Investor Khawatir Ancaman Isu Perdagangan, Harga Minyak Turun Lagi

Investor Khawatir Ancaman Isu Perdagangan, Harga Minyak Turun Lagi

Hot News Market Hari Ini

( Rabu, 13  November 2019 )

Investor Khawatir Ancaman Isu Perdagangan, Harga Minyak Turun Lagi

Harga minyak mentah tergelincir dan berakhir melemah pada perdagangan Selasa (12/11/2019), di tengah kekhawatiran pasar atas ancaman isu perdagangan terhadap permintaan energi global.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Desember 2019 ditutup turun tipis 6 sen di level US$56,80 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun harga minyak Brent untuk kontrak Januari 2020 berakhir melemah 12 sen di level US$62,06 per barel di ICE Futures Europe Exchange. Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium sebesar US$5,21 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Sebelum tergelincir turun, minyak WTI sempat naik tajam 1,2 persen didorong harapan pasar bahwa Presiden Donald Trump akan menyampaikan hal positif mengenai pembicaraan dagang AS dengan China dalam pidatonya di acara New York Economic Club.

“Pasar minyak begitu optimistis pada awal perdagangan bahwa Trump akan mengatakan sesuatu tentang negosiasi perdagangan,” tutur Bob Yawger, direktur divisi berjangka di Mizuho Securities, New York.

“Tapi dalam hal ini dia tidak mengatakan apakah sesuatu yang buruk atau baik akan terjadi sehingga pasar kecewa,” jelasnya.

Trump mengatakan tim perunding AS dan China hampir mencapai kesepakatan perdagangan “fase satu”. Namun pada saat yang sama Trump juga menegaskan retorika tentang “kecurangan” China mengenai perdagangan, seperti dilansir Reuters.

Selain itu, Presiden ke-45 AS tersebut menyatakan bahwa pemerintah akan menaikkan tarif terhadap China secara substansial jika kesepakatan dagang tidak tercapai.

“Jika kami tidak membuat kesepakatan, kami akan secara substansial menaikkan tarif. Tarif itu akan dinaikkan dengan sangat substansial. Dan ini akan berlaku untuk negara-negara lain yang juga memperlakukan kami dengan tidak adil,” tegas Trump, seperti dikutip dari Bloomberg.

Perang perdagangan AS-China selama ini telah menggoyang pertumbuhan global yang menopang permintaan energi. Morgan Stanley dan PVM Oil Associates Ltd. memperingatkan bahwa harga minyak mentah akan merosot tahun depan kecuali OPEC dan aliansinya memperdalam upaya penurunan produksi.

Menurut Morgan Stanley, harga acuan minyak mentah internasional dapat jatuh hampir 30 persen menjadi US$45 per barel jika aliansi OPEC+ tidak membuat pengurangan pasokan lebih curam.

Kartel produsen minyak mentah tersebut dijadwalkan akan bertemu di Wina pada 5 dan 6 Desember mendatang di tengah pertanyaan tentang apakah negara-negara penghasil minyak terbesar akan mendorong lebih banyak pengurangan produksi.

Arab Saudi tampaknya tidak berminat untuk berkorban lebih lanjut, sementara negara lain dalam aliansi – terutama Irak dan Nigeria – belum memenuhi komitmen mereka saat ini. Rusia juga mengisyaratkan tidak tertarik pada pemotongan tambahan.

“Pasar minyak berada dalam pola bertahan, tidak bisa memutuskan jalan mana yang harus diambil di masa depan. Yang bisa OPEC lakukan adalah mengurangi produksi mereka tahun depan jika mereka serius tentang mengurangi stok,” ucap Tamas Varga, analis PVM di London.

Trump Komentari Kesepakatan Dagang AS-China, Wall Street Naik Tipis

Sejumlah indeks saham di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) mampu naik ke posisi lebih tinggi pada akhir perdagangan Selasa (12/11/2019), setelah Presiden Donald Trump menyampaikan pernyataan soal kesepakatan dagang AS dengan China dalam pidatonya.

Berdasarkan data Reuters, indeks S&P 500 ditutup naik 0,16 persen di level 3.091,84 dan indeks Nasdaq Composite menanjak 0,26 persen ke level 8.486,09. Adapun indeks Dow Jones Industrial Average hanya mampu stagnan di posisi 27.691,49.

Indeks S&P 500 dan Nasdaq sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa dalam sesi perdagangan Selasa, tetapi keduanya mengakhiri pergerakan di bawah level tersebut karena kekhawatiran investor.

Investor mengkhawatirkan komentar Trump dapat memperburuk perang tarif AS dan China yang telah membebani pasar selama lebih dari satu tahun terakhir.

Dalam pidatonya di acara The Economic Club of New York pada Selasa (12/11) waktu setempat, Trump mengatakan tim perunding AS dan China hampir mencapai kesepakatan perdagangan “fase satu”.

Namun pada saat yang sama Trump juga menegaskan retorika tentang “kecurangan” China mengenai perdagangan.

“Pelaku pasar berharap untuk mendapat lebih banyak kejelasan di bidang perdagangan dan sepertinya ini tidak terjadi,” ujar Chuck Carlson, chief executive officer di Horizon Investment Services di Hammond, Indiana.

Ketegangan perdagangan AS-China dipandang sebagai ketidakpastian utama pasar selama ini. Harapan kesepakatan perdagangan “fase satu” antara dua negara berekonomi terkuat di dunia itu telah menjadi faktor utama yang mendukung penguatan saham.

Faktor penguat lain adalah penurunan suku bunga oleh Federal Reserve, rilsi laporan laba korporasi untuk kuartal ketiga yang lebih baik daripada ekspektasi, dan tanda-tanda bahwa ekonomi mungkin telah mencapai titik terbawahnya.

“Namun, pasar sampai taraf tertentu mulai mencoba untuk tidak terlalu reaktif dengan cara apa pun yang dikatakan presiden tentang perdagangan,” tambah Carlson.

 

 

5 Hal yang Wajib Diketahui di Pasar Global

  1. Trump Berpidato di Economic Club of New York

Presiden Donald Trump akan berbicara pada pukul 12 siang ET (24.00 WIB) di Economic Club of New York, dan banyak yang berharap untuk gencatan senjata perdagangan dengan Cina yang telah meningkat secara substansial dalam beberapa pekan terakhir, meskipun ada upaya pada hari Jumat dan Sabtu untuk menurunkan eskalasi. Laporan-laporan pekan lalu menunjukkan bahwa kesepakatan dagang ‘fase-1’ yang diperdebatkan dengan Cina mungkin tidak akan diselesaikan sampai Desember.

Trump diharapkan banyak orang memberikan komentar tidak hanya mengenai kesepakatan dengan Cina tetapi juga terkait tarif impor untuk barang-barang Eropa, terutama impor mobil. Presiden Komisi Uni Eropa Jean-Claude Juncker mengatakan minggu lalu dia tidak mengharapkan Trump menindaklanjuti ancaman itu.

2 Tanda kehidupan di Jerman?

Survei kepercayaan konsumen bulan ini di Eropa menunjukkan peningkatan yang lebih besar dari perkiraan ekspektasi untuk ekonomi Jerman, memperkuat harapan bahwa ekonomi terbesar di kawasan itu bisa keluar dari posisi terbawah.

Indeks sentimen ekonomi ZEW meningkat ke -2.1, level tertinggi dalam enam bulan dan jauh di depan uptick ke -13.2 dari -22.8 di Oktober. Peningkatan ini semakin mencolok karena fakta bahwa ZEW memiliki reputasi sebagai indikator titik balik yang lebih akurat daripada tingkat aktivitas absolut.

Berita itu muncul setelah dewan penasihat ekonomi pemerintah Jerman merevisi perkiraan pertumbuhan tahun ini dan tahun depan. Prospek yang lebih positif juga terlihat dalam beberapa laporan pendapatan perusahaan, terutama dari pembuat chip Geman, Infineon dan Dialog.

  1. Rilis Pendapatan Tyson & Rockwell

Pasar saham AS akan dibuka lebih tinggi secara fraksional, meskipun perdagangan kemungkinan akan datar sampai pidato Trump di kemudian hari.

Pada 06:25 ET, Dow futures naik 17 poin, kurang dari 0,1%, sementara S&P futures naik 0,1% dan Nasdaq 100 futures naik.

Rilis pendapatan hari ini dipimpin Tyson Foods (NYSE: TSN), yang diharapkan melaporkan laba bersih per-saham $ 1,29 per kuartal dan $ 5,52 untuk setahun penuh, turun 14% dari tahun lalu. Yang juga menarik adalah prospek harga daging babi yang naik akibat epidemi dan memaksa dilakukannya pemusnahan hampir 200 juta babi di Cina, lebih dari 40% dari kawanan negara itu.

Laporan pendapatan lain yang dijadwalkan Selasa termasuk Rockwell Automation (NYSE: ROK), DR Horton (NYSE: DHI), CBS yang baru-baru ini terdaftar sebagai Datadog dan Advance Auto Parts. Raksasa mobil Jepang, Nissan, sebelumnya memangkas proyeksi penjualan dan laba setahun penuh setelah penurunan laba 70% selama tiga bulan hingga September.

  1. Hong Kong rawan lagi

Distrik keuangan Hong Kong lumpuh di hari kedua karena protes yang juga menutup banyak sekolah dan toko-toko.

South China Morning Post melaporkan polisi menembakkan gas air mata di setidaknya 12 lokasi berbeda, hanya beberapa jam setelah kepala legislatif Carrie Lam bersumpah bahwa kekerasan yang meningkat tidak akan menyebabkan pemerintahannya mundur. Lam juga menyebut para pengunjuk rasa sebagai “musuh rakyat”.

Peningkatan ini telah menyebabkan para senator AS memperbarui permintaan untuk pemungutan suara atas Undang-Undang Hak Asasi Manusia dan Demokrasi Hong Kong, yang akan mempercepat sanksi AS terhadap mereka yang dianggap bertanggung jawab atas pelanggaran hak-hak yang diabadikan dalam deklarasi Cina-Inggris 20 tahun lalu.

  1. Disney (NYSE:DIS) akan meluncurkan layanan streaming

Walt Disney (NYSE: DIS) akan meluncurkan layanan streaming Disney + nanti, dengan harga yang bersaing dengan Netflix (NASDAQ: NFLX) dan Amazon Prime sebesar $ 6,99 per bulan.

Disney (NYSE:DIS) memasuki persaingan yang semakin ketat, dengan Apple (NASDAQ: AAPL), AT&T (NYSE: T) dan Comcast (NASDAQ: CMCSA).

Jajak pendapat Harris untuk Wall Street Journal menemukan bahwa orang Amerika bersedia membayar $ 44 sebulan untuk layanan streaming, menunjukkan bahwa ada banyak ruang untuk semua provider di atas untuk tumbuh dalam waktu dekat, mengingat pengeluaran rata-rata saat ini $ 14 per bulan. Namun, dalam jangka menengah, persaingan cenderung menjadi jauh lebih kuat, kata para analis.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu