Harga Minyak Menguat Dipicu Insiden di Saudi

Harga Minyak Menguat Dipicu Insiden di Saudi

Hot News Market Hari Ini

( Selasa, 20 Agustus  2019 )

Harga Minyak Menguat Dipicu Insiden di Saudi

Harga minyak mentah berjangka masih menguat pada Senin (19/8/2019), menyusul serangan fasilitas minyak di Arab Saudi oleh separatis Yaman pada akhir pekan lalu.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 17:50 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman September 2019 menguat 0,75 persen atau 0,41 poin ke posisi US$55,26 per barel. Adapun harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober menguat 0,73 persen atau 0,43 poin ke posisi US$59,07 per barel.

Serangan pesawat tak berawak oleh kelompok Houthi Yaman di ladang minyak di Arab Saudi timur pada Sabtu (17/8/2019) menyebabkan kebakaran di sebuah pabrik gas, menambah ketegangan di Timur Tengah. Akan tetapi Saudi Aramco yang dikelola pemerintah mengatakan produksi minyak tidak terpengaruh.

Giovanni Staunovo, analis minyak untuk UBS mengatakan, penguatan harga minyak terjadi karena pasar melihat risiko geopolitik di Arab Saudi terkait serangan pesawat tak berawak tersebut. “Namun kenaikan kemungkinan tak bertahan lama jika tak menyebabkan gangguan pasokan,” katanya dikutip dari Reuters, Senin (19/8/2019).

Ketegangan di sekitar Iran sepertinya mereda setelah Gibraltar merilis sebuah kapal tanker Iran yang direbutnya pada Juli, meskipun Teheran memperingatkan Amerika Serikat terhadap setiap upaya baru untuk menangkap kapal tanker itu di laut lepas.

Sementara itu, kekhawatiran tentang resesi  telah membatasi kenaikan harga minyak mentah, karena para trader mencari tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan perdagangan AS-China.

Kabar lainnya, pengumuman China tentang reformasi suku bunga utama selama akhir pekan telah memicu ekspektasi pengurangan segera dalam biaya pinjaman perusahaan, di tengah ekonomi yang sedang kesulitan, mendorong harga saham pada Senin (19/8/2019).

Di tempat lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global pada 2019 sebesar 40.000 barel per hari (bpd) menjadi 1,10 juta barel per hari, mengindikasikan pasar akan sedikit surplus pada 2020.

 

 

 

 

Upaya Stimulus Global Redakan Kekhawatiran Resesi,

 Wall Street Reli

Kabar upaya stimulus di China dan Jerman meredakan kekhawatiran kemerosotan ekonomi global yang dipicu penurunan imbal hasil obligasi pekan lalu. Tiga indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS), pun ditutup menguat pada perdagangan Senin (19/8/2019).

Berdasarkan data Reuters, indeks S&P 500 ditutup menanjak 1,21 persen atau 34,97 poin di level 2.923,65, indeks Nasdaq Composite naik tajam 1,35 persen atau 106,82 poin di level 8.002,81 dan indeks Dow Jones Industrial Average berakhir menguat 0,96 persen atau 106,82 poin di posisi 26.135,79.

Indeks S&P 500 memulihkan sebagian besar pelemahannya setelah sempat terpukul inversi kurva imbal hasil obligasi Treasury 2 tahun dan 10 tahun pekan lalu, yang biasanya dipandang sebagai indikator resesi dalam dua tahun ke depan.

Setelah jatuh hampir 3 persen pada perdagangan Rabu (14/8/2019), S&P 500 mampu menguat selama tiga sesi terakhir.

Bank sentral China meluncurkan reformasi suku bunga pada Sabtu (17/8) untuk membantu mengarahkan biaya pinjaman lebih rendah bagi perusahaan-perusahaan.

Kemudian pada Minggu (18/8), Menteri Keuangan Jerman Olaf Scholz mengindikasikan bahwa Berlin dapat menyediakan pengeluaran tambahan sebesar hingga 50 miliar euro (US$55 miliar).

“Ini adalah kabar positif dan memupuk lingkungan untuk aset berisiko yang telah bertahan sepanjang hari. Investor senang melihat bahwa negara-negara mengakui risiko di luar sana,” ujar Michael O’Rourke, kepala strategi pasar di JonesTrading di Greenwich, Connecticut

Setelah sesi perdagangan Senin ditutup, Washington Post melaporkan bahwa para pejabat Gedung Putih telah membahas kemungkinan pemotongan pajak upah sementara guna memacu ekonomi AS.

Wall Street juga memperoleh dorongan setelah pemerintah AS memperpanjang 90 hari periode dimana Huawei Technologies China, yang masuk dalam daftar hitam pemerintah AS pada Mei, dapat membeli komponen dari perusahaan-perusahaan AS.

Saham Apple Inc naik tajam 1,9 persen sekaligus memberikan dorongan terbesar bagi Nasdaq dan dorongan terbesar kedua untuk S&P 500 dan Dow Jones.

Pada Minggu (18/8), Presiden Donald Trump mengatakan telah berbicara dengan CEO Apple Tim Cook, yang memberikan pendapatnya bahwa pemberlakuan tarif dapat merugikan Apple. Indeks teknologi S&P 500 pun naik 1,6 persen, sedangkan indeks semikonduktor Philadelphia naik 1,9 persen.

“Anda benar-benar melihat beberapa nama yang sensitif terhadap perdagangan berkinerja lebih baik. Ini meningkatkan aset berisiko hari ini,” ujar Chris Zaccarelli, chief investment officer dari Independent Advisor Alliance di Charlotte, North Carolina.

Mengingat kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi, investor telah mencari petunjuk dari Federal Reserve tentang kebijakan moneter. Pada Juli, bank sentral AS tersebut memangkas suku bunga untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade.

Rilis risalah rapat The Fed pada Juli yang akan dirilis Rabu (21/8/2019) berikut pidato Gubernur The Fed Jerome Powell di simposium Jackson Hole pada Jumat (23/8/2019), mungkin akan memberikan indikasi apakah bank sentral ini akan menurunkan suku bunga lebih lanjut.

 

 

AS Perpanjang Izin Huawei, Harga Minyak Naik Tajam

Harga minyak mentah naik tajam pada akhir perdagangan Senin (19/8/2019), didorong tanda-tanda progres hubungan perdagangan Amerika Serikat-China dan eskalasi ketegangan di Timur Tengah.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak September 2019 ditutup melonjak US$1,34 atau 2,4 persen di level US$56,21 per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak WTI untuk kontrak teraktif Oktober pun melonjak US$1,33 ke level US$56,14 per barel.

Adapun minyak Brent kontrak Oktober 2019 menanjak US$1,10 dan berakhir di level US$59,74 per barel di ICE Futures Europe Exchange. Minyak acuan global ini diperdagangkan premium sebesar US$3,60 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Menurut Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross, pemerintah AS akan memperpanjang 90 hari periode dimana Huawei Technologies China, yang masuk dalam daftar hitam pemerintah AS pada Mei, dapat membeli komponen dari perusahaan-perusahaan AS agar dapat memasok pelanggan-pelanggannya.

Langkah ini dilakukan sepekan setelah Presiden AS Donald Trump menunda tarif baru pada sejumlah barang impor asal China hingga pertengahan Desember.

Sementara itu, serangan pesawat drone oleh pemberontak Yaman di ladang Shaybah di Arab Saudi, sumber sekitar 1 juta barel minyak per hari, menjadi pengingat akan ancaman yang terus berlanjut di jantung produksi minyak mentah global tersebut.

Dalam pernyataannya, Saudi Arabian Oil Co. menyatakan serangan itu hanya memicu kebakaran kecil dan tidak menimbulkan gangguan pada produksi.

Harga minyak mentah telah jatuh sekitar 15 persen dari puncaknya pada akhir April akibat eskalasi pertikaian perdagangan AS dan China memunculkan gambaran buruk terhadap prospek pertumbuhan global yang sudah lemah.

Meski serangkaian serangan terhadap tanker dan fasilitas energi di Timur Tengah telah memberikan dukungan sementara untuk harga, kelebihan pasokan tetap menjadi perhatian utama.

“Keputusan soal Huawei menyiratkan bahwa Trump sekarang menyadari bahwa hal ini mampu menekan ekonomi global,” ujar Bob Yawger, direktur di Mizuho Securities USA, New York. “Spekulan masuk dan mendorong minyak bersama dengan setiap aset berisiko lainnya.”

Investor mendapat tanda-tanda bullish lebih lanjut dari laporan bahwa Jerman sedang mempersiapkan stimulus fiskal untuk mencegah kemungkinan resesi mendalam di ekonomi terbesar Eropa tersebut.

 

 

Dolar AS Sideways, Reformasi Suku Bunga China Jadi Sorotan

Indeks Dolar AS bergerak sideways di sekitar level 98.20-an pada awal sesi Eropa hari ini (19/Agustus). Greenback terpantau menguat tipis terhadap sejumlah mata uang safe haven, meskipun mata uang berisiko lain masih tertekan. USD/JPY naik sekitar 0.2 persen ke kisaran 106.57, sedangkan AUD/USD melemah 0.15 persen ke level 0.6768. Investor dan trader bersikap ekstra hati-hati menjelang peluncuran acuan suku bunga pinjaman baru oleh bank sentral China (PBoC) esok hari.

Pada akhir pekan, PBoC mengumumkan sebuah reformasi suku bunga yang diharapkan dapat menekan biaya pinjaman bagi korporasi, serta menopang pertumbuhan ekonomi yang dibebani oleh dampak perang dagang. Pembaruan Loan Prime Rate (LPR) yang akan efektif mulai hari Selasa ini berhubungan dengan suku bunga fasilitas pinjaman jangka menengah.

Menurut analis ANZ yang dikutip oleh Reuters, reformasi suku bunga China tersebut setara dengan pemangkasan suku bunga pinjaman hingga 45 basis poin. Sejumlah pelaku pasar lain mengekspektasikan LPR baru untuk terpangkas setara hingga 10-15 basis poin saja dibandingkan suku bunga lama. Menurut salah satu trader di Shanghai, reformasi suku bunga diharapkan melonggarkan beban pinjaman bagi UKM hingga 1 persen, tetapi pelonggaran semestinya juga akan mencakup pemangkasan pajak.

Dampak reformasi suku bunga PBoC terhadap nilai tukar di pasar forex tak dapat diprediksi semudah pemangkasan suku bunga bank sentral terkemuka seperti Fed atau ECB. Masalahnya, nilai tukar Renminbi dikendalikan oleh PBoC dan tidak sepenuhnya mengambang.

Sementara itu, pelaku pasar masih bergumul dengan ketidakpastian negosiasi dagang AS-China. Penasehat Gedung Putih, Larry Kudlow, mengungkapkan pada akhir pekan bahwa delegasi kedua negara akan berjumpa kembali dalam 10 hari ke depan. Akan tetapi, Presiden AS Donald Trump lagi-lagi mengatakan bahwa ia “belum siap” untuk membuat kesepakatan dengan Beijing dan mengutarakan keinginannya agar China meredam gejolak sipil Hong Kong terlebih dahulu. Sikap Trump tersebut mengisyaratkan tetap tingginya peluang China melancarkan tindakan balasan terhadap kenaikan tarif impor terbaru AS

 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu