• Blog
  • Dolar AS Menguat Dipicu Pelemahan Bursa Global & Minyak

Dolar AS Menguat Dipicu Pelemahan Bursa Global & Minyak

News Forex, Index &  Komoditi

( Rabu,  09  September 2020 )

Dolar AS Menguat Dipicu Pelemahan Bursa Global & Minyak

Dolar Amerika Serikat kembali menguat pada Rabu (09/09) pagi ini di tengah pelemahan bursa saham global hingga tekanan jual mata uang berisiko serta pengaruh turunnya harga minyak sementara gejolak baru Brexit terus memperlemah poundsterling.

Indeks dolar AS menguat tipis 0,08% ke 93,513 pukul 09.34 WIB menurut data Investing.com. EUR/USD turun tipis 0,03% ke 1,1776 dan GBP/USD melemah 0,23% di 1,2957.

Adapun rupiah kembali melemah 0,58% ke 14.845,0 per dolar AS sampai pukul 09.40 WIB.

Indeks S&P 500 berjangka turun tipis 0,03% di 3.334,62 dan harga minyak WTI juga turun 0,65% di 36,52 per pukul 09.45 WIB.

Menurut laporan yang dilansir Reuters Rabu (09/09) pagi, penurunan harga minyak 6% Selasa kemarin juga mempengaruhi pergerakan mata uang dan saham-saham pagi ini.

Sterling terus melemah akibat meningkatnya kekhawatiran Inggris tengah bersiap untuk melemahkan kesepakatan Brexit dengan Eropa.

Inggris akan menetapkan rencana baru keluar dari Uni Eropa pada hari Rabu dengan menerbitkan undang-undang yang telah diakui oleh menteri pemerintah Inggris sendiri akan melanggar hukum internasional dengan "cara terbatas" dan ini dapat memperburuk perundingan perdagangan keduanya.

ECB akan melaksanakan rapat kebijakan pada Kamis (10/09) besok dan pasar akan mengamati pernyataan bank sentral tersebut mengenai mata uangnya.

 

 

Saham Tokyo dibuka jatuh setelah sektor teknologi Wall Street anjlok

Pasar saham Tokyo dibuka turun tajam pada perdagangan Rabu pagi, karena pasar diwarisi suasana suram menyusul kejatuhan saham-saham teknologi lagi di Wall Street semalam.

Pada pukul 09.15 waktu setempat, indeks acuan Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo (TSE) anjlok 318,13 poin atau 1,37 persen, dari tingkat penutupan Selasa (8/9/2020), menjadi diperdagangkan di 22.956,00 poin.

Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas dari seluruh saham papan utama di pasar Tokyo turun 22,91 poin atau 1,41 persen, menjadi di perdagangkan pada 1.597,98 poin.

Saham-saham perusahaan yang berhubungan dengan pertambangan, perbankan, serta minyak dan batu bara mencatat penurunan paling banyak pada awal perdagangan setelah bel pembukaan pagi.

 

 

 

Wall Street berakhir lebih rendah, indeks Dow Jones anjlok 2,25 persen

Wall Street jatuh untuk sesi ketiga berturut-turut pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), karena nama-nama teknologi kelas berat memperpanjang aksi jual mereka mengirim Nasdaq ke wilayah koreksi, sementara Tesla mengalami penurunan persentase harian terbesar setelah sahamnya dilewatkan untuk dimasukkan dalam S&P 500.

Masing-masing dari 11 sektor utama S&P utama lebih rendah, dipimpin oleh penurunan teknologi dan energi. Laporan pada Jumat (4/9/2020) bahwa SoftBank melakukan pembelian opsi yang signifikan selama kenaikan saham AS menambah kegelisahan investor.

Teknologi sekali lagi menyeret indeks lebih rendah dengan penurunan 4,59 persen, kemerosotan ketiga berturut-turut dan kinerja tiga hari terburuk untuk sektor ini sejak pertengahan Maret. Namun, sekalipun dengan penurunan baru-baru ini, sektor ini tetap menjadi yang terbaik tahun ini.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 632,42 poin atau 2,25 persen, menjadi ditutup di 27.500,89 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 95,12 poin atau 2,78 persen, menjadi berakhir di 3.331,84 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup terperosok 465,44 poin atau 4,11 persen, menjadi 10.847,69 poin.

Dikutip dari Reuters, saham sektor energi merosot 3,71 persen karena harga minyak turun di bawah 40 dolar AS per barel.

Laporan media tentang pembelian opsi SoftBank juga mengingatkan investor bahwa pembentuk pasar mungkin memiliki posisi buy bernilai miliaran dolar AS sebagai lindung nilai terhadap perdagangan opsi.

Reli Wall Street, yang sebagian besar didorong oleh stimulus moneter dan fiskal dalam jumlah besar, terhenti pekan lalu dengan Nasdaq jatuh sebanyak 9,9 persen dari rekor intraday-nya ketika investor membukukan keuntungan setelah pergerakan yang mengangkat indeks sekitar 70 persen dari titik terendah pandemi. Kerugian pada Selasa (9/9/2020) menempatkan indeks anjlok 10 persen dari rekor penutupannya, mengonfirmasikan koreksi dimulai pada 2 September.

Pada sesi terendah Selasa (9/9/2020), Facebook, Amazon.com, Apple, Tesla, Microsoft, Alphabet, dan Netflix secara kolektif telah kehilangan lebih dari satu triliun dolar AS kapitalisasi pasarnya sejak 2 September.

Tesla terjun 21,06 persen mengalami penurunan persentase harian terbesar ketika pembuat mobil listrik itu dikeluarkan dari sekelompok perusahaan yang ditambahkan ke S&P 500. Investor telah secara luas mengharapkan dimasukkan setelah laporan pendapatan kuartalan blockbuster pada Juli. Hingga penutupan Jumat lalu (4/9/2020), sahamnya telah melonjak sekitar 400 persen tahun ini.

JPMorgan Chase & Co jatuh 3,48 persen, setelah ada laporan perusahaan sedang menyelidiki karyawan yang diduga terlibat dalam penyalahgunaan dana yang dimaksudkan untuk bantuan COVID-19. Indeks bank yang lebih luas kehilangan 3,44 persen, juga mengikuti imbal hasil obligasi AS.

Sementara itu, General Motors Co melonjak 7,93 persen setelah mengakuisisi 11 persen saham senilai dua miliar dolar AS di pembuat truk listrik AS Nikola Corp. Saham pembuat truk itu melambung 40,79 persen.

 

 

Memerah, bursa saham Asia mengikuti jejak Wall Street

Pasar di Asia-Pasifik turun pada perdagangan Rabu (9/9) pagi, setelah Wall Street dilanda aksi jual semalam.

Melansir CNBC, di Jepang, Nikkei 225 turun 1,22% pada awal perdagangan dan indeks Topix turun 1,35%. Indeks Kospi Korea Selatan juga tergelincir 1,03%.

Di Australia, S & P / ASX 200 merosot 0,95%. Secara keseluruhan, MSCI Asia di luar Jepang diperdagangkan turun 0,36%.

Pergerakan regional datang karena Investor bereaksi terhadap penurunan semalam di Wall Street. Nasdaq Composite turun 4,1% menjadi ditutup pada 10.847,69.

Penurunan hari Selasa menempatkan indeks Nasdaq yang sebagian besar berisi saham-saham teknologi turun 10% selama tiga hari terakhir.

Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 632,42 poin atau 2,3%, mengakhiri hari perdagangannya di 27.500,89. S&P 500 turun 2,8% menjadi ditutup pada 3.331,84.

Di sisi data ekonomi, data inflasi China untuk Agustus diperkirakan, dengan indeks harga konsumen dan indeks harga produsen untuk bulan itu akan dirilis sekitar pukul 9:30 pagi HK / SIN pada hari Rabu.

Sementara itu, AstraZeneca mengatakan uji coba tahap akhir dari kandidat vaksin Covid-19 telah ditunda karena masalah keamanan. Itu terjadi setelah reaksi merugikan yang diduga serius pada seorang peserta di Inggris, menurut STAT News.

 

 

Wall Street tumbang, Dow Jones turun 600 poin terseret penurunan saham teknologi

Wall Street ditutup jatuh pada perdagangan Selasa (8/9), terseret penurunan saham sektor teknologi yang menempatkan Nasdaq Composite di zona merah. Serta penurunan tiga hari beruntun S&P 500 dalam beberapa bulan.

Melansir Reuters, indeks Nasdaq Composite turun 4,1% di 10.847,69. Penurunan hari Selasa menempatkan Nasdaq turun 10% selama tiga hari terakhir. Ini menandai rentang tiga hari terburuk Nasdaq sejak Agustus.

Indeks Dow Jones Industrial Average jatuh 632,42 poin atau 2,3% menjadi 27.500,89. Indeks S&P 500 turun 2,8% menjadi 3.331,84. Indeks pasar yang lebih luas turun hampir 7% selama tiga hari terakhir, rentang tiga hari terburuk sejak Juni.

Asal tahu, saham Tesla anjlok 21,1% - penurunan satu hari terbesar - setelah Indeks S&P Dow Jones gagal menambahkan saham yang melonjak dan spekulatif ke S&P 500 setelah bel hari Jumat.

Saham Apple turun 6,7% untuk memimpin penurunan sektor teknologi. Selama tiga sesi terakhir, komponen Dow telah jatuh lebih dari 14%. Menurut Bespoke Investment Group, itu adalah penurunan saham tiga hari terburuk sejak Oktober 2008.

Saham Facebook dan Amazon sama-sama turun lebih dari 4%. Microsoft turun 6,7%. Netflix ditutup 1,8% lebih rendah dan Alphabet kehilangan 3,6%.

Saham Zoom Video turun 5,1%. Sektor teknologi S&P 500 turun 4,6% dan menutup sesi Selasa lebih dari 11% di bawah level tertinggi sepanjang masa pada 2 September.

"Valuasi tinggi di saham mega-cap melampaui level historis," kata Bruce Bittles, kepala strategi investasi di Baird.

"Indikator teknis - utang margin tinggi, reksadana yang diinvestasikan penuh, data opsi CBOE menunjukkan volume panggilan yang tercatat, penulis surat Wall Street pada level bullish - menunjukkan optimisme yang berlebihan di pasar yang sering menunjukkan kemungkinan fase konsolidasi / koreksi."

Saham Softbank turun 7% pada hari Senin di Jepang karena diidentifikasi sebagai pembeli opsi besar yang bertaruh dalam miliaran pada saham teknologi yang terus melonjak. Perdagangan teknologi bisa kehilangan sebagian kekuatannya jika Softbank ingin mengekang taruhan itu

Saham semikonduktor berada di bawah tekanan di tengah ketegangan perdagangan AS-China. Saham Nvidia dan Micron masing-masing turun 5,6% dan 3,2%.

China menuduh AS "menindas" saat meluncurkan inisiatif keamanan data global pada hari Selasa. Itu terjadi ketika Washington terus menekan perusahaan teknologi terbesar China dan melobi negara-negara di seluruh dunia untuk memblokir mereka.

Presiden Donald Trump juga baru-baru ini menerima gagasan "pemisahan diri" dari China, atau menolak berbisnis dengan negara tersebut.

 

 

Tak Cuma Saham & Minyak, Harga Emas Juga Ikut Ambles

Dalam tiga hari perdagangan terakhir, harga emas cenderung terkoreksi tipis saja. Faktor yang membuat harga emas susah bangkit masih sama, dolar yang mulai menunjukkan keperkasaannya lagi.

Rabu (9/9/2020), harga emas dunia di pasar spot terkoreksi. Pada 08.20 WIB, harga emas terpangkas 0,31% ke US$ 1.924,9/troy ons. Sejak Senin pekan ini, harga emas mulai tak sevolatil sebelumnya.

Semalam harga emas sempat naik dan ditutup di US$ 1.930/troy ons ketika pasar saham AS dan harga minyak ambruk. Dini hari tadi Wall Street terbenam di zona merah. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup anjlok 2,25%. Sedangkan S&P 500 dan Nasdaq Composite ambrol masing-masing 2,78% dan 4,11%.

Di saat yang sama harga minyak Brent anjlok 5,3% dan WTI ambrol 7,6% dalam sehari ke bawah US$ 40/barel akibat diskon harga minyak Aramco serta prospek permintaan yang memudar pasca lewat musim puncak mengemudi di AS yang ditandai dengan hari buruh kemarin.

Sebagai aset safe haven dan hedging, kinerja buruk instrumen investasi atau kelas aset lain seharusnya memantik aksi beli emas oleh para investor dan akan berujung pada kenaikan harga emas.

Namun kebangkitan dolar AS dari level terendahnya dua tahun menekan balik harga emas. Indeks dolar yang mengukur posisi greenback terhadap enam mata uang lain masih terus menguat. Pagi ini indeks dolar naik 0,11% ke 93,544 dan mencapai level tertinggi sejak Juli.

Emas merupakan komoditas yang dibanderol dalam dolar AS, sehingga penguatan greenback akan membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi para pemegang mata uang lainnya. Hal ini berimbas pada penurunan minat terhadap emas yang berujung pada tertekannya harga.

Penguatan dolar AS tak terlepas dari pasar yang mengantisipasi sikap bank sentral Eropa yang dinilai akan lebih dovish lagi.

"ECB mungkin akan mulai khawatir dengan penguatan mata uang euro akhir-akhir ini, dan bisa jadi akan mengubah proyeksi inflasi. Kami berpandangan dolar AS bisa menguat sepanjang pekan ini karena potensi kebijakan ECB yang lebih dovish," kata Kim Mundy, Currency Analyst di Commonwealth Bank of Australia, seperti dikutip dari Reuters.

Jika penguatan dolar AS masih terus berlanjut, maka pergerakan harga logam kuning juga kemungkinan besar masih akan tertekan mengingat reli sembilan pekan beruntun harga emas sejak awal Juni hingga awal Agustus dipicu oleh pelemahan dolar AS.

Meskipun volatil dan terkoreksi. Prospek emas ke depan dinilai masih positif. Kebijakan bank sentral yang tetap ultra-longgar membuat fundamental emas kokoh. Hanya saja penguatan emas yang terlalu cepat sampai menyentuh level tertinggi dalam sejarah membuat harga logam kuning itu sedang konsolidasi saat ini.

"Semua bank sentral berada di perahu yang sama. Mereka harus terus mencetak uang, terus melonggarkan kebijakan, untuk melawan kemerosotan yang kita hadapi" dan itu akan membuat emas tetap didukung, kata Edward Meir, seorang analis di ED&F Man Capital Pasar.

Harga bullion telah melesat lebih dari 27% sepanjang tahun ini, setelah bank sentral secara global membanjiri pasar dengan stimulus luar biasa untuk mengimbangi kerusakan ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi virus corona,

Kebijakan yang berpotensi membuat inflasi tinggi di masa depan itu menguntungkan emas karena dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang.

"Emas telah terjebak dalam kisaran perdagangan yang sangat ketat. Jika kita bisa menembus lebih dari US$ 1.960, itu mungkin akan memantik harga emas untuk menjadi bullish," kata Streible, mengutip Reuters.

Merah Membara, Bursa Saham Asia Tersengat Wall Street

Bursa Asia pada pagi hari ini kompak dibuka di zona merah seiring dengan penutupan Bursa Wall Street yang kembali melemah pada perdagangan kemarin.

Tercatat indeks Nikkei di Jepang dibuka melemah 1,49% , Hang Seng Index di Hong Kong turun 1,34%, Shanghai di China terjatuh 1,07%, Indeks STI di Singapura jatuh 0,78% dan Kospi Korea Selatan turun 0,91%.

Hari ini, China merilis data indeks harga konsumen (IHK) Agustus 2020. Diperkirakan, IHK China pada Agustus secara month-to-month (MtM) diangka 0,4, turun dari bulan Juli di angka  0,6.

Sedangkan secara year-on-year (YoY), IHK China diperkirakan berada di angka 2,4, turun dari bulan Agustus tahun sebelumnya di angka 2,7.

Dari Bursa Amerika Serikat, pada penutupan perdagangan kemarin, Bursa Wall Street mengalami pelemahan. Dow Jones Industrial Average turun 2,3% atau sekitar 630 poin dan ditutup pada 27.500,89. Sementara S&P 500 berbasis luas merosot 2,8% menjadi 3.331,84.

Sedangkan Nasdaq yang kaya teknologi merosot 4,1% menjadi 10.847,69. Nasdaq telah turun 10% dalam tiga sesi terakhir setelah mencapai yang terakhir dalam serangkaian rekor pada 2 September.

Kepala investasi di Cresset Capital, Jack Ablin, mengatakan sesi kemarin menandai pergeseran dari dinamika akhir pekan lalu di mana penjualan jauh melampaui saham-saham teknologi.

"Investor tidak hanya memindahkan 'kursi' mereka," kata Ablin dikutip dari AFP. "Mereka khawatir tentang pemulihan yang tidak kuat."

Tidak seperti pekan lalu, imbal hasil Treasury AS juga turun kemarin. Hal senada juga terjadi pada minyak turun tajam, indikator kekhawatiran meningkat, kata Ablin.

"Ini kisah perlambatan ekonomi," katanya.

Analis mengutip meningkatnya ketegangan AS-China sebagai alasan. Presiden AS Donald Trump menyebut akan melakukan decouple (pemutusan hubungan) jika terpilih lagi.

China pun sudah mengambil ancang-ancang. Aturan baru dibuat untuk memutus perusahaan teknologi dengan AS.

Selain itu, kebuntuan di Washington atas putaran lain pendanaan stimulus jadi sebab lain. Meski data ekonomi seperti pekerjaan yang terbit minggu lalu melampaui ekspektasi, hal ini tak bisa membuat Wall Street ke zona hijau.

Perusahaan teknologi besar seperti Apple dan Amazon kembali mengalami penurunan yang dalam. Namun Tesla paling anjlok hingga 21,1%.

Saham Boeing juga turun 5,8% setelah mengungkapkan lebih banyak masalah dengan jet 787 Dreamliner. Perusahaan pembuat pesawat itu akan menunda pengiriman pesawat.

 

 

 

China Desain Militernya buat Bunuh Orang AS

Gordon Hsiao-shu Chang, analis Amerika Serikat (AS), mengatakan China saat ini sedang mengatur militernya untuk membunuh orang-orang Amerika Serikat. Menurutnya, Washington seharusnya tidak memperkaya rezim komunis yang bermusuhan tersebut.

Chang merupakan analis dan penulis ternama AS. Dia juga merupakan profesor di Standford University.

Dalam sebuah wawancara di acara Fox News, Chang menyatakan dukungan atas pertimbangan Presiden Donald Trump untuk sepenuhnya memisahkan ekonomi Amerika dari China."Langkah itu benar-benar ide yang bagus," katanya, yang dilansir Selasa (8/9/2020).

"China sedang mengatur militernya untuk membunuh orang-orang Amerika," kata Chang.

"Kita seharusnya tidak memperkaya rezim yang bermusuhan dengan perdagangan dan investasi kita. Saya percaya bahwa pemisahan adalah apa yang mutlak harus kita lakukan terutama tahun ini," ujarnya.

Komentar Chang muncul setelah laporan Pentagon baru-baru ini menunjukkan bahwa China berencana untuk menggandakan persediaan hulu ledak nuklirnya dalam satu dekade ke depan, termasuk yang dirancang untuk rudal balistik dan yang dapat mencapai wilayah AS.

Menurutnya, laporan Pentagon itu menambahkan jam waktu untuk keputusan Trump.

"(Presiden China) Xi Jinping semakin banyak berbicara tentang gagasan bahwa China memiliki mandat dari surga untuk menguasai dunia," papar Chang. "Mereka (percaya bahwa) tidak hanya memiliki hak untuk melakukannya, mereka memiliki kewajiban untuk melakukannya."

"Saya pikir China yakin perlu bergerak cepat dan itu berarti kita akan melihat masalah bukan di tahun 2030-an, kita akan melihat masalah sekarang," paparnya.

"Dia menjadi sangat spesifik tentang ini di depan umum dan begitu pula para pejabatnya, yang berarti mereka mencoba mengubah sistem internasional, bukan bersaing di dalamnya," kata Chang.

Penulis "The Coming collapse of China" ini memperingatkan bahwa pemerintah China sedang bekerja cepat untuk melawan jendela peluang yang tertutup karena masalah ekonomi, lingkungan, demografi.

Trump meningkatkan kemungkinan memutuskan hubungan dengan negara komunis itu selama wawancara eksklusif dengan Steve Hilton dari Fox News bulan lalu.

"Tidak ada negara yang lebih sering menipu kami selain China...," kata Trump saat itu.

"Kami kehilangan miliaran, ratusan miliar dolar. Kami tidak mendapatkan apa-apa dari China. Ya, kami mendapatkan beberapa barang yang dapat kami produksi sendiri....(Tetapi) kami tidak mendapatkan apa-apa. Yang kami lakukan hanyalah kehilangan uang," papar Trump.

 

Perang Teror Ciptaan AS Bikin 50 Juta Orang Terlantar

Setidaknya 37 juta orang, dan mungkin hingga 59 juta, telah terlantar akibat "perang melawan teror" Amerika Serikat (AS) sejak diluncurkan oleh pemerintahan mantan Presiden George W. Bush hampir 20 tahun lalu. Begitu laporan baru dari proyek Cost of War Brown University.

Laporan itu mengatakan bahwa laporan tersebut menawarkan gambaran komprehensif pertama tentang berapa banyak orang yang mengungsi akibat konflik yang dilancarkan AS sebagai bagian dari apa yang disebut "perang melawan teror."

"Perang pasca-9/11 AS telah memaksa sedikitnya 37 juta orang mengungsi di dan dari Afghanistan, Irak, Pakistan, Yaman, Somalia, Filipina, Libya, dan Suriah. Ini melebihi mereka yang mengungsi setiap perang sejak tahun 1900, kecuali Perang Dunia II," kata laporan itu.

"Jutaan lainnya telah terlantar dalam konflik kecil yang melibatkan pasukan AS di Burkina Faso, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Chad, Republik Demokratik Kongo, Mali, Niger, Arab Saudi, dan Tunisia," sambung laporan itu seperti dikutip dari Business Insider, Rabu (9/9/2020).

Sebagai perbandingan, 37 juta hampir setara dengan populasi California yang merupakan negara bagian terpadat di AS.

Laporan itu menambahkan sedikitnya lebih dari 25 juta dari mereka yang telah terlantar telah kembali ke rumah, untuk selanjutnya mengatakan bahwa kembali ke rumah tidak menghapus trauma pengungsian atau berarti bahwa mereka yang terlantar telah kembali ke rumah asalnya atau ke kehidupan yang aman.

"Pemindahan telah menyebabkan kerugian yang tak terhitung bagi individu, keluarga, kota kecil, kota besar, wilayah, dan seluruh negara secara fisik, sosial, emosional, dan ekonomi," kata laporan itu, menekankan bahwa jumlah total pengungsi tidak sepenuhnya menangkap dampak kehilangan rumah seseorang dan banyak lagi.

Laporan tersebut dikeluarkan hanya beberapa hari sebelum peringatan 19 tahun serangan teror 11/9, yang mendorong perubahan besar di seluruh dunia dan terus berdampak pada pendekatan Amerika terhadap urusan luar negeri.

Secara keseluruhan, perang melawan teror secara luas dipandang sebagai kegagalan besar yang merugikan AS dalam jumlah uang yang sangat besar dan sumber daya, belum lagi hilangnya nyawa.

Menurut proyek Cost of War, harga pemerintah federal untuk perang melawan teror lebih dari USD6,4 triliun, dan itu menewaskan lebih dari 800.000 orang dalam kekerasan perang langsung.

AS masih memiliki pasukan di Afghanistan, yang diserang pada Oktober 2001, dan pemerintahan Trump terlibat dalam pembicaraan damai yang sedang berlangsung dan lemah dengan Taliban.

Para sejarawan umumnya setuju bahwa invasi AS ke Irak pada tahun 2003 memicu kebangkitan ISIS, yang mendorong konflik yang sama sekali baru di Irak dan Suriah, serta serangan teror di seluruh dunia. Sementara itu, meski Osama bin Laden tewas pada 2011, al-Qaeda belum kalah total.

 

 

Trump Sebut Petinggi Pentagon Mau Terus Perang Bukan Lagi Rahasia

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuduh petinggi-petinggi Departemen Pertahanan ingin perang terus terjadi agar kontraktor-kontraktor pertahanan tetap 'senang'.

Trump masih tidak mengaku ia mengucapkan perkataan yang menyakitkan mengenai pasukan AS yang gugur di medan perang. Termasuk menyebut tentara AS yang gugur di Perang Dunia I dan dimakamkan di Prancis sebagai 'pecundang' dan 'payah'.

Majalah The Atlantic menjadi media yang pertama kali melaporkan ucapan Trump tersebut. Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump berulang kali mengatakan berita tersebut 'hoaks'.

"Saya tidak mengatakan militer mencintai saya, para prajurit yang mencintai saya," katanya, Selasa (8/9/2020).

Lalu ia menuduh petinggi Departemen Pertahanan AS tidak menyukainya karena mereka ingin agar kontraktor yang membuat senjata untuk militer AS tetap senang.

"Petinggi di Pentagon mungkin tidak (menyukai saya), karena tidak ada hal lain yang ingin mereka lakukan selain berperang sehingga perusahaan-perusahaan luar biasa yang membuat bom dan membuat pesawat dan segalanya tetap senang," kata Trump.

Saat bertemu dengan anggota serikat buruh AS, American Federation of Labor and Congress of Industrial Organizations (AFL-CIO) kandidat presiden AS dari Partai Demokrat Joe Biden mengecam perkataan Trump. Ia mengatakan Trump tidak akan mengerti mengapa warga AS mengabdi untuk negaranya.

Biden menyebut pernyataan Trump mengenai prajurit yang gugur di medang perang sebagai 'pecundang' dan 'payah' sangat tidak Amerika. Ia mengatakan presiden tidak mengerti arti mengabdi.

"Dia tidak akan mengerti Anda, dia tidak akan mengerti kami, dia tidak akan mengerti polisi kami, pemadam kebakaran kami, karena ia tidak terbuat dari bahan yang sama," kata Biden.

 

 

China Ungkap Alasan Penangkapan Jurnalis Australia

Kementerian Luar Negeri China mengatakan penangkapan jurnalis dan pembawa berita bisnis stasiun televisi CGTN sekaligus warga negara Australia, Cheng Lei, karena dicurigai membahayakan keamanan nasional China.

"Warga negara Australia, Cheng Lei, dicurigai melakukan aktivitas kriminal yang membahayakan keamanan nasional China. Pihak berwenang China telah mengambil tindakan wajib dan menyelidiki Cheng Lei baru-baru ini," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, dalam jumpa pers di Beijing, seperti dikutip Associated Press, Rabu (9/9).

Komentar tersebut disampaikan Lijian dalam press briefing pada Selasa (8/9) kemarin, tetapi dia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai penahanan Lei.

 

Menyusul penangkapan Lei, dua jurnalis yang bekerja untuk media Australia di China kini telah meninggalkan negara itu.

Pemerintah Australia menuturkan Bill Birtles dari stasiun televisi Australian Broadcasting Corporation (ABC) dan Michael Smith dari The Australian Financial Review (AFR) telah meninggalkan China setelah polisi meminta mereka menjalani pemeriksaan dan sempat memblokir keberangkatan pemulangan mereka.

Associated Press melaporkan, Polisi China menyampaikan bahwa Birtles dan Smith adalah "orang yang berkepentingan" dalam penyelidikan Lei.

"Selama penyelidikan kasus tersebut, otoritas China melakukan interogasi dengan Bill dan Smith sesuai hukum, yang merupakan penegakan hukum normal. Otoritas China bertindak tegas menurut hukum selama proses tersebut," kata Lijian.

Tujuh polisi berseragam mengunjungi kediaman mereka di Beijing dan Shanghai pada pukul 12.30 waktu setempat.

Menanggapi hal tersebut, Lijian tidak merinci apakah interogasi dengan Birtles dan Smith berkaitan dengan kasus Lei, tapi dia mengatakan bahwa "Otoritas China bertindak tegas menurut hukum selama proses tersebut".

"China selalu menyambut baik wartawan asing, termasuk karyawan asing yang dipekerjakan oleh media China untuk melakukan wawancara dan pelaporan di China berdasarkan hukum dan peraturan. China telah menyediakan dan akan terus memberikan kemudahan dan bantuan," kata Lijian.

"China melindungi hak dan kepentingan sah dari pengumpulan berita dan mereka berkewajiban untuk mematuhi hukum dan peraturan di China. Selama jurnalis asing melakukan pelaporan berita sesuai hukum, mereka tidak perlu khawatir," tambah Lijian.

Hubungan antara China dan Australia renggang ketika Negeri Kanguru melarang campur tangan rahasia dalam politik dan melarang perusahaan raksasa teknologi Huawei memasok infrastruktur penting.

Hubungan keduanya memburuk sejak pemerintah Australia mendesak penyelidikan independen tentang asal-usul dan penanganan terhadap pandemi virus corona.

"Posisi China dalam mengembangkan hubungan China-Australia konsisten dan jelas. Atas dasar saling menghormati, kesetaraan, dan saling menguntungkan, kami mengembangkan hubungan persahabatan dan kerja sama kami dengan Australia," kata Lijian.

"Kami pikir, hubungan yang sehat dan stabil antara China dan Australia sejalan dengan kepentingan fundamental kedua negara," ujar Lijian.

 

 

Ekonomi Jepang Menciut Lebih dari 28,1 Persen

Pukulan keras pandemi Covid-19 berimbas buruk pada ekonomi Jepang, yang tingkat pertumbuhan tahunannya menyusut hingga 28,1 persen. Sebelumnya, data pemerintah pada Agustus memperkirakan produk domestik bruto (PDB) negara itu menyusut 27,8 persen.

Kemerosotan pada kuartal April-Juni adalah yang paling tajam sejak 1955 dalam sejarah ekonomi Jepang, lansir Kyodo News Agency.

Pemerintah negara itu mengatakan dalam sebuah laporan bahwa penurunan PDB sesuai dengan penurunan 7,9 persen pada basis triwulanan yang disesuaikan secara musiman, berkontraksi tiga kuartal berturut-turut.

 “Pada kuartal kedua tahun 2020, konsumsi swasta menanggung beban keadaan darurat pemerintah untuk mengekang penyebaran virus, di mana pemerintah daerah meminta masyarakat untuk tinggal di rumah dan bisnis yang tidak penting untuk menghentikan operasi," ungkap laporan itu.

Karantina ketat di banyak kota besar di luar negeri, juga dianggap menekan angka ekspor mobil.

Jepang sedang bersiap untuk memilih pemimpin berikutnya setelah Perdana Menteri Shinzo Abe mundur dari jabatannya karena alasan kesehatan.

Ekonomi negara itu mengalami kontraksi sejak Oktober-Desember dengan penurunan 7 persen tahun-ke-tahun, karena kenaikan pajak konsumsi dan dampak lanjutan dari perselisihan dagang AS-China.

Pemerintah mengatakan bahwa referensi data ekonomi bisa berasal dari tahun 1955, namun data pembanding hanya tersedia dari kuartal April-Juni 1980 dan seterusnya. Sejauh ini Jepang telah melaporkan hampir 73.000 kasus Covid-19 dan 1.363 kematian akibat virus.