Wall Street Tumbang ‘Terserang’ Virus Corona

Wall Street Tumbang ‘Terserang’ Virus Corona

Hot News Market Hari Ini

( Selasa, 28 Januari 2020 )

Benarkah Virus Corona Senjata Biologi Milik China?

Virus Corona (Coronavirus/nCov) tiba-tiba membuat publik dunia tersentak. Virus penyebab pneumonia misterius ini pertama kali ditemukan di Wuhan, China, sejak akhir 2019.

Mengutip data dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan sumber lain yang diolah, cirus corona berasal dari hewan lalu menjangkit hewan lainnya seperti kelelawar, burung, monyet, ayam, sapi, hingga ular.

Wabah virus ini hampir mirip dengan Sindrom Pernapasan Timur Tengah atau MERS dan Sindrom Pernapasan Akut Parah atau SARS. Ketika Virus Corona menginfeksi hewan maka yang terjadi adalah gangguan pernapasan.

Coronavirus tidak stabil ketika berada di udara, hanya mampu hidup selama 3 jam sehingga kecil kemungkinan penularan lewat udara. Adapun penyebaran virus lebih dimungkinkan lewat bersin atau batuk dari orang yang terinfeksi kepada orang yang ada di dekatnya.

Gejala orang yang terkena Virus Corona antara lain demam, sulit bernapas, dan batuk kering. Tak ayal, Virus Corona telah menjadi sosok yang mengerikan. Lantas, apakah Coronavirus bagian dari senjata biologi?

Pakar senjata biologi Dany Shoham menduga kalau Virus Corona adalah program senjata biologi rahasia China. Hal ini terungkap dari data rekaman milik Radio Free Asia yang menyiarkan ulang laporan televisi lokal Wuhan pada 2015.

Kala itu, Pemerintah Kota Wuhan memperkenalkan laboratorium penelitian virus paling maju di China, atau Wuhan National Biosafety Laboratory, satu-satunya dinyatakan mampu mengerjakan virus-virus mematikan oleh China.

Bahkan, China sesumbar jika laboratorium ini disebut telah menerapkan P4 atau Pathogen Level 4, yakni status yang mengindikasikan fasilitas itu menggunakan standar keamanan terketat untuk mencegah penyebaran mikroba paling berbahaya.

Menurut Shoham, para peneliti di sana telah mempelajari Virus Corona sebelumnya, termasuk strain penyebab Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS), virus influenza H5N1, encephalitis Jepang, dan demam berdarah. Selain itu mereka juga mempelajari kuman penyebab antrax.

“Virus Corona yang sudah dipelajari di laboratorium itu mungkin disimpan di sana. SARS juga termasuk dalam program senjata biologi China. Virus itu diteliti di beberapa fasilitas terkait,” kata Shoham.

Lebih lanjut, mantan perwira menengah intelijen militer Israel itu menjelaskan bahwa senjata biologi ini termasuk dalam bagian riset militer yang bersifat sangat rahasia dan tertutup.

Kecurigaan bertambah terhadap laboratorium ini karena lokasinya yang terletak 32 kilometer dari Pasar Seafood Huanan, tempat asal virus ini menjangkiti manusia. Meski dirancang dengan standar biosafety level 4, tidak menutup kemungkinan jika ada virus yang lolos dari laboratorium tersebut.

“Pada prinsipnya infiltrasi virus keluar dari sarangnya (laboratorium) bisa terjadi karena ada kebocoran atau infeksi tanpa disadari di dalam ruangan pada seseorang yang secara normal keluar dan masuk fasilitas tersebut. Itu termasuk di Wuhan National Biosafety Laboratory. Tapi sejauh ini belum ada bukti,” jelasnya.

Kian Mengkhawatirkan, 4.000 Orang Terinfeksi dan 106 Meninggal

Jumlah orang yang meninggal akibat wabah virus corona jenis baru di China telah melonjak menjadi 106 orang. Selain itu, sekitar 1.291 kasus baru muncul sehingga menambah jumlah orang di China yang terinfeksi menjadi sekitar 4.000.

Komisi Kesehatan Provinsi Hubei mengatakan ada tambahan sebanyak 24 orang meninggal di wilayah pusat virus yang bernama resmi 2019 Novel Coronavirus atau 2019-nCoV tersebut.

Angka kematian 106 orang ini termasuk satu kematian yang dilaporkan di Beijing. Laporan kematian di Beijing telah memicu kecemasan masyarakat internasional, karena kota itu adalah Ibu Kota China.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah membuat bingung masyarakat internasional dengan mengoreksi penilaiannya terhadap virus Corona jenis baru, 2019-nCoV. Organisasi itu kini menyatakan risiko global dari virus mematikan tersebut tinggi.

Laporan penilaian WHO sebelumnya menyatakan tingkat risiko global dari virus itu masih “moderat.” Badan kesehatan yang bernaung di bawah PBB tersebut mengatakan dalam laporan yang dipublikasikan Minggu malam bahwa risiko virus sangat tinggi di China, tinggi di tingkat regional dan tinggi di tingkat global.

Dalam catatan kakinya, WHO mengatakan ada kesalahan dalam laporan komunikasi sebelumnya yang diterbitkan pada hari Kamis, Jumat dan Sabtu. Menurut WHO, laporan tiga hari itu salah karena mengatakan risiko global dari “2019 Novel Coronavirus atau 2019-nCov” moderat.

Ditanya untuk lebih detail, juru bicara WHO Fadela Chaib hanya mengatakan bahwa itu adalah “kesalahan dalam susunan kata.”

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Kamis pekan lalu organisasi itu tidak menyatakan darurat kesehatan masyarakat internasional akan bahaya virus Corona jenis baru yang muncul pertama kali di Wuhan, China. Keputusan WHO itu terbilang langka, karena keputusan itu tidak dapat memicu tindakan internasional yang lebih terpadu.

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus telah mengunjungi China minggu ini untuk membahas tindakan lebih lanjut untuk mengatasi virus. Pada hari Kamis pekan lalu, dia mengatakan; “Ini adalah keadaan darurat di China, tetapi belum menjadi darurat kesehatan global.”

Wall Street Tumbang ‘Terserang’ Virus Corona

Bursa saham Amerika Serikat mencatat pelemahan terburuk dalam tiga bulan terakhir pada perdagangan Senin (27/1/2020), di tengah kekhawatiran tentang dampak ekonomi dari penyebaran virus corona di China.

Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 453,93 poin atau 1,57 persen ke level 28.535,8, sedangkan indeks S&P 500 kehilangan 51,84 poin atau 1,57 persen ke 3.243,63 dan Nasdaq Composite turun 175,60 poin atau 1,89 persen ke 9.139,31.

Indeks S&P 500 mengalami kinerja mingguan terburuk sejak September pada pekan lalu ketika China menutup akses transportasi sejumlah kota. Hal ini mengingatkan investor akan virus SARS yang mematikan yang menewaskan hampir 800 orang pada 2002-2003 silam yang juga menekan perekonomian global.

Namun, sejumlah investor memperkirakan belum ada dampak ekonomi jangka panjang dari virus corona, mengingat pengalaman masa lalu dengan wabah virus.

“Semua ini sangat berlebihan,” kata Stephen Massocca, wakil presiden senior di Wedbush Securities, seperti dikutip Reuters.

“Tampaknya warga China melakukan pekerjaan yang jauh lebih baik dalam mengatasi (virus corona) daripada saat wabah SARS lalu, dan apa yang akhirnya yang menjadi akibat dari SARS? Apakah SARS menyebabkan bencana ekonomi? Tidak,” lanjutnya.

Setelah wabah SARS tahun 2003, indeks S&P menguat lebih dari 10 persen dari awal wabah hingga pengumuman pengendalian wabah.

Saham yang terkait dengan perjalanan, termasuk maskapai penerbangan, kasino, dan hotel, termasuk yang paling terpukul di Wall Street, sementara saham sektor yang terpapar pertumbuhan China, termasuk teknologi, bahan dan energi, juga turut menekan pasar.

Indeks Dow Jones dan S&P mengalami penurunan persentase harian terbesar sejak 2 Oktober, sedangkan penurunan Nasdaq adalah yang terbesar sejak 23 Agustus. Indeks Volatilitas CBOE, yang mencerminkan kekhawatiran investor di Wall Street, mencapai level 19,02, tertinggi sejak 10 Oktober.

Saham teknologi dan internet yang telah mendukung rally baru-baru ini termasuk Apple Inc, Microsoft Corp, Alphabet Inc, dan Amazon.com Inc, yang menyumbang sekitar 15 persen dari bobot S&P 500, melemah lebih dari 1,6 persen. 

Permintaan Terancam, Minyak Mentah Meluncur

Harga minyak melemah ke level terendah sejak Oktober karena virus corona di China melumpuhkan ekonomi dan mengancam permintaan energi dunia.

Harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Maret turun 1,9 persen atau 1,05 poin ke level US$53,14 per barel di New York Mercantile Exchange pada akhir perdagangan Senin (27/1/2020).

Sementara itu, minyak Brent melemah 1,37 poin ke level US$59,32 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London, menempatkan premi di atas WTI di US$6,18 per barel untuk kontrak bulan yang sama.

Jumlah korban virus corona naik menjadi setidaknya 80 orang dan tambahan kasus infeksi menggarisbawahi kekhawatiran bahwa China telah gagal menahan virus mematikan meskipun ada upaya untuk mengendalikan wabah tersebut.

Sementara itu, pemerintah China memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek tiga hari hingga 2 Februari, sementara perusahaan di Shanghai telah diminta untuk tidak mulai bekerja sampai setidaknya 9 Februari.

Virus ini adalah pergolakan terbaru untuk pasar minyak, yang telah berjuang dengan kekhawatiran permintaan selama berbulan-bulan. Investor menjual minyak mentah dan komoditas lainnya di tengah penarikan besar-besaran aset berisiko dan khawatir bahwa virus akan mengurangi konsumsi bahan bakar karena perjalanan dibatasi.

Namun, minyak memangkas pelemahannya setelah Arab Saudi meyakinkan pasar bahwa eksportir minyak mentah terbesar dunia tersebut sedang memantau dengan cermat situasi dan dampak virus corona terhadap pasar minyak.

“Saya pikir hal itu menghilangkan beberapa tekanan,” ungkap Michael Lynch, presiden Strategic Energy & Economic Research Inc., seperti dikutip Bloomberg.

Saudi mengisyaratkan bahwa begitu dampak virus lebih jelas, mereka bersedia menyeimbangkan kembali pasar, lanjut Lynch.

Investor mengabaikan meningkatnya krisis di Libya yang dapat membuat output negara itu anjlok menjadi 72.000 barel per hari dari 262.000 barel, menurut Pimpinan National Oil Corp. Mustafa Sanalla.

“Pasar sedang jatuh bebas sekarang. Jika Libya tidak menjadi gangguan besar untuk pasokan, semua orang akan berkonsentrasi pada China,” kata Mark Wagoner, presiden direktur Excel Futures Inc.

“Penurunan harga baru-baru ini dapat bertahan atau memburuk jika virus terus menyebar. Ini akan menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik. minyak mentah diperkirakan melemah hingga US$50,50 sebelum ada kesempatan membeli lagi,” katanya.

Takut Ancam Bisnis Perusahaan AS, Administrasi Trump Batal Rilis Aturan Batasi Ekspor ke Huawei

Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) telah menarik aturan yang bertujuan mengurangi ekspor ke Huawei China karena Departemen Pertahanan khawatir langkah itu akan membahayakan bisnis perusahaan AS.

Keputusan untuk menarik aturan dari proses tinjauan formal itu membuat masa depan AS dalam behaya, apalagi terdapat perpecahan di dalam Administrasi Trump terkait perlakuan tepat terhadap Huawei.

“Administrasi Trump merencanakan pertemuan tingkat kabinet minggu depan demi membahas peraturan itu, dibatalkan atau direvisi,” kata narasumber yang menolak disebutkan namanya kepada Reuters, dikutip Selasa (28/1/2020).

Perwakilan Departemen Perdagangan mengaku akan memperbarui informasi jika pertemuan telah rampung dan menghasilkan keputusan.

Sementara itu, Huawei menolak berkomentar soal kabar ini. Pentagon dan Departemen Keuangan tak langsung menanggapi permintaan berkomentar.

Sekadar informasi, Huawei masuk ke dalam Daftar Hitam Perdagangan sejak Mei 2019 dengan alasan keamanan nasional. Hal itu memungkinkan Pemerintah AS membatasi penjualan komponen teknologi buatan AS serta barang impor mengandung teknologi AS kepada Huawei.

Di bawah peraturan saat ini, rantai pasokan asing tak bisa diatur oleh regulator Negeri Paman Sam, memicu ambisi mereka untuk meningkatkan pembatasan ekspor pada Huawei.

Pada November lalu, Departemen Perdagangan telah mempertimbangkan untuk memperluas aturan yang mengatur ekspor. Dalam kondisi saat ini, AS dapat memblokir ekspor produk asing jika itu memuat lebih dari 25% teknologi AS.

Lebih lanjut, Departemen Perdagangan berniat menurunkan ambang batas ekspor terhadap Huawei menjadi 10%. Itu akan memperluas ruang lingkup untuk memasukkan barang-barang nirteknis seperti elektronik konsumen, juga chip.

Rancangan aturan itu telah dikirim ke Kantor Manajemen dan Anggaran. Departemen Pertahanan dan lembaga lainnya diminta memberikan masukan; hasilnya, Pentagon tidak setuju dengan proposal itu. Dengan demikian, Departemen Perdagangan menarik kembali proposal itu.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu