• Blog
  • News Forex, Index & Komoditi (Rabu, 22 Juni 2022)

News Forex, Index & Komoditi (Rabu, 22 Juni 2022)

Wall Street Melonjak Lebih Dari 2%

Indeks utama Wall Street melonjak lebih dari 2% pada hari Selasa (21/6). Investor berburu saham pertumbuhan megacap dan perusahaan energi setelah pasar saham tumbang pekan lalu di tengah kekhawatiran atas penurunan ekonomi global.

Selasa (21/6), Dow Jones Industrial Average naik 641,47 poin atau 2,15% menjadi 30.530,25. Indeks S&P 500 naik 89,95 poin atau 2,45% pada 3.764,79. Nasdaq Composite menguat 270,95 poin atau 2,51% pada 11.069,30.

Investor mencoba untuk menilai seberapa jauh saham bisa jatuh. Investor mempertimbangkan risiko terhadap ekonomi dengan Federal Reserve mengambil langkah-langkah agresif untuk mencoba meredam lonjakan inflasi. S&P 500 awal bulan ini turun lebih dari 20% dari tertinggi sepanjang masa Januari, mengkonfirmasi definisi umum bear market.

"Saya pikir kita akan melihat lebih banyak volatilitas, saya memperkirakan proses titik terendah kemungkinan akan memakan waktu," kata Kristina Hooper, kepala strategi pasar global di Invesco kepada Reuters. Dia menambahkan penguatan pasar saham kemarin merupakan pertanda baik untuk melihat minat investor.

Semua 11 sektor utama S&P 500 naik, karena saham rebound secara luas setelah indeks acuan pekan lalu mencatat penurunan dengan persentase mingguan terbesar sejak Maret 2020.

Sektor energi, sektor S&P 500 dengan keuntungan tertinggi tahun ini, melonjak 5,1% setelah jatuh minggu lalu. Setiap sektor naik setidaknya 1%.

Saham Megacap Apple Inc, Tesla Inc, dan Microsoft Corp semuanya naik tinggi dan menjadi penyokong individu terbesar pada S&P 500. Harga saham Apple naik 3,3%, Tesla melonjak 9,4% dan Microsoft menambahkan 2,5%.

The Fed pekan lalu menyetujui kenaikan suku bunga terbesar dalam lebih dari seperempat abad untuk membendung lonjakan inflasi. Investor beralih ke dengar pendapatan Gubernur Fed Jerome Powell kepada Komite Perbankan Senat AS pada hari Rabu untuk petunjuk tentang kenaikan suku bunga di masa depan dan pandangan terbarunya tentang ekonomi.

"Itu pertanyaan yang sulit dijawab sekarang karena The Fed akan melihat apa yang terjadi pada inflasi," Chuck Carlson, kepala eksekutif di Horizon Investment Services di Hammond, Indiana.

Sementara itu, Goldman Sachs sekarang memperkirakan 30% peluang ekonomi AS mengarah ke resesi tahun depan, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 15%.

Yen jatuh ke level terendah baru 24 tahun terhadap dolar AS

Yen Jepang jatuh terhadap dolar AS ke level terendah sejak Oktober 1998 pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), karena kebijakan moneter ultra-longgar bank sentral Jepang (BoJ) sangat kontras dengan kebijakan agresif Federal Reserve yang bertekad untuk membasmi lonjakan inflasi.

Yen turun ke level terendah 24 tahun baru di 136,455 per dolar, memperpanjang kerugian yang telah membuatnya merosot lebih dari 18 persen nilainya versus greenback tahun ini.

Colin Asher, ekonom senior di Mizuho mengatakan pergerakan yen tampaknya terutama didorong oleh arus safe-haven ke dolar.

"Dolar menembus level tertinggi lama di 135,60 yen dan memicu penghentian menembus angka besar di 136,0 dan seterusnya," kata Asher.

"Alasannya sama seperti minggu lalu dan minggu-minggu sebelumnya: BoJ akan menjadi yang terakhir dari kenaikan suku bunga oleh G10, The Fed mempercepat langkah, dan (ada) spread imbal hasil yang lebih luas," tambahnya.

Yen melemah lagi setelah BoJ pada Jumat (17/6/2022) menghancurkan ekspektasi perubahan kebijakan dan terus berdiri sendiri di antara bank-bank sentral utama lainnya dalam komitmennya untuk pengaturan moneter ultra-longgar.

Sebaliknya telah meningkatkan pembelian obligasi untuk mempertahankan imbal hasil 10-tahun dalam kisaran 0,0 persen hingga 0,25 persen yang ditargetkan. Namun terlepas dari upayanya, imbal hasilnya tetap berada di atas target itu

Pada pagi hari, Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida secara efektif memberikan lampu hijau untuk menjual yen ketika dia mengatakan BoJ harus mempertahankan kebijakan moneter ultra-longgarnya.

Pada perdagangan sore, yen berada di 136,20 yen per dolar AS, tidak jauh dari level terendah 24 tahun sebelumnya. Yen juga turun 1,3 persen pada 143,78 per euro, terendah sejak 9 Juni.

Yen telah kehilangan lebih banyak daripada mata uang utama lainnya terhadap greenback, karena sikap kebijakan dovish BoJ menyimpang dari hawkishness umum di antara pembuat kebijakan global.

Dalam mata uang lain, indeks dolar sedikit berubah pada 104,41, tetapi secara keseluruhan didukung oleh ekspektasi kenaikan suku bunga yang besar pada pertemuan Fed mendatang.

Presiden Fed Richmond, Thomas Barkin menambahkan retorika hawkish bank sentral AS pada Selasa (21/6/2022), mengatakan bahwa panduan Ketua Fed Jerome Powell tentang kenaikan suku bunga 50 atau 75 basis poin pada Juli adalah "masuk akal."

Sebelumnya, dolar tergelincir setelah data menunjukkan penjualan existing home atau penjualan rumah tangan ke-dua (sudah pernah ditempati sebelumnya) di AS jatuh ke level terendah dua tahun pada Mei karena harga melonjak ke rekor tertinggi dan suku bunga KPR meningkat lebih lanjut, mendorong pembeli keluar dari pasar.

Euro, di sisi lain, menguat pada 1,0529 dolar, naik 0,2 persen. Euro menguat setelah kepala ekonom Bank Sentral Eropa Philip Lane mengatakan ECB akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Juli, tetapi ukuran kenaikan September masih harus diputuskan, menunjukkan kemungkinan kenaikan 50 basis poin yang lebih besar.

Sterling juga menguat terhadap dolar, naik 0,4 persen pada 1,2290 dolar di tengah komentar hawkish dari pembuat kebijakan bank sentral Inggris (BoE).

Kepala ekonom BoE Huw Pill mengatakan pada Selasa (21/6/2022) bahwa bank sentral perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk mengatasi lonjakan inflasi.

Goldman Sachs lihat kemungkinan lebih besar resesi AS tahun depan

Bank investasi Wall Street, Goldman Sachs memperkirakan 30 persen peluang ekonomi Amerika Serikat menuju resesi selama tahun depan, naik dari 15 persen sebelumnya, menyusul rekor inflasi tinggi dan latar belakang ekonomi makro yang lemah karena konflik Ukraina.

"Kami sekarang melihat risiko resesi lebih tinggi dan lebih banyak di depan," kata ekonom Goldman dalam sebuah catatan pada Senin (20/6/2022).

Perkiraan terbaru muncul sekitar seminggu setelah Federal Reserve AS meluncurkan kenaikan suku bunga terbesar sejak 1994 untuk membendung lonjakan inflasi, dan ketika beberapa bank sentral lainnya juga mengambil langkah agresif untuk memperketat kebijakan moneter.

"Kami semakin khawatir bahwa kepemimpinan Fed telah menetapkan standar tinggi dan khusus inflasi untuk memperlambat laju pengetatan," kata Goldman.

Sementara itu, ekonom di Morgan Stanley, bank investasi Wall Street lainnya pada Selasa (22/6/2022) menempatkan kemungkinan resesi AS untuk 12 bulan ke depan di sekitar 35 persen.

"Pada titik ini, resesi tidak lagi hanya merupakan risiko ekor mengingat kesulitan Fed dengan inflasi," kata Morgan Stanley.

Goldman memperkirakan probabilitas kumulatif 48 persen resesi selama dua tahun ke depan dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 35 persen.

"Tebakan terbaik kami adalah bahwa resesi yang disebabkan oleh pengetatan moderat akan menjadi dangkal, meskipun kami bisa membayangkannya berlarut-larut sedikit lebih lama daripada dengan lebih banyak dukungan kebijakan," ekonom di Goldman menambahkan.

UBS juga mengatakan resesi akan dangkal jika itu terjadi, tetapi tidak diperkirakan terjadi di Amerika Serikat atau secara global pada 2022 atau 2023.

Goldman, sebelum kenaikan suku bunga Fed, berpendapat bahwa ada cara yang "layak meskipun sulit" untuk menyeimbangkan kembali pasar tenaga kerja dan menurunkan inflasi tanpa resesi.

Elon Musk awal bulan ini mengatakan kepada para eksekutif Tesla Inc bahwa dia memiliki "perasaan yang sangat buruk" tentang ekonomi dan bahwa pembuat mobil listrik itu perlu memotong staf dan menghentikan perekrutan.

Resesi AS di Depan Mata, Kenaikan Suku Bunga The Fed Diramal Berlanjut hingga 2023

Imbas upaya The Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk menjinakkan inflasi dinilai akan memberikan pukulan bagi Amerika Serikat (AS). Nomura Holdings Inc menyatakan upaya menekan inflasi hingga 2% akan membuat ekonomi Amerika Serikat (AS) jatuh ke dalam resesi ringan pada 2022.

Mengutip Bloomberg, ekonom di Nomura Holdings Inc memperingatkan kondisi keuangan AS akan semakin ketat dan sentimen konsumen juga memburuk. Selain itu akan terjadi distorsi pasokan energi dan makanan diiringi memburuknya prospek pertumbuhan global.

"Dengan momentum pertumbuhan yang melambat dengan cepat dan komitmen The Fed untuk memulihkan stabilitas harga, kami percaya resesi ringan akan terjadi dimulai pada kuartal keempat 2022,” tulis ekonom Nomura Aichi Amemiya dan Robert Dent.

Kelebihan simpanan dan neraca konsumen diprediksi akan membantu mengurangi kecepatan kontraksi ekonomi. Namun, kebijakan moneter dan fiskal akan dibatasi oleh inflasi yang tinggi.

Nomura telah menurunkan perkiraan PDB riil untuk tahun ini menjadi 1,8% dari sebelumnya 2,5%. Sedangkan proyeksi untuk tahun depan terlihat menurun 1%, dari sebelumnya yang ditaksir sebesar 1,3%.

Analisis tersebut muncul ketika Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan pada hari Minggu bahwa harga-harga yang sangat tinggi kemungkinan akan terus dirasakan konsumen hingga tahun 2022. Bendahara Keuangan AS itu juga memperkirakan ekonomi AS akan melambat.

Secara terpisah, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Loretta Mester mengatakan pada hari Minggu bahwa risiko resesi dalam ekonomi AS meningkat dan akan memakan waktu beberapa tahun untuk kembali ke target inflasi bank sentral yang sebesar 2%.

"Dengan inflasi bulanan hingga 2022 kemungkinan akan tetap tinggi, kami percaya respons Fed terhadap penurunan pada awalnya akan diredam," tulis analis Nomura dalam catatan mereka.

Mereka memperkirakan kenaikan suku bunga akan berlanjut hingga tahun 2023. Tetapi dengan tingkat yang sedikit lebih rendah sebesar 3,50%-3,75% yang dicapai pada bulan Februari. Dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 3,75%-4,00% pada bulan Maret.

Ekonomi AS sejatinya telah pulih dengan kuat dari kerusakan yang pandemi Covid-19 timbulkan. Tetapi, lonjakan inflasi dan gangguan rantai pasok yang diperburuk perang di Ukraina telah meningkatkan pesimisme. Wall Street pun jatuh setelah bank sentral AS pada Rabu (15/6) pekan lalu menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin yang merupakan kenaikan paling tajam dalam hampir 30 tahun terakhir.

Dan, para ekonom melihat tanda-tanda yang mengkhawatirkan bahwa kepercayaan konsumen melemah, dengan orang-orang mulai menunda rencana liburan, makan di luar rumah, atau melakukan perbaikan rumah.

Yellen mengakui inflasi sangat tinggi akibat perang di Ukraina telah mendorong lonjakan harga energi dan pangan. Namun, dia tidak percaya penurunan belanja konsumen adalah kemungkinan penyebab resesi. Yellen berpendapat, pasar tenaga kerja AS bisa dibilang yang terkuat dari periode pasca perang. Dia memperkirakan, laju inflasi akan melambat dalam beberapa bulan mendatang.

Bank of Korea Menaikkan Perkiraan Inflasi, Masih Menimbang Kenaikan Bunga Lebih Besar

Bank sentral Korea Selatan, Bank of Korea (BOK) memperkirakan inflasi akan lebih tinggi daripada proyeksi sebelumnya. Bank sentral akan menilai dengan cermat beban pembayaran utang untuk menentukan apakah kenaikan suku bunga setengah poin pada bulan Juli adalah tepat.

Bank of Korea menaikkan perkiraan inflasi rata-rata tahun 2022 secara tajam menjadi 4,5% kurang dari sebulan yang lalu. Kini, bank sentral tidak menutup kemungkinan inflasi melebihi 4,7% yang dicapai pada tahun 2008.

"Kami tidak hanya melihat inflasi ketika memutuskan apakah kami perlu mengambil langkah besar," kata Gubernur Rhee Chang-yong mengenai potensi kenaikan suku bunga 50 basis points (bps).

Rhee menambahkan bahwa pihaknya perlu berdiskusi dengan anggota Dewan Kebijakan Moneter mengenai kenaikan suku bunga untuk melihat secara komprehensif dampak penguatan inflasi pada pemulihan (ekonomi) dan beban pembayaran suku bunga.

BOK bulan lalu menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,75%. Bank of Korea bergabung dengan gelombang pengetatan kebijakan global saat bank sentral bergulat dengan lonjakan harga yang tidak terlihat dalam beberapa dekade.

Awal bulan ini, Federal Reserve AS menaikkan suku bunganya sebesar 75 basis poin menjadi 1,50%-1,75%. Lonjakan suku bunga ini mengipasi pandangan bahwa BOK juga dapat memberikan kenaikan yang lebih besar daripada biasanya 25 basis poin dalam beberapa minggu mendatang untuk mengekang arus keluar modal.

Tekanan ke atas terhadap harga minyak telah meningkat karena embargo Uni Eropa terhadap minyak mentah dan minyak Rusia. Harga minyak juga menguat akibat pelonggaran lockdown di China.

Di sisi permintaan, BOK mencatat bahwa pencabutan aturan jarak sosial dan anggaran tambahan kemungkinan akan menambah tekanan inflasi. Inflasi Korea Selatan meningkat pada bulan Mei untuk bulan keempat berturut-turut menjadi 5,4%. Ini adalah laju inflasi tercepat sejak Agustus 2008. Angka inflasi berada di atas target bank sentral 2% untuk bulan ke-14 berturut-turut.

Negara dengan ekonomi terbesar keempat di Asia ini telah membatalkan semua pembatasan terkait Covid-19 sejak akhir April, kecuali mandat untuk memakai masker di dalam ruangan. Korsel bulan lalu menambah anggaran 62 triliun won atau Rp 710 triliun untuk mendukung usaha kecil dan wiraswasta yang terkena pembatasan jarak sosial selama pandemi.

China akan Melarang Mobil Tesla Melintas di Area Pertemuan Partai Komunis

Pemerintah China akan melarang mobil Tesla melintasi satu distrik di Beijing yang akan menjadi tuan rumah retret musim panas Partai Komunis. Larangan ini diduga terkait kekhawatiran akan pencurian data.

Dilansir dari Bloomberg, aturan tersebut akan mulai berlaku pada 1 Juli mendatang. Mobil produksi Tesla Inc. akan dilarang memasuki Beidaihe, distrik pesisir timur Beijing.

Mengutip seorang pejabat kepolisian setempat, larangan itu akan berlangsung setidaknya selama dua bulan. Sumber tersebut mengatakan bahwa kebijakan itu terkait dengan urusan nasional dan pengumuman resmi akan segera dibuat.

Untuk saat ini biro polisi lalu lintas di Beidaihe masih belum menanggapi komentar terkait kabar tersebut. Perwakilan Tesla di China pun masih bungkam

Situasi serupa pernah terjadi pada Maret 2021 lalu. Saat itu, mobil produksi AS tersebut juga dilarang memasuki satu kompleks militer dan kompleks perumahan di China.

Pemerintah China khawatir kamera yang ada pada mobil Tesla dapat mengumpulkan data sensitif.

Perusahaan milik Elon Musk itu sebenarnya telah menegaskan bahwa segala data pengguna China akan disimpan di server yang ada di China. Tesla juga meyakinkan bahwa kamera yang terpasang di mobilnya tidak diaktifkan di luar Amerika Utara.

Mobil produksi Tesla memang diketahui menggunakan beberapa kamera kecil yang umumnya terletak di bagian luar kendaraan. Kamera-kamera tersebut bertugas untuk membantu memandu fungsi parkir, autopilot, dan mengemudi sendiri.

Sebagian besar model mobil Tesla yang beredar di pasaran juga dilengkapi dengan kamera interior yang terpasang di atas kaca spion dalam kabin.

Tak Terima Kena PHK Massal, Karyawan Tesla Ajukan Gugatan Hukum

Aksi PHK massal yang yang dilakukan oleh produsen mobil listrik Tesla Inc tampaknya bakal berlanjut di meja hijau. Sebab, mantan karyawannya telah mengajukan gugatan dengan menilai keputusan PHK massal melanggar undang-undang federal karena perusahaan tidak memberikan pemberitahuan sebelumnya tentang pemutusan pekerjaan tersebut.

Mengutip Reuters Selasa (21/6), gugatan itu diajukan Minggu malam di Texas oleh dua pekerja yang mengatakan mereka diberhentikan dari pabrik raksasa Tesla di Sparks, Nevada pada Juni. Menurut gugatan itu, lebih dari 500 karyawan diberhentikan di pabrik Nevada.

Para pekerja menuduh perusahaan gagal mematuhi undang-undang federal tentang PHK massal yang memerlukan periode pemberitahuan 60 hari di bawah Undang-Undang Pemberitahuan Penyesuaian dan Pelatihan Ulang Pekerja, menurut gugatan itu.

Mereka mencari status class action untuk semua mantan karyawan Tesla di seluruh Amerika Serikat yang diberhentikan pada Mei atau Juni tanpa pemberitahuan sebelumnya.

"Tesla baru saja memberi tahu karyawan bahwa pemutusan hubungan kerja mereka akan segera berlaku," kata pengaduan itu.

Tesla, yang belum mengomentari jumlah PHK, tidak segera menanggapi permintaan komentar tentang gugatan tersebut.

CEO Tesla Elon Musk mengatakan awal bulan ini bahwa dia memiliki perasaan yang sangat buruk tentang ekonomi, sehingga Tesla perlu memangkas staf sekitar 10%.

Tindakan yang diajukan oleh John Lynch dan Daxton Hartsfield, yang masing-masing dipecat pada 10 Juni dan 15 Juni, mencari gaji dan tunjangan untuk periode pemberitahuan 60 hari. Gugatan itu diajukan di Pengadilan Distrik AS, Distrik Barat Texas.

"Cukup mengejutkan bahwa Tesla secara terang-terangan melanggar undang-undang perburuhan federal dengan memberhentikan begitu banyak pekerja tanpa memberikan pemberitahuan yang diperlukan," ujar Shannon Liss-Riordan, seorang pengacara yang mewakili para pekerja.

Dia mengatakan Tesla menawarkan beberapa karyawan hanya satu minggu pesangon, menambahkan bahwa dia sedang mempersiapkan mosi darurat dengan pengadilan untuk mencoba memblokir Tesla dari mencoba untuk mendapatkan rilis dari karyawan dengan imbalan hanya satu minggu pesangon.

Perdana Menteri Jepang Isyaratkan Preferensi BOJ untuk Jaga Kebijakan Moneter Longgar

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida memperjelas pandangannya bahwa bank sentral harus mempertahankan kebijakan moneter ultra longgar saat ini.

Mengutip Reuters, Selasa (21/6), dia mengatakan penurunan tajam yen mengkhawatirkan, tetapi kebijakan moneter dan nilai tukar harus ditangani secara terpisah.

"Kebijakan moneter tidak hanya mempengaruhi nilai mata uang, tetapi ekonomi dan bisnis perusahaan kecil," kata Kishida dalam debat dengan para pemimpin partai politik lainnya. 
"Faktor-faktor tersebut harus diperhitungkan secara komprehensif."

Kishida kemudian bertanya kepada Yuichiro Tamaki, yang memimpin oposisi kecil Partai Demokrat untuk Rakyat (DPP), tentang pandangan partainya terhadap kebijakan moneter.

Tamaki mengatakan BOJ harus mempertahankan suku bunga ultra-rendah saat ini, dengan alasan bahwa pengetatan kebijakan moneter tidak terpikirkan karena hal itu akan menaikkan suku bunga hipotek dan biaya pinjaman perusahaan.

"Saya setuju dengan Anda bahwa Jepang seharusnya tidak mengubah kebijakan moneter," kata Kishida setelah mendengarkan komentar Tamaki.

Pasar dipenuhi dengan spekulasi bahwa BOJ dapat mengubah kebijakan kontrol kurva imbal hasil (YCC) dan memungkinkan imbal hasil obligasi naik lebih banyak untuk mencegah yen jatuh lebih jauh dan menggembungkan biaya impor bahan bakar dan makanan.

Dengan suku bunga yang terlihat tetap sangat rendah, pembuat kebijakan memiliki sedikit cara untuk memerangi penurunan yen selain melalui peringatan lisan.

Menteri Keuangan Shunichi Suzuki mengatakan pada hari Selasa bahwa dia khawatir tentang pelemahan tajam yen baru-baru ini dan akan menanggapi pergerakan pasar pertukaran jika perlu, mengulangi peringatan karena yen melayang di dekat level terendah 24 tahun terhadap dolar.

"Pemerintah akan berhubungan erat dengan Bank of Japan sambil mengawasi pasar pertukaran dan dampaknya terhadap ekonomi dan harga dengan rasa urgensi yang lebih besar," kata Suzuki.

Kishida berbicara dalam debat dengan para pemimpin lain dari partai politik menjelang pemilihan majelis tinggi 10 Juli.

Rusia Geser Posisi Arab Saudi sebagai Pemasok Minyak Terbesar China

Impor minyak mentah China dari Rusia telah melonjak 55% dari tahun sebelumnya ke level rekor pada Mei 2022. Itu artinya, Rusia berhasil menggusur Arab Saudi sebagai pemasok utama.

Salah satu penyebabnya adalah perusahaan penyulingan minyak Rusia memberikan harga diskon besar-besaran di tengah sanksi terhadap Moskow atas serangannya ke Ukraina.

Melansir Reuters, data dari Administrasi Umum Kepabeanan China menunjukkan pada hari Senin, impor minyak Rusia berjumlah hampir 8,42 juta ton. Angka tersebut sudah termasuk pasokan yang dipompa melalui pipa Samudra Pasifik Siberia Timur dan pengiriman melalui laut dari pelabuhan Eropa dan Timur Jauh Rusia

Jumlah itu setara dengan sekitar 1,98 juta barel per hari (bph) dan naik seperempat dari 1,59 juta barel per hari pada April.

China adalah importir minyak mentah terbesar dunia.

Perusahaan-perusahaan China, termasuk raksasa penyulingan negara Sinopec dan Zhenhua Oil yang dikelola negara, telah meningkatkan pembelian minyak Rusia. Mereka tertarik dengan diskon besar-besaran setelah perusahaan-perusahaan minyak barat dan perusahaan-perusahaan perdagangan lainnya mundur akibat diberlakukannya sanksi.

Arab Saudi membuntuti sebagai pemasok terbesar kedua China, dengan volume Mei naik 9% YoY di posisi 7,82 juta ton, atau 1,84 juta barel per hari. Jumlah ini turun dari 2,17 juta barel per hari pada April.

Impor minyak mentah secara keseluruhan

Rusia mengambil kembali peringkat teratas setelah jeda 19 bulan. Data bea cukai yang dirilis pada hari Senin juga menunjukkan China mengimpor 260.000 ton minyak mentah Iran bulan lalu, pengiriman ketiga minyak Iran sejak Desember lalu.

Terlepas dari sanksi AS terhadap Iran, China terus membeli minyak Iran, yang biasanya diberikan sebagai pasokan dari negara lain.

Tingkat impor kira-kira setara dengan 7% dari total impor minyak mentah China.

Impor minyak mentah China secara keseluruhan naik hampir 12% pada Mei dari basis rendah tahun sebelumnya menjadi 10,8 juta barel per hari, dibandingkan rata-rata tahun 2021 sebesar 10,3 juta barel per hari.

Bea Cukai melaporkan nol impor dari Venezuela. Perusahaan minyak negara telah menghindari pembelian sejak akhir 2019 karena takut melanggar sanksi sekunder AS.

Impor dari Malaysia, yang sering digunakan sebagai titik transfer dalam dua tahun terakhir untuk minyak yang berasal dari Iran dan Venezuela, berjumlah 2,2 juta ton, stabil dibandingkan April tetapi lebih dari dua kali lipat tingkat tahun sebelumnya.

Impor dari Brasil turun 19% dari tahun sebelumnya menjadi 2,2 juta ton, karena pasokan dari eksportir Amerika Latin menghadapi persaingan yang lebih murah dari minyak Iran dan Rusia.

Ekonomi AS Bisa Jatuh ke Dalam Resesi Akhir Tahun Ini

Ekonomi AS kemungkinan akan jatuh ke dalam resesi ringan pada akhir 2022, karena The Fed menaikkan suku bunga untuk menjinakkan inflasi, ekonom Nomura Holdings Inc. mengatakan.

"Dengan momentum pertumbuhan yang melambat dengan cepat dan komitmen The Fed untuk memulihkan stabilitas harga, kami percaya resesi ringan yang dimulai pada kuartal keempat 2022 sekarang lebih mungkin dibanding tidak," tulis ekonom Nomura Aichi Amemiya dan Robert Dent dalam sebuah catatan Senin (20/6), seperti dikutip Bloomberg.

Nomura memperingatkan, kondisi keuangan akan semakin ketat lantaran sentimen konsumen, distorsi pasokan energi dan makanan, serta prospek pertumbuhan global memburuk.

"Dengan inflasi bulanan hingga 2022 kemungkinan akan tetap tinggi, kami percaya respons The Fed terhadap penurunan pada awalnya akan diredam," sebut ekonom Nomura.

Perusahaan jasa keuangan asal Jepang ini memperkirakan, kenaikan suku bunga AS akan berlanjut hingga 2023, tetapi dengan tingkat yang sedikit lebih rendah.

Nomura pun menurunkan perkiraan PDB riil AS untuk tahun ini menjadi 1,8%, dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya 2,5%. Sedang proyeksi untuk tahun depan hanya 1,3%.

Persistensi inflasi dan mandat tunggal The Fed adalah salah satu faktor yang mendorong penurunan PDB riil AS.

"Dari tingkat yang sangat tinggi, inflasi terus meningkat dan bukti yang berkembang dari ekspektasi inflasi yang tidak terkendali adalah dua pendorong utama penurunan pertumbuhan yang kami harapkan," ungkap ekonom Nomura.

Terlepas dari poros hawkish The Fed yang signifikan sejak November 2021, tekanan inflasi belum mereda secara berarti dan mungkin bisa dibilang memburuk.

Itu sebabnya, Nomura meyakini, upaya The Fed untuk menyelaraskan kembali permintaan dengan pasokan yang tertekan guna mengendalikan tekanan harga, pada akhirnya akan mendorong ekonomi AS ke dalam resesi ringan.

Uni Eropa Tekankan Krisis Pangan Global Disebabkan oleh Rusia

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa (UE) Josep Borrell pada Senin (20/6/2022) mengatakan dia akan menulis surat kepada semua menteri luar negeri Afrika untuk menjelaskan penyebab krisis pangan global dan melawan “propaganda” yang dilakukan Rusia.

Berbicara pada konferensi pers setelah pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Luksemburg, Borrell mengatakan keamanan pangan global tidak terancam oleh sanksi Uni Eropa, tetapi karena Rusia memblokir pengiriman produk biji-bijian dari pelabuhan Laut Hitam dan menghancurkan tanaman.

"Kami ulangi, dan kami harus memperingatkan lagi tentang risiko kelaparan hebat di dunia, terutama di Afrika. Dan peranglah yang menciptakan kenaikan harga dan kelangkaan energi dan makanan," ucap dia.

Uni Afrika mengatakan bahwa sanksi terhadap Rusia, khususnya pengeluaran dari mekanisme pembayaran internasional SWIFT, mencegah beberapa negara anggota membeli produk makanan.

"Saya ingin menegaskan bahwa bukan sanksi Eropa yang menciptakan krisis ini. Sanksi kami tidak menargetkan makanan, tidak menargetkan pupuk," kata Borrell.

“Siapa pun yang ingin membeli makanan dan pupuk Rusia, mereka dapat melakukannya – tidak ada hambatan. Pelaku ekonomi harus tahu bahwa produk dari Rusia ini di luar cakupan sanksi kami, sehingga mereka dapat beroperasi, mereka dapat membeli, mereka dapat mengangkut, mereka dapat mengasuransikannya."

Dia berpendapat bahwa masalahnya berasal dari blokade Rusia terhadap gandum Ukraina.

"Jutaan ton gandum diblokir, dan jutaan orang tidak akan bisa makan gandum ini," kata pejabat Uni Eropa itu.

"Jadi, perang akan memiliki konsekuensi dramatis bagi dunia. Kami meminta Rusia untuk membuka blokir pelabuhan dan membebaskan produk ini," tukas Borrell.

Sementara itu, Moskow mengatakan bahwa sanksi Barat terhadap industri perbankan dan pengirimannya harus disalahkan atas kekurangan makanan.

Australia Melihat Perlunya Menormalkan Kebijakan dalam Mengatasi Inflasi

Bank sentral Australia memutuskan menaikan suku bunga sebesar 50 basis poin pada bulan ini. Karena kebijakan itu akan sangat stimulatif dan perlu dinormalkan demi menghentikan inflasi terlalu tinggi.

Catatan rapat dewan pada 7 Juni lalu menunjukkan bank sentral Australia (RBA) membahas apakah menaikan suku bunga 0,35 persen dengan 25 basis poin atau 50 basis poin. Dewan memutuskan yang terakhir karena inflasi bergerak terlalu cepat diluar ekspektasi.

"Anggota dewan mencatat kedua opsi itu membuat suku bunga di bawah 1 persen, yang mana masih akan sangat merangsang, dan peningkatan lebih lanjut akan diperlukan," kata catat rapat itu seperti dikutip Reuters, Selasa (21/6/2022).

"Anggota juga setuju langkah selanjutnya perlu diambil untuk menormalkan kondisi moneter di Australia selama beberapa bulan kedepan."

Perang Rusia di Ukraina dan pandemi Covid-19 meningkatkan inflasi. Harga bahan bakar merupakan faktor utama inflasi di seluruh dunia dan menaikan biaya kebutuhan hidup. Masyarakat di seluruh dunia menggunakan berbagai cara untuk mengurangi biaya bensin. Mulai dari berjalan kaki, menggunakan sepeda, bus, kereta dan lain-lain.

Harga bensin dan diesel adalah hasil perhitungan rumit dari harga minyak mentah, pajak, daya beli masing-masing negara dan individu, subsidi pemerintah bila ada, dan keuntungan yang diambil pihak tengah seperti kilang. Minyak dihargai dalam dolar AS.

Maka, bagi negara importir energi, nilai tukar mata uang juga berperang. Lemahnya nilai euro mendorong harga bensin di Eropa. Dan kemudian ada faktor geopolitik seperti perang di Ukraina.

Harga minyak internasional sekitar 110 dolar AS per barel. Di Hong Kong dan Norwegia, harga minyak bisa hampir 12 dolar AS per galon. Di Jerman bisa sekitar 7,5 dolar AS per galon dan Prancis di atas 8 dolar AS per galon.

Sementara karena rata-rata pajak bahan bakar yang rendah di Amerika harga minyak di negara itu bisa lebih murah, yaitu sekitar 5 dolar AS per galon. Tapi tetap untuk pertama kalinya harga minyak semahal itu di AS.