• Blog
  • Dolar di kisaran paruh bawah 106 yen pada awal perdagangan di Tokyo

Dolar di kisaran paruh bawah 106 yen pada awal perdagangan di Tokyo

News Forex, Index &  Komoditi

( Selasa, 08  September  2020 )

Dolar di kisaran paruh bawah 106 yen pada awal perdagangan di Tokyo

Kurs dolar AS berpindah tangan di kisaran paruh bawah 106 yen dalam transaksi awal di Tokyo pada Selasa pagi, sedikit menguat dibandingkan dengan kurs sehari sebelumnya.

Saat pasar dibuka di Tokyo, dolar AS dikutip pada 106,30-34 yen dibandingkan dengan 106,19-20 yen di Tokyo pada Senin (7/9/2020) pukul 17.00 waktu setempat.

Euro, sementara itu, diambil pada1,1818-1819 dolar AS dan 125,62-66 yen terhadap 1,1837-1839 dolar AS dan 125,70-74 yen pada perdagangan Senin sore (7/9/2020) di Tokyo.

Pasar di Amerika Serikat ditutup pada Senin (7/9/2020) untuk libur nasional Hari Buruh.

 

 

 

 

 

Saham Tokyo dibuka lebih tinggi mengikuti kenaikan pasar Eropa semalam

Saham-saham Tokyo dibuka lebih tinggi pada perdagangan Selasa pagi, ketika pasar mendapat petunjuk positif dari pasar saham Eropa yang menguat semalam.

Pada pukul 09.15 waktu setempat, indeks acuan Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo (TSE) naik 80,70 poin atau 0,35 persen, dari tingkat penutupan Senin (7/9/2020), menjadi diperdagangkan di 23.170,65 poin.

Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas dari seluruh saham papan utama di pasar Tokyo bertambah 2,62 poin atau 0,16 persen, menjadi diperdagangkan pada 1.612,36 poin.

Saham-saham logam non-besi, besi dan baja, serta jasa-jasa memperoleh keuntungan paling banyak pada menit-menit pembukaan setelah bel perdagangan pagi.

 

 

 

 

Kebijakan Arab Saudi Jungkalkan Harga Minyak

Harga minyak jatuh pada perdagangan Senin (7/9) waktu Amerika Serikat (AS) atau Selasa (8/9) WIB setelah Arab Saudi memangkas harga bulanan terdalam dalam lima bulan. Pelemahan juga terjadi akibat ketidakpastian permintaan China yang membayangi pemulihan pasar.

Dikutip dari Antara, Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November diperdagangkan pada level US$42,03 per barel atau 1,5 persen.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, turun 67 sen atau 1,7 persen ke level US$39,10 per barel.

"Suasana menjadi agak pesimis di paruh kedua minggu lalu dan risiko langsung condong ke sisi negatifnya," kata Tamas Varga dari broker minyak PVM.

Eksportir minyak utama dunia, Arab Saudi, memangkas harga jual resmi minyak mentah Arab Light untuk kontrak pengiriman Oktober. Minyak tersebut merupakan yang paling banyak dijual ke Asia sejak Mei.

"Penurunan itu ditafsirkan oleh pasar sebagai tanda bahwa pemulihan permintaan di kawasan itu, rumah bagi konsumen minyak terbesar kedua dan ketiga, kehabisan kekuatan," kata analis Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu.

China, importir minyak terbesar dunia yang telah mendukung harga dengan rekor pembelian, memperlambat impornya pada Agustus dan meningkatkan ekspor produk-produknya.

"Ada begitu banyak ketidakpastian yang berkaitan dengan ekonomi China dan hubungan mereka dengan negara-negara industri utama, dengan AS dan saat ini, bahkan Eropa," Keisuke Sadamori, direktur pasar energi di Badan Energi Internasional.

Minyak juga berada di bawah tekanan karena perusahaan AS meningkatkan pengeboran untuk mencari pasokan baru setelah pemulihan harga minyak baru-baru ini.

Sebuah laporan mingguan oleh Baker Hughes Co menunjukkan pada Jumat (4/9) bahwa perusahaan energi AS minggu lalu menambahkan rig minyak dan gas alam untuk kedua kalinya dalam tiga minggu.

Namun, harapan akan vaksin COVID-19 yang potensial memberikan dukungan pada harga setelah pejabat Australia mengatakan mereka mengharapkan untuk menerima batch pertama vaksin mereka pada Januari, dan mengatakan vaksin tersebut dapat menawarkan "perlindungan multi-tahun".

 

 

Biden Konsisten Pertahankan Tren Dukungan di Atas Trump

Calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat Joe Biden mempertahankan popularitasnya di atas Donald Trump pada pilpres November mendatang. Hal itu terungkap dalam jajak pendapat terbaru CBS News/YouGov.

Pemilih Biden naik 52% di atas presiden petahana Donald Trump yang hanya 42% . Biden juga tercatat memiliki keunggulan 50% atas Trump di negara bagian medan pertempuran utama Wisconsin yang hanya 44%.

Keunggulan 10 poin dan 6 poin Biden serupa pada saat CBS News/YouGov mengadakan polling kontes sebelum konvensi partai.

Jajak pendapat menunjukkan hasil yang hampir sama setelah konvensi partai kedua calon, hingga protes dan kerusuhan di beberapa kota atas kebrutalan polisi.

CNN melaporkan bahwa Biden memegang keuntungan rata-rata 7 poin atas Trump dalam jajak pendapat yang dilakukan awal tahun. Beda tipis dengan keunggulannya saat ini yang mengumpulkan 8 poin.

Juga tidak jauh berbeda dengan keunggulan 6 poin yang dimiliki Biden atas Trump saat terakhir kali dicatat pada awal Mei.

Rata-rata keunggulan Biden tidak pernah di bawah 4 atau 5 poin atau di atas 10 poin. Itu adalah kisaran yang sangat sempit.

Dengan interval kepercayaan dalam survei sebesar 95%, keunggulan Biden dalam jajak pendapat individu mana pun berada dalam 6,5 poin dari rata-rata 7 poin.

CNN melakukan pengamatan terhadap 19 pemilu sebelumnya sejak 1940 dan menunjukkan bahwa kisaran rata-rata meningkat dua kali lipat dari Januari tahun pemilu hingga awal September tahun yang sama.

Catatan pemungutan suara bergerak liar saat detik-detik akhir ketika seorang penantang berhasil mengalahkan petahana.

Sebagai contoh pada angka pemilih Bill Clinton yang berubah dari dua digit di awal kampanye 1992 menjadi dua digit setelah konvensi partainya.

Pada masa itu, akhirnya Clinton terpilih dan berhasil menumbangkan presiden yang menjabat sebelumnya, George H.W Buss dengan selisih enam poin.

Putaran yang sama dalam pemungutan suara terjadi pada saat dua petahana kalah. Gerald Ford berubah dari mudah menang pada tahun 1976 menjadi turun dengan selisih lebar dan akhirnya kalah 2 poin.

Keunggulan Jimmy Carter menguap selama bulan-bulan awal 1980, tetapi dia mampu menutup defisit dua digit dari Ronald Reagan pada akhir musim panas tahun itu. Akhirnya, Reagan menang dengan 10 poin.

Biden secara konsisten unggul di negara bagian dengan total 270 suara elektoral, termasuk negara bagian yang dimenangkan Hillary Clinton pada 2016 dan Arizona, Florida, Michigan, Pennsylvania, dan Wisconsin.

 

 

 

 

 

 

 

 

Telepon Trump, Raja Salman Tetap Berharap Palestina Merdeka

Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud, tetap berharap kemerdekaan bagi Palestina sebelum ada pembicaraan tentang normalisasi hubungan dengan Israel, dalam panggilan telepon dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Dilansir Arab News yang mengutip kantor berita Saudi Press Agency (SPA), Senin (7/9), Raja Salman mengatakan bahwa Arab Saudi tetap berkomitmen untuk mencapai solusi yang adil dan permanen untuk masalah Palestina.

Raja Salman mengatakan hal itu adalah titik awal dari Prakarsa Perdamaian Arab yang diusulkan Kerajaan Arab Saudi. Inisiatif Perdamaian Arab dibuat oleh Arab Saudi pada 2002.

Dalam kesepakatan itu negara-negara Arab menawarkan normalisasi hubungan dengan Israel, hanya jika Palestina merdeka dan Israel menarik seluruh pasukannya dari wilayah yang direbut pada perang 1967.

Raja Salman juga dilaporkan menyatakan penghargaan kepada Trump atas upaya yang dilakukan AS untuk mencapai perdamaian di Timur Tengah.

Selain membahas soal Palestina-Israel, Raja Salman dan Trump diketahui membahas soal negara-negara Kelompok Dua Puluh (G20) yang diketuai oleh Arab Saudi tahun ini.

Salah satu bahasannya adalah upaya yang dilakukan dalam pertemuan dengan para perwakilan negara untuk melindungi kehidupan dan mata pencaharian untuk mengurangi efek pandemi Covid-19.

"Menegaskan bahwa kepresidenan Kerajaan G20 akan terus mendukung dan mengoordinasikan upaya kelompok itu untuk menghadapi dampak epidemi pada tingkat manusia dan ekonomi," ucapnya.

Raja Salman mengatakan, terlepas dari pembatasan pergerakan di seluruh dunia akibat Covid-19, para pemimpin G20 telah mengadakan pertemuan virtual untuk menghasilkan tindakan guna memerangi pandemi virus corona.

Dalam pertemuan virtual Juli lalu, Arab Saudi memimpin ekonomi utama G20 dalam berjanji untuk menggunakan semua alat kebijakan yang tersedia untuk memerangi pandemi dan meningkatkan ekonomi global.

Sejumlah negara di Timur Tengah sempat dilobi oleh perwakilan sekaligus penasihat kepresidenan AS, Jared Kushner, mengenai kemungkinan normalisasi hubungan dengan Israel seperti yang dilakukan Uni Emirat Arab. Namun, sampai saat ini sambutan yang didapat menantu Trump itu minim.

Bahrain dan Qatar yang sempat dikunjungi oleh Kushner menyatakan tetap berprinsip meminta kemerdekaan Palestina sebelum melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

China Pamer Vaksin Covid hingga Kapal Pendukung Trump Karam

Serangkaian peristiwa terjadi pada Senin (7/9) yang dirangkum dalam kilas internasional. Mulai dari China yang memamerkan vaksin corona untuk pertama kalinya hingga lima kapal pendukung Trump tenggelam saat arak-arakan.

China Pamerkan Vaksin Corona untuk Pertama Kali

China memamerkan vaksin corona buatan mereka sendiri untuk pertama kali. Vaksin yang diproduksi Sinovac Biotech dan Sinopharm itu dipajang dalam botol-botol kecil di sebuah pameran di Beijing.

Produsen berharap berharap vaksin tersebut disetujui pemerintah untuk kemudian dilempar ke pasar setelah uji coba tahap 3.

Seperti dikutip dari AFP, Senin (7/9), perwakilan Sinovac mengatakan bahwa perusahaannya telah menyelesaikan pembangunan pabrik vaksin yang mampu memproduksi 300 juta dosis dalam setahun.

Sementara itu, Sinopharm berkata pihaknya berharap antibodi yang dihasilkan vaksin tersebut dapat bertahan antara satu hingga tiga tahun-meskipun hasil akhirnya baru akan diketahui setelah uji coba.

Korut Bersiap Luncurkan Rudal Balistik dari Kapal Selam

Pusat Studi Strategis dan International (CSIS) Amerika Serikat melaporkan merekam kegiatan di Korea Utara yang diduga sebagai persiapan uji peluncuran rudal balistik dari kapal selam (SLBM).

Seperti dilansir kantor berita Korea Selatan, Yonhap News Agency, Senin (7/9), CSIS menyatakan mereka melakukan analisis dari citra satelit terhadap dermaga Sinpo di Korut yang memperlihatkan bahwa ada sebuah kapal selam yang saat ini berada di tengah laut. Kapal selam itu sebelumnya sempat digunakan untuk uji rudal beberapa waktu lalu.

CSIS juga menyatakan dari citra satelit terlihat ada dua kapal selam kelas Romeo milik Korut yang berlabuh di Pulau Mayang, di lepas pantai Sinpo.

"Persiapan peluncuran rudal ini kemungkinan besar sejalan dengan perkiraan tentang 'Kejutan Oktober' yang sesuai dengan data sejarah yang memperlihatkan ada kecenderungan lonjakan provokasi menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat," demikian isi laporan tersebut.

Uji peluncuran rudal balistik dari kapal selam (SLBM) adalah salah satu kegiatan yang dilakukan Korut yang bisa memicu kekhawatiran selain peluncuran rudal balistik dari darat.

5 Kapal Pendukung Trump Tenggelam saat Pawai di Texas

Pawai bahari pendukung calon petahana pemilihan presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Texas, berubah menjadi panik setelah lima kapal yang digunakan tenggelam saat kegiatan berlangsung.

Seperti dilansir Associated Press, Senin (7/9), insiden itu terjadi di Danau Travis, Texas.

Mulanya kegiatan itu berlangsung meriah karena para pendukung Trump arak-arakan di danau dengan menumpang kapal yang sudah dihias beragam bendera AS, negara bagian Texas, dan pesan dukungan politik.

Menurut informasi yang disampaikan perwakilan Kantor Sheriff Travis County, Kristen Dark, mereka menerima pesan permintaan tolong dari para rombongan itu.

Para deputi sherif akhirnya menanggapi 15 panggilan darurat dan menerima tiga laporan lain tentang kapal-kapal yang tenggelam. Tidak ada yang terluka atau tewas dalam kejadian itu.

 

 

 

 

Pelaut Kapal Perang AS Hilang di Laut Arab

Seorang pelaut Amerika Serikat dilaporkan hilang di Laut Arab. Pelaut itu hilang dari kapal induk USS Nimitz saat melakukan patroli di tengah ketegangan dengan Iran.

Dia dikabarkan hilang sejak Minggu (6/9). Seperti dikutip dari CNN, USS Nimitz dan kapal penjelajah berpeluru kendali USS Princeton dikerahkan untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan.

Menurut CBS News, Juru Bicara Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Bahrain, Cmdr. Rebecca Rebarich mengatakan awak kapal Nimitz membunyikan peringatan "man overboard" pada pukul 18.47 pada hari Minggu, setelah tidak dapat menemukan pelaut di kapal induk bertenaga nuklir itu.

USS Nimitz merupakan kapal induk tertua Amerika yang aktif berlayar membawa sekitar 5.000 pelaut dan Marinir.

"Kapal penjelajah berpeluru kendali USS Princeton dan personel Armada ke-5 lainnya melanjutkan pencarian mereka pada hari Senin," kata Rebarich.

Namun dia menolak untuk mengidentifikasi pelaut yang hilang, dengan alasan kebijakan Angkatan Laut.

Kapal itu telah berada di Laut Arab sejak akhir Juli guna menggantikan kapal induk USS Dwight D. Eisenhower, yang telah ditempatkan di Laut Arab selama berbulan-bulan.

Kedatangan Nimitz di Timur Tengah memicu Iran melakukan latihan tembakan langsung yang dengan menargetkan kapal induk tiruan.

Latihan tersebut menegaskan ancaman konflik militer antara Iran dan AS setelah serangkaian insiden, termasuk serangan pesawat tak berawak Amerika yang menewaskan seorang jenderal top Iran di Baghdad. Teheran menanggapi serangan itu dengan menembakkan rudal balistik yang melukai puluhan pasukan Amerika di Irak.

 

 

Intel Jumpai Tanda-tanda Rusia dan China Ganggu Pilpres AS

Rusia berupaya menggunakan berbagai teknik untuk mengalahkan calon Presiden Amerika Serikat (AS), Joseph R. Biden Jr atau yang akrab dengan Joe Biden. Hal ini merupakan bagian upaya campur tangan Rusia di Pemilu AS 2020, demi membantu memenangkan Presiden Trump kembali.

Pernyataan ini, dikutip media AS, The New York Times, diungkap Direktur Pusat Kontra Intelijen dan Keamanan Nasional AS, William R. Evanina, Senin (7/9/2020).

Sebaliknya, lanjut rilis itu, China yang dinilai lebih menghendaki Trump kalah pada pemilihan presiden (pilpres AS) November mendatang, kini mempertimbangkan apakah akan bertindak lebih agresif dalam pemilu itu.

Dari dua negara ini, Rusia adalah ancaman yang jauh lebih besar dan lebih langsung.

Sementara China, meski berusaha mendapatkan pengaruh di kancah politik Amerika, mereka belum memutuskan ikut campur secara langsung ke dalam pemilihan presiden, sekali pun China tidak menyukai Trump.

Sementara anggota parlemen dari kubu Joe Biden, partai Demokrat yang tak disebutkan namanya, menambahkan potensi Iran, yang tak hanya berusaha merusak institusi demokrasi AS dan Presiden Trump, tapi juga berupaya memecah belah Amerika menjelang pemilihan umum mendatang.

Rilis yang disampaikan Evanina ini dinilai banyak pihak memang tidak detil. Namun menurut Senator dari Negara Bagian Maine, Angus King, hal itu karena kalangan intelijen memang berupaya melindungi sumber informasi mereka.

"Direktur (Evanina) pada dasarnya telah memberi tahu rakyat Amerika, Rusia khususnya, juga China dan Iran, akan mencoba mencampuri pemilihan ini dan merusak sistem demokrasi kita," kata King, yang juga anggota Komite Intelijen di Senat.

Para pejabat intelijen melanjutkan, memang akan selalu ada kritikan politis saat informasi tentang pemilu seperti yang kini mereka rilis. Namun tujuan mereka bukanlah memberi peringkat ancaman yang akan muncul. Yang jelas, baik Rusia, China, dan Iran, semuanya dinilai berbahaya bagi pilpres mendatang. Meski bentuk kampanye pengaruh China dan Rusia sangat berbeda.

Banyak upaya China saat ini adalah menggunakan kekuatan ekonominya, dalam mempengaruhi politik lokal. Namun itu pun bukanlah hal yang baru.

China juga menggunakan berbagai cara untuk mendorong kembali berbagai kebijakan administrasi Trump, termasuk tarif dan larangan pada perusahaan teknologi China. Upaya itu bahkan dilakukan dengan terang-terangan. Meski tak jelas, apakah hal itu akan berdampak pada politik kepresidenan AS.

Sementara Rusia, kini kembali mencoba secara aktif mempengaruhi hasil pemilu 2020. Meski tentunya akan sulit bagi negara-negara musuh memanipulasi hasil pemungutan suara dalam skala besar, jelas Evanina lagi, namun negara-negara tersebut dapat mencoba mencampuri proses pemungutan suara atau mengambil langkah-langkah yang bertujuan mempertanyakan keabsahan hasil pemilihan.

Selain itu, juga ada upaya peningkatan kampanye hitam oleh China, dan upaya Moskow untuk menggambarkan Biden sebagai sosok yang korup.

“Menjelang pemilihan umum AS 2020, negara-negara asing akan terus menggunakan langkah-langkah pengaruh terselubung dan terbuka, dalam upaya untuk mempengaruhi preferensi dan perspektif pemilih AS, mengubah kebijakan AS, meningkatkan perpecahan di AS, dan merusak kepercayaan rakyat Amerika,” kata Evanina.

Rilis intelijen itu juga menyebut nama Andriy Derkach, anggota Parlemen Ukraina yang pro-Rusia, yang telah terlibat dalam merilis informasi tentang Biden. Pejabat intelijen AS mengatakan, dia memiliki hubungan dengan intelijen Rusia.

Di saat yang sama, Komite Senat yang dipimpin oleh Senator Ron Johnson, dari Partai Republik wilayah Wisconsin, juga memimpin penyelidikan terhadap putra Biden, Hunter Biden, dan pekerjaannya untuk Burisma, sebuah perusahaan energi Ukraina.

Beberapa pejabat intelijen mengatakan, seorang saksi yang ingin dihubungi oleh komite tersebut adalah agen Rusia yang bertugas melakukan disinformasi.

Terkait rilis intelijen ini, partai Demokrat meminta pejabat intelijen AS bisa membuka lebih banyak informasi untuk publik. Alasannya, hanya dengan pengungkapan ke publik secara jelas tentang adanya upaya campur tangan asing ini, akan dapat menyadarkan warga AS. Sehingga mereka bisa melawan upaya Rusia, China, atau negara lain untuk mencoba memengaruhi pemungutan suara.

Bahkan Senator Marco Rubio dari wilayah Florida, yang juga Ketua Komite Partai Republik, dan Senator Mark Warner dari wilayah Virginia, yang juga Wakil Ketua Partai Demokrat sama-sama berharap, Evanina terus mempublikasi lebih banyak informasi lagi untuk publik.

"Pernyataan Evanina menyoroti beberapa ancaman serius dan berkelanjutan oleh China, Rusia, dan Iran terhadap pemilu AS. Semua orang, baik pemilih, pejabat lokal, dan anggota Kongres, perlu mewaspadai ancaman ini,” bunyi pernyataan bersama keduanya.

 

 

 

 

 

 

 

Turki Endus Kejanggalan Bantuan Militer Prancis buat Yunani

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, jadi salah satu pemimpin negara Eropa yang paling lantang menyuarakan perlawanan terhadap Turki. Tak segan, Macron mengerahkan kekuatan militer Prancis untuk mendukung Yunani yang tengah terlibat konflik wilayah dengan Turki.

Seperti yang dijelaskan dalam sejumlah berita sebelumnya, Prancis adalah negara pertama yang mengirim armada tempurnya ke Laut Mediterania Timur. Pengerahan pasukan dan kendaraan perang ke wilayah itu tak lain adalah untuk mendukung Turki untuk melawan Turki.

Menurut laporan yang dikutip dari KNEWS, tepat pada Selasa (1/9/2020) lalu, Prancis resmi mengonfirmasi pengerahan kapal induk bertenaga nuklir Charles de Gaulle. Dengan status siap tempur, kapal induk Charles de Gaulle membawa sejumlah pasukan termasuk jet-jet tempur canggih Dassault Rafale.

Di sisi lain, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, sama sekali tak menunjukkan kekhawatiran. Meskipun, Yunani mendapat dukungan penuh dari Prancis dan sejumlah negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa (UE). Dengan tegas, Erdogan menyatakan bahwa Turki takkan mundur sejengkal pun untuk mempertahankan wilayah kedaulatannya.

Sikap Erdogan ternyata tak salah. Pasalnya, Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, mencium adanya sebuah niat Prancis di balik dukungannya terhadap Yunani dalam konflik wilayah di Laut Mediterania Timur. Dugaan Cavusoglu ini ternyata tak lepas dari keterlibatan Turki dalam Perang Saudara Libya, yang sudah berlangsung sejak 2011.

Menurut laporan lain yang dikutip dari Libya Observer, Prancis di bawah komando Macron ternyata punya keinginan agar kelompok pemberontak, Tentara Nasional Libya (LNA) di bawah pimpinan Marsekal Khalifa Haftar, bisa menumbangkan Pemerintah Kesepakatan Nasional Libya (GNA) yang berbasis di Tripoli.

Seperti yang diketahui, Turki adalah negara yang terlibat dalam konflik di negara kawasan Maghrib Afrika Utara itu, dengan dukungannya terhadap GNA. Cavusoglu menduga bahwa perdamaian Turki dengan Rusia, akan membuat GNA semakin kuat dan Haftar semakin terpojok.

Oleh sebab itu, dengan dukungannya terhadap Yunani, Macron berharap Turki hanya akan memfokuskan perhatian di satu front saja. Dengan demikian, Haftar akan mampu merebut Tripoli dan mengakhiri pemerintahan GNA.

"Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menjadi histeris atas perkembangan dalam konflik Libya dan Suriah, serta perselisihan di perbatasan di Laut Mediterania Timur," ucap Cavusoglu.

Senada dengan Cavusoglu, Wakil Presiden Turki, Fuad Oktay, juga memandang Macron dan Prancis memiliki niat terselubung di balik dukungannya terhadap Yunani. Oktay dengan berani mengatakan Macron telah menghancurkan negaranya sendiri, dengan menunjukkan bahwa ia mendukung Singa LNA dan Haftar.

"Dia merusak negaranya dengan mencoba membuktikan dirinya, untuk mendukung Khalifa Haftar," ujar Oktay.

Untuk menyelesaikan perseteruan di Laut Mediterania Timur, Erdogan mengatakan siap menempuh jalur manapun. Baik dengan diplomasi, maupun perang sekalipun. Erdogan sangat yakin dengan kekuatan yang dimiliki di semua sektor, baik secara politik maupun militer.

"Mereka akan memahami bahasa politik dan diplomasi, atau di lapangan dengan konsekuensi yang menyakitkan. Turki memiliki kekuatan ekonomi, politik, dan militer untuk merobek peta dan dokumen tidak bermoral yang diberlakukan," ujar Erdogan dikutip dari Al Arabiya.

 

 

 

 

 

 

Operasi-operasi Kotor Mossad Israel, Bunuh Tokoh-Tokoh Islam

Keterlibatan Israel dalam sejumlah operasi pembunuhan tokoh-tokoh perjuangan Palestina bukan merupakan hal yang baru. Israel untuk pertama kalinya mengakui pembunuhan Khalil al-Wazir, wakil pemimpin Palestina Yaser Arafat pada 1988 di Tunisia. Pembunuhan direncanakan agen intelijen Israel, Mossad.

Sementara, pasukan khusus Sayeret Matkal mengeksekusi operasi pembunuhan itu. Laporan tersebut dikeluarkan surat kabar Yediot Aharonot, pada Kamis 1 November 2012 lalu, setelah 25 tahun menjadi misteri.

Israel sebetulnya telah lama diduga terlibat pembunuhan al-Wazir atau yang juga dikenal dengan Abu Jihad. Informasi itu bahkan telah diketahui hampir dua dekade ini. Namun, baru saat ini, keterangan tersebut dipublikasikan setelah militer memberikan lampu hijau. Termasuk, di antaranya wawancara dengan pelaku pembunuh.

Operasi itu dikomandoi Nahum Lev. Sebelum Lev meninggal akibat kecelakaan motor, Yediot sempat mewancarainya pada tahun 2000 tentang perannya dalam operasi tersebut.

“Abu Jihad terlibat dalam berbagai tindakan kejahatan sipil. Saya menembaknya tanpa ragu,” ujarnya. Namun, ia mengaku berhati-hati saat itu supaya tidak sampai melukai istri Abu Jihad yang muncul pada waktu penembakan. Abu Jihad merupakan pendiri Fatah, faksi dominan dalam Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) bersama Arafat. Dia dituding terlibat dalam berbagai serangan mematikan di Israel.

Abu Jihad memiliki peran penting dalam perjuangan intifada pada 1987 sampai 1993 melawan pendudukan Israel. Dia juga dituduh terlibat dalam serangan bus pada 1978 yang menewaskan 38 warga Israel.

Dua di antara mereka yang terlibat operasi pembunuhan Abu Jihad pernah menjabat  petinggi politik di Israel. Mereka, yakni Ehud Barak dan Moshe Yaalon. Ketika itu, Barak merupakan wakil kepala militer dan Yaalon merupakan kepala unit pasukan khusus Sayeret Matkal. Peran mereka dalam operasi itu tidak diungkapkan, namun keduanya enggan berkomentar.

Saat pembunuhan terjadi, PLO bermarkas di Tunisia. Laporan menyebutkan, 26 anggota pasukan khusus Israel tiba di pesisir Tunisia dengan menggunakan perahu karet. Lev bersama anggota lainnya menuju rumah Abu Jihad di Ibu Kota Tunis. Tim dibagi secara terpisah.

Lev datang dengan prajuit yang menyamar sebagai wanita. Lev membawa kotak cokelat besar dan di dalamnya terdapat senjata api berperedam. Berdasarkan keterangan Kementerian Pertahanan Israel, para anggota unit khusus yang menyamar sebagai wanita bertugas mengalihkan penjaga.

Mereka membawa peta layaknya seorang pengunjung dan menanyakan alamat kepada penjaga.  Dengan begitu Lev memiliki kesempatan untuk masuk dan membunuh Abu Jihad.

Tim lainnya secara terpisah menewaskan penjaga dan tukang kebun sebelum memasuki vila. Rekan Lev merupakan yang pertama kali menembak Abu Jihad. Namun, ketika Lev melihat Abu Jihad meraih senapannya, ia langsung menembak dan membunuhnya.

Beberapa anggota lain memastikan kematian Abu Jihad dengan menembaknya kembali sebelum balik lagi ke pantai dan pulang ke Israel. Mahmud al-Alul, mantan asisten wakil PLO, mengatakan kepada AFP, telah jelas bahwa Israel bertanggung jawab atas pembunuhan Abu Jihad.

“Abu Jihad tidak dibunuh  tentara, melainkan atas perintah atau keputusan otoritas Israel dan pemimpin militer,” ujarnya.

“Semua orang tahu siapa perdana menteri ketika itu dan menteri pertahanan serta kepala pasukan keamanan. Bagi kami mereka bertanggung jawab atas pembunuhan itu,” tegas Alul. Saat peristiwa pembunuhan terjadi, Yitzak Shamir menjabat sebagai perdana menteri. Sementara, menteri pertahanan dipegang Yitzhak Rabin yang kemudian tewas dibunuh sayap kanan pada November 1995.

Mossad Israel juga disebut dalang di balik pembunuhan pemimpin Palestina, Yasser Arafat. Hasil investigasi pada  11 November 2015 menyebutkan Arafat dibunuh di rumah sakit militer di Paris, Prancis. Pengumuman itu dibuat pada Rabu, 11 November 2015, sehari sebelum peringatan kematian kesebelas Arafat, yang juga pemenang hadiah Nobel Perdamaian.

Pada awalnya penyebab kematian Arafat dikabarkan karena kanker. Ada yang bilang juga karena penyakit hati sampai infeksi HIV. Namun, sebuah investigasi yang dilakukan Al-Jazirah mengungkapkan tak satu pun rumor tersebut yang benar.

Arafat dalam kondisi kesehatan yang baik hingga tiba-tiba jatuh sakit pada 12 Oktober 2004. Desakan pemeriksaan kembali kematian Arafat datang setelah laboratorium Swiss menemukan bekas radioaktif mematikan, polonium-210, di pakaian Arafat yang digunakan saat dia meninggal November 2004 lalu.

Penemuan tersebut memunculkan dugaan kematian Arafat karena diracun. Radioaktif tersebut merupakan jenis sama yang telah menewaskan mata-mata Rusia Alexander Litvinenko di London pada  2006. Arafat meninggal di rumah sakit di Prancis.

Dugaan mantan pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Yasser Arafat meninggal karena diracun makin menguat lewat serangkaian investigasi yang dilakukan stasiun televisi Al-Jazirah.

Tim dokter dari Institut de Radiophysique di Lau sanne, Swiss, menemukan kandungan zat radioaktif bernama Polonium-210 dalam level yang sangat tinggi di pakaian milik Arafat yang dia kenakan selama dirawat di Prancis. Janda Arafat, Suha Arafat, mendesak Pemerintah Palestina melakukan investigasi, dimulai dengan menggali makam Arafat di Ramallah dan mengautopsi tengkoraknya.

Meninggalnya Arafat pada 11 November 2004 pukul 03.30 waktu Prancis memang sangat misterius. Tidak ada yang tahu apa penyebab Arafat wafat. Sebanyak 50 dokter di RS Militer Percy di Clamart, Prancis, yang merawat Arafat tak pernah tahu apa penyebab kesehatan pejuang Palestina ini terus memburuk. Dalam diagnosis terakhirnya di dokumen kematian Arafat hanya disebutkan dia meninggal karena salah satu nya pendarahan otak.

Dalam tayangan dokumenter Al-Jazirah diperlihatkan Arafat secara mendadak jatuh sakit. Gejala sakit bermula pada 12 Oktober 2004. Di markas PLO di Ramallah, hanya empat jam setelah makan malam, tiba-tiba Arafat mengeluh sakit perut, mual, pusing, diare, dan demam.

Dokter pertama yang merawatnya, Omar Dakka, mengira Arafat terserang flu dan memberinya obat flu biasa. Tapi, kondisinya tidak membaik. Empat hari setelah itu kesehatan Arafat makin parah. Berat badannya mulai menyusut. Petinggi PLO panik dan memanggil tim dokter dari Mesir untuk memeriksa Arafat. Tak ada hasil yang jelas dari pemeriksaan dokter Mesir.

PLO lantas meminta bantuan tim dokter Tunisia untuk memeriksanya. Hasilnya sama, tidak ditemukan penyebab pria kelahiran Kairo, Mesir, ini sakit parah. Obat utamanya saat itu hanyalah antibiotik.

Delapan hari setelah sakit perut itu, Arafat menelepon istrinya, Suha. Dalam wawancara dengan Al-Jazirah, Suha mengungkapkan, di telepon Arafat bersikap sangat romantis. “Ini aneh karena biasanya dia akan sangat formal karena pembicaraan kami didengar banyak orang,” kata Suha. Dia mengingat, Arafat mengucapkan, “ I love you“. Perkataan yang tak pernah Arafat katakan di depan umum.

Sepekan setelah telepon mesra itu, kesehatan pria kelahiran 24 Agustus 1929 tersebut kian kritis. PLO langsung mengontak sejumlah negara, termasuk Israel untuk meminta agar Arafat bisa dirawat di luar Palestina.

Israel memberi lampu hijau dan Prancis menyediakan rumah sakitnya. Arafat dijemput dua helikopter warna hijau. Wajahnya sangat pucat, dia terlihat lemah. Dibopong pengikutnya ke atas helikopter, Arafat melambaikan tangan ke warga Ramallah yang mendoakannya kembali sehat.

Tapi, di Prancis pun para dokter masih bingung menentukan apa sebenarnya penyakit Arafat. Dokter-dokter top didatangkan ke RS Militer Percy. Arafat diperiksa dengan berbagai metode modern. Hingga kemungkinan dia mengidap HIV pun sempat mengemuka, tapi hasil tesnya negatif. Tetap tak ada tanda-tanda apa penyebab sakit Arafat.

Empat hari setelah dirawat di RS Militer Percy, barulah tim dokter Arafat mengajukan kemungkinan Arafat keracunan. Masalahnya, hasil tes racun di RS tersebut juga negatif. Tak ada racun di darah Arafat. Investigasi Al-Jazirah menemukan, tim dokter saat itu tidak melakukan tes radiasi nuklir terhadap darah Arafat. Tes yang seharusnya menjadi opsi.

Delapan tahun setelah Arafat wafat, Suha akhirnya setuju memberikan berkas medis pemimpin Fatah tersebut ke Al-Jazirah. Termasuk satu tas penuh berisi pakaian dan barang-barang Arafat saat dirawat di RS Militer Percy. Al-Jazirah membawa berkas itu ke penyelidik dan dokter independen, sementara barang-barang Arafat diteliti Institut de Radiophysique.

Juru bicara Institut de Radiophysique, Darcy Christen, ketika itu  mengatakan pihaknya menemukan level tinggi zat beracun Polonium- 210 pada barang-barang Arafat. Namun, Christen juga menekankan, gejala klinis yang dijelaskan dalam laporan medis Arafat tidak sesuai dengan Polonium-210 sehingga tidak dapat disimpulkan dia meninggal akibat diracun atau tidak.

Polonium adalah elemen langka yang memiliki tingkat radiasi radioaktif sangat tinggi. Penemu zat ini adalah ilmuwan Prancis Marie Curie pada abad ke-19. Karena tingkat radioaktifnya sangat tinggi, Polonium kerap digunakan untuk senjata nuklir, bahan bakar satelit, dan pesawat luar angkasa. Uni Soviet sering menggunakan bahan Polonium dalam proyek luar angkasanya pada dekade 1970-an.

Pertanyaannya kemudian, apakah Polonium pernah digunakan sebagai racun untuk membunuh? Pernah! Mata-mata Rusia yang membelot ke Inggris, Alexander Litvinenko, tewas karena keracunan Polonium. Gejalanya mirip Arafat. Sebelum 1 November 2006, Lit vinenko da am kondisi bugar, tapi tiba-tiba menjadi sakit parah karena diare dan muntah-muntah.

Dokter di London mendiagnosis ada infeksi perut, tapi kulit Litvinenko mulai menguning dan rambutnya rontok. Dokter akhirnya melakukan tes radiasi pada darah Litvinenko dan menemukan kandungan Polonium tingkat tinggi.

Apa yang ditemukan dalam darah Yasser Arafat kalau begitu? Dokter di Lausane mengatakan, kadar Polonium di tubuh Arafat 10 kali melebihi batas normal manusia maupun makhluk hidup yang terkena radiasi ini. Sikat giginya, misalnya, memiliki kadar Polonium 54 mBq, urine Arafat lebih tinggi lagi, yaitu 180 mBq.

Dugaan Arafat diracun sudah muncul saat dia dirawat di Prancis. Tudingan mengarah ke Israel karena di markas PLO Maqata, Ramallah, ketika Arafat masih hidup, segala makanan Arafat harus berasal dari daerah Israel dan diperiksa tentara Israel. Semasa Arafat sakit, Pemerintah Israel juga selalu mengatakan kalaupun sembuh, Arafat tidak akan bisa lagi memimpin Palestina.

Selain pembunuhan Abu Jihad dan Yasser Arafat, seperti dikutip AP, Israel diduga terlibat dalam penembakan pendiri kelompok Jihad Islam, Fathi Shikaki, di Malta, pada 1995 silam. Saat itu, Shikaki ditembak seorang pria pengendara motor.

Pada 22 Maret 2004, sebuah operasi udara Israel menewaskan tokoh penting Hamas, Syekh Ahmad Yassin. Rudal Israel menghujam kendaraannya seusai menunaikan sholat. Pada 2008, Komandan Hizbullah Lebanon, Imad Mughniye, juga tewas akibat bom yang dipasang di mobilnya, di Damaskus, Suriah. Hizbullah dan Iran menyalahkan Israel atas insiden tersebut.

Pada 2010, petinggi Hamas, Mahmoud al-Mabhouh, juga tewas di sebuah kamar hotel di Dubai dalam operasi yang dikaitkan dengan agen intelijen Israel, Mossad. Perdana Menteri Lebanon Rafik Hariri pada 2005  juga dibunuh agen badan intelijen Israel, Mossad.

 

 

 

 

Pentagon Akui AU China Tambah Mematikan

Drone penyerang baru, jet tempur siluman generasi ke-5, pesawat kargo yang dikonfigurasi ulang, dan sistem pertahanan rudal buatan Rusia membuat Angkatan Udara China semakin mematikan. Pentagon, dalam laporannya, mengategorikan Angkatan Udara Beijing sebagai ancaman besar.

Laporan Pentagon berjudul "Military and Security Developments Involving the People’s Republic of China 2020" menguraikan ukuran Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF) mencakup total 2.500 pesawat, yang menjadikannya yang terbesar ketiga di dunia.

"PLAAF dengan cepat mengejar Angkatan Udara Barat di berbagai kemampuan dan kompetensi," bunyi laporan Pentagon, merujuk pada total 2.500 pesawat dan sekitar 2.000 pesawat tempur Angkatan Udara China, yang dikutip dari situs resmi Pentagon, Senin (7/9/2020).

Dalam penilaiannya, Pentagon mencermati upaya China untuk memperluas pengaruh militernya di seluruh Asia Timur dan dunia dengan bantuan Angkatan Laut-nya, yang menurut laporan itu sekarang adalah yang terbesar di dunia. Beijing memiliki 350 kapal permukaan dan kapal selam, termasuk lebih dari 130 kombatan permukaan utama.

Laporan itu juga menggambarkan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) sebagai kekuatan darat terbesar di dunia, yang terus bertransisi menjadi kekuatan darat yang modern, mobile, dan mematikan.

Menurut dokumen tersebut, pada tahun 2019 PLA menerjunkan sistem tempur dan peralatan komunikasi yang di-upgrade dan meningkatkan kemampuannya untuk melakukan dan mengelola operasi gabungan serta senjata gabungan yang kompleks.

Mengacu pada laporan Pentagon "Military and Security DevelopmentsInvolving the People’s Republic of China 2020", Kris Osborn, editor pertahanan di majalah The National Interest, mencatat dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Fox News pada hari Minggu bahwa AS tidak hanya peduli tentang ukuran PLAAF tetapi juga peningkatan teknis kecanggihan dan taktik multi-misi yang digunakannya.

Sebagai bagian dari pembahasannya tentang kekuatan udara China, laporan itu menyinggung militer Beijing yang mengoperasikan sistem pertahanan udara S-400 canggih buatan Rusia.

Komentar itu muncul setelah Presiden China Xi Jinping menekankan pentingnya mengembangkan kendaraan udara tak berawak sebagai bagian dari PLAAF, yang kata dia, Beijing sudah memiliki pesawat canggih dan senjata pertahanan udara.

"Drone sangat mengubah skenario perang. Hal ini diperlukan untuk memperkuat penelitian, pendidikan, dan pelatihan tempur drone, dan mempercepat pelatihan pilot dan komandan drone," kata Xi kepada para mahasiswa di Universitas Penerbangan Angkatan Udara PLA di Changchun, Provinsi Jilin.

Badan Intelijen Pertahanan AS pernah merilis laporan tahunannya tentang kekuatan militer China pada 2019, yang mengungkapkan bahwa PLAAF sedang mengembangkan pesawat pembom siluman jarak menengah dan jarak jauh baru yang mampu menyerang target regional dan global.

Dokumen tersebut menambahkan bahwa upaya berkelanjutan Beijing untuk memodernisasi Angkatan Laut-nya menutup kesenjangan dengan Angkatan Udara Barat di berbagai spektrum kemampuan, seperti kinerja pesawat, dan peperangan elektronik.