Ekonomi AS Terancam, Wall Street Anjlok

Ekonomi AS Terancam, Wall Street Anjlok

Hot News Market Hari Ini

( Kamis, 03 Oktober 2019 )

Ekonomi AS Terancam, Wall Street Anjlok

Pergerakan tiga indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) serentak anjlok pada akhir perdagangan Rabu (2/10/2019), tertekan suramnya gambaran ekonomi pascarilis data kepegawaian dan manufaktur.

Berdasarkan data Reuters, indeks S&P 500 ditutup merosot 1,79 persen di level 2.887,61, indeks Nasdaq Composite meluncur 1,56 persen ke level 7.785,25, dan indeks Dow Jones Industrial Average berakhir turun tajam 1,86 persen di posisi 26.078,62.

Menambah kekhawatiran tentang perdagangan, pemerintah AS pada Rabu mendapatkan persetujuan untuk mengenakan tarif impor terhadap barang-barang senilai US$7,5 miliar asal Eropa.

Persetujuan ini diberikan terkait dengan subsidi ilegal Uni Eropa kepada Airbus, sehingga mengancam akan memicu perang dagang trans-Atlantik.

Pada hari yang sama, Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP menunjukkan pertumbuhan payroll swasta pada bulan Agustus tidak sekuat yang diperkirakan sebelumnya.

Dalam laporannya, ADP menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan telah menjadi lebih berhati-hati dalam hal perekrutan.

Data ini memperkuat kekhawatiran yang dipicu pada Selasa (1/10) ketika sebuah laporan menunjukkan aktivitas manufaktur AS berkontraksi ke level terendah dalam lebih dari satu dekade.

“Fakta mengenai kondisi buruk manufaktur dalam ekonomi AS dan global seharusnya bukan merupakan berita baru bagi siapapun. Tapi tingkat penurunan kemarin adalah sesuatu yang mendorong pergerakan (pasar) dua hari ini,” terang Greg Boutle, kepala ekuitas dan strategi derivatif AS di BNP Paribas.

Data yang lemah baru-baru ini telah mengguncang kepercayaan investor pada kekuatan ekonomi domestik, yang telah menunjukkan ketahanan relatif dalam menghadapi perlambatan pertumbuhan global. Kepercayaan terhadap ekonomi AS sebelumnya turut membantu menyokong pergerakan Wall Street tahun ini.

“Jika China membeli lebih sedikit dari AS, kita memiliki lebih sedikit untuk memproduksi dan lebih sedikit pesanan untuk diisi. Data ini mengindikasikan bahwa kita tidak kebal terhadap sengketa perdagangan, ini merugikan kita dan juga China,” ujar Sam Stovall, kepala strategi investasi di CFRA Research.

Cboe Volatility Index, yang mengukur keresahan investor, pun bertambah naik 1,9 poin ke level 20,47, level tertingginya dalam sekitar sebulan.

Fokus pasar kemudian akan tertuju pada laporan pekerjaan yang lebih komprehensif oleh Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat (4/10) demi memperoleh petunjuk lebih lanjut tentang kesehatan ekonomi AS.

 

Menteri Perminyakan Iran Sebut Pasar Minyak Normal dan Saudi Sebagai Teman

Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh. – Reuters

Dalam perjalanan ke Moskow, Rusia, Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh mengatakan bahwa pasar minyak global dalam kondisi normal, meski pada bulan lalu terjadi serangan ke infrastruktur minyak Arab Saudi.

Menurutnya, saat ini ada sedikit surplus di sisi pasokan pasar minyak. Dia menambahkan bahwa Teheran tidak mengambil langkah apa pun untuk meningkatkan ketegangan di wilayah Teluk.

“Kami selalu berusaha menjaga keamanan Teluk Persia dan stabilitas dan perdamaian di kawasan ini,” katanya seperti dikutip dari Reuters, Rabu (2/1/2019).

Zanganeh juga berusaha meredakan ketegangan antara negaranya dengan Arab Saudi. Dia menyebut rekannya sesama menteri energi, Pangeran bin Abdulaziz sebagai seorang teman. Menurutnya Teheran berkomitmen menjaga stabilitas di Timur Tengah.

“Pangeran Abdulaziz bin Salman telah menjadi teman selama lebih dari 22 tahun,” katanya.

Iran dan Arab Saudi telah berulangkali bentrok pada pertemuan OPEC mengenai kebijakan produksi. Ketegangan antara kedua negara meningkat ketika Arab Saudi menyalahkan Iran atas serangan terhadap fasilitas minyak Saudi pada 14 September, sebuah tuduhan yang dibantah Teheran.

Serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi tetap menjadi sorotan karena mengirim produksi minyak OPEC ke level terendah delapan tahun pada September, memperdalam dampak pakta pasokan dan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela.

Saat disinggung mengenai reaksi pasar jika Iran diserang, Zanganeh mengatakan pihaknya berharap hal tersebut tidak terjadi.

“Kami percaya unilateralisme tidak bekerja dan peningkatan tekanan terhadap Iran bukanlah solusi untuk situasi yang stabil dan lingkungan yang damai di kawasan dan untuk dunia dan untuk keamanan pasokan minyak dan gas.”

Sementara itu harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat tipis 0,65% atau 0,35 poin ke posisi US$53,97 per barel, sedangkan harga minyak mentah Brent menguat 0,22% atau  0,13 poin ke posisi US$59,02 per barel.

WTO Setujui Tarif Impor AS, Saham Eropa Bertumbangan

Bursa Eropa menukik hampir 3 persen sekaligus mengalami hari terburuknya sejak Desember 2018, setelah ancaman perang dagang trans-atlantik dan data ekonomi yang suram menambah kekhawatiran tentang goyahnya ekonomi global.

Berdasarkan data Reuters, indeks Stoxx Europe 600 melepaskan hampir seluruh kenaikan yang mampu dibukukan pada September dengan berakhir turun tajam pada perdagangan Rabu (2/10/2019).

Pada Rabu (2/10), Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyetujui langkah-langkah pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mengenakan tarif impor terhadap barang-barang senilai US$7,5 miliar asal Eropa.

Persetujuan ini diberikan terkait dengan subsidi ilegal Uni Eropa kepada Airbus. Saham Airbus pun drop 2 persen.

Bursa saham di London bahkan membukukan penurunan paling dramatis, dengan indeks FTSE 100 mengalami sesi terburuknya dalam 3,5 tahun setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson meluncurkan proposal Brexit final yang meredupkan peluang Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa dengan kesepakatan.

Hal tersebut menambah tekanan pada pasar ekuitas global akibat berlarutnya konflik perdagangan antara pemerintah AS dan China, yang telah berkontribusi atas kontraksi tajam dalam indikator sektor manufaktur di kedua sisi Atlantik.

“Kita belum melihat dampak terburuk dari perang dagang dan tentu saja itu berdampak besar pada (manufaktur di) Eropa karena lebih bergantung pada ekspor daripada AS,” ujar Andrea Cicione, kepala strategi di TS Lombard.

Seluruh pasar utama di Eropa anjlok lebih dari 2 persen, dengan bursa saham Italia kehilangan 2,9 persen dalam sesi terburuknya sejak Desember dan bursa saham Prancis terjerembab 3 persen.

Adapun bursa saham Frankfurt turun tajam 2,8 persen ke level terendah dalam sebulan dan kini telah membukukan penurunan lebih dari 4 persen hanya dalam dua hari.

Data Refinitiv terbaru menunjukkan perusahaan-perusahaan Eropa dapat mengalami periode laba kuartalan terburuknya dalam tiga tahun karena penurunan pendapatan untuk pertama kalinya sejak awal 2018.

“Ini akan menjadi musim yang sulit dan yang paling penting adalah bagaimana perusahaan-perusahaan melihat kuartal IV dan prospek awal untuk tahun 2020,” tutur Neil Campling, analis di Mirabaud Securities.

Perhatian investor kini akan tertuju pada rilis data sektor jasa dari zona euro pada Kamis (3/10/2019).

Di antara saham yang berkinerja terburuk adalah kelompok limbah dan air asal Perancis, Suez, yang tersungkur 7 persen setelah CEO barunya meluncurkan rencana empat tahun untuk meningkatkan pendapatan tetapi gagal memberikan kejelasan tentang dividen dan rencana penjualan aset.

Dolar Berangsur Naik Meski AS Dibayangi Perlambatan Ekonomi

Dolar AS naik tipis pada Rabu (02/10) siang di Asia meskipun ada kekhawatiran dari perlambatan ekonomi di Amerika Serikat.

Indeks dolar AS sedikit naik sebesar 0,1% bahkan setelah pembacaan yang lemah pada manufaktur AS menambah kekhawatiran dari pertumbuhan ekonomi.

Laporan Institute for Supply Management menunjukkan PMI manufaktur ISM turun menjadi 47,8 dan ini merupakan tingkat terendah dalam 10 tahun. Data yang lemah itu memicu saham-saham di AS bergerak jatuh semalam, sementara ekuitas Asia juga diperdagangkan memerah pada perdagangan pagi ini.

Pasangan USD/CNY tidak berubah pada level 7.1477. Peringatan HUT ke-70 Cina sebagian besar dibayangi oleh aksi unjuk rasa di Hong Kong. Seorang demonstran ditembak langsung oleh polisi dan ini pertama kalinya terjadi sejak kerusuhan politik melanda pada Juni silam.

Pemimpin Cina Xi Jinping mengatakan Selasa bahwa prinsip “satu negara, dua sistem” yang mana Hong Kong dikelola harus ditegakkan, dan bahwa “tidak ada kekuatan yang dapat menggoyahkan pondasi negara besar ini.”

“Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan warga Cina dan bangsa Cina terus maju,” tambah Xi.

Pasangan GBP/USD melemah 0,2% ke 1,2280. Dalam episode terbaru dari saga Brexit, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson akan mengungkapkan tawaran Brexit terakhirnya kepada Uni Eropa. Ia menjelaskan bahwa Inggris tidak akan bernegosiasi jika kesepakatan ditolak dan akan berpisah dari Uni Eropa pada 31 Oktober.

“Teman-teman saya, saya khawatir bahwa setelah tiga setengah tahun warga Inggris mulai merasa bahwa mereka dibodohi. Mereka mulai curiga bahwa ada kekuatan di negara ini yang tidak ingin melihat Brexit berhasil sama sekali,” tandasnya, sesuai dengan kutipan yang dirilis oleh kantor PM Inggris.

“Mari kita selesaikan Brexit pada tanggal 31 Oktober sehingga pada tahun 2020 negara kita bisa terus berjalan.”

Dunia Gunjang-ganjing, Investor Lari ke Emas

Harga emas dunia bergerak naik di perdagangan pasar spot pagi ini. Tingginya risiko perekonomian global membuat investor memilih bermain aman dan memburu aset aman (safe haven) seperti emas.

Pada Kamis (3/10/2019) pukul 08:00 WIB, harga emas berada di US$ 1.500,59/troy ons. Naik 0,09% dibandingkan posisi hari sebelumnya. Kemarin, harga sang logam mulia ditutup naik 1,4%.

Investor masih mencemaskan kondisi di Amerika Serikat, di mana data-data ekonomi Negeri Paman Sam terus memburuk. Pada September, angka Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur AS versi Institute for Supply Management (ISM) adalah 47,8. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 49,1.

Angka PMI di bawah 50 menunjukkan industriawan tidak melakukan ekspansi. Selain itu, skor 47,8 adalah yang terendah sejak Juni 2009.

Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi yang mungkin berujung kepada resesi dipertegas oleh rilis data ketenagakerjaan dari ADP. Ini menjadi gambaran awal terhadap data ketenagakerjaan resmi yang akan dirilis pemerintah AS akhir pekan ini.

ADP melihat penciptaan lapangan kerja di Negeri Paman Sam pada September adalah 135.000. Turun dibandingkan posisi Agustus yang sebanyak 157.000 dan berada di bawah konsensus pasar yang dihimpun Reuters yaitu 140.000.

Situasi diperparah dengan potensi perang dagang. Kali ini bukan AS vs China, tetapi AS vs Uni Eropa.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memenangkan gugatan AS yang menyebut Uni Eropa memberikan subsidi kepada Airbus sehingga menimbulkan persaingan tidak sehat dengan perusahaan pembuat pesawat lainnya seperti Boeing. Sidang panel WTO menyatakan AS menderita kerugian sampai US$ 7,5 miliar per tahun.

Keputusan WTO ini menjadi pembenaran bagi rencana AS untuk menerapkan bea masuk terhadap importasi produk-produk dari Eropa. Washington mengusulkan pengenaan bea masuk bagi importasi hingga US$ 11 miliar.

Di tengah situasi pasar yang penuh gunjang-ganjing seperti ini, investor tentu mencari selamat masing-masing. Pelaku pasar pun melindungi portofolionya dengan memborong emas, dan menyebabkan harga komoditas ini naik

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu