Trump Ancam Kenakan Tarif, Bursa Eropa Turun Lagi

Trump Ancam Kenakan Tarif, Bursa Eropa Turun Lagi

Hot News Market Hari Ini

( Kamis, 23 Januari 2020 )

Trump Ancam Kenakan Tarif, Bursa Eropa Turun Lagi

Bursa Eropa tergelincir dan memperpanjang koreksinya pada akhir perdagangan Rabu (22/1/2020), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam untuk mengenakan tarif tinggi pada impor mobil Uni Eropa.

Berdasarkan data Reuters, indeks Stoxx 600 Eropa turun 0,1 persen setelah sempat rebound dan menyentuh rekor level 424,94 pada sesi perdagangan Rabu.

Pada Selasa, indeks acuan regional ini berakhir di zona merah di tengah kekhawatiran mengenai wabah virus corona asal China.

Berbicara di Forum Ekonomi Dunia (WEF) Davos, Swiss, Trump memperingatkan akan mengenakan tarif yang tinggi jika UE tidak menyetujui kesepakatan perdagangan.

Uni Eropa dan Amerika Serikat baru-baru ini melakukan pembicaraan seputar sejumlah isu mulai dari pajak digital Prancis hingga subsidi pesawat.

Ancaman itu mendorong respons duta besar Jerman untuk Amerika Serikat, Emily Haber, bahwa Uni Eropa juga dapat mengenakan bea pada produk-produk AS.

Saham-saham produsen otomotif pun menjadi sektor dengan kinerja terburuk, dengan turun lebih dari 1 persen ke level terendah sejak pertengahan Oktober. Tarif tersebut mengancam akan meningkatkan tekanan pada sektor yang telah bergulat dengan penurunan permintaan global.

Pabrikan ban asal Finlandia, Nokian Tyres dan pabrikan mobil Jerman, Daimler, membukukan penurunan tertajam dalam subindeks otomotif.

Bagaimana pun, pelemahan Stoxx 600 mampu dibatasi dengan antisipasi pertemuan kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis (23/1/2020) dan pemberitaan tentang langkah-langkah China untuk membendung virus corona.

Meski ECB diantisipasi untuk mempertahankan suku bunga acuannya selama pertemuan pertama tahun ini nanti, investor akan mengawasi prospek yang dikemukanan ECB untuk tahun ini.

“Apa yang biasanya kita lihat sebelum sebuah agenda besar, yakni rapat ECB besok, adalah bahwa pasar pada dasarnya tidak bergerak terlalu banyak,” ujar Teeuwe Mevissen, ekonom pasar senior di Rabobank, Amsterdam.

 

 

Kekhawatiran Virus Corona Berkurang, Harga Emas Turun Sedikit

Harga emas turun sedikit pada akhir perdagangan Rabu (22/1/2020) atau Kamis (23/1/2020) pagi WIB, karena sentimen risiko pulih dan dolar menguat setelah kekhawatiran atas virus corona dari China berkurang.

Tetapi ekspektasi kebijakan moneter dovish dari bank sentral global membatasi kerugian emas dan mempertahankan harga di atas 1.550 dolar AS per ounce.

Harga spot emas turun 0,1 persen menjadi 1.556,67 dolar AS per ounce pada pukul 1.41 sore waktu setempat (18.41 GMT). Sementara kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Februari ditutup turun 0,1 persen atau 1,2 dolar AS menjadi 1.556,7 dolar AS per ounce.

“Investor sebenarnya menjual kelebihan posisi, dan itu menjaga harga tetap terbatas,” kata Daniel Ghali, ahli strategi komoditas di TD Securities.

“Di sisi lain, kami juga melihat aliran minat (emas) yang stabil, dan pasar saat ini sedang kuat karena modal terlihat melindungi diri dari suku bunga riil negatif di seluruh dunia.”

Investor akan mengawasi rapat kebijakan pertama Bank Sentral Eropa (ECB) tahun ini pada Kamis waktu setempat, sementara pertemuan pertama Federal Reserve AS dijadwalkan pada 28-29 Januari.

Kedua bank diperkirakan akan dovish.

Indeks dolar telah naik sekitar 1,2 persen sejak awal tahun ini.

Pada 2020, “logam mulia tetap menjadi cerita yang terkait dengan kebijakan moneter yang longgar secara global dan kelemahan dolar AS yang luas,” kata analis UBS dalam sebuah catatan.

“Terlepas dari suku bunga riil AS yang rendah dan dolar yang lebih lemah, emas akan mendapat manfaat dari lonjakan tiba-tiba dalam volatilitas pasar karena dinamika siklus akhir dan kebisingan geopolitik yang sedang berlangsung, terutama ketika kita mendekati pemilihan presiden AS 2020,” kata UBS, memperkirakan emas akan naik menjadi 1.600 dolar AS tahun ini.

Suku bunga yang lebih rendah mengurangi potensi kerugian memegang logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil dan membebani dolar AS.

“Kekhawatiran tumbuh bahwa kita akan melihat kembalinya penghindaran risiko begitu Fed memberi sinyal neraca tidak akan lagi tumbuh pada kecepatan 60 miliar dolar AS per bulan atau jika kita melihat pembicaraan fase dua (perdagangan AS-China) terhenti,” kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA, dalam sebuah catatan.

Tanggapan China dan pembaruan cepat tentang virus corona baru telah meningkatkan optimisme bahwa penyebarannya akan terkendali, membantu pasar saham dunia pulih.

Kekhawatiran wabah itu bisa melanda aktivitas ekonomi menjelang perayaan Tahun Baru Imlek di China telah membuat ekuitas turun dari rekor tertinggi pada Selasa (21/1/2020).

Di pasar spot perak naik 0,2 persen menjadi 17,81 dolar AS per ounce dan platinum naik 1,4 persen pada 1.013,37 dolar AS per ounce.

Sementara, di pasar berjangka, perak untuk penyerahan Maret naik dua sen atau 0,11 persen, menjadi ditutup pada 17,828 dolar AS per ounce. Platinum untuk penyerahan April bertambah 13,8 dolar atau 1,37 persen, menjadi menetap di 1.021,3 dolar per ounce.

Pedagang Panik, Harga Minyak Terjun Bebas

Harga minyak turun tajam di tengah kekhawatiran bahwa virus mematikan yang menyebar dari China akan mengganggu permintaan energi di pasar yang sudah dibanjiri suplai.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Maret 2020 anjlok US$2,30 ke level US$56,08 per barel pada Selasa (22/1/2020) pukul 4.59 sore di New York Mercantile Exchange.

Adapun harga minyak Brent untuk kontrak Maret 2020 terguling US$1,91 ke level US$62,68 per barel di ICE Futures Europe Exchange.

Kontrak berjangka minyak di New York meluncur hampir 4 persen menyusul laporan mengenai bertambahnya jumlah korban tewas akibat virus corona (coronavirus) baru asal China.

Hingga Selasa (22/1), virus yang menarik perhatian dunia internasional karena kemiripannya dengan virus Sindrom Pernapasan Akut Parah, atau SARS, ini telah membunuh  17 orang.

Sementara itu, pemerintah China memberlakukan pembatasan perjalanan di kota Wuhan, tempat virus ini bermula, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mempertimbangkan deklarasi darurat internasional.

Wabah virus corona membuat para pedagang panik karena dampak epidemi yang merusak dapat terjadi pada dunia travel dan permintaan bahan bakar transportasi. WHO dijadwalkan akan menggelar pertemuan lanjutan pada Kamis (23/1) untuk merencanakan strategi.

Di sisi lain, kemerosotan harga minyak semakin dalam setelah American Petroleum Institute (API) melaporkan lonjakan persediaan minyak mentah domestik sebesar 1,57 juta barel.

“Penurunan harga minyak adalah manifestasi dari kekhawatiran tentang permintaan minyak global,” ujar Stewart Glickman, seorang analis di CFRA Research.

Goldman Sachs memperingatkan bahwa permintaan minyak global akan turun 260.000 barel per hari tahun ini sebagai akibat dari virus corona.

“Kita bisa melihat permintaan minyak yang lebih lemah dari China selama beberapa pekan ke depan atau bahkan lebih lama,” tutur Leo Mariani, analis energi di KeyBanc Capital Markets Inc.

“Menjelang Tahun Baru China, kita cenderung melihat perjalanan ke seluruh China dan ada kekhawatiran besar tentang kejutan permintaan,” tambahnya.

 

Akibat Virus Korona, Sudah 17 Orang Meninggal Dunia di China

Korban tewas akibat virus baru mirip flu di China bertambah menjadi 17 orang pada Rabu (22/1) waktu setempat. Perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran global terhadap infeksi yang diduga dari binatang itu.

Virus korona baru itu muncul dari puat kota Wuhan dengan berbagai kasus yang terdeteksi hingga Amerika Serikat (AS). Para pejabat yakin asal virus itu adalah pasar tempat binatang liar diperdagangkan secara ilegal.

“Korban tewas terbaru di provinsi Hubei telah meningkat menjadi 17 orang pada Rabu (22/1),” ungkap pernyataan pemerintah provinsi Hubei di televisi nasional. Hubei memiliki ibu kota provinsi Wuhan.

Beberapa jam sebelumnya, pejabat menyatakan jumlah korban tewas ada sembilan orang yang semuanya di Wuhan serta lebih dari 470 kasus di China. Berbeda dengan kerahasiaan selama wabah Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) pada 2002-2003 yang menewaskan hampir 800 orang, China kali ini memberikan informasi terbaru secara rutin untuk meredam kepanikan saat jutaan orang di dalam dan luar negeri melakukan mudik liburan Tahun Baru Imlek.

“Peningkatan dalam mobilitas publik meningkatkan risiko penyebaran wabah,” ungkap Wakil Menteri Komisi Kesehatan Nasional China Li Bin.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memulai rapat darurat untuk menetapkan apakah wabah itu sebagai darurat kesehatan global. Setelah para pejabat meminta publik tetap tenang, banyak warga China membatalkan perjalanan mudik, membeli masker wajah, menghindari tempat publik seperti bioskop dan pusat perbelanjaan, dan memainkan game simulasi wabah online atau menonton film bencana “The Flu”.

“Cara terbaik mengalahkan ketakutan adalah menghadapi ketakutan,” ujar seorang pengguna Weibo, aplikasi mirip Twitter di China. Wabah itu telah menyebar ke Thailand, AS, Taiwan, Korea Selatan dan Jepang.

 

Cina: Belum Ada Tanggal Pasti Perundingan Dagang Tahap Dua dengan AS

© Reuters.

Amerika Serikat dan Cina belum menetapkan jadwal perundingan dagang tahap dua, menurut seorang pejabat pemerintah Cina yang terlibat langsung dalam perundingan tersebut.

Menurut laporan yang dilansir Bloomberg Rabu (22/01) petang, fokus untuk saat ini adalah pada implementasi kesepakatan tahap satu, Ning Jizhe mengatakan Selasa (21/01) di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Davos. Ning adalah wakil kepala perencana ekonomi utama Cina, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional, dan ia juga menjalankan biro statistik negara.

Presiden AS Donald Trump mengatakan perundingan tahap dua akan dimulai “segera setelah” kesepakatan tahap satu “dimulai.” Trump mengatakan akan pergi ke Beijing untuk memulai perundingan, kendati masih belum ada tanggal yang diumumkan.

“Saya akan setuju menurunkan beban tarif jika kita bisa melaksanakan perundingan tahap dua,” ucap Trump pekan lalu saat upacara penandatanganan. “Dengan kata lain, kami sedang bernegosiasi mengenai tarif.”

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu