Perang Dagang AS-China Adem, Trump: AS Punya Amunisi Fase II

Perang Dagang AS-China Adem, Trump: AS Punya Amunisi Fase II

Hot News Market Hari Ini

( Senin, 16 Desember 2019 )

Perang Dagang AS-China Adem, Trump: AS Punya Amunisi Fase II

Perkembangan hubungan antara Amerika Serikat (AS) dengan China menjelang penutupan tahun 2019 terus membaik, kedua belah pihak saling berkomentar positif meski perjanjian fase pertama belum ditandatangani.

Trump dalam cuitannya pada hari Rabu (13/12/2019) malam mengatakan bahwa pihaknya telah membuat kesepakatan besar seiring dengan tercapai perjanjian dagang fase pertama dengan China.

Presiden As tersebut melanjutkan dengan mengatakan bahwa tarif impor 25% yang sudah berlaku akan tetap diberlakukan, akan tetapi tarif penalti yang dijadwalkan berlaku pada 15 Desember tidak akan diberlakukan karena kesepakatan sudah terjadi.

Pada kesempatan lain, Reuters melaporkan bahwa Beijing setuju menambah pembelian hasil pertanian AS senilai US$ 32 miliar dalam 2 tahun ke depan, berdasarkan keterangan Robert Emmet Lighthizer, wali dagang pemerintahan AS.

Menurut dia, China setuju membeli produk pertanian Negeri Paman Sam senilai US$ 16 miliar per tahun untuk 2 tahun ke depan. Angka itu dihitung dari hitungan dasar US$ 24 miliar barang-barang yang sudah dibeli China pada 2017, sebelum perang dagang mengemuka. Selain itu, penandatanganan kesepakatan diprediksi akan dilakukan pada pekan pertama tahun depan oleh negosiator utama.
Menanggapi perkembangan tersebut, pejabat China yaitu Wakil Menteri Perdagangan Wang Shouwen dan Komisi Nasional Reformasi dan Pengembangan Ning Jizhe balas menyatakan akan mengimpor lebih banyak gandum, jagung, dan beras dari AS setelah kesepakatan. Namun, detailnya belum dijelaskan dan akan diumumkan segera mengingat dokumen perjanjian masih dalam kajian kedua pihak.

Selama ini, Negeri Tirai Bambu bukanlah pembeli utama ketiga produk pertanian AS tersebut. China masih menjadi pembeli terbesar kelima untuk jagung AS pada medio 2011-2014, tetapi sejak itu sudah tidak lagi.

Akan tetapi angka tersebut sebenarnya di bawah keinginan Trump yang menginginkan China melakukan pembelian sebanyak US$ 50 miliar produk pertanian dari AS.

Kepada wartawan, Trump menyatakan masih memiliki tarif impor yang cukup besar dan dapat dimanfaatkan untuk fase kedua perundingan. “Kita akan menggunakannya [tarif impor] untuk negosiasi selanjutnya di fase kedua.”

Melihat perkembangan tersebut sepertinya perang dagang belum sepenuhnya akan berakhir karena trump masih belum puas, memang ini merupakan fase awal dan tidak menutup kemungkinan akan ada kejutan-kejutan yang membuat pasar naik dan turun.

Tidak hanya di ranah eksekutif, komentar ketidakpuasan juga datang dari legislatif AS. Senator Chris Murphy, seorang Demokrat dari Connecticut,  mengatakan Cina telah membuat “nol komitmen untuk reformasi struktural.”

AS-China Fase Satu Akhirnya Deal, Win-win Solution?

Kesepakatan perdagangan fase pertama antara Amerika Serikat (AS) dan China akhirnya terealisasi. Padahal, pasar sebelumnya dag-dig-dug karena Presiden AS Donald Trump tak kunjung memberikan kata pamungkas.

Namun kali ini cuitan Trump di Twitter pribadinya melegakan pelaku pasar keuangan dunia yang ‘H2C’ menunggu tenggat waktu 15 Desember hari ini. Menjelang tengah malam, tepatnya pada 10.25 WIB, 14 Desember kemarin, Trump mencuit bahwa kesepakatan besar untuk fase pertama sudah tercapai dengan China.

“Mereka setuju terhadap banyak perubahan struktural dan pembelian produk pertanian, produk energi dan manufaktur yang masif, serta masih banyak lagi,” ujarnya.

Dia melanjutkan bahwa tarif impor 25% yang sudah berlaku akan tetap berlaku, tetapi tarif penalti yang dijadwalkan berlaku pada 15 Desember tidak akan diberlakukan karena kesepakatan sudah terjadi.

AS-China Resmi Damai, Masalah deh Bagi Harga Emas Dunia

Harga emas kembali melemah pada perdagangan Jumat lalu (13/12/2019) melanjutkan pelemahan Kamis sebelumnya. Padahal sebelumnya emas menunjukkan pergerakan menjanjikan setelah melewati level US$ 1.480/troy ons kemarin.

Data Refinitiv mencatat, Kamis lalu, di awal perdagangan sesi Amerika Serikat (AS) harga emas menguat 0,82% ke level US$ 1.486,8/troy ons. Pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) pada Kamis dini hari menjadi penopang penguatan emas.

The Fed mempertahankan suku bunga 1,5-1,75% setelah melakukan pemangkasan tiga kali pemangkasan di tahun ini, masing-masing sebesar 25 basis poin (bps).

Tetapi bank sentral paling powerful di dunia ini juga mengindikasikan suku bunga tidak akan dinaikkan pada tahun depan, dolar AS langsung rontok dan harga emas melesat 0,74%.

Emas global merupakan aset yang dibanderol mata uang Paman Sam, ketika dolar AS melemah maka harganya akan lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga permintaan bisa meningkat.

Selain itu sebagai aset tanpa imbal hasil, suku bunga rendah akan membuat berinvestasi emas menjadi lebih menguntungkan karena opportunity cost (biaya yang ditanggung dalam berinvestasi di emas dan mengabaikan aset lainnya) menjadi rendah.

Gegara Trump
Namun, pergerakan menjanjikan emas tersebut seketika lenyap, logam mulai ini berbalik melemah setelah ada kabar bagus mengenai perundingan dagang dari AS.

CNBC International
melaporkan secara prinsip AS dan China sudah mencapai kesepakatan dagang fase satu. Presiden AS Donald Trump mencuit di Twitter bahwa kesepakatan besar untuk fase pertama sudah tercapai dengan China.

“Mereka setuju terhadap banyak perubahan struktural dan pembelian produk pertanian, produk energi dan manufaktur yang masif, serta masih banyak lagi,” ujarnya.

Dia melanjutkan bahwa tarif impor 25% yang sudah berlaku akan tetap berlaku, tetapi tarif penalti yang dijadwalkan berlaku pada 15 Desember tidak akan diberlakukan karena kesepakatan sudah terjadi.

 

 

Waspada Ancaman Perang Dagang AS-Eropa

Amerika Serikat (AS) dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk menjatuhkan lagi tarif hingga 100% pada produk-produk Eropa, yang belum dikenai tarif.

CNBC International melaporkan akhir pekan lalu, Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) telah menerbitkan dokumen daftar barang-barang Eropa yang akan dikenai tarif hingga 100%. Beberapa barang yang menjadi target di antaranya adalah wiski Irlandia dan Scotch serta Cognac.

Selain itu, minyak zaitun Spanyol dan keju Prancis hingga pisau Jerman dan fillet ikan Portugis, juga diperkirakan akan dijatuhi tarif hingga 100%.

Tarif baru ini merupakan buntut dari perselisihan kedua negara dalam hal pemberian subsidi ilegal oleh pemerintah Eropa untuk perusahaan pesawat Airbus.

AS telah lama berpendapat bahwa subsidi yang diberikan UE untuk Airbus, merugikan perusahaan pesawat AS Boeing. AS juga mengatakan UE telah melanggar peraturan WTO dalam hal pemberian subsidi itu.

Pada Oktober lalu, AS telah mengenakan tarif 10% untuk pesawat sipil besar dan 25% untuk barang pertanian dari Eropa. Penerapan tarif diumumkan setelah AS mendapat izin dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Lembaga itu memutuskan AS menang dalam tuntutannya terhadap UE dan membiarkan pemerintahan Presiden Donald Trump menjatuhkan tarif sebagai hukuman atas langkah pemberian subsidi oleh UE kepada Airbus.

“Sebagai akibat dari kegagalan UE untuk menangani subsidi ini, pada 18 Oktober, Amerika Serikat mengenakan tarif 10% pada pesawat sipil besar dan 25% pada produk pertanian dan lainnya dari UE,” tulis USTR dalam dokumen yang terbit 2 Desember.

Sebelumnya pada awal tahun ini, USTR juga telah menerbitkan daftar beberapa barang Eropa senilai lebih dari US$ 10 miliar yang akan dikenai tarif terkait masalah Airbus.

Menanggapi kabar dimasukkannya kembali wiski hingga Cognac ke dalam daftar tarif AS, analis Bernstein Trevor Stirling mengatakan langkah ini menunjukkan bahwa ancaman tarif AS memang belum hilang.

“Ini adalah perombakan penuh, kami berpotensi melihat tarif diterapkan, yang kami tekankan sebagai kemungkinan dua bulan lalu,” kata Stirling dalam sebuah catatan kepada klien broker.

Cina Tangguhkan Tarif Impor untuk Produk AS

Pemerintah Cina telah menangguhkan tarif tambahan pada beberapa produk asal AS yang rencananya akan mulai diberlakukan pada 15 Desember, komisi tarif bea cukai Dewan Negara mengatakan pada hari Minggu, setelah dua negara ekonomi terbesar di dunia itu menyepakati secara prinsip perjanjian dagang “fase satu” pada hari Jumat pekan silam.

Kesepakatan, desas-desus dan kebocoran di pasar dunia selama berbulan-bulan, mengenai pembatalan tarif impor produk asal Cina dan sebagai imbalannya seperti yang dikatakan pejabat AS akan meningkatkan pembelian produk pertanian Amerika dan barang-barang lainnya oleh Cina.

Tarif balasan pemerintah Cina, yang rencananya mulai berlaku pada 15 Desember, ditujukan untuk sejumlah produk mulai dari jagung dan gandum hingga kendaraan dan suku cadang buatan AS.

Sebelumnya pemerintah Cina telah memberlakukan tarif impor untuk produk asal AS, kata komisi itu dalam pernyataan yang dikeluarkan di situs web departemen pemerintah termasuk kementerian keuangan Cina.

“Cina berharap, dengan berdasar pada kesetaraan dan saling menghormati, dapat bekerjasama dengan Amerika Serikat, untuk menyelesaikan dengan baik keprihatinan utama masing-masing pihak dan mempromosikan perkembangan stabil hubungan ekonomi dan perdagangan AS-Cina,” tambahnya.

Beijing telah setuju untuk mengimpor setidaknya $ 200 miliar produk dan jasa AS selama dua tahun ke depan di atas jumlah yang dibeli pada tahun 2017, kata perunding perdagangan AS pada hari Jumat.

Pernyataan yang dikeluarkan Perwakilan Dagang Amerika Serikat pada hari Jumat mengatakan Amerika Serikat akan membatalkan penerapan tarif 25% untuk produk asal senilai $ 250 miliar, ungkap berita yang dilansir Reuters Sabtu (14/12.)

Gimana Nih, Trump? Langkah Pertama Pemakzulan Trump Mulus

Langkah pertama pemakzulan terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald John Trump berjalan mulus setelah dua pasal pemakzulan terhadapnya disetujui Komite Kehakiman Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) setempat. Langkah kedua adalah voting seluruh anggota DPR.

Nasib terakhir presiden akan ditentukan dalam voting Senat. Senat kemungkinan besar akan menyelamatkan Trump dari pemakzulan karena kursi mejelis tinggi Amerika ini dikuasai partai pendukungnya, yakni Partai Republik.

Presiden AS telah dituduh menyalahgunakan kekuasaan dan menghalangi-halangi (obstruksi) Kongres dalam upaya penyelidikan sehubungan dengan panggilan telepon 25 Juli antara Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

Komite Kehakiman DPR pada hari Jumat waktu Washington secara resmi menyetujui dua pasal impeachment terhadap Trump. Hasil pemungutan suara adalah 23:17 untuk kemenangan kubu yang mendukung pemakzulan. Hasil voting ini sudah diperkirakan sebelumnya karena kursi DPR atau majelis rendah Amerika dikuasai Partai Demokrat atau partai oposisi.

Seluruh anggota DPR Amerika sekarang akan ditugaskan untuk memutuskan apakah setuju atau tidak Trump melakukan “kejahatan tinggi dan pelanggaran” ketika mereka memberikan suara untuk dua pasal pemakzulan pada minggu depan. Kuorum DPR diperlukan menyetujui pasal-pasal untuk secara resmi memakzulkan presiden.

Jika voting DPR menyetujui pemakzulan, nasib Trump akan dibawa ke Senat yang dikuasai Partai Republik untuk persidangan tahun 2020 dan akan diputuskan apakah presiden harus dipecat dari jabatannya atau tidak. Diperlukan dua pertiga suara anggota Senat untuk mengusir panglima tertinggi Amerika tersebut.

Trump adalah presiden keempat dalam sejarah AS yang menghadapi kemungkinan pemakzulan atas tuduhan pelanggaran di Gedung Putih. Dia telah berulang kali membantah melakukan kesalahan dan publik Amerika sangat terpecah dalam masalah ini.

Awal pekan ini, Partai Demokrat mengumumkan dua pasal pemakzulan terhadap Trump atas dugaan penyalahgunaan kekuasaan karena meminta Ukraina menyelidiki saingan politik Trump, yakni Joe Biden dari Partai Demokrat dengan menahan bantuan sebagai alat untuk memengaruhi Ukraina. Trump juga dituduh menghalang-halangi penyelidikan oleh DPR. Komite Kehakiman DPR berargumen melalui sesi maraton pada hari Kamis menjelang pemungutan suara untuk mengirim tuduhan impeachment terhadap Trump ke voting seluruh anggota DPR.

Ketua DPR Nancy Pelosi yakin Partai Demokrat akan memiliki suara untuk memakzulkan Presiden minggu depan. Namun, dia mengatakan itu tergantung pada politisi individu untuk menimbang bukti dan memutuskan untuk diri mereka sendiri.

“Faktanya adalah kami mengambil sumpah untuk melindungi dan mempertahankan Konstitusi Amerika Serikat,” kata Pelosi kepada wartawan. “Tidak ada yang di atas hukum. Presiden akan dimintai pertanggungjawaban atas penyalahgunaan kekuasaan dan penghalang Kongres,” katanya lagi, seperti dikutip AP, Sabtu (14/12/2019).

Sementara itu, Presiden Trump melalui akun Twitter-nya, @realDonaldTrump, memuji Partai Republik yang terus membelanya. “Anggota Partai Republik kemarin sangat fantastis. Itu selalu membantu untuk memiliki kasus yang jauh lebih baik, pada kenyataannya Demokrat tidak memiliki kasus sama sekali, tetapi persatuan dan kecemerlangan para pejuang Republik ini, semuanya, adalah pemandangan yang indah untuk dilihat. Demokrat tidak punya jawaban dan ingin keluar!,” tulis Trump.

Trump menulis tweet tersebut diduga sambil menonton televisi yang menyiarkan langsung proses di Komite Kehakiman DPR Amerika. Dia mengkritik keras kubu Demokrat dan menggambarkan komentar para politisinya sebagai pernyataan yang tidak akurat. “Sangat menyedihkan,” tulis Trump di Twitter.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu