Tensi Perang Dagang Kembali Mereda, Wall Street Ditutup Menguat

Tensi Perang Dagang Kembali Mereda, Wall Street Ditutup Menguat

Hot News Market Hari Ini

( Kamis, 12 September 2019 )

Tensi Perang Dagang Kembali Mereda, Wall Street Ditutup Menguat

Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Rabu (11/9/2019), dipimpin oleh sektor teknologi dan industri menyusul meredanya tensi ketegangan perdagangan AS-China menjelang negosiasi perdagangan bulan depan.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 227,61 poin atau 0,85 persen ke level 27.137,04, sedangkan indeks S&P 500 menguat 21,54 poin atau 0,72 persen ke 3.000,93 dan indeks Nasdaq Composite naik 85,52 poin atau 1,06 persen ke level  8.169,68.

Indeks S&P 500 ditutup di atas angka 3.000 untuk pertama kalinya sejak 30 Juli.

Apple Inc memberikan dorongan terbesar terhadap indeks S&P 500 dan Nasdaq sehari setelah meluncurkan produk iPhone terbarunya dan mengumumkan tanggal peluncuran layanan streaming Apple TV+.

Saham Apple menguat 3,2 persen, sekaligus mengangkat valuasi perusahaan di atas US$1 triliun.

Sementara itu, saham Boeing Co. mendorong indeks Dow Jones setelah membukukan kenaikan harian keenam berturut-turut. Boeing ditutup menguat 3,6 persen.

Kementerian keuangan China mengeluarkan daftar 16 jenis barang impor dari AS yang dibebaskan dari tarif tambahan yang berlaku efektif 17 September mendatang.

Langkah ini dipandang oleh banyak investor sebagai bukti niat baik yang bertujuan menyelesaikan perang perdagangan yang telah menekan ekonomi global dan mengguncang pasar selama berbulan-bulan.

Namun, penasihat senior Gedung Putih mengatakan kepada investor untuk bersabar dalam upaya untuk mengekang harapan untuk pembicaraan perdagangan yang dijadwalkan berlangsung bulan depan di Washington.

“Pasar umumnya masih percaya bahwa kesepakatan nyata mungkin terjadi dan semua langkah oleh Gedung Putih dan China hanyalah taktik negosiasi,” kata Tim Ghriskey, analis investasi di Inverness Counsel, Rabu (11/9/2019).

“(Tapi) keyakinan itu berayun setiap hari berdasarkan kicauan dan pernyataan dari China,” lanjutnya, seperti dikutip Reuters.

Sebanyak 10 dari 11 sektor utama indeks S&P 500 ditutup di zona hijau, kecuali sektor real estat.

Produsen chip Micron Technology Inc menguat 2,2 persen setelah Longbow Research meningkatkan rating saham menjadi “beli.” Sementara itu, indeks Philadelphia SE Semiconductor naik 1,5 persen.

Perusahaan jasa ladang minyak Baker Hughes A GE Co mencatat penurunan persentase terbesar di S&P 500 sebesar 7,5 persen, menyusul berita bahwa induk perusahaan General Electric akan melepas saham Baker Hughes senilai US$3 miliar.

Trump Disebut Pertimbangkan Pelonggaran Sanksi Iran, Minyak Mentah Melemah

Minyak mentah melemah ke level terendah satu pekan setelah Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap Iran yang menekan kemampuan anggota OPEC tersebut untuk mengekspor minyak mentah.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Oktober ditutup turun 1,65 poin ke level US$55,75 per barel di New York Mercantile Exchange pada perdagangan Rabu (11/9/2019), penutupan terendah sejak 3 September.

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak November turun 1,57 poin ke level US$60,81 di ICE Futures Europe Exchange. Minyak global diperdagangkan lebih tinggi US$5,14 dibanding WTI untuk bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, Trump sedang bersiap untuk bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani akhir bulan ini. Pembicaraan ini belum pernah terjadi sebelumnya untuk pemerintahan yang menjadikan upaya isolasi Iran sebagai landasan kebijakan.

Gesekan di dalam Gedung Putih mengguncang pasar minyak untuk hari kedua berturut-turut karena bentrokan kebijakan luar negeri berubah menjadi pandangan publik dan presiden mengisyaratkan kemungkinan pemulihan hubungan dengan Iran.

“Pasar minyak mentah akan sangat sensitif terhadap perubahan pada hubungan AS-Iran,” kata Brian Kessens, manajer portofolio di Tortoise, seperti dikutip Bloomberg. “Jika hubungan membaik, akan ada lebih banyak minyak mentah Iran untuk pasar.”

Secara terpisah, stok bahan bakar diesel meningkat 2,7 juta barel pekan lalu, mengejutkan para analis yang memperkirakan adanya penurunan. Minyak mentah telah terkunci dalam kisaran sempit bulan lalu karena melambatnya pertumbuhan permintaan yang bersaing dengan ancaman pasokan geopolitik. Sejak akhir April, minyak mentah telah jatuh 16 persen.

Sementara itu, setiap pelonggaran sanksi Iran dapat menekan produsen AS yang telah membanjiri pasar internasional dengan minyak mentah.

“Banyak minyak mentah Iran akan kembali ke pasar dalam satu atau dua bulan ke depan,” menurut Leo Mariani, analis di KeyBanc Capital Markets. 

Penasihat Gedung Putih Nilai Perundingan AS-Cina Bakal Makan Waktu

Penasihat senior Gedung Putih mendesak para investor, bisnis dan masyarakat untuk bersabar tentang upaya penyelesaian sengketa perdagangan yang telah berlangsung dua tahun antara dua ekonomi terbesar di dunia.

“Jika ingin mendapatkan hasil yang bagus, kita harus membiarkan prosesnya berjalan,” kata Peter Navarro pada CNBC Selasa (Rabu pagi).

Menurut berita yang dilansir Reuters Rabu (11/10), Pemerintahan Presiden AS Donald Trump berupaya mengubah kebijakan dan praktik China tentang perlindungan kekayaan intelektual, pemindahan paksa teknologi AS ke perusahaan-perusahaan Cina, akses perusahaan Amerika ke pasar Cina dan subsidi industri.

Trump telah memberlakukan tarif impor tambahan pada produk asal Cina yang telah mengguncang pasar global, dan Cina pun telah melakukan aksi balasan.

Para delegasi perdagangan Cina diperkirakan bertemu dengan rekan-rekan mereka di AS pada pertengahan September di Washington sebelum pertemuan tingkat menteri pada awal Oktober di ibukota AS, yang melibatkan Wakil Perdana Menteri Cina Liu He, US Trade Representative Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin.

Tarif impor untuk produk asal Cina sebesar 15% untuk barang yang bernilai sekitar $ 125 miliar mulai berlaku pada 1 September, dan tarif untuk hampir semua impor Cina yang tersisa, termasuk ponsel dan komputer laptop, dijadwalkan mulai berlaku pada 15 Desember. Tarif senilai $ 250 miliar untuk barang akan naik 5 poin persentase menjadi 30% pada 1 Oktober.

Navarro mengatakan pemberlakuan tarifnya “bekerja dengan baik.”

“Orang-orang perlu memahami ini: tarif impor untuk produk China adalah pertahanan terbaik terhadap agresi ekonomi Cina dan kebijakan pengamanan terbaik – ini penting – kebijakan pengamanan terbaik yang akan terus dinegosiasikan dengan itikad baik,” katanya.

South China Morning Post melaporkan, dengan mengutip sumber yang tidak dikenal, bahwa Cina diharapkan membeli lebih banyak produk pertanian guna kesepakatan perdagangan yang lebih baik dengan Amerika Serikat.

Delegasi Amerika dan Cina akan membahas kesepakatan berdasarkan naskah yang dinegosiasikan pada April sebelum pembicaraan macet pada Mei, kata surat kabar yang berbasis di Hong Kong itu.

Trump Sebut The Fed “Idiot”, Awas Pasar Bisa Terganggu

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyerang Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) pada hari Rabu (11/9/19).

Melalui postingan di Twitter, Trump meminta The Fed, yang ia tuduh telah menyebabkan perlambatan ekonomi, untuk memangkas suku bunga menjadi nol atau bahkan menetapkan suku bunga negatif. Trump juga menghina The Fed ‘idiot’ dalam postingan itu.

“Federal Reserve harus menurunkan suku bunga kami menjadi nol, atau negatif, dan kami harus mulai membiayai kembali hutang kami. SUKU BUNGA BISA DITURUNKAN, sementara pada saat yang sama memperpanjang jangka waktu,” katanya.

Mengutip CNBC International, AS memiliki utang US$ 22,5 triliun, di mana US$ 16,7 triliun di antaranya dipegang oleh publik.

Beban utang itu telah tumbuh menjadi US$ 2,6 triliun atau 13% di bawah pemerintahan Trump. Hal itu terjadi sebagian karena langkah pemotongan pajak 2017 yang dicetuskan Trump melalui Kongres. Wajib Pajak telah menghapuskan US$ 538,6 miliar biaya bunga pada tahun fiskal 2019, yang mana merupakan sebuah rekor.

Menanggapi hal itu, kepala ekonom di Moody’s Analytics Mark Zandi mengatakan bahwa hal itu bisa mengganggu pasar keuangan. “Itu tidak layak dan bisa menjadi masalah yang signifikan bagi investor, pasar keuangan dan akhirnya ekonomi,” katanya.

“Utang tidak bisa dibayar di muka. Ada hubungan kontraktual yang dimiliki Treasury dengan investor. Ini bukan hipotek, ini adalah utang Treasury AS. Saya pikir itu akan sangat mengganggu pasar keuangan, dan suku bunga akhirnya akan naik, bukan turun.”

Mengenai permintaan Trump untuk membuat suku bunga nol atau negatif, Zandi mengatakan dia tidak melihat banyak manfaat yang akan terjadi apabila itu terealisasi.

“Pertanyaan yang harus Anda tanyakan pada diri sendiri adalah, jika suku bunga kita turun ke nol dan kita benar-benar mengalami resesi, lalu apa?” katanya.

Sementara itu, analis perbankan Dick Bove di Odeon Capital Group, mengatakan memotong suku bunga ke nol atau di negatif memang akan mengurangi biaya utang tetapi juga membuat AS menjadi tempat yang kurang diinginkan untuk aliran modal karena kemampuan untuk memberikan imbal hasil (yields) akan menjadi lebih sulit.

“Jika kita menetapkan suku bunga negatif, uang itu akan berhenti masuk ke Amerika Serikat dan itu akan mulai mengalir ke mana pun investor dapat menemukan pengembalian wajar yang positif,” kata Bove.

The Fed diperkirakan akan menyetujui pemangkasan suku bunga seperempat poin lagi pada pertemuan minggu depan, menyusul penurunan di bulan Juli yang merupakan langkah penurunan pertama dalam 11 tahun. Lebih lanjut, pasar memperkirakan akan ada satu lagi pemangkasan suku bunga sebelum akhir tahun dan satu lagi pada awal 2020.

Namun begitu, Gubernur Fed Jerome Powell pada Jumat lalu menyangkal harapan pelaku pasar. Ia mengatakan tidak melihat ada rencana penurunan suku bunga.

 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu