Kasus Virus Covid-19 Bertambah Dorong Kenaikan Emas

Kasus Virus Covid-19 Bertambah Dorong Kenaikan Emas

Hot News Market Hari Ini

( Jum’at, 14 Februari 2020 )

Kekhawatiran pada Virus Corona Mereda, Minyak Mentah Kembali Menguat

Harga minyak mentah kembali menguat setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyalakan kembali optimisme bahwa wabah coronavirus (Covid-19) dapat mereda.

Berdasarkan data Bloomberg, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret ditutup menguat 0,5 persen atau 0,25 poin ke level US$ 51,42 per barel di New York Mercantile Exchange pada akhir perdagangan Kamis (13/2).

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak April menguat 0,55 poin dan berakhir di posisi US$56,34 per barel di ICE Futures Europe.

Dilansir Bloomberg, WHO mengatakan lonjakan diagnosis coronavirus tidak selalu mencerminkan lonjakan infeksi baru yang tiba-tiba. Provinsi Hubei, yang menjadi pusat penyebaran wabah, merevisi metodenya untuk menghitung infeksi.

“Pasar semakin tenang di tengah fakta bahwa kita telah mencapai titik terendah,” kata Rebecca Babin, pedagang ekuitas senior di CIBC Private Wealth Management, seperti dikutip Bloomberg.

“Pasar minyak telah mengabaikan kasus terburuk dan bisa menunjukkan lebih banyak ketahanan selama kasus di luar China tidak melonjak,” lanjutnya.

Harga minyak pulih pekan ini didukung oleh optimisme bahwa penyebaran wabah Covid-19 yang mematikan dapat mereda. Badan Energi Internasional pada hari Kamis memperkirakan permintaan minyak turun kuartal ini untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade terakhir menyusul dampak wabah virus pada kegiatan ekonomi dan perjalanan di China.

Sementara itu, Arab Saudi dan Kuwait mengizinkan dimulainya kembali produksi minyak di ladang Wafra mulai hari Minggu, lebih dari empat tahun setelah mereka menghentikan produksi.

Kedua negara menyatakan dimulainya kembali produksi kemungkinan tidak akan menambah jumlah minyak yang signifikan ke pasar dalam jangka waktu kesepakatan pemotongan produksi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang berjalan hingga akhir Maret.

Harga Minyak Mentah Naik Tipis ke US$56,34 per Barel

Harga minyak mentah naik tipis pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), karena investor berharap produsen terbesar dunia akan memangkas produksi lebih banyak dan mengabaikan perkiraan permintaan merosot karena wabah virus corona di pengimpor minyak terkemuka China.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April mengakhiri sesi dengan naik US$0,55 atau 1,0 persen menjadi US$56,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret ditutup US$0,25 atau 0,5 persen lebih tinggi menjadi US$51,42 per barel.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menurunkan perkiraan permintaan 2020 untuk minyak mentahnya sebesar 200.000 barel per hari, mendorong ekspektasi kelompok produsen dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, dapat memangkas produksi lebih lanjut.

“Rusia telah cukup banyak mengisyaratkan bahwa semuanya dalam OPEC+ memberikan pengurangan produksi lebih dalam,” kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York.

Permintaan minyak di China, konsumen minyak mentah terbesar kedua di dunia, telah jatuh karena pembatasan perjalanan dan karantina.

Jumlah kasus baru yang dikonfirmasi di Provinsi Hubei melonjak 14.840 menjadi 48.206 pada 12 Februari dan angka kematian naik pada rekor harian 242 menjadi total 1.310 korban jiwa.

Pengilangan minyak China National Chemical Corp mengatakan akan menutup pabrik berkapasitas 100.000 barel per hari dan memotong pengolahan di dua pabrik lainnya di tengah penurunan permintaan bahan bakar.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan minyak pada kuartal pertama akan turun untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, sebelum naik mulai kuartal kedua. Badan ini memangkas proyeksi pertumbuhan global setahun penuh menjadi 825.000 barel per hari.

Mengekor Bursa Asia, Indeks Stoxx Europe 600 Ditutup Melemah Tipis

Bursa Eropa berakhir melemah tipis di zona merah pada perdagangan hari ini, Kamis (13/2/2020), di tengah pelemahan bursa saham global.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Stoxx 600 ditutup melemah 0,02 persen atau 0,08 poin ke level 431,08, setelah dibuka terkoreksi 0,13 persen atau 0,56 poin di level 430,60 dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (12/2/2020), Stoxx ditutup menguat 0,63 persen atau 2,68 poin di level 431,16, reli hari ketiga berturut-turut.

Saham Centrica Plc. membukukan penurunan terbesar dengan ditutup anjlok 15,29 persen, disusul saham Boliden AB yang merosot 8,14 persen.

Mayoritas bursa saham lainnya di Asia juga melemah. Indeks DAX ditutup melemah 0,03 persen, sedangkan indeks BOVESPA melemah 0,86 persen, dan indeks Stoxx Europe 600

Sentimen investor sebelumnya sempat membaik di tengah spekulasi bahwa dampak dari wabah virus corona (Covid-19) terhadap pertumbuhan global akan mereda.

Namun sentimen berubah setelah pemerintah kota Hubei, yang menjadi pusat penyebaran virus di China, melaporkan hampir 15.000 kasus baru setelah merevisi datanya untuk memasukkan kasus-kasus “yang didiagnosis secara klinis” dalam pengungkapan hariannya.

“Tepat ketika pasar merasa nyaman dengan gagasan bahwa peningkatan infeksi Covid-19 cenderung lebih rendah, lonjakan tiba-tiba dalam jumlah kasus baru di Hubei telah menyentak mereka keluar dari rasa puas diri ini,” kata Khoon Goh, riset di Australia & New Zealand Banking Group Ltd, seperti dikutip Bloomberg.

The Fed Kurangi Suntikan Likuiditas, Wall Street Melemah

Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (13/2/2020) karena investor mempertimbangkan perkembangan coronavirus terbaru dan berita bahwa Federal Reserve akan mengurangi suntikan likuiditasnya.

Berdasarkan data Bloomberg, Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,43 persen atau 128,11 poin ke level 29,423,31, setelah bergerak pada kisaran 29.345,93-29.535,4.

Sementara itu, indeks S&P 500 ditutup melemah 0,16 persen atau 5,5 poin ke level 3.373,94 dan Nasdaq Composite ditutup turun 0,14 persen atau 13,99 poin k elevel 9.711,97.

Saham Cisco System Inc yang melemah 2,61 persen menjadi penekan utama terhadap pelemahan indeks Dow Jones, disusul oleh saham Dow Inc yang turun 1,08 persen.

Di sisi lain, saham Wallmart Inc yang menguat 1,59 persen menjadi penopang terbesar indeks Dow Jones, disusul oleh saham Procter & Gamble Co. yang menguat 1,51 persen.

Dilansir dari Bloomberg, Federal Reserve Bank of New York mengatakan akan menyusutkan operasi repo-agreement lebih dari yang diperkirakan analis.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan lonjakan diagnosa coronavirus tidak selalu mengindikasikan adanya lonjakan infeksi. Pernyataan ini meningkatkan sentimen risk-on di antara para investor.

Investor menilai langkah Fed untuk menurunkan operasi repo mengingat dukungan bank sentral telah membantu menenangkan pasar sejak lonjakan volatilitas sejak September tahun lalu.

Sementara itu, perusahaan terus merevisi estimasi laba di tengah kekhawatiran penyebaran virus akan merusak pertumbuhan. Alibaba Group Holding Ltd. merevisi proyeksi pertumbuhan 2020 di tengah kekhawatiran bahwa konsumen menurunkan pengeluaran.

“Kami mungkin akan melihat bank-bank sentral terus melangkah untuk mendukung ekonomi dan itu adalah bagian dari apa yang para investor cari untuk memberi mereka kepercayaan diri bahwa ini adalah situasi yang dapat mereka lalui,” ungkap John Porter, seorang fund manager di Mellon Investments Corp, seperti dikutip Bloomberg.

Kasus Virus Covid-19 Bertambah Dorong Kenaikan Emas

Emas menguat pada Kamis (13/02) pagi di tengah tanda-tanda aksi penghindaran risiko di pasar ekuitas. Tetapi tren positif pasar komoditas ini semakin ditantang oleh kurangnya faktor aksi pembelian besar.

Emas berjangka COMEX untuk penyerahan April di New York ditutup naik $1,50, atau sebesar 0,1%, di $1,571.60 per ons.

Emas spot, yang mencerminkan perdagangan langsung fisik emas, turun $1,30, atau sebesar 0,1%, di $1,566.12 pada pukul 2:38 PM ET (19:48 GMT).

S&P 500 berjangka saat ini turun 0,30% di 3,370.62. Indeks Nikkei Jepang juga melemah sebesar 0,10% di 23,854.50 menurut laporan yang dilansir FXStreet Kamis (13/02) pagi.

Sentimen aksi jual ini dapat dikaitkan dengan ketakutan terbaru virus covid-19 yang dipicu kenaikan kasus virus ini dalam jumlah besar di Cina.

Pemerintah Provinsi Hubei melaporkan 14.840 kasus baru sebelumnya hari ini – naik signifikan dari angka hari Rabu 1.638. Namun, peringatan kondisinya adalah bahwa jumlah sekarang itu termasuk pasien yang didiagnosis secara klinis – pasien yang memiliki gejala, tetapi belum diuji positif.

“Di antara semua insiden signifikan mulai dari potensi perang dengan Irak dan rapat dengar pendapat pemakzulan presiden AS, hingga pecahnya virus covid-19, pasar ini telah naik dan turun oleh tajuk berita utama dan masih belum berhasil menentukan arah yang jelas untuk jangka pendek hingga jangka menengah,” urai Eric Scoles, ahli strategi komoditas RJO Futures di Chicago.

“Ada posisi beli bersih yang besar dari trader emas yang telah membatasi reaksi kenaikan harga dan menciptakan risiko pembersihan posisi beli untuk waktu yang lama, tetapi ada juga banyak katalis potensial bagi banyak trader yang bersedia mengambil risiko posisi jual pada emas.”

Ketakutan terhadap virus korona, yang sekarang dikenal sebagai Covid-19, pada awalnya mendorong emas mendekati tingkat tertinggi tujuh tahun di Januari di atas $1.600 per ons. Tetapi dalam beberapa minggu terakhir, status logam kuning sebagai lindung nilai yang lebih disukai terhadap virus telah sedikit berkurang.

Cina mengatakan Rabu bahwa jumlah kasus baru virus covid-19 yang dikonfirmasi di dalam negeri telah menurun selama dua hari berturut-turut. Pada hari Rabu, Cina mencatatkan 1.114 kematian akibat penyakit ini. Satu-satunya kematian lainnya adalah di Filipina.

Tatkala penurunan tingkat infeksi di Cina ini dapat menunjukkan bahwa tindakan pengendalian tegas yang dilaksanakan oleh negara itu membantu, kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa masih mungkin bahwa banyak kasus yang bersembunyi tidak terdeteksi di seluruh dunia, sehingga wabah yang lebih lokal dapat muncul. Jika itu terjadi, apa yang masih dianggap sebagai epidemi Cina dapat tumbuh menjadi pandemi global.

“Investor mungkin akan melakukan bargain hunter (berburu di harga murah, red) pada emas segera jika kita melihat harga melemah,” ungkap George Gero, analis logam mulia RBC Wealth Management di New York.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu