• Blog
  • News  Forex,  Index  &  Komoditi (  Rabu,  8 Juni 2022  )

News  Forex,  Index  &  Komoditi (  Rabu,  8 Juni 2022  )

Wall Street Melesat Ditopang Saham di Sektor Teknologi dan Energi

Wall Street kembali ditutup menguat untuk hari kedua berturut-turut berkat kenaikan pada saham teknologi dan energi. Namun, peringatan Target Corp tentang kelebihan persediaan membebani saham ritel untuk sebagian besar sesi kali ini.

Selasa (7/6), indeks Dow Jones Industrial Average naik 264,36 poin atau 0,8% menjadi 33.180,14, indeks S&P 500 menguat 39,25 poin atau 0,95%  ke 4.160,68 dan indeks Nasdaq Composite menguat 113,86 poin atau 0,94% ke 12.175,23.

Pada sesi kali ini, saham Apple Inc melesat 1,8% meskipun ada berita pada hari sebelumnya bahwa perusahaan harus mengubah konektor pada iPhone yang dijual di Eropa pada tahun 2024 setelah negara-negara UE dan anggota parlemen menyetujui satu port pengisian daya untuk ponsel, tablet, dan kamera.

Indeks teknologi pada S&P 500 naik 1% dan memberi dorongan terbesar pada indeks acuan. Di mana, Saham Microsoft Corp melesat 1,4%.

Di sisi lain, indeks sektor energi S&P 500 juga melonjak 3,1% menjadi berakhir pada level tertinggi sejak 2014, dengan harga minyak yang melonjak tajam.

Pada saat yang sama, saham Target Corp turun 2,3% setelah perusahaan pengecer tersebut mengatakan harus menawarkan diskon yang lebih dalam dan mengurangi stok barang-barang pilihan.

Sebenarnya, pada sesi kali ini cenderung berombak setelah bursa saham Amerika Serikat (AS) turun di awal perdagangan, tetapi pasar telah pulih dari kerugian tajam baru-baru ini.

Baru-baru ini, "kami mengalami lonjakan yang bagus ... dan secara umum investor merasa lebih baik sekarang. Tapi kami sangat berada di pasar jungkat-jungkit seperti yang telah kami lihat sepanjang tahun," kata Tim Ghriskey, Senior Portfolio Strategist Ingalls & Snyder di New York.

"Pada titik tertentu, kami akan mencapai titik terendah, dan pasar akan bergerak lebih tinggi. Kami sulit percaya bahwa itu dalam waktu dekat, mengingat sejumlah masalah mendasar yang menaungi pasar," lanjut Ghriskey.

"Tetapi tentu saja apa yang kita lihat hari ini dari Target bukanlah kabar baik bagi konsumen," tegas dia.

Namun, imbal hasil US Treasury jatuh setelah berita Target, karena memicu beberapa spekulasi bahwa inflasi terburuk mungkin terjadi di masa lalu.

Pada sesi ini, saham Walmart pun turun 1,2%, dan indeks ritel S&P terkikis 1%.

Data harga konsumen pada hari Jumat diperkirakan menunjukkan bahwa inflasi tetap tinggi di bulan Mei, meskipun harga konsumen inti, yang mengecualikan sektor makanan dan energi yang bergejolak, kemungkinan turun secara tahunan.

Tidak semua pengecer berada di zona merah. Saham Kohl's Corp sukses melonjak 9,5% setelah berita jaringan department store memasuki pembicaraan eksklusif dengan operator toko ritel Franchise Group Inc mengenai penjualan potensial yang akan bernilai hampir US$ 8 miliar.

Bursa Asia Tampil Perkasa di Pagi Ini (8/6), Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga India

Bursa Asia terlihat perkasa pada awal perdagangan hari ini. Rabu (8/6), pukul 08.22 WIB, indeks Nikkei 225 naik 0,88% ke 28.188,76. Serupa, indeks Hang Seng menguat 1,19% ke 21.788,89.

Indeks Taiex terkerek 0,67% ke 16.622,69. Sedangkan indeks Kospi menanjak 0,33% ke 3.635,01 dan indeks ASX 200 menguat 0,82% ke 7.153,6.

Sementara itu, FTSE Straits Times naik tipis 0,07% ke 3.233,74 dan FTSE Malay KLCI menguat 0,29% ke 1.530,39.

Bursa saham di kawasan terlihat menguat karena investor menantikan keputusan suku bunga terbaru dari Reserve Bank of India yang dijadwalkan rilis hari ini.

Keputusan ini dinantikan pasar setelah Reserve Bank of Australia (RBA) secara mengejutkan menaikkan suku bunga 50 bps pada Selasa (7/6).

Di sisi lain, ekonomi Jepang menyusut 0,5% secara  tahunan (yoy) pada kuartal I-2022. Berdasarkan data pemerintah yang direvisi, menunjukkan ini menjadi peningkatan dari perkiraan awal yakni kontraksi 1%.

Unjuk Kekuatan ke Korea Utara, Korea Selatan dan AS Terbangkan 20 Pesawat Tempur

Korea Selatan dan AS menerbangkan pesawat tempur termasuk jet tempur siluman di atas perairan di sekitar Semenanjung Korea pada Selasa (7/6) dalam unjuk kekuatan baru, menyusul uji coba rudal baru-baru ini oleh Korea Utara.

Enam belas pesawat tempur Korea Selatan, termasuk jet tempur siluman F-35 dan empat jet tempur F-16 AS, membentuk skuadron serangan di atas Laut Barat untuk "menanggapi ancaman musuh," kata Kepala Staf Gabungan Korea Selatan dalam sebuah pernyataan.

Korea Selatan dan AS "menunjukkan kemampuan dan kemauan kuat mereka untuk menyerang dengan cepat dan akurat terhadap provokasi apa pun dari Korea Utara," ungkap Kepala Staf Gabungan Korea Selatan, seperti dikutip Channel News Asia.

Manuver udara, yang melibatkan sekitar 20 pesawat tempur, terjadi sehari setelah Korea Selatan dan AS menembakkan delapan rudal balistik ke Laut Jepang setelah uji coba senjata oleh Korea Utara pada Minggu (5/6).

Pada Minggu (5/6), Korea Utara menembakkan delapan rudal balistik jarak pendek dari empat lokasi berbeda dalam waktu 30 menit, salah satu uji coba terbesarnya, menurut para analis.

Negara bersenjata nuklir itu telah melakukan serangkaian uji coba senjata tahun ini, termasuk menembakkan rudal balistik antarbenua dari jarak penuh untuk pertama kalinya sejak 2017 lalu.

Taiwan Kerahkan Jet Tempur dan Pertahanan Udara Usir 2 Jet Tempur China

Dua pesawat militer China terbang ke zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) Taiwan pada Minggu 5 Juni 2022 kemarin, menandai hari kedua penyusupan bulan ini.

Melansir Taiwan News, Selasa (7/6), jet tempur Shenyang J-16 Angkatan Udara Pembebasan Rakyat Dua Angkatan Udara (PLAAF) memasuki sudut barat daya ADIZ Taiwan, menurut Kementerian Pertahanan Nasional (MND).

Sebagai tanggapan, Taiwan mengirim pesawat, mengeluarkan peringatan radio, dan mengerahkan sistem rudal pertahanan udara untuk melacak pesawat PLAAF.

ADIZ adalah area yang melampaui wilayah udara suatu negara di mana pengontrol lalu lintas udara meminta pesawat yang masuk untuk mengidentifikasi diri.

Sejauh ini bulan ini China telah mengirim tiga pesawat ke zona identifikasi Taiwan, termasuk dua jet tempur dan satu pesawat pengintai.

Sejak September 2020, China telah meningkatkan penggunaan taktik zona abu-abunya dengan secara rutin mengirim pesawat ke ADIZ Taiwan, dengan sebagian besar kejadian terjadi di sudut barat daya. Pada tahun 2021, pesawat militer China memasuki ADIZ Taiwan pada 961 kasus selama 239 hari, menurut MND.

Taktik zona abu-abu didefinisikan sebagai "upaya atau serangkaian upaya di luar pencegahan dan jaminan kondisi mapan yang berupaya mencapai tujuan keamanan seseorang tanpa menggunakan kekuatan langsung dan cukup besar."

Zelenskyy: Inggris Sediakan Senjata yang Ukraina Butuhkan untuk Perang dengan Rusia

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan pada Senin (6/6), Inggris telah menyediakan senjata yang Kyiv butuhkan untuk berperang dengan Rusia, dan berterima kasih kepada Perdana Menteri Boris Johnson atas pemahaman "lengkap" tentang kebutuhan itu.

Inggris mengumumkan pada Senin, dalam koordinasi dengan Amerika Serikat, mereka akan memasok Ukraina dengan sistem roket peluncuran ganda yang bisa menyerang target hingga 80 km jauhnya sebagai bagian dari bantuan militer baru untuk Kyiv.

"Saya berterima kasih kepada Perdana Menteri Boris Johnson atas pemahaman penuh atas tuntutan dan kesiapan kami untuk menyediakan senjata yang Ukraina butuhkan untuk melindungi kehidupan rakyat kami," kata Zelenskyy dalam pidato malamnya, seperti dikutip Reuters.

Pada Senin, pasukan Ukraina dan Rusia bertempur di jalan demi jalan untuk menguasai kota industri Sievierodonetsk dalam pertempuran penting dari serangan Moskow di wilayah Donbas timur Ukraina.

Zelenskyy dan Johnson mengadakan percakapan telepon, dengan keduanya "mencari cara untuk menghindari krisis pangan dan membuka blokir pelabuhan", mengacu pada blokade laut Rusia di Ukraina yang membuat Ukraina tidak bisa mengekspor hasil pertaniannya.

AS: Bakal Ada Respons Cepat dan Kuat jika Korea Utara Uji Coba Bom Nuklir

Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman mengatakan pada Selasa (7/6), bakal ada respons yang kuat dan jelas dari Amerika Serikat, Korea Selatan, dan dunia jika Korea Utara melakukan uji coba nuklir.

"Setiap uji coba nuklir akan sepenuhnya melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB, (dan) akan ada tanggapan cepat dan kuat terhadap uji coba semacam itu," ungkapnya usai menggelar pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun-dong di Seoul.

"Saya percaya, tidak hanya ROK dan Amerika Serikat dan Jepang tetapi seluruh dunia akan merespons dengan cara yang kuat dan jelas," tegas dia, seperti dikutip Reuters. ROK adalah Republik Korea, nama resmi Korea Selatan.

"Kami siap dan kami akan melanjutkan diskusi trilateral kami (dengan Korea Selatan dan Jepang) besok," tambah Sherman.

Pernyataannya muncul setelah pasukan Korea Selatan dan AS menembakkan delapan rudal permukaan-ke-permukaan pada Senin (6/6) pagi di lepas pantai timur Korea Selatan sebagai respon atas rentetan peluncuran rudal balistik jarak pendek oleh Korea Utara pada Minggu (5/6).

Otoritas Pemerintah AS dan Korea Selatan serta pakar Korea Utara telah mengatakan, ada tanda-tanda pembangunan baru di Punggye-ri, satu-satunya situs uji coba nuklir Korea Utara yang diketahui, serta Pyongyang bisa segera menguji bom.

Korea Utara belum pernah melakukan uji coba bom nuklir sejak 2017.

Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi pada Senin menyatakan, pekerjaan pembangunan Korea Utara memperluas fasilitas utama di situs nuklir utamanya di Yongbyon semakin maju.

Lavrov kritik barat karena blokir kunjungannya ke Serbia

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Senin (6/6) mengecam keputusan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari sejumlah negara di sekitar Serbia karena menutup wilayah udara nasional mereka untuk penerbangannya menuju Beograd.

"Kebebasan suatu negara untuk memilih mitra, sebuah prinsip yang dipegang oleh barat, telah diinjak-injak oleh barat sendiri. Serbia, dari sudut pandang barat, tidak boleh memiliki kebebasan seperti itu," kata Lavrov dalam konferensi pers daring di Moskow.

Lavrov mengatakan insiden tersebut merupakan upaya untuk merusak hubungan Serbia dengan Rusia dan membatasi kebijakan luar negeri.

Dalam konferensi pers harian, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengecam "tindakan bermusuhan" terhadap perwakilan tingkat tinggi Rusia serta menekankan bahwa interaksi antara Rusia dengan negara-negara sahabat, seperti Serbia, akan terus berlanjut.

Lavrov sebelumnya berencana untuk berkunjung ke Beograd mulai Senin hingga Selasa (6 -7 Juni). Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova pada Minggu (5/6) malam, pesawatnya ditolak masuk ke wilayah udara sejumlah negara di sekitar Serbia.

Perdana Menteri Inggris Lolos dari Mosi tidak Percaya

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson lolos dari mosi tidak percaya yang bisa membuatnya dicopot dari kekuasaan. Terlepas dari ketidakpuasan di internal Partai Konservatif yang berkuasa, Johnson memenangkan mosi percaya pada Senin (6/6/2022) dengan 211 mendukung Johnson dan148 suara tidak mendukungnya.

Johnson menggambarkan pemungutan suara sebagai "hasil yang menentukan". Dengan demikian, dia dapat melanjutkan pemerintahan dan fokus pada kebijakan yang penting bagi masyarakat.

 “Saya pikir ini hasil yang meyakinkan, hasil yang menentukan pemerintah kita dapat bergerak dan fokus pada hal-hal yang menurut saya benar-benar penting bagi masyarakat,” kata Johnson, dilansir Aljazirah, Selasa (7/6/2022).

Pejabat Partai Konservatif, Graham Brady telah menerima surat yang menyerukan mosi tidak percaya pada Johnson dari setidaknya 54 anggota parlemen Partai Konservatif. Di bawah aturan partai, jumlah ini memenuhi kriteria untuk mengambil langkah mosi tidak percaya terhadap Johnson.

Johnson perlu memenangkan dukungan mayoritas dari 359 legislator Konservatif di parlemen Inggris untuk tetap berkuasa.  Jika Johnson gagal mengamankan mayoritas itu, partai tersebut akan terpaksa memilih pemimpin baru yang juga akan menjadi perdana menteri berikutnya.

Mantan ajudan menteri di pemerintahan Johnson,  Leon Emirali, mengatakan, ada "kelegaan besar" di Downing Street ketika perdana menteri lolos dari mosi tidak percaya.Emirali menggambarkan kemenangan Johnson sebagai "mayoritas yang sangat tipis".

“Saya pikir akan ada perasaan lega di awal. Tetapi, pada akhirnya, masalah yang lebih besar akan datang lebih jauh,” kata Emirali.

Kepemimpinan Johnson berada di bawah pengawasan ketat, setelah laporan penyelidik mengkritik ada pelanggaran aturan di dalam kantor perdana menteri. Skandal ini dikenal sebagai "Partygate".

Laporan tersebut menggambarkan pesta alkohol yang diadakan oleh staf Downing Street pada 2020 dan 2021. Pesta digelar di tengah kebijakan lockdown atau penguncian untuk melawan pandemi Covid-19. Berdasarkan kebijakan tersebut, penduduk Inggris dilarang keluar rumah untuk bersosialisasi atau bahkan mengunjungi kerabat.

Johnson telah menghabiskan waktu selama beberapa bulan untuk mempertahankan cengkeramannya pada kekuasaan. Skandal ini menjadikan Johnson sebagai perdana menteri Inggris pertama yang terbukti melanggar hukum. Tetapi Johnson dengan tegas menolak untuk mengundurkan diri.

Johnson disambut dengan sorakan dan ejekan dari warga Inggris ketika menghadiri perayaan Platinum Jubilee Ratu Elizabeth II. Sebagian besar rakyat Inggris telah kehilangan kepercayaan terhadap Johnson setelah skandal Partygate tersebut.

"Boris Johnson akan lega pada pemungutan suara ini. Tapi dia juga akan mengerti bahwa prioritas berikutnya adalah membangun kembali kohesi partai. Saya yakin dia akan mampu menandingi tantangannya," ujar seorang mantan menteri, David Jones kepada Reuters.

Dengan memenangkan mosi tidak percaya, Johnson telah mendapatkan penangguhan hukuman selama 12 bulan ketika anggota parlemen tidak dapat mengajukan tantangan lain. Puluhan anggota parlemen Konservatif telah menyuarakan keprihatinan apakah Johnson akan kehilangan otoritasnya untuk memerintah Inggris.

Ketegangan Diplomatik China-Kanada Kembali Meningkat

Ketegangan diplomatik antara China dan Kanada kembali meningkat. Keduanya saling menuduh menggunakan pesawat militer mereka terbang di dekat Korea Utara untuk melakukan provokasi.

Sebelumnya, Senin (6/6), Kementerian Luar Negeri China memperingatkan Kanada tentang konsekuensi dari setiap provokasi. Hal ini diungkapkan setelah militer Kanada pekan lalu menuduh pesawat tempur China mengganggu pesawat patroli yang memantau kepatuhan Korea Utara dengan sanksi.

"Dewan Keamanan PBB tidak pernah mengizinkan negara mana pun untuk melakukan pengawasan militer di laut dan wilayah udara negara lain atas nama penegakan sanksi," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian.

Menjawab tudingan China, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan, Kanada berpartisipasi dalam misi PBB. Dia justru berbalik menuding China telah melakukan tindakan provokatif secara tidak bertanggung jawab.

"China tidak bertanggung jawab dan provokatif, serta menempatkan orang dalam risiko, sementara pada saat yang sama tidak menghormati keputusan PBB untuk menegakkan sanksi PBB terhadap Korea Utara," kata Trudeau.

Pekan lalu Trudeau menyebut, tindakan China terhadap pesawat tempur Kanada "sangat meresahkan". Militer Kanada mengatakan, pesawat China terkadang memaksa pesawat Kanada untuk mengalihkan jalur penerbangan.

Juru bicara Kementerian Pertahanan, Wu Qian, mengatakan, militer China mengambil langkah-langkah yang wajar untuk menangani tindakan Kanada dan telah membuat "pernyataan serius" melalui saluran diplomatik.  Kementerian Pertahanan China mengatakan, jet militer Kanada telah meningkatkan pengintaian dan provokasi terhadap China dengan dalih menerapkan resolusi Dewan Keamanan PBB.

Meningkatnya ketegangan antara Kanada dan China mengikuti keputusan Ottawa bulan lalu untuk melarang penggunaan peralatan 5G dari Huawei Technologies Co, karena masalah keamanan nasional. Keputusan itu telah ditunda setelah Kanada menahan eksekutif Huawei Meng Wanzhou pada 2018 atas nama Amerika Serikat.

Termasuk penangkapan dua orang Kanada oleh Beijing atas tuduhan mata-mata. Kebuntuan itu berakhir, ketika ketiganya dibebaskan pada September setelah jaksa Amerika Serikat mencapai kesepakatan dengan Meng.

Rusia Ancam Cabut Akreditasi Media AS

Rusia, Senin (6/6), mengancam akan mencabut akreditasi media Amerika Serikat (AS). Menurut tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut, ancaman ini merupakan tindakan balasan terkait  perlakuan buruk terhadap jurnalis Rusia di AS dan negara Barat lainnya.

Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari, beberapa media Pemerintah Rusia telah dilarang beroperasi di AS. Bahkan beberapa negara Barat lainnya mencabut izin penyiaran dan memberi sanksi kepada outlet media Rusia. Moskow mengatakan, langkah-langkah tersebut  menunjukkan pengabaian terhadap kebebasan media.

Pada Maret, Presiden Vladimir Putin menandatangani undang-undang yang menjatuhkan hukuman penjara hingga 15 tahun karena menyebarkan berita "palsu" dengan sengaja tentang militer. Hal ini mendorong beberapa media Barat menarik jurnalis mereka keluar dari Rusia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, pekan lalu, memanggil kepala media AS untuk memberikan pemberitahuan tentang "langkah-langkah paling ketat" dalam menanggapi "permusuhan" yang dihadapi oleh rekan-rekan jurnalis Rusia di Amerika Serikat. Dalam pertemuan pada Senin, dia menguraikan kesulitan bagi jurnalis Rusia di AS terkait perpanjangan visa, pemblokiran rekening bank, dan dugaan pelecehan oleh badan intelijen AS.

Zakharova memperingatkan, jika jurnalis Rusia tidak dapat bekerja secara bebas di AS, reporter AS di Rusia berisiko menghadapi kesulitan serupa terkait visa, akreditasi media, dan rekening bank mereka. Zakharova mengatakan kepada perwakilan media AS, jika keadaan tidak berubah, jurnalis AS harus pergi dari Moskow. Zakharova tidak menanggapi permintaan tertulis untuk mengomentari pertemuan itu atau tentang peringatan kepada organisasi media AS.

Kantor berita RIA mengatakan, perwakilan dari the Wall Street Journal, CNN, Associated Press, NPR dan Alhurra TV menghadiri pertemuan tersebut. Juru bicara organisasi media AS seperti Associated Press, CNN, the Washington Post dan the Wall Street Journal tidak menanggapi permintaan komentar atas pertemuan itu.

Washington telah memberlakukan sanksi terhadap beberapa stasiun televisi Rusia yang dikelola negara karena telah menyebarkan disinformasi untuk mendukung perang Rusia di Ukraina. Pejabat Rusia termasuk Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov dan Zakharova mengatakan, media Barat telah memberikan narasi parsial yang berlebihan tentang "operasi militer khusus" Rusia di Ukraina.