Drama Galau Brexit: Inggris Jadi Cerai dari Eropa Nggak Sih?

Drama Galau Brexit: Inggris Jadi Cerai dari Eropa Nggak Sih?

Hot News Market Hari Ini

( Senin, 21 Oktober 2019 )

Kecemasan Perlambatan Ekonomi Global Bikin Harga Minyak Loyo

Harga minyak mentah mencatatkan kerugian mingguan di tengah kekhawatiran atas perlambatan ekonomi global dan berlimpahnya pasokan minyak mentah.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup melemah 0,28% atau 0,15 poin ke posisi US$53,78 per barel, Jumat (18/10/2019), sementara harga minyak mentah Brent turun 0,82% atau 0,49 poin ke posisi US$59,42 per barel.

Untuk harga WTI mengalami penurunan 1,7% sepanjang pekan lalu. Sedangkan harga acuan Brent turun 1,8% minggu lalu.

Leo Mariani, analis energi di Keybanc Capital Markets di Dallas mengatakan, pasar minyak terus menjadi sangat fokus terhadap permintaan dan terindikasi harga emas hitam ini redup. “Kami telah melihat banyak investasi bisnis membeku dan itu berdampak pada investasi minyak,” katanya dilansir dari Bloomberg, Minggu (20/10/2019).

Menurut data dari Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat persediaan minyak mentah AS naik 9,3 juta barel dalam sepekan hingga 11 Oktober. Jumlah itu melewati perkiraan analis untuk kenaikan 3 juta barel.

Daniel Ghali, ahli strategi komoditas di TD Bank di Toronto mengatakan, kenyataannya sekarang adalah bahwa pasar minyak mentah masih berjuang dengan prospek surplus substansial pada tahun depan. “Di sana mulai ada kekhawatiran tentang seberapa banyak OPEC dapat mengimbanginya,” katanya.

Sementara itu, China melaporkan laju pertumbuhan ekonomi paling lambat sejak awal 1990-an pada kuartal terakhir.

Produk domestik bruto China mengikuti estimasi dan menambah prospek permintaan minyak mentah dunia yang memburuk. Penurunan ekspor ke AS diperkirakan akan terus berlanjut karena perang perdagangan, ekonomi China kemungkinan akan terus berjuang karena tekanan deflasi menekan keuntungan perusahaan.

John Kilduff, mitra di hedge fund Again Capital LLC di New York, mengatakan, prospek permintaan adalah tanda tanya karena data dari China tidak bagus. “Kelambatan dalam PDB tidak membantu hal-hal dan pasar masih berjuang melawan itu,” ujarnya

Drama Galau Brexit: Inggris Jadi Cerai dari Eropa Nggak Sih?

Pemungutan suara (voting) untuk menentukan bagaimana cara Inggris akhirnya akan keluar dari Uni Eropa (UE) atau Brexit pada Sabtu (19/10/19) kemarin diputuskan ditunda.

Padahal, pemungutan suara atas RUU Perjanjian Penarikan yang diusulkan Perdana Menteri Boris Johnson yang seharusnya dilakukan di House of Commons tersebut telah dinanti-nantikan. Sebab, tanggal Brexit dilakukan sudah semakin dekat, yaitu pada 31 Oktober 2019.

Menanggapi hal tersebut, pemerintah Inggris dikabarkan telah kembali meminta perpanjangan batas waktu Brexit. Sebelumnya Brexit telah ditunda sebanyak dua kali pada masa pemerintahan PM Theresa May.

Jadi, apa yang akan terjadi jika Brexit benar-benar ditunda kembali? Mengutip laporan CNBC International, berikut beberapa hal yang mungkin terjadi.

Apa yang bakal terjadi?
Pada Sabtu malam, Johnson dengan enggan meminta perpanjangan tenggat waktu Brexit dari 31 Oktober. Sebelumnya pada Sabtu kemarin, Johnson mengatakan dia akan menolak meminta Uni Eropa menunda batas waktu Brexit setelah kalah tipis di Parlemen.

Namun, banyak pihak telah mengusulkan perpanjangan waktu. Daripada harus meninggalkan UE tanpa kesepakatan (no-deal Brexit), yang bisa menyebabkan ekonomi kacau.

Brussels sendiri masih mungkin memberikan perpanjangan waktu secara teknis untuk beberapa minggu, dengan harapan dapat menyepakati perjanjian yang baru-baru ini mereka bicarakan dengan Johnson. Atau mungkin mengabulkan usulan Johnson untuk memperpanjang Brexit hingga 31 Januari. Hal ini bisa memberi waktu bagi pemerintah untuk melakukan negosiasi ulang atau mencetuskan referendum kedua.

Brexit juga mungkin untuk ditunda hingga Juni 2020, saat periode anggaran UE selanjutnya dimulai. Sayangnya hal ini bisa mencemari citra Brexit yang sudah dianggap gagal di seluruh UE.

Saat ini, para pemimpin Uni Eropa diperkirakan akan kembali melakukan diskusi dan memberikan komentar. Namun belum diketahui kapan akan dilakukan.

Kapan pemungutan suara diadakan kembali?

Pemerintah Inggris ingin melakukan pemungutan suara yang bisa menghasilkan Brexit pada hari Senin, tetapi keinginan ini dapat ditolak oleh ketua parlemen. Sebab, hal ini telah kerap kali dilakukan.

Sebagai gantinya, pemerintah dapat mengajukan RUU Perjanjian Penarikan penuh awal minggu ini, dan harus menarik persetujuan dari House of Commons dan House of Lords. Sayangnya, hal ini mungkin akan membutuhkan banyak waktu untuk dilakukan perdebatan, hingga berminggu-minggu. Ini sedikit tidak mungkin dilakukan karena sisa waktu Brexit hanya tinggal 10 hari

 

Proposal Johnson Ditolak 3 Kali, Brexit Ditunda 31 Oktober!

Pemerintah Inggris kembali meminta perpanjangan batas waktu hingga 31 Oktober mendatang untuk keputusan Brexit atau langkah keluarnya Inggris dari Uni Eropa setelah anggota parlemen menunda pemungutan suara pada Sabtu kemarin (19/10/2019) atas RUU Perjanjian Penarikan yang diusulkan Perdana Menteri Boris Johnson.

Presiden Dewan Uni Eropa (UK Council) Donald Tusk mengatakan dia telah menerima surat perpanjangan Brexit dan akan mulai berkonsultasi dengan para pemimpin Uni Eropa soal permintaan Inggris ini. Penundaan Brexit ini adalah ketiga kalinya bagi Inggris.

Menurut laporan media, dikutip CNBC International, Johnson, tidak secara pribadi menandatangani surat itu.

Sebelumnya pada Sabtu kemarin, Johnson mengatakan dia akan menolak meminta Uni Eropa menunda batas waktu Brexit setelah kalah tipis di Parlemen.

Meskipun Johnson secara pribadi menentang perpanjangan penundaan Brexit, pemerintah Inggris terpaksa meminta keputusan tersebut setelah anggota Parlemen menunda RUU Perjanjian Penarikan yang diusulkan Johnson dan memilih mengaktifkan undang-undang yang mengharuskan pihak Downing Street (kantor pusat PM Johnson) untuk meminta Brussels memperpanjang batas waktu Brexit.

Amandemen yang memicu hukum, yang dikenal sebagai “Benn Act” ini didukung oleh 322 suara dari sebelumnya 306.

Setelah penundaan itu, Johnson menegaskan dia tidak akan menegosiasikan penundaan dengan Uni Eropa. “…dan hukum [UU] juga tidak memaksa saya untuk melakukannya,” katanya dikutip CNBC International.

Namun menurut hukum, Benn Act, Johnson memiliki waktu hingga pukul 11:00 malam, waktu London hari Sabtu untuk mengirim surat ke UE meminta perpanjangan.

“Saya akan memberi tahu kolega kami di UE bahwa apa yang telah saya katakan kepada semua orang dalam 88 hari terakhir bahwa saya telah menjabat sebagai perdana menteri: bahwa penundaan lebih lanjut atas Brexit akan berdampak buruk bagi negara ini, buruk bagi Uni Eropa dan buruk bagi demokrasi.”

Johnson sebelumnya juga menyatakan dia lebih suka “mati di selokan” daripada meminta lebih banyak waktu dari UE.

RUU Perjanjian Penarikan akan disampaikan di House of Commons atau Dewan Rakyat Inggris (majelis rendah di parlemen) awal pekan depan yang berpotensi akan terjadi pemungutan suara pada Selasa malam tentang apa yang disebut “pembacaan kedua,” tahap awal dari suatu bagian RUU melalui House of Commons.

Jika disetujui, ini akan menjadi yang pertama kalinya DPR meloloskan RUU terkait penawaran penarikan Brexit.

Belum Beres dengan China, AS Tabuh Perang Dagang ke Eropa

 Setelah menyatakan perang dagang dengan China secara terang-terangan dan belum ada jalan keluar hingga saat ini, Amerika kembali mengibarkan bendera perang kepada Eropa. Negara ini telah menaikkan tarif dagang senilai US$ 7,5 miliar produk impor dari Eropa.

Mengutip AFP, sejumlah produk impor dari Eropa menjadi target Trump, termasuk pesawat pabrikan Eropa, Airbus. Tarif ini akan mulai berlaku pukul waktu Washington atau 11.01 WIB kemarin Jumat (18/10/2019).

Trump menerapkan tarif ini setelah menang di World Trade Organization (WTO) atas kasus subsidi ilegal Eropa terhadap Airbus. Kemenangan di WTO membuat AS bisa menerapkan sanksi melalui kenaikan tarif.

Berikut tarif yang dikenakan Amerika atas barang dari China:

• 10% untuk pesawat dari Perancis, Jerman, Spanyol atau Inggris
• 25% atas wiski single-malt Irlandia dan Scotch, berbagai pakaian dan selimut dari Inggris
• 25% untuk kopi dan alat, juga mesin tertentu dari Jerman
• 25% tarif atas berbagai keju, minyak zaitun, dan daging beku dari Jerman, Spanyol, dan Inggris
• 25% tarif untuk produk daging babi, mentega dan yogurt dari berbagai negara
Munculnya perang dagang dengan Eropa ini menimbulkan ketakutan akan semakin cepatnya resesi ekonomi dunia terjadi.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif International Trade Centre (ITC) Arancha Gonzalez. “Semua ini mengarah ke satu arah yang sama. Jika kita terus menggali lobang yang sama (perang tarif), kita akan melihat resesi,” katanya dikutip dari CNBC International.
Meski Eropa meminta penangguhan AS tetap tak bergeming. Oleh sebab itu, Menteri Ekonomi Prancis, Bruno Le Maire mengancam AS bahwa Eropa akan segera melakukan pembalasan.
Sebelumnya, Eropa sudah menyatakan pada Mei 2019 lalu bahwa akan mengenakan tarif barang AS senilai US$ 20 miliar, jika negara Donald Trump itu benar-benar menjatuhkan sanksi perdagangan. UE kini juga tengah mengadukan AS ke WTO atas tuduhan subsidi ilegal ke Boeing.
Ketakutan resesi juga tak terlepas dari belum selesainya kesepakatan final perdagangan antara Amerika dan China. China masih mengharapkan Trump untuk menghapuskan tarif yang bakal diterapkan untuk produk asal China.
Kedua negara terakhir kali mengadakan perundingan dagang pada pekan lalu di Washington, D.C. Setelah pertemuan itu, AS mengatakan akan menunda kenaikan tarif pada barang-barang China yang seharusnya mulai berlaku pada Selasa pekan ini.
Namun, juru bicara Kementerian Perdagangan China, Gao Feng pada hari Kamis (17/10/19) mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) harus menghapus tarif agar kedua negara bisa mencapai kesepakatan akhir dalam hal perdagangan.
“Posisi, prinsip, tujuan China untuk negosiasi dagang China-AS tidak pernah berubah,” kata Go, dalam konferensi pers mingguan mengutip CNBC International.
“Tujuan utama kedua belah pihak dalam negosiasi adalah untuk mengakhiri perang dagang, membatalkan semua tarif tambahan. Ini bagus untuk China, bagus untuk AS dan bagus untuk dunia,” lanjutnya.
Kedua negara ini sudah terlibat dalam perang dagang selama lebih dari satu tahun. Keduanya saling menerapkan tarif impor pada berbagai barang senilai miliaran dolar.
Perang Dagang dan Perlambatan Ekonomi Dunia
International Monetery Fund alias Dana Moneter Internasional (IMF) menyebutkan konflik perdagangan telah membuat pertumbuhan terjerumus ke dalam ‘perlambatan yang tersinkronkan’ dan harus ditanggulangi.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan perang dagang ini menyebabkan terjadinya perlambatan hampir 90% dunia. Perlambatan ini menyebabkan ekonomi akan tumbuh lebih rendah dari 10 tahun terakhir.
“Pada 2019, kami memperkirakan pertumbuhan yang lebih lambat di hampir 90% dunia. Ekonomi global sekarang berada dalam perlambatan yang tersinkronkan. Ini berarti bahwa pertumbuhan tahun ini akan turun ke tingkat terendah sejak awal dekade,” katanya.
Dalam pidato pengukuhannya setelah mengambil alih lembaga pemberi pinjaman krisis global itu pada 1 Oktober, Georgieva meluncurkan penelitian IMF baru yang menunjukkan bahwa efek kumulatif dari perang dagang dapat mengurangi output produk domestik bruto (PDB) global sebesar US$ 700 miliar atau sekitar 0,8% pada tahun 2020.
Penelitiannya itu memperhitungkan kenaikan tarif yang telah diumumkan dan sedang direncanakan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk sisa impor China, atau barang senilai sekitar US$ 300 miliar. Banyak kerugian dalam PDB akan berasal dari penurunan kepercayaan bisnis dan reaksi pasar yang negatif, katanya.
Georgieva yang merupakan seorang ekonom asal Bulgaria dan mantan pejabat Uni Eropa yang pernah menjabat di World Bank Group, mengatakan bahwa perdagangan “hampir macet”. Dia juga memperingatkan bahwa gangguan dalam perdagangan dapat menyebabkan perubahan yang berlangsung selama satu generasi.
“Termasuk membuat rantai pasokan terputus, sektor perdagangan melemah, ‘perselisihan digital’ yang memaksa berbagai negara untuk memilih sistem teknologi,” jelasnya.
Oleh karenanya, Georgieva meminta negara-negara dunia untuk bekerja sama untuk merevisi aturan perdagangan global agar bisa menjadi berkelanjutan. Georgieva juga membahas keluhan tentang praktik perdagangan China, tanpa secara khusus menyebutkan nama negara tersebut.
“Itu berarti berurusan dengan subsidi, serta hak kekayaan intelektual dan transfer teknologi,” katanya, seraya menambahkan bahwa sistem perdagangan modern akan membuka kunci bagi potensi jasa dan e-commerce.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu