Wall Street Cetak Rekor Level Penutupan Tertinggi, Ini Pendorongnya

Wall Street Cetak Rekor Level Penutupan Tertinggi, Ini Pendorongnya

Hot News Market Hari Ini

( Jum’at, 09 Januari 2020 )

Krisis AS-Iran Mereda, Harga Minyak Ditutup di Level Terendah

Harga minyak mentah ditutup di level terendah sejak pertengahan Desember pada perdagangan Kamis (9/1/2020), di tengah meredanya kekhawatiran bahwa konflik Amerika Serikat-Iran akan bereskalasi signifikan.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Februari 2020 berakhir turun 5 sen di level US$59,56 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun harga minyak Brent untuk kontrak Maret 2020 ditutup turun 7 sen di level US$65,37 per barel di ICE Futures Europe Exchange.

Dalam pernyataannya di Gedung Putih untuk menanggapi serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS di Irak pada 8 Januari, Presiden AS Donald Trump menyampaikan komentar yang menghilangkan kekhawatiran potensi konfrontasi militer antara AS dan Iran.

Serangan Iran itu merupakan aksi balasan atas serangan AS di Irak pada 3 Januari yang menewaskan Jenderal Iran Qasem Soleimani.

Terlepas dari ketegangan yang terjadi di Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir, pasokan minyak dari kawasan ini terus mengalir tanpa hambatan. Ketegangan antara kedua negara nyaris tidak berdampak pada pasokan minyak ke pasar.

“Pasar kini secara aktif mencoba stabil pascakrisis AS-Iran,” tutur Gene McGillian, manajer untuk riset pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut.

“Dari titik ini, pasar akan mencari fundamental-fundamental yang menjadi pendorong [minyak] sebelumnya pada pekan lalu,” tambahnya.

Harga minyak melonjak pekan lalu ketika AS membunuh komandan militer Iran Qasem Soleimani dalam serangan udara di Baghdad. Lonjakan harga minyak WTI berlanjut melampaui level US$65 per barel setelah Iran melancarkan pembalasan.

Namun, kenaikan yang dibukukan minyak seketika meluncur ketika prospek perang antara kedua negara surut.

Kendati demikian, pihak Pentagon mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan apa yang akan dilakukan Iran selanjutnya. Sky Arabia melaporkan serangan roket baru yang menargetkan Zona Hijau di Baghdad pada Kamis (9/1). Ini mencerminkan meningkatnya ketegangan politik di kawasan kaya minyak itu.

Sebuah roket juga menghujam daerah Fadhlan, dekat pangkalan udara Balad, yang menampung pasukan AS di Baghdad utara, lapor al-Sumaria News, mengutip seorang pejabat keamanan, seperti dilansir Bloomberg.

Wall Street Cetak Rekor Level Penutupan Tertinggi, Ini Pendorongnya

Tiga indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat berhasil mencetak rekor level penutupan tertingginya pada perdagangan Kamis (9/1/2020), didorong penguatan saham Apple dan optimisme soal kesepakatan dagang AS-China.

Berdasarkan data Reuters, indeks S&P 500 berakhir menguat 0,67 persen di level 3.274,7, indeks Dow Jones Industrial Average menanjak 0,74 persen ke posisi 28.956,9, dan indeks Nasdaq Composite ditutup naik tajam 0,81 persen di level 9.203,43.

Saham Apple Inc. naik 2,1 persen setelah data menunjukkan penjualan iPhone melonjak lebih dari 18 persen di China pada bulan Desember. Selain itu, Jefferies menyampaikan kenaikan target harga didukung hasil akhir yang kuat hingga 2019.

Dengan penguatan saham Apple, sektor teknologi S&P 500 naik 1,1 persen, terkuat di antara sektor-sektor.

Terkait perdagangan AS-China, kementerian perdagangan China mengonfirmasikan bahwa Wakil Perdana Menteri Liu He akan menandatangani kesepakatan fase pertama di Washington pekan depan.

Sementara itu, Presiden Donald Trump mengatakan pemerintahannya akan mulai merundingkan perjanjian perdagangan fase kedua segera. Namun, ia mungkin akan menunggu untuk menyelesaikan perjanjian apa pun sampai setelah pemilihan presiden pada November 2020.

“Beberapa hal yang telah mengkhawatirkan pasar telah tersingkir,” ujar Peter Tuz, presiden Chase Investment Counsel di Virginia. “Selain itu, pada bagian pertama tahun ini, selalu ada banyak uang mengalir ke dalam pasar.”

Turut membantu mendorong sentimen pasar adalah mengendurnya kekhawatiran atas ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Trump menahan diri untuk tidak memerintahkan lebih banyak aksi militer, sementara menteri luar negeri Iran mengatakan serangan rudal ke pangkalan militer AS di Irak telah menyudahi balasan Iran atas kematian Jenderal Iran Qasem Soleimani.

Pasar global sebelumnya diguncang oleh kekhawatiran tentang meningkatnya ketegangan di Timur Tengah pascakematian Soleimani akibat serangan AS di Irak pada 3 Januari.

Kematian Soleimani menarik amarah Iran yang kemudian melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di Irak pada 8 Januari.

AS-Iran Reda, Tapi Dugaan Boeing Dirudal Buat Kecemasan Baru

Tensi antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran sementara mereda menyusul sikap Presiden Trump yang tidak mengedepankan pendekatan militer dan lebih memilih pendekatan ekonomi.

“Fakta bahwa kita memiliki militer dan peralatan hebat, kita tidak berarti harus menggunakannya. Kita tidak ingin menggunakannya. Kekuatan Amerika, baik militer maupun ekonomi, adalah pencegah terbaik,” tegasnya.

Peristiwa aksi serangan balasan Iran selepas terbunuhnya Jenderal Iran Qasem Soleimani kini menyisakan pertanyaan atas jatuhnya pesawat Boeing milik Ukraina di Teheran, Iran, yang menewaskan 176 orang. Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, mengatakan pesawat tersebut kemungkinan dijatuhkan oleh rudal Iran.

Peristiwa tersebut merenggut 63 jiwa warga Kanada, sebagian besar warga negara Iran itu sendiri dan sebagian Ukraina termasuk kru pesawat yang hendak terbang menuju Kiev, Ukraina.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan pemerintahnya tidak akan beristirahat sampai negara tersebut mendapatkan penutupan, transparansi, akuntabilitas, dan keadilan atas peristiwa yang merenggut nyawa warganya.

Sebelumnya pada Kamis (9/1), seorang pejabat AS, mengutip sebuah tinjauan data satelit, mengatakan Washington telah menyimpulkan dengan tingkat kepastian yang tinggi bahwa rudal anti-pesawat menjatuhkan pesawat Boeing tersebut.

Pemerintah AS percaya Iran menembak jatuh pesawat itu secara tidak sengaja, seperti diungkap oleh tiga pejabat AS mengatakan kepada Reuters.

Data menunjukkan pesawat tersebut mengudara selama dua menit setelah meninggalkan Teheran bersamaan dengan tanda panas dari dua rudal permukaan-ke-udara yang terdeteksi, tegas salah satu satu pejabat mengatakan.

Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Presiden AS Donald Trump mengatakan dia tidak percaya jatuhnya pesawat itu karena masalah mekanis. “Itu hal yang tragis. Tetapi di sisi lain seseorang bisa saja membuat kesalahan,” kata Trump.

Secara umum tensi ketegangan AS-Iran mereda dan membawa bursa-bursa saham disebagian utama penjuru dunia menghijau, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat 48 poin (+0,78%) ke level 6.274 pada Kamis (9/1) kemarin.

Sementara rupiah juga ikut menguat di hadapan Dolar AS. Di pasar spot rupiah ditutup menguat 0,29% pada level Rp 13.845/US$.

Di pasar surat utang, rata-rata obligasi Pemerintah ditutup dengan penguatan. Seri acuan yang paling menguat adalah FR0081 yang bertenor 5 tahun dengan penurunan yield 6,6 basis poin (bps) menjadi 6,33%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Trump Redakan Situasi Hadapi Iran, Emas Jatuh setelah Capai $1.600

© Reuters.

Pergerakan reli emas kini telah kembali surut dengan Presiden AS Donald Trump memilih untuk tidak melanjutkan eskalasi lain dari konflik Amerika Serikat dan Iran. Tapi hal tersebut tidak menghentikan buyer safe haven untuk mendorong harga ke tingkat tertinggi hampir tujuh tahun di atas $1.600 pada Kamis (09/01) pagi.

Sementara penurunan 1% lebih logam kuning pada sesi itu merupakan pergerakan yang paling tajam selama lebih dari sebulan dan dorongan kuat di atas $1.600 dapat membantu harapan optimis buyer emas bahwa reli emas di tahun 2020 ini masih berada di tahap awal.

Emas berjangka COMEX untuk penyerahan Februari di New York ditutup turun $14,10, atau sebesar 0,9%, di $1,560,20 per ons. Kontrak emas berjangka ini turun sebanyak 1,2% dalam perdagangan pasca-penyelesaian pada pukul 02.35 PM ET (19:35 GMT).

Emas spot, yang mencerminkan perdagangan langsung fisik emas, jatuh $20,15, atau sebesar 1,3%, di $1,553,74.

Beberapa analis emas menyampaikan prediksinya tentang logam kuning yang dapat mengalami penurunan lebih lanjut. Dan analis lain mengatakan rebound dari penurunan pada Kamis pagi sangat mungkin terjadi.

“Terlepas dari apa yang terjadi dalam jangka pendek, saya tetap berpandangan bullish secara fundamental pada emas karena bursa saham AS dinilai terlalu tinggi dan keinginan bank sentral untuk mempertahankan suku bunga global pada level rendah yang luar biasa ini,” ungkap Fawad Razaqzada, analis forex.com di London.

“Tren bullish emas hampir tidak memiliki bubuk kering yang tersisa, dengan jumlah posisi beli yang ekstrem, dan posisi ini lebih besar daripada perkiraan yang dimiliki per trader,” tandas TD Securities dalam catatan. “Ini menambah dukungan bagi pandangan kami bahwa emas dapat mengalami masa overbought (jenuh beli, red) untuk jangka pendek.”

Harga Emas Terus Melemah Ditengah Penurunan Ketegangan AS-Iran

© Reuters.

Harga emas terus melemah pada Kamis (09/01) siang di Asia setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memilih untuk menjatuhkan sanksi ekonomi baru terhadap Iran daripada menyerukan aksi militer terhadap negara tersebut. Hal ini memicu harapan bahwa ketegangan antara kedua negara akan mereda.

Emas berjangka melemah sebesar 0,3% ke $1,555,25 per ons pada pukul 1:10 AM ET (05:10 GMT).

Dalam pidatonya pasca serangan Iran di beberapa pangkalan militer AS, Trump mengatakan Iran tampaknya “melangkah mundur”, dan menyebut “hal itu baik untuk kepentingan semua pihak.”

“Fakta bahwa kita memiliki militer dan peralatan hebat ini, tidak berarti kita harus menggunakannya,” tambah presiden AS.

Bursa global pulih setelah komentar tersebut, sementara harga emas turun.

Harga emas mulai kehilangan momentum kemarin ketika Iran mengatakan telah “mengakhiri” serangan untuk saat ini, sementara Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mencuit bahwa negaranya “tidak menginginkan eskalasi atau perang”.

“Penggerak utama adalah respons tertunda dari Presiden Trump terhadap serangan rudal kemarin, menunjukkan bahwa ia mengambil pendekatan yang lebih hati-hati (daripada) sikap kerasnya yang biasa dan cuitan sebelumnya memberikan indikasi itu,” Tapas Strickland, direktur ekonomi dan pasar di National Australia Bank, menulis dalam catatan pagi.

“Pasar kini menghentikan pergerakan aksi jual yang telah terjadi sejak Jumat silam,” tambah Strickland.

Sangat Yakin, AS: Rudal Iran Tembak Jatuh Ukraine International Airlines

Pejabat Amerika Serikat (AS) meyakini jika pesawat Ukraina yang membawa 176 orang secara tidak sengaja ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Iran. Mengutip tinjauan ekstensif data satelit, seorang pejabat AS mengatakan pemerintah telah menyimpulkan dengan tingkat kepastian yang tinggi bahwa rudal anti-pesawat Iran menjatuhkan pesawat komersil Ukraina.

Peristiwa ini terjadi pada hari yang sama ketika Iran meluncurkan serangan rudal balistik pada pasukan AS di Irak. Pejabat itu mengatakan pesawat Ukraine International Airlines telah dilacak oleh radar Iran.

“Data menunjukkan Boeing 737-800 terbang selama dua menit setelah meninggalkan Teheran ketika tanda panas dari dua rudal permukaan-ke-udara terdeteksi,” kata salah satu pejabat AS seperti dikutip dari Reuters, Jumat (10/1/2020).

“Itu segera diikuti oleh ledakan di sekitar pesawat,” kata pejabat ini. Data tanda panas kemudian menunjukkan pesawat terbakar saat jatuh.

Pesawat Ukraine International Airlines mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan menuju Kiev dan menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat yang berjumlah 176 orang. Pesawat tersebut membawa sebagian besar warga Iran dan Iran-Kanada.

Ukraina telah menguraikan empat skenario potensial untuk menjelaskan kecelakaan itu, termasuk serangan rudal dan terorisme. Kiev mengatakan para penyelidiknya akan mendatangi lokasi jatuhnya pesawat guna mencari sisa-sisa rudal buatan Rusia yang kemungkinan digunakan oleh militer Iran.

Laporan awal yang dikeluarkan oleh organisasi penerbangan sipil Iran pada Kamis kemarin mengutip para saksi di darat dan dalam sebuah pesawat yang lewat mengatakan bahwa pesawat itu terbakar ketika berada di udara.

Dikatakan bahwa pesawat yang baru berusia tiga tahun itu mengalami masalah teknis tak lama setelah lepas landas dan mulai menuju ke bandara terdekat sebelum jatuh. Laporan itu mengatakan tidak ada komunikasi radio dari pilot dan bahwa pesawat menghilang dari radar pada ketinggian 2.440 meter.

Pesawat Ukraina lepas landas pada pukul 06:12 pagi waktu setempat dan diberi izin untuk naik ke ketinggian 26.000 kaki, kata laporan Iran. Pesawat itu jatuh enam menit kemudian di dekat kota Sabashahr.

Investigasi kecelakaan pesawat terbang memerlukan regulator, pakar dan perusahaan di beberapa yurisdiksi internasional untuk bekerja bersama. Butuh waktu berbulan-bulan untuk menentukan penyebabnya dan mengeluarkan laporan awal dalam 24 jam jarang terjadi.

Insiden jatuhnya pesawat Ukraina ini terjadi beberapa jam setelah Iran melancarkan serangan rudal balistiknya ke dua pangkalan militer di Iran yang digunakan sebagai basis pasukan AS. Serangan rudal itu sebagai bentuk balas dendam atas tewasnya jenderal top Iran, Qassem Soleimani, dalam serangan di Bandara Baghdad, Irak, oleh pesawat nirawak AS pada akhir pekan lalu.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu