Renegosiasi Brexit

Renegosiasi Brexit

Hot News Market Hari Ini

( Rabu, 21 Agustus  2019 )

PM Johnson Kirim Surat Ke Uni Eropa Tentang Renegosiasi Brexit

Poundsterling diperdagangkan dalam kisaran terbatas pada awal pekan ini, tetapi situasi boleh jadi akan segera berubah. PM Boris Johnson baru saja menyampaikan bahwa ia telah mengirimkan surat kepada Presiden European Council yang memuat buah pikirannya mengenai perbatasan Irlandia dan brexit. Respons para pemimpin Uni Eropa terhadap proposal Johnson bisa memengaruhi pergerakan Sterling ke depan.

“Saya telah menulis ke Presiden European Council mengenai aspek-aspek kunci dalam pendekatan Inggris terhadap brexit, masalah dalam ‘backstop’, dan komitmen pemerintah terhadap perjanjian Belfast (Good Friday) yang berhubungan dengan adanya kesepakatan dengan Uni Eropa atau tidak,” kata PM Boris Johnson.

Menurut Johnson, rencana ‘backstop’ untuk perbatasan Irlandia Utara harus diganti dengan ‘aturan alternatif’ yang dirancang untuk memastikan tiadanya perbatasan fisik antara Inggris dan Irlandia. Aturan alternatif ini perlu diterapkan sebelum akhir masa transisi berakhir, dengan syarat tidak boleh bentrok dengan kedaulatan Inggris, hubungan Inggris-Uni Eropa di masa depan, dan perjanjian Good Friday.

Kabar baik dari pesan Johnson tersebut muncul dari kesediaannya untuk menentukan masa transisi. Masa transisi ini dipandang penting oleh banyak pihak, khususnya pebisnis, untuk menghindari chaos akibat brexit. Namun, pesan Johnson menyiratkan bahwa ia tak mau Inggris mengikuti aturan Uni Eropa dalam bentuk apapun setelah brexit. Akibatnya, para pakar pesimis poin penting ini bisa tercapai. Respons para pemimpin Uni Eropa terhadap surat itu pun menjadi sorotan baru.

GBP/USD menunjukkan sedikit reaksi terhadap berita bahwa PM Inggris Boris Johnson mengirimkan surat kepada Presiden European Council Donald Tusk, mengatakan bahwa ia ingin menggantikan backstop Irlandia dengan ‘komitmen mengikat secara hukum’ bagi Inggris dan Uni Eropa untuk tidak membangun infrastruktur dan melakukan pemeriksaan di perbatasan. Uni Eropa belum merespons.” kata Kim Mundy, seorang pakar strategi forex dari CBA.

Ia menambahkan, “Johnson akan bertolak ke Jerman dan Prancis (Rabu dan Kamis) serta menekankan lagi bahwa Inggris akan pergi dari Uni Eropa pada 31 Oktober dengan ataupun tanpa kesepakatan. Kami terus menyaksikan (potensi) kenaikan minimal bagi GBP selama ketidakpastian brexit tetap tinggi.

Bos Huawei Beri Peringatan ke Amerika Serikat

© Warta Ekonomi. Bos Huawei Beri Peringatan ke Amerika Serikat

CEO sekaligus pendiri Huawei, Ren Zhengfei memberikan peringatan untuk pemerintah Amerika Serikat (AS) terkait sistem operasi Android dari Google.

Ia mengaku tindakan AS memasukkan Huawei ke “entity list” merupakan sebuah hantaman besar bagi pihaknya. Pasalnya, hal itu berdampak potensi Google menghentikan suplai penuh OS Androidnya ke jajaran gawai Android buatan Huawei.

“Akan butuh waktu yang sangat lama untuk membangun ekosistem kami sendiri. Untuk waktu yang lama pula kami mungkin jadi tidak bisa mempertahankan eksistensi sebagai vendor smartphone top,” ucap Ren Zhengfei.

Jika Huawei tetap tak diizinkan lagi menggunakan OS Android dalam perangkatnya, bisa menjadi peluang sendiri bagi pihak Huawei dan justru menjadi ancaman bagi AS.

“Jika pemerintah AS tidak memberi izin Google untuk menyediakan sistem operasi Android (buat Huawei), maka dunia mungkin akan memiliki sistem operasi ketiga,” kata Ren Zhengfei.

“Dan hal itu tidak akan menguntungkan buat Amerika Serikat, (yakni) membiarkan lahirnya sebuah sistem operasi ‘adik kecil’ ke dunia. Tak tertutup kemungkinan suatu hari nanti sistem operasi ketiga akan melampaui mereka (kedua OS sebelumnya),” ucapnya.

 

 

Harga Emas Turun Jelang Jackson Hole & Pidato Powell

Harga emas menurun pada Selasa (20/08) pagi di Asia dengan trader masih menunggu acara Simposium Jackson Hole di Wyoming dan pidato dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

Emas Berjangka untuk penyerahan Desember berdasar data Comex di New York Mercantile Exchange (NYMEX), turun 0,4% ke $1,505,55.

Penurunan terjadi setelah Sekretaris Departemen Perdagangan AS Wilbur Ross mengkonfirmasi semalam bahwa Washington akan memperpanjang 90 hari lisensi yang memungkinkan perusahaan Cina yaitu Huawei Technologies Co. untuk sementara waktu terus bisa melakukan bisnis dengan perusahaan-perusahaan AS. Berita tersebut meredakan ketegangan perdagangan antara Cina dan AS dan hal tersebut juga mengirim saham-saham menguat lebih tinggi hari ini sementara itu emas safe haven terus mundur.

Pertemuan tahunan para bankir dan pengambil kebijakan bank sentral yang dimulai dari Kamis hingga Sabtu ini diperkirakan akan menjadi fokus karena akan memberikan petunjuk baru tentang kapan penurunan suku bunga AS berikutnya akan dilakukan.

Menjelang acara Wyoming tersebut, The Fed Kamis dini hari bakal menerbitkan risalah pertemuan 30-31 Juli. Pidato Powell pada hari Jumat juga akan menjadi sorotan untuk minggu ini.

 

 

Fed Diramal Pangkas Bunga 5 Kali Lagi, Yen Pukul Balik Dolar

Mata uang yen Jepang akhirnya kembali menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (20/8/19) setelah melemah dalam dua hari beruntun. Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang diprediksi akan agresif memangkas suku bunga membuat dolar tertekan.

Pagi ini, Rabu (21/8/19) yen diperdagangkan di level 106,32/U$ atau melemah tipis 0,09% di pasar spot, berdasarkan data Refinitiv. Pada Selasa kemarin yen berhasil menguat 0,38%.

Prediksi The Fed akan agresif dalam memangkas suku bunga bisa dilihat dari piranti FedWatch milik CME Group. Pelaku pasar melihat Jerome Powell dkk pasti akan memangkas suku bunga di bulan September. Piranti tersebut menunjukkan probabilitas sebesar 95% bahwa suku bunga akan dipangkas 25 basis poin (bps) menjadi 1,75%-2%.

Bahkan jika melihat suku bunga untuk bulan Desember dalam piranti FedWatch, probabilitas suku bunga The Fed berada di level 1,25%-1,5% sebesar 50,4%. Probabilitas tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan dengan yang lainnya, ini berarti pelaku pasar melihat The Fed akan memangkas suku bunga tiga kali lagi di tahun ini, masing-masing sebesar 25 bps.

Berdasarkan piranti tersebut, The Fed diprediksi akan memangkas suku bunganya pada bulan September, Oktober, dan Desember.Selain itu, analis dari Bank Danske bahkan memprediksi Jerome Powell akan memangkas suku bunga lima kali sebelum April 2020.

Para analis yang dipimpin oleh Mikael Olai Milhoj kini percaya The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 bps dalam lima rapat kebijakan moneter ke depan, dan suku bunga akan berada di level 0,75-1% di bulan Maret 2020, sebagaimana dilansir CNBC International.

Acara tahunan Jackson Hole di AS pada Kamis pekan ini bakal memberikan gambaran apakah The Fed akan agresif atau tidak dalam memangkas suku bunga. Ketua The Fed, Jerome Powell, akan berpidato di hari Jumat, dan akan menjadi sorotan utama pelaku pasar.

“Ekspektasi pasar untuk pertemuan Jackson Hole dan komunitas bank sentral secara agregat sangat dovish. Pasar di AS bersama pasar lainnya di seluruh dunia saat ini memprediksi akan ada pelonggaran moneter yang besar” kata Brad Bechtel, direktur pelaksana Jefferies di New York.

Selain The Fed, Bank of Japan (BoJ) juga akan hadir di pertemuan Jackson Hole. Penguatan yen yang terjadi belakangan ini kemungkinan akan memangkas BoJ untuk menggelontorkan stimulus guna meredam penguatan yen yang dapat merugikan perekonomian Jepang. Oleh karena itu, BoJ juga akan menjadi sorotan pelaku pasar di pekan ini

 

 

Italia Krisis Politik, Bursa Eropa Tersungkur ke Zona Negatif

Setelah mencatat kenaikan kuat dua hari perdagangan berturut-turut sebelumnya, bursa Eropa berakhir di zona merah pada perdagangan Selasa (20/8/2019) seiring dengan meredanya ekspektasi stimulus dan investor menantikan lebih banyak petunjuk dari bank-bank sentral.

Berdasarkan data Reuters, indeks Stoxx 600 Eropa yang sempat menguat pada awal perdagangan berbalik ke zona merah dan ditutup melemah 0,7 persen.

Kekhawatiran tentang pemerintah Italia memperburuk sentimen pasar, meskipun imbal hasil obligasi Italia turun setelah Perdana Menteri Giuseppe Conte mengatakan akan mengundurkan diri, sehingga berpotensi membuka jalan bagi pemerintah koalisi baru.

Pasar di Italia telah bergejolak sejak politisi populis Matteo Salvini, menarik dukungan dari pengaturan koalisinya dengan Gerakan 5-Bintang pada 8 Agustus.

Indeks blue-chip Milan berakhir melorot 1,1 persen. Menurut para analis, penurunan ini merupakan reaksi yang relatif ringan setelah Salvini mengatakan siap untuk menjaga pemerintah koalisi tetap bersemangat untuk menyetujui anggaran 2020 sebelum menuju ke pemilihan awal.

“Keretakan sudah muncul dalam koalisi yang berkuasa di Italia sejak Salvini menyerukan pemutusan serikat itu awal bulan ini,” terang Joshua Mahony, analis pasar senior di IG Group, dikutip dari Reuters.

Seluruh sub-sektor berakhir di zona negatif, dengan bank-bank yang sensitif terhadap tingkat suku bunga membebani sebagian besar indeks acuan. Imbal hasil obligasi zona euro juga jatuh kembali ke rekor terendah.

Adapun sektor sumber daya dasar turun lebih dari 1 persen setelah BHP mengatakan bahwa tantangan terhadap pertumbuhan global dapat menekan permintaan untuk komoditas utama, bijih besi dan tembaga.

Pasar ekuitas Eropa telah bangkit kembali dalam dua sesi perdagangan sebelumnya di tengah meningkatnya harapan bahwa bank sentral dan pemerintah akan turun tangan untuk membantu ekonomi global mencegah resesi.

Namun, indeks saham acuan Eropa Stoxx 600 masih turun 3,4 persen sepanjang bulan ini.

“Pasar masih sangat berhati-hati dan sentimen masih cukup rapuh karena masih ada begitu banyak potensi krisis yang menjulang,” ujar Teeuwe Mevissen, ekonom pasar senior di Rabobank.

“Juga ada volume yang relatif rendah yang dapat mengayunkan pasar secara volatil ke kedua arah,” imbuhnya.

Investor kini menantikan komentar Gubernur Federal Reserve Amerika Serikat Jerome Powell dan Gubernur Bank Sentral Eropa Mario Draghi dalam Simposium Jackson Hole pada Kamis (22/8/2019) waktu setempat.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu