Wall Street Mendidih di Rekor Tertinggi

Wall Street Mendidih di Rekor Tertinggi

Hot News Market Hari Ini

( Rabu, 03 Juli  2019 )

  1. Wall Street Mendidih di Rekor Tertinggi

Setelah S&P 500 ditutup kemarin pada rekor tertinggi berkat perjanjian kedua negara untuk memulai kembali pembicaraan perdagangan A.S. – China, antusiasme aksi beli kehabisan tenaga pada hari Selasa dengan kontrak berjangka AS mengarah menuju pembukaan bergerak sedikit memerah. Kontrak berjangka A.S. meraih kenaikan tiga digit pada saat pembukaan Dow, menambah reli pada bulan Juni yang merupakan reli terbaik sejak tahun 1938. Dow Berjangka menurun 31 poin, atau 0,1%, pada pukul 16.30 WIB, S&P 500 Berjangka tergelincir 3 poin, atau 0,1%, sementara Nasdaq 100 Berjangka berkurang 16 poin, atau 0,2%.

Saham-saham Eropa berjuang untuk mempertahankan kenaikan saat antusiasme kembali menyusut dan tekanan tambahan terlihat dari ancaman tarif A.S. Patokan Eropa Stoxx 600 maju tipis 0,1%.

Bursa Asia melihat tanda-tanda kelelahan pembeli yang sama di mana Shanghai Composite dan Nikkei 225 Jepang berakhir datar.

  1. A.S. Usulkan Tarif Impor U.E. Senilai $4 Miliar

A.S. menambahkan lebih banyak produk dari Uni Eropa ke dalam daftar barang-barang yang bisa dikenai dengan tarif balasan dalam sengketa subsidi pesawat trans-Atlantik yang sudah berjalan lama antara Boeing (NYSE:BA) dan Airbus. Daftar produk U.E. tersebut senilai $4 miliar termasuk zaitun, keju Italia, dan wiski Scotch.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) telah memutuskan bahwa subsidi U.E. untuk Airbus melanggar aturan perdagangan internasional dan diperkirakan akan ditentukan pada musim panas ini dengan jumlah tindakan balasan yang dapat diterapkan A.S. A.S. mengklaim subsidi tersebut menyebabkan kerusakan ekonomi AS senilai $11 miliar.

  1. Minyak Melempem sebelum Pemotongan Produksi Disahkan, Data Persediaan A.S.

Harga minyak bergerak lebih rendah pada hari Selasa ketika pasar menunggu persetujuan akhir dalam keputusan OPEC dan mitranya, yang dikenal sebagai OPEC+, untuk memperpanjang perjanjian pemangkasan produksi selama sembilan bulan ke depan.

Dengan harapan agar kesepakatan dapat berjalan tanpa hambatan, fokus pasar akan bergeser kepada data mingguan inventaris A.S. di tengah perkiraan untuk penurunan ketiga berturut-turut dalam stok.

American Petroleum Institute akan melaporkan data persediaan pada 03.30 WIB sebelum data resmi pemerintah yang dirilis pada hari Rabu waktu setempat.

Minyak mentah A.S. berjangka melemah 21 sen, atau 0,4%, menjadi $58,88 pada pukul 16.31 WIB, sementara minyak Brent diperdagangkan turun 17 sen, atau 0,3% menjadi $64,89.

  1. Australia Pangkas Suku Bunga ke Rekor Terendah

Reserve Bank of Australia memangkas suku bunga ke tingkat rekor terendah 1% hari ini dalam putaran terakhir pelonggaran bank sentral yang telah berlangsung di tengah kekhawatiran ketidakpastian perdagangan. Gubernur RBA Philip Lowe menjelaskan bahwa langkah itu dirancang untuk mendukung pasar tenaga kerja dan membantu inflasi bergerak menuju target bank sentral.

Di A.S., Federal Reserve berada di bawah tekanan yang sama untuk bergerak maju dengan penurunan suku bunga pada keputusan kebijakan berikutnya. Meskipun fed fund berjangka telah sepenuhnya memberi harga pengurangan seperempat poin pada pertemuan 30-31 Juli. Gencatan dagang baru-baru ini antara AS dan China menyebabkan pasar menekan seruan mereka atas pengurangan setengah poin.

  1. Bitcoin Jatuh Sebentar di Bawah $10.000

Bitcoin mencapai tingkat $9.766,2 hari ini, dalam hari keempat berturut-turut, berdasarkan indeks Investing.com, 30% di bawah level tertinggi 2019 pada $13.929,8 yang dicapai hanya enam hari yang lalu.

Meskipun mengalami koreksi, koin alt tetap jauh di atas $7.888 di mana reli dua minggu dimulai pada 11 Juni. Harga naik 176% sepanjang tahun ini, bitcoin masih jauh di bawah rekor tertinggi hampir $20.000 yang disentuh di bulan Desember 2017.

Bitcoin terakhir merosot 8,1% pada Indeks Investing.com ke $10.270,9 pukul 16.33 WIB.

 

Carney BoE Khawatirkan Risiko Perdagangan Global Dan No Deal Brexit

Poundsterling jatuh setelah Gubernur BoE, Mark Carney, mengatakan bahwa potensi perang dagang global dan No Deal Brexit semakin meningkat bersama dengan ketidakpastian.

Dalam pidatonya Selasa (02/Juli) malam ini, Carney mengaku yakin bahwa pertumbuhan Inggris berjalan di bawah potensinya. Sambil menyoroti sedikit mengenai perang dagang dan imbasnya pada Inggris, Gubernur BoE tersebut menyebutkan bahwa kualitas pertumbuhan global saat ini semakin memburuk. Sebagian besar negara G7, termasuk Inggris, kini telah berkurang ketahanannya dan menjadi sangat bergantung pada Belanja Konsumen.

 

BoE Harapkan Deal Brexit

Saat ini, Bank of England (BoE) masih mempertahankan isyarat bahwa kenaikan suku bunga akan dibutuhkan lagi bagi ekonomi Inggris. Jika Inggris berhasil keluar dari Uni Eropa dengan kesepakatan transisi (Deal Brexit), maka kenaikan suku bunga BoE akan dilakukan secara gradual dan terbatas.

Carney tak menampik bahwa semakin hari semakin banyak investor yang pesimis akan wacana kenaikan suku bunga (Rate Hike) BoE dalam waktu dekat. Sebagian dari mereka bahkan lebih yakin jika BoE lebih membutuhkan pemotongan suku bunga (Rate Cut) daripada kenaikan.

“Di Inggris, kombinasi yang kuat antara kondisi awal–termasuk ketatnya pasar tenaga kerja serta inflasi dalam target–dan prospek kejelasan jangka pendek yang muncul dalam kaitannya dengan hubungan Inggris dan UE di masa depan, dipertimbangkan untuk menjadi fokus (dalam menilai) dinamika inflasi jangka menengah,” jelas Carney.

Terlepas dari pandangan tersebut, Carney mengatakan bahwa saat ini BoE bekerja dengan asumsi bahwa kedua kandidat Perdana Menteri Inggris berikutnya, Boris Johson dan Jeremy Hunt, akan mengusahakan Deal Brexit. Meskipun realitanya, baik Johnson maupun Hunt, menyatakan tak akan ragu untuk No Deal Brexit jika memang diperlukan.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu