Gawat, Ekonomi Australia Terus Memburuk

Gawat, Ekonomi Australia Terus Memburuk

Hot News Market Hari Ini

( Selasa, 02 Juli  2019 )

Utang AS Bisa Mencapai 144% dari PDB

Menurut laporan dari lembaga Congressional Budget Office (CBO), utang federal Amerika Serikat (AS) diproyeksikan pada 30 tahun ke depan akan mencapai 144% dari PDB pada 2049.

Sebagaimana dikutip dari laman rt.com, CBO memperkirakan utang federal meningkat dari proyeksi 78% terhadap PDB pada akhir 2019, menjadi 92% pada 2029 dan 144% pada 2049.

Menurut CBO, “Tingkat utang itu sejauh ini akan menjadi yang tertinggi dalam sejarah negara, dan itu akan terus meningkat lebih banyak lagi.”

Utang nasional AS telah naik di atas US$22 triliun. Diproyeksikan akan terus meningkat US$1 triliun setiap tahun selama dekade berikutnya dikarenakan biaya pensiun dan perawatan medis yang digunakan untuk kelompok baby boomers yang sudah memasuki masa pensiun.

Direktur CBO Phillip Swagel mengatakan, “Prospek defisit sebesar itu selama bertahun-tahun dan utang yang tinggi dan terus naik akan mengakibatkan risiko besar bagi negara dan memberikan para pembuat kebijakan tantangan yang signifikan.”

Untuk menempatkan angka dalam perspektif pada tahun sebelum krisis keuangan 2008, utang federal AS berada di 35% dari PDB, kurang dari setengah posisi sekarang.

CEO Peter G Peterson Foundation Michael Peterson mengatakan, “Ini cukup buruk untuk defisit tahunan kami mencapai US$1 triliun, tetapi proyeksi jangka panjang versi CBO akan terus tumbuh di masa depan, tanpa akhir yang dapat terlihat.

“Proyeksi yang jelas ini harus memotivasi anggota parlemen kami untuk mulai mengelola utang sesegera mungkin, dan membuat anggaran secara bertanggung jawab untuk membantu Amerika memenuhi tantangan yang paling mendesak,” lanjutnya.

Menyusul langkah-langkah stimulus oleh administrasi Trump, seperti pemotongan pajak US$1,5 triliun, defisit telah menjadi meningkat.

Proyeksi CBO didasarkan pada asumsi tertentu, termasuk bahwa tidak ada perubahan yang akan dibuat untuk undang-undang dan program yang ada seperti jaminan sosial akan dibayar penuh.

Badan tersebut memperingatkan bahwa peningkatan yang lebih besar pada utang nasional dimungkinkan meskipun proyeksi peningkatan utang dan defisit sebenarnya lebih rendah daripada proyeksi tahun lalu.

 

Gawat, Ekonomi Australia Terus Memburuk

Perjalanan ekonomi Australia yang selama ini kinclong, mulai menurun. Daya beli konsumen terus melemah. Padahal Australia sempat dijuluki “ekonomi Goldilocks” karena bisa menghindari jebakan krisis keuangan global.

Australia telah mengalami 27 tahun ekspansi tanpa gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara maju. Tetapi, prospeknya tampak semakin buram, dan pertumbuhan Australia yang goyah bisa menjadi peringatan untuk ekonomi dunia. Demikian dilaporkan laman Times of India.

Ekonomi Australia tumbuh hanya 0,4% dalam tiga bulan pertama tahun ini, setelah ekspansi mendekati nol pada paruh kedua 2018. Kalau menghapus keuntungan dari pertumbuhan populasi, maka negara ini secara teknis mengalami resesi.

Kepala ekonom National Australia Bank, Alan Oster mengatakan kepada AFP, “Masalah besarnya adalah konsumen.”

Seperti kebanyakan negara maju, tingkat pengangguran Australia tidak terlalu buruk, tetapi seperti di tempat lain, ada campuran masalah yang diakibatkan oleh utang pribadi yang tinggi dan upah yang stagnan.

Menanggapi hal tersebut, orang-orang Australia memilih untuk lebih berhemat. Mereka membelanjakan lebih sedikit untuk makan di luar, hanya memberikan sedikit perhatian pada program-program diskon, dan yang terpenting, lebih sedikit menghabiskan uang untuk sewa dan akomodasi.

Harga rumah di Sydney kini telah turun hampir 15% dari puncaknya dua tahun lalu. Penurunan ini telah mengekspos kelemahan Australia dalam hal ekonomi. Untungnya, China rajin membeli komoditas Australia, yang agak menolong situasi ini.

Ekonomi sekarang tidak seperti Goldilocks dan lebih seperti kaisar tanpa pakaian. “Itu adalah pelajaran besar bagi seluruh dunia karena hanya mengambil keuntungan sedikit setelah krisis keuangan,” ucap Gabriele Gratton dari Universitas New South Wales.

“Ekonomi Australia tidak cukup terdiversifikasi dan membuatnya ada pada situasi di mana rumah tangga Australia sangat banyak berutang,” kata Gratton kepada AFP.

Pertumbuhan China juga berkontribusi pada kenaikan tajam harga perumahan karena penduduk lokal dan asing masuk ke pasar, terutama di kota-kota besar seperti Sydney dan Melbourne. Tetapi ekonomi China telah kehilangan momentum dalam beberapa tahun terakhir, mengurangi permintaan akan komoditas dan properti.

“Jika harga tidak runtuh, maka tidak ada yang terjadi. Tetapi jika harga turun, itu akan menyebabkan jenis masalah yang kita lihat di Irlandia atau di Spanyol,” kata Gratton.

Bank Sentral, yang lebih mungkin untuk menaikkan suku bunga, telah berbalik arah dan memotong, dengan lebih banyak pemotongan lebih dari yang diharapkan pasar.

Dengan tingkat suku bunga yang sudah sangat rendah, pengeluaran stimulus bisa menjadi masalah. Padahal bank sentral maupun pemerintah memiliki ruang terbatas untuk bermanuver.

“Masalahnya adalah Anda tidak memiliki instrumen kebijakan yang dapat kita tarik sekarang,” ujar Oster.

Meskipun ada pesimisme, sebagian besar ekonom tidak percaya Australia akan masuk ke dalam resesi. Dolar Australia telah melemah, meningkatkan ekspor, pemerintah negara bagian dan federal telah memberikan layanan publik seperti perawatan kesehatan dan infrastruktur, juga membuat pertumbuhan penduduk tetap kuat.

Perdana Menteri Scott Morrison telah berjanji untuk memotong pajak dan birokrasi. Tetapi perkiraan selama tahun lalu telah berulang kali dinilai terlalu optimis.

Gubernur Bank Sentral, Philip Lowe telah mengambil langkah yang tidak biasa dengan meminta pemerintah membelanjakan lebih banyak.

Harga Emas Turun Pasca Gencatan Perang Dagang AS-China

Harga emas turun sebanyak 2 persen di sesi perdagangan Senin (01/Juli) malam ini gara-gara menguatnya Dolar AS, setelah gencatan perang dagang sementara AS dan China.

Para investor beralih membeli Dolar AS dan aset-aset risiko tinggi lainnya karena progres positif negosiasi dagang AS-China pasca KTT G20 di Osaka. Akibatnya, harga emas pun merosot.

Harga emas spot turun 1.1 persen ke $1,393.59 per ounce pada pukul 21:58 WIB, setelah sempat menyentuh level $1,381.51 yang merupakan terendah sejak Juni. Sementara itu, di Comex New York, harga emas futures untuk pengiriman Agustus jatuh 1.2 persen ke $1,396.60 per troy ounce.

Grafik XAU/USD berikut ini juga menunjukkan penurunan harga emas sebanyak 1.39 persen ke 1,389.54.

Gencatan Senjata AS-China Redupkan Safe Haven

Dari hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Jepang kemarin, AS dan China setuju untuk memulai kembali pembicaraan perdagangan. Trump mengatakan akan menunda penerapan kenaikan tarif impor baru China, serta menawarkan untuk mengendurkan restriksi yang diberlakukannya pada Huawei. Dengan syarat, China bersedia membeli lebih banyak produk pertanian AS.

Gencata senjata sementara tersebut berbuah reli pada saham-saham global dan melambungkan Indeks Dolar AS ke level tertinggi dua pekan. Sebaliknya, aset-aset safe haven termasuk emas, kehilangan banyak permintaan.

“Di bawah kondisi (geopolitik) yang positif, Dolar AS sedang reli menguat dan memberikan dampak yang negatif pada emas… Gambaran buruk di dalam grafik teknikal pun menyebabkan aksi beli tambahan (terhadap emas) hari ini,” kata Rob Lutts, Kepala Investasi di Cabot Wealth Management yang dikutip oleh Reuters. Lutts menambahkan bahwa break yang menembus ke bawah level $1,350, kemungkinan dapat membuat emas menjadi lebih bearish.

Sejak menembus level $1,400 di awal pekan lalu, harga emas sekarang sudah turun sekitar $50. Meski demikian, para analis tak terlalu khawatir harga emas akan jatuh lebih jauh lagi. Sebab, dalam jangka panjang, isu pelonggaran kebijakan moneter ECB dan The Fed akan mengambil alih katalis utama penggerak pasar.

 

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu