Terpapar Ketegangan Baru AS-China, Dolar AS Melemah Terhadap Yen

Terpapar Ketegangan Baru AS-China, Dolar AS Melemah Terhadap Yen

Hot News Market Hari Ini

( Senin, 09 September 2019 )

Terpapar Ketegangan Baru AS-China, Dolar AS Melemah Terhadap Yen

Dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap yen Jepang di tengah kekhawatiran baru tentang sengketa perdagangan AS-China. Pelemahan terjadi setelah sebuah laporan bahwa Gedung Putih menunda keputusan untuk mengizinkan perusahaan-perusahaan AS melakukan bisnis dengan Huawei Technologies.

Laporan Bloomberg tentang produsen peralatan telekomunikasi asal China tersebu dituduh AS sebagai spionase dan telah mencuri kekayaan intelektual, memicu aksi penghindaran risiko yang juga mendorong kenaikan harga emas.

Dilansir Reuters meningkatnya ketidakpastian tentang perselisihan antara AS dan China kemungkinan akan terus mendukung mata uang safe-haven dan penghindaran risiko dalam beberapa minggu mendatang.

“Berita tentang Huawei memicu kenaikan yen,” kata Junichi Ishikawa, analis valas senior di IG Securities, seperti dikutip Reuters.

“Saham AS sedang mencoba untuk melakukan pemulihan, tetapi ini adalah pengingat bahwa sengketa perdagangan AS-Cina tetap berisiko, dan risiko ini tidak surut. Dalam keadaan ini, mudah bagi yen dan emas untuk naik lebih tinggi,” lanjutnya.

Dolar AS melemah 0,08 persen atau 0,09 poin ke level 105,98 yen pada pukul 08.48 WIB, di jalur untuk penurunan mingguan kedua berturut-turut. Jika dolar berhasil menembus level terendah 7 Agustus di 105,50 yen, maka selanjutnya akan menargetkan level 105,00 yen, kata Ishikawa.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap mata uang utama lainnya, terpantau melemah 0,072 poin atau 0,07 persen ke level 97,546 pada pukul 08.38 WIB.

Sebelumnya, indeks dolar AS dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,046 poin atau 0,05 persen ke level 97,572, setelah pada akhir perdagangan Kamis (8/8) ditutup menguat 0,074 poin atau 0,08 persen ke level 97,618.

Pedagang yen sebagian besar tidak terpengaruh oleh data yang menunjukkan ekonomi Jepang tumbuh jauh lebih dari yang diharapkan pada bulan April-Juni, karena konsumsi swasta dan investasi bisnis yang kuat mengimbangi tekanan terhadap ekspor dari pendinginan permintaan global.

Sementara itu harga emas di pasar spot naik 0,3 persen menjadi US$1.500,80 per troy ounce di Asia, mendekati level tertinggi dalam enam tahun.

Seperti diketahui, Gedung Putih menunda keputusannya terhadap Huawei setelah China mengatakan akan menghentikan pembelian produk pertanian AS, menyoroti sifat sengketa perdagangan antara dua negara dengan ekonomi terbesar dunia ini.

Perang perdagangan telah memasuki masa baru setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dia akan memberlakukan lebih banyak tarif pada impor Cina mulai 1 September. China membiarkan yuan meluncur melalui level support utama pada hari Senin ke level terendah dalam 11 tahun dan beberapa jam kemudian Departemen Keuangan AS menyebut China sebagai manipulator mata uang.

Ada kekhawatiran yang berkembang bahwa memburuknya hubungan AS dan China yang cepat akan menambah ketegangan pada ekonomi global yang sudah rapuh.

Ekspor China Bikin Dolar AS Keok

Dolar AS bergerak lebih lemah pada perdagangan Kamis (8/8/2019) dipicu sentimen risiko stabil setelah data perdagangan China berhasil dirilis positif dan upaya Negeri Panda tersebut untuk menstabilkan nilai tukarnya.

Ahli Strategi Valas Credit Agricole London Manuel Oliveri mengatakan bahwa komentar terbaru dari pemerintah China yang berupaya untuk menstabilkan yuan untuk menghindari arus keluar modal, menjadi sentimen positif aset berisiko.

Sentimen tersebut berhasil mendorong investor untuk kembali membeli mata uang berisiko.

Adapun, berdasarkan data Pemerintah China, ekspor periode Juli berhasil naik 3,3% dibandingkan dengan tahun sebelumnya juga menjadi katalis positif aset berisiko.

“Faktor lainnya yang juga membantu sentimen risiko adalah meningkatnya jumlah bank sentral yang melakukan pemangkasan suku bunga,” ujar Manuel seperti dikutip dari Reuters, Kamis (8/8/2019).

Pada pekan ini, Bank Sentral Selandia Baru bergabung dengan Bank Sentral India dan Thailand untuk memangkas suku bunga sehingga menumbuhkan harapan pasar bahw bank sentral utama lainnya akan bergabung dalam pelonggaran moneter lebih lanjut.

Pasar juga berharap The Fed akan kembali memangkas suku bunganya sebesar 25 basis poin pada pertemuan September mendatang.

Tercatat, indeks dolar AS yang bergerak mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor lainnya bergerak cenderung melemah di level 97,65.

Minyak Naik Setelah Ketua The Fed Nyatakan Ekonomi AS Tumbuh

© Reuters.

Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell saat berpidato di Swiss berjanji mendukung ekspansi ekonomi AS dan hal ini telah membantu naiknya harga minyak ke level tertinggi sejak Juli.

Kenaikan terjadi karena tumpukan cadangan AS menurun dan perundingan dagang AS-Cina berpeluang untuk dilanjutkan pada bulan Oktober, serta turunnya permintaan minyak di tengah tanda-tanda beberapa negara anggota OPEC memproduksi terlalu banyak.

Namun pernyataan Powell hari Jumat di Zurich bahwa dirinya melihat sedikit peluang resesi dalam waktu dekat membantu mendorong harga saham lebih tinggi dan juga menyebar ke pasar minyak.

Minyak mentah West Texas Intermediate yang diperdagangkan di New York, yang jadi patokan AS, naik 22 sen, atau 0,4%, menjadi $ 56,52 per barel. Untuk minggu ini, naik 2,6%, kenaikan mingguan terbesar sejak Juli.

Minyak mentah Brent yang diperdagangkan di London, yang jadi patokan internasional, naik di atas level $ 60, naik 52 sen, atau 0,9%, menjadi $ 61,47.

Bloomberg melaporkan sebelumnya analis di Commerzbank (DE: DE:CBKG) (0 | CBKG}}) telah memangkas perkiraan minyak mentah Brent sebesar $ 5 per barel menjadi rata-rata $ 60 hingga akhir tahun 2020, sementara UBS mengatakan prospek permintaan yang memburuk akan mendorongnya turun ke level $ 55.

Pada hari Kamis, berita penurunan mingguan kedua berturut-turut stok minyak mentah AS dan dijadwalkan dilanjutkannya pembicaraan perdagangan AS-Cina pada Oktober mendorong Brent naik lebih dari 2%, melanjutkan lonjakan 4% hari sebelumnya.

Penurunan pada Jumat pagi terjadi ketika pasar menyadari turunnya permintaan karena sudah masuk periode antara akhir musim panas dan pertengahan musim dingin ketika kebutuhan bahan bakar rendah.

Harga minyak mentah juga turun karena sejumlah perkiraan dan semuanya merujuk kepada produsen OPEC yang meningkatkan output keseluruhan pada bulan Agustus, meskipun ada tanda-tanda permintaan global juga turun.

Salah satu negara anggota OPEC dengan produksi berlebih adalah Irak, yang memompa rata-rata 4,88 juta barel per hari pada Agustus, jauh di atas batas yang disepakati.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu