Rusia Menambah Cadangan Emas

Rusia Menambah Cadangan Emas

Hot News Market Hari Ini

( Rabu, 26 Juni 2019 )

Takut Krisis US$, Rusia Menambah 6 Ton Cadangan Emas

Bank Sentral Rusia (CBR) telah membeli 200.000 troy ons (6 ton) emas pada bulan Mei, dan meningkatkan cadangan emas batangan menjadi 2.190 ton. Sebelumnya pada tahun lalu, CBR membeli sekitar 274 ton emas.

Sebagaimana dikutip dari laman rt.com, Bank sentral Rusia melaporkan pada hari Kamis pekan lalu bahwa Rusia meningkatkan cadangan emasnya sebesar 0,3 persen dalam satu bulan terhitung dari 1 Mei hingga 1 Juni. Pada bulan Mei, regulator memegang sekitar 2.183 ton logam mulia.

Moskow telah secara aktif meningkatkan cadangan emas untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan untuk mendiversifikasi cadangan devisanya. Cadangan internasional Rusia adalah aset asing yang sangat likuid yang terdiri dari stok emas moneter, mata uang asing, dan aset Special Drawing Right (SDR), yang tersedia untuk Bank Sentral Rusia dan pemerintah.

Dalam 5 bulan pertama tahun ini, Rusia menambahkan 78 ton emas ke dalam pundi-pundinya, serta meningkatkan pembagian logam mulia dalam cadangan internasional sebesar 3,7 persen.

“Saya pikir apa yang dilakukan Rusia, atau bank-bank sentral lainnya mengakui bahwa mereka perlu meningkatkan cadangan emas mereka karena krisis dolar yang akan datang,” ungkap CEO Euro Pacific Capital Peter Schiff kepada RT pada Mei.

Pada hari Kamis, harga emas spot melonjak ke level yang belum pernah muncul dalam lebih dari 5 tahun, yang diperdagangkan 2,85 persen lebih tinggi sekitar US$1,386.16 per ons. Sementara itu, emas berjangka juga membukukan keuntungan yang kuat, melonjak lebih dari 2,9 persen menjadi US$1,387.85 per ons.

 

Donald Trump dapat Surat dari Kim Jong Un, Apa isinya?

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku mendapat ucapan selamat ulang tahun dari pemimpin Korea Utara Kim Jong-un via surat pada awal bulan ini.

“Dia (Kim) benar-benar mengirimkan saya ucapan selamat ulang tahun, dan menurut saya itu adalah surat yang bersahabat,” ujar Trump yang menginjak usia 74 tahun pada 14 Juni lalu dilansir The Strait Times, Rabu (26/6).

Hal itu dikatakan Trump saat wartawan menanyakan soal surat dari Kim Jong-un yang diterima AS beberapa waktu lalu di Oval Office, AS. Komentar Trump juga muncul sehari usai media pemerintah Korut mengutip Kim yang mengungkapkan bahwa ia telah menerima surat yang sangat baik dari presiden AS.

“Menghargai politik dan keberanian luar biasa Presiden Trump, Kim Jong-un mengatakan bahwa ia akan serius merenungkan mengenai denuklirisasi,” lapor Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA).

Sementara, halaman depan surat kabar resmi Korut, Rodong Sinmun, memuat foto Kim memegang surat Trump ketika dia membaca surat tersebut di kantornya

 

Tensi Panas Iran-AS, Harga Emas Mengkilap

Dekati Tertinggi 6 Tahun

Harga emas mengkilap naik pada hari Selasa di sesi Asia di tengah ketegangan di Timur Tengah.

Emas berjangka untuk penyerahan Agustus – diperdagangkan di divisi Comex New York Mercantile Exchange – meningkat 1,5% menjadi $ ,439.30 pada pukul 12.06 WIB.

AS mengumumkan akan menjatuhkan sanksi baru bagi Iran pada hari Senin.

Itu adalah respons Washington terhadap penembakan pesawat tak berawak AS oleh Iran minggu lalu. Presiden Trump telah menyetujui serangan udara balasan sebelum kemudian membatalkannya.

“Ini adalah hari kelima kenaikan berturut-turut karena permintaan untuk logam mulia tetap kuat akibat meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, pergeseran pandangan dovish oleh bank sentral utama dan pelemahan luas greenback,” Helen Rush, analis senior untuk logam mulia Capital Markets di London, mengatakan pada hari Senin.

Investor cenderung mencari emas, dilihat sebagai aset safe haven di saat ketidakpastian politik atau ekonomi.

Sementara itu, pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell akhir pekan ini diperkirakan akan menjadi fokus ketika para pedagang akan memperhatikan komentar tentang kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan Fed bulan Juli nanti.

Pedagang juga akan mengalihkan fokus mereka ke KTT G-20 yang sangat dinanti pada pekan ini, di mana Trump diperkirakan akan bertemu dengan mitranya dari Tiongkok Xi Jinping untuk membahas masalah-masalah terkait perdagangan. Analis percaya kesepakatan perdagangan yang cepat sepertinya tidak mungkin terjadi setelah AS menempatkan lebih banyak perusahaan China dalam daftar hitam perdagangan hanya beberapa hari sebelum pertemuan.

Menanggapi hal itu, Wakil Menteri Perdagangan China Wang Shouwen mengatakan Beijing ingin AS menghentikan “tindakan tidak pantas” terhadap perusahaan-perusahaan China.

 

Powell The Fed: Prospek Rate Cut Bukan Karena Tekanan Politik

Ketua The Fed Jerome Powell menampik isu bahwa prospek Rate Cut The Fed muncul gara-gara desakan Trump. Kebijakan tersebut akan diambil murni dari data dan kondisi ekonomi.

Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa kebijakan bank sentral AS terpisah dari tekanan politik jangka pendek. Pernyataan tersebut disampaikannya untuk menepis rumor bahwa para pembuat kebijakan bergulat untuk memotong suku bunga akibat ditekan oleh Presiden AS Donald Trump.

“Kongres memilih untuk memisahkan The Fed seperti ini, karena mereka telah memahami bahaya yang sering timbul saat kebijakan (moneter) dibengkokkan demi kepentingan politik jangka pendek. Bank-bank sentral di sebagian besar negara demokrasi lain di dunia juga memiliki indepensi semacam ini,” kata Powell dalam pidatonya di Council on Foreign Relations di New York, Rabu (26/Juni) dini hari.

Presiden Trump memang kerap mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap pengetatan moneter The Fed, khususnya kenaikan suku bunga. Awal pekan ini, Trump mengatakan bahwa dirinya punya kuasa untuk mendepak Powell. Namun, para pakar ekonom yakin bahwa hampir tak mungkin bagi Trump untuk melakukan hal itu.

The Fed Masih Memastikan Seberapa Perlunya Kebijakan Akomodatif

Powell juga menegaskan bahwa bank sentral masih melihat prospek pertumbuhan yang kuat, dengan rendahnya pengangguran dan inflasi AS yang mendekati target tahunan The Fed di level 2 persen. Akan tetapi, ia dan rekan-rekannya masih bergulat dengan ketidakpastian perdagangan dan isu-isu lainnya jika memang level suku bunga perlu diturunkan.

“Pertanyaan saya dan rekan-rekan adalah seputar apakah ketidakpastian ini akan terus membebani Outlook atau tidak, sehingga membutuhkan akomodasi kebijakan tambahan,” kata Powell.

“Sejumlah anggota FOMC menilai bahwa kasus yang membutuhkan kebijakan akomodatif memang mulai menguat. Namun, kami juga berhati-hati untuk menjaga kebijakan moneter agar tak terlalu reaktif terhadap data individual ataupun hentakan jangka pendek yang terjadi dalam sentimen. (Jika tak berhati-hati) maka hal itu akan berisiko menambah ketidakpastian pada Outlook. Kami akan memantau dengan seksama implikasi informasi yang masuk untuk prospek ekonomi, dan akan bertindak dengan kesesuaian demi mempertahankan ekspansi. “

Merespon pernyataan Jerome Powell, indeks-indeks saham AS jeblok, sedangkan yield obligasi US Treasury naik. Sementara itu, Indeks Dolar AS–yang tadinya flat pasca data Kepercayaan Konsumen–mendulang kenaikan di time frame 1-jam.

 

 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu