Dolar AS dan Poundsterling Melemah Terkena Imbas Kebijakan

Dolar AS dan Poundsterling Melemah Terkena Imbas Kebijakan

Hot News Market Hari Ini

( Rabu, 11 September 2019 )

Dolar AS dan Poundsterling Melemah Terkena Imbas Kebijakan

Dolar kembali melemah Selasa (10/09) pagi seiring dengan adanya laporan rencana stimulus Jerman, semakin berkurangnya kemungkinan no-deal Brexit dan harapan terobosan dalam perundingan perang dagang Cina-AS.

Menurut berita yang dilansir Reuters, Dolar Australia naik ke level tertinggi dalam enam minggu di $ 0,6875 dan pound juga mencapai level tertinggi dalam enam minggu di $ 1,2385 karena Undang-undang Inggris yang menghalangi keluarnya kesepakatan dari Uni Eropa diberlakukan.

Yen menyentuh level terendah dalam lima minggu di 107,46 per dolar. Pergerakan di awal perdagangan Asia masih lamban, perhatian banyak terfokus pada pertemuan Bank Sentral Eropa pada hari Kamis, dengan prediksi akan dilakukan pelonggaran kebijakan moneter.

Investor juga menunggu data inflasi China sekitar pukul 10.30 WIB, yang diperkirakan menunjukkan penurunan harga pabrik tahun-ke-tahun, menambah argumen agar lebih banyak stimulus bank sentral.

Lembaga pemeringkat Fitch pada hari Selasa memangkas perkiraan pertumbuhan untuk Eropa dan Cina dengan catatan adanya peningkatan proteksionisme.

Harapan pasar mengenai terobosan didasarkan pada pernyataan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, yang mengatakan kepada televisi Fox bahwa ada “banyak kemajuan” dalam kesepakatan perdagangan AS dan Cina dan menekan bahwa pihak AS “siap untuk bernegosiasi”.

Pernyataan itu mendorong obligasi 10-tahun AS (US10YT = RR) ke level tertinggi tiga minggu.

Euro juga reli ke level $ 1,0167 menyusul laporan Reuters bahwa Jerman akan membentuk lembaga investasi publik untuk meningkatkan stimulus fiskal tanpa melanggar aturan pengeluaran nasional.

Sementara, Poundsterling sedikit melemah setelah parlemen Inggris memilih menghalangi tawaran Perdana Menteri Boris Johnson untuk pemilihan awal.

Trump Pecat Penasihatnya, Harga Minyak Turun-Naik

Harga minyak dunia naik pagi ini. Perkembangan di Amerika Serikat (AS) mewarnai gerak harga si emas hitam.

Pada Rabu (11/9/2019) pukul 07:12 WIB, harga minyak jenis brent naik 0,8% sementara light sweet bertambah 0,89%. Kemarin, harga brent dan light sweet terkoreksi masing-masing 0,33% dan 0,78%.

Dini hari tadi, harga minyak sempat turun nyaris 1% setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan untuk memecat John Bolton dari posisi penasihat keamanan Gedung Putih. Menurut Trump, ada hal-hal di antara dia dan Bolton yang tidak bisa dipertemukan.

“Saya bisa sudah memberitahukan kepada John Bolton malam tadi bahwa pengabdiannya sudah tidak diperlukan di Gedung Putih. Saya sangat tidak sepakat dengan beberapa masukan darinya, begitu juga dengan personel pemerintahan yang lain.

“Oleh karena itu, saya meminta John mengundurkan diri, dan itu sudah dilakukannya. Saya sangat berterima kasih kepada John atas jasa-jasanya. Saya akan mengumumkan nama baru untuk Penasihat Keamanan Nasional pekan depan,” cuit Trump melalui Twitter.

 

AS-Iran Bisa Rujuk?

Bolton dikenal sebagai sosok kontroversial, bahkan agak ekstem. Dia adalah sosok yang mendorong Trump untuk bertindak keras kepada Iran, Korea Utara, dan Rusia. Bolton juga menentang upaya pertemuan Trump dengan para pemimpin Iran.

Kini Bolton sudah tidak ada, dan kemungkinan Trump tidak akan dibisiki oleh masukan-masukan yang keras. Oleh karena itu, ada peluang hubungan AS-Iran bisa membaik. Ujungnya adalah ada harapan AS mencabut segala sanksi bagi Negeri Persia.

“Pasar melihat ada pertanda pemerintahan Trump akan sedikit melunak terhadap Iran. Mungkin akan ada dialog dan kembalinya minyak Iran ke pasar dunia,” kata Phil Flynn, Analis di Price Futures Group yang berbasis di Chicago, seperti diberitakan Reuters.

Potensi minyak dari Iran akan membuat pasokan di pasar global berlimpah. Akibatnya, harga sempat anjlok.

Namun pagi ini investor mulai melakukan akumulasi beli setelah harga minyak turun lumayan dalam. Akibatnya, harga komoditas ini kembali bergerak ke utara alias menguat.

Safe Haven Mulai Ditinggalkan, Harga Emas Turun ke Level $1.500

Minat terhadap aset beresiko kini meningkat dan sebaliknya permintaan untuk aset safe haven menurun.

Harga emas turun ke tingkat terendah dua minggu pada Selasa (10/09) dini hari dan bullion sesaat berada di bawah level $1.500 setelah kenaikan imbal hasil obligasi AS memicu investor beralih ke saham-saham, minyak dan aset berisiko lainnya.

Emas spot, yang mencerminkan perdagangan bullion, diperdagangkan pada $1,504.08 per ons pukul 01.00 WIB dan turun $2,92, atau sebesar 0,2%, pada sesi itu. Sesi terendah harian adalah $1,497.73, menandai pelemahan pertama bullion di bawah level $1.500 sejak 23 Agustus.

Emas berjangka untuk penyerahan Desember ditutup turun $4,40, atau sebesar 0,3% pada lecel $1.511,10 per ons berdasarkan data divisi Comex di New York Mercantile Exchange (NYMEX). Dalam sesi Rabu silam, emas untuk kontrak pengiriman Desember mencapai tingkat tertinggi lebih dari enam tahun $1.566,15. Emas Desember ditutup jatuh 2,2% pada hari Kamis lalu, penurunan satu hari terbesar sejak Januari.

Kemunduran aset safe haven ini juga terlihat di pasar obligasi, setelah imbal hasil obligasi AS bertenor 30 tahun meningkat ke 2,12%, level tertinggi 23 Agustus. Saat nilai imbal hasil jangka pendek juga naik, bentuk kurva imbal hasil tetap sama, sehingga tidak memberi sinyal baru kemungkinan terjadinya resesi.

Terdapat bukti baru dari Cina bahwa pembelian besar bank sentral yang mendorong reli emas pada semester pertama tahun ini mungkin mulai menyusut.

Bank sentral Cina meningkatkan kepemilikan emasnya menjadi 62,45 juta ons pada Agustus dari 62,26 juta ons sebulan sebelumnya, menurut data di situs bank sentral pada akhir pekan. Namun, itu hanya mewakili pembelian sebesar 5,91 ton dalam sebulan, setelah rata-rata pembelian bulanan sebanyak 11,75 ton sejak Desember silam.

Untuk pekan ini, investor emas dan lintas pasar akan mengamati pertemuan bulanan Bank Sentral Eropa (ECB) pada hari Kamis, di mana penurunan suku bunga telah diprediksi sebagai bagian dari paket yang lebih luas untuk merangsang perekonomian kawasan euro.

Surat kabar Guardian di Inggris mencatat bahwa tingkat suku bunga kawasan euro telah dijaga pada kisaran hampir nol dalam beberapa tahun terakhir dalam upaya untuk merangsang pertumbuhan, dan kepala ECB Mario Draghi diperkirakan akan mempertahankan suku bunga yang rendah lebih lama lagi untuk menghadapi sektor manufaktur yang lemah, ketidakpastian seputar Brexit dan perang perdagangan global yang sedang berlangsung.

Jika ECB menerapkan pengurangan suku bunga, itu akan menjadi motivasi besar bagi Federal Reserve untuk menindaklanjuti dengan penurunan 25 basis poin ketika bertemu 17-18 September. Ini akan menjadi penurunan suku bunga The Fed yang kedua sejak bulan Juli sebesar 25 bp.

Tingkat suku bunga yang rendah menyuntik sentimen positif bagi harga emas.

Data Global Belum Pasti, Wall Street Berakhir Campur Aduk

Bursa AS Wall Street bergerak beragam pada perdagangan Selasa (10/9/2019). Meski dua indeks yakni Dow Jones dan S%P 500 ditutup naik, namun pelemahan terjadi di indeks berbasis teknologi Nasdaq.

Dow Jones naik 0,3% menjadi 26.909,43. Sementara S&P 500 naik tipis 0,1% menjadi 2.979,39. Sementara indeks Nasdaq merosot 0,1% ke 8.084,16.

Meski demikian, saham Apple naik 1,2% karena peluncuran iPhone baru yang dibandrol dengan harga lebih rendah US$ 699. Peluncuran terkait upaya perusahaan menggenjot pasar smart phone yang tengah lesu.

Menurut analis AS, sebagaimana dikutip dari Reuters, pasar fokus melihat perkembangan perang dagang dan juga stimulus yang akan diberikan bank sentral. Negosiasi dengan AS diperkirakan akan membawa China, kembali membeli produk pertanian AS.

Investor pun berharap bank sentral AS The Federal Reserves (The Fed) dan bank sentral Eropa (ECB) menurunkan suku bunga untuk meningkatkan ekonomi global. Bahkan Jerman menyarankan negara tersebut untuk siap menghadapi kemungkinan resesi dengan paket stimulus.

“Pergeseran ke arah orientasi nilai telah terjadi,” kata Robert Pavlik, kepala strategi investasi, manajer portofolio senior di SlateStone Wealth LLC di New York.

“Orang-orang mencari area pasar yang mungkin masuk akal dan mencari untuk mengurangi risiko dalam portofolio mereka,”.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Close Menu