Permintaan Terancam, Harga Minyak Jatuh Lagi

Permintaan Terancam, Harga Minyak Jatuh Lagi

Hot News Market Hari Ini

( Jum’at, 24 Januari 2020 )

Permintaan Terancam, Harga Minyak Jatuh Lagi

Harga minyak lagi-lagi turun tajam, tertekan kekhawatiran mengenai dampak wabah virus corona (coronavirus) baru di China terhadap permintaan energi.

Namun, kemerosotan harga pada akhir perdagangan Kamis (23/1/2020) sedikit dibatasi oleh penurunan tak terduga dalam persediaan minyak mentah AS dan langkah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk tidak menyatakan virus tersebut sebagai darurat kesehatan global.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Maret 2020 merosot US$1,15 dan berakhir di level US$55,59 per barel di New York Mercantile Exchange.

Level penutupan itu adalah yang terendah sejak 29 November 2019. WTI sempat anjlok hingga 3,5 persen pada sesi perdagangan Kamis.

Adapun harga minyak Brent untuk kontrak Maret 2020 berakhir melemah US$1,17 di level US$62,04 per barel di ICE Futures Europe Exchange.

Energy Information Administration (EIA) melaporkan penurunan sebesar 405.000 barel dalam stok minyak mentah pekan lalu. Laporan ini mengejutkan mengingat American Petroleum Institute (API) sebelumnya melaporkan lonjakan persediaan minyak mentah domestik.

Laporan EIA juga menunjukkan peningkatan stok bensin sebesar 1,75 juta barel, terkecil sejak September. Di sisi lain, persediaan minyak distilat turun 1,19 juta barel.

“Data EIA konstruktif dan menguntungkan, terutama karena penurunan stok minyak mentah dilaporkan ketika pasar memperkirakan kenaikan,” tutur Brian Kessens, manajer portofolio di Tortoise.

Sementara itu, WHO berpendapat masih terlalu dini untuk menyatakan darurat kesehatan global atas virus ini. Komite ahli yang dihimpun oleh WHO memilih untuk terus memantau wabah itu, yang telah merenggut belasan nyawa dan menginfeksi ratusan orang.

“Pasar minyak mentah sebagian merespons keputusan itu,” ujar Rebecca Babin, pedagang energi senior di CIBC Private Wealth Management, seperti dilansir Bloomberg.

“Terlepas dari apa yang dikatakan WHO, fakta bahwa kita mungkin melihat permintaan dirugikan adalah apa yang benar-benar menjadi fokus pasar,” tambahnya.

Harga minyak telah tertekan kekhawatiran dampak virus tersebut terhadap perjalanan, terutama menjelang liburan Tahun Baru Imlek, migrasi manusia terbesar di dunia.

Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan virus itu dapat mengurangi permintaan global sebesar 260.000 barel per hari tahun ini, dengan bahan bakar pesawat berkontribusi sekitar dua pertiga dari penurunan.

“Begitu ada bukti bahwa wabah itu terkendali dan oleh karenanya gangguan ekonomi akan segera berakhir, sentimen pada minyak akan meningkat sekaligus mengangkat harga kembali,” ungkap Pavel Molchanov, analis riset energi di Raymond James & Associates Inc.

Bantu Iran, 2 Orang dan 6 Perusahaan Dihukum AS

Amerika Serikat (AS) telah memasukkan enam perusahaan dan dua orang ke dalam daftar hitam karena melanggar sanksi terkait Iran. Perusahaan-perusahaan yang berbasis di sejumlah negara itu telah membantu perusahaan minyak milik Iran, NIOC, mengekspor barang-barang bernilai jutaan dolar.

Departemen Keuangan AS mengatakan mereka menjatuhkan sanksi pada Triliance Petrochemical Co Ltd yang berbasis di Hong Kong dan Sage Energy HK Limited, Peakview Industry Co Ltd yang berbasis di China, serta Beneathco DMCC yang berbasis di Uni Emirat Arab.

Sanksi akan membekukan semua aset perusahaan yang berada di bawah yurisdiksi AS. Sanksi juga melarang warga AS untuk melakukan transaksi dengan mereka, dan berpotensi memberikan sanksi kepada lembaga keuangan non AS yang memfasilitasi transaksi bagi perusahaan-perusahaan tersebut.

Selain itu, pemerintah AS menjatuhkan sanksi pada dua perusahaan lain yaitu Jiaxiang Industry Hong Kong Limited dan Shandong Oiwangwa Petrochemical Co Ltd, serta dua orang, Ali Bayandrian, yang terkait dengan Triliance Petroleum, dan Zhiqing Wang, warga negara China yang memiliki hubungan dengan Shandong Oiwangwa seperti dikutip dari Reuters, Jumat (24/1/2020).

Pengumuman ini adalah langkah terbaru dalam kampanye “tekanan maksimum” AS yang dirancang untuk menekan ekonomi Iran. Ini dilakukan untuk mencoba memaksa Teheran menerima pembatasan lebih besar pada program nuklirnya, kegiatan regional, dan program rudal balistiknya.

Ketegangan AS-Iran telah meningkat sejak keputusan Presiden Donald Trump untuk meninggalkan kesepakatan nuklir Iran 2015. Trump selanjutnya memberlakukan sanksi terhadap Iran. AS juga menyalahkan Iran atas serangan terhadap fasilitas minyak Saudi dan membunuh komandan militer Iran Qassem Soleimani dalam serangan pesawat tak berawak AS pada awal Januari.

Inggris Bilang Dunia Makin Khawatirkan Virus Korona

Menteri Bisnis Inggris pada Kamis (23/1/2020) mengatakan bahwa wabah virus corona baru di China menjadi perhatian besar dunia. Menurutnya, virus corona membuat semua orang merasa khawatir.

“Kini kami secara rutin memeriksa semua penerbangan dari Wuhan, jelas ini merupakan keprihatinan besar bagi dunia, terutama bagi kota itu di China, yang saya ketahui kini sudah diisolasi. Kami tentu saja akan dipandu dengan imbauan dari otoritas kesehatan dunia dan dari bukti yang berasal dari China itu sendiri,” kata Menteri Bisnis Andrea Leadsom kepada perusahaan telekomunikasi Sky News.

“Saya rasa semua orang pada dasarnya akan merasa khawatir namun jelas penting untuk mengambil langkah dalam menghadapinya.”

China mengisolasi Wuhan, kota berpenduduk 11 juta orang yang dianggap sebagai pusat wabah virus corona baru. Virus tersebut telah menelan 17 korban jiwa dan menular ke hampir 600 orang sementara otoritas kesehatan di seluruh dunia berupaya mencegah pandemik global.

Antisipasi Penyebaran Virus Korona, Pemerintah Cina Isolasi Kota Wuhan

Kematian yang diakibatkan virus baru mirip flu burung atau SARS di Cina bertambah menjadi 17 orang pada Rabu (23/01) setempat dan 540 kasus lebih dikonfirmasi. Kejadian tersebut menyebabkan pihak otoritas kota di pusat wabah itu menutup jaringan transportasi dan mendesak warga untuk tidak bepergian guna mengantisipasi menyebarnya penularan.

Menurut laporan yang dilansir Reuters Kamis (23/01) pagi, jenis virus korona ini diyakini telah muncul dari satwa liar yang diperdagangkan ilegal di pasar hewan dekat pusat kota Wuhan. Kasus ini juga telah terdeteksi di Amerika Serikat.

Pemerintah Cina kali ini tetap memberikan pembaruan rutin untuk menghindari kepanikan masal ketika jutaan orang bepergian untuk merayakan Tahun Baru Imlek. Ini berbeda dengan kerahasiaan saat terjadinya wabah Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) 2002-2003 yang menewaskan hampir 800 orang,.

Setelah pertemuan di kantor pusat Jenewa pada Rabu (23/01) setempat, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan akan memutuskan pada hari Kamis ini apakah akan mengumumkan wabah darurat kesehatan global yang akan meningkatkan respons internasional.

Jika demikian, itu akan menjadi darurat kesehatan publik internasional keenam yang diumumkan selama satu dekade terakhir.

“Ini adalah situasi yang berkembang dan kompleks,” Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan.

Pemerintah daerah Wuhan mengatakan akan menutup semua jaringan transportasi perkotaan dan menangguhkan penerbangan keluar dari kota mulai pukul 10 pagi setempat Kamis (09.00 WIB), media pemerintah melaporkan, menambahkan bahwa pemerintah minta warga negaranya tidak meninggalkan kota kecuali untuk alasan khusus.

Langkah itu dimaksudkan untuk “secara efektif menghambat penularan virus, membatasi penyebaran epidemi, dan memastikan kesehatan dan keselamatan warga,” media pemerintah mengutip pernyataan satuan tugas virus Wuhan.

Bursa AS Dibuka Anjlok Jelang Rapat WHO Soal Virus Corona

Bursa saham Amerika Serikat (AS) memerah pada pembukaan perdagangan Kamis (23/01/2020) jelang pertemuan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang akan rapat menetapkan status darurat-tidaknya virus corona.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 160 poin (-0,6%) pada pembukaan perdagangan pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB), dan berlanjut menjadi 181 poin (-0,62%) selang 15 menit kemudian ke 29,004,95. Indeks Nasdaq dibuka turun 45,24 poin (-0,5%) ke 9.343,15 dan indeks S&P 500 tertekan 17 poin (-0,53%) ke 3.303,98.

NBCUniversal, induk dari Comcast, melaporkan kinerja kuartal IV-2019 yang melampaui ekspektasi pasar. Namun, saham Comcast justr terkoreksi 1,4%, tetapi saham Travelers justru anjlok hingga 3%.

“Investors bertanya-tanya apa yang akan bakal menjatuhkan bursa,” tutur Chief Investment Strategist The Leuthold Group Jim Paulsen, sebagaimana dikutip CNBC International. “Meski koreksi bursa saham nyaris pasti pada beberapa titik, pemulihan sentimen itu sendiri, kemungkinan tidak akan menciptakan koreksi yang berkelanjutan.”

Sejauh ini, lebih dari 12% perusahaan yang menjadi konstituen indeks S&P 500 telah merilis kinerja kuartalan mereka. Dari jumlah tersebut, data FactSet menyebutkan 70% di antaranya membukukan laba bersih lebih baik dari perkiraan pasar.

Namun sentimen masih tertahan karena penyebaran virus corona asal China telah menekan  bursa global setelah 17 orang dilaporkan tewas da Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bakal menggelar pertemuan pada Kamis untuk menetapkan status darurat kesehatan global.

Per hari Rabu, jumlah kasus terkonfirmasi virus corona, yang bermula dari kota Wuhan di China dan menyebar hingga Asia dan AS telah mencapai 571 kasus.

Kekhawatiran pun menerpa bursa Asia hingga indeks Shanghai anjlok 2,75%, koreksi terbesar sejak 6 Mei 2019 ketika anjlok 5,6%. Indeks Nikkei 225 Jepang dan Kospi Korsel masing-masing anjlok 1%. Pemerintah AS dijadwalkan merilis angka pengangguran baru dan lama per Januari pada pukul 08:30 waktu setempat.

Emas Melemah Terdampak Virus Korona, Paladium Cetak Rekor Lagi

© Reuters.

Investor emas ragu-ragu terhadap virus korona dengan indikasi awal bahwa virus ini bisa melukai permintaan emas di Cina serta juga meningkatkan pembelian aset safe haven. Jadi, logam kuning turun kembali pada Kamis (23/01) pagi, sementara paladium melonjak dengan berhasil mencatatkan rekor tertinggi baru pada perdagangan berjangka.

Emas berjangka COMEX untuk penyerahan Februari di New York ditutup turun $1,20 di $1,556.70 per ons.

Emas spot, yang melacak perdagangan langsung fisik emas, turun hanya 31 sen, di $1.557,42 pada pukul 03:15 PM ET (20:15 GMT).

“Dunia bereaksi terhadap deflasi hingga berita penyebaran virus seperti pneumonia di Cina,” ujar Zaner Metals dalam catatan. “Perdagangan dibenarkan dengan memfaktorkan dari beberapa melambatnya ketakutan dan pada gilirannya telah memberikan tekanan pada emas, perak dan hampir setiap komoditas fisik.”

Goldman Sachs (NYSE:GS) mengatakan pihaknya mengantisipasi virus korona karena dapat menyebabkan permintaan minyak global rata-rata turun sebanyak 260.000 barel per hari, sementara minyak mentah sendiri bisa kehilangan sebanyak $3 per barel.

Catatan Logam Zaner menunjukkan bahwa dampak tersebut bisa juga menyebar ke komoditas lain lantaran Cina adalah pembeli bahan baku terbesar.

“Meningkatkan potensi dampak deflasi dari virus baru ini adalah fakta bahwa perayaan Tahun Baru Imlek dimulai akhir pekan mendatang dan biasanya sekitar 300 juta orang bepergian di Cina. Kunjungan akan berkurang dan secara dramatis menghilangkan stimulus tahunan yang luar biasa bagi perekonomian Cina,” tambah para analis.

Agen katalis kendaraan paladium melonjak drastis dari penurunan Rabu ke puncak baru di kontrak berjangka meskipun tidak pada harga spot.

Paladium berjangka naik $129, atau sebesar 5,6%, menjadi $2,361.70. Paladium ini mencapai rekor tertinggi sebelumnya di $2.363,40 di tengah kekhawatiran pengetatan pasokan dari Afrika Selatan dan Rusia.

Paladium berjangka meningkat hampir 27% dalam tiga minggu sejak 2020 dimulai.

Paladium spot menguat $67,78, atau sebesar 2,8%, di $2,469.43. Paladium spot mencapai titik tertinggi sepanjang masa pekan ini di $2,527.14 dan telah naik 24% untuk tahun ini.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu