Minyak Meningkat, AS akan Mengumumkan Sanksi Lagi terhadap Iran

Minyak Meningkat, AS akan Mengumumkan Sanksi Lagi terhadap Iran

Hot News Market Hari Ini

( Selasa, 25 Juni 2019 )

1. Minyak Meningkat, AS akan Mengumumkan Sanksi Lagi terhadap Iran

Minyak mentah AS memperpanjang reli minggu lalu saat ketegangan AS-Iran tetap menjadi sorotan tajam. Sekretaris Negara AS Mike Pompeo memperingatkan bahwa sanksi “signifikan” akan diumumkan pada hari Senin dan mengatakan ia akan berusaha untuk membangun “koalisi global” yang berurusan dengan Iran ketika ia bertemu untuk mengadakan pembicaraan dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Presiden lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia membatalkan serangan militer sebagai respons terhadap penembakan pesawat tak berawak AS, sementara eskalasi ketegangan membuat minyak West Texas Intermediate melompat sekitar 10% pada pekan itu.

Minyak mentah AS berjangka melonjak 38 sen, atau 0,7%, menjadi $57,81 pada pukul 16.35 WIB, meskipun minyak Brent tidak berubah pada harga $64,45. Data yang dirilis oleh CFTC pada hari Jumat menunjukkan bahwa keseimbangan posisi spekulatif beli minyak mentah naik untuk pertama kalinya dalam delapan minggu pekan lalu. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan jual dari akun spekulatif berkurang. Sementara itu, jumlah rig pengeboran yang digunakan di AS tetap stabil, menurut data dari Baker Hughes.

2. China Konfirmasi Pembicaraan dengan Trump di G20

Beijing mengkonfirmasi bahwa Presiden Xi Jinping akan melakukan perjalanan ke Jepang pada 27-29 Juni di tengah harapan baginya untuk bertemu dengan Trump untuk membahas sengketa perdagangan yang ada saat ini antara dua ekonomi terbesar dunia.

Wakil Menteri Perdagangan China Wang Shouwen mengatakan pada hari Senin bahwa negosiasi perdagangan sedang berlangsung dan menegaskan bahwa kedua belah pihak seharusnya melakukan kompromi.

Meskipun Wang tidak memberikan rincian spesifik, Asisten Menteri Luar Negeri Zhang Jun mengindikasikan bahwa negosiator sedang membuat persiapan pertemuan antara Xi dan Trump.

3. Pasar Global Beragam, Terbebani Ketegangan AS-Iran vs Harapan Dagang

Saham-saham global menjalani perdagangan yang bervariasi untuk memulai minggu ini karena meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran dibebani harapan bahwa Washington dan Beijing bisa bergerak lebih dekat pada kesepahaman perdagangan di KTT G20.

Wall Street berada di jalur untuk menutup kerugian Jumat dengan kontrak berjangka AS menuju ke pembukaan yang lebih tinggi. Dow Berjangka bertambah 51 poin, atau 0,2%, pada pukul 16.37 WIB, S&P 500 Berjangka naik 7 poin, atau 0,2%, sementara Nasdaq 100 berjangka diperdagangkan naik 24 poin, atau 0,3%.

Di tempat lain, bursa Eropa sedikit melemah setelah peringatan profit dari Daimler (DE:DAIGn) dan masih ada lagi penurunan data moral bisnis Jerman, ke level terendahnya sejak 2014. Hal tersebut cukup meredam optimisme.

Pasar saham Asia berakhir sedikit menguat dalam harapan beberapa kemajuan pembicaraan perdagangan China-AS yang mendukung sentimen.

4. Bitcoin Mundur dari Tingkat Tertinggi 15 Bulan di atas $11.000

Reli dua minggu Bitcoin berhasil secara singkat mendorong cryptocurrency terbesar dengan kapitalisasi pasar di atas $11.000 selama akhir pekan dalam hiruk pikuk dari sedikit di bawah level $7.900 yang disamakan dengan kesamaan yang mendorong koin alternatif ke tingkat tertinggi sepanjang masa di dekat $20.000 pada tahun 2017.

Beberapa analis memuji langkah Facebook (NASDAQ:FB) yang merencanakan peluncuran koin digital Libra sebagai hal yang menghidupkan kembali minat pada mata uang kripto, dan mendorong Bitcoin ke level tertinggi 15 bulan.

Thomas Lee, salah satu pendiri Fundstrat Global Advisors, mengatakan pekan lalu bahwa level $10.000 adalah “FOMO”, menyiratkan bahwa di situlah para pedagang akan mengalami “takut ketinggalan”, dan membawa gelombang pembeli yang akan mendorong harga bahkan bergerak lebih tinggi.

5. Aset Turki Melonjak, Erdogan Akui Kekalahan dalam Pemilihan Istanbul

Lira, saham dan obligasi Turki semuanya melesat tinggi pada hari Senin setelah partai yang dipimpin oleh Presiden Tayyip Erdogan tersebut mengakui kekalahan dari oposisi dalam pemilihan ulang walikota Istanbul.

Konsesi pemerintah meredakan kekhawatiran bahwa mereka mungkin menggunakan kekuatannya untuk melumpuhkan proses demokrasi dan memberikan bantuan bagi aset Turki yang telah jatuh tahun ini akibat di bawah tekanan dari upaya pemerintah yang tidak biasa untuk menjaga krisis utang yang sedang berlangsung di bawah kendali bank-bank negara.

Bahkan ketika ketegangan politik mereda, investor akan terus mengawasi perselisihan antara Ankara dan Washington terkait pembelian sistem pertahanan Rusia S-400 Rusia. AS telah memperingatkan bahwa pengiriman yang diharapkan bulan depan akan memicu sanksi ekonomi.

Erdogan dan Trump diperkirakan akan bertemu di KTT G20 untuk membahas masalah ini.

 

Timur Tengah Masih Bergejolak, Harga Minyak Bertahan Di Level Tinggi

Harga minyak bertahan di dekat level tinggi bulan Juni, di tengah panasnya ketegangan AS-Iran. Pelaku pasar mengantisipasi reaksi Iran terhadap sanksi ekonomi baru dari AS.

Harga minyak berusaha mempertahankan kenaikan minggu lalu pada perdagangan hari Senin (24/Juni), didukung oleh masih tingginya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Minyak Brent diperdagangkan pada harga $64.76 per barel, setelah pada hari Jumat minggu lalu menyentuh level $65.17 per barel yang merupakan level tertinggi bulan Juni.

Sementara itu, minyak WTI (West Texas Intermediate) berada di kisaran $57.79 per barel. Perlu diketahui, minyak WTI telah membukukan kenaikan sebesar 10 persen dalam lima sesi terakhir.

AS Nyaris Lakukan Serangan Militer Terhadap Iran

Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran terus memuncak dalam beberapa hari terakhir, terutama setelah Iran menembak jatuh sebuah drone milik AS karena dianggap telah memasuki wilayah udara negeri Persia itu. Klaim Iran mengenai drone yang di atas wilayah udara internasional itu langsung dibantah oleh AS.

Presiden Donald Trump lantas tidak tinggal diam dan berencana melancarkan serangan milter terhadap Iran. Namun, Trump akhirnya membatalkannya dan beralasan bahwa serangan terhadap drone tanpa awak tidaklah sebanding dengan serangan yang akan dilancarkan AS, yang berpotensi menimbulkan banyak korban jiwa.

Pernyataan terbaru dari Trump pada hari Minggu (23/Juni) kemarin mengungkapkan bahwa AS tidak ingin berperang dengan Iran, tetapi bersiap menerapkan sanksi ekonomi secara lebih signifikan dalam waktu dekat. Kabar tersebut dipertegas oleh Pompeo yang mengatakan sanksi baru terhadap Iran akan diumumkan pada hari Senin ini.

“Eskalasi ketegangan Timur Tengah diprediksi akan menjadi katalis yang mendorong naik harga minyak. Namun, pelaku pasar masih ingin konfirmasi (lebih lanjut) dengan melihat seperti apa respon Iran terhadap sanksi baru yang dilancarkan AS,” kata Edward Moya, analis pasar senior OANDA di New York.

 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu