• Blog
  • Bursa Asia Menghijau, Susul Rebound Wall Street

Bursa Asia Menghijau, Susul Rebound Wall Street

News Forex, Index &  Komoditi

( Kamis,  10  September 2020 )

Bursa Asia Menghijau, Susul Rebound Wall Street

Bursa Asia mengalami penguatan seiring dengan rebound yang dialami pada pasar Amerika Serikat.

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (10/9/2020), seluruh indeks di wilayah Asia mencatatkan hasil pembukaan yang positif. Indeks Kospi Korea Selatan dibuka melesat sebesar 1,3 persen

Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia dan Topix Jepang juga mencatatkan kenaikan, masing-masing sebesar 1,2 persen dan 0,6 persen. Indeks berjangka S&P 500 terpantau stagnan hingga pukul 09.09 waktu Tokyo, Jepang.

Adapun, bursa Amerika Serikat berhasil mengalami rebound setelah terkoreksi 3 hari beruntun seiring dengan pulihnya saham-saham teknologi.

Pada penutupan perdagangan Rabu (9/9/2020) waktu setempat, Dow Jones naik 1,6 persen ke level 27.940,47, Indeks S&P meningkat 2,01 persen menuju 3.398,96, dan Nasdaq melonjak 2,71 persen ke 11.141,57.

Pada perdagangan hari ini, investor akan mewaspadai adanya lanjutan aksi jual seiring dengan volatilitas yang masih tinggi. Selain itu, pelaku pasar juga akan memantau keputusan dari bank sentral Eropa, European Central Bank (ECB), dan juga data klaim tunjangan pengangguran di AS.

David Kelly, Chief Global Strategist JPMorgan Asset Management mengatakan, saat ini pasar tengah memasuki fase pemulihan meski lajunya mulai terlihat melambat. Ia juga mengimbau kepada investor untuk tetap mewaaspadai pergerakan-pergerakan saham.

“Meskipun saat ini ada data-data ekonomi yang memberi sentimen positif dan juga kondisi pasar yang tengah kondusif, investor tetap perlu waspada,” katanya.

 

 

Fokus Pertemuan ECB, Bursa Eropa Melambung Kembali

Bursa Eropa berakhir lebih tinggi pada hari Rabu karena saham teknologi pulih dari keterpurukan dan mengikuti rebound di Wall Street. Fokus investor beralih ke pertemuan dua hari Bank Sentral Eropa (ECB)

Mengutip Bloomberg, pada penutupan perdagangan Rabu (9/9/2020) Indeks Stoxx 600 naik 1,6 persen, membalikkan penurunan sesi sebelumnya dalam reli luas yang dipimpin oleh sektor-sektor termasuk teknologi, asuransi dan telekomunikasi.

Pasar mendapat dorongan pada perdagangan sore setelah Bloomberg melaporkan bahwa sejumlah pembuat kebijakan Bank Sentral Eropa menjadi lebih percaya diri dalam perkiraan mereka untuk pemulihan ekonomi kawasan.

Saham LVMH menghapus keuntungan dan berbalik negatif, turun 0,1 persen, setelah pemilik merek mewah Louis Vuitton mengatakan membatalkan kesepakatan US$16 miliar yang diusulkan untuk membeli Tiffany & Co, mengutip penundaan yang berasal dari langkah AS untuk memberlakukan tarif terhadap barang Prancis.

AstraZeneca Plc memulihkan kerugian sebelumnya setelah laporan itu mungkin melanjutkan uji coba vaksin Covid-19 eksperimentalnya minggu depan. Di tempat lain, Banco de Sabadell SA naik 2,1 persen setelah pemberi pinjaman dikatakan mempertimbangkan opsi strategis di tengah konsolidasi domestik di Spanyol.

FTSE 250 turun 0,2 persen, dipimpin lebih rendah oleh pub Inggris dan saham rekreasi, karena pemerintah akan melarang semua pertemuan sosial lebih dari enam orang untuk membendung meningkatnya jumlah infeksi virus korona.

Sebuah reli pemulihan di ekuitas Eropa telah terhenti pada bulan September, dengan Indeks Stoxx 600 naik kurang dari 1 persen sepanjang bulan ini setelah investor menjual saham teknologi tinggi dan sektor siklus seperti energi dan bank.

Roland Kaloyan, kepala strategi ekuitas Eropa di Societe Generale SA, mengatakan bahwa salah satu alasan ekuitas kawasan baru-baru ini terikat dalam kisaran adalah karena penguatan euro terhadap dolar.

"Pada awal Juni, kami juga merasa bahwa beberapa jenis kabar baik sudah diperkirakan, jadi kami perlu melihat angka yang cukup kuat untuk terus melihat, dalam jangka pendek, reli yang sangat kuat," kata Roland, menunjuk ke PMI kawasan Eropa.

 

 

 

 

 

 

Kematian akibat COVID-19 di AS mendekati 190 ribu

Kematian akibat COVID-19 di Amerika Serikat (AS) mendekati 190.000 pada Rabu seiring dengan terjadinya lonjakan kasus baru di AS bagian Barat Tengah dengan negara bagian seperti Iowa dan Dakota Selatan muncul sebagai episentrum baru dalam beberapa pekan terakhir.

Iowa kini menjadi salah satu wilayah dengan tingkat infeksi tertinggi di negara tersebut, dengan 15 persen tes COVID-19 pekan lalu kembali positif. Wilayah terdekatnya, Dakota Selatan melaporkan tingkat kasus positif 19 persen dan Dakota Utara 18 persen, menurut hitungan Reuters.

Lonjakan di Iowa dan Dakota Selatan dikaitkan dengan dibukanya kembali kampus-kampus di Iowa dan pawai motor tahunan di Sturgis, Dakota Selatan bulan lalu.

Kansas, Idaho dan Missouri juga menjadi 10 negara bagian teratas untuk tingkat tes positif.

Infeksi baru COVID-19 turun selama tujuh pekan berturut-turut di AS dengan tingkat kematian akibat COVID-19 sekitar 6.100 setiap pekan dalam sebulan terakhir.

Berdasarkan kapita, AS menempati urutan ke-12 di dunia untuk jumlah kematian, dengan 58 kematian per 100.000 orang, dan urutan ke-11 untuk jumlah kasus, dengan 1.933 kasus per 100.000 orang, demikian hitungan Reuters.

AS mengkonfirmasi jumlah kasus COVID-19 tertinggi di dunia, dengan kini di atas 6,3 juta kasus, yang disusul oleh India dengan 4,3 juta kasus dan Brazil dengan 4,1 juta kasus. Hal serupa juga terjadi pada kematian akibat COVID-19 di AS.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) AS bulan lalu memperkirakan bahwa total kematian COVID-19 di AS bakal mencapai 200.000 - 211.000 pada 26 September.

Sementara itu, institut kesehatan Universitas Washington pekan lalu memprediksikan bahwa korban meninggal akibat COVID-19 di AS akan menyentuh angka 410.000 hingga akhir tahun ini.

 

 

 

 

 

 

Jumlah kematian global akibat COVID-19 tembus 900.0000

Jumlah kematian global terkait COVID-19 melewati 900.000 pada Rabu (9/9), sementara kasus virus corona jenis baru itu di seluruh dunia sudah mencapai 27,7 juta, menurut hitungan Reuters.

Amerika Serikat masih menjadi negara di dunia yang paling parah dilanda virus corona, dengan jumlah kematian melebihi 190.000 dan jumlah kasus melampaui 6,3 juta.

Brazil berada di posisi kedua, setelah mencatat lebih dari 127.000 kematian, dan diikuti oleh India yang melaporkan 74.000 kematian.

Pada Senin (7/9), India melaporkan 90.802 pengidap baru COVID-19.

Jumlah itu merupakan “lonjakan harian tertinggi yang pernah terjadi“ dan menjadikan total kasus corona di negara itu menjadi lebih dari 4,3 juta.

Dengan catatan itu, India menyalip Brazil dan menggeser negara itu --dengan 4,1 juta kasus-- ke tempat ketiga dalam daftar jumlah kasus COVID-19 di dunia.

Kendati pusat pandemi bergeser ke India, tidak ada tanda-tanda wabah corona sedang mencapai puncaknya di negara terpadat kedua di dunia itu.

Saat kedai-kedai minuman dibuka kembali pada Rabu untuk pertama kalinya sejak karantina wilayah diterapkan, India mencatat lebih banyak kasus setiap hari daripada negara lain sejak wabah COVID-19 mulai muncul pada awal tahun.

Dengan rata-rata jumlah kematian lebih dari 1.000 setiap hari selama dua minggu terakhir, India juga mencatat lebih banyak kematian dibandingkan dengan negara-negara lain.

Benua Amerika masih menyumbang lebih dari setengah jumlah kematian di seluruh dunia. Jumlah tinggi kematian terlihat di Meksiko, Peru, Kolombia, Chile, dan Ekuador.

Menurut hitungan Reuters berdasarkan data selama dua minggu terakhir, jumlah orang yang meninggal setiap harinya akibat COVID-19 mencapai rata-rata lebih dari 5.600.

Angka kematian India tercatat sekitar satu persen, sedangkan Brazil dan Amerika Serikat memiliki angka kematian sekitar tiga persen, yang sejalan dengan rata-rata dunia.

 

 

 

 

IMF sebut ekonomi dunia mulai membaik tetapi belum merata

Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut perekonomian dunia mulai membaik setelah terpuruk akibat kebijakan karantina dan penutupan perbatasan selama pandemi COVID-19.

Direktur Utama IMF Kristalina Georgieva saat berbicara pada pertemuan virtual para menteri keuangan, dari New York, Amerika Serikat, Selasa (8/9), mengatakan tanda-tanda pemulihan mulai terlihat di beberapa negara, tetapi masih ada banyak negara kesulitan bertahan dari krisis.

Oleh karena itu, Georgieva berencana memperluas hak penarikan khusus (SDR) dari negara-negara maju ke negara berkembang dengan kondisi mendasar/fundamental ekonomi lemah.

“Kami akan meningkatkan dukungan dana untuk negara berkembang. Bagi IMF, tujuan itu dilakukan dengan memperluas penggunaan SDR, [...] sehingga mereka dapat mengandalkan kapasitas keuangan IMF dalam jangka waktu tertentu,” kata Georgieva dalam pertemuan Ministers of Finance on Financing the 2030 Agenda for Sustainable Development in the Era of COVID-19 and Beyond, sebagaimana disiarkan dalam laman resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa.

IMF pada 1969 menciptakan SDR atau cadangan devisa internasional yang bertujuan menambah cadangan devisa negara-negara anggota. SDR dapat digunakan melalui mekanisme pertukaran dengan anggota IMF lainnya tanpa ada syarat tertentu.

Dalam pertemuan yang sama, Menteri Keuangan dan Layanan Masyarakat Jamaika, Nigel Clarke, mengatakan ada beberapa negara dan kawasan yang lebih sulit keluar dari krisis keuangan selama pandemi.

“Meskipun kita semua terdampak (pandemi, red), ada beberapa kawasan yang lebih membutuhkan bantuan secepatnya — khususnya negara-negara yang bergantung pada pariwisata dan negara yang punya utang tinggi, beberapa di antaranya berada di kawasan Karibia,” sebut Clarke.

Ia menjelaskan banyak negara kesulitan membayar utang selama pandemi, khususnya di negara-negara berkembang yang terjerat krisis dan beban utang tinggi, sementara cadangan devisa mereka terbatas dan defisit anggaran tinggi.

“Oleh karena itu, kebutuhan untuk aksi yang terkoordinasi, efektif, dan cepat sangat dibutuhkan (untuk membantu negara-negara keluar dari krisis, red)," terang Clarke.

Terkait dengan itu, Georgieva mengatakan IMF memiliki inisiatif khusus untuk layanan utang yang akan diperpanjang selama satu tahun.

“Bank Dunia dan IMF memutuskan akan memperpanjang inisiatif tersebut dan kami mendorong peran swasta untuk turut terlibat menyelesaikan masalah ini sebagaimana yang dilakukan lembaga pemerintah,” terang Georgieva.

 

 

KTT ASEAN berlangsung di tengah gesekan antara AS dan China

Para menteri luar negeri anggota Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada Rabu memulai serangkaian konferensi tingkat tinggi (KTT) regional di tengah gesekan antara dua negara besar, Amerika Serikat dan China.

Pertemuan tingkat tinggi itu diharapkan akan mengupayakan kolaborasi untuk melawan ancaman global dan untuk mencoba mengurangi aksi saling balas antara dua negara dengan ekonomi terbesar dunia -- AS dan China -- yang bersaing untuk menanamkan pengaruh.

Rusia, Jepang, Australia, Korea Selatan, dan India termasuk di antara negara-negara yang secara jarak jauh bergabung dalam KTT yang diselenggarakan oleh Vietnam.

Pembahasan dalam KTT itu akan mencakup forum keamanan 27 negara, seiring meningkatnya kekhawatiran tentang retorika dan konflik yang tidak disengaja, dan tentang negara-negara lain yang terjebak dalam keributan.

"Situasi geopolitik dan geoekonomi regional, termasuk Laut China Selatan, mengalami peningkatan volatilitas yang merusak perdamaian dan stabilitas," kata Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc dalam pidato pembukaannya pada KTT ASEAN.

Menteri Luar Negeri Vietnam Pham Binh Minh dalam pidato pembukaannya mengatakan bahwa peran hukum internasional dan lembaga multilateral saat ini sedang "sangat ditantang".

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi memperingatkan Amerika Serikat dan China agar tidak melibatkan negara-negara Asia Tenggara dalam pertarungan geopolitik mereka.

"Kami tidak ingin terjebak oleh persaingan ini," kata Retno kepada Reuters menjelang Forum Regional ASEAN, yang akan berlangsung pada 12 September.

Retno mengatakan ASEAN tidak ingin berpihak, namun juga menggambarkan peningkatan militerisasi di Laut China Selatan sebagai hal yang "mengkhawatirkan".

Amerika Serikat telah berbicara keras menentang China dalam hal perdagangan, teknologi, dan perilaku maritimnya. Selain itu, Presiden Donald Trump telah mengumandangkan pendekatan kerasnya terhadap China menjelang pemilihan presiden AS.

Washington menuduh Beijing menindas tetangganya dengan mengirim kapal ke dekat operasi energi lepas pantai mereka, dan menuding China sebagai oportunis karena mengadakan latihan militer dan menguji perangkat keras pertahanan baru di beberapa wilayah yang disengketakan, sementara negara-negara yang terkait sengketa sedang memerangi wabah virus corona.

Namun, China mengatakan tindakannya sebagai suatu hal yang sah.

Sejak pertengahan Agustus, Amerika Serikat telah berulang kali membuat marah China dengan mengirim sejumlah kapal perang ke Laut China Selatan dan Selat Taiwan, serta menerbangkan pesawat pengintai di atas kegiatan latihan tembak militer China.

AS juga memasukkan 24 entitas China ke daftar hitam atas keterlibatan mereka dalam membangun dan memiliterisasi pulau-pulau buatan.

"Kami (ASEAN) tidak ada keinginan untuk memihak - atau terlihat melakukannya," kata Collin Koh, pakar keamanan internasional dari Sekolah Studi Internasional S. Rajaratnam Singapura.

Sebagai gantinya, ASEAN akan membahas dengan China kemajuan perundingan tata perilaku maritim yang telah lama tertunda, dan pengembangan serta akses untuk vaksin COVID-19, ujar Koh.

Dia mengungkapkan bahwa pembicaraan antara ASEAN dengan Amerika Serikat akan mendesak tindakan menahan aksi militer dan investasi yang lebih besar dari perusahaan Amerika. Kedua pihak akan berusaha untuk "tidak berfokus pada persaingan yang semakin intensif".

Ke-10 anggota ASEAN tersebut adalah Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

 

 

Pompeo: "Kemungkinan nyata" pejabat Rusia di balik peracunan Navalny

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengatakan pada Rabu ada "kemungkinan nyata" bahwa dugaan aksi meracun pengkritik Kremlin Alexei Navalny diperintahkan oleh para pejabat senior Rusia.

"Ada kemungkinan nyata bahwa ini sebenarnya datang dari para pejabat senior Rusia," kata Pompeo kepada program radio Ben Shapiro, menurut transkrip yang disiarkan oleh Departemen Luar Negeri.

Pompeo mengatakan Amerika Serikat sedang mengevaluasi bagaimana negara itu akan merespons.

"Kami akan memastikan kami melakukan tanggung jawab kami untuk mengerjakan apa pun yang bisa kami lakukan untuk mengurangi terulangnya kejadian seperti ini," katanya.

Navalny, yang sedang dirawat di sebuah rumah sakit Berlin, diterbangkan ke Jerman setelah jatuh sakit dalam satu penerbangan domestik di Rusia bulan lalu.

Jerman mengatakan dia diracun dengan Novichok, racun syaraf yang dikembangkan khas Soviet dalam usaha membunuhnya. Rusia mengatakan tak melihat bukti bahwa Navalny diracun.

"Saya pikir dunia sudah matang dan paham bahwa ini bukan cara negara-negara normal beroperasi, dan ini akan menimbulkan banyak masalah bagi rakyat Rusia," kata Pompeo.

Para menlu negara Kelompok Tujuh (G7) mengeluarkan pernyataan pada Selasa yang mengecam "peracunan yang terkonfirmasi" terhadap Navalny.

 

 

 

 

Perusahaan AS Masih Betah di China di Tengah Perang Dagang

Perusahaan Amerika Serikat di China merasa semakin pesimistis dengan penyelesaian ketegangan perdagangan antara Washington dan Beijing.

Berdasarkan hasil survei Kamar Dagang Amerika di Shanghai terhadap 1.400 perusahaan pada Juni dan Juli lalu diketahui lebih dari seperempat perusahaan yang menjadi responden memperkirakan  ketegangan perdagangan AS-China akan berlangsung tanpa batas waktu.

Angka itu meningkat dari tahun lalu yang hanya 17 persen.

Sementara itu, sekitar seperlima responden mengatakan ketegangan dagang akan berlangsung selama tiga hingga lima tahun atau naik dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 13 persen.

Hanya sekitar 14 persen perusahaan yang yakin ketegangan dagang akan selesai dalam waktu satu tahun.

"Apa yang mungkin mendasari rasa negatif ini adalah kekhawatiran tentang hubungan AS-China yang lebih luas," kata AmCham Shanghai dalam sebuah laporan yang dikutip dari CNN Business, Kamis (10/9).

Meskipun ragu ketegangan dagang segera mereda, sangat sedikit dari perusahaan yang disurvei ingin mencabut bisnis mereka dari China.

 

Sekitar 92 persen responden mengatakan tetap berkomitmen berbisnis China, bahkan ketika hubungan AS-China terus retak.

Keputusan mereka ambil karena China masih memberikan banyak keuntungan bagi bisnis yang masih bertahan di sana. Dalam survei AmCham tahun ini, proporsi perusahaan yang mengatakan China telah menghasilkan sumber keuntungan global yang signifikan melonjak dari 9,4 persen menjadi 32 persen.

Beberapa perusahaan fokus untuk memanfaatkan kelas menengah yang sedang tumbuh di negara itu, sementara yang lain masih bergantung pada negara untuk manufaktur.

"Perusahaan Amerika masih melihat pasar konsumen China sebagai peluang besar," kata Ker Gibbs, presiden Kamar Dagang Amerika di Shanghai

Selama beberapa bulan terakhir, ketegangan hubungan antara AS-China semakin meruncing. Mereka memperdebatkan beberapa masalah, seperti asal-usul pandemi virus korona hingga masalah hak asasi manusia di Hong Kong dan Xinjiang hingga kontrol atas teknologi.

Bahkan, karena masalah itu, Presiden AS Donald Trump mengakhiri hubungan perdagangan khusus antara negaranya dengan Hong Kong

Bulan itu, kedua negara juga memerintahkan penutupan konsulat mereka di Houston dan Chengdu. tak hanya itu, Trump juga mengeluarkan perintah eksekutif yang mengancam akan melarang dua aplikasi populer milik China, TikTok dan WeChat, untuk beroperasi di Amerika Serikat.

 

 

 

AS Akan Tarik 2 Ribu Personel Militer dari Irak Bulan Ini

Amerika Serikat akan menarik sekitar dua ribu personel militer yang mereka kerahkan di Irak pada bulan ini.

Kepala Komando Pusat Militer AS, Kenneth McKenzie, mengatakan bahwa mereka mengambil keputusan ini karena sudah percaya dengan peningkatan kemampuan Pasukan Keamanan Irak untuk beroperasi secara independen.

"Setelah konsultasi dan koordinasi dengan Pemerintah Irak dan rekan koalisi kami, AS memutuskan untuk mengurangi kehadiran tentara di Irak dari sekitar 5.200 menjadi 3.000 personel pada September," ujar McKenzie seperti dikutip AFP, Rabu (9/9).

McKenzie memastikan bahwa AS akan tetap membantu militer Irak dalam upaya memberantas kelompok militan ISIS yang masih terserak di beberapa kawasan meski sudah kehilangan wilayah khilafahnya.

Namun, AS berharap pasukan lokal Irak pada akhirnya dapat mencegah ISIS kembali dan melindungi kedaulatan negaranya tanpa bantuan pihak luar.

"Perjalanan ini sudah begitu sulit. Pengorbanannya luar biasa, tapi perkembangannya sangat signifikan," ucap McKenzie.

AS sebenarnya sudah menarik pasukannya dari Irak pada akhir 2011. Namun beberapa tahun kemudian, AS kembali mengerahkan militernya untuk membantu tentara Irak melawan ISIS yang mulai ganas pada 2014.

Selain dari Irak, AS juga berencana kembali menarik pasukannya di Afghanistan. Sesuai dengan kesepakatan antara Washington dan Taliban pada Februari lalu, AS kini masih mengerahkan 8.600 personel di Afghanistan.

Penarikan pasukan ini sesuai dengan janji Presiden Donald Trump untuk memulangkan personel militer AS di luar negeri demi menghentikan "perang tanpa akhir" yang dilakukan negaranya selama ini.

 

 

Jet Tempur China Su-30 dan J-10 Terobos Wilayah Taiwan

Sejumlah jet tempur jenis Su-30 dan J-10 milik Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China dilaporkan mendekati wilayah barat daya Taiwan.

Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan jet-jet itu terlihat pada Rabu (9/9) pagi waktu setempat, dan sempat memasuki zona identifikasi pertahanan udara barat daya (ADIZ) Taiwan sebelum kemudian dikejar oleh pesawat tempur mereka.

Kemhan mengatakan kehadiran pesawat tersebut bersamaan dengan dimulainya serangkaian uji coba rudal Taiwan. Mereka mengecam manuver China tersebut.

 

"Apa yang dilakukan komunis China tidak hanya secara sepihak, tapi juga serius, melanggar perdamaian dan stabilitas di kawasan. Untuk ini kami sangat mengutuk tindakan mereka," kata Kemhan Taiwan dikutip dari South China Morning Post.

Menurut informasi dari surat kabar di Taipei, Liberty Times yang mengutip seorang pengamat pesawat, jet PLA itu diketahui mendekati wilayah barat daya setidaknya sebanyak 24 kali antara pukul 07.07 dan 09.30 waktu setempat.

Lebih lanjut diungkapkan bahwa jet PLA telah memasuki ADIZ pada ketinggian mulai dari 1.500 meter hingga 9.000 meter.

Sejumlah tes rudal memang tengah dilakukan di Taiwan antara pukul 5 pagi dan 7 pagi pada Rabu oleh Institut Sains dan Teknologi Chung-shan Nasional yang didanai negara.

Berdasarkan pemberitahuan dari institut, uji senjata di lepas pantai selatan, timur dan timur laut pulau itu diperkirakan dilakukan pada Kamis.

Institut Sains dan Teknologi Chung-shan Nasional menolak berkomentar atau memberikan rincian lebih lanjut tentang uji coba rudal tersebut.

Laporan media Taiwan berspekulasi bahwa pesawat tempur PLA berusaha mengumpulkan informasi intelijen pada tes senjata, tetapi pakar pertahanan Chieh Chung percaya itu lebih merupakan unjuk kekuatan.

"Dari apa yang Kementerian Pertahanan tunjukkan, jet PLA, termasuk Su-30 dan J-10, sedang berlatih perang formasi," kata Chieh.

 

Giliran China Tuding Australia Interogasi Jurnalis Tiongkok

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian menuding badan intelijen Australia telah menginterogasi para wartawan China.

Menurut Zao, para jurnalis itu antara lain bekerja di media-media seperti Xinhua, China News Service dan grup China Media.

"Empat jurnalis diinterogasi (Australia) dengan alasan kemungkinan pelanggaran undang-undang anti-campur tangan asing," ucap Zhao, dikutip dari AFP Rabu (9/9).

Lebih lanjut, Zhao memberikan pembelaan pada para jurnalis tersebut dan berkata bahwa mereka telah mematuhi hukum setempat.

"Saya ingin menekankan bahwa jurnalis media China di Australia telah secara ketat mematuhi hukum dan peraturan setempat," katanya.

Dia bilang tindakan Australia secara serius mengganggu tugas pelaporan normal media China dan menyebabkan kerusakan serius pada kesehatan fisik dan mental pribadi atau keluarga mereka.

Kegiatan intelijen Australia tersebut diduga berlangsung pada 26 Juni dan melibatkan empat wartawan yang bekerja di Australia.

ASIO, badan intelijen utama Australia, menolak untuk mengonfirmasi atau menyangkal tudingan tersebut.

Sementara itu Polisi Federal Australia saat dimintai keterangan mengaku tak berkomentar tentang masalah tersebut.

Tuduhan ini bertepatan dengan insiden kaburnya dua jurnalis Australia di China, Bill Birtles dan Michael Smith, karena takut ditangkap

Polisi China dilaporkan melakukan penggerebekan ke tempat tinggal masing-masing jurnalis pada tengah malam.

Mereka berencana kabur dan khawatir dijadikan pion politik oleh China menyusul pembatasan visa terbaru yang diberlakukan Beijing kepada para pekerja media asing yang ada di sana termasuk Australia.

Saat penggerebekan, mereka berdua ditanyai soal jurnalis Australia, Cheng Lei, yang telah ditahan di China sejak bulan lalu. Birtles dan Smith langsung melakukan liputan investigatif atas penangkapan misterius Cheng Lei.

Hubungan Australia dan China memburuk setelah Negeri Kanguru mulai bergerak melawan campur tangan politik Tiongkok dan pengaruh di negara itu.

Sementara China sangat marah dengan inisiatif Australia terhadap penyelidikan internasional terhadap asal-usul pandemi virus corona yang diketahui merebak pertama kali di kota Wuhan.

Sejak itu China mengambil sejumlah langkah untuk mengekang impor utama Australia dan mendorong pelajar serta turis Tiongkok menghindari negara itu.
Australia juga telah memperingatkan warganya bahwa mereka menghadapi risiko penahanan sewenang-wenang jika melakukan perjalanan ke China.

 

 

Taiwan Desak Kalangan Internasional Lawan Ekspansi China

Presiden Taiwan Tsai Ing Wen mendesak kalangan internasional memerangi ekspansi China di kawasan. Tsai berkata bahwa kehadiran aliansi akan menjaga kebebasan, hak asasi manusia dan demokrasi di kawasan.

"Sudah waktunya bagi negara-negara yang berpikiran sama, dan teman-teman demokratis untuk mempertahankan tatanan strategis yang menghalangi tindakan agresif sepihak," kata Tsai dikutip dari AFP, Rabu (9/9).

Dia kemudian menekankan bahwa satu negara saja dapat menjaga perdamaian dan keamanan regional. Selain itu Tsai menyatakan bahwa Taiwan siap berada di garis depan dalam mempertahankan demokrasi dari agresi Negeri Tirai Bambu.

"Aliansi ini akan menjaga nilai-nilai yang paling kami hargai: kebebasan, keamanan, hak asasi manusia dan demokrasi," ucap Tsai.

China menganggap Taiwan sebagai wilayahnya dan berjanji untuk merebut, bahkan dengan kekerasan jika perlu.

Sementara Tsai menyebut Taiwan adalah negara yang berdaulat de facto dan menolak deklarasi kemerdekaan resmi apa pun, tindakan yang telah lama diperingatkan oleh Beijing dapat memicu perang.

China telah meningkatkan tekanan terhadap Taiwan sejak Tsai berkuasa pada 2016, karena dia menolak untuk mengakui pulau itu bagian dari satu China.

Bulan lalu militer China menembakkan rudal ke Laut China Selatan yang disengketakan oleh Taiwan dan sejumlah negara lain.

Jet China terbang ke Taiwan hampir setiap hari pada bulan Juni. Angkatan Udara China juga mengerahkan jet tempur untuk terbang secara singkat di garis tengah Selat Taiwan, di tengah kunjungan Menteri Kesehatan Amerika Serikat, Alex Azar, pada awal Agustus.

China marah atas setiap langkah pemerintah asing untuk mengakui atau melakukan pembicaraan resmi dengan Taipei termasuk dengan kunjungan Menkes AS. Tiongkok turut mengecam kunjungan Presiden Senat Republik Ceko Milos Vystrcil ke Taiwan, akhir Agustus lalu.

 

 

Kemelut AS-China di LCS Jadi Perbincangan di KTT ASEAN

Persaingan China-Amerika Serikat disebut akan mendominasi diskusi di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang saat ini tengah berlangsung.

Para menteri Luar Negeri ASEAN akan bergabung dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan mitranya dari China Wang Yi untuk KTT pertama.

AFP melaporkan pertemuan puncak online yang berlangsung pada Rabu (9/9) itu siap untuk membidik intimidasi Beijing di Laut China Selatan.

"Persaingan kekuasaan antara AS dan China kemungkinan akan mencuri perhatian," kata seorang diplomat senior Asia Tenggara yang enggan disebutkan namanya kepada AFP.

Lebih lanjut sang diplomat senior bilang bahwa Amerika Serikat dan China kemungkinan akan menggunakan pertemuan itu sebagai platform untuk saling melempar segala hal.

Mengenai segala hal tersebut tidak dia jelaskan secara rinci, namun dia kembali memberikan pernyataan secara tersirat dan berkata;

"Negara-negara kecil akan mengatakan kalimat biasa dan kemudian berlindung saat Washington dan Beijing bertempur."

Ahli politik Asia Tenggara di National War College di Washington mengatakan tidak mungkin ada banyak kemajuan dalam pembicaraan mengenai LCS.

"China telah secara efektif menggunakan bantuan Covid-19 dan janji vaksin, dan uji coba di Filipina dan Indonesia, untuk benar-benar mencoba menghentikan momentum diplomatik ke arah diskusi tentang Laut China Selatan," ucapnya.

Perselisihan antara AS-China memang kerap terjadi. Masing-masing pemimpin negara juga secara terbuka tidak jarang saling sindir.

KTT ASEAN kali ini berlangsung beberapa hari setelah China meluncurkan rudal balistik di LCS dan dilaporkan sebagai bagian dari latihan tembakan langsung.

LCS merupakan perairan kaya sumber daya yang menjadi rebutan beberapa negara. Kini China setidaknya tengah bersengketa dengan Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei, dan Taiwan atas laut itu.

Pertengkaran paling anyar bisa dilihat antara China dan Filipina atas klaim Scarbluh Scarborough Shoal, salah satu tempat penangkapan ikan terkaya di sana.

 

Prancis Lengket sama Yunani, Armada Rusia Merapat ke Turki?

Situasi Laut Mediterania Timur sepertinya akan semakin panas. Sebab, muncul kabar bahwa armada tempur Angkatan Bersenjata Federasi Rusia akan segera tiba di wilayah perairan tersebut. Sejumlah pihak menduga, Rusia akan memberikan dukungan kepada Angkatan Bersenjata Turki (TSK), dalam konflik wilayah dengan Yunani.

Menurut laporan Al-Monitor, militer Rusia berencana untuk menggelar latihan perang di Laut Mediterania Timur, dalam dua gelombang. Gelombang pertama akan dimulai 8-22 September 2020. Sementara itu, gelombang kedua akan menyusul mulai 17-25 September 2020.

Sementara itu, menurut laporan lain yang diperoleh dari Kathimerini, kedatangan armada tempur militer Rusia diprediksi bukan hanya untuk melakukan latihan perang. Akan tetapi, akan memberikan dukungan terhadap militer Turki, yang tengah mendapat ancaman dari koalisi Yunani dan Prancis.

Seperti yang diketahui, Prancis di bawah komando Presiden Emmanuel Macron, telah mengerahkan kapal induk bertenaga nuklir, Charles de Gaulle, ke wilayah itu. Langkah tersebut dilakukan Prancis untuk memberikan dukungan penuh kepada Yunani.

Rencana militer Rusia melakukan latihan tempur di Laut Mediterania mendapat kecaman dari Pakta Atlantik Utara (NATO). Mengetahui rencana Rusia itu, Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, langsung meminta Turki untuk segera menyelesaikan masalah sengketa wilayahnya dengan Yunani lewat jalur diplomasi.

Ternyata, tak cuma NATO yang khawatir dengan rencana aksi militer Rusia. Meski disebut akan jadi pihak yang didukung, Turki justru melakukan langkah peringatan. Turki mengeluarkan peringatan navigasi, Rabu (9/9/2020), terkait rencana militer Rusia itu.

Turki khawatir. Meski militer Rusia tak melakukan latihan perang di wilayah perairan yang diperebutkan antara Turki dan Yunani, aksi ini dianggap akan tetap memperkeruh suasana di Laut Mediterania Timur.