakukan pemeriksaan bagi kedatangan asing, CDC mengatakan akan mendedikasikan pada 'upaya mitigasi yang lebih efektif' dengan berfokus pada pencegahan individual.

Upaya mitigasi yang dimaksud mencakup pemberian informasi kesehatan sebelum berangkat, dalam penerbangan, dan setelah kedatangan bagi penumpang.

Kendati demikian, CDC tidak menutup kemungkinan dilakukan pengumpulan informasi kontak secara acak dari penumpang dan keharusan melakukan karantina selama 14 hari untuk mengetahui adanya gejala terinfeksi.

AS saat ini masih menjadi negara dengan kasus dan angka kematian tertinggi akibat virus corona global. Hingga kini AS memiliki 6.549.771 kasus dengan 195.245 kematian akibat Covid-19.

Data statistik Worldometers mencatat kasus corona global hingga kini sebanyak 28.056.120. Sekitar 20.122.196 orang dinyatakan sembuh dan 908.651 meninggal.

 

 

Trump Akui Sengaja Meremehkan Pandemi Covid-19

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengakui bahwa dia sengaja meremehkan bahaya virus corona (Covid-19) dengan dalih tidak ingin membuat panik penduduk.

Seperti dilansir Associated Press, Kamis (10/9), pernyataan Trump itu tercantum di dalam buku berjudul Rage karya jurnalis AS, Bob Woodward.

Dalam wawancara dengan Woodward melalui telepon yang direkam pada Maret lalu, Trump mengatakan dia memang sengaja menggunakan strategi berusaha meminimalkan bahaya ketika menyampaikan hal itu kepada masyarakat.

"Saya memang selalu berusaha mengecilkan. Saya suka mengecilkan hal itu (Covid-19) karena saya tidak ingin membuat panik," demikian isi wawancara Woodward dengan Trump.

Seperti yang ditulis dalam buku itu, Trump mengatakan dia sadar bahwa Covid-19 adalah ancaman tetapi mengatakan kepada masyarakat hal itu akan segera berlalu.

Dalam wawancara telepon dengan Woodward pada 7 Februari lalu, Trump bahkan membeberkan ancaman mematikan Covid-19.

"Kita hanya menghirup udara dan itu cara virus itu masuk ke dalam tubuh. Dan hal itu memang agak menyulitkan. Virus juga sangat mematikan dari flu biasa. Ini adalah hal yang mematikan," kata Trump.

Dalam jumpa pers di Gedung Putih pada Rabu kemarin, Trump membenarkan dia sengaja meremehkan Covid-19. Saat itu Trump berkeras dia melakukan hal itu untuk menenangkan masyarakat dan berupaya menghindari lonjakan harga kebutuhan dasar dan kesehatan.

"Faktanya adalah saya pemandu sorak bagi negara ini. Saya cinta negara ini dan tidak mau membuat penduduk panik atau ketakutan. Saya akan membawa negara dan dunia ini ke dalam kebaikan. Kami ingin memperlihatkan kepercayaan diri. Kami ingin memperlihatkan kekuatan," kata Trump.

Polemik ini dinilai bisa merusak citra Trump yang tengah bersaing dengan capres dari Partai Demokrat, Joe Biden. Apalagi, pemilihan presiden AS hanya kurang dari enam pekan.

Sampai saat ini ada sekitar 190 ribu penduduk AS yang meninggal akibat Covid-19. Meski ditentang sejumlah kepala daerah, Trump berkeras untuk membuka kembali kegiatan perdagangan dan belajar mengajar, meski jumlah kasus Covid-19 di AS semakin bertambah.

Menanggapi hal itu, Biden menyatakan Trump membohongi rakyat AS.

"Dia tahu dan sengaja berbohong tentang ancaman itu terhadap negara ini selama berbulan-bulan," kata Biden.

"Sementara wabah mematikan menyerang negeri kita, dia (Trump) gagal memenuhi tugasnya. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap penduduk AS," lanjut Biden.

Terungkap Trump dan Kim Jong-un Saling Sanjung di Surat

Buku 'Rage' karya Bob Woodward mengungkap mesranya Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un saat berkorespondensi.

CNN melaporkan sang penulis buku mendapatkan akses ke 25 surat yang dipertukarkan antara Trump dan Kim.

Trump mendefinisikan semua surat itu sebagai "surat cinta", namun Woodward dalam bukunya lebih memilih narasi "kemesraan diplomatik".

Disebut demikian oleh Woodwar karena surat-surat itu berhasil menggerakkan Trump dari yang sebelumnya mengejek Kim sebagai "manusia roket" malah menjadi presiden pertama AS yang bertemu dengan pemimpin Korut itu.

"Bahkan sekarang saya tidak bisa melupakan momen sejarah itu ketika saya dengan kuat memegang tangan Yang Mulia di lokasi yang indah dan sakral saat seluruh dunia menyaksikan dengan penuh minat dan harapan untuk menghidupkan kembali kehormatan hari itu," tulis Kim kepada Trump pada 25 Desember, 2018, setelah pertemuan pertama mereka di Singapura.

"Pertemuan lain antara saya dan Yang Mulia "mengingatkan pada adegan film fantasi."

Tanggapan Trump lebih lugas tetapi tetap dipenuhi dengan sanjungan. Trump menulis kembali kepada Kim pada 28 Desember, dan berbunyi demikian.

"Seperti Anda, saya yakin hasil yang luar biasa akan dicapai antara kedua negara kita, dan hanya dua pemimpin yang dapat melakukannya adalah Anda dan saya."

Trump telah mencuitkan dua dari 27 surat di akun Twitternya.

Keputusan Trump untuk bertemu dengan Kim tiga kali, di Singapura, Vietnam, dan Zona Demiliterisasi yang membagi Korea Utara dan Selatan, diyakini menjadi salah satu warisan kebijakan luar negeri paling populer dari kepresidenannya.

Menyusul pertemuan kedua, Kim menulis pada Juni 2019 bahwa "setiap menit yang kita bagikan 103 hari yang lalu di Hanoi juga merupakan momen kemuliaan yang tetap menjadi kenangan berharga."

"Saya juga percaya bahwa persahabatan yang dalam dan khusus di antara kami akan bekerja sebagai kekuatan magis," kata Kim.

Dalam surat bulan Juni 2019 kepada Kim, tepat sebelum Trump mengusulkan di Twitter bahwa para pemimpin bertemu di DMZ, dia menulis bahwa "Anda dan saya memiliki gaya yang unik dan persahabatan yang istimewa."

"Hanya Anda dan saya, bekerja sama, yang dapat menyelesaikan masalah di antara dua negara kami dan mengakhiri permusuhan selama hampir 70 tahun, membawa era kemakmuran ke Semenanjung Korea yang akan melebihi semua harapan terbesar kami, dan Anda yang memimpin," Tulis Trump. "Ini akan menjadi sejarah!"

Setelah pertemuan di DMZ, Trump kembali menulis surat kepada Kim pada tanggal 30 Juni, "Berada denganmu hari ini sungguh luar biasa," dengan melampirkan salinan halaman depan The New York Times.

Dua hari kemudian, Trump menulis lagi, mengirimkan 22 foto pertemuan mereka dan berkata; "Gambar-gambar ini adalah kenangan indah bagi saya dan menangkap persahabatan unik yang Anda dan saya kembangkan."

Kim menanggapi sebulan kemudian, tapi kali ini dengan intonasi yang digambarkan Woodward sebagai "teman atau kekasih yang kecewa."

Kim kesal karena latihan militer AS-Korea Selatan belum sepenuhnya berhenti. "Saya jelas tersinggung dan saya tidak ingin menyembunyikan perasaan ini dari Anda. Saya benar-benar tersinggung," tulis Kim.

"Yang Mulia, saya sangat bangga dan terhormat bahwa kita memiliki hubungan di mana saya dapat mengirim dan menerima pemikiran yang begitu jujur dengan Anda."

 

 

5 Kota di Oregon Hancur akibat Karhutla

Gubernur Oregon, Kate Brown, mengatakan setidaknya lima kota di negara bagiannya "secara substansial hancur" akibat kebakaran hutan yang semakin meluas.

"Secara terbuka saya ingin mengatakan bahwa kami melihat banyak kerugian, baik dalam struktur maupun kehidupan manusia," ujarnya dalam konferensi pers seperti dikutip dari AFP, Kamis (10/9).

"Ini bisa menjadi kerugian terbesar (yang menyangkut) nyawa manusia dan harta benda yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dalam sejarah negara kita," tambah Brown.

Ratusan rumah dilaporkan hancur akibat kebakaran tersebut.

Para pejabat setempat juga memperingatkan kemungkinan adanya kematian massal dari kebakaran yang sudah berlangsung selama beberapa hari itu.

Bersama dengan California dan Washington, Oregon berjuang keras untuk mengatasi kebakaran hutan yang menyebar cepat sejak akhir pekan, yang diakibatkan oleh gelombang panas diikuti angin kencang dan kering.

Dua kematian akibat karhutla dikonfirmasi di wilayah Santiam Canyon, 60 mil di selatan Portland.

"Mereka tidak akan menjadi satu-satunya korban meninggal yang kami temukan di sana," kata Sheriff Marion County, Joe Kast.

Seorang warga Detroit, Jody Evans, mengaku terpaksa mengungsi saat api mulai mendekat.

"Api datang di kedua sisi, pepohonan tumbang, angin bertiup, abu beterbangan. Rasanya seperti berkendara melalui neraka," ujarnya kepada stasiun televisi Newschannel 21.

Detroit adalah salah satu dari lima kota di Oregon yang hancur akibat kebakaran.

Para pejabat setempat mengatakan data kematian kemungkinan akan dilaporkan dalam dua hari ke depan.

Sementara di California, sedikitnya terdapat delapan kematian akibat karhutla yang sudah dilaporkan.

Lebih dari 14 ribu petugas pemadam kebakaran telah dikerahkan untuk memerangi 28 kebakaran hutan besar di Oregon.

Kebakaran menyebar dengan cepat selama liburan akhir pekan dalam memperingati Hari Buruh, dan mencatat rekor suhu 49 derajat Celcius di Los Angeles County.

 

 

China: Cabut 1.000 Visa, AS Lakukan Diskriminasi Rasial

Kementerian Luar Negeri China mengatakan langkah Amerika Serikat yang mencabut 1.000 visa pelajar dan penelitinya sebagai tindakan penganiayaan politik dan diskriminasi rasial.

Juru bicara kementerian luar negeri Zhao Lijian mengatakan langkah AS telah merusak hak dan kepentingan mahasiswa dan peneliti China yang sedang belajar di sana.

"Ini adalah penganiayaan politik dan diskriminasi rasial, dan secara serius melanggar hak asasi pelajar China yang belajar di sana," kata Zhao dalam konferensi pers harian, Kamis (10/9) seperti mengutip Associated Press.

"China berhak untuk membuat tanggapan lebih lanjut atas masalah ini."

Zhao meminta AS  untuk segera berhenti menggunakan semua jenis dalih untuk membatasi dan menekan mahasiswa China di Negeri Paman Sam tanpa alasan. Tak hanya itu, ia mengancam jika China nanti akan memberi tanggapan balasan atas apa yang telah dilakukan AS.

Pernyataan Zhao hanya berselang sehari setelah Sekretaris Keamanan Dalam Negeri, Chad Wolf mengatakan bahwa departemennya telah memblokir visa untuk mahasiswa dan peneliti pascasarjana China terkait dengan strategi militer Negeri Tirai Bambu untuk mencegah mereka mencuri dan melakukan penelitian sensitif.

Sejak 1 Juni 2020, Kementerian Luar Negeri AS mengonfirmasi telah mencabut 1.000 visa milik pelajar dan peneliti China karena dianggap "tidak memenuhi syarat".

"Mahasiswa pascasarjana dan peneliti berisiko tinggi yang dibuat tidak memenuhi syarat di bawah proklamasi ini mewakili sebagian kecil dari jumlah total mahasiswa dan cendekiawan China yang datang ke Amerika Serikat," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS.

Kemenlu AS menolak memberikan rincian visa siapa saja yang telah dicabut, dengan alasan undang-undang privasi.

Sebagai catatan setidaknya hampir 370 ribu siswa dari China terdaftar di berbagai universitas di AS pada 2018 sampai 2019. Kehadiran mereka tidak bisa dipungkiri menawarkan pendapatan yang menguntungkan di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi corona belakangan ini.

Beberapa aktivis Asia-Amerika telah memperingatkan bahwa perintah Trump menciptakan iklim kecurigaan di kampus, dengan mahasiswa keturunan Asia menghadapi pertanyaan tidak berdasar tentang niat mereka.

Di sisi lain, para pejabat AS mengatakan jumlah kasus spionase yang melibatkan China telah melonjak dalam beberapa tahun terakhir. Pejabat AS pun menuduh China berusaha mencuri penelitian universitas AS tentang Covid-19.