Ekspektasi Resolusi Perdagangan Berkurang, Wall Street Melemah

Ekspektasi Resolusi Perdagangan Berkurang, Wall Street Melemah

Hot News Market Hari Ini

( Rabu, 04 Desember 2019 )

Harga Minyak Mentah Menguat Jelang Pertemuan OPEC+

Harga minyak mentah menguat pada perdagangan Selasa (3/12/2019) karena investor fokus pada pertemuan OPEC+ mendatang yang dapat mengarah pada pengurangan pasokan yang lebih dalam oleh beberapa produsen minyak mentah terbesar dunia.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari naik 0,42 poin ke level US$ 56,36 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 16.40 waktu AS. Kontrak ditutup pada level US$56,10.

Minyak Brent untuk kontrak Februari menguat 0,14 poin ke level US$61,06 di ICE Futures Europe Exchange yang berbasis di London, setelah sempat melemah ke level US$60,82.

Anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengirim sinyal yang saling bertentangan mengenai pembatasan output menjelang pertemuan-pertemuan penting akhir pekan ini. Menteri Perminyakan Irak menegaskan kembali pandangannya bahwa kelompok itu harus melakukan pemotongan lebih dalam.

“Dengan pertemuan OPEC yang akan datang, ada harapan bahwa tidak hanya akan ada perpanjangan dari pemotongan yang ada tetapi juga pengurangan produksi lebih lanjut,” kata Andy Lipow, presiden Lipow Oil Associates LLC, seperti dikutip Bloomberg.

Selama diskusi persiapan pada hari Selasa, delegasi OPEC mengatakan pendalaman atau perpanjangan pemangkasan pasokan belum pernah dibahas. Sebelumnya di sesi perdagangan hari itu, minyak berjangka melemah setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dia bersedia menunggu satu tahun lagi untuk menandatangani kesepakatan perdagangan dengan China.

Menteri Perminyakan Irak Thamir Ghadhban mengatakan di Wina bahwa pengurangan tambahan sekitar 400.000 barel per hari mungkin diperlukan untuk mengimbangi melambatnya permintaan.

Sementara itu, American Petroleum Institute melaporkan penurunan 3,72 juta barel dalam persediaan minyak mentah AS, lebih tinggi dua kali lipat dari prediksi analis.

Ekspektasi Resolusi Perdagangan Berkurang, Wall Street Melemah

Bursa saham Amerika Serikat melemah pada perdagangan Selasa (3/12/2019) setelah komentar dari Presiden Donald Trump dan Menteri Perdagangan Wilbur Ross menurunkan ekspektasi kemungkinan jeda perang perdagangan dengan China.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 280,23 poin atau 1,01 persen ke level 27.502,81, sedangkan indeks S&P 500 kehilangan 20,67 poin atau 0,66 persen ke 3.093,2 dan Nasdaq Composite turun 47,34 poin atau 0,55 persen ke 8.520,64.

Sembilan dari 11 sektor utama dalam S&P 500 berada di wilayah negatif, dengan Apple Inc dan Intel Corp menjadi penekan utama pelemahan indeks.

Dow Jones mengalami hari terburuknya sejak 8 Oktober, dan ketiga indeks saham utama mundur lebih jauh dari rekor tertinggi pekan lalu yang dipicu oleh optimisme bahwa kesepakatan sementara antara AS dan China sedang dikerjakan.

Optimisme tersebut berkurang ketika Trump menyarankan kesepakatan mungkin harus menunggu sampai pemilihan presiden 2020, dan secara terpisah, Ross mengonfirmasi bahwa tarif baru pada impor China akan berlaku pada 15 Desember sesuai jadwal, kecuali jika ada kemajuan besar yang dibuat.

“Kemunduran dalam negosiasi perdagangan China, ditambah dengan tarif pada Prancis sehubungan dengan pajak digital dan tarif untuk Brasil dan Argentina untuk baja, semuanya mengecewakan pasar,” kata Stephen Massocca, wakil presiden senior di Wedbush Securities, seperti dikutip Reuters.

“Dampak jangka panjang dari negosiasi ini bisa sangat positif, tetapi implikasi jangka pendek menandakan perlambatan ekonomi dan itu tidak dilihat dengan baik oleh pasar,” tambah Massocca.

Produsen chip yang sensitif terhadap harga melemah, dengan indeks Philadelphia SE Semiconductor turun 1,5 persen, hari terburuk sejak 23 Oktober.

Sektor industri, energi, keuangan dan rentan terhadap sentimen perdagangan menderita persentase kerugian terbesar.

Saham AK Steel Holding Corp naik 4,2 persen setelah penambang Cleveland Cliffs setuju untuk mengakuisisi seluruh saham perusahaan senilai sekitar US$1,1 miliar.

Saham Audentes Therapeutics Inc melonjak 106,0 persen setelah Astellas Pharma Inc Jepang mengatakan akan mengakuisisi produsen obat AS ini senilai sekitar US$3 miliar.

Dahsyatnya Pernyataan Trump yang Buat ‘Bumi Gonjang Ganjing’

Bukan rahasia lagi kalau sikap proteksionis Amerika Serikat (as) dengan perang dagang membuat perlambatan ekonomi terjadi. Perang dagangnya dengan China misalnya telah membuat sejumlah lembaga global menurunkan outlook pertumbuhan dunia di 2019 ini.

Dana Moneter Internasional I(MF) memproyeksi pertumbuhan global hanya sebesar 3% atau turun dari proyeksi sebelumnya di Juli 3,2%. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) malah lebih parah. Lembaga ini menyebutkan ekonomi hanya tumbuh 2,9% di tahun ini.

Meski begitu, Presiden AS Donald Trump sepertinya tidak berhenti. Ia kembali bermanuver soal perang dagang.

Manuver baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sukses membuat bursa saham, Wall Street, berada di zona merah, Selasa (3/12/2019).

Dow Jones Industrial Average melemah untuk ketiga kalinya pasca capai rekor di penutupan Rabu pekan lalu. Indeks unggulan ini turun 1% ke 27.502,81.

Sementara S&P juga melemah 0,7% dan ditutup di 3.093,21. Sedangkan Nasdaq juga turun 0,6% dan ditutup di 8.520,64.

Lalu apa saja pernyataan Trump yang membuat pasar saham “kelabakan”:

Ending Perang Dagang China Tunggu 2020

Presiden Trump memupuskan harapan bahwa ketegangan perdagangannya dengan China bakal segera berakhir tahun ini. Bahkan dihadapan wartawan, di sela-sela pertemuan negara-negara the North Atlantic Treaty Organization (NATO), ia berujar sebaiknya semua pihak menunggu setelah Pemilu Presiden AS digelar atau dengan kata lain, setelah November 2020 nanti.

“Saya lebih suka ide menunggu sampai setelah Pemilu khususnya untuk deal dengan China. Tetapi mereka ingin memuat deal itu sekarang dan kita lihat saja nanti, apakah deal itu terjadi atau tidak,” ujarnya sebagaimana dikutip dari CNBC International.

Parahnya lagi, pengusaha properti ini juga menegaskan dirinya tidak memberi tenggat waktu kapan masalah perdagangan keduanya akan diakhiri. “Tidak, aku tak memiliki deadline,” tegasnya lagi.

Perang dagang antara AS dan China terjadi sejak 2018. Ketegangan dua raksasa ekonomi ini sukses membuat kestidakstabilan global, bukan cuma pada pasar keuangan, tapi juga bisnis dan sentimen konsumer.

Oktober lalu, kedua negara mengadakan pertemuan tingkat tinggi di AS dan mengaku akan membuat perjanjian damai ‘Fase I’. Namun, keinginan China yang meminta AS menghapus semua tarif impor yang diberlakukan, sepertinya membuat pembicaraan alot.

Jika sampai pekan kedua ini, AS dan China belum juga sepakat artinya, Washington akan kembali menaikkan barang impor dari China 15 Desember nanti. Kenaikan akan berlaku bagi sejumlah barang elektronik, mulai dari ponsel pintar hingga laptop.

Manuver Trump ini bukan pertama kali terjadi. Pekan lalu, Trump menandatangani UU yang terkait demonstrasi Hong Kong, yang membuat China berang.

UU HAM dan Demokrasi Hong Kong tersebut memungkinkan AS mengkaji status perdagangan khusus dengan kawasan bekas koloni Inggris itu. AS akan mengirimkan perwakilan khusus tiap tahun untuk mengevaluasi apa yang terjadi di Hong Kong.

Bahkan AS bisa menjatuhkan sanksi pada badan atau individu yang dianggap “membuat kekacauan” di Hong Kong. China dan pemerintah Hong Kong menilai tindakan AS mengintervensi urusan internal negara itu.

Sebagai sanksi ke AS, China pun tak memberi izin pada kunjungan kapal perang AS dan memberi sanksi pada lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) asal negeri Paman Sam itu.

“Respon dari kelakuan yang tidak berdasar dari AS, pemerintah China telah memutuskan tidak memberi izin pada kapal perang AS untuk mendarat di Hong Kong,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hau Chunying sebagaimana dikutip dari AFP.

“Kami menemukan banyak fakta dan bukti jelas bahwa LSM itu mendukung pergerakan anti-China … dan mendukung aktivitas separatis untuk kemerdekaan Hong Kong,” kata Hua lagi.

Demo telah melanda Hong Kong sejak Juni silam. Demo awalnya dipicu oleh rencana pemerintah Hong Kong untuk menerapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi.

Perang Dagang Baru dengan Brasil, Argentina dan Prancis

Kebijakan Presiden Donald Trump yang cenderung proteksionis ternyata tak hanya berlaku bagi musuh-musuh AS saja. Tapi juga bagi sejumlah sekutunya, yang jadi teman dekat pemerintahan Trump selama ini.

Melalui unggahan di Twitternya, Trump mengatakan akan menerapkan lagi bea masuk terhadap baja dan aluminium impor dari Brasil dan Argentina. Alasannya karena kedua negara itu telah dengan sengaja mendevaluasi mata uang mereka sehingga menyebabkan petani di AS kehilangan daya saing, kata Trump.

“Brasil dan Argentina telah melakukan devaluasi besar-besaran terhadap mata uang mereka, dan hal itu tidak bagus untuk petani kita. Oleh karena itu, efektif secepatnya, saya akan menerapkan lagi bea masuk semua baja dan aluminium yang masuk ke AS dari dua negara tersebut,” kata Trump melalui akun Twitternya, sebagaimana ditulis CNBC International, Senin.

Sementara itu, malam di hari yang sama Trump juga mengenakan tarif hingga 100% atas barang-barang Prancis senilai US$ 2,4 miliar. Produk pertanian Prancis, seperti Anggur dan keju, masuk dalam daftar barang yang ditargetkan.

Ini adalah serangan balasan AS atas pajak layanan digital yang dikatakan Trump diskriminatif. Sebelumnya Perwakilan Dagang AS menemukan fakta bahwa Prancis memberi pajak yang tinggi pada perusahaan teknologi asal AS seperti Google, Apple Facebook dan Amazon.

Pejabat perwakilan dagang AS USTR, Robert Lighthizer juga akan melakukan hal yang sama pada Austria, Italia dan Turki. Kini penyidikan sedang dilakukan AS pada ketiga negara itu.

Tindakan Trump ini menimbulkan reaksi tersendiri bagi sekutunya ini. Seorang menteri Argentina menyebut pengenaan tarif itu tak terduga sementara Brasil mengatakan merasa bingung dengan kebijakan Trump.

Prancis dan Uni Eropa (EU) siap membalas kenaikan tarif yang diberlakukan Amerika Serikat (AS).

“Proposal AS tidak bisa diterima,” tulis Reuters mengutip Menteri Keuangan Prancis Bruno Le Maire dalam wawancaranya dengan Radio Classique.

“Dalam kasus sanksi terbaru AS, Uni Eropa akan siap melakukan serangan balasan.”

Menteri Ekonomi Junior Prancis Agnes Pannier-Runacher mengatakan UE akan bertindak “sangar” kali ini. Bahkan Prancis tidak akan mencabut rencana pajak digital, yang jadi dasar AS menjatuhkan sanksi tarif.

5 Hal yang Perlu Diketahui di Pasar Global

1 Trump tunda perundingan dagang

Presiden Donald Trump meningkatkan prospek ditundanya kesepakatan perdagangan dengan Cina sampai seusai pemilihan presiden 2020, berdampak pada guncangnya pasar menjadi semakin tinggi dengan janji kesepakatan baru kemungkinan besar bakal terjadi.

“Dalam beberapa hal, saya suka ide menunggu sampai setelah pemilihan untuk kesepakatan Cina,” kata Trump kepada wartawan di London menjelang pertemuan puncak para pemimpin dari aliansi NATO. Dia menambahkan bahwa Cina “ingin membuat kesepakatan sekarang dan kami akan melihat apakah kesepakatannya akan benar atau tidak. ”

Komentar Trump terbaru ini disampaikan kurang dari dua minggu sebelum putaran tarif produk impor Cina berikutnya akan diberlakukan. Tarif baru ini akan memengaruhi berbagai produk, menjadikannya lebih sulit untuk melindungi dampak kebijakan terhadap konsumen AS. Pengumuman itu juga disampaikan satu hari setelah Trump mengumumkan tarif baru untuk impor baja dan aluminium dari Brasil dan Argentina yang dilanda krisis, yang menurutnya telah melakukan manipulasi mata uang.

  1. Aksi balasan Prancis terhadap pembalasan Trump

Pemerintah Perancis mengatakan akan membalas keputusan Presiden Trump untuk mengenakan tarif hingga 100% pada $ 2,4 miliar produk asal Perancis, sebagai pembalasan terhadap prakarsa Perancis untuk memperkenalkan pajak pada layanan digital terutama dari raksasa AS seperti Facebook (NASDAQ: FB) dan Amazon.com (NASDAQ: AMZN).

Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) juga telah memperingatkan bahwa negara-negara lain yang memberlakukan pajak digital juga dapat menerima sanksi serupa termasuk didalamnya Italia, Austria dan Turki, sedangkan Inggris mulai menerapkannya satu tahun kedepan.

Menteri Keuangan Bruno Le Maire mengatakan dalam sebuah wawancara radio bahwa rencana pemberlakuan tarif itu “tidak dapat diterima” dan tidak layak untuk dijadikan sekutu. Mengenai masalah aliansi – Trump mengatakan menjelang KTT NATO bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron telah “tidak sopan” dalam menyebut aliansi “mati otak” dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

  1. Saham diprediksi dibuka lebih rendah

Pasar saham AS akan melanjutkan pelemahan hari Senin setelah kejatuhan besar di Asia yang berlanjut ke pasar Eropa usai Trump meningkatkan kemungkinan tidak melanjutkan perundingan kesepakatan perdagangan fase-1 ’yang sering dijanjikan dengan Cina.

Pada 06:30 ET (18.30 WIB), Dow Jones Industrial Average turun 85 poin atau 0,3%, sedangkan S&P 500 VIX Berjangka futures turun 0,3% dan Nasdaq 100 futures turun 0,4%.

Aset safe Haven telah berkinerja lebih baik seperti yang diharapkan. Imbal hasil obligasi 10-tahun turun lima basis poin menjadi 1,79%, sementara emas berjangka naik menjadi $ 1,476.65 per troy ounce.

  1. Rilis laporan perusahaan perangkat lunak

Salesforce dan Workday, dua nama paling populer dalam industri perangkat lunak akan merilis laporan pendapatan setelah bel penutupan Selasa.

Penghasilan per saham Salesforce diperkirakan naik menjadi 66c dari 61c tahun lalu, sementara pendapatan diperkirakan tumbuh menjadi $ 4,45 miliar dari $ 3,39 miliar.

Penghasilan Workday diprediksi tumbuh lebih cepat, meskipun dari basis yang lebih rendah, menjadi 37c dari 31c, dengan kenaikan pendapatan 24% menjadi $ 921 juta.

  1. Minyak terkena dampak komentar tarif jelang rilis data API

Minyak mentah berjangka berjuang untuk tetap di wilayah positif setelah ledakan terbaru dari “Tariff Man” yang menimbulkan keraguan baru untuk prospek permintaan global tahun depan, jelang pertemuan penting minggu ini antara OPEC dan sekutunya.

Pada pukul 6:30 pagi ET, minyak mentah AS berjangka naik 0,2% menjadi $ 56,06 per barel, sementara patokan internasional Brent naik 0,1% pada $ 60,95, keduanya turun lebih dari 1%.

Pertemuan akan memberikan sorotan yang lebih tajam dari biasanya pada pembaruan mingguan American Petroleum Institute pada pukul 10:30 pagi waktu ET mengenai pasokan minyak AS, yang telah melaporkan sejumlah stok cadangan baru. Perkiraan untuk data pemerintah, yang dijadwalkan hari Rabu, mengisyaratkan pasar mengharapkan penarikan 1,8 juta barel.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu