Dolar AS Melemah
Долларовые банкноты. Фотография сделана в Варшаве 26 января 2011 года. Курс доллара продолжает расти, и валюты стран-поставщиков сырья отошли от минимальных значений за счет повышения цен на сырье в понедельник. REUTERS/Kacper Pempel

Dolar AS Melemah

Hot News Market Hari Ini

( Senin, 02 September 2019 )

Tarif Baru Impor AS-China Berlaku, Dolar AS Melemah

Dolar Amerika Serikat (AS) melemah dan yen Jepang menguat pada perdagangan Senin (2/9/2019) karena investor berlari mencari aset safe haven ketika kenaikan tarif impor AS dan China mulai berlaku awal bulan ini.

Indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, terpantau melemah 0,09 poin atau 0,09 persen ke level 98,826 pada pukul 07.35 WIB.

Indeks dolar sebelumnya dibuka melemah 0,088 poin ke level 98,828. Adapun pada akhir perdagangan Jumat pekan lalu (30/8), indeks dolar AS ditutup menguat 0,409 poin atau 0,42 persen ke level 98,916.

Sementara itu, nilai tukar yen terpantau menguat 0,18 persen atau 0,19 poin kelevel 106,09 per dolar AS pada pukul 07.59 WIB, setelah dibuka menguat 0,17 poin di posisi 106,11.

Selain yen, komoditas emas yang juga menjadi salah satu aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi juga menguat pada Senin. Harga emas Comex untuk kontrak Desember 2019 terpantau menguat 0,54 persen ke posisi US$1.537,6 per troy ounce pada pukul 07.49 WIB.

Sementara itu, yuan offshore China jatuh ke level terendah sejak perdagangan internasional pada 2010 di tengah tanda kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi China.

Investor akan memonitor pasar saham China dan bagaimana bank sentral China menetapkan nilai referensi yuan di dalam negeri pada perdagangan hari ini Asia sebagai ukuran yang lebih luas dari selera risiko, yang merupakan faktor penting di balik gejolak pasar dalam beberapa pekan terakhir.

“Tarif impor menandakan kita tidak akan melihat pembukaan yang sangat ramah pasar minggu ini,” kata Rodrigo Catril, analis valuta asing senior di National Australia Bank, seperti dikutip Reuters.

“Ada banyak peristiwa berisiko minggu ini dari data ekonomi AS dan China, yang seharusnya membantu kita melihat siapa yang lebih banyak dirugikan dari perang perdagangan, tetapi kami tidak berpikir kesepakatan akan segera terjadi,” lanjutnya.

AS mengenakan tarif 15 persen untuk sejumlah barang impor dari China pada hari Minggu, termasuk alas kaki, jam tangan pintar, dan televisi layar datar, sementara China memberlakukan bea masuk baru pada minyak mentah AS.

Sejumlah data ekonomi dijadwalkan rilis pekan ini, termasuk survei manufaktur dan jasa di AS dan China. AS juga akan merilis data neraca perdagangan dan data non-farm payroll.

Presiden AS Donald Trump mengatakan kedua pihak masih akan bertemu untuk pembicaraan akhir bulan ini, tetapi harapan untuk resolusi perang perdagangan berkurang.

Volume perdagangan di pasar modal diperkirakan berkurang karena bursa saham AS ditutup pada hari Senin untuk liburan Hari Buruh.

 

Khawatir Perang Dagang AS-China, Bursa Tokyo Dibuka Loyo

Saham bursa Tokyo dibuka melemah pada Senin 02/09/2019 di tengah kekhawatiran baru atas eskalasi perang dagang AS-China, dan kekhawatiran akan dampaknya terhadap ekonomi global.

Indeks acuan Nikkei 225 turun 0,38% atau 79,51 poin pada 20.624,86 di awal perdagangan, sementara indeks Topix yang lebih luas turun 0,28% atau 4,20 poin pada 1.507,66.

Penurunan tersebut terjadi karena China dan AS masih dalam tahap perencanaan untuk menyelesaikan sengketa dagang mereka.

Sebelumnya, AS-China memang dikabarkan akan menggelar dialog dagang di Washington pada September. Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng menyatakan, saat ini tim dari kedua negara sedang membahas pertemuan tatap muka dalam waktu dekat.

Namun, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meyakinkan bahwa pembicaraan perdagangan dengan Beijing masih sesuai rencana meski tarif baru sudah resmi berlaku di kedua negara.

“Kami sedang berbicara dengan China, untuk pertemuan pada bulan September, yang belum berubah,” kata Trump kepada wartawan di White House South Lawn setelah kembali dari Camp David, seperti dilansir dari CNBC Internasional, Senin (2/9/2019).

 

 

 

 

 

 

 

AS dan China Siap Negosiasi, Kenaikan Emas Terbatas

Meski dibayangi beberapa katalis negatif sepanjang pekan lalu, emas tetap berhasil mencetak kenaikan bulanan selama 4 bulan berturut-turut akibat kekhawatiran pasar terhadap resesi global. Namun, meredanya sentimen perang dagang AS dan China dapat membatasi kenaikan tersebut.

Berdasarkan data Bloomberg, sepanjang Agustus harga emas berhasil menguat sebesar 6,08 persen. Pun, kenaikan juga tidak terjadi terhadap harga emas global saja, harga emas produk dalam negeri PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) juga berhasil menguat 7,3 persen sepanjang bulan ini.

Eskalasi dalam perang dagang antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia dan kekhawatiran pasar yang meningkat terhadap pelemahan ekonomi global berkontribusi pada kenaikan lebih dari US$100 per troy ounce untuk emas pada bulan Agustus.

Inversi terbaru dari kurva imbal hasil obligasi AS, yaitu ketika imbal hasil obligasi jangka pendek bergerak lebih tinggi dibandingkan dengan imbal hasil obligasi untuk tenor jangka panjang, umumnya sering dijadikan indikator pemula terjadinya resesi sehingga telah membuat para investor resah.

Sementara itu, Federal Reserve AS dan Bank Sentral Eropa secara luas diperkirakan kembali menurunkan suku bunga pada bulan depan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi AS.

Adapun, pada penutupan akhir pekan lalu, Jumat (30/8/2019), emas di pasar spot melemah 0,47 persen menjadi US$1.520,38 per troy ounce, sedangkan emas berjangka untuk kontrak Desember 2019 di bursa Comex bergerak 0,49 persen menjadi US$1.529,4 per troy ounce.

Analis Logam Mulai Standard Chartered Bank Suki Cooper mengatakan bahwa pada September pasar akan fokus terhadap kemajuan berita dari hubungan perdagangan AS dan China yang berencana untuk kembali melakukan perundingan di AS.

“Saat ini, pasar emas akan difokuskan pada dampak perang dagang terhadap pertumbuhan global dan apakah kita akan terus melihat bank sentral di seluruh dunia melakukan pelonggaran kebijakan moneternya,” ujar Suki seperti dikutip dari Reuters, Minggu (1/9/2019).

Kementerian Luar Negeri China mengatakan bahwa tim perundingan perdagangan AS dan China telah mempertahankan komunikasi yang efektif dan kedua belah pihak tengah membahas putaran perundingan dagang tatap langsung berikutnya yang dijadwalkan digelar pada September di AS.

Sebagai informasi, pada Kamis (29/8), Kementerian Perdagangan China yang mengkonfirmasi kemungkinan pertemuan perdagangan pada September mendatang juga menambahkan bahwa pihaknya meminta AS untuk membatalkan penerapan kenaikan tarif impor yang mulai berlaku pada awal September.

Di sisi lain, Analis Oanda Jeffrey Halley mengatakan bahwa sinyal positif terhadap pertemuan perdagangan AS dan China telah berhasil menaikkan saham dunia ke level tertingginya sehingga membatasi kenaikan emas.

“Emas akan memiliki fluktuasi yang cukup tinggi setiap ketegangan perdagangan AS dan China berkurang mengingat sentimen tersebutlah yang telah mendorong begitu banyak rally pada emas dalam beberapa perdagangan terakhir,” ujar Jeffrey seperti dikutip dari Reuters.

Sementara itu, konsumen di pusat-pusat Asia diprediksi menjual kepemilikan emas fisiknya pada minggu ini untuk mendapatkan uang dengan harga tinggi.

Menguji Level Support US$1.508

Senada, analis PT Monex Investindo Futures Andian Widjaya mengatakan dalam publikasi risetnya bahwa emas berpeluang untuk bergerak menurun seiring dengan meredanya keteganagan hubungan AS dan China.

“Emas berpeluang turun menguji level support US$1.508 hingga US$1.519 per troy ounce. Sebaliknya, bila bergerak naik emas dapat menguji level resisten di US$1.532 hingga US$1.539 per troy ounce,” ujar Andian seperti dikutip dari risetnya, Minggu (1/9/2019).

Untuk harga logam mulia lainnya, pada penutupan perdagangan Jumat (30/8) perak naik 0,6 persen menjadi US$18,38 per troy ounce, berhasil mencetak kenaikan bulanan terbesar sejak Juni 2016 yaitu naik 12 persen sepanjang Agustus 2019.

Suki mengatakan bahwa perak akan lebih bergejolak pada September dan lebih mungkin berada di bawah tekanan jika banyak negara mengeluarkan data industri yang lebih lemah.

Selain itu, platinum naik 1,82 persen menjadi US$933,75 per troy ounce, setelah mencapai level tertingginya dalam 16 bulan terakhir, sedangkan paladium naik 3,93 persen menjadi US$1,533,57 per troy ounce berhasil menembus level puncak sejak satu bulan lalu.

 

Perang Dagang Redupkan Proyeksi Harga Minyak

Perang dagang Amerika Serikat dan China yang tak berkesudahan telah meredupkan harapan harga minyak mentah global tahun ini.

Dalam sebuah jajak pendapat yang digelar Reuters baru-baru ini, sejumlah analis memangkas perkiraan mereka terhadap harga minyak ke level terendah dalam lebih dari 16 bulan terakhir.

Proyeksi tersebut dilatarbelakangi perlambatan ekonomi yang terus membayangi, serta ketidakpastian perang dagang antara AS dan China.

Survei terhadap 51 ekonom dan analis memproyeksikan, harga minyak Brent bakal berada pada level US$65,02 per barel pada tahun ini, turun sekitar 4 persen dari proyeksi bulan sebelumnya, yaitu US$67,47 per barel. Level tersebut merupakan yang terendah 2019 untuk Brent sejak Maret 2018.

Sejauh tahun ini, harga Brent dipatok pada level rata-rata US$65,08 per barel.

Sementara, perkiraan 2019 untuk minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) dipangkas ke level terendah sejak Januari 2018, yaitu US$57,90 per barel, di bawah perkiraan US$59,29 per barel pada bulan lalu. Adapun sejak awal tahun, harga minyak WTI memiliki rata-rata US$57,13 per barel.

Analis ANZ Soni Kumari mengatakan perselisihan dagang yang sedang berlangsung antara AS dan China dan kemunculan risiko perlambatan ekonomi akan menjadi faktor kunci bagi harga minyak pada sisa akhir tahun ini.

“Konflik perdagangan yang berlarut-larut bisa memperdalam perlambatan ekonomi dan selanjutnya berdampak pada pertumbuhan permintaan [minyak],” ujarnya.

Perlu diketahui, perselisihan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut telah menjadi biang kerok di balik penurunan sekitar 20 persen harga minyak dari level tertinggi 2019 yang dicapai pada April. Sengketa dagang kembali memanas baru-baru ini usai Beijing mengumumkan tarif impor minyak mentah AS pada pekan lalu.

Di samping itu, pelemahan harga juga telah mengurangi efek pemotongan produksi yang dipimpin oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC).

Melihat kondisi saat ini, menurut beberapa analis, kelompok tersebut berpeluang memperpanjang kembali pemangkasan di luar kesepakatan hingga 2020.

Di sisi lain, permintaan global diperkirakan akan tumbuh sebesar 0,9 – 1,3 juta barel per hari pada 2019, dibandingkan dengan proyeksi Juli 0,1 – 1,4 juta barel per hari.

Norbert Ruecker, kepala ekonomi dan penelitian di bank Swiss Julius Baer mengatakan, permintaan minyak sedang diatur untuk kontrak berjangka di negara-negara maju, sementara di negara berkembang pertumbuhannya lebih lambat.

“Sementara kami melihat kebijakan moneter yang agresif mengakhiri penurunan [permintaan] dan memperpanjang siklus ekonomi, tetapi tahun depan diperkirakan tingkat pertumbuhan [ekonomi] loyo untuk mengangkat permintaan minyak secara berarti,” kata Ruecker.

DUKUNGAN

Kendati demikian, para analis memperkirakan, harga minyak bisa memperoleh dukungan yang terbatas dari ketegangan di Timur Tengah, sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela, dan pertumbuhan lamban produksi minyak AS.

Oliver Allen, ekonom di Capital Economics mengatakan, meski pihaknya memproyeksikan ketegangan perdagangan antara AS dan China akan meningkat, dan pertumbuhan global melambat, pasar minyak kemungkinan bereaksi berlebihan terhadap berita buruk tentang permintaan.

“Tampaknya pasar telah kehilangan fokus pada latar belakang pasokan yang terbatas,” kata Allan.

Morgan Stanley sebelumnya juga menurunkan perkiraan harga minyak di sisa tahun ini, menyusul lemahnya prospek ekonomi, goyahnya permintaan, dan tingginya produksi minyak serpih AS.

Bank AS itu memotong perkiraan untuk harga Brent menjadi US$60 per barel dari US$65 per barel. Mereka juga memangkas perkiraan harga WTI menjadi US$55 per barel dari US$58 per barel.

Dalam pernyataannya mereka mencatat, perlambatan pertumbuhan permintaan minyak yang berlangsung dari awal tahun ini belum berakhir. “Pertumbuhan permintaan minyak telah melunak karena pertumbuhan ekonomi global telah melambat,” kata mereka.

Sementara itu, pada pekan lalu, berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup anjlok 2,84 persen atau 1,61 poin ke posisi US$55,10 per barel, Jumat (30/8). Adapun harga minyak mentah Brent merosot 2,05 persen atau 1,24 poin ke posisi US$59,25 per barel.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu