Kalender Ekonomi – 5 Hal Wajib Dipantau Pekan Ini

Kalender Ekonomi – 5 Hal Wajib Dipantau Pekan Ini

Hot News Market Hari Ini

( Senin, 19 Agustus  2019 )

Kalender Ekonomi – 5 Hal Wajib Dipantau Pekan Ini

Pekan ini investor akan memantau bagaimana Federal Reserve memberikan tanggapan atas meluasnya kekhawatiran resesi yang ditandai kondisi investasi jangka pendek obligasi pemerintah AS membayar bunga lebih besar dibanding jangka panjang..

The Fed akan melaksanakan pertemuan tahunannya di Jackson Hole pada pekan ini, dengan Ketua Fed Jerome Powell akan berpidato di forum hari Jumat. Pada hari Rabu, The Fed akan menerbitkan risalah pertemuan bulan Juli, ketika itu menetapkan kebijakan pemangkasan suku bunga untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan tahun 2008.

Risalah bulan Juli, bersama dengan risalah Bank Sentral Eropa, data ekonomi dan pendapatan akan memberikan informasi bagi para investor untuk dipertimbangkan.

Inilah sejumlah event yang perlu Anda ketahui untuk memulai pekan ini.

Jackson Hole

Pada hari Kamis, para pejabat Fed akan berkumpul di Jackson Hole, Wyoming, untuk pertemuan puncak tahunan yang akan dipantau para investor agar bisa mendapatkan indikasi mengenai masa depan kebijakan moneter. Topik yang bakal menjadi sorotan dalam forum itu ialah pidato oleh Ketua Fed Jerome Powell pada hari Jumat.

Pasar telah memprediksikan penurunan suku bunga 25 basis poin pada bulan September, sementara inversi kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka waktu 2-tahun/10-tahun yang telah lama ditunggu-tunggu telah benar-benar terjadi. Namun masih belum jelas apakah Fed masih bisa tergoda untuk bergerak lebih agresif menangkal potensi penurunan ekonomi seiring dengan meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan Cina.

Risalah Pertemuan The Fed

Bank Sentral AS (The Fed) akan menerbitkan risalah pertemuan bulan Juli pada hari Rabu, yang akan mengungkapkan seberapa besar dukungan untuk penurunan suku bunga pertamanya dalam lebih dari satu dekade. Powell menggambarkannya sebagai “penyesuaian pertengahan siklus,” daripada menilainya sebagai awal siklus pelonggaran.

Keputusan itu tidak bulat, karena dua anggota FOMC menentang penurunan suku bunga dengan alasan perekonomian masih menunjukan tanda-tanda penguatan, tetapi mengingat kondisi pasar obligasi dan pasar saham sejak pertemuan para pembuat kebijakan sekarang mungkin mempertimbangkan penurunan suku bunga ‘jaminan’ dapat menjadi siklus pelonggaran penuh.

Risalah Rapat ECB

ECB akan merilis risalah pertemuan Juli pada hari Kamis. Dalam pertemuan itu tidak ada dirilis kebijakan baru, tetapi ECB menyesuaikan pedoman kedepan yang mengisyaratkan kemungkinan pemangkasan suku bunga dan meletakkan dasar untuk kebijakan bulan September. ECB juga mengindikasikan bakal menghidupkan kembali program pelonggaran kuantitatif dalam beberapa bulan mendatang.

Menjelang dirilisnya risalah, para investor akan mendapatkan pembaruan tentang kondisi sektor manufaktur dan layanan di zona euro. Data PMI dari Jerman akan dipantau ketat setelah ekonomi terbesar di kawasan euro itu mengalami kontraksi pada kuartal kedua, memicu kekhawatiran kemungkinan dimulainya resesi.

Data Ekonomi

Kalender data ekonomi AS tidak terlalu banyak agenda minggu ini, rilis yang wajib diperhatikan yakni laporan penjualan rumah yang ada dan penjualan rumah baru (keduanya didukung kepercayaan konsumen yang kuat, kenaikan upah dan penurunan tingkat hipotek).

Kanada akan merilis laporan inflasi, penjualan ritel dan manufaktur minggu ini menjelang perkiraan revisi PDB kuartal kedua yang akan dirilis minggu depan.

Laporan Laba Ritel

Pengumuman laporan laba perusahaan ritel akan berlanjut minggu ini, diantaranya Target (NYSE: TGT) dan Home Depot (NYSE: HD) yang akan melaporkan hasil kuartalan. Lowe (NYSE: LOW), Kohls (NYSE: KSS) dan TJX (NYSE: TJX) juga akan merilis laporan laba yang akan memberikan wawasan bagi para investor mengenai tren pengeluaran konsumen.

Raksasa industri ritel, Walmart (NYSE: WMT), Kamis pekan lalu meningkatkan perkiraan labanya untuk sisa tahun ini dan melaporkan lonjakan yang melampaui prediksi penjualan di kuartal kedua.

Laporan laba Walmart dan laporan penjualan ritel AS yang menunjukan kinerja positif membantu meredakan kekhawatiran ekonomi sedang menuju resesi ditengah ketegangan perdagangan dan melambatnya pertumbuhan di luar negeri. (AR)

 

 

 

 

 

Jerome Powell akan Berpidato di Forum Ekonomi 23 Agustus

Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell akan menyampaikan pidato minggu depan dalam forum tahunan Bank Sentral di Jackson Hole, Wyoming, ungkap pernyataan The Fed yang dirilis Kamis waktu setempat.

Menurut berita yang dilansir Reuters, Komentar Powell mengenai “Tantangan Kebijakan Moneter” dalam forum kebijakan ekonomi utama dijadwalkan pada 23 Agustus, sangat ditunggu banyak pihak di tengah kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya resesi yang kian meningkat akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina yang sedang berlangsung serta isyarat pelemahan ekonomi pada sejumlah negara.

 

 

Teroris Serang Minyak Asy-Syaibah Arab Saudi

Ketua Dewan Pimpinan Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Syaikh Dr. Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais mengecam serangan teroris terhadap laboratorium gas di ladang asy-Syaibah. Dirinya mengatakan bahwa aksi teror dan perbuatan terkutuk ini menguatkan adanya niat terpendam dari kelompok teroris ini untuk menjalankan serangkaian manuver terhadap negeri yang berkah ini dan negeri para kaum muslimin lainnya.

As-Sudais tak peduli dengan batasan Allah dan maslahat Islam dan kaum muslimin. Tak hanya itu, mereka mengkhianati semua perjanjian dan kesepakatan internasional yang mengecam tindakan terkutuk ini.

Selain As-sudais,, Menteri Energi, Industri dan Sumber Daya Mineral, Ir. Khalid bin Abdul Aziz al-Falih, mengatakan bahwa salah satu unit laboratorium gas di ladang minyak asy-Syaibah menjadi sasaran serangan pesawat tanpa awak, (drone) yang diledakkan.

Aksi teror tersebut membuat kebakaran yang dapat diatasi, setelah menyisakan kerugian materi terbatas, tanpa ada korban jiwa. Beliau melanjutkan bahwa produksi dan ekspor minyak Kerajaan tidak terpengaruhi oleh serangan teror ini.

Al-Falih menegaskan bahwa KSA mengecam dengan keras serangan pengecut ini, seraya mengatakan bahwa tindakan teror dan penghancuran ini hanyalah perpanjangan dari serangkaian aksi serangan yang mentarget jalur suplai minyak dunia, termasuk pipa minyak KSA, transportasi minyak di Teluk dan lainnya.

Sesungguhnya serangan terhadap fasilitas publik ini, tidak hanya mentarget KSA saja, namun demikian mentarget keamanan suplay energi dunia. Artinya, ini menjadi ancaman bagi perekonomian dunia.

 

Donald Trump Suka Labil, Harga Emas Masih Berpeluang Melesat

Harga emas dunia pada penutupan perdagangan pekan lalu sempat stagnan. Tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China menahan reli emas, setelah sebelumnya pelaku pasar dikejutkan dengan ancaman resesi di Negeri Paman Sam tersebut.
Hingga akhir pekan lalu emas diperdagangkan di kisaran US$ 1.519.64/troy ons, berdasarkan data investing.com.

Melihat grafik harian tampak harga emas masih bergerak di atas rerata pergerakan (Moving Average/MA) MA 8 hari (garis biru), dan MA 21 hari (garis merah), dan atas MA 125 hari (garis hijau).
Indikator rerata pergerakan konvergen divergen (MACD) di wilayah positif dan bergerak naik, histogram juga di area positif namun bergerak menurun. Indikator ini masih memberikan gambaran peluang penguatan emas dalam jangka menengah.

Pada time frame 1 jam, emas bergerak di kisaran MA 8 dan MA 21, tetapi masih di atas MA 125. Indikator stochastic bergerak turun dan mendekati wilayah jenuh jual (oversold).
Support terdekat di kisaran US$ 1.515, selama tidak menembus ke bawah level tersebut emas berpeluang kembali menguat menguji kembali resisten (tahanan atas) US$ 1.526.
Penembusan di atas resisten tersebut akan membuka peluang ke area US$ 1.530. Resisten selanjutnya berada di level US$ 1.536.
Sementara jika support ditembus, harga emas berpeluang turun ke US$ 1.508. Outlook emas dalam jangka pendek masih menguat selama tidak menembus US$ 1.508.
Namun mengingat harga emas masih “galau”, jika level US$ 1.508 ditembus secara konsisten, emas berpotensi turun menguji level psikologis US$ 1.500.
Isu perang dagang yang saat ini mereda begitu juga dengan resesi membuat harga emas belum mampu melanjutkan kenaikan lagi. Dua isu ini masih akan mempengaruhi pergerakan harga emas ke depannya.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memberikan sinyal positif terkait negosiasi dagang dengan China.
“Sepengetahuan saya, pertemuan pada September masih terjadwal. Namun yang lebih penting dari pertemuan itu, kami (AS dan China) terus berkomunikasi melalui telepon. Pembicaraan kami sangat produktif,” begitu ucapan Trump yang membuat pasar sedikit tenang, dikutip dari Reuters.
Asa damai dagang kembali menyeruak. Ada harapan perundingan dagang AS dan China di Washington pada awal September menuai hasil positif.

Namun, apa yang diutarakan oleh Trump tidak bisa dijadikan sentimen untuk jangka panjang. Sejarah menunjukkan apa yang dikatakan oleh Presiden AS ke-45 ini kerap berubah-ubah, sekarang memberikan asa damai dagang, besok bisa memberikan kecemasan eskalasi perang dagang.  Kemudian isu resesi mulai mereda setelah yield obligasi (Treasury) AS tenor 2 tahun dengan tenor 10 tahun sudah tidak lagi mengalami inversi.

Inversi merupakan keadaan di mana yield atau imbal hasil obligasi tenor pendek lebih tinggi daripada tenor panjang. Dalam situasi normal, yield obligasi tenor pendek seharusnya lebih rendah. Inversi menunjukkan bahwa risiko dalam jangka pendek lebih tinggi ketimbang jangka panjang. Oleh karena itu, inversi kerap dikaitkan dengan pertanda resesi.

Namun, pergerakan yield Treasury itu dinamis, dan sewaktu-waktu bisa saja mengalami inversi lagi. Isu perang dagang dan resesi yang mereda membuat harga emas rentan terkoreksi pada hari ini, tetapi tidak menutup kemungkinan kembali menguat mengingat kedua isu tersebut bisa berubah setiap saat.
Meski dalam jangka pendek harga emas terlihat “galau”, tetapi untuk jangka panjang peluang berlanjutnya penguatan harga emas masih cukup besar melihat outlook pelonggaran moneter bank sentral global.

Kilau Emas Masih Mungkin Bersinar

Bank sentral melonggarkan kebijakan moneter guna menambah likuiditas di pasar. Harapannya saat likuiditas bertambah, roda perekonomian bergerak lebih kencang, rata-rata upah meningkat, belanja konsumen naik, dan pada akhirnya inflasi terkerek naik.

Nah, ketika ada ekspektasi percepatan laju inflasi, emas akan kembali diuntungkan akibat atribut yang dimiliki sebagai aset lindung nilai terhadap kenaikan harga-harga. Jumlahnya yang terbatas membuat emas menjadi instrumen lindung inflasi yang sempurna.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu